Pendakian Musim Hujan Argopuro, naik Baderan turun Bremi
TS
ozzi3
Pendakian Musim Hujan Argopuro, naik Baderan turun Bremi
Bismillah...
Kali ini ane mau share catatan perjalanan ane ngesot di Gunung Argopuro, Jawa Timur dari tanggal 5 Januari - 9 januari 2014selama 5 hari 4 malam.
Namun di catper ini ane jelasin tips&trik serta skema pendakian aja, adapun cerita dan kisah perjalanan cuma dikit-dikit aja ya gan soalnya biar trit ini to the point aja ya gan sama biar ga pusing bacanya hehe..
Spoiler for Fakta Argopuro:
Fakta Argopuro:
- Argopuro terletak di provinsi Jawa Timur, masuk dalam rangkaian Pegunungan Yang dan diapit oleh kabupaten Probolinggo, Jember, dan Bondowoso
- Dari bahasa Argopuro berasal dari kata Puroyang berarti pura dan Argo yang artinya gunung, ya kira-kira kalo digabung jadi pura di atas gunung
- Konon menurut sejarah atau legenda setempat dulu dibangun suatu bangunan kerajaan untuk berdiamnya sang putri yang diasingkan, Dewi Rengganis
- Argopuro merupakan gunung dengan trek terpanjang se-pulau jawa, menurut Pak Arifin (warga Bremi yang juga pemandu) trek Baderan-Puncak-Bremi ditempuh dengan jarak 63 km, kira-kira jarak Bandung-Garut. Oleh karena itu diperlukan fisik dan persiapan yang benar-benar matang. Gunung ini tidak disarankan didaki pemula (kecuali dengan pengawasan).
- Ada 2 jalur yang umum, lewat Baderan (Bondowoso) serta Bremi (Probolinggo). Ada juga jalur lain lewat Jember namun tidak umum dan tidak disarankan, kecuali kalo tau jalurnya..
- Melewati hutan lebat, hutan lumut, jalan landai, ilalang yang tinggi, jalan curam dengan tangga akar, savana, sungai, serta danau.
- Argopuro memiliki 3 puncak: Puncak Rengganis, Puncak Arca, dan Puncak Argopuro
- Masih banyak hewan liar loh, seperti merak (banyak di Cikasur), ayam hutan, babi hutan, kijang, burung-burungan, ular, sama macan (Pak Arifin pernah nemu di jalur pendakian)
- Gunung Argopuro termasuk gunung yang jarang pendaki, kalah pamor sama gunung Semeru di sebelah baratnya. Di gunung ini sering pendaki tersesat, ane pun pernah.
- Gunung ini sangat kaya dengan air meskipun musim kemarau, selalu ada sungai ataupun mata air. Bawa air 1,5 liter perorang juga cukup kayaknya.
Langsung aja ke catpernya..
Ane start dari Bandung, pake kereta Pasundan berangkat dari Stasiun Kiara Condong jam 5:30 sampe Stasiun Gubeng jam 8-an. Harga tiket karena udah tahun baru naik dari 55rb jadi 110rb, ane bolak-balik pake kereta jadinya 220rb. Kita nyiapin logistik dari Bandung buat 1 minggu (buat amannya) hasilnya keril kita pada segede kulkas, beratnya minimal 20 kg masing-masing.
Kalo naik kereta bisa juga cari yang tujuan ke Malang, gimananya lebih baik lihat trit agan yang lain.
Begitu sampai Gubeng kita nyarter angkot 70rb ke rumah temen yang di Surabaya dulu, lalu besok siangnya pake angkot lagi buat ke terminal Bungurasih (nama lainnya Purabaya). Kalo saran saya lebih baik naik kereta malam biar datang ke Surabaya nya pagi terus minta turun di stasiun Wonokromo karena lebih deket ke terminal.
Nyampe terminal siang lanjut bis tujuan ke Banyuwangi, waktu itu bayarnya 25rb. Minta turun di alun-alun Besuki, karena udah kemaleman dan ga ada kendaraan ke Baderan (kecuali ojek) kita nginep di Mushola Polsek Besuki di seberang taman kota (taman kota sama alun-alun sebelahan), minta ke pak polisi aja baik-baik sambil nyimpen ktp.
Spoiler for Mushola Polsek Besuki:
Spoiler for Bangunan tua sebelah polsek:
Spoiler for Hari ke-1:
Paginya jam 5 subuh packing terus jalan ke jalan aspal yang di sebelah Barat polsek, di situ kita naik angkutan desa ke Baderan bayar cuma 15rb perorang. Buat perijinan cukup diurus di BKSDA, jadi begitu kita nyampe BKSDA Baderan ngurus izin dan bayar seikhlasnya, ya kira2 10rb perorang. Harga porter baik di Bremi ataupun Baderan adalah 100rb perhari, Cuma waktu itu kita ga bawa porter buat ngirit biaya, maklum masih mahasiswa hehe. Jam 10 kita langsung take off.
Spoiler for BKSDA Baderan:
Habis beli logistik tambahan di desa kayak sayur-sayuran sama ikan kita inisiatif buat pake ojek sampe ke batas hutan sama perkebunan seharga 35rb. Ternyata naik ojeknya di luar perkiraan, jalan setapak yang dipenuhi batu sama tanah berlumpur dilibas begitu saja, sempet juga turun motor buat ngedorong motor si mang ojeknya. Perut serasa dikocok bahkan dalam hati zikir sambil nyerahin nasib ke mamang ojek, lebih baik jalan aja deh..
Spoiler for Ojek gila:
Spoiler for bantuin dorong:
Ojek tiba-tiba dihentikan di tengah jalan karena mulai hujan yang akibatnya jalan licin, akhirnya kita jalan pake jas hujan sampe mata air 1. Sepanjang jalan ke mata air 1 akan disuguhkan pemandangan air terjun yang sangat tinggi di sebelah kanan jalan.
Karena hujan semakin deras jalanan menjadi sungai kecil, langkah kita terhambat sama lumpur-lumpur dan aliran air, di tengah-tengah perjalanan sempet masak dan istirahat lumayan lama. Di awal pendakian sempet ketemu pendaki lain, mereka kelihatannya seneng banget nemu pendaki lain soalnya sepanjang perjalanan ga nemu pendaki lain. Ngobrol panjang lebar akhirnya mereka pamitan turun, “Semangat ya mas, perjalanannya masih sangat jauh..”
Spoiler for nelangsa:
Spoiler for Penuh dengan lumpur:
Sepanjang perjalanan banyak ditemui tumbuhan menyengat berduri girardinia palmata atau nama lokalnya jancukan/tareptep, jangan disentuh karena menyengat. Rasanya mirip2 digigit semut api, oleh karena itu baiknya menggunakan celana panjang dan kameja lengan panjang agar terlindungi.
Spoiler for jancukan:
Jam 5 sore kita nyampe di pos mata air 1, alhamdulillah hujan udah reda bangun tenda bakal lebih gampang. Di pos ini bakal ada tanah lapang, cukup untuk 5 tenda lebih, Cuma hati-hati di kanannya langsung jurang. Ada mata air juga di sebelah kiri jalan, tinggal menuruni turunan curam sekitar 40 m bakal nemu sungai kecil. Agenda kali ini tinggal istirahat puas setelah seharian cape nerabas hujan.
Spoiler for pos mata air 1:
Spoiler for Hari ke-2:
Pagi-pagi kita bangun masak, sarapan, sama packing. Pemandangan pagi ini emang ajib banget, kumpulan kabut perlahan naik membuka tabir air terjun yang sangat tinggi di seberang gunung, ane jadi penasaran banget air terjunnya kayak apa.
Spoiler for lembah:
Spoiler for air terjun:
Jam 8 pagi kita mulai take off dari pos mata air 1, jalan dari Baderan emang jelas banget soalnya ada penunjuk “HM <angka>”, contohnya Hm 40 yang artinya kita udah 4,0 km dari gerbang hutan. Sebagai keterangan ada 2 patokan HM yang ditempel, yang pertama patokannya dari batas kebun dan hutan, terus yang kedua dari portal (ada portal yang sengaja dibuat sama perhutani). Artinya setelah lewat portal nilai HM bakal ngereset lagi dari 0 yang berarti titik awalnya dari portal tersebut. Untuk menuju Cikasur bakal naik turun bukit yang landai, begitu udah deket sama Cikasur bakal nemuin alun-alun kecil, alun-alun besar, sama beberapa savana.
Spoiler for Hm:
Spoiler for plang:
Spoiler for Portal:
Perjalanan kita tergolong santai banget, nyampe di Cikasur Maghrib, karena udah gelap kita ga bisa liat sekitar. Akhirnya coba-coba jalan kita melipir ke kanan terus ketemu shelter yang udah rubuh. Di sebelahnya kita nge-camp dan tidur buat mulihkan tenaga buat besok.
Spoiler for Hari ke-3:
Keesokan harinya cerah banget dengan matahari perlahan-lahan terbit di antara celah bukit menyinari rumput-rumput yang mengembun di savana Cikasur. Ane puas-puasin berjemur sehabis semalaman kedinginan di Cikasur (mungkin suhu dini hari sekitar 5-10 derajat) . Di Argopuro ane ngerasa cahaya matahari begitu berharga dan menghangatkan, ane jadi paham pantes aja jaman dulu ada yang nyembah api dan matahari, tapi lebih baik kita menyembah yang punya matahari dan api..
Spoiler for Matahari di sela perbukitan:
Spoiler for pagi yang ajib:
Spoiler for basecamp:
Spoiler for Sungai cikasur yang jernih:
Agenda rutin seperti biasa masak, makan, ngeringin baju. Di Cikasur banyak banget merak berterbangan dan jalan di rumput, pendaki bisa juga ngambil sayuran selada air yang tumbuh di sungai yang airnya jernih, ditumis atau disop pasti enak tuh. Beberapa ada yang orientasi medan buat nyari jalan setapak ke cisentor. Jalan ke cisentor cukup jelas dengan melipir bukit di sebelah kanan, ada banyak petunjuk tulisan HM sama tali rafia pendaki lain (sepanjang perjalanan dari Baderan ke Bremi emang selalu ditemui banyak petunjuk rafia yang ditinggalkan pendaki lain). Hati-hati jangan lurus itu ke Jember, banyak pendaki nyasar di situ. Kalo ke Jember bakal nemu kawah aktif.
Spoiler for merak dari kejauhan:
Spoiler for plang cikasur:
Mulai jalan dari Cikasur jam 9 pagi, kita nyampe Cisentor jam 1 siang. Awalnya mau nge-camp di Rawa Embik, Cuma karena kondisi tim sudah kelelahan kita nge-camp di cisentor buat puas-puasin istirahat. Cisentor merupakan pertigaan antara jalur Bremi dan Baderan buat ke puncak. Kalo ke Bremi ikuti jalan setapak di belakang gubuk. Sebelum ke Cisentor bakal lewat sungai agak besar, lumayan buat mandi bisa.
Spoiler for basecamp cisentor:
Diubah oleh ozzi3 22-01-2014 12:57
0
11.9K
Kutip
62
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Jam 4 subuh besoknya kita siap-siap buat jalan ke puncak, tenda dan logistik ditinggal di Cisentor. Yang dibawa muncak hanya pakaian tempur, senter, dompet, hp, kamera, trangia, minum, sama snack. Sepertinya tenda aman karena ga ada orang juga yang kesini.
Spoiler for siap-siap mau muncak:
Spoiler for jalan menuju puncak:
Sampei di Rawa Embik jam 6 kurang, di sini ada sungai jernih di sebelah kanan, perjalanan dilanjut lewat ke atas padang rumput menyusuri jalan setapak.
Spoiler for Padang rumput di atas rawa embik:
Kita akan sampai di suatu lembah antar 2 gunung, di lembah ini ada pertigaan:
1. Jalan ke kiri, itu jalan buat ke puncak Rengganis, jalan aja sekitar 20 menit dari sini bakal sampai di reruntuhan bangunan sama puncak Rengganis.
2. Jalan ke tengah, jalan ini disebut juga jalan trabasan langsung ke jalan menuju Taman Hidup (ga perlu lewat Cisentor lagi). Lewat jalan ini pula kita bisa ke puncak Arca lewat bebatuan terjal di sebelah kanan jalan. Dari puncak Arca bisa dilanjut ke Puncak Argopuro lewat punggungan bukit. Di antara puncak Arca dan Argopuro terdapat suatu goa dengan celah sempit. Katanya di dalemnya luas bisa menampung sampai 23 orang. Ane ga saranin masuk kecuali dibimbing sama warga setempat.
3. Jalan ke kanan, kalo jalan ini langsung ke Puncak Argopuro
Ane kali itu milih jalan ke kiri ke Rengganis, lalu turun terus lewat jalan tengah ke Arca lalu jalan lagi ke Argopuro. Dari Argopuro turun langsung ke pertigaan yang tadi lewat jalur yang di kanan kalo dari arah bawah.
Spoiler for Bukit belerang sebelum rengganis:
Spoiler for puncak rengganis:
Spoiler for Pemandangan dari Rengganis -->Puncak Arca (kiri), Puncak Argopuro (kanan):
Spoiler for Bebatuan sebelum Puncak Arca:
Spoiler for Puncak Arca:
Spoiler for Puncak Argopuro:
Spoiler for Lembah antara 2 puncak:
Tiba di Cisentor kembali jam 10, istirahat dan makan, kita mulai jalan jam 2 siang ke Taman hidup. Setelah melewati mata air Aeng Kenek jam 3 kabut mulai turun dan hujan pun menguyur dengan deras. Setelah pos Aeng Kenek kita nemu percabangan jalan ke kiri dan kanan, waktu itu kita ambil kanan karena lebih jelas dan ada penunjuk rafia. Setelah percabangan yang kita temui tadi kita menemukan lahan datar buat 2 tenda banyak bungkus-bungkus oralit berserakan terus kita ikuti jalan setapak ke bawah. Namun jalan setapak ini semakin tidak jelas ga ketemu jalan yang jelas. Kita berputar-putar cari jalan dan orientasi medan. Sepertinya kita sedikit tersesat…
Spoiler for hutan berkabut:
Menyadari waktu sudah semakin malam kita balik lagi ke jalan awal buat bikin nge-camp di lahan datar yang ada bungkus oralit tadi. Nah begitu udah nyampe ternyata ada jalan setapak yang menuju ke atas dan ada penunjuk rafia!! kita seneng banget akhirnya ga jadi nge-camp disana dan melanjutkan perjalanan. Rupanya jalan ke atas tadi tertutup rumput sama kabut sehingga kita malah milih jalan yang ke bawah. Sehabis tanjakan selesai ada lahan kosong datar buat bikin tenda, hasilnya bikin tenda lah kita disana karena kalo jalan malam2 lebih bahaya. Di tempat ini ada sinyal hp, kata Pak Arifin yang kita temui di Bremi nanti nama daerah ini Cisinyal, kocak sih namanya. Di Cisinyal ada sinyal karena tempatnya terbuka dan menghadap ke kota, biasanya pendaki yang tersesat atau dalam kondisi darurat menghubungi disini.
Spoiler for nge-camp setelah kesasar:
Spoiler for Hari ke-5:
Keesokan harinya jam 8 pagi kami berangkat dari Cisinyal menuju Danau Taman Hidup. Di tengah perjalanan akhirnya kita menjumpai jalan yang katanya langsung ke puncak, dekat dengan sungai kering. Di jalan turun akhirnya kita ketemu lagi pendaki dari Madura yang baru nge-camp di Taman Hidup, jadi kita Cuma ketemu 2 rombongan pendaki, waktu awal mau naik sama akhir mau turun sepi banget nih gunung..
Spoiler for jalan persimpangan, kiri puncak, kanan cisentor (dilihat dari jalan ke bremi):
Sebelum Taman hidup ada persimpangan lagi, kiri ke Taman Hidup sedang ke kanan langsung ke Bremi. Singgah sebentar di Taman Hidup jam 12 siang, jam 13 langsung tancap ke Bremi sambil diguyur hujan deras. Begitu mendekati desa Bremi akan melewati hutan damar dan perkebunan warga.
Spoiler for Taman hidup:
Mungkin disini jalannya membingungkan tapi jangan khawatir ambil saja jalan ke arah Barat atau ke bawah pasti bertemu dengan jalan raya yang artinya sudah sampai di desa Bremi. Akhirnya kita bisa ke kehidupan normal lagi setelah 5 hari 4 malam menjadi manusia hutan.
Spoiler for Akhirnya..:
Di desa ini kami bertemu dan dijamu di rumah Pak Arifin yang tidak begitu jauh. Beliau sangat ramah pada pendaki, kami mendengar cerita-cerita beliau yang sangat seru tentang Argopuro mulai dari legenda Dewi Rengganis yang sembarang orang ga boleh tau, kisah tentang harta karun terpendam di Argopuro, jalur-jalur rahasia, pernah ketemu macan, goa antara Arca dan Argopuro, serta sejarah sejak jaman pendudukan dulu. Beliau menawarkan untuk bermalam di rumahnya, kami pun memutuskan bermalam karena sudah tidak ada lagi angkutan ke Probolinggo (terakhir jam 16).
Spoiler for bersama pak arifin:
Kitapun pulang dengan menaiki bis ¾ seharga 15rb yang lewat depan rumah pak Arifin sampai ke terminal Bayu Angga Probolinggo, dari terminal dilanjut bis ke Surabaya seharga 20rb.
Spoiler for Rundown kegiatan di gunung:
Hari ke-1
07:45 Nyampe Baderan
10:00 Berangkat menuju Pos Mata Air 1
17:00 Datang di Pos Mata Air 1 Hari ke-2
09:00 Berangkat menuju Cikasur
18:00 Sampai di Cikasur Hari ke-3
10:00 Berangkat menuju Cisentor
13:30 Sampai di Cisentor Hari ke-4
04:00 Berangkat menuju Puncak Rengganis, Arca, Argopuro
05:30 Sampai di Rawa Embik
06:30 Sampai di Puncak Rengganis
07:30 Sampai di Puncak Arca
07:45 Sampai di Puncak Argopuro
10:00 Sampai di Cisentor lagi
14:00 Berangkat menuju Danau Taman Hidup
15:30 Nyampe di mata air Aeng Kenek
16:00 Nyasar di persimpangan
17:20 Balik lagi ke titik awal, baru ketemu jalur yang bener
17:30 Sampai di lahan datar, bangun tenda Hari ke-5
08:00 Berangkat menuju Danau Taman Hidup dan Bremi
11:50 Nyampe Taman Hidup lalu istirahat sama foto2
13:00 Berangkat menuju Bremi
16:00 Alhamdulillah nyampe juga akhirnya di Bremi
Spoiler for Rincian biaya transport efektif:
Pergi:
Transport kereta Pasundan Bdg-Sby = 110rb
Carter Angkot ke Terminal Bungurasih = 70rb
Bis Sby-Besuki = 25rb (bis amannya naik pagi atau siang)
Angkutan desa Besuki – Baderan = 15rb (malam angdes ga beroperasi)
Pulang:
Bis ¾ Bremi- Terminal Probolinggo = 15 rb (bis terakhir beroperasi jam 16)
Bis Term. Probolinggo – Sby = 20rb
Carter xenia ke Stasiun Gubeng = 70rb
Kereta Pasundan Sby-Bdg = 110rb