- Beranda
- Stories from the Heart
Memadu Cinta Di Burung Besi
...
TS
alexanderudinov
Memadu Cinta Di Burung Besi
sebelumnya perkenalkan nama saya ananda kiki member baru di kaskus dan saya punya cerita yang mungkin bisa menginspirasi kk sekalian tentang kehidupan saya selama ini dalam berkarir, pendidikan, dan tentunya percintaan. Sebelumnya saya sudah baca aturan di SFTH, jadi tolong untuk para pembaca dilarang keras junk, sara, pornografi dan lain sebagainya disini dan untuk para guardian SFTH mereka mengatakan cerita harus di update 2-3 hari mohon maaf saya tidak bisa untuk itu tetapi saya menyanggupi update satu minggu sekali jadi mohon maklum soalnya jadwal pekerjaan saya banyak dan ini kebetulan saya susah tidur 

<••••••••••>
INDEX STORY
prolog
satu
dua
tiga
empat


<••••••••••>
INDEX STORY
prolog
satu
dua
tiga
empat
Diubah oleh alexanderudinov 29-01-2014 09:14
anasabila memberi reputasi
1
12.3K
76
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alexanderudinov
#43
EMPAT
Hari ini adalah satu hari sebelum walk in interview di Jakarta dan itu artinya hari dimana tiket yang diberi oleh papa padaku adalah tepat hari ini, ya satu hari sebelum walk in interview untuk menghindari keterlambatan dan sesuatu yang tidak diinginkan seperti macet atau apapun itu yang menghadang aku di ibu kota Jakarta. Tapi pada kali ini entah kenapa aku bangun agak terlambat dan meninggalkan kebiasaanku di pagi hari untuk menerawang ke luar jendela, menikmati udara pagi dan menghirup udara segar kota Batu, mungkin karena kelelahanku atau mungkin karena senangnya aku hingga membuat terlambat bangun.
“sayang bangun sudah jam 7 pagi lewat lho ntar ketinggalan pesawat lho” kata mama sambil menarik selimutku dan setelah itu kulihat samar mama membuka tirai jendela kamarku yang otomatis cahaya pagi menyilaukan mataku. Akupun langsung bangkit dari tempat tidurku tatkala sinar matahari pagi itu menyilaukan mataku dan langsung menuju kamar mandi untuk siap siap berangkat ke Jakarta.
setelah mandiku selesai aku sudah berganti memakai kaos berwarna hitam dan celana panjang dari handuk yang ada ditubuhku. Setelah itu Akupun mengambil koper baju dan tas tangan yang berisikan berkas berkas dan perlengkapan make up sebelum akhirnya aku turun ke ruang makan yang berda dibawah. Sesampainya dibawah kudapati papa sudah siap dan rapi untuk mengantarkan aku ke Bandara Juanda begitu juga dengan mama kulihat juga sudah siap dan rapi. Akupun perlahan mendekati mereka dengan membawa koperku dan tasku tentu saja yang setelah itu akupun duduk bersama mereka.
“gak biasanya kamu Nanda bangun telat” kata papa membuka pembicaraan
“mungkin Nanda kecapean pa” jawabku
“kecapean apa kesenengan” kata mama sambil menggoda aku
“ gak tau deh ma dua duanya kali”
Mama dan papa tersenyum mendengar jawabanku seperti itu
“udah sayang cepat kamu sarapan dan kopernya mama bawain ke mobil dulu”
“iya ma, tapi mama gak ikut sarapan ?” tanyaku yang keheranan
“mama sama papa sarapan di Surabaya aja nanti setelah ngantar kamu”
“kalau gitu Nanda juga gak mau sarapan deh”
“udah jangan manja Nanda” kata papa dengan santainya
“dengerin papa tuh sayang” kata mama yang setelah itu berjalan perlahan meninggalkan aku sambil membawa koperku untuk dimasukan ke mobil.
akupun saat itu merasa aneh dan mukakupun jadi ketus karena papa dan mama gak ikut makan bersama dengan aku ditambah lagi saat itu ka Alex tidak ada diruang makan mungkin dia masih tidur.
“udah jangan pasang muka sedih gitu Nanda papa sama mama mau makan di Surabaya untuk nostalgia, sekalian mengingat pertemuan papa sama mama dulu” kata papa dengan suara pelan dan membuka pembicaraan ketika aku mau sarapan. Tentu saja aku kaget mendengar perkataan papa seperti itu dan hatiku tertawa sendiri mungkin papa dan mama mau romantis-romantisan sekarang jadi akupun mengerti sekarang.
“oh gitu pa” jawabku sambil tersenyum.
Akupun mulai sarapan setelah itu dan tidak memasang muka ketus lagi tapi hatiku masih bingung bukan karena papa dan mama sih melainkan kenapa ka Alex tidak ada disini padahal hari inikan biasnaya masuk kuliah. Ketika dipertengahan aku sarapan mamapun kembali dari mengantar koperku tadi dan langsung duduk disampingku serta menuangkan teh hangat yang berada di atas meja untuk ia nikmati di ruang makan bersama aku dan papa.
Setelah aku selesai dengan sarapan pagiku, aku dan papapun menuju mobil yang sudah di halaman depan, sedangkan mama membereskan piring dan gelas bekas sarapan tadi yang berada di atas meja ini sudah kebiasaan mama kalau habis sarapan, makan siang ataupun makan malam selalu membereskan piring piring dan gelas gelas bekas kami makan dan minum itu untuk dicuci, mungkin aku maklum karena mama sejak dulu tidak pernah menyewa pembantu karena kata mama kalau menyewa pembantu itu rasa cinta kepada keluarga udah mulai terkikis walau sebenarnya memudahkan.
Setelah mama sudah selesai dengan tugasnya ia langsung menghampiri aku dan papa yang saat itu di depan mobil asyik berbincang bincang masa masa dia ketemu mama dulu ya walau sebenarnya aku bisa katakana papa sebenarnya curhat dan juga bincang bincang masalah saat aku mulai bekerja nanti.
“duh asyik banget ngobrolnya sama papa”
Akupun hanya menjawab dengan senyuman manis kepada mama
“udah siap berangkat ? dan gak ada yang ketinggalankan” kata papa
“gak ada pa” jawabku dengan santainya
Aku, mama dan papaun akhirnya berangkat pagi itu sekitar jam 08.20 dengan mobil dari rumah menuju Bandara Juanda Surabaya walau sebenarnya aku masih kepikiran sama ka Alex kok gak ngucapin selamat atau apalah gitu. Akupun juga bodoh kenapa saat sebelum berangkat tadi tidak ke kamarnya tapi ya sudahlah nanti juga aku akan ketemu ka Alex lagi kalau dapat libur.
Sepanjang perjalanan aku ke bandara Juanda aku hanya menikamti perjalanan tersebut sedangkan mama dan papa berbincang bincang tentang ka Angel dan ka Alex aku hanya diam saat mereka berbincang bincang seperti itu hingga akhirnya papa yang juga menyetit mobil membuka pembicaraan kepadaku
“ingat Nanda papa punya pesan sama kamu”
“iya pa Nanda ingat betul kok” jawabku dengan nada tenang
“pa gak usah buat pesan yang ngeberatin Nanda” kata mama untuk membela aku
“bukan berat ma tapi supaya Nanda lebih bisa dewasa berfikirnya” kata papa kepada mama
“jangan dipikirin sayang pesan papa kamu” kata mama padaku
“dulu juga saat mama sama papa pacaran sering pesan kayak gitu sama mama, tapi selalu mama langgar karena memberatkan hati mama” sambung mama dengan nada mengejek papa
“iya di langgar tapi mama kamu jadi berfikir dewasa setelah itu” kata papa padaku
“bukan gitu Nanda mama jadi berfikir dewasa karena papa dulu keras kepala dengan pesan pesannya yang berat berat gitu” jawab mama
Akupun hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka berdua yang aku yakin mereka lagi ingin nostalgia nostalgiaan saat masa masa mereka pacaran dulu atau apalah itu, Tapi aku tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Alih alih begitu aku tetap menikmati perjalananku dan menenangkan walk in interviewku di Jakarta nanti.
Jalan yang begitu ramai dengan mobil dan motor saat aku menuju bandara Juanda Surabaya kulewati di dalam mobil sebelum akhirnya aku tiba di bandara Juanda. Sesampai disana(sekitar jam 10.30) mama dan papa keluar dari mobil dan mengambil koperku yang ada di bagasi mobil. Setelah itu papa memarkir mobil, sedangkan aku menukarkan kode booking di loket Garuda Indonesia yang berada di Juanda walau sebenarnya saat kita sudah dapat kode booking kita bisa cetak sendiri secara online tapi ya itulah saya yang dulu kurang faham masalah seperti ini. Selang beberapa menit akupun selesai dengan pencetakan tiket dan bergegas kembali ketempay mama berada
“sudah selesai sayang kamu menukarkan kode bookingnya ?” kata mama padaku
“sudah ma” jawabku dengan senyuman
“kalau begitu ini atm untuk sangu kamu disana dan password atmnya ada di dalam” kata mama sambil menyerahkan amplop panjang padaku “yang ini untuk tante Riesa” sambung mama sambil menyerahkan plastik putih yang di dalam ada sebuah benda yang tertutup dengan kertas kado
“tante Riesa ?” jawabku dengan nada penasaran
“astaga mama lupa cerita sama kamu tentang tante Riesa” kata mama dengan nada yang sedikit kaget
“pokoknya nanti kamu sampai di bandara soekarno hatta bakal di jemput tante Riesa dan ketemu dengan dia” sambung mama lagi
“oh kirain Nanda bakal nginap di hotel” kataku dengan nada polos
“husss… mana mama bolehin kamu nginap di hotel”
Aku hanya menjawab jawaban mama dengan tawaan kecilku
“ini no tante Riesa” kata mama sambil menyerahkan hpnya
“nanti saat kamu diruang tunggu telpon dia dan saat tiba di sana juga telpon dia biar nanti gak ngerepotin dia” sambung mama lagi
Akupun menyalin no hp tante riesa yang sama sekali aku tidak tau orangnya seperti apa ya maklumlah ketemu aja gak pernah mama juga gak pernah bilang masalah tante riesa ini nama tante riesa ini asing banget bagiku.
Setelah aku selesai menyalin no hp tante riesa ke hpku akhirnya papa tiba juga menghampiri aku dan mama setelah memarkir mobilnya di tempat parkir bandara Juanda
“sudah semua Nanda ?” Tanya papa padaku
“sudah pa, tapi Nanda boleh Tanya ?”
“Tanya apa ?” kata papa sambil memandang aku
“ka Alex mana ? kok dia tadi gak ada di rumah dan gak ucapin selamat jalan”
Mama dan papa hanya tersenyum mendengar tanyaku yang sebenarnya gak penting penting amat sih tapi tetap aja dia kakakku walau nyebelin dan dia tidak ada tadi membuat hatiku bertanya-tanya.
“Alex ke Bali tadi malam jam 11.00 sama teman temannya dan dia nitip maaf gak bisa ikut ngantar kamu” kata papa
“oh jadi dia mentingin jalan ke Bali ya daripada mengantar aku” jawabku dengan kesal sama papa
“sayang bukannya ka Alex gitu tapi diakan hobi fotografer kebetulan dia ke Bali sana karena ada tawaran pemotretan nanti setelah selesai disana katanya dia ke Jakarta kok nyusul kamu” kata mama padaku dengan nada santai
“dia juga nitip ini sama papa tadi malam untuk kamu” kata papa sambil menyerahkan sebuah kado kecil yang bungkusannya sangat sangat tidak rapi. Akupun mengambil bingkisan itu tanpa panjang lebar walau sebenarnya sih aku kesal dengan tingkahnya.
“pesawat kamu jam berapa sayang ?” tanya mama
“13.10 ma”
“ya udah cepat kamu masuk” sambung papa
“iya pa” jawabku yang setelah itu aku salaman sama papa dan mama serta memeluk papa dan mamaku tapi ketika aku memeluk mama mama membisikan sesuatu ketelingaku
“jangan dengerin pesan papa kamu dia hanya menguji kamu pokoknya kamu boleh pulang sesuka kamu lolos atau gak lolos seleksi”
Aku hanya tersenyum mendengar bisikan mama di telingaku. Akupun setelah memeluk mama berjalan langkah demi langkah menuju kedalam bandara Juanda dengan koper, tas tanganku, dan plastik oleh oleh buat tante Riesa.
“sayang bangun sudah jam 7 pagi lewat lho ntar ketinggalan pesawat lho” kata mama sambil menarik selimutku dan setelah itu kulihat samar mama membuka tirai jendela kamarku yang otomatis cahaya pagi menyilaukan mataku. Akupun langsung bangkit dari tempat tidurku tatkala sinar matahari pagi itu menyilaukan mataku dan langsung menuju kamar mandi untuk siap siap berangkat ke Jakarta.
setelah mandiku selesai aku sudah berganti memakai kaos berwarna hitam dan celana panjang dari handuk yang ada ditubuhku. Setelah itu Akupun mengambil koper baju dan tas tangan yang berisikan berkas berkas dan perlengkapan make up sebelum akhirnya aku turun ke ruang makan yang berda dibawah. Sesampainya dibawah kudapati papa sudah siap dan rapi untuk mengantarkan aku ke Bandara Juanda begitu juga dengan mama kulihat juga sudah siap dan rapi. Akupun perlahan mendekati mereka dengan membawa koperku dan tasku tentu saja yang setelah itu akupun duduk bersama mereka.
“gak biasanya kamu Nanda bangun telat” kata papa membuka pembicaraan
“mungkin Nanda kecapean pa” jawabku
“kecapean apa kesenengan” kata mama sambil menggoda aku
“ gak tau deh ma dua duanya kali”
Mama dan papa tersenyum mendengar jawabanku seperti itu
“udah sayang cepat kamu sarapan dan kopernya mama bawain ke mobil dulu”
“iya ma, tapi mama gak ikut sarapan ?” tanyaku yang keheranan
“mama sama papa sarapan di Surabaya aja nanti setelah ngantar kamu”
“kalau gitu Nanda juga gak mau sarapan deh”
“udah jangan manja Nanda” kata papa dengan santainya
“dengerin papa tuh sayang” kata mama yang setelah itu berjalan perlahan meninggalkan aku sambil membawa koperku untuk dimasukan ke mobil.
akupun saat itu merasa aneh dan mukakupun jadi ketus karena papa dan mama gak ikut makan bersama dengan aku ditambah lagi saat itu ka Alex tidak ada diruang makan mungkin dia masih tidur.
“udah jangan pasang muka sedih gitu Nanda papa sama mama mau makan di Surabaya untuk nostalgia, sekalian mengingat pertemuan papa sama mama dulu” kata papa dengan suara pelan dan membuka pembicaraan ketika aku mau sarapan. Tentu saja aku kaget mendengar perkataan papa seperti itu dan hatiku tertawa sendiri mungkin papa dan mama mau romantis-romantisan sekarang jadi akupun mengerti sekarang.
“oh gitu pa” jawabku sambil tersenyum.
Akupun mulai sarapan setelah itu dan tidak memasang muka ketus lagi tapi hatiku masih bingung bukan karena papa dan mama sih melainkan kenapa ka Alex tidak ada disini padahal hari inikan biasnaya masuk kuliah. Ketika dipertengahan aku sarapan mamapun kembali dari mengantar koperku tadi dan langsung duduk disampingku serta menuangkan teh hangat yang berada di atas meja untuk ia nikmati di ruang makan bersama aku dan papa.
***
Setelah aku selesai dengan sarapan pagiku, aku dan papapun menuju mobil yang sudah di halaman depan, sedangkan mama membereskan piring dan gelas bekas sarapan tadi yang berada di atas meja ini sudah kebiasaan mama kalau habis sarapan, makan siang ataupun makan malam selalu membereskan piring piring dan gelas gelas bekas kami makan dan minum itu untuk dicuci, mungkin aku maklum karena mama sejak dulu tidak pernah menyewa pembantu karena kata mama kalau menyewa pembantu itu rasa cinta kepada keluarga udah mulai terkikis walau sebenarnya memudahkan.
Setelah mama sudah selesai dengan tugasnya ia langsung menghampiri aku dan papa yang saat itu di depan mobil asyik berbincang bincang masa masa dia ketemu mama dulu ya walau sebenarnya aku bisa katakana papa sebenarnya curhat dan juga bincang bincang masalah saat aku mulai bekerja nanti.
“duh asyik banget ngobrolnya sama papa”
Akupun hanya menjawab dengan senyuman manis kepada mama
“udah siap berangkat ? dan gak ada yang ketinggalankan” kata papa
“gak ada pa” jawabku dengan santainya
Aku, mama dan papaun akhirnya berangkat pagi itu sekitar jam 08.20 dengan mobil dari rumah menuju Bandara Juanda Surabaya walau sebenarnya aku masih kepikiran sama ka Alex kok gak ngucapin selamat atau apalah gitu. Akupun juga bodoh kenapa saat sebelum berangkat tadi tidak ke kamarnya tapi ya sudahlah nanti juga aku akan ketemu ka Alex lagi kalau dapat libur.
***
Sepanjang perjalanan aku ke bandara Juanda aku hanya menikamti perjalanan tersebut sedangkan mama dan papa berbincang bincang tentang ka Angel dan ka Alex aku hanya diam saat mereka berbincang bincang seperti itu hingga akhirnya papa yang juga menyetit mobil membuka pembicaraan kepadaku
“ingat Nanda papa punya pesan sama kamu”
“iya pa Nanda ingat betul kok” jawabku dengan nada tenang
“pa gak usah buat pesan yang ngeberatin Nanda” kata mama untuk membela aku
“bukan berat ma tapi supaya Nanda lebih bisa dewasa berfikirnya” kata papa kepada mama
“jangan dipikirin sayang pesan papa kamu” kata mama padaku
“dulu juga saat mama sama papa pacaran sering pesan kayak gitu sama mama, tapi selalu mama langgar karena memberatkan hati mama” sambung mama dengan nada mengejek papa
“iya di langgar tapi mama kamu jadi berfikir dewasa setelah itu” kata papa padaku
“bukan gitu Nanda mama jadi berfikir dewasa karena papa dulu keras kepala dengan pesan pesannya yang berat berat gitu” jawab mama
Akupun hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka berdua yang aku yakin mereka lagi ingin nostalgia nostalgiaan saat masa masa mereka pacaran dulu atau apalah itu, Tapi aku tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Alih alih begitu aku tetap menikmati perjalananku dan menenangkan walk in interviewku di Jakarta nanti.
***
Jalan yang begitu ramai dengan mobil dan motor saat aku menuju bandara Juanda Surabaya kulewati di dalam mobil sebelum akhirnya aku tiba di bandara Juanda. Sesampai disana(sekitar jam 10.30) mama dan papa keluar dari mobil dan mengambil koperku yang ada di bagasi mobil. Setelah itu papa memarkir mobil, sedangkan aku menukarkan kode booking di loket Garuda Indonesia yang berada di Juanda walau sebenarnya saat kita sudah dapat kode booking kita bisa cetak sendiri secara online tapi ya itulah saya yang dulu kurang faham masalah seperti ini. Selang beberapa menit akupun selesai dengan pencetakan tiket dan bergegas kembali ketempay mama berada
“sudah selesai sayang kamu menukarkan kode bookingnya ?” kata mama padaku
“sudah ma” jawabku dengan senyuman
“kalau begitu ini atm untuk sangu kamu disana dan password atmnya ada di dalam” kata mama sambil menyerahkan amplop panjang padaku “yang ini untuk tante Riesa” sambung mama sambil menyerahkan plastik putih yang di dalam ada sebuah benda yang tertutup dengan kertas kado
“tante Riesa ?” jawabku dengan nada penasaran
“astaga mama lupa cerita sama kamu tentang tante Riesa” kata mama dengan nada yang sedikit kaget
“pokoknya nanti kamu sampai di bandara soekarno hatta bakal di jemput tante Riesa dan ketemu dengan dia” sambung mama lagi
“oh kirain Nanda bakal nginap di hotel” kataku dengan nada polos
“husss… mana mama bolehin kamu nginap di hotel”
Aku hanya menjawab jawaban mama dengan tawaan kecilku
“ini no tante Riesa” kata mama sambil menyerahkan hpnya
“nanti saat kamu diruang tunggu telpon dia dan saat tiba di sana juga telpon dia biar nanti gak ngerepotin dia” sambung mama lagi
Akupun menyalin no hp tante riesa yang sama sekali aku tidak tau orangnya seperti apa ya maklumlah ketemu aja gak pernah mama juga gak pernah bilang masalah tante riesa ini nama tante riesa ini asing banget bagiku.
Setelah aku selesai menyalin no hp tante riesa ke hpku akhirnya papa tiba juga menghampiri aku dan mama setelah memarkir mobilnya di tempat parkir bandara Juanda
“sudah semua Nanda ?” Tanya papa padaku
“sudah pa, tapi Nanda boleh Tanya ?”
“Tanya apa ?” kata papa sambil memandang aku
“ka Alex mana ? kok dia tadi gak ada di rumah dan gak ucapin selamat jalan”
Mama dan papa hanya tersenyum mendengar tanyaku yang sebenarnya gak penting penting amat sih tapi tetap aja dia kakakku walau nyebelin dan dia tidak ada tadi membuat hatiku bertanya-tanya.
“Alex ke Bali tadi malam jam 11.00 sama teman temannya dan dia nitip maaf gak bisa ikut ngantar kamu” kata papa
“oh jadi dia mentingin jalan ke Bali ya daripada mengantar aku” jawabku dengan kesal sama papa
“sayang bukannya ka Alex gitu tapi diakan hobi fotografer kebetulan dia ke Bali sana karena ada tawaran pemotretan nanti setelah selesai disana katanya dia ke Jakarta kok nyusul kamu” kata mama padaku dengan nada santai
“dia juga nitip ini sama papa tadi malam untuk kamu” kata papa sambil menyerahkan sebuah kado kecil yang bungkusannya sangat sangat tidak rapi. Akupun mengambil bingkisan itu tanpa panjang lebar walau sebenarnya sih aku kesal dengan tingkahnya.
“pesawat kamu jam berapa sayang ?” tanya mama
“13.10 ma”
“ya udah cepat kamu masuk” sambung papa
“iya pa” jawabku yang setelah itu aku salaman sama papa dan mama serta memeluk papa dan mamaku tapi ketika aku memeluk mama mama membisikan sesuatu ketelingaku
“jangan dengerin pesan papa kamu dia hanya menguji kamu pokoknya kamu boleh pulang sesuka kamu lolos atau gak lolos seleksi”
Aku hanya tersenyum mendengar bisikan mama di telingaku. Akupun setelah memeluk mama berjalan langkah demi langkah menuju kedalam bandara Juanda dengan koper, tas tanganku, dan plastik oleh oleh buat tante Riesa.
Diubah oleh alexanderudinov 10-02-2014 06:27
0