- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.3K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#314
PART 26
Awan mendung menggantung di langit yang mulai gelap. Pertanda akan segera turun hujan. Tak lama kemudian suara petir pun bergemuruh menyambar sudut langit kota ini. Dan hujan pun turun dengan sangat derasnya . Sebatang rokok terlihat menghiasi bibir gw yang berkali kali mengeluarkan kepulan asap tebal. Setidaknya cukup untuk menghangatkan badan gw yang sedikit kedinginan kala itu.
Di sebuah taman kecil ini gw sedang menunggu seorang gadis berkulit putih dengan rambut yang selalu dikuncir. Siapa lagi kalau bukan Nurul.
Saat malam sebelumnya gw sudah membuat janji dengannya untuk bertemu sepulang sekolah. Tujuan gw disini sudah jelas untuk membicarakan sesuatu yang sempat tertunda beberapa hari kemarin. Dan kali ini harus dibicarakan Empat mata....!!
Tentu gw sudah menyiapkan semuanya dengan persiapan yang cukup matang dan meyakinkan.
"Hujan Jar...Lu sekarang dimana?" Sms dari Nurul.
"Gw masih di taman nih...Lu jam berapa keluarnya?" balas gw.
"Nanti jam 15.30 Jar. Ga apa pa ya,"
"Yaudah gw tunggu." Balas gw.
"Beneran nih Jar? Hehe asiikk di tungguin.." Balas dia sedikit becanda.
'Iya bakul....." balas gw.
Di tengah hujan itu fikiran gw kembali tertuju pada Niar...Ya, Lagi dan lagi....
Wajah itu selalu membayang bayangi isi kepala gw. Pandangan matanya yang begitu tenang masih terbayang jelas yang terkadang menyejukkan hati, terkadang menyakitkan hati.
Perasaan bersalah ini selalu saja datang menghantui gw. Penyesalan itu masih tersisa di sini, di sudut hati gw.
Semakin lama gw semakin lelah memikirkan dia. Berbagai cara telah gw lakukan untuk menghapus fikiran tentangnya yang sangat mengganggu sekali kondisi kejiwaan gw. Dan kehadiran gw kali ini adalah salah satu cara. Bertemu dengan Nurul sore ini...
Walaupun cara itu cara tersadis yang pernah gw lakukan.
Lamunan gw kemudian disadarkan oleh seorang gadis yang berjalan menghampiri keberadaan gw dengan memakai payung berwarna merah . Dia Nurul...
Perlahan dia semakin mendekat, langkah kakinya yang membelah genangan air itu serasa berirama dengan musik yang gw putar di HP ini. Tapi irama itu menjadi tak sinkron lagi karena langkahnya pun berhenti, tepat di tempat gw berteduh.
"Udah lama Jar?" Tanya dia.
'Lumayan...kira kira satu jam." Jawab gw.
"maaf ya Jar soal yang kemaren..."
"Loh minta maaf buat apa?" tanya gw.
"Iya soal sms gw yang kemaren itu loh Jar..."
"Iya nggak apa apa...tapi kok lu bisa suka sama gw sih?" tanya gw.
"Emmm...Nggak tau. Waktu pas kita ngobrol di rumah Nenek waktu itu, Gw ngerasa nyaman aja sama lu Jar..." ucapnya.
Spechles....
Dia dengan mudahnya berkata terus terang perihal perasaan suka itu terhadap gw. Dia wanita...Dia berani menyatakannya...Sedangkan gw? Gw terlalu takut dan pengecut ketika gw ingin sekali mengatakan itu semua.
Mengatakan pada seorang gadis yang sudah pergi entah kemana meninggalkan gw.
Gw kembali diam, terbesit beberapa pertanyaan yang akan gw ajukan ke dia. Hanya ingin tahu seberapa besar rasa sukanya itu.
"Hanya sebatas suka kan Nu?? Bukan 'sayang'??"
"Iya Jar...eh, maksudnya...emm 'sayang'..." jawabnya.
JEGERR...!!
Seketika kami terdiam. Hati gw berkecamuk, fikiran gw menerawang jauh dari jiwa gw. Sebenarnya muncul perasaan ragu di dalam diri gw tentang cara yang satu ini.
Pelampiasan...Mungkin kata itu terlalu kejam untuk gadis ini.
"Arti kata sayang banyak loh Nu, sayang sebagai apa dulu nih?" Tanya gw kembali.
"Maaf Jar, gw nggak bisa jawab pertanyaan itu. Semuanya balik lagi ke elu nya. Coba tanya ke diri lu sendiri Jar... Gw nggak tau apa yang ada di dalam hati lu. Yang gw ingin tahu, apa elu ngerasain hal yang sama kaya yang gw rasain sekarang Jar? Jawab dengan hati lu...bukan bertanya balik ke gw." Ujarnya panjang lebar.
"Haaaah.....Kalo sayang sebagai pacar gimana?"
"Jangan tanya gw Fajar...Gw nggak bisa jawab. Karena jawabannya ada di hati lu!!" Ujarnya.
"Terus kalo hati gw bilang 'iya'?"
"maksudnya?" Tanya dia lagi.
"Hati gw setuju kalo sayang sebagai pacar..."
"Jadiiiii....??"
"Jadi pa Nu?"
"Kita emmm..."
"Iya kita......"
"Kita Jadian??" Ucapnya sambil menundukkan kepala karena malu.
"..............." Gw hanya mengangguk pelan menjawab pernyataan 'Jadian' itu. Tak lupa sebuah senyuman gw berikan kepadanya.
Akhirnya gw mencatatkan sejarah karena kali ini gw punya pacar!! Hebat kan gw?? Amazing doong...(LEBAY!!). Setelah hujan mulai reda, kami berdua pun akhirnya pulang. Di perjalanan pulang, gw merasa canggung dengan keadaan status baru ini. Sehingga tidak ada saling sapa diantara kami berdua, yang ada hanya genggaman tangan Nurul melingkar di pinggang gw yang ramping ini. Hujan pun belum sepenuhnya berhenti, tapi gw memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan karena waktu sudah sore. Dan kami pun sampai di depan rumahnya...
"Mampir dulu??" ajak dia.
"Udah sore Nu, gw langsung aja ya."
"Mampir dulu yaa...gw bikinin teh. Mau ya..." Ajak dia sedikit memaksa.
"Yaudah tapi gw nggak lama ya. Jam 5 gw harus pulang"
"Iya nggak apa apa.."
Gw memutuskan ntuk mampir dulu ke rumahnya walaupun hanya sebentar. Dua cangkir teh hangat sudah tersaji di atas meja di teras. Gw menyeruput teh tersebut sambil menatap suasana di sekeliling taman. Taman yang cukup indah, dihiasi puluhan anggrek yang berkilau terkena air hujan.
"Nu...."
"Ya..."
"Lu yakin sama hubungan ini?" tanya gw.
"Kalo lu yakin, gw bisa lebih yakin dan percaya sama lu Jar...Tapi..."
"Tapi apa.." Tanya gw.
"Kalo lu nggak yakin, nggak usah dipaksakan Jar, dan gw juga ngga memaksakan kok..."
""ya gw coba..." Jawab gw.
"Makasih ya Fajarku...." Ucapnya seraya tersenyum manis.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan gw bersiap untuk pulang. Dia mengantar gw sampai depan rumahnya. Tak lupa salam perpisahan yang mungkin terdengar agak berlebihan khas orang berpacaran itu terucap dari bibirnya. lalu gw pun pamit, menjalankan motor dengan kecepatan pelan, dan gw menghilang dari hadapannya.
...............................
..............................
Tak terasa sudah 3 minggu gw menjalani hubungan ini. Ya seperti biasa umumnya orang berpacaran yang setiap harinya tak bisa lepas dari handphone. Pagi, siang, malam gw tak pernah lupa untuk sms dia. Terkadang gw menyempatkan diri untuk menjemputnya di sekolah walaupun jarak sekolahnya cukup jauh. Sering juga setiap weekend kita jalan berdua, hanya sekedar ke toko Buku atau cuci mata di Mall.
Tapi.....Semua keadaan seperti itu gw anggap biasa saja. Hubungan ini tak ada istimewanya bahkan lebih terkesan memaksakan. Karena gw menjalani ini semua tanpa berlandaskan 'sayang'. Entah kenapa rasa sayang untuk Nurul itu tak juga muncul di dalam hati gw. Yang ada hanya sebuah indikasi kalau gw hanya seseorang yang mencari pelarian...Dan gadis itu sebagai pelarian gw.
Hal ini bukannya mengurangi setiap permasalahan yang tengah gw hadapi, justru malah menambah sebuah masalah baru. Gw sudah terlanjur bermain main dengan api, dan akhirnya sekarang gw terjerumus.
Gw memang jahat....!!
Terlalu jahat untuk gadis sebaik dia. Dia nggak pantas untuk dijadikan pelarian oleh seorang pengecut seperti gw ini. Gw bingung...Gw kalut...Gw nggak tau harus menjelaskan dengan cara apa kepada Nurul.
Hingga suatu hari di hari sabtu, gw beranikan diri untuk berterus terang kepadanya atas hal yang gw sembunyikan selama ini. Sebelum semuanya terlambat dan sebelum terlalu jauh perasaan itu.
Siang itu gw bertemu dengannya.. Perlahan gw mulai menjelaskan apa yang selama ini gw rahasiakan. Gw menjelaskan panjang lebar menceritakan yang sebenarnya kepada dia. Bicara soal keyakinan yang selama ini nggak berhasil gw temukan di dalam dirinya.
Awalnya dia sempat shock dan kaget dengan semua penjelasan gw itu, tapi karena gw bicara dengan sangat baik dan halus tanpa ada emosi di dalamnya, akhirnya dia pun mengerti. Walau kenyataannya dia telah tersakiti. Dan gw lah orang yang telah menyakitinya...Berkali kali permohonan maaf itu tercurah lewat bibir gw, dia hanya membalasnya dengan jawaban 'iya nggak apa-apa'. Dibalik kata 'tidak apa-apa' itu justru tersimpan sebuah luka yang cukup perih diraasakan olehnya.
Gw bukan orang yang tega....tetapi akan lebih tega lagi apabila gw membiarkan perasaan 'sayang' nya terhadap gw semakin besar, sedangkan gw sama sekali tidak merasakan itu...Walaupun ada pepatah yang menyebutkan bahwa "Batu yang di tetesi setetes air secara terus menerus akhirnya akan hancur juga". Namun pepatah itu tidak berlaku buat gw...
Gw nggak bisa seperti itu...
Gw hanya seorang pengecut yang telah mempermainkan perasaannya...
Maafin gw Nu...
Maaf....
Di sebuah taman kecil ini gw sedang menunggu seorang gadis berkulit putih dengan rambut yang selalu dikuncir. Siapa lagi kalau bukan Nurul.
Saat malam sebelumnya gw sudah membuat janji dengannya untuk bertemu sepulang sekolah. Tujuan gw disini sudah jelas untuk membicarakan sesuatu yang sempat tertunda beberapa hari kemarin. Dan kali ini harus dibicarakan Empat mata....!!
Tentu gw sudah menyiapkan semuanya dengan persiapan yang cukup matang dan meyakinkan.
"Hujan Jar...Lu sekarang dimana?" Sms dari Nurul.
"Gw masih di taman nih...Lu jam berapa keluarnya?" balas gw.
"Nanti jam 15.30 Jar. Ga apa pa ya,"
"Yaudah gw tunggu." Balas gw.
"Beneran nih Jar? Hehe asiikk di tungguin.." Balas dia sedikit becanda.
'Iya bakul....." balas gw.
Di tengah hujan itu fikiran gw kembali tertuju pada Niar...Ya, Lagi dan lagi....
Wajah itu selalu membayang bayangi isi kepala gw. Pandangan matanya yang begitu tenang masih terbayang jelas yang terkadang menyejukkan hati, terkadang menyakitkan hati.
Perasaan bersalah ini selalu saja datang menghantui gw. Penyesalan itu masih tersisa di sini, di sudut hati gw.
Semakin lama gw semakin lelah memikirkan dia. Berbagai cara telah gw lakukan untuk menghapus fikiran tentangnya yang sangat mengganggu sekali kondisi kejiwaan gw. Dan kehadiran gw kali ini adalah salah satu cara. Bertemu dengan Nurul sore ini...
Walaupun cara itu cara tersadis yang pernah gw lakukan.
Lamunan gw kemudian disadarkan oleh seorang gadis yang berjalan menghampiri keberadaan gw dengan memakai payung berwarna merah . Dia Nurul...
Perlahan dia semakin mendekat, langkah kakinya yang membelah genangan air itu serasa berirama dengan musik yang gw putar di HP ini. Tapi irama itu menjadi tak sinkron lagi karena langkahnya pun berhenti, tepat di tempat gw berteduh.
"Udah lama Jar?" Tanya dia.
'Lumayan...kira kira satu jam." Jawab gw.
"maaf ya Jar soal yang kemaren..."
"Loh minta maaf buat apa?" tanya gw.
"Iya soal sms gw yang kemaren itu loh Jar..."
"Iya nggak apa apa...tapi kok lu bisa suka sama gw sih?" tanya gw.
"Emmm...Nggak tau. Waktu pas kita ngobrol di rumah Nenek waktu itu, Gw ngerasa nyaman aja sama lu Jar..." ucapnya.
Spechles....
Dia dengan mudahnya berkata terus terang perihal perasaan suka itu terhadap gw. Dia wanita...Dia berani menyatakannya...Sedangkan gw? Gw terlalu takut dan pengecut ketika gw ingin sekali mengatakan itu semua.
Mengatakan pada seorang gadis yang sudah pergi entah kemana meninggalkan gw.
Gw kembali diam, terbesit beberapa pertanyaan yang akan gw ajukan ke dia. Hanya ingin tahu seberapa besar rasa sukanya itu.
"Hanya sebatas suka kan Nu?? Bukan 'sayang'??"
"Iya Jar...eh, maksudnya...emm 'sayang'..." jawabnya.
JEGERR...!!
Seketika kami terdiam. Hati gw berkecamuk, fikiran gw menerawang jauh dari jiwa gw. Sebenarnya muncul perasaan ragu di dalam diri gw tentang cara yang satu ini.
Pelampiasan...Mungkin kata itu terlalu kejam untuk gadis ini.
"Arti kata sayang banyak loh Nu, sayang sebagai apa dulu nih?" Tanya gw kembali.
"Maaf Jar, gw nggak bisa jawab pertanyaan itu. Semuanya balik lagi ke elu nya. Coba tanya ke diri lu sendiri Jar... Gw nggak tau apa yang ada di dalam hati lu. Yang gw ingin tahu, apa elu ngerasain hal yang sama kaya yang gw rasain sekarang Jar? Jawab dengan hati lu...bukan bertanya balik ke gw." Ujarnya panjang lebar.
"Haaaah.....Kalo sayang sebagai pacar gimana?"
"Jangan tanya gw Fajar...Gw nggak bisa jawab. Karena jawabannya ada di hati lu!!" Ujarnya.
"Terus kalo hati gw bilang 'iya'?"
"maksudnya?" Tanya dia lagi.
"Hati gw setuju kalo sayang sebagai pacar..."
"Jadiiiii....??"
"Jadi pa Nu?"
"Kita emmm..."
"Iya kita......"
"Kita Jadian??" Ucapnya sambil menundukkan kepala karena malu.
"..............." Gw hanya mengangguk pelan menjawab pernyataan 'Jadian' itu. Tak lupa sebuah senyuman gw berikan kepadanya.
Akhirnya gw mencatatkan sejarah karena kali ini gw punya pacar!! Hebat kan gw?? Amazing doong...(LEBAY!!). Setelah hujan mulai reda, kami berdua pun akhirnya pulang. Di perjalanan pulang, gw merasa canggung dengan keadaan status baru ini. Sehingga tidak ada saling sapa diantara kami berdua, yang ada hanya genggaman tangan Nurul melingkar di pinggang gw yang ramping ini. Hujan pun belum sepenuhnya berhenti, tapi gw memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan karena waktu sudah sore. Dan kami pun sampai di depan rumahnya...
"Mampir dulu??" ajak dia.
"Udah sore Nu, gw langsung aja ya."
"Mampir dulu yaa...gw bikinin teh. Mau ya..." Ajak dia sedikit memaksa.
"Yaudah tapi gw nggak lama ya. Jam 5 gw harus pulang"
"Iya nggak apa apa.."
Gw memutuskan ntuk mampir dulu ke rumahnya walaupun hanya sebentar. Dua cangkir teh hangat sudah tersaji di atas meja di teras. Gw menyeruput teh tersebut sambil menatap suasana di sekeliling taman. Taman yang cukup indah, dihiasi puluhan anggrek yang berkilau terkena air hujan.
"Nu...."
"Ya..."
"Lu yakin sama hubungan ini?" tanya gw.
"Kalo lu yakin, gw bisa lebih yakin dan percaya sama lu Jar...Tapi..."
"Tapi apa.." Tanya gw.
"Kalo lu nggak yakin, nggak usah dipaksakan Jar, dan gw juga ngga memaksakan kok..."
""ya gw coba..." Jawab gw.
"Makasih ya Fajarku...." Ucapnya seraya tersenyum manis.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan gw bersiap untuk pulang. Dia mengantar gw sampai depan rumahnya. Tak lupa salam perpisahan yang mungkin terdengar agak berlebihan khas orang berpacaran itu terucap dari bibirnya. lalu gw pun pamit, menjalankan motor dengan kecepatan pelan, dan gw menghilang dari hadapannya.
...............................
..............................
Tak terasa sudah 3 minggu gw menjalani hubungan ini. Ya seperti biasa umumnya orang berpacaran yang setiap harinya tak bisa lepas dari handphone. Pagi, siang, malam gw tak pernah lupa untuk sms dia. Terkadang gw menyempatkan diri untuk menjemputnya di sekolah walaupun jarak sekolahnya cukup jauh. Sering juga setiap weekend kita jalan berdua, hanya sekedar ke toko Buku atau cuci mata di Mall.
Tapi.....Semua keadaan seperti itu gw anggap biasa saja. Hubungan ini tak ada istimewanya bahkan lebih terkesan memaksakan. Karena gw menjalani ini semua tanpa berlandaskan 'sayang'. Entah kenapa rasa sayang untuk Nurul itu tak juga muncul di dalam hati gw. Yang ada hanya sebuah indikasi kalau gw hanya seseorang yang mencari pelarian...Dan gadis itu sebagai pelarian gw.
Hal ini bukannya mengurangi setiap permasalahan yang tengah gw hadapi, justru malah menambah sebuah masalah baru. Gw sudah terlanjur bermain main dengan api, dan akhirnya sekarang gw terjerumus.
Gw memang jahat....!!
Terlalu jahat untuk gadis sebaik dia. Dia nggak pantas untuk dijadikan pelarian oleh seorang pengecut seperti gw ini. Gw bingung...Gw kalut...Gw nggak tau harus menjelaskan dengan cara apa kepada Nurul.
Hingga suatu hari di hari sabtu, gw beranikan diri untuk berterus terang kepadanya atas hal yang gw sembunyikan selama ini. Sebelum semuanya terlambat dan sebelum terlalu jauh perasaan itu.
Siang itu gw bertemu dengannya.. Perlahan gw mulai menjelaskan apa yang selama ini gw rahasiakan. Gw menjelaskan panjang lebar menceritakan yang sebenarnya kepada dia. Bicara soal keyakinan yang selama ini nggak berhasil gw temukan di dalam dirinya.
Awalnya dia sempat shock dan kaget dengan semua penjelasan gw itu, tapi karena gw bicara dengan sangat baik dan halus tanpa ada emosi di dalamnya, akhirnya dia pun mengerti. Walau kenyataannya dia telah tersakiti. Dan gw lah orang yang telah menyakitinya...Berkali kali permohonan maaf itu tercurah lewat bibir gw, dia hanya membalasnya dengan jawaban 'iya nggak apa-apa'. Dibalik kata 'tidak apa-apa' itu justru tersimpan sebuah luka yang cukup perih diraasakan olehnya.
Gw bukan orang yang tega....tetapi akan lebih tega lagi apabila gw membiarkan perasaan 'sayang' nya terhadap gw semakin besar, sedangkan gw sama sekali tidak merasakan itu...Walaupun ada pepatah yang menyebutkan bahwa "Batu yang di tetesi setetes air secara terus menerus akhirnya akan hancur juga". Namun pepatah itu tidak berlaku buat gw...
Gw nggak bisa seperti itu...
Gw hanya seorang pengecut yang telah mempermainkan perasaannya...
Maafin gw Nu...
Maaf....
efti108 memberi reputasi
1