TS
redxiv
[OriFic] Tear of Fate
Halo salam kenal,
Setelah menunda beberapa kali akhirnya saya putuskan sharing cerita disini. Jujur aja sih saya harap ini jadi proyek tulis menulis terakhir saya sebelum terjun ke dunia menulis sebenarnya. Jadi saya mohon kritik atau masukan apapun tentang cerita ini, dan terima kasih banyak sebelumnya.
Genre : Fantasi, Adventure, Political, Magic, Alternate History
Sinopsis :
Index :
Setelah menunda beberapa kali akhirnya saya putuskan sharing cerita disini. Jujur aja sih saya harap ini jadi proyek tulis menulis terakhir saya sebelum terjun ke dunia menulis sebenarnya. Jadi saya mohon kritik atau masukan apapun tentang cerita ini, dan terima kasih banyak sebelumnya.
Genre : Fantasi, Adventure, Political, Magic, Alternate History
Sinopsis :
Quote:
Bergabung di akademi militer saat menginjak umur empat belas tahun, lulus setahun kemudian dengan memecahkan berbagai rekor. Memberikan kontribusi pertamanya pada aliansi kerajaan Riviera saat memimpin lima ratus pasukan memasuki benteng Frostia pada umurnya yang keenam belas tahun, dan meruntuhkan benteng itu enam jam kemudian. Mencapai puncak prestasi di umur yang kedua puluh tahun dengan di angkat sebagai komandan tertinggi kerajaan Riviera.
Dan lima tahun telah berlalu sejak di tanda-tanganinya perjanjian perdamaian antara republik Vain, dan aliansi kerajaan Riviera. Dia kini tengah menikmati kedamaian dengan mengasingkan diri di hutan konservasi berjarak empat puluh lima ribu mil dari ibukota Riviera, Sphersa.
Namun sepertinya kedamaian itu berakhir saat munculnya seorang pria lemah, cerewet, pengeluh—pokoknya semua yang buruk-buruk—sedang diburu oleh Holy Vain, pasukan dari republik Vain. Firasatnya—yang tak pernah meleset—mengatakan bahwa pria lemah itu akan kembali membawa dunia dalam peperangan.
Dia tak menginginkan perang. Perang telah membuatnya menjadi pembunuh berdarah dingin, perang telah merenggut rekan-rekan seperjuangannya. Tapi dia tak bisa lari menghindar saat mengetahui kenyataan dibalik pria itu, sejarah lima ribu tahun lalu. Firasatnya tak pernah mengatakannya, pria itu menuntunnya melihat sisi lain dunia, mengantarnya menuju takdir tak terelakkan…
Dan lima tahun telah berlalu sejak di tanda-tanganinya perjanjian perdamaian antara republik Vain, dan aliansi kerajaan Riviera. Dia kini tengah menikmati kedamaian dengan mengasingkan diri di hutan konservasi berjarak empat puluh lima ribu mil dari ibukota Riviera, Sphersa.
Namun sepertinya kedamaian itu berakhir saat munculnya seorang pria lemah, cerewet, pengeluh—pokoknya semua yang buruk-buruk—sedang diburu oleh Holy Vain, pasukan dari republik Vain. Firasatnya—yang tak pernah meleset—mengatakan bahwa pria lemah itu akan kembali membawa dunia dalam peperangan.
Dia tak menginginkan perang. Perang telah membuatnya menjadi pembunuh berdarah dingin, perang telah merenggut rekan-rekan seperjuangannya. Tapi dia tak bisa lari menghindar saat mengetahui kenyataan dibalik pria itu, sejarah lima ribu tahun lalu. Firasatnya tak pernah mengatakannya, pria itu menuntunnya melihat sisi lain dunia, mengantarnya menuju takdir tak terelakkan…
Index :
Quote:
Diubah oleh redxiv 10-02-2014 20:11
0
2.9K
Kutip
16
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
redxiv
#12
Chapter III #1
Quote:
ILUMNIA
Nada mendecit lirihmengalun merdu saat Shou membuka pintu kayu yang setengah terbuka. Dan tanpa mengucapkan apapun—karena merasa telah diberi izin oleh si pemilik pondok—ia masuk ke dalam. Suasana di dalam sama seperti kali pertama dia menginjakkan kaki di tempat itu—sebelum akhirnya dipaksa keluar oleh kucing besar berwarna putih.
Langkah kakinya berlahan maju, membiarkan kedua bola matanya mengorbitkan pandangan ke tiap sudut ruangan. Tak ada yang istimewa, bahkan cenderung biasa dengan desain ruang minimalis.
Sebuah meja kaca dengan hiasan pahatan kayu memukau, berdiri tepat di pusat ruangan. Ditemani tiga buah sofa berwarna merah cerah—harimau putih itu tadinya tiduran di sofa paling panjang—yang mengililingi meja. Dan sebuah karpet sutra indah bermotif bunga-bunga dipinggirannya, dengan kombinasi warna merah, hijau, biru, kuning, menjadi alas bagi kedua perabotan rumahan itu.
Agak jauh ke kanan dari sofa merah yang hanya bisa di duduki satu orang, ada sebuah turntable berwarna putih pucat. Berdiri bersanding dengan sebuah lemari kayu berkaca gelap. Walau tak bisa melihat apa isi di dalam lemari itu, tapi Shou yakin bahwa isinya hanyalah koleksi-koleksi piringan hitam.
Di dinding tepat di sebelah kiri turntable, terpajang sebuah foto. Hanya sebuah foto berukuran empat puluh kali dua puluh lima sentimeter. Terbingkai cantik di dalam ukiran pigura kayu berwarna hitam kecokelatan.
Shou melangkahkan kakinya mendekat, lalu memandangi foto itu lekat-lekat.
Berlatar belakangkan panorama indah gunung dan pepohonan rindang, ketujuh orang di foto itu berbaris rapi dari kanan ke kiri. Dan hanya seorang yang wajahnya tak asing di mata pria itu. Wanita dengan bibir merekah mempesona, tersenyum bahagia, ekspresi wajah yang tak pernah dijumpainya sejauh ia mengenal wanita itu—tiga hari ini.
Shou melebarkan pandangannya pada enam orang lain di sekitar wanita yang dikenalnya. Umur mereka bervariasi, pria dan wanita, sepertinya jelas itu bukanlah foto kenang-kenangan teman bermain sepantaran.
Yang paling muda, seorang anak laki-laki berumur—antara tujuh atau delapan tahun—berdiri tegap dengan lengan kiri melingkar di pinggang Giulietta. Dan yang paling tua, mungkin—dia—pria hitam besar berwajah sangar lengkap dengan kumis dan jenggot tebalnya, berdiri merunduk di ujung foto paling kiri.
Pria besar itu tersenyum sangat lebar, memperlihatkan gigi-gigi yang tampak sangat kontras dengan warna kulitnya. Telapak tangan besarnya berada di atas kepala seorang pria berwajah pucat, sangat pucat—dan mungkin malah terlihat ia sedang sakit parah, dengan rambut yang memutih, serta badan kurus kering. Tetapi terpancar ekspresi kebahagiaan di antara wajah sayu pria pucat itu.
Terus ke kanan dari si pria berwajah pucat, ada seorang pria berambut gelap yang terlihat memiliki tubuh paling proposional di antara pria lainnya. Shou memandangi wajah pria itu serius, lama, cukup lama. Dan bukan karena ia terpesona dengan wajah tampan pria itu, hanya saja kedua matanya berbeda warna. Dia pernah membaca tentang hal yang seperti ini, perbedaan warna mata terjadi karena faktor keturunan atau trauma yang menyebabkan penurunan atau peningkatan pigmentasi pada salah satu iris mata. Tapi tetap saja, baru kali ini dia benar-benar melihat seseorang yang memiliki warna mata berbeda—terlepas itu hanya di foto saja.
Di samping pria gagah berbadan proposional, ada seorang perempuan berambut pirang panjang. Gaun bangsawan yang dikenakannya terlihat sangat mencolok di antara keenam orang lain di foto itu. Dengan berbagai perhiasan mewah melekat di seluruh tubuhnya, dan berada tepat di tengah-tengah barisan, jelas membuat perempuan berusia—kurang lebih lima belas tahun—itu terlihat sangat berpengaruh.
Ke kanan dari si perempuan bangsawan, ada anak laki-laki, Giulietta, dan terakhir seorang perempuan berambut biru berumur kira-kira sembilan belas tahunan berdiri di ujung paling kanan. Dan jika melihat bagaimana caranya tertawa, sepertinya jelas dia yang paling senang di antara yang lain.
Shou menghela nafas panjang, berpikir kenapa dirinya jadi sangat serius memandangi foto itu. Dia bukanlah tipe orang yang senang mencampuri kehidupan orang lain. Dan siapapun keenam orang yang ada di foto itu, dan bila salah satu prianya adalah pacar—atau mungkin suami—dari si pemilik pondok, dan; atau si anak laki-laki yang memeluk pinggang Giulietta itu adalah putra dari pemilik pondok, itu sama sekali bukan urusannya. Karena bagaimanapun ia hanya sementara tinggal di tempat ini, dan mungkin, besok dia tak akan pernah melihat wajah si pemilik pondok ini lagi.
Shou menengok ke belakang, melihat dinding kayu yang fungsinya adalah untuk menyangga anak-anak tangga yang disusun sewajarnya menuju ke lantai atas. Dan di anak tangga pertama, tepat dipojokan ruangan, terdapat vas bunga cantik yang berisi tanaman hijau yang belum pernah dilihatnya. Di ujung berlawanan pun sama, vas bunga besar yang sama persis dengan jenis tanaman—yang sepertinya sama persis.
Bibir Shou terpisah, menganga sangat lebar dengan mata terpejam, menimbulkan suara—layaknya seseorang yang menderita karena tidak bisa tidur selama berhari-hari.
“Kau bisa menggunakan kamar di lantai dua jika ingin beristirahat,”—sambut suara seorang wanita dari balik tirai berwarna merah tua. “Aku sedang membuat sesuatu untuk dimakan, kau bisa turun satu setengah jam lagi jika mau.”
Pria itu mematung dengan mulut terkatup. Dirinya merasa sangat sangat menyesal telah mengeluarkan suara menyedihkan itu, dan; apalagi terdengar olehnya, si pemilik pondok.
Seolah tak ingin berlarut-larut dalam penyesalan. Shou mengadahkan kepalanya, mengintip lantai dua dengan berjalan mundur berlahan. Menyusuri pegangan tangga kayu, dan berdiri tepat di anak tangga pertama.
“Err… ada berapa kamar di lantai atas?” tanyanya.
“Tiga,” tukas Giulietta cepat. “Kau bisa menggunakan kamar pertama di lorong saat kau berbelok ke kanan.”
Kamar pertama di lorong saat belok ke kanan, ingat Shou ragu seraya kedua kakinya melangkah menaiki anak tangga pertama, kedua, dan seterusnya. Sampai akhirnya mulutnya cukup gatal untuk terus terkatup rapat-rapat, “kau tinggal sendirian?”
“Tidak,” balas Giu. “Aku tinggal bersama banyak teman, tapi jika yang kaumaksud adalah manusia, ya, aku tinggal sendiri.”
Tentu saja yang kumaksud manusia. Manusia normal yang tinggal dengan manusia lainnya. Bukan manusia yang tinggal dengan binatang yang suatu saat—saat binatang itu lapar—akan memakanmu. Tapi Shou hanya memikirkannya, sama sekali tak punya memiliki niat untuk mengumandangkannya keras-keras.
Sesampainya di lantai atas, Shou berjalan menyisir balkon yang berada di sebelah kiri. Dan berhenti sejenak saat sampai dipersimpangan, melihat pintu—yang diyakininya adalah sebuah kamar—berada tepat di ujung balkon. Lalu menengok ke kanan, sebuah lorong yang cukup panjang yang diujungnya juga terdapat sebuah pintu. Tapi jika mengingat ucapan wanita itu, maka kamar yang dimaksud pastilah ini, kamar yang berada tepat pangkal lorong.
Dengan agak ragu Shou menggenggam knop pintu—dirinya masih mengingat trauma yang dialaminnya sebelum ini—saat seekor hewan buas tiba-tiba melirik kearahnya. Dan tidak menutup kemungkinan’kan bila ada binatang buas lain di dalam pondok ini.
Ia memutar knop itu berlahan-lahan, menempelkan sebelah matanya di celah-celah pintu. Memastikan tak ada binatang buas atau—sesuatu apapun—yang bisa membuat nyawanya terancam. Setelah cukup yakin bahwa kamar itu aman, dia membukanya lebar-lebar dan menghela napas lega.
Dua buah kasur terpisah berwarna putih menyambutnya hangat, saat masuk ke dalam kamar. Juga sebuah benda yang ia pikir tak akan pernah ditemuinya di pondok ini, televisi.
Pria itu melangkah ke kiri, membuka pintu yang berada tepat dihadapannya, dan menemukan sebuah kamar mandi yang lengkap dengan semua peralatan—untuk mandi. Berlalu, pria itu berjalan mendekati televisi, lalu mengambil remote, dipencetnya tombol-tombol remote itu tepat di depan layar televisi. Namun tak ada respon apapun, padahal ia yakin televisi ini model yang harus menggunakan remote control untuk menyalakannya. Shou menjulurkan kepala ke punggung televisi itu, dan menyeringai geli saat melihat lilitan kabel yang terhubung pada televisi itu, terikat sangat rapi.
Dengan merengangkan otot-ototnya yang membeku, Shou berjalan menuju jendela yang berada tepat di seberang pintu masuk. Membuka sebelah tirainya, dan terlihat jelas pemandangan danau berwarna kehijauan. Lalu seekor kucing yang—tak mungkin bisa dilupakannya—sedang berlari-larian bersama seekor kijang—yang mungkin lebih tepatnya memburu seekor kijang.
Dia kembali melangkah ke kiri, menggenggam salah satu pegangan pintu berwarna putih dari dua pegangan pintu yang dilihatnya. Menariknya, lalu melihat tumpukkan baju yang tersusun rapi. Diambilnya salah satu pakaian ditumpukan paling atas, membukanya lebar-lebarnya, hanya kaos putih polos dengan lambang logo hitam kecil di bagian dada sebelah kiri. Bagaimanapun ia yakin ini bukan jenis pakaian yang biasa dipakai oleh seorang wanita.
Shou melipat kembali pakaian itu seperti sebelumnya—walau mungkin hasilnya jauh dari kata rapi—dan mengedarkan padangannya ke setiap sudut kamar yang telah dijelajahinya selama lima menit. Duduk di kasur putih dekat jendela, membaringkan diri dengan melentangkan kedua tangannya lebar-lebar, dan berlahan matanya mulai terpejam.
***
Shou menutup pintu kamar, sekarang dirinya tampak lebih rapi dan bersih. Dengan rambut tebalnya yang berwarna hitam legam, ditatanya rapi kesisi samping. Baju compang-camping yang ditanggalkannya, berganti dengan kaos putih polos berlengan panjang yang dipadu dengan celana panjang jeans biru tua
Awalnya dia sama sekali tak memiliki niat untuk—dengan lancang—mengenakan pakaian seseorang yang bahkan tak dikenalnya. Namun—si pemilik pondok—lima menit lalu berkata, bahwa dia boleh memakai pakaian apapun yang ada di dalam lemari jika mau, menyuruhnya untuk membersihkan diri, dan terakhir, memintanya—dengan tidak memohon—turun menikmati makan malam.
Bagaimanapun Shou sadar bahwa dirinya telah terlelap cukup lama. Lebih dari satu setengah jam, waktu yang dibutuhkan Giulietta untuk menyiapkan makanannya.
Pria itu menginjakkan kaki di lantai dasar, melihat Giulietta yang tengah duduk bersila di lantai pojok ruangan. Tangan kirinya sedang memegang sebuah lukisan, dan ada lukisan lain yang mirip tersandar di dinding samping kanannya. Lalu sebuah almari berukuran besar di ujung kanannya lagi. Shou memandangi lemari kayu itu lekat-lekat, keheranan. Dirinya yakin tak pernah melihat benda sebesar itu sebelumnya di tempat ini, amat yakin.
“Buatan sendiri?” tanya Shou mengabaikan misteri tentang munculnya sebuah lemari.
“Begitulah,” jawab Giulietta setelah diam sejenak dan melirik kearah Shou. Mengangkat tangan kanannya, menunjukkan meja penuh makanan dengan ibu jari, lalu berujar, “kau bisa makan lebih dulu.”
Shou melirih kearah yang ditunjukkan wanita itu. Jujur saja, perutnya sudah menjerit-jerit semenjak mencium bau daging panggang begitu keluar dari kamar tadi. Dan ia mengingat momen dimana selama beberapa bulan ini dirinya telah memakan berbagai macam makanan baru, mulai dari dedaunan tak jelas jenisnya, buah-buahan berbentuk aneh, sampak dia pernah mengorek makanan sisa dari tempat yang tak selayaknya. Peduli gila dengan kata higienis dan pertanyaan apakah makanan ini layak dikonsumsi? Saat sangat sangat lapar, apapun benda yang masuk ke dalam mulut akan terasa sangat lezat, pengalaman mengajarkannya hal itu.
Bergegas pria itu menuju meja makan, melewati Giulietta yang saat ini kembali tenggelam ke dalam lukisan indah yang dibuatnya. Namun tiba-tiba Shou menghentikan langkahnya, berbalik, memperhatikan kedua lukisan itu seksama, layaknya kakek-kakek penggila barang-barang antik.
“Yang kanan lebih bagus. Walau terlihat sedikit lebih gelap, tapi kontras warnanya membuat air danau itu terlihat hidup.” Ujarnya yakin.
Giulietta menyipitkan mata, menyandarkan lukisan yang dipegangnya ke dinding. Memutar kepala, sedikit mendongakkannya keatas, dan kini sepasang bola mata indah berwarna hijau daun tajam menatap mata Shou.
“Ya… sebenarnya aku juga tak begitu mengerti soal lukisan sih…” tukas pria itu akhirnya dengan raut wajah bersalah.
Dengan membalikkan badan, Shou berjalan—dengan agak gontai—menuju meja makan. Dia tahu wanita itu pasti sedang memilih salah satu dari dua lukisannya. Dan tadinya ia hanya ingin membantu, tak lebih. Juga sebenarnya saat ini dirinya merasa bersalah karena pernah menganggapnya sebagai, wanita tak berperasaan yang hidup di hutan, dan hanya peduli dengan binatang-binatang dan pohon-pohon bodoh.
Ditariknya salah satu kursi kayu, lalu membalikkan piring keramik putih di atas meja. Dengan pisau di tangan kanan, dan garpu di tangan lainnya, mata Shou kini tengah mengincar seonggok daging lezat dari daging-daging lezat yang tersedia di meja makan.
Giulietta masih terduduk dalam diam. Memiringkan sedikit kepalanya ke kiri, menyipitkan mata, menatap lukisan yang berada dikanannya lekat-lekat. Sekelebat saja bola-bola matanya beralih kearah kiri, yang kemudian beralih kembali ke kanan, begitu seterusnya. Sampai akhirnya dia mengangkat lukisan sebelah kiri, membuka lemari besar, dan memasukkan lukisan yang dipegangnya ke dalam. Memencet-mencet tombol di dinding sebelah kiri lemari itu, dan benda besar itupun menghilang tanpa suara dibalik dinding.
Sebuah sistem mekanik yang teramat canggih untuk sebuah pondok kayu sederhana. Dan seorang pria yang saat ini tengah makan sangat lahap, tak akan pernah mengetahui hal tersebut.
Giulietta mengambil lukisannya yang tersandar di dinding, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan memajangnya di dinding tepat di atas kepalanya. Kedua kakinya mundur berlahan-lahan sambil tetap menatap lukisannya lekat-lekat. Entah karena usulan Shou atau bukan, yang pasti saat ini ia menampakkan satu senyum indah, menikmati lukisannya yang baru berusia tiga hari.
****
“Jadi,” ucap Giulietta setelah melewati Shou, menarik salah satu kursi kayu, dan duduk tepat dihadapan pria itu. “Ingin menceritakan sesuatu?”
Shou melirik kearah Giulietta, menelan habis sepotong daging yang baru masuk ke mulut, lalu berkata heran, “maksudnya?”
“Aku hanya berpikir,” jawab Giu sembari mengambil berbagai macam sayuran dan buah-buahan, ditumpuknya di atas piring, lalu melumurinya dengan mayonase. “Apa kau ingin menceritakan sesuatu yang mungkin belum kuketahui.”
Shou menyipitkan mata, “maksudmu,” ucapnya dengan menatap Giulietta curiga. “Kau masih berpikir bahwa aku berbohong. Iya kan?!”
“Tidak,” jawab Giulietta santai, seraya memasukkan sepotong brokoli ke dalam mulut, menikmatinya berlahan, lalu menelannya. “Kau bilang tak tahu mengapa Holy Vain mengincarmu. Jadi aku tertarik mengetahui hal-hal yang belum kau ceritakan, yang mungkin bisa jadi petunjuk.”
Shou mengunyah-unyah daging yang di panggang setengah matang, “masuk akal”—katanya setelah menelan habis daging itu—“jadi, aku harus memulainya dari mana?”
“Desamu,” tegas Giu dengan tangan kanan yang memegang sebuah pisau menunjuk kearah Shou.
“Haileheea, utara kaki gunung Halicamo.” Balas Shou cepat, secepat dirinya menjejalkan—lagi—sepotong daging masuk ke dalam mulut.
Tangan Giulietta berhenti saat akan memakan sepotong kentang, melirik kearah Shou. Mengernyitkan dahi saat melihat pria itu dengan sangat kesusahan ingin memotong seonggok besar daging di piringnya. Giu meletakkan pisau, menyentuh piring pria itu dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu menariknya sedikit.
“Jaraknya empat ribu enam ratus mil dari tempat ini,” katanya menatap serius wajah Shou.
Walau belum pernah ke tempat itu, tapi dia tahu persis letaknya. Halicamo, gunung yang sama sekali tak populer di antara penjelajah, ilmuwan ataupun pendaki gunung. Bahkan hampir tak ada yang menyadari bahwa di tempat itu ada sebuah gunung, karena dikelilingi oleh bongkahan-bongkahan es abadi. Dan letaknya sangat jauh, di ujung paling selatan dunia.
“Memang. Dan kabar bagusnya, sekarang kau tahu betapa menderitanya aku selama ini.” tukas Shou kesal. Seraya menjejalkan seonggok daging yang tak berhasil di potongnya itu ke dalam mulut, tepat dihadapan Giulietta.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya, dan langsung memalingkan wajah. Mengambil pisau yang sempat ia abaikan, dan tanpa mengatakan apapun, kembali menikmati makanannya.
“Aku sedang berada di Minasona saat itu,” ucap Shou akhirnya, setelah suasana hening tercipta cukup lama. “Wajahnya tampak pusat pasi, mendatangiku dan berteriak lari, lari sejauh mungkin…”
Giulietta terdiam dengan mulut penuh sayuran yang baru saja dilahapnya, mengunyahnya anggun. Kedua matanya serius menatap Shou yang saat ini tengah merunduk, menyembunyikan kepalanya, mengingat kejadian paling kelam dalam hidupnya.
“Saat kutanya kenapa, dia mengabaikannya. Begitupun saat kutanya tentang desa, para peduduk desa, keluarga Hemastone, keluarga Usuki, dan yang lainnya. Dia hanya terus menyuruhku untuk lari, berlari sejauh mungkin ke utara,” lanjut Shou mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
“Tapi,” sambungnya seraya sebelah tangannya menyentuh pipi kiri. Sekelebat senyuman kecil menghiasi wajah pria itu, lalu menghilang. “aku membantahnya. Untuk pertama kali, aku membantah ucapannya. Dan dia memukulku, keras sekali, cukup menyakitkan jujur saja. Dan lucunya, jika dia tak melakukannya saat itu, mungkin seumur hidup aku akan berpikir dia tak kan bisa memukul apapun. Wajah bulatnya, berubah jadi sangat mengerikan, ekspresi wajah yang sama sekali belum pernah kulihat. Dan dia terus berteriak, sama sekali tak mempedulikan apa yang kukatakan.”
Giulietta menusuk sepotong tomat merah, memutar-mutarnya di piring kosong, sebelum akhirnya berkata dengan menatap makanannya yang akan ia lahap, “lalu dia kembali ke desa, memperlambat pergerakan mereka?”
“Ya…” jawab Shou ragu bercampur heran.
Giulietta meletakkan pisau dan garpunya tertidur di atas piring kosong. Menyandarkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di dada, dan; lalu menatap Shou dingin.
“Jadi,”—tukasnya akhirnya. “Kau tak benar-benar melihat desamu dihancurkan. Dan mungkin saja dia saat ini dia ditawan oleh para tentara Vain.”
“Tidak!” bentak Shou. “Dari kejauhan aku melihatnya. Aku melihat mereka meluluh lantakkan desa dengan peralatan-peralatan perang yang mereka miliki.”
“Dan lagi…” lanjut pria itu ragu seraya bola matanya melirih kearah Giulietta. Berpikir, menimbang-nimbang apakah dirinya harus menceritakan hal ini, pada seseorang yang bahkan ia tak ketahui latar belakangnya…
***
Nada mendecit lirihmengalun merdu saat Shou membuka pintu kayu yang setengah terbuka. Dan tanpa mengucapkan apapun—karena merasa telah diberi izin oleh si pemilik pondok—ia masuk ke dalam. Suasana di dalam sama seperti kali pertama dia menginjakkan kaki di tempat itu—sebelum akhirnya dipaksa keluar oleh kucing besar berwarna putih.
Langkah kakinya berlahan maju, membiarkan kedua bola matanya mengorbitkan pandangan ke tiap sudut ruangan. Tak ada yang istimewa, bahkan cenderung biasa dengan desain ruang minimalis.
Sebuah meja kaca dengan hiasan pahatan kayu memukau, berdiri tepat di pusat ruangan. Ditemani tiga buah sofa berwarna merah cerah—harimau putih itu tadinya tiduran di sofa paling panjang—yang mengililingi meja. Dan sebuah karpet sutra indah bermotif bunga-bunga dipinggirannya, dengan kombinasi warna merah, hijau, biru, kuning, menjadi alas bagi kedua perabotan rumahan itu.
Agak jauh ke kanan dari sofa merah yang hanya bisa di duduki satu orang, ada sebuah turntable berwarna putih pucat. Berdiri bersanding dengan sebuah lemari kayu berkaca gelap. Walau tak bisa melihat apa isi di dalam lemari itu, tapi Shou yakin bahwa isinya hanyalah koleksi-koleksi piringan hitam.
Di dinding tepat di sebelah kiri turntable, terpajang sebuah foto. Hanya sebuah foto berukuran empat puluh kali dua puluh lima sentimeter. Terbingkai cantik di dalam ukiran pigura kayu berwarna hitam kecokelatan.
Shou melangkahkan kakinya mendekat, lalu memandangi foto itu lekat-lekat.
Berlatar belakangkan panorama indah gunung dan pepohonan rindang, ketujuh orang di foto itu berbaris rapi dari kanan ke kiri. Dan hanya seorang yang wajahnya tak asing di mata pria itu. Wanita dengan bibir merekah mempesona, tersenyum bahagia, ekspresi wajah yang tak pernah dijumpainya sejauh ia mengenal wanita itu—tiga hari ini.
Shou melebarkan pandangannya pada enam orang lain di sekitar wanita yang dikenalnya. Umur mereka bervariasi, pria dan wanita, sepertinya jelas itu bukanlah foto kenang-kenangan teman bermain sepantaran.
Yang paling muda, seorang anak laki-laki berumur—antara tujuh atau delapan tahun—berdiri tegap dengan lengan kiri melingkar di pinggang Giulietta. Dan yang paling tua, mungkin—dia—pria hitam besar berwajah sangar lengkap dengan kumis dan jenggot tebalnya, berdiri merunduk di ujung foto paling kiri.
Pria besar itu tersenyum sangat lebar, memperlihatkan gigi-gigi yang tampak sangat kontras dengan warna kulitnya. Telapak tangan besarnya berada di atas kepala seorang pria berwajah pucat, sangat pucat—dan mungkin malah terlihat ia sedang sakit parah, dengan rambut yang memutih, serta badan kurus kering. Tetapi terpancar ekspresi kebahagiaan di antara wajah sayu pria pucat itu.
Terus ke kanan dari si pria berwajah pucat, ada seorang pria berambut gelap yang terlihat memiliki tubuh paling proposional di antara pria lainnya. Shou memandangi wajah pria itu serius, lama, cukup lama. Dan bukan karena ia terpesona dengan wajah tampan pria itu, hanya saja kedua matanya berbeda warna. Dia pernah membaca tentang hal yang seperti ini, perbedaan warna mata terjadi karena faktor keturunan atau trauma yang menyebabkan penurunan atau peningkatan pigmentasi pada salah satu iris mata. Tapi tetap saja, baru kali ini dia benar-benar melihat seseorang yang memiliki warna mata berbeda—terlepas itu hanya di foto saja.
Di samping pria gagah berbadan proposional, ada seorang perempuan berambut pirang panjang. Gaun bangsawan yang dikenakannya terlihat sangat mencolok di antara keenam orang lain di foto itu. Dengan berbagai perhiasan mewah melekat di seluruh tubuhnya, dan berada tepat di tengah-tengah barisan, jelas membuat perempuan berusia—kurang lebih lima belas tahun—itu terlihat sangat berpengaruh.
Ke kanan dari si perempuan bangsawan, ada anak laki-laki, Giulietta, dan terakhir seorang perempuan berambut biru berumur kira-kira sembilan belas tahunan berdiri di ujung paling kanan. Dan jika melihat bagaimana caranya tertawa, sepertinya jelas dia yang paling senang di antara yang lain.
Shou menghela nafas panjang, berpikir kenapa dirinya jadi sangat serius memandangi foto itu. Dia bukanlah tipe orang yang senang mencampuri kehidupan orang lain. Dan siapapun keenam orang yang ada di foto itu, dan bila salah satu prianya adalah pacar—atau mungkin suami—dari si pemilik pondok, dan; atau si anak laki-laki yang memeluk pinggang Giulietta itu adalah putra dari pemilik pondok, itu sama sekali bukan urusannya. Karena bagaimanapun ia hanya sementara tinggal di tempat ini, dan mungkin, besok dia tak akan pernah melihat wajah si pemilik pondok ini lagi.
Shou menengok ke belakang, melihat dinding kayu yang fungsinya adalah untuk menyangga anak-anak tangga yang disusun sewajarnya menuju ke lantai atas. Dan di anak tangga pertama, tepat dipojokan ruangan, terdapat vas bunga cantik yang berisi tanaman hijau yang belum pernah dilihatnya. Di ujung berlawanan pun sama, vas bunga besar yang sama persis dengan jenis tanaman—yang sepertinya sama persis.
Bibir Shou terpisah, menganga sangat lebar dengan mata terpejam, menimbulkan suara—layaknya seseorang yang menderita karena tidak bisa tidur selama berhari-hari.
“Kau bisa menggunakan kamar di lantai dua jika ingin beristirahat,”—sambut suara seorang wanita dari balik tirai berwarna merah tua. “Aku sedang membuat sesuatu untuk dimakan, kau bisa turun satu setengah jam lagi jika mau.”
Pria itu mematung dengan mulut terkatup. Dirinya merasa sangat sangat menyesal telah mengeluarkan suara menyedihkan itu, dan; apalagi terdengar olehnya, si pemilik pondok.
Seolah tak ingin berlarut-larut dalam penyesalan. Shou mengadahkan kepalanya, mengintip lantai dua dengan berjalan mundur berlahan. Menyusuri pegangan tangga kayu, dan berdiri tepat di anak tangga pertama.
“Err… ada berapa kamar di lantai atas?” tanyanya.
“Tiga,” tukas Giulietta cepat. “Kau bisa menggunakan kamar pertama di lorong saat kau berbelok ke kanan.”
Kamar pertama di lorong saat belok ke kanan, ingat Shou ragu seraya kedua kakinya melangkah menaiki anak tangga pertama, kedua, dan seterusnya. Sampai akhirnya mulutnya cukup gatal untuk terus terkatup rapat-rapat, “kau tinggal sendirian?”
“Tidak,” balas Giu. “Aku tinggal bersama banyak teman, tapi jika yang kaumaksud adalah manusia, ya, aku tinggal sendiri.”
Tentu saja yang kumaksud manusia. Manusia normal yang tinggal dengan manusia lainnya. Bukan manusia yang tinggal dengan binatang yang suatu saat—saat binatang itu lapar—akan memakanmu. Tapi Shou hanya memikirkannya, sama sekali tak punya memiliki niat untuk mengumandangkannya keras-keras.
Sesampainya di lantai atas, Shou berjalan menyisir balkon yang berada di sebelah kiri. Dan berhenti sejenak saat sampai dipersimpangan, melihat pintu—yang diyakininya adalah sebuah kamar—berada tepat di ujung balkon. Lalu menengok ke kanan, sebuah lorong yang cukup panjang yang diujungnya juga terdapat sebuah pintu. Tapi jika mengingat ucapan wanita itu, maka kamar yang dimaksud pastilah ini, kamar yang berada tepat pangkal lorong.
Dengan agak ragu Shou menggenggam knop pintu—dirinya masih mengingat trauma yang dialaminnya sebelum ini—saat seekor hewan buas tiba-tiba melirik kearahnya. Dan tidak menutup kemungkinan’kan bila ada binatang buas lain di dalam pondok ini.
Ia memutar knop itu berlahan-lahan, menempelkan sebelah matanya di celah-celah pintu. Memastikan tak ada binatang buas atau—sesuatu apapun—yang bisa membuat nyawanya terancam. Setelah cukup yakin bahwa kamar itu aman, dia membukanya lebar-lebar dan menghela napas lega.
Dua buah kasur terpisah berwarna putih menyambutnya hangat, saat masuk ke dalam kamar. Juga sebuah benda yang ia pikir tak akan pernah ditemuinya di pondok ini, televisi.
Pria itu melangkah ke kiri, membuka pintu yang berada tepat dihadapannya, dan menemukan sebuah kamar mandi yang lengkap dengan semua peralatan—untuk mandi. Berlalu, pria itu berjalan mendekati televisi, lalu mengambil remote, dipencetnya tombol-tombol remote itu tepat di depan layar televisi. Namun tak ada respon apapun, padahal ia yakin televisi ini model yang harus menggunakan remote control untuk menyalakannya. Shou menjulurkan kepala ke punggung televisi itu, dan menyeringai geli saat melihat lilitan kabel yang terhubung pada televisi itu, terikat sangat rapi.
Dengan merengangkan otot-ototnya yang membeku, Shou berjalan menuju jendela yang berada tepat di seberang pintu masuk. Membuka sebelah tirainya, dan terlihat jelas pemandangan danau berwarna kehijauan. Lalu seekor kucing yang—tak mungkin bisa dilupakannya—sedang berlari-larian bersama seekor kijang—yang mungkin lebih tepatnya memburu seekor kijang.
Dia kembali melangkah ke kiri, menggenggam salah satu pegangan pintu berwarna putih dari dua pegangan pintu yang dilihatnya. Menariknya, lalu melihat tumpukkan baju yang tersusun rapi. Diambilnya salah satu pakaian ditumpukan paling atas, membukanya lebar-lebarnya, hanya kaos putih polos dengan lambang logo hitam kecil di bagian dada sebelah kiri. Bagaimanapun ia yakin ini bukan jenis pakaian yang biasa dipakai oleh seorang wanita.
Shou melipat kembali pakaian itu seperti sebelumnya—walau mungkin hasilnya jauh dari kata rapi—dan mengedarkan padangannya ke setiap sudut kamar yang telah dijelajahinya selama lima menit. Duduk di kasur putih dekat jendela, membaringkan diri dengan melentangkan kedua tangannya lebar-lebar, dan berlahan matanya mulai terpejam.
***
Shou menutup pintu kamar, sekarang dirinya tampak lebih rapi dan bersih. Dengan rambut tebalnya yang berwarna hitam legam, ditatanya rapi kesisi samping. Baju compang-camping yang ditanggalkannya, berganti dengan kaos putih polos berlengan panjang yang dipadu dengan celana panjang jeans biru tua
Awalnya dia sama sekali tak memiliki niat untuk—dengan lancang—mengenakan pakaian seseorang yang bahkan tak dikenalnya. Namun—si pemilik pondok—lima menit lalu berkata, bahwa dia boleh memakai pakaian apapun yang ada di dalam lemari jika mau, menyuruhnya untuk membersihkan diri, dan terakhir, memintanya—dengan tidak memohon—turun menikmati makan malam.
Bagaimanapun Shou sadar bahwa dirinya telah terlelap cukup lama. Lebih dari satu setengah jam, waktu yang dibutuhkan Giulietta untuk menyiapkan makanannya.
Pria itu menginjakkan kaki di lantai dasar, melihat Giulietta yang tengah duduk bersila di lantai pojok ruangan. Tangan kirinya sedang memegang sebuah lukisan, dan ada lukisan lain yang mirip tersandar di dinding samping kanannya. Lalu sebuah almari berukuran besar di ujung kanannya lagi. Shou memandangi lemari kayu itu lekat-lekat, keheranan. Dirinya yakin tak pernah melihat benda sebesar itu sebelumnya di tempat ini, amat yakin.
“Buatan sendiri?” tanya Shou mengabaikan misteri tentang munculnya sebuah lemari.
“Begitulah,” jawab Giulietta setelah diam sejenak dan melirik kearah Shou. Mengangkat tangan kanannya, menunjukkan meja penuh makanan dengan ibu jari, lalu berujar, “kau bisa makan lebih dulu.”
Shou melirih kearah yang ditunjukkan wanita itu. Jujur saja, perutnya sudah menjerit-jerit semenjak mencium bau daging panggang begitu keluar dari kamar tadi. Dan ia mengingat momen dimana selama beberapa bulan ini dirinya telah memakan berbagai macam makanan baru, mulai dari dedaunan tak jelas jenisnya, buah-buahan berbentuk aneh, sampak dia pernah mengorek makanan sisa dari tempat yang tak selayaknya. Peduli gila dengan kata higienis dan pertanyaan apakah makanan ini layak dikonsumsi? Saat sangat sangat lapar, apapun benda yang masuk ke dalam mulut akan terasa sangat lezat, pengalaman mengajarkannya hal itu.
Bergegas pria itu menuju meja makan, melewati Giulietta yang saat ini kembali tenggelam ke dalam lukisan indah yang dibuatnya. Namun tiba-tiba Shou menghentikan langkahnya, berbalik, memperhatikan kedua lukisan itu seksama, layaknya kakek-kakek penggila barang-barang antik.
“Yang kanan lebih bagus. Walau terlihat sedikit lebih gelap, tapi kontras warnanya membuat air danau itu terlihat hidup.” Ujarnya yakin.
Giulietta menyipitkan mata, menyandarkan lukisan yang dipegangnya ke dinding. Memutar kepala, sedikit mendongakkannya keatas, dan kini sepasang bola mata indah berwarna hijau daun tajam menatap mata Shou.
“Ya… sebenarnya aku juga tak begitu mengerti soal lukisan sih…” tukas pria itu akhirnya dengan raut wajah bersalah.
Dengan membalikkan badan, Shou berjalan—dengan agak gontai—menuju meja makan. Dia tahu wanita itu pasti sedang memilih salah satu dari dua lukisannya. Dan tadinya ia hanya ingin membantu, tak lebih. Juga sebenarnya saat ini dirinya merasa bersalah karena pernah menganggapnya sebagai, wanita tak berperasaan yang hidup di hutan, dan hanya peduli dengan binatang-binatang dan pohon-pohon bodoh.
Ditariknya salah satu kursi kayu, lalu membalikkan piring keramik putih di atas meja. Dengan pisau di tangan kanan, dan garpu di tangan lainnya, mata Shou kini tengah mengincar seonggok daging lezat dari daging-daging lezat yang tersedia di meja makan.
Giulietta masih terduduk dalam diam. Memiringkan sedikit kepalanya ke kiri, menyipitkan mata, menatap lukisan yang berada dikanannya lekat-lekat. Sekelebat saja bola-bola matanya beralih kearah kiri, yang kemudian beralih kembali ke kanan, begitu seterusnya. Sampai akhirnya dia mengangkat lukisan sebelah kiri, membuka lemari besar, dan memasukkan lukisan yang dipegangnya ke dalam. Memencet-mencet tombol di dinding sebelah kiri lemari itu, dan benda besar itupun menghilang tanpa suara dibalik dinding.
Sebuah sistem mekanik yang teramat canggih untuk sebuah pondok kayu sederhana. Dan seorang pria yang saat ini tengah makan sangat lahap, tak akan pernah mengetahui hal tersebut.
Giulietta mengambil lukisannya yang tersandar di dinding, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan memajangnya di dinding tepat di atas kepalanya. Kedua kakinya mundur berlahan-lahan sambil tetap menatap lukisannya lekat-lekat. Entah karena usulan Shou atau bukan, yang pasti saat ini ia menampakkan satu senyum indah, menikmati lukisannya yang baru berusia tiga hari.
****
“Jadi,” ucap Giulietta setelah melewati Shou, menarik salah satu kursi kayu, dan duduk tepat dihadapan pria itu. “Ingin menceritakan sesuatu?”
Shou melirik kearah Giulietta, menelan habis sepotong daging yang baru masuk ke mulut, lalu berkata heran, “maksudnya?”
“Aku hanya berpikir,” jawab Giu sembari mengambil berbagai macam sayuran dan buah-buahan, ditumpuknya di atas piring, lalu melumurinya dengan mayonase. “Apa kau ingin menceritakan sesuatu yang mungkin belum kuketahui.”
Shou menyipitkan mata, “maksudmu,” ucapnya dengan menatap Giulietta curiga. “Kau masih berpikir bahwa aku berbohong. Iya kan?!”
“Tidak,” jawab Giulietta santai, seraya memasukkan sepotong brokoli ke dalam mulut, menikmatinya berlahan, lalu menelannya. “Kau bilang tak tahu mengapa Holy Vain mengincarmu. Jadi aku tertarik mengetahui hal-hal yang belum kau ceritakan, yang mungkin bisa jadi petunjuk.”
Shou mengunyah-unyah daging yang di panggang setengah matang, “masuk akal”—katanya setelah menelan habis daging itu—“jadi, aku harus memulainya dari mana?”
“Desamu,” tegas Giu dengan tangan kanan yang memegang sebuah pisau menunjuk kearah Shou.
“Haileheea, utara kaki gunung Halicamo.” Balas Shou cepat, secepat dirinya menjejalkan—lagi—sepotong daging masuk ke dalam mulut.
Tangan Giulietta berhenti saat akan memakan sepotong kentang, melirik kearah Shou. Mengernyitkan dahi saat melihat pria itu dengan sangat kesusahan ingin memotong seonggok besar daging di piringnya. Giu meletakkan pisau, menyentuh piring pria itu dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu menariknya sedikit.
“Jaraknya empat ribu enam ratus mil dari tempat ini,” katanya menatap serius wajah Shou.
Walau belum pernah ke tempat itu, tapi dia tahu persis letaknya. Halicamo, gunung yang sama sekali tak populer di antara penjelajah, ilmuwan ataupun pendaki gunung. Bahkan hampir tak ada yang menyadari bahwa di tempat itu ada sebuah gunung, karena dikelilingi oleh bongkahan-bongkahan es abadi. Dan letaknya sangat jauh, di ujung paling selatan dunia.
“Memang. Dan kabar bagusnya, sekarang kau tahu betapa menderitanya aku selama ini.” tukas Shou kesal. Seraya menjejalkan seonggok daging yang tak berhasil di potongnya itu ke dalam mulut, tepat dihadapan Giulietta.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya, dan langsung memalingkan wajah. Mengambil pisau yang sempat ia abaikan, dan tanpa mengatakan apapun, kembali menikmati makanannya.
“Aku sedang berada di Minasona saat itu,” ucap Shou akhirnya, setelah suasana hening tercipta cukup lama. “Wajahnya tampak pusat pasi, mendatangiku dan berteriak lari, lari sejauh mungkin…”
Giulietta terdiam dengan mulut penuh sayuran yang baru saja dilahapnya, mengunyahnya anggun. Kedua matanya serius menatap Shou yang saat ini tengah merunduk, menyembunyikan kepalanya, mengingat kejadian paling kelam dalam hidupnya.
“Saat kutanya kenapa, dia mengabaikannya. Begitupun saat kutanya tentang desa, para peduduk desa, keluarga Hemastone, keluarga Usuki, dan yang lainnya. Dia hanya terus menyuruhku untuk lari, berlari sejauh mungkin ke utara,” lanjut Shou mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
“Tapi,” sambungnya seraya sebelah tangannya menyentuh pipi kiri. Sekelebat senyuman kecil menghiasi wajah pria itu, lalu menghilang. “aku membantahnya. Untuk pertama kali, aku membantah ucapannya. Dan dia memukulku, keras sekali, cukup menyakitkan jujur saja. Dan lucunya, jika dia tak melakukannya saat itu, mungkin seumur hidup aku akan berpikir dia tak kan bisa memukul apapun. Wajah bulatnya, berubah jadi sangat mengerikan, ekspresi wajah yang sama sekali belum pernah kulihat. Dan dia terus berteriak, sama sekali tak mempedulikan apa yang kukatakan.”
Giulietta menusuk sepotong tomat merah, memutar-mutarnya di piring kosong, sebelum akhirnya berkata dengan menatap makanannya yang akan ia lahap, “lalu dia kembali ke desa, memperlambat pergerakan mereka?”
“Ya…” jawab Shou ragu bercampur heran.
Giulietta meletakkan pisau dan garpunya tertidur di atas piring kosong. Menyandarkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di dada, dan; lalu menatap Shou dingin.
“Jadi,”—tukasnya akhirnya. “Kau tak benar-benar melihat desamu dihancurkan. Dan mungkin saja dia saat ini dia ditawan oleh para tentara Vain.”
“Tidak!” bentak Shou. “Dari kejauhan aku melihatnya. Aku melihat mereka meluluh lantakkan desa dengan peralatan-peralatan perang yang mereka miliki.”
“Dan lagi…” lanjut pria itu ragu seraya bola matanya melirih kearah Giulietta. Berpikir, menimbang-nimbang apakah dirinya harus menceritakan hal ini, pada seseorang yang bahkan ia tak ketahui latar belakangnya…
***
Diubah oleh redxiv 24-01-2014 18:11
0
Kutip
Balas