- Beranda
- Stories from the Heart
I will marry you, but not you [based on true story]
...
TS
benedicta33
I will marry you, but not you [based on true story]
Halo Agan-agan, dan Sista-sita.
Saya mau berbagi pengalaman cerita saya selama 3 (tiga) tahun terakhir.
Karena saya newbie, jadi tolong dibantu kalau ada penulisan yang salah.
Saya tidak memberikan banyak peraturan, peraturan yang saya beri adalah
1. JANGAN SARA,
2. JANGAN KOMENTARIN PAKE KATA" KASAR.
3. TOLONG HARGAI PRIVACY SAYA SEBAGAI TS
4. KALAU BELUM DI UPDATE SABAR AJA, SAYA JUGA FOKUS SAMA RL SAYA
Saya membuat cerita per part, dan nama tokoh yang asli disamarkan, kecuali nama saya. Cerita ini mengandung 100% real (maap sedikit lebay hehehe
)
Maaf kalo ada kata" yang salah atau kurang berkenan. Saya sedang belajar menulis, saya sangat membutuhkan dan menghargai komentar kalian.
Terima kasih
Saya mau berbagi pengalaman cerita saya selama 3 (tiga) tahun terakhir.
Karena saya newbie, jadi tolong dibantu kalau ada penulisan yang salah.
Saya tidak memberikan banyak peraturan, peraturan yang saya beri adalah
1. JANGAN SARA,
2. JANGAN KOMENTARIN PAKE KATA" KASAR.
3. TOLONG HARGAI PRIVACY SAYA SEBAGAI TS
4. KALAU BELUM DI UPDATE SABAR AJA, SAYA JUGA FOKUS SAMA RL SAYA
Saya membuat cerita per part, dan nama tokoh yang asli disamarkan, kecuali nama saya. Cerita ini mengandung 100% real (maap sedikit lebay hehehe
)Maaf kalo ada kata" yang salah atau kurang berkenan. Saya sedang belajar menulis, saya sangat membutuhkan dan menghargai komentar kalian.
Terima kasih

Spoiler for Indeks:
Spoiler for New Life:
Spoiler for Why?:
Spoiler for Next Life:
Spoiler for Pergulatan Batin:
Spoiler for Panggilanku dan panggilanmu:
Spoiler for Masa Kelam:
Spoiler for Just you and me:
Diubah oleh benedicta33 12-06-2014 21:14
JabLai cOY dan anasabila memberi reputasi
2
158.7K
998
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
benedicta33
#514
Part 53
Aku tercengang dengan pernyataan Suster Raphaela. Kok dia bisa tau apa yang aku pikirkan selama ini? Apa ini jawaban yang sering aku pertanyakan?
Lalu pria itu siapa? Apakah dia itu adalah Tuhanku yang selama ini ada untukku? Aku tidak bisa menyimpulkan 100% itu adalah Dia, tapi aku mencoba belajar mengimaninya.
Malam ini adalah malam terakhirku di Lembah Karmel. Semenjak Suster Raphaela menasehatiku, aku mulai membuka hatiku untukNya. Hatiku yang selama ini terluka karena mengalami banyak kekecewaan dan kemarahan, dengan sekejap enteng begitu aja. Aku sudah mulai menikmati 'hidup bersamaNya' kembali. Aku merasa mata dan hatiku dibukakan olehNya lewat Suster Raphaela.
Ada rasa sedih juga sih sebenernya, karena besok aku harus pulang ke Bandung lagi, dan harus menghadapi kenyataan lagi. Rasanya berat sekali untuk meninggalkan Lembah Karmel ini. Kalau boleh, aku ingin hidup menjadi seorang biarawati disini
Hari ini juga hari terakhir aku berkumpul bersama peserta ret-ret. Dan malam ini ada pemerikasaan luka batin. Sebenernya aku dilema juga mau ikut 'diperiksa' apa ga. Dan aku ga mau menyia-nyiakan malam terakhirku di Lembah Karmel.
Seperti biasa, peserta berkumpul di Kapel dan duduk bersila seperti meditasi. Ada 4 orang biarawati yang akan memandukan peserta untuk bermeditasi. Awalnya aku kurang nyaman dengan yang namanya meditasi. Grasak grusuk ga karuan. Lagi mau fokus meditasi, tiba-tiba tangan aku gatel, mau lebih fokus lagi, tiba-tiba kaki kesemutan. Bener-bener ujian yang menyebalkan
Akhirnya aku bisa masuk ke dalam ketenangan yang luar biasa tenang. Sambil mengatur nafasku, aku terus menerus memanggil Tuhanku, memanggilNya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dan tiba-tiba, aku kembali ke masa laluku. Ya.. Mungkin bukan fisikku yang kembali ke masa lalu, bisa dibilang itu flash back tentang masa laluku.
Aku melihat disekelilingku gelap. Benar-benar gelap dan sempit. Sepi banget dan gak ada orang sama sekali. Aku dimana? Aku panik, aku takut dalam kegelapan. Sayup-sayup aku mendengar suara seorang pria dan wanita, kira-kira beginilah percakapannya.
Aku kaget dan langsung menangis histeris. Rasanya sakit menjadi seseorang yang tertolak. Apalagi tertolak dengan orangtua kandung. Seorang biarawati menghampiriku dan mendoakanku, aku terus menerus menangis dan berusaha melawan suster itu, tapi rasanya aku gak sanggup. Doa yang keluar dari suster itu menenangkan hatiku. Aku harus menerima kenyataan hidupku ini. Aku harus bisa mengampuni orangtua kandungku, tapi otakku belum bisa menerima sepenuhnya. Airmataku terus menerus mengalir, dan aku menyebut nama Hendri secara tiba-tiba.
*Bersambung*
Aku tercengang dengan pernyataan Suster Raphaela. Kok dia bisa tau apa yang aku pikirkan selama ini? Apa ini jawaban yang sering aku pertanyakan?
Lalu pria itu siapa? Apakah dia itu adalah Tuhanku yang selama ini ada untukku? Aku tidak bisa menyimpulkan 100% itu adalah Dia, tapi aku mencoba belajar mengimaninya.
Malam ini adalah malam terakhirku di Lembah Karmel. Semenjak Suster Raphaela menasehatiku, aku mulai membuka hatiku untukNya. Hatiku yang selama ini terluka karena mengalami banyak kekecewaan dan kemarahan, dengan sekejap enteng begitu aja. Aku sudah mulai menikmati 'hidup bersamaNya' kembali. Aku merasa mata dan hatiku dibukakan olehNya lewat Suster Raphaela.
Ada rasa sedih juga sih sebenernya, karena besok aku harus pulang ke Bandung lagi, dan harus menghadapi kenyataan lagi. Rasanya berat sekali untuk meninggalkan Lembah Karmel ini. Kalau boleh, aku ingin hidup menjadi seorang biarawati disini

Hari ini juga hari terakhir aku berkumpul bersama peserta ret-ret. Dan malam ini ada pemerikasaan luka batin. Sebenernya aku dilema juga mau ikut 'diperiksa' apa ga. Dan aku ga mau menyia-nyiakan malam terakhirku di Lembah Karmel.
Seperti biasa, peserta berkumpul di Kapel dan duduk bersila seperti meditasi. Ada 4 orang biarawati yang akan memandukan peserta untuk bermeditasi. Awalnya aku kurang nyaman dengan yang namanya meditasi. Grasak grusuk ga karuan. Lagi mau fokus meditasi, tiba-tiba tangan aku gatel, mau lebih fokus lagi, tiba-tiba kaki kesemutan. Bener-bener ujian yang menyebalkan

Akhirnya aku bisa masuk ke dalam ketenangan yang luar biasa tenang. Sambil mengatur nafasku, aku terus menerus memanggil Tuhanku, memanggilNya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dan tiba-tiba, aku kembali ke masa laluku. Ya.. Mungkin bukan fisikku yang kembali ke masa lalu, bisa dibilang itu flash back tentang masa laluku.
Aku melihat disekelilingku gelap. Benar-benar gelap dan sempit. Sepi banget dan gak ada orang sama sekali. Aku dimana? Aku panik, aku takut dalam kegelapan. Sayup-sayup aku mendengar suara seorang pria dan wanita, kira-kira beginilah percakapannya.
Quote:
Aku kaget dan langsung menangis histeris. Rasanya sakit menjadi seseorang yang tertolak. Apalagi tertolak dengan orangtua kandung. Seorang biarawati menghampiriku dan mendoakanku, aku terus menerus menangis dan berusaha melawan suster itu, tapi rasanya aku gak sanggup. Doa yang keluar dari suster itu menenangkan hatiku. Aku harus menerima kenyataan hidupku ini. Aku harus bisa mengampuni orangtua kandungku, tapi otakku belum bisa menerima sepenuhnya. Airmataku terus menerus mengalir, dan aku menyebut nama Hendri secara tiba-tiba.
*Bersambung*
0
aku tidak pernah melakukan hubungan intim dengan pria lain kecuali kamu!