- Beranda
- Stories from the Heart
Seru Juga Jadi Pengagum Rahasia
...
TS
songotku
Seru Juga Jadi Pengagum Rahasia
Quote:
Capek juga ya nulisnya

Baca
2 Lanjutan
3 Traktir Adi
4 Telpon dari Nida
5 Hari H 1
6 Hari H 2

7 aku ingat Hari H lagi
8 masuk sekolah
9 Sudah lama tapi masih terasa
10 Harapan kecil
11 bandung aku datang
12 ending 1
13 SELESAI
Agar Lebih mendramatisir bolehlah pada akhir part mendpadengarkan atau ngeliat lyrik ini ya
Quote:
Diubah oleh songotku 08-03-2014 05:53
anasabila memberi reputasi
1
9.7K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
songotku
#48
Masuk Sekolah......
Seperti yang kuduga, hari masuk sekolah semua terkejut dengan kepindahan Nida. Di kelasku yang tak terlihat terkejut hanya Desi, aku tahu tidak mungkin Nida tidak cerita kepada Desi. Adi memberondongku dengan pertanyaan, dan aku hanya bisa bungkam. Aku tak mau membahas ini lagi. Nida sudah memutuskan pergi, dan biarlah dia pergi. Aku bersikap tidak peduli seperti biasa, seolah bukan urusanku. Semua sudah terasa sedikit lebih baik sejak hari itu. Setidaknya apa yang kurasakan di hati sudah tidak tergambar di wajahku. Mungkin hanya Adi yang sedikit sadar, tapi aku tak memberinya jawaban apapun setiap saat dia bertanya, agaknya dia juga mengerti dan mulai diam. Suatu saat aku pasti akan bicara ke dia, tapi tidak sekarang.
Meski kubilang perasaaku sudah membaik. Tapi tu cuma sedikit, aku masih terasa nyeri setiap kali melewati mushola atau perpustakaan. Semua kenangan bersama Nida seakan menyeruak keluar tanpa bisa kucegah, dan itu tidak bisa tidak membuat perasaanku merana. Untuk beberapa saat aku menghindari datang ke perpustakaan kalau tidak terlalu perlu. Penjaga perpustakaan sedikit heran denganku yang seperti itu, tapi agaknya beliau tidak bertanya lebih lanjut, aku bersyukur untuk itu. Sedang mushola, aku tidak bisa menghindar untuk pergi kesana setiap hari, tapi setidaknya disamping rasa perih ada perasaan tenang juga setiap aku kesana. Aku tidak tahu harus berapa lama aku merasakan seperti ini. Sebulan, dua bulan, setahun atau entah berapa lama lagi. Aku benar-benar tidak tahu. Aku tersiksa. Rasanya akan lebih mudah kalau aku bisa membencinya. Atau memang aku harus belajar untuk itu?
Nanti kalau ada kesempatan saya update lagi,

Seperti yang kuduga, hari masuk sekolah semua terkejut dengan kepindahan Nida. Di kelasku yang tak terlihat terkejut hanya Desi, aku tahu tidak mungkin Nida tidak cerita kepada Desi. Adi memberondongku dengan pertanyaan, dan aku hanya bisa bungkam. Aku tak mau membahas ini lagi. Nida sudah memutuskan pergi, dan biarlah dia pergi. Aku bersikap tidak peduli seperti biasa, seolah bukan urusanku. Semua sudah terasa sedikit lebih baik sejak hari itu. Setidaknya apa yang kurasakan di hati sudah tidak tergambar di wajahku. Mungkin hanya Adi yang sedikit sadar, tapi aku tak memberinya jawaban apapun setiap saat dia bertanya, agaknya dia juga mengerti dan mulai diam. Suatu saat aku pasti akan bicara ke dia, tapi tidak sekarang.
Meski kubilang perasaaku sudah membaik. Tapi tu cuma sedikit, aku masih terasa nyeri setiap kali melewati mushola atau perpustakaan. Semua kenangan bersama Nida seakan menyeruak keluar tanpa bisa kucegah, dan itu tidak bisa tidak membuat perasaanku merana. Untuk beberapa saat aku menghindari datang ke perpustakaan kalau tidak terlalu perlu. Penjaga perpustakaan sedikit heran denganku yang seperti itu, tapi agaknya beliau tidak bertanya lebih lanjut, aku bersyukur untuk itu. Sedang mushola, aku tidak bisa menghindar untuk pergi kesana setiap hari, tapi setidaknya disamping rasa perih ada perasaan tenang juga setiap aku kesana. Aku tidak tahu harus berapa lama aku merasakan seperti ini. Sebulan, dua bulan, setahun atau entah berapa lama lagi. Aku benar-benar tidak tahu. Aku tersiksa. Rasanya akan lebih mudah kalau aku bisa membencinya. Atau memang aku harus belajar untuk itu?
Nanti kalau ada kesempatan saya update lagi,

0
. Juga mukaku yang selalu bersemu,
kalau secara tak sengaja pandangan kami bertemu atau saat dia menyapaku sambil lalu. Jantungku juga tidak mau berkompromi, selalu berdebar keras kalau dia ada di sekitarku. Sialnya, hampir tiap hari aku bertemu dia di kelas, kecuali hari minggu. Masih beruntung aku duduk di barisan belakang, sedang dia di depan, jadi tidak terlalu banyak hal-hal yang harus kami lakukan bersama, seperti berbagi buku pelajaran atau sekedar meminjam pulpen. Posisi duduk ini juga memungkinkanku untuk mengawasinya dengan tenang, tanpa perlu takut ketahuan, kadang juga membuatku agak susah berkonsentrasi terhadap pelajaran.
yang lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan, mushola atau kadang lantai teratas sekolah. Pokoknya tempat-tempat sepi yang memungkinkanku bisa membaca buku dengan tenang atau tidur siang. Nilai-nilaiku juga sebenarnya tidak begitu buruk tapi jelas tidak bisa dibandingkan dengan dia. Aku juga tidak tergabung dalam ekstrakurikuler apapun, apalagi OSIS. Singkatnya, kalau dia itu bermandikan cahaya, aku seakan ditelan bayang-bayang. Bukan berarti aku tidak puas, aku sudah cukup puas hanya dengan mengagumi dan mengawasi dia saja. Bukankah yang namanya suka itu, kadang tidak perlu diungkapkan, daripada menyakitkan.

“Hahaha, kamu aneh deh” ujarnya sambil tersenyum seraya beranjak pergi.