- Beranda
- Stories from the Heart
Accidentally In Love [True Story]
...
TS
robotpintar
Accidentally In Love [True Story]
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214023854.png)
Spoiler for Cover:
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/02/14/6448808_20140214024411.png)
So she said what's the problem baby
What's the problem I don't know
Well maybe I'm in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can't stop thinking 'bout it
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can't ignore it if it's love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don't know nothing 'bout love
Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody's after love
So I said I'm a snowball running
Running down into the spring that's coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love
Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn't mean to do it
But there's no escaping your love
These lines of lightning
Mean we're never alone,
Never alone, no, no
We're accidentally in love
Accidentally in love [x7]
Accidentally I'm In Love
Spoiler for Bagian 1:
#1
Quote:
“Gila lu Bon, roti segitu banyak sayang-sayang bakal empan ikan semua!”
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
“Emang ngapa? Ikan jaman sekarang mah ogah makan cacing, Meng”
Gua jawab aja sekena-nya, memang niatnya gua bawa roti dari rumah buat bekal pas mancing tapi, gara-gara umpan cacing gua dari tadi nggak disentuh ikan terpaksa gua ganti dengan roti. Siapa tau mujarab.
Nggak seberapa berselang, tali pancing gua bergetar, refleks gua tarik joran sekuatnya dan mendarat dengan mulus seekor ikan yang kurang lebih seukuran telapak tangan.
“Anjritt.. dari tadi dapet sapu-sapu mulu gua!”
Sambil melepas mata kail dari mulut ikan sapu-sapu yang barusan gua angkat dan langsung gua lempar lagi kedalam kali.
Tidak berapa lama, melantun lagu “Time Like This”-nya Foo Fighter dari ponsel gua. Tertera tulisan “Rumah” dilayarnya.
“Kenapa mak?”
Karena memang cuma nyokap gua aja yang selalu telpon melalui telepon rumah. Bokap dan adik gua selalu menggunakan ponsel-nya masing-masing jika ada keperluan.
“Assalamualaikum , Mancing kagak rapi-rapi luh, nih ada kiriman surat buat elu”
“Dari siapa?”
“Kagak tau, bahasanya emak nggak ngerti”
“Simpenin dulu, nih aye udah mau pulang”
“Yaudah buruan, jangan maghriban dijalan, pamali. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gua kantongin lagi ponsel k-ekantong celana pendek yang sekarang udah kotor campur lumpur, sambil berteriak ke temen gua; Komeng, yang lagi berkutat dengan tali pancingnya yang kusut.
“Meng, ayo balik.. udah sore”
“Belon juga dapet sekilo, udah mau balik aje”
“Yauda elu terusin dah, gua balik duluan”
Komeng menjawab dengan sedikit gumam di bibirnya terdengar seperti “Yaelah..” sambil berjalan gontai menyusul gua.
------
Itu kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana gua dan Komeng masih biasa mencari cacing buat umpan ikan di kebun singkong belakang rumahnya Haji Salim dan kemudian pergi memancing disepanjang pinggiran sungai Pesanggrahan, Jakarta.
Sekarang, gua sedang duduk sambil bersandar di sebuah kursi lipat di pinggir danau di daerah Leeds, Inggris. Menghabiskan hari libur akhir musim gugur dengan memancing sambil bernostalgia, mencoba membangkitkan memori tentang memancing, tentang si Komeng, tentang Jakarta, tentang rumah.
Setelah berjam-jam memancing, menghabiskan berkaleng-kaleng ‘Diet Coke’ akhirnya gua memutuskan untuk menyudahi kegiatan sialan ini. Pulang dengan membawa 6 Ekor ikan Yelowtail (di Indonesia disebut ikan patin) dan sedikit kenangan tentang ‘rumah’, gua berjalan gontai menuju tempat dimana sepeda kesayangan gua diparkir, sempat kebingungan awalnya karena sekarang ada banyak sepeda yang diparkir, padahal tadi pagi baru sepeda gua aja yang nongkrong disini, setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga dan gua mulai mengayuh.
Jarak dari tempat gua biasa mancing ke tempat dimana gua tinggal di Moorland Ave, Leeds kurang lebih 3,5 mil atau kalau dalam satuan Kilometer sekitar 5,5 Km. Jarak segitu kalo disini, di Inggris bisa dibilang ‘deket’, kalau naik sepeda bisa cuma 30 menit.
Oiya, nama gua Boni. Gua lahir dan dibesarkan di Jakarta. Saat ini gua kerja dan tinggal di Leeds, Inggris sekitar 2-3 jam dari London (dengan kereta). Gua kerja sebagai Sound Designer disalah satu Agensi perfilman dan periklanan di Leeds yang juga punya kantor di London. Sudah hampir 4 tahun gua kerja dan tinggal disini, ditempat dimana nggak ada sungai dengan air berwarna cokelat keruh yang banyak ikan sapu-sapunya dan nggak ada teman yang suka menggerutu “Yaelah”.
Sambil mendengarkan “Heaven” nya Lost Lonely Boys lewat headset, gua mengayuh sepeda menuju ke rumah, pulang. Melewati jalan berpasir yang dipenuhi pohon-pohon maple di kedua sisinya menuju jalan utama. Jalan yang sangat sepi dan hening, jam menunjukkan angka 4 sore, menandakan waktu shalat maghrib, di sabtu sore seperti sekarang ini memang didaerah sini sangat sepi, kebanyakan penduduk sekitar sedang ke stadion atau pub-pub untuk menyaksikan Leeds United bertanding. Ingin buru-buru sampai di rumah, karena perut udah mulai keroncongan, gua kayuh sepeda lebih cepat. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara musik yang makin lama makin nyaring, suara musik RnB yang sepertinya diputar dari dalam mobil dengan volume maksimal. Suara tersebut datang dari arah belakang dan kemudian menyusul gua, sebuah BMW silver yang melaju cepat bahkan boleh dibilang sangat cepat, sambil meninggalkan debu persis seperti mobil yang sedang Rally Dakkar.
“Orang Gila!!” gua mengumpat, masih sambil dengerin coda lagu “Heaven” nya Lost Lonely Boys. Sampai gua melihat beberapa detik kemudian lampu rem BMW tersebut menyala dan kemudian berhenti.
Deg!, “Wuanjrit, sakti juga tuh orang bisa denger suara gua” sambil berhenti dan melepas headset dari telinga. Yang ternyata setelah gua sadar, suara gua nggak sepelan pas pakai headset tadi. Gua nunggu sambil dag dig dug, kalau dia ngerti ucapan gua, dia pasti orang Indonesia dan kalo ternyata bukan gua bakal siap-siap kabur.
Pintu penumpang pun terbuka, terbuka secara paksa tepatnya, sedetik kemudian keluar seseorang dari kursi penumpang, terhuyung dan kemudian terjatuh, terdengar makian dari dalam BMW tersebut mungkin seperti “bitch” atau semacamnya dan sesaat kemudian BMW tersebut pergi, mengasapi orang yang tersungkur itu dengan debu jalanan.
Nggak mau terlalu ambil pusing, sambil bernafas lega dan bilang dalam hati; “untung bukan gua”, gua meneruskan mengayuh sepeda.
“Get up Bro, life is brutal”
gua berkata ke orang itu sambil melewatinya tetap melanjutkan mengayuh. Dan beberapa meter kemudian gua mendengar sebuah teriakan, teriakan yang (pada akhirnya) bakal merubah hidup gua.
“Woii.. Help me!, you’re Indonesian, right?”
“Tolongin gue dong…”
Gua berhenti mengayuh, turun dan bengong. Sudah hampir setahun gua nggak denger secara langsung orang bicara ke gua dengan bahasa Indonesia dan suara perempuan pula.. Lima, ah mungkin sepuluh detik kemudian baru gua memalingkan muka tapi masih tetap bengong.
“Woii..”
Akhirnya gua turun dari sepeda, kemudian menghampiri orang itu. Terduduk di depan gua sosok perempuan, hitam manis dengan kepala tertutup hood jaket hitam, celana jeans dan sepatu model boots sebetis berwarna cokelat.
“Elu nggak apa-apa?”
“Menurut Lo? Kalo gue gak apa-apa, ngapain gua teriak minta tolong elu!!”
Gua nggak menjawab, berusaha membantu dia berdiri sambil bertanya lagi bagaimana keadaannya. Sekali lagi dia mengumpat;
“Gila!, nggak punya hati banget sih lu!, ya jelas lah gue kenapa-kenapa.. nih liat!”
Sambil memperlihatkan telapak tangan dan siku-nya yang luka dan kemudian menyibak celana jeans-nya yang kotor terkena debu dan sobek di beberapa bagian akibat terlempar dari mobil tadi. Sesaat baru dia sadar kalau lutut kanannya juga luka sambil meringis kesakitan dia mencoba membersihkan luka tersebut dengan air liurnya. Sangat Indonesia sekali.
“Gua pikir tadi orang mabok yang lagi berantem, disini mah biasa begitu,mbak!”
Kemudia gua kasih satu-satunya ‘Diet Coke’ sisa memancing tadi, harusnya sih air putih tapi Cuma itu yang gua punya sekarang. Sambil menggerutu karena dikasih ‘Diet Coke’ daripada air putih, diminum juga tuh minuman soda. Kemudian gua menawarkan diri buat mengantar dia ke sebuah toko kecil di ujung jalan ini, untuk membeli plester untuk membalut luka-nya.
“Jauh nggak?”
Dia bertanya sambil menurunkan hood jaketnya dan menyibak rambutnya yang pendek seleher. Kemudian terlihat jelas sebuah luka lebam di sudut mata sebelah kiri-nya, tidak, bukan cuma satu, setidaknya ada 3 luka lebam, selain disudut matanya, satu lagi di dahi sebelah kiri dan satu lagi di sudut bibir sebelah kanan, yang terakhir tampak seperti luka yang baru karena masih meninggalkan sisa bekas darah yang membeku.
Gua nggak berani bertanya, gua hindari menatap kewajahnya sambil menjawab pertanyaa-nya bahwa tokonya nggak begitu jauh dari sini, sambil menunjuk ke arah jalan utama.
---
DAFTAR ISI
Quote:
CHAPTER 1
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
#1 The Beginning
#2 Truly Gentlemen
#3 Place Called Home
#4 The Morning Fever
#5 A Miserable Story
#6 Night Rain
#7 Inside My Head
#8 That Day
#9 Be Tough
#10 Mukena
Quote:
CHAPTER 2
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
#11-A Trip To Manchester
#11-B The Swiss Army
#12 Here's and Back Again
#13 I Miss You So Bad
#14 Going Mad
#15 Promise
#16 You’ll Be The Only Light I See
#17 The Winter Tears
#18 She's Gone
#19 That Memories
Quote:
CHAPTER 3
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
[URL="http://www.kaskus.co.id/show_post/530ff7e41acb17030d8b48f1/479/- "]#19-A The Hood[/URL]
#19-B Heres And Back Again II
#19-C Weak
#19-D Surrender
#19-E The Choice
#19-F Anything For You
#19-G Chelsea Number 8
#19-H Its not always about gold and glory
#19-I Aku
#19-J The Words
#19-K The Persian Cat
#19-L You Really The Only Light I See
#19-M So Be It
#19-N Less Than Perfect
#20 That Day II
Quote:
CHAPTER 4 The Prekuel
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
#21 The Prologue
#22 My Precious
#23 Ticket to Ride
#24 Singapore
#25 Dreams
#26 The Awkward Moment
#27 Logic
#28 Driver In Life
#29 The Risk Taker
#30 Sorry
#31 Rise Again
#32 Goodbye
Quote:
CHAPTER 5!!
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
#33 London
#34 Unwell
#35 I Was Here
#36 Leeds
#37 New Home, New Life
#38 Alone
#39 Intermezo
#40 Goin' Trough
#41 At Glance
#42 The Past of The Future
Quote:
CHAPTER 6
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
#43 My First ...
#44 If Lovin' You ...
#45 Goin' Back
#46 Leeds II
#47 I Love You (Jealousy)
#48 After All
#49 Hell Yeah
#50 Conflict
#51 Liar-Liar
#52 Memories
Quote:
Quote:
Diubah oleh robotpintar 10-04-2014 08:46
carangkasampah dan 121 lainnya memberi reputasi
120
1.3M
Kutip
2.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#6
Spoiler for Bagian 3:
#3 Place Called Home
Tempat yang gua sebut rumah ini hampir mirip bentuk dan ukurannya dari rumah si Landlord; Darcy. Rumah mungil dengan tembok bata dicat warna putih. Terdiri dari dua lantai, lantai pertama digunakan Darcy untuk gudang penyimpanan miliknya yang memiliki akses menuju rumahnya. Sedangkan pintu dari luar langsung berupa anak tangga yang menuju ke lantai atas, tempat dimana gua tinggal.
Setelah menenteng naik sepeda dan meletakkannya di sudut lorong, gua membuka pintu, menyalakan lampu dan pemanas. Leeds saat akhir musim gugur seperti ini cuacanya boleh dibilang ‘sedikit’ dingin dan berangin, walau dinginnya boleh dibilang beda dengan di Alaska.
Perempuan itu pun masuk sambil celingak-celinguk, entah takjub dengan betapa berantakan dan kotornya ruangan ini atau takjub dengan kegantengan gua yang baru dia sadari.
Gua menawarkan dia untuk mandi dan membersihkan diri, dia cuma menggeleng. Mungkin dia takut, berada di tempat asing, bersama orang asing, terus nawarin mandi. Gimana nggak takut coba.
Gua ambilkan susu dari dalam kulkas, mondar-mandir mencari gelas bersih dan nggak ketemu.
“Nih minum”
“Nggak apa-apa langsung dari botolnya aja”
Gua berkata sesaat melihat dia kebingungan karena disodorkan botol susu tanpa gelas.
“Harap maklum, ya beginilah kalo hidup sendirian”
“Gua mau mandi dulu, elu nikmatin aja dulu susu nya. Besok pagi gua anter ke Stasiun”
---
Jam 11 malam.
Susu dalam botol yang gua suguhkan tadi sama sekali nggak disentuh, gua baru aja selesai menyeduh mie instan. Tiga mie instan, satu buat dia dan dua buat gua, sekedar info aja, ukuran mie instan disini lebih kecil daripada mie instan yang di Indonesia pada umumnya. Tapi kalo elu tinggal disini dan kangen sama mie instant asal Indonesia, banyak juga kok supermarket yang jual.
Gua sodorkan Cup mie instan yang masih mengepul-ngepul uapnya ke dia, dia tetap bergeming, diam kayak patung, wajahnya menunduk. Gua putuskan untuk ngabisin jatah mie gua dulu sebelum merayu dia buat makan. Baru sekitar enam suapan masuk ke mulut, perempuan itu mulai roboh, jatuh kelantai, gedebug! Gua berhenti makan, nepok jidat.
“Apes.. banget gua”
Gua beranjak dan mencoba membangunkan dia, bibirnya biru, badanya panas. Otak gua mulai bekerja, mikir nggak ya, mikir nggak ya, mikir nggak ya. Dan akhirnya gua putuskan buat mikir, sesaat kemudian munculah pikiran; Kalau sampai nih perempuan mati di tempat gua, terus di otopsi banyak luka lecet dan lebam, mampus dah gua di penjara di negara orang. Gua angkat, bawa ke kamar dan gua baringkan di kasur, kemudian gua langsung lari ke rumah Darcy.
“Darcy…. Darcy.. Tolong..”
Darcy membuka pintu dan gua mulai menceritakan kronologinya. Akhirnya Darcy bersedia membantu dengan membawa perempuan tersebut ke Dokter Kandungan, gua pikir; bodo amatlah, ke dokter kandungan kek, dokter kelamin kek, dokter gigi kek yang penting dokter. Darcy masih berfikir kalau perempuan itu pacar gua dan sekarang lagi hamil. Damn!
Darcy yang ikutan panik, kelimpungan mencari kunci mobil fiat merahnya, gua yang paniknya udah duluan nggak sabaran dan kemudian bilang ke Darcy, apakah dokternya bisa di telepon aja untuk datang kesini, Darcy kemudian diam sejenak, mematung dan berkata “Good Idea from a stupid person” kemudian mengangkat telepon dan mencoba menghubungi si dokter kandungan.
Gua menunggu dikamar, sambil mengompres dahinya dengan lap basah. Jam sudah menunjukkan angka 12 malam. Sesekali gua letakkan ujung telunjuk gua di depan hidungnya, dan lega rasanya mengetahui kalo dia masih hidup. Nggak lama berselang terdengar suara langkah gaduh dari arah tangga, Alhamdulillah dokternya dateng juga, kemudian muncul si dokter wanita yang usianya kira-kira hampir sama dengan Darcy, berseragam putih-putih dengan steteskop terkalung di lehernya, Darcy mengikuti dibelakangnya dan menjelaskan kronologi-nya kepada si dokter, tentu saja dengan versinya dia, Si perempuan ini sedang hamil.
Gua yang udah panik luar dalem, nggak mikirin lagi dah, terserah Darcy mau ngomong apa, yang penting nih perempuan bisa sadar aja dulu.
Nggak sampe 10 menit si dokter keluar dari kamar, kemudian menghampiri gua dan berkata;
“Apa kalian menikah?”
Gua menjawab “nggak” dan kemudian menjelaskan kronologi versi aslinya ke si dokter. Si dokter kemudian mengernyit, menatap Darcy lewat atas kacamatanya yang turun, seolah berkata “Pembual”. Kemudian berpaling ke gua lagi dan mulai berkata kalau nggak perlu panik dan menyarankan gua untuk menjaganya malam ini, karena kemungkinan suhu tubuhnya akan naik malam ini karena demam dan shock. Beliau menganjurkan untuk segera dirawat jika suhu tubuhnya tidak turun besok pagi.
Si dokter kemudian pamit, gua memaksa untuk dibuatkan tagihan-nya tapi beliau menolak, setelah mengantarkan si Dokter sampai ke mobilnya, gua kembali masuk. Darcy pun pamit, sambil bilang “You should be a gentleman young man”. Asli nih nenek-nenek kekeuh banget dengan opininya.
Gua melongok ke kamar sebentar, membetulkan selimutnya dan kembali ke ruang depan. Menatap kosong cup mie instan gua yang udah dingin. Sial!, gua kehilangan selera makan.
----
Jam 02.00 Dini hari.
Gua duduk menatap layar laptop sambil menghisap Marlboro light di ruang depan yang sekaligus jadi ruang tamu, ruang santai dan ruang untuk menonton televisi, berharap bisa mencicil project jingle untuk sebuah iklan yang sudah seminggu belum kelar, alih alih mencicil project ini gua malah kepikiran perempuan itu yang sekarang malah meracau nggak jelas didalam kamar, yang bersebelahan dengan ruang depan. Gua bergegas kedalam kamar, kembali membetulkan selimutnya yang berantakan, gua sentuh dahi-nya dengan punggung tangan. God! Panasnya tinggi banget, keringat bermunculan dari sela sela rambut di atas dahinya, kepalanya menggeleng-geleng nggak beraturan, mulutnya meracau nggak karuan, menggumamkan suara yang bunyinya seperti suara lebah.
Gua teringat pesan dokter tadi, yang bilang kalau suhu tubuhnya bakal naik. Tapi, gua nggak nyangka kalo bisa se-panas ini. Gua mencoba mematikan pemanas ruangan dan mengganti lap untuk mengompres dahi-nya dengan air es.
Gua menggenggam tangannya, pangkal telapak tangannya yang masih tertutup perban, ujung jarinya terasa dingin. Kemudian gua mengambil alkohol, alkohol sisa bekas membersihkan catridge printer gua yang udah mulai usang. FYI, kalo disini nggak seperti di Indonesia yang dimana-mana tersedia tempat untuk refill tinta printer, disini kalau tinta printer lu habis, ya dibuang terus beli lagi yang baru. Gua buka pelan-pelan perban dan plester yang mulai basah terkena keringat di pangkal telapak tangannya, kemudian gua besihkan lukanya dan gua tutup lagi dengan perban. Satu persatu luka di lutut, siku dan dahinya gua bersihkan dan ganti perbannya. Setelah selesai, perempuan ini behenti meracau, gua sentuh lagi dahi-nya dengan punggung tangan, sepertinya panasnya sudah mulai turun. Gua menyandarkan diri di pinggir kasur, duduk di lantai menghadap ke arah jendela kamar, meluruskan kaki sampai ujungnya menyentuh pintu lemari kecil tempat pakaian yang bentuknya mengikuti bentuk tangga yang menuju ke loteng, dan gua mulai memainkan pintu lemari itu dengan jempol kaki, sesuatu yang dulu sering gua lakukan tengah malam, saat nggak bisa tidur waktu baru pertama kali pindah kesini.
---
Tempat yang gua sebut rumah ini hampir mirip bentuk dan ukurannya dari rumah si Landlord; Darcy. Rumah mungil dengan tembok bata dicat warna putih. Terdiri dari dua lantai, lantai pertama digunakan Darcy untuk gudang penyimpanan miliknya yang memiliki akses menuju rumahnya. Sedangkan pintu dari luar langsung berupa anak tangga yang menuju ke lantai atas, tempat dimana gua tinggal.
Setelah menenteng naik sepeda dan meletakkannya di sudut lorong, gua membuka pintu, menyalakan lampu dan pemanas. Leeds saat akhir musim gugur seperti ini cuacanya boleh dibilang ‘sedikit’ dingin dan berangin, walau dinginnya boleh dibilang beda dengan di Alaska.
Perempuan itu pun masuk sambil celingak-celinguk, entah takjub dengan betapa berantakan dan kotornya ruangan ini atau takjub dengan kegantengan gua yang baru dia sadari.
Gua menawarkan dia untuk mandi dan membersihkan diri, dia cuma menggeleng. Mungkin dia takut, berada di tempat asing, bersama orang asing, terus nawarin mandi. Gimana nggak takut coba.
Gua ambilkan susu dari dalam kulkas, mondar-mandir mencari gelas bersih dan nggak ketemu.
“Nih minum”
“Nggak apa-apa langsung dari botolnya aja”
Gua berkata sesaat melihat dia kebingungan karena disodorkan botol susu tanpa gelas.
“Harap maklum, ya beginilah kalo hidup sendirian”
“Gua mau mandi dulu, elu nikmatin aja dulu susu nya. Besok pagi gua anter ke Stasiun”
---
Jam 11 malam.
Susu dalam botol yang gua suguhkan tadi sama sekali nggak disentuh, gua baru aja selesai menyeduh mie instan. Tiga mie instan, satu buat dia dan dua buat gua, sekedar info aja, ukuran mie instan disini lebih kecil daripada mie instan yang di Indonesia pada umumnya. Tapi kalo elu tinggal disini dan kangen sama mie instant asal Indonesia, banyak juga kok supermarket yang jual.
Gua sodorkan Cup mie instan yang masih mengepul-ngepul uapnya ke dia, dia tetap bergeming, diam kayak patung, wajahnya menunduk. Gua putuskan untuk ngabisin jatah mie gua dulu sebelum merayu dia buat makan. Baru sekitar enam suapan masuk ke mulut, perempuan itu mulai roboh, jatuh kelantai, gedebug! Gua berhenti makan, nepok jidat.
“Apes.. banget gua”
Gua beranjak dan mencoba membangunkan dia, bibirnya biru, badanya panas. Otak gua mulai bekerja, mikir nggak ya, mikir nggak ya, mikir nggak ya. Dan akhirnya gua putuskan buat mikir, sesaat kemudian munculah pikiran; Kalau sampai nih perempuan mati di tempat gua, terus di otopsi banyak luka lecet dan lebam, mampus dah gua di penjara di negara orang. Gua angkat, bawa ke kamar dan gua baringkan di kasur, kemudian gua langsung lari ke rumah Darcy.
“Darcy…. Darcy.. Tolong..”
Darcy membuka pintu dan gua mulai menceritakan kronologinya. Akhirnya Darcy bersedia membantu dengan membawa perempuan tersebut ke Dokter Kandungan, gua pikir; bodo amatlah, ke dokter kandungan kek, dokter kelamin kek, dokter gigi kek yang penting dokter. Darcy masih berfikir kalau perempuan itu pacar gua dan sekarang lagi hamil. Damn!
Darcy yang ikutan panik, kelimpungan mencari kunci mobil fiat merahnya, gua yang paniknya udah duluan nggak sabaran dan kemudian bilang ke Darcy, apakah dokternya bisa di telepon aja untuk datang kesini, Darcy kemudian diam sejenak, mematung dan berkata “Good Idea from a stupid person” kemudian mengangkat telepon dan mencoba menghubungi si dokter kandungan.
Gua menunggu dikamar, sambil mengompres dahinya dengan lap basah. Jam sudah menunjukkan angka 12 malam. Sesekali gua letakkan ujung telunjuk gua di depan hidungnya, dan lega rasanya mengetahui kalo dia masih hidup. Nggak lama berselang terdengar suara langkah gaduh dari arah tangga, Alhamdulillah dokternya dateng juga, kemudian muncul si dokter wanita yang usianya kira-kira hampir sama dengan Darcy, berseragam putih-putih dengan steteskop terkalung di lehernya, Darcy mengikuti dibelakangnya dan menjelaskan kronologi-nya kepada si dokter, tentu saja dengan versinya dia, Si perempuan ini sedang hamil.
Gua yang udah panik luar dalem, nggak mikirin lagi dah, terserah Darcy mau ngomong apa, yang penting nih perempuan bisa sadar aja dulu.
Nggak sampe 10 menit si dokter keluar dari kamar, kemudian menghampiri gua dan berkata;
“Apa kalian menikah?”
Gua menjawab “nggak” dan kemudian menjelaskan kronologi versi aslinya ke si dokter. Si dokter kemudian mengernyit, menatap Darcy lewat atas kacamatanya yang turun, seolah berkata “Pembual”. Kemudian berpaling ke gua lagi dan mulai berkata kalau nggak perlu panik dan menyarankan gua untuk menjaganya malam ini, karena kemungkinan suhu tubuhnya akan naik malam ini karena demam dan shock. Beliau menganjurkan untuk segera dirawat jika suhu tubuhnya tidak turun besok pagi.
Si dokter kemudian pamit, gua memaksa untuk dibuatkan tagihan-nya tapi beliau menolak, setelah mengantarkan si Dokter sampai ke mobilnya, gua kembali masuk. Darcy pun pamit, sambil bilang “You should be a gentleman young man”. Asli nih nenek-nenek kekeuh banget dengan opininya.
Gua melongok ke kamar sebentar, membetulkan selimutnya dan kembali ke ruang depan. Menatap kosong cup mie instan gua yang udah dingin. Sial!, gua kehilangan selera makan.
----
Jam 02.00 Dini hari.
Gua duduk menatap layar laptop sambil menghisap Marlboro light di ruang depan yang sekaligus jadi ruang tamu, ruang santai dan ruang untuk menonton televisi, berharap bisa mencicil project jingle untuk sebuah iklan yang sudah seminggu belum kelar, alih alih mencicil project ini gua malah kepikiran perempuan itu yang sekarang malah meracau nggak jelas didalam kamar, yang bersebelahan dengan ruang depan. Gua bergegas kedalam kamar, kembali membetulkan selimutnya yang berantakan, gua sentuh dahi-nya dengan punggung tangan. God! Panasnya tinggi banget, keringat bermunculan dari sela sela rambut di atas dahinya, kepalanya menggeleng-geleng nggak beraturan, mulutnya meracau nggak karuan, menggumamkan suara yang bunyinya seperti suara lebah.
Gua teringat pesan dokter tadi, yang bilang kalau suhu tubuhnya bakal naik. Tapi, gua nggak nyangka kalo bisa se-panas ini. Gua mencoba mematikan pemanas ruangan dan mengganti lap untuk mengompres dahi-nya dengan air es.
Gua menggenggam tangannya, pangkal telapak tangannya yang masih tertutup perban, ujung jarinya terasa dingin. Kemudian gua mengambil alkohol, alkohol sisa bekas membersihkan catridge printer gua yang udah mulai usang. FYI, kalo disini nggak seperti di Indonesia yang dimana-mana tersedia tempat untuk refill tinta printer, disini kalau tinta printer lu habis, ya dibuang terus beli lagi yang baru. Gua buka pelan-pelan perban dan plester yang mulai basah terkena keringat di pangkal telapak tangannya, kemudian gua besihkan lukanya dan gua tutup lagi dengan perban. Satu persatu luka di lutut, siku dan dahinya gua bersihkan dan ganti perbannya. Setelah selesai, perempuan ini behenti meracau, gua sentuh lagi dahi-nya dengan punggung tangan, sepertinya panasnya sudah mulai turun. Gua menyandarkan diri di pinggir kasur, duduk di lantai menghadap ke arah jendela kamar, meluruskan kaki sampai ujungnya menyentuh pintu lemari kecil tempat pakaian yang bentuknya mengikuti bentuk tangga yang menuju ke loteng, dan gua mulai memainkan pintu lemari itu dengan jempol kaki, sesuatu yang dulu sering gua lakukan tengah malam, saat nggak bisa tidur waktu baru pertama kali pindah kesini.
---
Backsound untuk #3


Another summer day
Has come and gone away
In Paris or Rome...
But I wanna go home
Uhm...
Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
Just wanna go home
I miss you, you know
And I've been keeping all the letters
That I wrote to you,
Each one a line or two
I'm fine baby, how are you?
Well I would send them but I know that it's just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that
Another aeroplane, another sunny place,
I'm lucky I know
But I wanna go home
I got to go home
Let me go home
I'm just too far from where you are
I wanna come home


Another summer day
Has come and gone away
In Paris or Rome...
But I wanna go home
Uhm...
Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
Just wanna go home
I miss you, you know
And I've been keeping all the letters
That I wrote to you,
Each one a line or two
I'm fine baby, how are you?
Well I would send them but I know that it's just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that
Another aeroplane, another sunny place,
I'm lucky I know
But I wanna go home
I got to go home
Let me go home
I'm just too far from where you are
I wanna come home
Spoiler for Klipnya:
Diubah oleh robotpintar 27-02-2014 15:47
aripinastiko612 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
![Accidentally In Love [True Story]](https://s.kaskus.id/images/2014/04/07/6448808_20140407033338.jpg)