Kaskus

Regional

  • Beranda
  • ...
  • Bromo
  • ¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤

pakzziiAvatar border
TS
pakzzii 
¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤
¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤


Dengan kerendahan hati Izinkan saya membuka thread forsup reg bromo emoticon-Embarrassment

¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤


Quote:

emoticon-rose

Tujuan Thread ini adalah untuk sebagai ajang sharing tentang semua hal berkaitan dengan dunia Supranatural , Spiritual maupun Budaya dan untuk bersilahturahmi menjalin keakraban terhadap sesama warga Regional Bromo ini khususnyaemoticon-shakehand

emoticon-rose


¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤


Spoiler for Pengertian:


Apabila ada yg ingin sharing atau mengenal jauh tentang dunia Supranatural mari kita diskusikan di thread ini, atau yg ingin terawang teriwing jg boleh,sapa tau ada yg bantuin emoticon-Embarrassment

Quote:



UPDATE

Spoiler for update:



Mari semuanya




Quote:
Diubah oleh pakzzii 26-03-2014 08:09
nona212Avatar border
deiro70Avatar border
deiro70 dan nona212 memberi reputasi
0
352.1K
10K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Bromo
Bromo
KASKUS Official
385Thread282Anggota
Tampilkan semua post
Kwek.Kwek.KwekAvatar border
Kwek.Kwek.Kwek
#876
Makam Buyut Boto Suro, Nguling, Pasuruan,
Makam Buyut Boto Suro, Nguling, Pasuruan,


kaskus-image


Berdasar ilmu titen yang dijadikan patokan bagi warga setempat bahwa Jumat Legi merupakan hari istimewa. Selain memiliki keberkahan sendiri, juga beragam kejadian mistis juga kerap terjadi pada hari tersebut. Peristiwa apakah itu?

Dalam balutan ritual Barik’an warga Dusun Kapuran mengalap berkah keselamatan serta restu atas segala hajat yang dimiliki dengan menggelar doa bersama di pusara leluhur, salah satunya dipusatkan di pusara Buyut Boto Suro.

Jumat Legi, biasa dipilih warga untuk melakukan ritual sakral yang diwarnai dengan mendoakan leluhur dengan harapan ‘restu’ dari para pendahulu memberikan berkah atas apa yang sedang menjadi hajat masyarakat.

Selain sebagai rasa syukur atas jasa dari leluhur yang telah mendirikan alias babad alas kawasan tersebut. Tentunya, adakalanya warga juga tak lepas memiliki hajat keduniawian. Maka, tak pelak pada hari yang dianggap keramat itu bahkan warga dari luar Dusun Kapuran juga melakukan ritual demi hal yang sama.

Uniknya, lokasi itu (khususnya Pohon Keduyo) yang dipercaya bukan sembarang pohon itu kerap dijadikan sebagai tengara akan terjadinya sesuatu. Tetenger berupa wangsit gaib alias pertanda alam terjadi sesuatu di kemudian hari.

“Seperti saat itu, ketika ada petir menyambar pohon (Keduyo) hingga terjatuh itu tidak lama berselang warganya dikabarkan meninggal dunia,” kenang M. Bajuri yang ditemui posmo sembari memperjelas bahkan tiga warganya meninggal dalam waktu hampir bersamaan.

Kejadian itu seakan mengisyaratkan tersambarnya petir hingga menjatuhkan dahan dan pelepah Keduyo itu sebagai pertanda yang nyata akan sebuah tengara peristiwa bagi warganya. “Soalnya, 15 hari usai peristiwa pohon itu, kejadian warga tersetrum listrik hingga menelan korban 3 orang mati,” imbuh pria berambut hitam meski sebagian jambangnya telah memutih itu sembari mengurai bahwa warganya yang tersetrum itu sedang menservis tv.

Kejadian yang tidak kalah mistisnya adalah terlihatnya ular di sungai yang mengelilingi kompleks makam keramat itu. “Bahkan, kalau naik pohon (Keduyo) itu tidak bisa turun. Menurut pengakuan warga yang mengalaminya seakan di bawah terlihat lautan,” imbuhnya.

Belum lagi, masih menurur M. Bajuri yang menjadi guide posmo mengurai bahwa Jumat Legi, seorang warga dalam pengakuannya berkisah bahwa di air itu (Sungai Kapuran) tampak sedang ada yang mandi, “Seperti ular,” ungkap M. Bajuri menirukan perkataan warga yang mengalami kejadian mistis itu.

Keyakinan lain pun berkembang di Dusun Kapuran. Apa itu? Iya, disebutkan bahwa bagi siapa saja jika melihat ular itu. “Maka, mata bisa buta,” jelas M. Bajuri lagi yang juga banyak diyakini warga.

“Dengan ritual minta maaf, maka kebutaan mata itu akan dapat sembuh,” katanya membeber rahasia gaib dari keberadaan kompleks pusara keramat Buyut Boto Suro.

Masih terkait ngalap berkah di kompleks pusara leluhur Dusun Kapuran. Seorang pria yang diketahui sebagai pemilik pesantren dan memiliki sawah meminta anak buahnya untuk mengairi sawah dengan air dari sungai yang berdekatan dengan pusara itu (Kapuran).

Karyawan yang diperintah pun tidak berani, takut bila ular yang diyakini sebagai penunggu gaib tempat itu keluar. Kesombongan pemilik sawah pun muncul. “Akhirnya, berangkatlah orang itu. Tiba-tiba kelihatan ‘sawer’ dan seketika pingsan,” kenang M. Bajuri lalu mengurai bahwa orang itu hingga mengalami sakit secara menahun usai mengalami kejadian penuh misteri itu.


Geger Penemuan Jenglot


Spoiler for Jenglot:


Warga Kecamatan Nguling, Kab Pasuruan, digemparkan dengan ditemukannya jenglot oleh seorang warga di Dusun Kapur, Desa Sudimulyo, Kec Nguling, bernama Mas Anom Sugiyo (27), akhir Mei lalu.

Jenglot tersebut didaperoleh saat tirakat di sebuah pemakaman Buyut Boto Suro yang lokasinya sekitar 100 meter di belakang rumahnya. Anom Sugiyo waktu itu bersama dengan enam orang temannya sengaja tirakat ke pemakaman Buyut Boto Suro untuk ‘memburu’ benda-benda pusaka dari alam ghaib.

“Dari kabar yang berkembang, katanya di makam Buyut Boto Suro itu banyak pusaka. Saya coba-coba, kok malah dapat ini. Kalau saya sih menganggapnya genderuwo, tapi orang lain menganggapnya jenglot,” terang Mas Anom Sugiyo, di rumahnya, Senin (20/6).

Jenglot ini bentuknya seperti manusia kecil, dengan ukuran sekitar 15 sentimeter, berwarna coklat gelap, dan sepintas terbuat dari kayu kering yang sangat tua.

Layaknya manusia, jenglot ini juga memiliki anggota badan lengkap, seperti kepala, tangan dan kaki.

Sekilas wajahnya mirip kelelawar dengan dua gigi ‘siung’ berada di luar mulutnya, rambut panjang menempel kaku mulai dari kepala hingga ujung kaki dan kedua tangannya bersedekap tertutup kuku panjang. Selain itu, pada jenglot terlihat juga terdapat alat kelamin seperti milik seorang laki-laki.

“Ibu saya pernah mendengar ada orang tidur mendengkur saat malam hari. Waktu dicari, ternyata suara dengkur itu dari benda (jenglot) ini,” ujar Mas Anom.

Karena kejadian itu, sejumlah anggota keluarganya sempat ketakutan, sehingga jenglot sebelumnya diletakkan begitu saja dalam kotak, akhirnya dibungkus dengan kain putih.

Mas Anom yang bekerja sebagai Staff di UPTD Pasar Grati, Kab Pasuruan tersebut, juga mendapat benda pusaka lain yang juga diburu selama satu pekan dengan tirakat di makam Buyut Boto Soro.

Berbagai pusaka ghaib pun berhasil didapatkan, seperti wesi kuning dalam kepompong; cemeti sapu jagat, berbentuk besi besi kecil; minyak dan mustika duyung; batu akik pirus urat emas; kol buntek, berbentuk keong; serta stambul (Al Quran berukuran se-ibu jari).

Mas anom menguraikan pusaka tersebut dipercaya memiliki beragam keistimewaan. Seperti jenglot dapat digunakan untuk pesugihan, besi kuning dan kol buntek untuk kekuatan, minyak dan mustika duyung untuk pengasihan, serta stambul untuk kesaktian.

Bahkan saat itu juga dipraktikkan dengan membakar wadah stambul yang sepertinya terbuat dari potongan kain dengan sebuah korek gas. ternyata potongan pembungkus tersebut, tidak terbakar.

“Jika ada yang berminat dengan benda-benda ini, saya persilahkan saja untuk memilikinya,” kata Mas Anom yang mengaku pusakanya berupa keris lekuk 11 dari jaman Mojopahit, pernah dibeli Sri Mulyani, Mantan Menkeu RI yang saat ini menjadi Direktur IMF.

Alasan Mas Anom Sugiyo melakukan tirakatan di makam Buyut Boto Suro, lantaran merasa sebagai anak turun dari tokoh babad desa di wilayah Nguling.

Masyarakat setempat memahami Buyut Boto Suro adalah seorang tokoh panglima Kerajaan Mataram kala itu, yang melarikan diri dari kejaran Belanda bersama seorang tokoh atau Panglima Kerajaan Mataram lainnya, yakni Trohpati.

Makam Trohpati sendiri juga berada tidak jauh dari makam Buyut Boto Suro.

“Keberadaan Buyut Boto Suro dan Trohpati tersebut juga pernah dilacak oleh Kesultanan Yogyakarta,” terang Joko S, kakak Mas Anom Sugiyo.

Dalam pelariannya itu, Trohpati dan Buyut Boto Suro, membawa sejumlah pusaka Kerajaan Mataram.

Trohpati membawa pusaka berupa Bende Mataram dan keris Nogo Sosro Sabuk Inten. Sedangkan Buyut Boto Suro membawa kotak yang didalamnya berisi minyak, sopak, kebo dungkul (seperti batu-batu kecil) dan bintang lambang kerajaan. tj

Spoiler for sumur:
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.