TS
mabdulkarim
Kumpulan cerita Karim
ini thread digunakan selain cerita random world, ini merupakan kumpulan cerita ane yang kagak perlu di jadiin thread..
denah STM Panzer
Quote:
War, new imperilism, industrial age:Hetazania Dacians
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
Quote:
Naninu
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
Quote:
STM Panzer
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
Quote:
STM Panzer x Naninu: Laknad project (masuk kategori lain di polling
)
Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
)Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
Quote:
Lain-lainnya
Jung Kosim
Jung Kosim
denah STM Panzer
Polling
0 suara
Lebih suka cerita apa?
Diubah oleh mabdulkarim 08-06-2016 18:42
0
8K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#59
Spoiler for STM Panzer: Pekerjaan sambilan 2/3:
Kosim dan Jaka berjalan di lorong, Kosim berjalan di belakang Jaka dan bertanya sesuatu, “Senopati Jaka, kenapa mesin cuci Bhayangkara rusak? Emang ada berapa mesin cuci di sini?”
Senopati melirik ke belakang dan menjawab, “Ada 6, semuanya rusak gara-gara mesin cuci bekas punya! Bukan beli!”
“Kenapa nggak di servis wahai Senopati?” tanya lagi Kosim.
“Tukang servis langganan Bhayangkara liburan ke Bali selama 1 minggu, kami tak mencari tukang servis lain karena kami kurang percaya dengan tukang servis lain!” jawab Senopati.
“Tapi, daripada numpuk baju kotor mendingan di servis saja sama tukang servis lain, Senopati!” sanggah Kosim.
“Benar juga sih!” ucap Senopati sambil memegang dagunya.
Senopati dan Kosim terus berjalan di lorong ini, Senopati melirik ke belakang dan berkata, “Kosim, aku terfikir sesuatu, maukah kau bergabung dengan Bhayangkara setelah kau lulus dari STM Panzer?”
Kosim langsung terkejut mendengar pertanyaan tersebut, Kosim belum pernah terfikir untuk berkerja sebagai Bhayangkara walaupun kemampuannya sudah memenuhi untuk menjadi Bhayangkara yaitu adil dan kuat.
“Ehhh…” bingung Kosim.
“Kosim, kau pernah menolong Bhayangkara Jabar waktu itu dan kami merasa bahwa kamu layak menjadi Bhayangkara tanpa perlu mendaftar!” senyum Senopati, “Kau tak perlu menjadi Bhayangkara Jabar sim, Bhayangkara Sunda pasti mau menerima kau karena kau sudah popular di kalangan Bhayangkara setelah kejadian itu!”
Kosim makin kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu, gaji Bhayangkara memang bisa menghidupi keluarganya yang miskin tapi ia sudah berkomitmen untuk bercita-cita menjadi insinyur tank. Cita-cita itulah yang membuat ia akan mempertahankan sekolah STM Panzer dari segala ancam yang bisa membuat sekolahnya hancur atau digusur.
“Oh ya Kosim, ngomong-ngomong apa cita-citamu?” tanya Senopati kepada Kosim.
“I..insinyur tank!” jawab Kosim dengan terbata-bata.
“Oh, semangat ya Kosim!” ujar Senopati, “Jadi insinyur tank itu tidak mudah, kau mesti pergi ke luar negeri buat menjadi insinyur tank dan biasanya sih lulusan STM Panzer jadi teknisi tank!”
“Yang pastinya, biayanya tak akan murah untuk orang biasa!” ujar Senopati, “Tapi, kau bisa mencari beasiswa untuk bisa mengambil jurusan tank di luar negeri!”
“Iya, akan aku cari beasiswa ketika aku ada di kelas 12!” ujar Kosim, raut muka Kosim menunjukan bahwa ia tidak tahu bagaimana ia mendapatkan beasiswa dan ia berkata kepada Senopati bahwa ia akan mencari beasiswa ketika kelas 12 untuk membuat Senopati tidak bertanya soal kuliah di luar negeri.
Mereka akhirnya sampai di tempat yang bisa di gunakan Kosim untuk mencuci baju, tempat tersebut merupakan tempat yang ada kran air dan di sana banyak toilet yang biasanya di gunakan Bhayangkara ataupun orang lain untuk buang air. Jaka menunjuk lima mesin cuci yang ada di ruangan ini dan ke lima mesin cuci tersebut rusak. “Kosim, itu ke lima mesin cuci yang sekarang masih rusak!” ujar Senopati, “Aku akan memanggil tukang servis untuk memperbaiki ke lima mesin cuci!”
“Selagi mesin cuci rusak, kau cuci baju-baju kami!” ujar Senopati, “Di sana baju-baju yang harus di cuci!”
Senopati menunjuk tumpukan baju yang sudah seperti gunung di beberapa keranjang baju kotor, Kosim hanya terperangah melihat baju-baju kotor tersebut. Senopati langsung memegang pundak kiri Kosim dan berkata, “Kosim, kalo kau lapar maka datanglah ke kantin Bhayangkara! Kau boleh makan sesuka hatimu tapi sebagai gantinya, kau harus mencuci semua pakaian kotor!”
“Ba..baik!” jawab Kosim dengan gagap.
Senopati langsung meninggalkan tempat ini dan Kosim langsung menggulung kedua lengan bajunya, ia langsung jongkok dan bersiap mencuci dengan alat deterjen serta ember besar. Kosim langsung memasukan baju-baju kotor baik seragam maupun baju biasa ke dalam ember, ia langsung mengisi air ke dalam ember dan bersiap untuk mencuci.
Jam menunjukan jam 11.30 dan Kosim memulai mencuci baju….
10 jam kemudian…
“Fuh…” hela nafas Kosim, “Selesai juga nyuci baju segunung!”
Kosim menghabiskan 9 jam untuk mencuci ratusan baju dan itu sudah termasuk waktu makan serta ibadah yang tak bisa di lewatkan oleh Kosim. Kosim langsung tiduran di lantai dan Senopati tiba-tiba datang ke tempat Kosim berada, ia melihat Kosim terkapar di lantai dan ia bertanya kepada Kosim, “Kosim, apakah kau baik?”
“Ha, baik aku wahai Senopati!” jawab Kosim.
“Itu semua pakaiannya sudah selesai di cuci dan lagi di jemur di sini gara-gara di luar sedang hujan!” ujar Kosim sambil menunjukan baju-baju yang sedang di jemur di tempat ini. Baju-baju di jemuran di taruh di jemuran dan di tempat ini sudah di sediakan jemuran sehingga ia tak perlu menjemur di luar gedung ini.
“Oh, bagus!” anguk-anguk kepala Senopati.
“Jadi, mana Rp 250.000?” tanya Kosim sambil mengadah tangan ke Senopati.
“Ya..ya!” jawab Senopati, Senopati langsung mengambil uang dari dompetnya dan memberikan uang sebesar Rp 250.000 kepada Kosim.
Kosim langsung memasukan uang tersebut ke dalam saku bajunya dan ia berdiri, Kosim kemudian bertanya kepada Senopati, “Eh Senopati, ada payung tidak?”
“Ada, buat apa?” tanya Senopati dengan polosnya.
“Buat biar menghindar dari air hujan Senopati!” jawab Kosim dengan sedikit kesal.
“Oke, ikut gue ke ruangan!” ujar Senopati. Senopati dan Kosim keluar dari ruangan tersebut, mereka berjalan di lorong panjang dan banyak Bhayangkara yang berjalan di lorong untuk kembali ke tempat tidur mereka yang ada di lantai 2 dan 3. Para Bhayangkara tinggal di pedepokan tapi Senopati tidak karena Senopati bisa membeli rumah sendiri termasuk Senopati Jaka.
Kosim dan Jaka sampai di ruangan Senopati, Jaka langsung mengambil payung yang tergeletak di pinggir tempat Xboksnya dan ia memberikan payung tersebut kepada Kosim. Kosim mengambil payung tersebut dan Kosim berkata, “Terima kasih Senopati!”
“Sama-sama,” jawab Senopati, “Balikin ya payungnya kalo datang lagi!“
“Iya senopati!” ujar Kosim sambil menggaruk-garuk bajunya, ia menggaruk-garuk bajunya gara-gara belum mandi sore.
“Dan sekarang keluar, gue mau ngelanjutin misi di GTA 5!” usir Senopati kepada Kosim.
Senopati langsung membuka pintu dan mengusir Kosim dari ruangannya, Kosim keluar dari ruangannya dan pergi keluar dari pedepokan. Pedepokan di malam hari cukup sepi tapi ruangan pelayaan publik tidak akan sepi karena Bhayangkara akan terus ada untuk masyarakat yang butuh sesuatu kepada mereka.
Kosim keluar dari pedepokan dan pergi ke kontrakannya dengan memakai payung, hujan cukup lebat dan Kosim yang perutnya sudah terisi karena beberapa wakut yang lalu ia pergi ke kantin untuk makan.
Ia sampai di kontrakan dan ia langsung menunaikan sholat isya lalu pergi tidur, ia langsung tidur tanpa mengerjakan PR atau membereskan buku karena ia melupakan hal itu. Ia terlalu cape dan saking capenya, ia lupa besok itu hari Senin. Ia cape berat karena mencuci baju dan celana yang jumlahnya terlalu banyak sehingga memakan waktu 10 jam untuk menyelesaikan semua cucian tersebut.
Keesokan harinya…
“Oh!!” nguap Kosim, Kosim melihat sudah jam 5.30 dan ia melihat di kalender. Matanya langsung melotot dan kaget bahwa hari ini adalah hari senin, 21 Oktober 900. Kosim yang belum mengerjakan PR Matematika dan ilmu tank langsung turun dari kasurnya, ia berfikir sesuatu, “Waduh, belum ngerjain PR!”
“Gimana nih?” tanya Kosim dalam hatinya, “Apa ngerjain bareng sama teman-teman di sekolah?”
“Ya, itu pilihan bagus di bandingkan mengerjakan sekarang!” jawab Kosim, “Tidak mungkin semua PR itu bisa selesai dalam 30 menit dan sekarang gue harus segera menunaikan sholat subuh, udah mau terbit mataharinya!”
Kosim langsung berlari ke kamar mandi dan ia langsung mandi lalu berwudhu, setelah itu ia menunaikan sholat dan langsung bersiap berangkat ke sekolah. Ia di tengah jalan, makan nasi uduk di pinggir trotoar dengan menggunakan uang yang ia punya dan setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Ia sampai di STM Panzer pada jam 6.10, ia berjalan di atas rumput bagus STM Panzer dan pergi ke kelas 11-1. Di kelas 11-1, ia langsung pergi ke kumpulan anak-anak STM Panzer yang sedang mengerjakan PR bersama-sama. Ia sampai di tempat itu dan melihat teman-temannya seperti Mahesa, Shaka, Parja, Made, Jose, Karyo, Panjul, dan lain-lain sedang berkerjasama menyelesaikan PR mereka.
Kosim langsung bertanya kepada mereka semua, “Semua, lihat dong PRnya! Gue belum ngerjain nih!”
Semua orang menoleh ke Kosim dan menjawab, “Kita juga belum ngerjain dan dari tadi kami ngerjain!”
“Sim, bisa lihat nggak PR lo sim?” tanya Shaka kepada Kosim. Shaka sepertinya tidak mendengar kalo Kosim tidak mengerjakan PRnya, PR Kosim sering di salin oleh semua anak 11-1 dan Kosim sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
“Woi, gue udah bilang gue belum ngerjain PR!” jawab Kosim sambil marah-marah.
“Ha?!” kejut semua anak 11-1.
“Kosim yang rajin ternyata sekarang nggak rajin ngerjain PR…!” teriak Mahesa.
“Woi, berisik!” bentak Parja, “Sekarang, kita fokus ngerjain PR sebelum upacara di mulai!”
Parja memilki kumis tipis dan hidungnya pesek sekali bahkan paling pesek di antara murid-murid 11-1. Ia punya luka baretan di tangan kirinya karena ia pernah di sabet musuhnya ketika semester 2. Sikapnya cukup keras dan sedikit galak, ia bisa karate dan kemampuannya bisa menyaingi Kosim serta Made yang basis beladirinya adalah pencak silat.
Kosim melihat ke pintu dan melihat Rimau masuk ke kelas, Rimau merupakan satu-satunya perempuan di STM Panzer dan ia membawa kotak gitar besar. Ia memakai sweater pink dan memiliki jalinan rambut di kedua sisi mukanya, ia bukan sembarangan perempuan karena ia merupakan pembunuh bayaran yang di kontrak Bhayangkara Jabar untuk menghabisi penjahat yang menjadi target Bhayangkara dan di dalam kotak gitarnya ada senapan AWM di dalamnya.
Di dalam sweaternya tersimpan dua pistol yang ia gunakan sebagai pertahanan diri, ia punya kemampuan pencak silat yang setara dengan Kosim dan Made. Pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran hanya di ketahui Kosim, Shaka, Parja, Made, Mahesa, Karyo, Panjul, Jose, dan Jono. Ia merupakan penembak runduk yang ketepatan menembak dengan senapan sniper selalu 98% akurat. Di dalam tasnya ada pistol juga ada butiran peluru. Sifatnya Rimau pendiam dan ia cukup dekat dengan Kosim, Shaka, Parja, Made, Mahesa, Panjul, Jose, Karyo dan Jose tapi ia paling dekat dengan Kosim.
“Woi Rimau, udah ngejain PR belum!” teriak Kosim.
Rimau melihat Kosim dan berkata, “Belum!”
“Ya udah!” ujar Kosim, “Eh, tumben Rimau kagak ngerjain PR!”
“Udah, diam saja Kosim!” kesal Rimau.
Kosim langsung duduk dan mengeluarkan bukunya lalu menyalin jawaban-jawaban dari buku temannya. Rimau menaruh kotak gitarnya di pojok kelas dan ia menaruh tasnya di mejanya yang ada di pojok kelas, ia duduk sendiri dan di sebelahnya ada tempat duduk Kosim serta Shaka.
Rimau langsung bergabung dengan anak STM lain dan ia juga ikut-ikutan menyalin jawaban bersama-sama, Rimau jarang-jarang begini karena ia sering mengerjakan PRnya sewaktu bertugas dan kali ini ia tidak mengerjakan PRnya. Ia tak mengerjakan PR karena ia ngatuk berat tadi malam setelah mengejar sasarannya sampai larut malam dan sasarannya sudah mati dengan senapan AWMnya.
Bel berbunyi dan anak-anak STM Panzer yang mengerjakan PR terpaksa harus keluar karena para guru memaksa mereka untuk mengikuti upacara. Upacara kali ini di pimpin Kepsek STM Panzer yang bernama Zhung Liang dan upacara berlangsung tidak terlalu lama karena hujan mengguyur STM Panzer ketika inti acara upacara, oleh karena itu maka upacara di bubarkan. Upacara di bubarkan dan menyisakan waktu sekitar 19 menit sebelum bel pelajaran pertama di mulai, kesempatan itu di manfaatkan semua murid 11-1 untuk mengerjakan PR bersama-sama.
19 menit telah berlalu dan semua anak 11-1 berhasil menyelesaikan PR mereka, pelajaraan pertama dimulai…
Pada jam pelajaraan ilmu tank yang merupakan jam pelajaraan kedua, semua murid 11-1 di bawa guru ilmu tank ke gudang tank yang ada di dalam hutan STM Panzer. Di sana, mereka di perlihatkan bagian-bagian mesin tank dan alat-alat yang bisa di gunakan tank untuk bergerak.
Setelah pelajaraan ilmu tank selesai, semua murid 11-1 kembali ke kelas dan menemukan Kepsek STM Panzer yang sedang memeriksa barang-barang yang ada di tas. Kosim tidak terkejut tapi ia melihat Shaka terkejut setengah mati, Kepsek mengeledah tas Shaka dan menemukan banyak senjata di dalam tas seperti Iklwa dan parang.
Kepsek STM Panzer berang ketika melihat ada yang bawa senjata lagi karena pelajar STM Panzer sudah di larang bawa senjata kecuali dapat izin dari Bhayangkara. Kepsek langsung memanggil Shaka yang berdiri di pintu STM Panzer, “Shaka, kesini kau!”
Shaka gemetaran dan ia menghampiri Kepsek STM Panzer tersebut, Kepsek tersebut langsung memarahi Shaka dan mengancam bahwa ia akan menaikkan SPP khusus kepada Shaka jika ia terus membawa senjata ke sekolah. Shaka meminta maaf dan Kepsek yang baru menjabat hampir 1 tahun tersebut langsung memaafkan perbuatan Shaka, Kepsek langsung mengambil semua senjata Shaka dan ia akan menjual semua senjata tajam tersebut ke pasar loak.
Kepsek menaruh senjata-senjata tersebut ke dalam kantong plastik besar dan ia melihat tas Rimau, ia langsung mengambil tas Rimau dan memeriksa isinya. Kepsek langsung mengambil pistol dari tas Rimau dan berkata, “Apa-apaan ini?”
“Rimau!” teriak Kepsek, “Sini kau!”
Rimau langsung menghampiri Kepsek dan ia tetap bersikap tenang walaupun Kepsek memegang senjatanya, Kepsek bermain-main dengan dua pistol tersebut dan tidak merasa bahwa kedua pistol tersebut merupakan pistol asli. Rimau berdiri di depan Kepsek dan Kepsek bertanya, “Rimau, kenapa kau bawa pistol ke sekolah?”
“Untuk pertahanan diri!” jawab Rimau dengan tenang.
“Oh..” ucap Kepsek, “Ini pistol beneran?”
“Ya pak,” jawab dengan tenang Rimau.
“Masa?” ragu Kepsek.
“Coba aja pak kalo ragu-ragu!” senyum Rimau.
“Oke,” ujar Kepsek.
Kepsek mengarahkan ke dua pistol ke dinding belakang kelas dan menekan kedua pelatuk pistol, keluarlah 2 butir peluru dari kedua pistol tersebut dan menancap ke dinding belakang kelas. Suara tembakan mengagetkan Kepsek dan semua orang yang ada di kelas 11-1, semua murid 11-1 yang duduk di tempat duduk masing-masing memperhatikan Kepsek .
Rimau langsung mengeluarkan HPnya dan menelepon Bhayangkara, “Halo Bhayangkara, ada yang main pistol di sekolah dan namanya Zhung Liang, Kepsek STM Panzer!”
“Ah!!!” kejut Kepsek STM Panzer mendengar omongan Rimau, “Rimau, jangan laporkan saya ke Bhayangkara hanya karena main pistol kau!”
“Oke, berikan kedua pistol itu kepada saya!” senyum Rimau, Rimau mengadahkan tangan ke Kepsek STM Panzer dan Kepsek memberikan ke dua pistol tersebut kepada Rimau. Rimau langsung menaruh ke dua pistol ke tasnya dan berkata ke Kepsek, “Terima kasih pak!”
“Ya ya tapi kenapa kau membawa senjata api ke sekolah?” tanya Kepsek, “Apa kau mau saya keluarkan dari sekolah ini hanya karena membawa pistol?”
“Pak, saya membawa pistol untuk pertahanan diri pak dan saya sudah mengantongi izin dari Bhayangkara untuk membawa pistol!” jawab Rimau, Rimau mengambil sesuatu dari tasnya dan ia memberikan gulungan kertas kepada Kepsek. Kepsek membacanya dan berkata, “Ehm, Bhayangkara ternyata telah memberi izin kepadamu untuk membawa pistol! Oke, saya akan izinkan kau membawa pistol selama kau tidak bermain pistol di area sekolah!”
“Oke pak!” jawab Rimau.
Kepsek langsung meninggalkan kelas, beberapa anak 11-1 berbisik satu sama lain, “Eh si Rimau ternyata bawa pistol ke sekolah untuk pertahanan diri, mengerikan!”
“Kalian tidak tahu siapa sebenarnya si Rimau!” ujar dalam hati Kosim, Shaka, Parja, Made, Mahesa, Panjul, Jose, Karyo dan Jose ketika mendengar bisikan seperti itu, “Dia lebih mengerikan dari apa yang kalian kira!”
Keluarnya Kepsek dari kelas dan berbunyi bel, semua anak STM Panzer berhamburan ke jalanan dan Kosim serta gengnya pergi ke Warteg (Warung Tega) untuk makan siang walaupun baru jam 10 pagi. Kosim, Shaka, Parja, Made, Mahesa, Panjul, Jose, Karyo dan Jose makan siang di Warteg, di sebelah kiri Kosim ada Rimau yang makan dengan tenang sedangkan di kanannya ada Shaka.
Kosim berfikir sesuatu, “Ehm, cucian Bhayangkara bisa selesai dalam waktu 10 jam dan itu bisa ngerepotin gue walaupun upahnya lumayan besar!”
“Oh ya, kenapa gue nggak ajak teman-teman buat nyuci bareng!” pikir Kosim, “Satu orang kan upahnya Rp 250.000 dan cuciannya bisa cepat selesai kalo banyak yang nyuci!”
“Tawarin ah,” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim menoleh ke sebelah kanannya dan bertanya kepada Shaka, “Shaka, mau kagak kerjaan yang upahnya 1/4 dari Rp 1.000.000?”
“Oh boleh, kerjaan apa?” tanya dengan girang Shaka.
“Nyuci baju bareng gue di pedepokan Bhayangkara sehabis pulang dari sekolah!” jawab Kosim.
“Oh, gue mau sim!” ujar Shaka, Kosim menawar pekerjaan ini kepada teman-temannya dan banyak yang ingin ikut walaupun kerjaannya mencuci pakaian Bhayangkara. Kosim tidak menawarkan pekerjaan ini kepada Rimau karena ia tahu kalo Rimau tak akan mau berkerja seperti itu, tiap malam ia selalu pergi ke luar dan sibuk mengejar targetnya untuk di bunuh sehingga mustahil untuk Rimau ikutan pekerjaan sambilan Kosim.
Kosim selesai makan dan membayarkan makan siang dirinya serta teman-temannya karena teman-temannya kabur dari tempat ini, mereka kabur karena untuk menghindari membayar uang makan siang di Warteg ini. Kosim berdiri dan pergi meninggalkan tempat ini namun lengan bajunya di tarik Rimau yang masih duduk, Rimau duduk di kursi walaupun makanannya sudah habis.
“Kosim duduk, ada sesuatu yang ingin aku kasih tahu!” ujar Rimau.
“O..oke!” ujar Kosim dengan kebingunan, ia lalu ia duduk.
“Kosim, Bhayangkara Jabar meminjamkan gue ke Bhayangkara Sunda selama 1 minggu untuk menghabisi preman-preman di daerah Galuh!” ujar Rimau.
“Jadi?” tanya Kosim yang bingung maksud dari Rimau.
“Bilangin semua anak STM Panzer dan guru-guru soal keabsenan gue selama 1 minggu!” jawab Rimau, “Dan jangan bilang siapa-siapa tentang kepergian gue ke Sunda, lo terserah bikin alasan macam-macam soal kepergian asal jangan memalukan!”
“Kenapa lo bilangin soal ini ke gue?” tanya Kosim, “Lo juga bisa langsung ngomong ke Kepsek soal ini?”
Rimau langsung kebingungan untuk mencari alasan dan ia menjawab, “E..eh karena gue takut rahasia gue sebagai pembunuh ketahuan banyak orang!”
“Oh,” ucap Kosim, “Tapi kenapa harus gue? Kan tadi ada Shaka dan yang lain yang bisa lo kasih tahu soal ini?”
“E..eh, karena cuma lo yang bisa gue percaya total daripada yang lain!” jawab Rimau dengan mengada-ngada.
“Oh, Oleh-oleh ya entar dari Sunda!” ujar Kosim, “Tahu kalo bisa sama ubi yang manis!”
“Oke…” mengerti Rimau.
“Bisakah kau lepas tanganmu dari lengan bajuku?”
Dari tadi, lengan baju Kosim di pegang Rimau dan Rimau langsung melepas tangan kirinya dari lengan baju Kosim. “Maaf Kosim, lupa gue kalo tangan gue masin megang lengan baju lo!” pinta maaf Rimau dengan malu.
“Oh ya, nggak apa-apa!” jawab Kosim.
Kosim langsung pergi meninggalkan tempat ini dan meninggalkan Rimau sendirian, Kosim menyerbangi jalan raya dan berfikir sesuatu sewaktu ia menyerbangi jalan, “Ehm, Rimau yang keren itu bakal pergi dan saingan nilai gue berkurang, hore!”
Kosim menyerbangi jalan dan melihat Rimau mendadak ada di sebelahnya, Kosim kaget melihat orang yang sedang di fikirkannya muncul dan Rimau bertanya, “Kenapa kaget?”
“Ng..nggak!” jawab Kosim.
“Oke..”
“Aduh, mesti hati-hati kalo mikirin Rimau!” ujar Kosim dalam hatinya, “Bisa-bisa orangnya muncul mendadak ketika di fikirkan, ini udah ke tiga kalinya gue mikirin Rimau dan muncul orangnya di sebelah gue!”
Mereka berdua berjalan bersama-sama ke STM Panzer, mereka masuk ke dalam STM Panzer dan kembali ke kelas, pelajaraan 3 segera di mulai..
Rimau merupakan saingan Kosim di kelas karena ia sangat cerdas dan nilai-nilainya sangat bagus di bandingkan anak-anak 11-1, hanya Kosim yang mungkin bisa menandinginya.
bersambung
Senopati melirik ke belakang dan menjawab, “Ada 6, semuanya rusak gara-gara mesin cuci bekas punya! Bukan beli!”
“Kenapa nggak di servis wahai Senopati?” tanya lagi Kosim.
“Tukang servis langganan Bhayangkara liburan ke Bali selama 1 minggu, kami tak mencari tukang servis lain karena kami kurang percaya dengan tukang servis lain!” jawab Senopati.
“Tapi, daripada numpuk baju kotor mendingan di servis saja sama tukang servis lain, Senopati!” sanggah Kosim.
“Benar juga sih!” ucap Senopati sambil memegang dagunya.
Senopati dan Kosim terus berjalan di lorong ini, Senopati melirik ke belakang dan berkata, “Kosim, aku terfikir sesuatu, maukah kau bergabung dengan Bhayangkara setelah kau lulus dari STM Panzer?”
Kosim langsung terkejut mendengar pertanyaan tersebut, Kosim belum pernah terfikir untuk berkerja sebagai Bhayangkara walaupun kemampuannya sudah memenuhi untuk menjadi Bhayangkara yaitu adil dan kuat.
“Ehhh…” bingung Kosim.
“Kosim, kau pernah menolong Bhayangkara Jabar waktu itu dan kami merasa bahwa kamu layak menjadi Bhayangkara tanpa perlu mendaftar!” senyum Senopati, “Kau tak perlu menjadi Bhayangkara Jabar sim, Bhayangkara Sunda pasti mau menerima kau karena kau sudah popular di kalangan Bhayangkara setelah kejadian itu!”
Kosim makin kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu, gaji Bhayangkara memang bisa menghidupi keluarganya yang miskin tapi ia sudah berkomitmen untuk bercita-cita menjadi insinyur tank. Cita-cita itulah yang membuat ia akan mempertahankan sekolah STM Panzer dari segala ancam yang bisa membuat sekolahnya hancur atau digusur.
“Oh ya Kosim, ngomong-ngomong apa cita-citamu?” tanya Senopati kepada Kosim.
“I..insinyur tank!” jawab Kosim dengan terbata-bata.
“Oh, semangat ya Kosim!” ujar Senopati, “Jadi insinyur tank itu tidak mudah, kau mesti pergi ke luar negeri buat menjadi insinyur tank dan biasanya sih lulusan STM Panzer jadi teknisi tank!”
“Yang pastinya, biayanya tak akan murah untuk orang biasa!” ujar Senopati, “Tapi, kau bisa mencari beasiswa untuk bisa mengambil jurusan tank di luar negeri!”
“Iya, akan aku cari beasiswa ketika aku ada di kelas 12!” ujar Kosim, raut muka Kosim menunjukan bahwa ia tidak tahu bagaimana ia mendapatkan beasiswa dan ia berkata kepada Senopati bahwa ia akan mencari beasiswa ketika kelas 12 untuk membuat Senopati tidak bertanya soal kuliah di luar negeri.
Mereka akhirnya sampai di tempat yang bisa di gunakan Kosim untuk mencuci baju, tempat tersebut merupakan tempat yang ada kran air dan di sana banyak toilet yang biasanya di gunakan Bhayangkara ataupun orang lain untuk buang air. Jaka menunjuk lima mesin cuci yang ada di ruangan ini dan ke lima mesin cuci tersebut rusak. “Kosim, itu ke lima mesin cuci yang sekarang masih rusak!” ujar Senopati, “Aku akan memanggil tukang servis untuk memperbaiki ke lima mesin cuci!”
“Selagi mesin cuci rusak, kau cuci baju-baju kami!” ujar Senopati, “Di sana baju-baju yang harus di cuci!”
Senopati menunjuk tumpukan baju yang sudah seperti gunung di beberapa keranjang baju kotor, Kosim hanya terperangah melihat baju-baju kotor tersebut. Senopati langsung memegang pundak kiri Kosim dan berkata, “Kosim, kalo kau lapar maka datanglah ke kantin Bhayangkara! Kau boleh makan sesuka hatimu tapi sebagai gantinya, kau harus mencuci semua pakaian kotor!”
“Ba..baik!” jawab Kosim dengan gagap.
Senopati langsung meninggalkan tempat ini dan Kosim langsung menggulung kedua lengan bajunya, ia langsung jongkok dan bersiap mencuci dengan alat deterjen serta ember besar. Kosim langsung memasukan baju-baju kotor baik seragam maupun baju biasa ke dalam ember, ia langsung mengisi air ke dalam ember dan bersiap untuk mencuci.
Jam menunjukan jam 11.30 dan Kosim memulai mencuci baju….
10 jam kemudian…
“Fuh…” hela nafas Kosim, “Selesai juga nyuci baju segunung!”
Kosim menghabiskan 9 jam untuk mencuci ratusan baju dan itu sudah termasuk waktu makan serta ibadah yang tak bisa di lewatkan oleh Kosim. Kosim langsung tiduran di lantai dan Senopati tiba-tiba datang ke tempat Kosim berada, ia melihat Kosim terkapar di lantai dan ia bertanya kepada Kosim, “Kosim, apakah kau baik?”
“Ha, baik aku wahai Senopati!” jawab Kosim.
“Itu semua pakaiannya sudah selesai di cuci dan lagi di jemur di sini gara-gara di luar sedang hujan!” ujar Kosim sambil menunjukan baju-baju yang sedang di jemur di tempat ini. Baju-baju di jemuran di taruh di jemuran dan di tempat ini sudah di sediakan jemuran sehingga ia tak perlu menjemur di luar gedung ini.
“Oh, bagus!” anguk-anguk kepala Senopati.
“Jadi, mana Rp 250.000?” tanya Kosim sambil mengadah tangan ke Senopati.
“Ya..ya!” jawab Senopati, Senopati langsung mengambil uang dari dompetnya dan memberikan uang sebesar Rp 250.000 kepada Kosim.
Kosim langsung memasukan uang tersebut ke dalam saku bajunya dan ia berdiri, Kosim kemudian bertanya kepada Senopati, “Eh Senopati, ada payung tidak?”
“Ada, buat apa?” tanya Senopati dengan polosnya.
“Buat biar menghindar dari air hujan Senopati!” jawab Kosim dengan sedikit kesal.
“Oke, ikut gue ke ruangan!” ujar Senopati. Senopati dan Kosim keluar dari ruangan tersebut, mereka berjalan di lorong panjang dan banyak Bhayangkara yang berjalan di lorong untuk kembali ke tempat tidur mereka yang ada di lantai 2 dan 3. Para Bhayangkara tinggal di pedepokan tapi Senopati tidak karena Senopati bisa membeli rumah sendiri termasuk Senopati Jaka.
Kosim dan Jaka sampai di ruangan Senopati, Jaka langsung mengambil payung yang tergeletak di pinggir tempat Xboksnya dan ia memberikan payung tersebut kepada Kosim. Kosim mengambil payung tersebut dan Kosim berkata, “Terima kasih Senopati!”
“Sama-sama,” jawab Senopati, “Balikin ya payungnya kalo datang lagi!“
“Iya senopati!” ujar Kosim sambil menggaruk-garuk bajunya, ia menggaruk-garuk bajunya gara-gara belum mandi sore.
“Dan sekarang keluar, gue mau ngelanjutin misi di GTA 5!” usir Senopati kepada Kosim.
Senopati langsung membuka pintu dan mengusir Kosim dari ruangannya, Kosim keluar dari ruangannya dan pergi keluar dari pedepokan. Pedepokan di malam hari cukup sepi tapi ruangan pelayaan publik tidak akan sepi karena Bhayangkara akan terus ada untuk masyarakat yang butuh sesuatu kepada mereka.
Kosim keluar dari pedepokan dan pergi ke kontrakannya dengan memakai payung, hujan cukup lebat dan Kosim yang perutnya sudah terisi karena beberapa wakut yang lalu ia pergi ke kantin untuk makan.
Ia sampai di kontrakan dan ia langsung menunaikan sholat isya lalu pergi tidur, ia langsung tidur tanpa mengerjakan PR atau membereskan buku karena ia melupakan hal itu. Ia terlalu cape dan saking capenya, ia lupa besok itu hari Senin. Ia cape berat karena mencuci baju dan celana yang jumlahnya terlalu banyak sehingga memakan waktu 10 jam untuk menyelesaikan semua cucian tersebut.
Keesokan harinya…
“Oh!!” nguap Kosim, Kosim melihat sudah jam 5.30 dan ia melihat di kalender. Matanya langsung melotot dan kaget bahwa hari ini adalah hari senin, 21 Oktober 900. Kosim yang belum mengerjakan PR Matematika dan ilmu tank langsung turun dari kasurnya, ia berfikir sesuatu, “Waduh, belum ngerjain PR!”
“Gimana nih?” tanya Kosim dalam hatinya, “Apa ngerjain bareng sama teman-teman di sekolah?”
“Ya, itu pilihan bagus di bandingkan mengerjakan sekarang!” jawab Kosim, “Tidak mungkin semua PR itu bisa selesai dalam 30 menit dan sekarang gue harus segera menunaikan sholat subuh, udah mau terbit mataharinya!”
Kosim langsung berlari ke kamar mandi dan ia langsung mandi lalu berwudhu, setelah itu ia menunaikan sholat dan langsung bersiap berangkat ke sekolah. Ia di tengah jalan, makan nasi uduk di pinggir trotoar dengan menggunakan uang yang ia punya dan setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Ia sampai di STM Panzer pada jam 6.10, ia berjalan di atas rumput bagus STM Panzer dan pergi ke kelas 11-1. Di kelas 11-1, ia langsung pergi ke kumpulan anak-anak STM Panzer yang sedang mengerjakan PR bersama-sama. Ia sampai di tempat itu dan melihat teman-temannya seperti Mahesa, Shaka, Parja, Made, Jose, Karyo, Panjul, dan lain-lain sedang berkerjasama menyelesaikan PR mereka.
Kosim langsung bertanya kepada mereka semua, “Semua, lihat dong PRnya! Gue belum ngerjain nih!”
Semua orang menoleh ke Kosim dan menjawab, “Kita juga belum ngerjain dan dari tadi kami ngerjain!”
“Sim, bisa lihat nggak PR lo sim?” tanya Shaka kepada Kosim. Shaka sepertinya tidak mendengar kalo Kosim tidak mengerjakan PRnya, PR Kosim sering di salin oleh semua anak 11-1 dan Kosim sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
“Woi, gue udah bilang gue belum ngerjain PR!” jawab Kosim sambil marah-marah.
“Ha?!” kejut semua anak 11-1.
“Kosim yang rajin ternyata sekarang nggak rajin ngerjain PR…!” teriak Mahesa.
“Woi, berisik!” bentak Parja, “Sekarang, kita fokus ngerjain PR sebelum upacara di mulai!”
Parja memilki kumis tipis dan hidungnya pesek sekali bahkan paling pesek di antara murid-murid 11-1. Ia punya luka baretan di tangan kirinya karena ia pernah di sabet musuhnya ketika semester 2. Sikapnya cukup keras dan sedikit galak, ia bisa karate dan kemampuannya bisa menyaingi Kosim serta Made yang basis beladirinya adalah pencak silat.
Kosim melihat ke pintu dan melihat Rimau masuk ke kelas, Rimau merupakan satu-satunya perempuan di STM Panzer dan ia membawa kotak gitar besar. Ia memakai sweater pink dan memiliki jalinan rambut di kedua sisi mukanya, ia bukan sembarangan perempuan karena ia merupakan pembunuh bayaran yang di kontrak Bhayangkara Jabar untuk menghabisi penjahat yang menjadi target Bhayangkara dan di dalam kotak gitarnya ada senapan AWM di dalamnya.
Di dalam sweaternya tersimpan dua pistol yang ia gunakan sebagai pertahanan diri, ia punya kemampuan pencak silat yang setara dengan Kosim dan Made. Pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran hanya di ketahui Kosim, Shaka, Parja, Made, Mahesa, Karyo, Panjul, Jose, dan Jono. Ia merupakan penembak runduk yang ketepatan menembak dengan senapan sniper selalu 98% akurat. Di dalam tasnya ada pistol juga ada butiran peluru. Sifatnya Rimau pendiam dan ia cukup dekat dengan Kosim, Shaka, Parja, Made, Mahesa, Panjul, Jose, Karyo dan Jose tapi ia paling dekat dengan Kosim.
“Woi Rimau, udah ngejain PR belum!” teriak Kosim.
Rimau melihat Kosim dan berkata, “Belum!”
“Ya udah!” ujar Kosim, “Eh, tumben Rimau kagak ngerjain PR!”
“Udah, diam saja Kosim!” kesal Rimau.
Kosim langsung duduk dan mengeluarkan bukunya lalu menyalin jawaban-jawaban dari buku temannya. Rimau menaruh kotak gitarnya di pojok kelas dan ia menaruh tasnya di mejanya yang ada di pojok kelas, ia duduk sendiri dan di sebelahnya ada tempat duduk Kosim serta Shaka.
Rimau langsung bergabung dengan anak STM lain dan ia juga ikut-ikutan menyalin jawaban bersama-sama, Rimau jarang-jarang begini karena ia sering mengerjakan PRnya sewaktu bertugas dan kali ini ia tidak mengerjakan PRnya. Ia tak mengerjakan PR karena ia ngatuk berat tadi malam setelah mengejar sasarannya sampai larut malam dan sasarannya sudah mati dengan senapan AWMnya.
Bel berbunyi dan anak-anak STM Panzer yang mengerjakan PR terpaksa harus keluar karena para guru memaksa mereka untuk mengikuti upacara. Upacara kali ini di pimpin Kepsek STM Panzer yang bernama Zhung Liang dan upacara berlangsung tidak terlalu lama karena hujan mengguyur STM Panzer ketika inti acara upacara, oleh karena itu maka upacara di bubarkan. Upacara di bubarkan dan menyisakan waktu sekitar 19 menit sebelum bel pelajaran pertama di mulai, kesempatan itu di manfaatkan semua murid 11-1 untuk mengerjakan PR bersama-sama.
19 menit telah berlalu dan semua anak 11-1 berhasil menyelesaikan PR mereka, pelajaraan pertama dimulai…
Pada jam pelajaraan ilmu tank yang merupakan jam pelajaraan kedua, semua murid 11-1 di bawa guru ilmu tank ke gudang tank yang ada di dalam hutan STM Panzer. Di sana, mereka di perlihatkan bagian-bagian mesin tank dan alat-alat yang bisa di gunakan tank untuk bergerak.
Setelah pelajaraan ilmu tank selesai, semua murid 11-1 kembali ke kelas dan menemukan Kepsek STM Panzer yang sedang memeriksa barang-barang yang ada di tas. Kosim tidak terkejut tapi ia melihat Shaka terkejut setengah mati, Kepsek mengeledah tas Shaka dan menemukan banyak senjata di dalam tas seperti Iklwa dan parang.
Kepsek STM Panzer berang ketika melihat ada yang bawa senjata lagi karena pelajar STM Panzer sudah di larang bawa senjata kecuali dapat izin dari Bhayangkara. Kepsek langsung memanggil Shaka yang berdiri di pintu STM Panzer, “Shaka, kesini kau!”
Shaka gemetaran dan ia menghampiri Kepsek STM Panzer tersebut, Kepsek tersebut langsung memarahi Shaka dan mengancam bahwa ia akan menaikkan SPP khusus kepada Shaka jika ia terus membawa senjata ke sekolah. Shaka meminta maaf dan Kepsek yang baru menjabat hampir 1 tahun tersebut langsung memaafkan perbuatan Shaka, Kepsek langsung mengambil semua senjata Shaka dan ia akan menjual semua senjata tajam tersebut ke pasar loak.
Kepsek menaruh senjata-senjata tersebut ke dalam kantong plastik besar dan ia melihat tas Rimau, ia langsung mengambil tas Rimau dan memeriksa isinya. Kepsek langsung mengambil pistol dari tas Rimau dan berkata, “Apa-apaan ini?”
“Rimau!” teriak Kepsek, “Sini kau!”
Rimau langsung menghampiri Kepsek dan ia tetap bersikap tenang walaupun Kepsek memegang senjatanya, Kepsek bermain-main dengan dua pistol tersebut dan tidak merasa bahwa kedua pistol tersebut merupakan pistol asli. Rimau berdiri di depan Kepsek dan Kepsek bertanya, “Rimau, kenapa kau bawa pistol ke sekolah?”
“Untuk pertahanan diri!” jawab Rimau dengan tenang.
“Oh..” ucap Kepsek, “Ini pistol beneran?”
“Ya pak,” jawab dengan tenang Rimau.
“Masa?” ragu Kepsek.
“Coba aja pak kalo ragu-ragu!” senyum Rimau.
“Oke,” ujar Kepsek.
Kepsek mengarahkan ke dua pistol ke dinding belakang kelas dan menekan kedua pelatuk pistol, keluarlah 2 butir peluru dari kedua pistol tersebut dan menancap ke dinding belakang kelas. Suara tembakan mengagetkan Kepsek dan semua orang yang ada di kelas 11-1, semua murid 11-1 yang duduk di tempat duduk masing-masing memperhatikan Kepsek .
Rimau langsung mengeluarkan HPnya dan menelepon Bhayangkara, “Halo Bhayangkara, ada yang main pistol di sekolah dan namanya Zhung Liang, Kepsek STM Panzer!”
“Ah!!!” kejut Kepsek STM Panzer mendengar omongan Rimau, “Rimau, jangan laporkan saya ke Bhayangkara hanya karena main pistol kau!”
“Oke, berikan kedua pistol itu kepada saya!” senyum Rimau, Rimau mengadahkan tangan ke Kepsek STM Panzer dan Kepsek memberikan ke dua pistol tersebut kepada Rimau. Rimau langsung menaruh ke dua pistol ke tasnya dan berkata ke Kepsek, “Terima kasih pak!”
“Ya ya tapi kenapa kau membawa senjata api ke sekolah?” tanya Kepsek, “Apa kau mau saya keluarkan dari sekolah ini hanya karena membawa pistol?”
“Pak, saya membawa pistol untuk pertahanan diri pak dan saya sudah mengantongi izin dari Bhayangkara untuk membawa pistol!” jawab Rimau, Rimau mengambil sesuatu dari tasnya dan ia memberikan gulungan kertas kepada Kepsek. Kepsek membacanya dan berkata, “Ehm, Bhayangkara ternyata telah memberi izin kepadamu untuk membawa pistol! Oke, saya akan izinkan kau membawa pistol selama kau tidak bermain pistol di area sekolah!”
“Oke pak!” jawab Rimau.
Kepsek langsung meninggalkan kelas, beberapa anak 11-1 berbisik satu sama lain, “Eh si Rimau ternyata bawa pistol ke sekolah untuk pertahanan diri, mengerikan!”
“Kalian tidak tahu siapa sebenarnya si Rimau!” ujar dalam hati Kosim, Shaka, Parja, Made, Mahesa, Panjul, Jose, Karyo dan Jose ketika mendengar bisikan seperti itu, “Dia lebih mengerikan dari apa yang kalian kira!”
Keluarnya Kepsek dari kelas dan berbunyi bel, semua anak STM Panzer berhamburan ke jalanan dan Kosim serta gengnya pergi ke Warteg (Warung Tega) untuk makan siang walaupun baru jam 10 pagi. Kosim, Shaka, Parja, Made, Mahesa, Panjul, Jose, Karyo dan Jose makan siang di Warteg, di sebelah kiri Kosim ada Rimau yang makan dengan tenang sedangkan di kanannya ada Shaka.
Kosim berfikir sesuatu, “Ehm, cucian Bhayangkara bisa selesai dalam waktu 10 jam dan itu bisa ngerepotin gue walaupun upahnya lumayan besar!”
“Oh ya, kenapa gue nggak ajak teman-teman buat nyuci bareng!” pikir Kosim, “Satu orang kan upahnya Rp 250.000 dan cuciannya bisa cepat selesai kalo banyak yang nyuci!”
“Tawarin ah,” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim menoleh ke sebelah kanannya dan bertanya kepada Shaka, “Shaka, mau kagak kerjaan yang upahnya 1/4 dari Rp 1.000.000?”
“Oh boleh, kerjaan apa?” tanya dengan girang Shaka.
“Nyuci baju bareng gue di pedepokan Bhayangkara sehabis pulang dari sekolah!” jawab Kosim.
“Oh, gue mau sim!” ujar Shaka, Kosim menawar pekerjaan ini kepada teman-temannya dan banyak yang ingin ikut walaupun kerjaannya mencuci pakaian Bhayangkara. Kosim tidak menawarkan pekerjaan ini kepada Rimau karena ia tahu kalo Rimau tak akan mau berkerja seperti itu, tiap malam ia selalu pergi ke luar dan sibuk mengejar targetnya untuk di bunuh sehingga mustahil untuk Rimau ikutan pekerjaan sambilan Kosim.
Kosim selesai makan dan membayarkan makan siang dirinya serta teman-temannya karena teman-temannya kabur dari tempat ini, mereka kabur karena untuk menghindari membayar uang makan siang di Warteg ini. Kosim berdiri dan pergi meninggalkan tempat ini namun lengan bajunya di tarik Rimau yang masih duduk, Rimau duduk di kursi walaupun makanannya sudah habis.
“Kosim duduk, ada sesuatu yang ingin aku kasih tahu!” ujar Rimau.
“O..oke!” ujar Kosim dengan kebingunan, ia lalu ia duduk.
“Kosim, Bhayangkara Jabar meminjamkan gue ke Bhayangkara Sunda selama 1 minggu untuk menghabisi preman-preman di daerah Galuh!” ujar Rimau.
“Jadi?” tanya Kosim yang bingung maksud dari Rimau.
“Bilangin semua anak STM Panzer dan guru-guru soal keabsenan gue selama 1 minggu!” jawab Rimau, “Dan jangan bilang siapa-siapa tentang kepergian gue ke Sunda, lo terserah bikin alasan macam-macam soal kepergian asal jangan memalukan!”
“Kenapa lo bilangin soal ini ke gue?” tanya Kosim, “Lo juga bisa langsung ngomong ke Kepsek soal ini?”
Rimau langsung kebingungan untuk mencari alasan dan ia menjawab, “E..eh karena gue takut rahasia gue sebagai pembunuh ketahuan banyak orang!”
“Oh,” ucap Kosim, “Tapi kenapa harus gue? Kan tadi ada Shaka dan yang lain yang bisa lo kasih tahu soal ini?”
“E..eh, karena cuma lo yang bisa gue percaya total daripada yang lain!” jawab Rimau dengan mengada-ngada.
“Oh, Oleh-oleh ya entar dari Sunda!” ujar Kosim, “Tahu kalo bisa sama ubi yang manis!”
“Oke…” mengerti Rimau.
“Bisakah kau lepas tanganmu dari lengan bajuku?”
Dari tadi, lengan baju Kosim di pegang Rimau dan Rimau langsung melepas tangan kirinya dari lengan baju Kosim. “Maaf Kosim, lupa gue kalo tangan gue masin megang lengan baju lo!” pinta maaf Rimau dengan malu.
“Oh ya, nggak apa-apa!” jawab Kosim.
Kosim langsung pergi meninggalkan tempat ini dan meninggalkan Rimau sendirian, Kosim menyerbangi jalan raya dan berfikir sesuatu sewaktu ia menyerbangi jalan, “Ehm, Rimau yang keren itu bakal pergi dan saingan nilai gue berkurang, hore!”
Kosim menyerbangi jalan dan melihat Rimau mendadak ada di sebelahnya, Kosim kaget melihat orang yang sedang di fikirkannya muncul dan Rimau bertanya, “Kenapa kaget?”
“Ng..nggak!” jawab Kosim.
“Oke..”
“Aduh, mesti hati-hati kalo mikirin Rimau!” ujar Kosim dalam hatinya, “Bisa-bisa orangnya muncul mendadak ketika di fikirkan, ini udah ke tiga kalinya gue mikirin Rimau dan muncul orangnya di sebelah gue!”
Mereka berdua berjalan bersama-sama ke STM Panzer, mereka masuk ke dalam STM Panzer dan kembali ke kelas, pelajaraan 3 segera di mulai..
Rimau merupakan saingan Kosim di kelas karena ia sangat cerdas dan nilai-nilainya sangat bagus di bandingkan anak-anak 11-1, hanya Kosim yang mungkin bisa menandinginya.
bersambung
0
Kutip
Balas