- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#20
Spoiler for Bagian 5:
#5 A Miserable Story
Quote:
Waktu menunjukkan pukul 12 siang, hujan sudah mulai reda menyisakan gemericik air yang jatuh dari atap.
Nggak terasa tiga jam sudah gua mendengarkan cerita si Ines yang ternyata dia ke london buat menyusul tunangannya yang udah duluan pergi kesini buat kerja. Ines dijanjiin bakal dinikahin disini karena di Indonesia nggak mendukung pernikahan beda agama. Sampai di London dia malah mendapati tunangannya selingkuh dengan gadis bule teman kerja-nya, parahnya (masih ada yang lebih parah) bukannya merasa bersalah, si tunangannya itu malah memukuli si Ines dan ’membuangnya’ di tempat yang jauh dari London, ke pinggir kota Leeds tempat gua ketemu pertama kali sama Ines. Dan bagian paling parahnya; semua tas yang berisi barang-barang Ines di buang sewaktu mereka menuju ke Leeds, termasuk paspor, visa dan uangnya.
”Wah kalo begitu mah, beneran elu nggak bisa balik ke Jakarta”
Gua ngomong begitu niatnya becanda, nggak disangka si Ines malah mulai terisak.
”Eh bukan begitu, nes”
”Elu masih tetep bisa balik kok, waktu pertama kali kesini lu lapor ke KBRI kan?”
Ines menggeleng.
”Waduh” gua menepuk jidat.
“Harusnya elu lapor”
“Ya gua kan nggak tau kalo bakal begini jadinya!!”
Kemudian gua berdiri, masuk kekamar dan kembali dengan membawa ponsel gua.
”Yaudah jangan nangis, nih telepon aja nyokap ato bokap lu. Jelasin semua”
Ines menggeleng.
”Gua udah nggak punya siapa-sapai lagi, bon”
”Bokap nyokap gua udah nggak ada”
Gua tertegun, bengong dan mematung, masih menyodorkan ponsel kehadapan Ines. Dalam hati gua berkata; kasian banget hidupnya nih anak.
”Kakak ato ade lu, ato mungkin temen-temen lu”
Gua masih menyodorkan ponsel.
”Gua udah lama nggak kontak sama kakak gue, dia sekarang tinggal di Ausie dan kayaknya gue nggak punya temen yang bisa diandalkan buat nolong gue sekarang”
Gua kemudian meletakkan ponsel dihadapan Ines, duduk dan mulai garuk-garuk rambut.
”Tapi seenggaknya kan elu bisa nyoba dulu”
”Telepon temen lu, minta dia ngirim kesini Kartu Keluarga, Fotokopi KTP ato akte lahir lu”
Ines menggelengkan kepala dan mulai bercerita sambil terisak. Semua dokumen-dokumen pribadinya ada di tas yang dibuang sama tunangannya, eh bekas tunangannya (ines meralatnya). Dia emang berniat pindah kesini, resign dari pekerjaannya, meninggalkan teman-temannya dan kehidupannya di Jakarta untuk tinggal dan hidup disini setelah dijanjikan bakal dikimpoi sama tunangannya yang gebleg itu. Tapi, apa daya takdir berkata lain, bukannya mendapatkan apa yang diinginkan, Ines malah dicampakkan dan ditelantarkan di negeri orang.
”Yaudah gini aja. Nanti kita ke KBRI, kita konsultasi dulu gimana baiknya sama orang KBRI, siapa tau mereka punya solusi” gua mencoba menghibur, walaupun sepengetahuan gua, bakal susah banget mengurus dokumen-dokumen dengan kasus seperti Ines ini.
”Udah, nggak usah nangis lagi, nanti gua coba tanya juga deh sama temen-temen mahasiswa Indo disini, siapa tau ada kasus yang mirip”
Mendengar omongan gua, tangis Ines mulai mereda. Matanya mulai berbinar, walau masih tetap cemberut. Setidaknya ada sebuah harapan tersirat dimatanya sekarang.
”Sementara lu tinggal disini aja dulu, dan mungkin baru bisa nganter lu ke KBRI hari rabu ato kamis, soalnya besok gua masih ada kerjaan”
”Sekarang mandi aja dulu gih”
Gua kemudian menuju ke kamar, mengambilkan handuk dan memberikannya ke Ines. Ines menerima handuk tersebut , terdiam sebentar.
”Udah mandi sono, nggak usah takut gua apa-apain.. kalo gua brengsek mah, udah dari semalem lu gua apa-apain”
Ines pun beranjak.
Kemudian gua kembali membuka lemari, mencoba mencari baju yang cocok buat dia. Sesaat pikiran gua nggak menentu, campur aduk antara cemas, grogi dan canggung, kok bisa-bisanya gua menawarkan perempuan asing tinggal disini, satu atap, laki-laki dan perempuan, berdua. Ya memang disini, di Inggris, laki-laki dan perempuan tinggal bersama dalam satu atap tanpa pernikahan sudah menjadi hal yang lumrah. Tapi, buat gua dan mungkin Ines yang notabene ’orang timur’ hal –hal semacam ini masih dianggap tabu. Belom lagi berkecamuk dipikiran gua, gimana kalo ternyata si Ines ini adalah salah satu anggota sindikat penipuan, yang berusaha mengelabui calon korban-nya dengan metode seperti ini, nanti disaat gua lengah dia menikam gua dengan pisau dapur, badan gua di potong-potong jadi empat bagian dan semua harta benda gua di bawa lari, ish.. serem uey.
Buru-buru gua singkirkan pikiran tersebut, nggak terasa tangan gua sudah menggenggam sebuah kaos putih berbahan katun kombat bergambar Axl Rose di bagian belakangnya dan tulisan yang berbunyi ”Here to stay or gone to hell – guns n roses” di bagian depannya, kaos yang udah nggak pernah gua pake karena kekecilan, dulunya adalah salah satu kaos favorit gua. Sepertinya masih layak pakai walaupun bagian lehernya sudah sedikit melar.
Gua menarik salah satu celana ’training’ underarmour yang juga udah kekecilan bagian pinggangnya, dan meletakkanya di atas kasur. Kemudian gua bergegas keluar kamar menuju ke dapur, mengambil nachos dari dalam kulkas, memasukkannya kedalam microwave dan menyetel waktunya ke angka lima. Kalau seandainya si Ines emang penjahat dan mau membunuh gua setidaknya gua nanti mati dengan menggenggam nachos. Buat ukuran orang Indonesia bisa jadi terdengar keren.
---
Sambil menikmati nachos, gua kemudian kembali membuka layar laptop berniat meneruskan pekerjaan gua yang entah sudah beberapa kali tertunda. Bukannya meneruskan pekerjaan, gua membuka email mengarahkan kursornya ke tab contact dan mulai mencari nama ”Irfan”.
Irfan adalah seorang kenalan asal Indonesia yang juga tinggal Inggris. Dulunya dia mahasiswa di salah satu universitas terkenal di London, sekarang dia bekerja menjadi agen real estate di Leeds. Irfan sudah hampir 10 tahun tinggal di Inggris, kenalannya bejibun dari mulai sesama orang Indonesia sampai orang-orang inggris bahkan imigran-imigran dari pakistan atau china, makanya dia selalu jadi salah satu target paling dicari orang orang Indonesia yang butuh informasi mengenai hal apapun tentang Negara ini. Gua kemudian mengetik diemail, menanyakan apakah ada kasus yang pernah terjadi yang mungkin mirip-mirip dengan kasus yang dialami oleh Ines.
Setelah lebih dari 3 paragraf, gua meng-klik tombol ’send’. ”Cling..” terdengar suara notifikasi dari laptop bahwa email sudah terkirim, gua menutup tab email di laptop, membuka folder musik dan mulai memutar lagu ”love and affection”-nya Nelson, merebahkan diri di pangkal sofa dan menghisap dalam-dalam rokok marlboro putih sambil mengetukkan jari di dasar meja, mengikuti irama lagu karangan si kembar Nelson ini.
Belum habis ”love and affection”-nya Nelson di putar, muncul jendela pop-up dari pojok kanan bawah layer laptop gua, sebuah pesan melalui skype dengan nama “Irf4nTheJellyBean”.
”Hi mate... emang siapa yang paspor dan visa-nya ilang, kok bisa dua-duanya gitu?”
Tulis Irfan di dalam jendela chat. Gua membalasnya menjelaskan lagi kronologinya, detail per detail. Sambil balas membalas pesan dengan Irfan gua melirik dari atas layar laptop, Ines baru keluar dari kamar dengan menggunakan kaos dan celana yang sudah gua siapkan tadi sambil mengeringkan rambut bondolnya dengan handuk.
”Baju kotornya taro di keranjang depan kamar mandi aja, nes”
”Oh itu bon, bajunya gue udah taro diplastik, mau gue buang aja.. buangnya dimana ya?”
”Dibuang? Kenapa? Udah taro situ aja ntar gua buang di luar”
Gua ngomong sambil menunjuk ke tempat sampah kecil disebelah pintu keluar.
”Gua barusan nanya sama temen gua yang tinggal disini juga, katanya kalo paspor dan visa ilang, bisa kok diurus”
”Beneran? Gimana?”
”Kata dia sih kita suru nyoba ke KBRI dulu, tapi ke bagian Visa and Conselornya di London”
”Oh terus dokumen pendukungnya gimana?”
”Besok, rabu, elu gua anter ke kantor polisi di yorkshire buat bikin Loss Report, abis itu baru kita ke London”
Ines Cuma mengangguk sambil menggelung rambutnya dengan handuk.
---
Jam menunjukkan pukul 19.00, gua masih berkutat di depan laptop, Jingle buat iklan makanan anjing udah hampir kelar, gua menutup layar laptop dan bersiap buat menyeduh mie instan, lagi. Ines sedang menonton tivi saat gua sodorkan cup mie instan ke padanya.
”Nih, abis makan terus tidur. Elu tidur aja di kamar, biar gua tidur disini”
Ines meraih cup mie instan dari tangan gua.
”Nggak papa gua tidur di dalem?”
Gua Cuma mengangguk sambil meniup-niup mie instan yang masih mengepul panas.
---
Nggak terasa tiga jam sudah gua mendengarkan cerita si Ines yang ternyata dia ke london buat menyusul tunangannya yang udah duluan pergi kesini buat kerja. Ines dijanjiin bakal dinikahin disini karena di Indonesia nggak mendukung pernikahan beda agama. Sampai di London dia malah mendapati tunangannya selingkuh dengan gadis bule teman kerja-nya, parahnya (masih ada yang lebih parah) bukannya merasa bersalah, si tunangannya itu malah memukuli si Ines dan ’membuangnya’ di tempat yang jauh dari London, ke pinggir kota Leeds tempat gua ketemu pertama kali sama Ines. Dan bagian paling parahnya; semua tas yang berisi barang-barang Ines di buang sewaktu mereka menuju ke Leeds, termasuk paspor, visa dan uangnya.
”Wah kalo begitu mah, beneran elu nggak bisa balik ke Jakarta”
Gua ngomong begitu niatnya becanda, nggak disangka si Ines malah mulai terisak.
”Eh bukan begitu, nes”
”Elu masih tetep bisa balik kok, waktu pertama kali kesini lu lapor ke KBRI kan?”
Ines menggeleng.
”Waduh” gua menepuk jidat.
“Harusnya elu lapor”
“Ya gua kan nggak tau kalo bakal begini jadinya!!”
Kemudian gua berdiri, masuk kekamar dan kembali dengan membawa ponsel gua.
”Yaudah jangan nangis, nih telepon aja nyokap ato bokap lu. Jelasin semua”
Ines menggeleng.
”Gua udah nggak punya siapa-sapai lagi, bon”
”Bokap nyokap gua udah nggak ada”
Gua tertegun, bengong dan mematung, masih menyodorkan ponsel kehadapan Ines. Dalam hati gua berkata; kasian banget hidupnya nih anak.
”Kakak ato ade lu, ato mungkin temen-temen lu”
Gua masih menyodorkan ponsel.
”Gua udah lama nggak kontak sama kakak gue, dia sekarang tinggal di Ausie dan kayaknya gue nggak punya temen yang bisa diandalkan buat nolong gue sekarang”
Gua kemudian meletakkan ponsel dihadapan Ines, duduk dan mulai garuk-garuk rambut.
”Tapi seenggaknya kan elu bisa nyoba dulu”
”Telepon temen lu, minta dia ngirim kesini Kartu Keluarga, Fotokopi KTP ato akte lahir lu”
Ines menggelengkan kepala dan mulai bercerita sambil terisak. Semua dokumen-dokumen pribadinya ada di tas yang dibuang sama tunangannya, eh bekas tunangannya (ines meralatnya). Dia emang berniat pindah kesini, resign dari pekerjaannya, meninggalkan teman-temannya dan kehidupannya di Jakarta untuk tinggal dan hidup disini setelah dijanjikan bakal dikimpoi sama tunangannya yang gebleg itu. Tapi, apa daya takdir berkata lain, bukannya mendapatkan apa yang diinginkan, Ines malah dicampakkan dan ditelantarkan di negeri orang.
”Yaudah gini aja. Nanti kita ke KBRI, kita konsultasi dulu gimana baiknya sama orang KBRI, siapa tau mereka punya solusi” gua mencoba menghibur, walaupun sepengetahuan gua, bakal susah banget mengurus dokumen-dokumen dengan kasus seperti Ines ini.
”Udah, nggak usah nangis lagi, nanti gua coba tanya juga deh sama temen-temen mahasiswa Indo disini, siapa tau ada kasus yang mirip”
Mendengar omongan gua, tangis Ines mulai mereda. Matanya mulai berbinar, walau masih tetap cemberut. Setidaknya ada sebuah harapan tersirat dimatanya sekarang.
”Sementara lu tinggal disini aja dulu, dan mungkin baru bisa nganter lu ke KBRI hari rabu ato kamis, soalnya besok gua masih ada kerjaan”
”Sekarang mandi aja dulu gih”
Gua kemudian menuju ke kamar, mengambilkan handuk dan memberikannya ke Ines. Ines menerima handuk tersebut , terdiam sebentar.
”Udah mandi sono, nggak usah takut gua apa-apain.. kalo gua brengsek mah, udah dari semalem lu gua apa-apain”
Ines pun beranjak.
Kemudian gua kembali membuka lemari, mencoba mencari baju yang cocok buat dia. Sesaat pikiran gua nggak menentu, campur aduk antara cemas, grogi dan canggung, kok bisa-bisanya gua menawarkan perempuan asing tinggal disini, satu atap, laki-laki dan perempuan, berdua. Ya memang disini, di Inggris, laki-laki dan perempuan tinggal bersama dalam satu atap tanpa pernikahan sudah menjadi hal yang lumrah. Tapi, buat gua dan mungkin Ines yang notabene ’orang timur’ hal –hal semacam ini masih dianggap tabu. Belom lagi berkecamuk dipikiran gua, gimana kalo ternyata si Ines ini adalah salah satu anggota sindikat penipuan, yang berusaha mengelabui calon korban-nya dengan metode seperti ini, nanti disaat gua lengah dia menikam gua dengan pisau dapur, badan gua di potong-potong jadi empat bagian dan semua harta benda gua di bawa lari, ish.. serem uey.
Buru-buru gua singkirkan pikiran tersebut, nggak terasa tangan gua sudah menggenggam sebuah kaos putih berbahan katun kombat bergambar Axl Rose di bagian belakangnya dan tulisan yang berbunyi ”Here to stay or gone to hell – guns n roses” di bagian depannya, kaos yang udah nggak pernah gua pake karena kekecilan, dulunya adalah salah satu kaos favorit gua. Sepertinya masih layak pakai walaupun bagian lehernya sudah sedikit melar.
Gua menarik salah satu celana ’training’ underarmour yang juga udah kekecilan bagian pinggangnya, dan meletakkanya di atas kasur. Kemudian gua bergegas keluar kamar menuju ke dapur, mengambil nachos dari dalam kulkas, memasukkannya kedalam microwave dan menyetel waktunya ke angka lima. Kalau seandainya si Ines emang penjahat dan mau membunuh gua setidaknya gua nanti mati dengan menggenggam nachos. Buat ukuran orang Indonesia bisa jadi terdengar keren.
---
Sambil menikmati nachos, gua kemudian kembali membuka layar laptop berniat meneruskan pekerjaan gua yang entah sudah beberapa kali tertunda. Bukannya meneruskan pekerjaan, gua membuka email mengarahkan kursornya ke tab contact dan mulai mencari nama ”Irfan”.
Irfan adalah seorang kenalan asal Indonesia yang juga tinggal Inggris. Dulunya dia mahasiswa di salah satu universitas terkenal di London, sekarang dia bekerja menjadi agen real estate di Leeds. Irfan sudah hampir 10 tahun tinggal di Inggris, kenalannya bejibun dari mulai sesama orang Indonesia sampai orang-orang inggris bahkan imigran-imigran dari pakistan atau china, makanya dia selalu jadi salah satu target paling dicari orang orang Indonesia yang butuh informasi mengenai hal apapun tentang Negara ini. Gua kemudian mengetik diemail, menanyakan apakah ada kasus yang pernah terjadi yang mungkin mirip-mirip dengan kasus yang dialami oleh Ines.
Setelah lebih dari 3 paragraf, gua meng-klik tombol ’send’. ”Cling..” terdengar suara notifikasi dari laptop bahwa email sudah terkirim, gua menutup tab email di laptop, membuka folder musik dan mulai memutar lagu ”love and affection”-nya Nelson, merebahkan diri di pangkal sofa dan menghisap dalam-dalam rokok marlboro putih sambil mengetukkan jari di dasar meja, mengikuti irama lagu karangan si kembar Nelson ini.
Belum habis ”love and affection”-nya Nelson di putar, muncul jendela pop-up dari pojok kanan bawah layer laptop gua, sebuah pesan melalui skype dengan nama “Irf4nTheJellyBean”.
”Hi mate... emang siapa yang paspor dan visa-nya ilang, kok bisa dua-duanya gitu?”
Tulis Irfan di dalam jendela chat. Gua membalasnya menjelaskan lagi kronologinya, detail per detail. Sambil balas membalas pesan dengan Irfan gua melirik dari atas layar laptop, Ines baru keluar dari kamar dengan menggunakan kaos dan celana yang sudah gua siapkan tadi sambil mengeringkan rambut bondolnya dengan handuk.
”Baju kotornya taro di keranjang depan kamar mandi aja, nes”
”Oh itu bon, bajunya gue udah taro diplastik, mau gue buang aja.. buangnya dimana ya?”
”Dibuang? Kenapa? Udah taro situ aja ntar gua buang di luar”
Gua ngomong sambil menunjuk ke tempat sampah kecil disebelah pintu keluar.
”Gua barusan nanya sama temen gua yang tinggal disini juga, katanya kalo paspor dan visa ilang, bisa kok diurus”
”Beneran? Gimana?”
”Kata dia sih kita suru nyoba ke KBRI dulu, tapi ke bagian Visa and Conselornya di London”
”Oh terus dokumen pendukungnya gimana?”
”Besok, rabu, elu gua anter ke kantor polisi di yorkshire buat bikin Loss Report, abis itu baru kita ke London”
Ines Cuma mengangguk sambil menggelung rambutnya dengan handuk.
---
Jam menunjukkan pukul 19.00, gua masih berkutat di depan laptop, Jingle buat iklan makanan anjing udah hampir kelar, gua menutup layar laptop dan bersiap buat menyeduh mie instan, lagi. Ines sedang menonton tivi saat gua sodorkan cup mie instan ke padanya.
”Nih, abis makan terus tidur. Elu tidur aja di kamar, biar gua tidur disini”
Ines meraih cup mie instan dari tangan gua.
”Nggak papa gua tidur di dalem?”
Gua Cuma mengangguk sambil meniup-niup mie instan yang masih mengepul panas.
---
Backsound untuk #5


Here she comes, ooh just like an angel
Seems like forever that she's been on my mind
But nothing has changed
She thinks I'm a waste of her time
There she goes
She don't know what she's missing
Can't she see I'll never give up the fight
I'll do all I can till she understands my desire
I've been on the outside looking in
Let me into your heart, oh
There's nothing on earth
That should keep us apart
Baby
I can't live without your love and affection
I can't face another night on my own
I'd give up my pride to save me from being alone
'Cause I can't live without your love
So I wait, here for an answer
And wonder if tomorrow will be like yesterday
I'll keep holding on
But I can't go on living this way
Baby
I've been on the outside looking in
Bring these tears to an end, oh
I realize there's no use for me to pretend
Oh yeah


Here she comes, ooh just like an angel
Seems like forever that she's been on my mind
But nothing has changed
She thinks I'm a waste of her time
There she goes
She don't know what she's missing
Can't she see I'll never give up the fight
I'll do all I can till she understands my desire
I've been on the outside looking in
Let me into your heart, oh
There's nothing on earth
That should keep us apart
Baby
I can't live without your love and affection
I can't face another night on my own
I'd give up my pride to save me from being alone
'Cause I can't live without your love
So I wait, here for an answer
And wonder if tomorrow will be like yesterday
I'll keep holding on
But I can't go on living this way
Baby
I've been on the outside looking in
Bring these tears to an end, oh
I realize there's no use for me to pretend
Oh yeah
Spoiler for Klipnya:
Diubah oleh robotpintar 27-02-2014 15:50
aripinastiko612 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)