- Beranda
- Stories from the Heart
Seru Juga Jadi Pengagum Rahasia
...
TS
songotku
Seru Juga Jadi Pengagum Rahasia
Quote:
Capek juga ya nulisnya

Baca
2 Lanjutan
3 Traktir Adi
4 Telpon dari Nida
5 Hari H 1
6 Hari H 2

7 aku ingat Hari H lagi
8 masuk sekolah
9 Sudah lama tapi masih terasa
10 Harapan kecil
11 bandung aku datang
12 ending 1
13 SELESAI
Agar Lebih mendramatisir bolehlah pada akhir part mendpadengarkan atau ngeliat lyrik ini ya
Quote:
Diubah oleh songotku 08-03-2014 05:53
anasabila memberi reputasi
1
9.7K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
songotku
#17
Telpon dari Nida
“Kak!” tiba-tiba lamunanku buyar.
“Kakak ngapain senyum-senyum sendiri?” ternyata adikku, adik perempuanku satu-satunya ini tiba-tiba saja sudah ada di depanku. Astaga, ternyata dari tadi aku nyengir sendiri sambil tiduran di kasur.
“Hah? Siapa yang senyum-senyum?” sangkalku. Sifatku yang ini agaknya sudah susah tertolong lagi.
“
Hayooo, kakak kenapa ini?” senyum jahil adikku tiba-tiba mengembang.
“Bukan apa-apa, ngapain kamu kesini?” aku langsung mengalihkan pembicaraan.
“Cuma mau bilang,nanti ajarin aku bikin PR ya kak”
jawab adikku.
“Lagi? Dasar, yaudah nanti malam aja.”
“Hehehe, makasih kak.” jawab adikku sambil tersenyum girang.
“Iya iya, udah pergi sana.” jawabku sambil mengibaskan tangan.
“Kak…..”
“Apa lagi?” sergahku.
“Ternyata kakak bisa jatuh cinta juga ya?”
Buk. Kulempar bantal ke mukanya. Dia cuma berlari keluar kamar sambil tertawa riang. Sial, apa semuanya tergambar jelas di wajahku ya?
Tiba-tiba hpku bergetar. Ternyata ada panggilan masuk. Dari Nida!! Buru-buru kuangkat panggilan itu.
“Assalammu’alaikum, kenapa Nida?”
“…..”
“Besok lusa? Tentu saja jadi, aku udah ajak Adi, gimana Desi?”
“…..”
“Hee, baguslah kalau dia bisa. Kita janjian dimana?”
“…..”
“Langsung ketemu di 21? Oke, aku gak masalah kok, kamu telepon cuma mau nanyain ini?”
“…..”
“Hah? Nggak salah kok, cuma heran aja.”
“…..”
“Hahahaha, yaudah sampe ketemu lusa ya, jam sebelas kan?”
“…..”
“Oke, wa’alaikumsalam warahmatullah”
Quote:
“Kak!” tiba-tiba lamunanku buyar.
“Kakak ngapain senyum-senyum sendiri?” ternyata adikku, adik perempuanku satu-satunya ini tiba-tiba saja sudah ada di depanku. Astaga, ternyata dari tadi aku nyengir sendiri sambil tiduran di kasur.
“Hah? Siapa yang senyum-senyum?” sangkalku. Sifatku yang ini agaknya sudah susah tertolong lagi.
“
Hayooo, kakak kenapa ini?” senyum jahil adikku tiba-tiba mengembang.“Bukan apa-apa, ngapain kamu kesini?” aku langsung mengalihkan pembicaraan.
“Cuma mau bilang,nanti ajarin aku bikin PR ya kak”
jawab adikku.“Lagi? Dasar, yaudah nanti malam aja.”
“Hehehe, makasih kak.” jawab adikku sambil tersenyum girang.
“Iya iya, udah pergi sana.” jawabku sambil mengibaskan tangan.
“Kak…..”
“Apa lagi?” sergahku.
“Ternyata kakak bisa jatuh cinta juga ya?”

Buk. Kulempar bantal ke mukanya. Dia cuma berlari keluar kamar sambil tertawa riang. Sial, apa semuanya tergambar jelas di wajahku ya?
Tiba-tiba hpku bergetar. Ternyata ada panggilan masuk. Dari Nida!! Buru-buru kuangkat panggilan itu.
“Assalammu’alaikum, kenapa Nida?”
“…..”
“Besok lusa? Tentu saja jadi, aku udah ajak Adi, gimana Desi?”
“…..”
“Hee, baguslah kalau dia bisa. Kita janjian dimana?”
“…..”
“Langsung ketemu di 21? Oke, aku gak masalah kok, kamu telepon cuma mau nanyain ini?”
“…..”
“Hah? Nggak salah kok, cuma heran aja.”
“…..”
“Hahahaha, yaudah sampe ketemu lusa ya, jam sebelas kan?”
“…..”
“Oke, wa’alaikumsalam warahmatullah”
Quote:
0
. Juga mukaku yang selalu bersemu,
kalau secara tak sengaja pandangan kami bertemu atau saat dia menyapaku sambil lalu. Jantungku juga tidak mau berkompromi, selalu berdebar keras kalau dia ada di sekitarku. Sialnya, hampir tiap hari aku bertemu dia di kelas, kecuali hari minggu. Masih beruntung aku duduk di barisan belakang, sedang dia di depan, jadi tidak terlalu banyak hal-hal yang harus kami lakukan bersama, seperti berbagi buku pelajaran atau sekedar meminjam pulpen. Posisi duduk ini juga memungkinkanku untuk mengawasinya dengan tenang, tanpa perlu takut ketahuan, kadang juga membuatku agak susah berkonsentrasi terhadap pelajaran.
yang lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan, mushola atau kadang lantai teratas sekolah. Pokoknya tempat-tempat sepi yang memungkinkanku bisa membaca buku dengan tenang atau tidur siang. Nilai-nilaiku juga sebenarnya tidak begitu buruk tapi jelas tidak bisa dibandingkan dengan dia. Aku juga tidak tergabung dalam ekstrakurikuler apapun, apalagi OSIS. Singkatnya, kalau dia itu bermandikan cahaya, aku seakan ditelan bayang-bayang. Bukan berarti aku tidak puas, aku sudah cukup puas hanya dengan mengagumi dan mengawasi dia saja. Bukankah yang namanya suka itu, kadang tidak perlu diungkapkan, daripada menyakitkan.

