Kaskus

Hobby

  • Beranda
  • ...
  • Budaya
  • ★★★ Adat Dan Budaya Suku Banjar (Kalimantan Selatan) ★★★

edodoedogawaAvatar border
TS
edodoedogawa
★★★ Adat Dan Budaya Suku Banjar (Kalimantan Selatan) ★★★
⋘ Thread ini dibuat dengan tujuan untuk berbabagi dan memberikan informasi mengenai adat dan kebudayaan tentang suku Banjar yang ada di Kalimantan Selatan. ⋙


★★★ Adat Dan Budaya Suku Banjar (Kalimantan Selatan) ★★★




Spoiler for Index Link:


Quote:



Monggo untuk para sepuh yang mempunyai informasi mengenai adat dan kebudayaan suku Banjar untuk di bagi disini emoticon-Embarrassment
Postingan yg mengangkut atau memberikan info tentang kebudayaan suku banjar akan di update di page one
emoticon-I Love Kaskus (S)
Diubah oleh edodoedogawa 18-05-2014 02:30
0
213.2K
429
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Budaya
Budaya
KASKUS Official
2.5KThread1.6KAnggota
Tampilkan semua post
edodoedogawaAvatar border
TS
edodoedogawa
#44
Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut
kaskus-image


Gusti Jamhar Akbar (lahir di Alalak, Kalimantan Selatan, 7 November 1942; umur 67 tahun) adalah seniman Indonesia, khususnya dalam bidang seni bertutur, yakni Lamut[1].

Dialah seniman yang sampai sekarang setia balamut (memainkan seni lamut). Jamhar menjadi pelamutan (orang yang menyampaikan cerita lamut) sejak umur 10 tahun. Ia menekuni kesenian ini selama 54 tahun. Kepandaian balamut dia dapatkan karena sejak kecil selalu diajak bapaknya bermain lamut.

Dalam keluarga Jamhar, kesenian ini diwariskan secara turun-temurun. Dia adalah keturunan keempat. Pertama kesenian lamut dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta. Raden Ngabe belajar lamut saat menjadi utusan Kerajaan Banjar yang bertugas di Amuntai, kini ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara[1].

Masa keemasan Jamhar mulai tahun 1960-an hingga 1985-an. Saat itu, setiap kali ia memainkan lamut, penonton berdesakan. Mereka tak beranjak semalam suntuk mendengarkan kisahnya. Pada masa itu hampir setiap malam ia diundang warga untuk balamut. Undangan tak hanya di Kalsel, tetapi dia berlamut sampai ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di Kalimantan Tengah.

Pada masa itu Jamhar hanya bisa istirahat pada malam jumat. Cerita lamut yang dibawakan Jamhar bisa dimainkan bersambung selama 27 malam. Cerita dia kembangkan berdasarkan perjalanan hidupnya.

Belakangan ia hanya balamut untuk satu malam, selama sekitar lima jam. Dalam balamut, ia sisipkan pesan moral, kritik, dan saran. "Kini yang mengundang lamut sudah jarang, sebulan paling banyak tiga," tutur pelamutan yang pernah menerima honor Rp 1 juta setiap sekali main ini.

Di Banjarmasin, selain Jamhar, Gusti Nafsiah yang tinggal di Kampung Melayu juga bermain teater tutur ini. Nafsiah pernah ikut dengan Jamhar sebelum bermain sendiri.

Seni lamut bisa dikatakan bernasib malang karena kini di ambang punah. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara proses pewarisan dan regenerasi kesenian itu mandek. Seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda tak lagi tertarik memainkannya. Karena itulah, meski sudah tua, Jamhar terus memainkan lamut di Radio Republik Indonesia (RRI) Banjarmasin, setiap Jumat malam. Kegiatan ini ia jalani dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, Jamhar juga balamut di Radio Nirwana, Banjarmasin, selama enam tahun.

Jamhar mengibaratkan lamut sebagai anak tiri yang tersisihkan. Pada 1982 di Kalsel ada 112 pelamutan. Kala itu, Jamhar, yang berusia 40 tahun, termasuk pelamutan muda. Kini, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, apalagi membina munculnya pelamutan baru.

Lamut semakin meredup seiring masuknya berbagai musik modern. "Lamut makin ditinggalkan orang setelah karaoke sampai ke desa-desa. Di Banjarmasin hanya saya dan Gusti Nafsiah. Salah satu anak saya masih malu memainkannya," ucapnya. "Hanya satu-dua jam saya balamut. Warga harus tahu lamut masih ada. Kesenian ini sangat berharga bagi Kalsel," kata Jamhar yang mendapat honor siaran Rp 350.000 per bulan.

Kehidupan pribadi

Kehidupan Kai Jamhar, panggilan Gusti Jamhar Akbar, memang sederhana. Pria berbadan kurus ini tinggal di permukiman padat. Untuk sampai ke rumahnya di Gang Mujahid Aman, Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjar Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, orang harus jalan perlahan karena hanya bisa dilewati satu sepeda motor.

Di rumah kayu itu tak ada meja makan. Jamhar menerima tamu dengan duduk di lantai di ruang tamu. Maklum, kursi tamu plastik yang tersedia hanya dua. Di ruang itu terpasang foto Raden Rosmono, bapaknya, serta tiga piagam penghargaan yang diterima Jamhar. Kondisi yang kontras dengan peran besarnya dalam pelestarian kesenian tradisional Kalsel.

Lamut juga digemari warga keturunan Tionghoa di Banjarmasin. Mereka kerap minta lamut dimainkan saat hendak sembahyang di Pulau Kembang di tengah Sungai Barito di Banjarmasin.

"Mereka gemar mendengar cerita Bujang Maluwala karena ada kisah perkimpoian dengan orang China," kata Jamhar yang beristri keturunan China dan penggemar lamut juga.

*

Kebakaran menjelang akhir 2009 di Gang Mujahid Aman, Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjar Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu menghanguskan rumah dan harta benda keluarga Gusti Jamhar Akbar, maestro seni tradisional lamut. Dari sumbangan berbagai organisasi kemasyarakatan, instansi, dan dermawan, Jamhar membangun kembali rumah di tepi Sungai Barito itu, tempat ia hidup bersama istri, Ko Liang Chin, dan enam anak.

Bencana itu telah menghanguskan Pakem Lamut, kitab yang diwarisi Jamhar secara turun-temurun. Tapi dia sudah hafal isi kitab setebal 500 halaman itu, sehingga mampu menuliskannya kembali. Lelaki kelahiran Alalak pada 1942 itu menulis tiga salinannya, yang dia bagikan ke Museum Kalimantan di Banjarbaru, Sanggar Budaya Banjarmasin, dan Gusti Pansurna, anaknya selaku ahli waris lamut.

Lamut merupakan seni bertutur yang dibawakan dengan iringan musik terbang besar yang mengisahkan kehidupan Prabu Awang Selenong, raja di Palimbangan, dan para keturunannya, yakni Raja Bungsu, selanjutnya Raja Kasanmandi, Bujang Maulana, Bujang Busur, Bujang Jaya, dan Bang Bang Teja Aria. Menurut Jamhar, tokoh utama dalam cerita bertutur ini adalah Paman Lamut, lelaki berbadan pendek, gemuk, dan baik budi pekertinya, mirip punakawan dalam pewa yangan. Tokoh lain adalah Panglima Jaga Labai Buranta, Anglung, Angsina, Raja Kasanmadi, dan Raja Bungsu.

Syairnya berupa pantun, seperti: Kasanmandi gunung diguyang/kecil mulik, lamaknya sedang/rabah rimbunai, rambutnya panjang/ibu ramanya terlalu sayang//Kasanmandi yang ayu bang bang/elok rupanya, rambutnya panjang/babini balum, hanyarlah bujang/ibu ramanya terlalu sayang. Bila ditampilkan utuh, pertunjukan lamut akan berlangsung 28 hari.

Lamut ada dua jenis: lamut biasa untuk hiburan dan la mut tatamba yang disertai hundang-hundang (memanggil penghuni alam gaib) untuk pengobatan. Pertunjukan lamut tatamba dilengkapi sesajen berupa 43 jenis makanan dan buah kelapa.

Kemunculan kesenian ini berawal saat pedagang Cina pemilik kapal dagang Bintang Tse Cay mendarat di Amuntai (kini ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara) pada 1618. Raden Ngabe Jayanegara, datuk Jamhar, mendengar nya nyian lamut berbahasa Cina di kapal itu dan tertarik. Sang pedagang lantas menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu dan memberikannya kepada Raden Ngabe.

Sejak itu, Raden Ngabe suka melantunkannya. Ketika musik hadrah masuk kawasan itu, lamut pun dilantunkan dengan terbang. Lamut makin berkembang setelah masyarakat memintanya dimainkan setiap panen. Nama " lamut" konon berasal dari bahasa Arab, laamauta (tidak mati). Raden Ngabe mewariskan tradisi lamut secara turun-temurun hingga ke Jamhar.

Masa keemasan lamut terjadi pada 1960-1980-an. Pertunjukan Jamhar pasti disesaki penonton, yang betah mende ngarkannya semalam suntuk. Dulu Jamhar hanya bisa libur pada Jumat, tapi kini dia harus menunggu order yang mulai sepi. Dia menetapkan tarif Rp 1 juta untuk lamut hiburan dan Rp 1,5 juta untuk lamut tatamba. Jamhar sempat berpikir untuk pensiun dari lamut karena, menurut dia, la mut hanyalah cerita yang tak pasti kebenarannya. "Ini hanya kisah orang bahari," katanya. Tapi ia tetap tak bisa menolak permintaan orang untuk balamut.

Khaidir Rahman (Banjarmasin)



sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Gusti_Jamhar_Akbar
http://majalah.tempointeraktif.com/i...134216.id.html
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.