Kaskus

Regional

  • Beranda
  • ...
  • Bromo
  • ¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤

pakzziiAvatar border
TS
pakzzii 
¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤
¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤


Dengan kerendahan hati Izinkan saya membuka thread forsup reg bromo emoticon-Embarrassment

¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤


Quote:

emoticon-rose

Tujuan Thread ini adalah untuk sebagai ajang sharing tentang semua hal berkaitan dengan dunia Supranatural , Spiritual maupun Budaya dan untuk bersilahturahmi menjalin keakraban terhadap sesama warga Regional Bromo ini khususnyaemoticon-shakehand

emoticon-rose


¤* [FORSUP Reg. Bromo] Supranatural , Spiritual & Budaya Regional BROMO *¤


Spoiler for Pengertian:


Apabila ada yg ingin sharing atau mengenal jauh tentang dunia Supranatural mari kita diskusikan di thread ini, atau yg ingin terawang teriwing jg boleh,sapa tau ada yg bantuin emoticon-Embarrassment

Quote:



UPDATE

Spoiler for update:



Mari semuanya




Quote:
Diubah oleh pakzzii 26-03-2014 08:09
nona212Avatar border
deiro70Avatar border
deiro70 dan nona212 memberi reputasi
0
351.8K
10K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Bromo
Bromo
KASKUS Official
385Thread282Anggota
Tampilkan semua post
Kwek.Kwek.KwekAvatar border
Kwek.Kwek.Kwek
#734
Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan

Gunung dengan Sejuta Sejarah

Tempat Kediaman Para Dewa



Gunung Penanggungan dengan ketinggian (1.659 mdpl) dahulunya bernama Gunung Pawitra yang artinya kabut, karena puncaknya yang runcing selalu tertutup kabut. Gunung Penanggungan dikelilingi oleh empat gunung di sekitarnya, yaitu Gn. Gajah Mungkur (1.084 m), Gn. Bekel (1.240 m), Gn.Sarahklopo (1.235 m), dan Gn. Kemuncup (1.238 m).

Spoiler for gunung penanggungan:


Letak gunung berapi tidur ini membelah Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang walaupun Gunung Penaggungan tak setinggi gunung-gunung tetangganya.
Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Sehingga di masa itu ia dikenal sebagai Gunung Pawitra artinya Gunung kabut.
Spoiler for gunung penanggungan:


Sejak jaman agama Hindu dan Budha berkembang di Jawa, masyarakat sudah menganggap keramat gunung tersebut karena bentuk gunung Penanggungan yang lain daripada gunung-gunung lainnya. Dalam ajaran agama Hindu dan Budha dikenal adanya konsepsi makrokosmos (susunan alam semesta) bahwa alam semesta berbentuk lingkaran pipih seperti piringan dengan gunung Mahameru sebagai pusatnya. Mahameru yang dimaksud adalah gunung dalam konsepsi ajaran Hindu, yang dianggap sebagai titik pusat alam semesta.
Konsep makrokosmos ini diyakini masyarakat Jawa Kuno pada periode Hindu Buddha pada abad VII-XV Masehi dan diejawantahkan pada berbagai wujud bangunan suci, penataan istana, susunan administrasi pemerintahan dan lain-lain. Konsep dasar bangunan candi yang ada di Pulau Jawapun secara umum menyesuaikan dengan konsep makrokosmos tersebut. gunung Penanggungan dalam kepercayaan masyarakat Jawa adalah salah satu perwujudan konsepsi makrokosmos tersebut karena gunung tersebut diyakini sebagai salah satu puncak Mahameru yang dipindahkan oleh dewa penguasa alam.

Spoiler for puncak penanggungan:


Gunung Penanggungan merupakan salah satu gunung suci dari sembilan gunung suci di Jawa. Perihal kesuciannya tersebut diabadikan dalam Kitab Tantu Panggelaran. Kitab ini berasal dari tahun 1557 Saka (1635 M). Dalam kitab ini diceritakan tentang proses pemindahan Gunung Mahameru oleh para Dewa dari tanah Jambudwipa(india) ke pulau Jawadwipa(jawa), dan terbentuknya gunung-gunung di Jawa. Beginilah kisahnya:

Col andap kulwan, maluhur wetan ikang nuşa jawa; yata pinupak sang hyang mahāmeru, pinalih mangetan. Tunggak nira hana kari kulwan; matangnyan hana argga kelāça ngarannya mangke, tunggak sang hyang mahāmeru ngūni kacaritanya. Pucak nira pinalih mangetan, pinutĕr kinĕmbulan dening dewata kabeh; runtuh teka sang hyang mahāmeru. Kunong tambe ning lĕmah runtuh matmahan gunung katong; kaping rwaning lmah runtuh matmahan gunung wilis; kaping tiganing lmah runtuh matmahan gunung kampud; kaping pat ing lmah runtuh matmahan gunung kawi; kaping limaning lmah runtuh matmahan gunung arjuna; kaping nĕm ing lmah runtuh matmahan gunung kumukus.
Goweng sisih ring iswar dening runtuh sang hyang mahāmeru, yata condong mangalwar pangadĕgnira, (molah pukah pucaknira). Yata inadĕgakĕn dening watĕk dewata pucak sang hyang mahāmeru. Ih pawitra ling ning dewata kabeh; yata ring pawitra ngaranya mangke pucak sang hyang mahāmeru kacaritanya ngūni.
......(Pigeaud, 1924).

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dilepaskan turun di sebelah barat, menuju ke timur pulau Jawa. kemudian dilepaslah Sang Hyang Mahameru, dipindah ke timur. Dasarnya tertinggal di barat. Oleh sebab itu terciptalah gunung yang bernama Kailaca nanti. Mengenai Sang Hyang Mahameru beginilah ceritanya. Puncaknya dipindah ke timur, dikitari oleh semua para dewa; runtuh dari Sang Hyang Mahameru. Setelah jatuh ke tanah terciptalah Gunung Katong (Nama kuno gunung Lawu), yang kedua tanah jatuh menciptakan Gunung Wilis; yang ketiga tanah runtuh tercipta Gunung Kampud(Nama kuno gunung Kelud), yang ke empat pada tanah yang runtuh tercipta Gunung Kawi; yang kelima tanah runtuh menciptakan Gunung Arjuno; yang keenam tanah runtuh menciptakan Gunung Kamukus(Nama kuno Gunung Welirang)
Rusaklah bagian bawah setelah runtuhnya Sang Hyang Mahameru, lebih ke arah utara berdiri tegak (bagian potongan puncaknya). Di sanalah berdiri tempat para dewa di puncak Sang Hyang Mahameru. Di pindah ke Pawitra maksud para dewa semua, disebut Pawitra nanti puncak Sang Hyang Mahameru, seperti diceritakan tadi....….(Munib, NB. 2011).

Dari kutipan di atas, diketahui bahwa nama “penanggungan” belum umum digunakan, dalam Tantu Panggelaran masih digunakan nama “pawitra”. Pada Prasasti Cunggrang (851 Saka) peninggalan Raja Sindok, di sebutkan pula nama “pawitra” berkenaan tentang banguna-bangunan suci di lereng timur Gunung Pawitra(Bangunan karsyan yang di sebut “Sang hyang dharmmacrama ing pawitra” dan sebuah pemandian suci yang disebut“sang hyang tirtha pancuran ing paawitra”)

Gunung Penanggungan merupakan runtuhan ketujuh setelah Gunung Kamukus (Welirang) dari rentetan guguran Sang Hyang Mahameru yang dipindah dari india ke tanah Jawa. Jadi, sebagai salah satu bagian dari Sang Hyang Mahameru maka Gunung Penanggungan adalah gunung suci bagi umat Hindu. Kesucian tersebut dapat pula dilihat dari ditemukannya bangunan suci berupa reruntuhan bangunan suci di lereng-lerengnya, seperti Pathirtan Belahan (Sumber Tetek), Pathirtan Jolotundo, dan masih banyak lagi reruntuhan bangunan suci di lereng hingga puncak Gunung Penanggungan.

Spoiler for sumber tetek:


Tak mengherankan kiranya apabila Gunung Pawitra telah dimuliakan sejak waktu yang lama. Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan peninggalan arkeologi yang ditemukan di lerengnya, diketahui Penanggungan disakralkan sejak abad 10 M. Inkripsi tertua yang ditemukan adalah prasasti suci yang bertanggal 18 September 929 M. Prasasti itu dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Pu Sindok (atau dikenal dengan empu sindok) yang memerintahkan agar Desa Cunggrang dijadikan daerah bebas pajak (sima), penghasilan desa itu dipersembahkan bagi pemeliharaan bangunan suci Sanghyang Dharmasrama ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung. Berdasarkan berita prasasti tersebut dapat ditafsirkan, pada masa itu telah terdapat bangunan suci (prasada) dan asrama bagi para pertapa di Pawitra.

Berdasarkan tafsiran dari berbagai bentuk data yang tersedia, baik berupa monumen, area-area, prasasti, uraian kitab kuna Arjunawiwaha, Nagarakrtagama, Arjunawijaya, Tantu Panggelaran, dan lainnya lagi, dapat diketahui dalam era Hindu-Buddha di Jawa, Gunung Pawitra merupakan pusat kegiatan kaum resi atau karsyan. Para resi adalah mereka yang mengundurkan diri dari dunia ramai, memilih hidup menyepi di keheningan alam pegunungan dan kehijauan hutan yang masih asri. Gunung Pawitra dijadikan pusat aktivitas keagamaan kaum resi, tentu berdasarkan pemikiran bahwa Pawitra tidak lain dari puncak Mahameru itu sendiri. Apabila para resi dan kaum pertapa itu bermukim di lerengnya, berarti lebih mendekati rahmat dewa, lebih mudah berkomunikasi dengan dunia Swarloka, tempat Girinatha (Siwa) dan dewa-dewa lainnya bersemayam. Penduduk lokal percaya bahwa gunung Penanggungan merupakan gunung yang banyak digunakan sebagai tempat meditasi atau bertapa, dimana juga banyak dihuni oleh para dewa yang sering marah,.

HAYAM WURUK (1350 -1389 M), raja Majapahit yang suka jalan-jalan itu pun pernah mampir di lereng timur Pawitra untuk menikmati keindahan. Disebutkan dalam Kakimpoi Nagarakrtagama pupuh 58 : 1, sang raja singgah di Cunggrang, asrama para pertapa yang terletak di tepi jurang yang curam. Dari tempat itu pemandangan ke arah Pawitra sangat menawan.

Dahulu di lereng barat Gunung Penanggungan jg pernah berdiri pusat pemerintahan Raja Airlangga, yang bernama wwatan mas. Hingga kini bangunan benteng serta gapura megah masih tetap kokoh berdiri di Desa Wotanmasjedong, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Bangunan tersebut adalah situs Gapura Jedong atau lebih dikenal masyarakat dengan nama Candi Jedong.

Spoiler for situs wotanmas jedong:


Peninggalan sejumlah besar monumen dan artefak dari masa silam (abad 10 - 16 M) di lereng Penanggungan itu dilaporkan oleh arkeolog Belanda WF. STUTTERHEIM (1925). Eksplorasi awal itu hanya mengungkapkan kekayaan peninggalan kuna di kawasan tersebut. VR. VAN ROMONDT, insinyur yang arkeolog, mengadakan penelisikan secara menyeluruh di situs Gunung Penanggungan.


Di Penanggungan ditemukan tidak kurang dari 80 kepurbakalaan. Terdapat sekitar 50 monumen berupa punden berundak-undak dengan tiga altar persajian di teras teratasnya. Dinding punden-punden berundak adayang dihias dengan relief centa Sudhamala (kisah ruwat Dewi Durga), Arjunawiwaha (perkimpoian Arjuna dengan Bidadari), Panji (kisah roman antara putra mahkota Janggala dan putri Kediri), Ramayana, dan kisah-kisah hewan. Kepurbakalaan lainnya berupa gua-gua pertapaan, deretan anak tangga batu mendaki bukit, area-area, gentong-gentong batu, altar persajian tunggal, batu dihias relief, prasasti, ribuan pecahan gerabah dari berbagai bentuk.
Tidak hanya punden berundak-undak, ada beberapa candi yang dapat Anda jumpai saat menuruni lereng gunung, di antaranya Candi Gentong. Dinamakan Gentong karena pada candi tersebut terdapat batu yang mirip gentong dan sebuah altar.
Selain Candi Gentong, ada Candi Sinta yang terdiri dari bangunan candi kecil, altar pemujaan kecil,dan bebatuan yang mirip nisan. Kemudian, Candi Jolotundo beserta candi-candi lain yang namanya tidak diketahui.
• Candi Putri, Menuju candi ini memerlukan waktu ± 1,5 jam dari candi jolotundo. Kondisi candi ini masih terawat. Tetapi disini tidak ditemui air seperti candi jolotundo. Candi ini terdiri dari susunan batu. Candi ini akan ditemukan pada jalur pendakian menuju puncak.
• Candi Pure, Posisi candi ini tidak terlalu jauh dari candi putri. Dan ditemui pada jalur pendakian menuju puncak.
• Candi Sinto, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan candi putri, hanya lebih kecil.
• Candi Gentong, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak. Berbentuk seperti gentong air . kalau zaman sekarang gentong air terbuat dari tanah liat sedangkan candi tersebut terbuat dari batu.
• Candi Lurah, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak
• Candi Guru, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak
• Candi Wisnu, Candi ini berada paling tinggi, Hampir mendekati puncak. Setelah itu turun kembali ke candi guru untuk menemukan candi yang lain.
• Candi Carik, Menuju candi ini, dari candi Guru turun kea rah kiri. Maka akan menemukan jalur candi-candi yang lain. Jika ke puncak Gn. Penanggungan melalui candi jolotundo, tidak menemui candi ini.
• Candi Naga, Jika ke puncak Gunung Penanggungan melalui candi jolotundo, tidak menemui candi ini
• Candi Bayi, Jika ke puncak Gunung Penanggungan melalui candi jolotundo, tidak menemui candi ini
• Candi Selokelir, Posisi candi ini berada di dekat perumahan penduduk. Keberadaan candi ini sangat mengkhawatirkan. Karena batu-batu penyusun candi banyak yang sudah rusak dan juga dijadikan jalan bagi masyarakat. Relief pada candi ini ada bergambar bunga.
• Candi Siwa, Candi ini posisi tersembunyi. Dengan ukuran tidak terlalu besar, berada dirimbunan tanaman kaliandra
• Candi tidak ada nama, Candi ini tidak memiliki memiliki plang nama seperti candi-candi yang lain.

Spoiler for Pathirtan jolotundo:

Spoiler for Pathirtan jolotundo:


Spoiler for candi naga:


Spoiler for candi putri:


Spoiler for relief di candi wayang:

Semua peninggalan bersejarah yang terdapat di kawasan Penanggungan ditemukan pada tahun 1920 an, saat terjadi kebakaran hutan yang hebat di lereng gunung tersebut. Dari kejadian itu pula, benda-benda dari masa kejayaan Majapahit ikut banyak ditemukan beserta situs arkeologi dan ribuan artefak lainnya yang tersebar di lembah dan lereng sisi barat dan utara Penanggungan bisa terungkap.

Nah, bagi pencinta sejarah, peninggalan purbakala akan menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.
Sayangnya ekosistem di gunung ini sekarang sudah mulai rusak, terlihat setengah dari gunung ini sudah gersang, gundul tanpa pepohonan ditambah lagi daerah lerengnya sudah menjadi tegalan / ladang pisang dan jagung, juga sampah-sampah yang berserakan akibat para pendaki yang kurang memahami nilai - nilai tanggung jawab dan kesadaran terhadap pentingnya kelestarian lingkungan, hal ini yang membuat gunung ini sudah kehilangan suasana alaminya, akan tetapi view yang di tawarkan oleh gunung ini sayang untuk dilewatkan, fenomena ini yang membuat gunung penanaggungan selalu ramai di kunjungi para pendaki dari berbagai kawasan.

Diubah oleh Kwek.Kwek.Kwek 11-02-2014 11:25
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.