TS
mabdulkarim
Kumpulan cerita Karim
ini thread digunakan selain cerita random world, ini merupakan kumpulan cerita ane yang kagak perlu di jadiin thread..
denah STM Panzer
Quote:
War, new imperilism, industrial age:Hetazania Dacians
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
Quote:
Naninu
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
Quote:
STM Panzer
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
Quote:
STM Panzer x Naninu: Laknad project (masuk kategori lain di polling
)
Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
)Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
Quote:
Lain-lainnya
Jung Kosim
Jung Kosim
denah STM Panzer
Polling
0 suara
Lebih suka cerita apa?
Diubah oleh mabdulkarim 08-06-2016 18:42
0
8K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#52
Spoiler for STM Panzer: pekerjaan sambilan bagian 1:
“Aduh lapar!” teriak anak kontrakan yang bernama Kosim, Kosim kelaparan karena tidak punya uang untuk membeli makan gara-gara ini sudah akhir bulan. Tak ada kirim uang lagi dari orang tuanya sebelum awal bulan, Kosim sengsara hidupnya gara-gara hal itu dan ia tak mau meminta lagi uang karena profesi orangtuanya adalah petani miskin.
Kosim melihat kalender yang terpampang di kamarnya, di kalender baru menunjukan bahwa hari ini adalaha Sabtu,19 Oktober 900. Awal bulan masih lama dan Kosim melihat di kamarnya tidak ada makanan, hanya ada batu yang ia manfaatkan untuk mengganjal perutnya.
“Seseorang, beri aku makanan!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim yang kelaparan selama 3 hari langsung merangkak ke mejanya dan mengambil laptopnya, ia langsung membuka internet dan melihat foto sate ayam. Ia menatap foto tersebut dan berharap laparnya hilang, namun hal tersebut bukannya membuatnya kenyang tapi ia malah tambah lapar melihat foto sate ayam yang di luluri bumbu kacang.
Ia langsung menjilat-jilat layar laptop dan lidahnya langsung kena sengatan listrik laptop, Kosim menjerit-jerit kesakitan dan ia memutuskan untuk mencari cara untuk bertahan hidup sampai awal bulan November.
“Aduh sakit!” keluh Kosim, “Kalo mau minta makanan ama tetangga kagak bisa karena gue kagak punya tetangga, hanya gue yang menghuni kontrakan ini!”
“Kalo minta makanan sama yang punya kontrakana kagak bisa!” ujar Kosim dalam hatinya, “Yang punya kontrakan galak!”
“Kalo ngemis di jalanan bisa di tangkap petugas!” ujar Kosim dalam hatinya, “Lagi pula, mengemis itu nggak boleh buat orang yang masih sehat bugar seperti saya!”
“Kalo begini caranya, gue harus cari pekerjaan sambilan buat bertahan hidup!” ujar Kosim dalam hatinya, “Duit dari orang tua kagak cukup bertahan hidup di negeri Jabar yang serba beli kalo mau bertahan hidup!”
“Tapi kerja apa ya?” pikir Kosim.
“Kalo kerja jadi takmir masjid paling dapat nasi bungkus saja pas bulan Ramadan dan sekarang belum bulan puasa!” ujar Kosim dalam hatinya, “Kerja di warung mpok Edah paling gajinya nggak gede!”
“Cari kerja ahh di luar!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim langsung berusaha berdiri dan ia mematikan laptopnya, ia memakan batu kecil yang ada di kamarnya untuk mengganjal perutnya. Kosim keluar dari kontrakannya dan mengunci kontrakannya dengan kunci yang ia punya, ia memutuskan berjalan-jalan di wilayah ini, ia tak tahu harus mencari kerja di mana dan yang ia pikirkan hanya satu; mendapatkan uang halal.
Kosim berjalan di depan Warnet dan ia terfikir sesuatu, “Ehm, gue kan bisa main laptop dan jago dalam bidang internet!”
“Mungkin kalo gue kerja sambilan jadi penjaga Warnet di terima kali!” pikir Kosim, “Kayaknya enak kerja jadi penjaga Warnet, tinggal duduk dan mengawasi orang yang bermain internet di Warnet!”
Kosim langsung pergi masuk ke dalam Warnet dan terkejut melihat temannya, Panjul ada di situ.
Panjul yang duduk di kursi penjaga Warnet, ia menoleh ke pintu masuk Warnet dan terkejut melihat teman sekelasnya ada di Warnet tempat ia berkerja.
“Eh Kosim” sapa Panjul, “Ngapain di sini?”
“Cari kerja jul!” jawab Kosim.
“Oh…” ujar Panjul, “Cari kerja susah sim di Jabar!”
“Gue tahu soal itu jul!” ujar Kosim.
“Sim, temen-temen kita banyak kerja sambilan selain menjadi murid STM Panzer kayak Made dan Parja yang jadi dukun gadungan, Mahesa dan Shaka yang kerja di bengkel motor di daerah Pasar Minggu dan lain-lain!” kata Panjul.
“Teman-teman kita banyak kerja sambilan buat nambah penghasilan dan pengalaman agar siap ke dunia kerja termasuk dukun gadungan!” ujar Panjul, “Tunggu, dukun gadungan bisa masuk kerjaan ya?”
“Mungkin!” jawab Kosim, “Tergantung definisi Pekerjaan yang lo pake apa, kalo kegiatan untuk mendapatkan uang mungkin dukun gadungan bisa masuk dalam pekerjaan walaupun aneh!”
“Bisa jelasin gak kayak gimana kerjaan teman-teman kita?” tanya Kosim kepada Panjul, “Gue kagak tahu soal pekerjaan teman-teman kita!”
“Oke tapi lo bisa duduk dulu biar enak!” ujar Panjul, Panjul mempersilahkan Kosim untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Kosim langsung duduk di kursi tersebut, ia melihat Histori internet Panjul kosong setelah ia datang dan ia berfikir sesuatu, “Ehm, pasti nih orang habis buka situs dewasa jadinya di hapus history internetnya!”
“Oke Panjul, bisa jelasin kerjaan teman-teman kita gimana?” tanya Kosim kepada Panjul, “Gue ingin tahu karena kagak tahu kalo teman-teman gue punya kerjaan sambilan selain jadi pelajar!”
“Oke, akan gue jelaskan mulai dari Made dan Parja!” ujar Panjul.
Panjul memberikan piring yang berisi banyak gorengan dan menawarkannya kepada Kosim, Kosim langsung mengambil semua gorengan dan memasukannya ke dalam mulutnya. Panjul terperangah melihat Kosim yang sangat rakus memakan gorengan, Kosim menghabiskan semua gorengan di piring tersebut
Kosim melihat Panjul terperangah melihatnya makan goreng secara berlebihan, Kosim berkata kepada Panjul untuk memberikan penjelasan kenapa ia makan rakus, “Panjul, gue rakus gara-gara dari kemarin nggak makan dan hanya bisa makan batu buat mengganjal perut!”
“Kasihan amat nasib lo!” ujar Panjul.
“Ya, inilah nasib perantau kalo uangnya habis!” keluh Kosim.
“Makanya, sering-sering tinggal di rumah temen kalo duitnya habis!” ujar Panjul sambil menggaruk punggungnya, “Made saja yang perantau dari daerah Bali saja pakai taktik itu dan sudah banyak rumah temannya yang ia pernah singgahi termasuk gue!”
“Oh, tapi kayaknya nggak enak sama yang punya rumah kalo pakai taktik itu!” ujar Kosim, “Panjul, jelaskan pekerjaan Made dan Parja yang gue nggak tahu!”
“Oke, si Made dan Parja itu dukun yang ngusir setan-setan!” ujar Panjul, “Sebagian anak STM Panzer tahu mereka kerja begitu dan aslinya mereka bukan dukun ngusir tekan tapi dukun beranak!”
“Apa!” kejut Kosim, “Mana bisa dukun beranak kerja jadi dukun ngusir setan?”
“Itu yang gue bingung Kosim!” ujar Panjul, “Mana bisa dukun yang harusnya di tempat orang melahirkan kerjanya ngusir setan!”
“Oh, mereka udah berapa lagi dapat misi ngusir setan?” tanya Kosim kepada Panjul.
“Baru satu!” jawab Panjul, “Sim, mau nggak denger cerita mereka pas ngejalanin misi pertama mereka?”
“Sim, mereka dapat kerjaan ngusir setan setelah berkali-kali buat iklan di Koran dan mereka langsung terima tuh kerjaan!” ujar Panjul, “Pekerjaan pertama mereka adalah mengusir setan di SMK 2 Jabar, Mereka di suruh Kepsek SMK 2 buat ngusir setan-setan di sekolah tuh, tuh sekolah angker gara-gara pernah ada kasus bangku kosong dan kasus pembunuhan guru olahraga!”
“Eh, kok bisa ya dua kasus itu bikin sekolah angker?” tanya Kosim kepada Parja, “STM Panzer saja yang pernah ada terjadi pertempuran berkali-kali lawan Bhayangkara saja yang menewaskan ratusan orang sampai sekarang nggak angker-angker!”
“Eh sim, lo lupa ya kalo kita ngelawan Bhayangkara di jalanan dan bukan di dalam sekolah!” jawab Panjul, “Lo kagak tahu ya jalanan di depan sekolah kita angker gara-gara hal itu!”
“Oh ya baru ingat!” ucap Kosim sambil tersipu malu, “Lanjut jul ceritanya!”
“Made dan Parja pergi ke sana pada tanggal 17 Oktober ketika malam jumat, mereka di janjikan oleh pihak sekolah SMK 2 uang Rp 7.000.000 jika mereka mampu membuat SMK 2 tidak angker lagi!” ujar Panjul, “Made dan Parja pergi ke sana dengan membawa peralatan tempur seperti parang, keris, balok, dan botol. Mereka pergi ke sana dan mereka tahu bahwa mereka tak punya kekuatan supranatural tapi mereka yakin bisa mengusir setan dari SMK 2!”
“Woi, kenapa pergi lawan setan bawa senjata-senjata? Emang mereka mau tawuran sama setan?” tanya Kosim kepada Panjul.
“Entahlah dan gue juga bingung kenapa bawa senjata buat lawan setan!” jawab Panjul.
“Oh, lanjut jul ceritanya!” ucap Kosim.
“Oke, Made dan Parja berjalan di lorong lantai 1, mereka menemukan anak kecil di sekolah padahal waktu itu tidak orang lagi selain mereka berdua!” ujar Panjul, “Made langsung memegang tangan kanan anak kecil tersebut, anak kecil tersebut hanya tersenyum sendiri dan mereka bingung kenapa anak kecil tersebut tersenyum-senyum sendiri!”
“Mereka bertanya kepada anak kecil tersebut namun anak kecil tersebut tidak menjawab, mereka langsung menoleh ke belakang dan melihat ada orang yang besar berdiri tegak di belakang mereka!” ujar Panjul, “Mereka terkejut dan mengeluarkan senjata mereka namun orang tersebut hilang, anak kecil tersebut juga hilang!”
“Mereka ketakutan dan mereka tetap melanjutkan patroli mereka, mereka harus menghabisi semua setan pada malam itu demi mendapatkan 7 juta rupiah!” ujar Panjul, “Mereka sampai di kelas yang di mana katanya ada bangku kosong, mereka menemukan bangku kosong yang di bilang ada penunggunya ada di pojok kanan belakang kelas!”
“Mereka langsung membawa bangku rusak tersebut ke halaman sekolah, mereka langsung membakar bangku tersebut karena beranggapan bahwa jika bangku tersebut hilang maka kejadian di SMK 2 akan segera hilang!” ujar Panjul, “Setelah mereka membakar bangku tersebut, mereka langsung berpatroli lagi dan mereka menemukan bayangan putih yang berjalan jauh di depan mereka!”
“Mereka mengikuti bayangan tersebut dan mereka mengikuti bayangan sampai di dekat pintu toilet laki-laki lantai 1!” ujar Panjul, “Mereka langsung masuk ke dalam toilet dan melihat ada tetes darah yang berserakan toilet, mereka mengikuti jejak darah tersebut dan membuka pintu toilet!”
“Mereka melihat tidak ada orang di dalam toilet, mereka langsung menoleh ke belakang dan melihat ada orang berbadan besar, orang tersebut merupakan orang yang tadi mereka lihat dan hidungnya mengeluarkan banyak darah!” ujar Panjul, “Made dan Parja terkejut, mereka berdua langsung berlari keluar dari tempat tersebut dan mereka berlari sangat kencang sampai gerbang SMK 2. Made melihat celana Parja basah dan Made menyindir Parja yang kencing di celana!”
“Parja mengelak dan ia berkata bahwa itu gara-gara air minumnya terjatuh ke celana saat berpatroli!” ujar Panjul, “Misi mengusir setan gagal meskipun 1/2 kejadian supranatural di SMK 2 hilang, Kepsek SMK 2 membayar Rp 3.500.000 kepada mereka karena mereka berhasil menghilangkan 1/2 kejadian mistis!”
“Panjul, dari mana kau dapat cerita itu?” tanya Kosim kepada Panjul.
“Gue di kasih tahu Made pas hari jumat ketika nongkrong di lampu merah!” jawab Panjul.
“Panjul, kenapa kau tidak kerja!” teriak pemilik Warnet yang mendadak muncul di depan hadapan mereka.
Panjul terkejut dan ia berkata dengan terbata-bata, “Eh…ma..maaf pak, saya akan lanjutkan kerja saya!”
“Oke, kembali berkerja atau uang gajinya saya potong!” perintah pemilik warnet.
“Oke pak!” ujar Panjul, Panjul kembali mengontrol komputer-komputer Warnet lewat komputernya dan Kosim keluar dari Warnet karena takut mengganggu pekerjaan temannya.
Kosim berjalan tak menentu di trotoar, ia melihat kemacetan di jalan raya dan ia tak tahu harus kemana. Perutnya yang sudah terisi gorengan sudah cukup membuatnya senang tapi ia khawatir dengan hari esok, hari esok belum tentu ia bisa mendapatkan gorengan ataupun makanan gratis. Kosim terus berjalan dan ia melihat ada pedepokan Bhayangkara Jabar di perempatan jalan raya, ia terfikir sesuatu, “Ehm, ke sana ah! Siapa tahu ada kerjaan kayak ngepal.”
Kosim masuk ke dalam gerbang halaman pedepokan Bhayangkara, ia menyapa pejaga yang berdiri tegak di posnya, “Selamat siang pak!”
Bhayangkara berjanggut pendek tersebut menjawab, “Woi, udah siang tahu!”
“Oh maaf pak!” ujar Kosim yang tersipu malu. Bhayangkara tersebut memegang senapan SS1 dan memakai kain jirak sebagai ornament celana panjang bermotif batik yang ia kenakan, ia juga memakai seragam berwarna hijau dengan adanya gelang dada di dadanya. Ada juga gelang lengan perak di kedua lengannya, memakai sabuk lebar dan terpasang keris di sabuk tersebut. Ia memakai mahkota kepala perak dan seragam Bhayangkara Jabar tersebut merupakan seragam yang mengikuti seragam Bhayangkara negara pusat, mereka baru mengikuti seragam negara pusat pada awal tahun 900 dan Majapahit sudah memakai jenis seragam tersebut sejak tahun 840. Bhayangkara Jabar sudah tidak telanjang dada lagi seperti dulu dan Kosim punya dalam hatinya, kenapa Bhayangkara Jabar baru mengikut pakaian Bhayangkara Majapahit setelah menjadi vasal Majapahit hampir 30 tahun?
Kosim berjalan ke pintu gerbang gedung Bhayangkara Jabar, Kosim masuk ke dalam gedung tersebut dan ia pergi ke tempat Resepsionis berada. Ia teringat ketika ia pergi ke tempat ini untuk minta izin kepada Bhayangkara untuk demo masak dan kejadian tersebut terjadi ketika satu tahun yang lalu, ia ingat bahwa gedung Bhayangkara ini berdiri di atas gedung Bhayangkara yang hancur setahun yang lalu akibat kerusuhan penjara.
Ia sampai di tempat Resepsionis berada, ada satu orang yang berjaga di sana dan orang tersebut sedang memegang kendali komputernya. Kosim menyapa orang tersebut, “Selamat siang pak!”
Resepsionis itu langsung menoleh ke arah Kosim dan menjawab, “Siang!”
“Eh pak, ada kagak kerjaan di nih pedepokan?” tanya Kosim kepada resepsionis tersebut.
“Kagak tahu, tanya saja sama Senopati Jaka!” jawab Resepsionis tersebut.
“Senopati Jaka? Oke, ruangannya?” tanya Kosim.
“Lurus saja dan entar ada tulisan ruangan Senopati!” jawab Resepsionis.
“Makasih!” ujar Kosim sambil tersenyum.
Resepsionis tersebut tersenyum dan Kosim mengikuti apa yang di katakan orang tersebut, Kosim berjalan lurus dan ia melihat dari kaca ada banyak Bhayangkara yang sedang berenang kolam renang di dalam gedung ini. Kolam renang Bhayangkara tidak seperti kolam renang umumnya, kolam renang dengan gaya khas Majapahit dan kolam renang tersebut hanya di gunakan untuk renang Bhayangkara saja. Kolam renang tersebut bisa juga buat mandi karena ada tempat mandi di pinggir kolam renang tersebut, kolam renang tersebut ke dalamannya 1.5 m dan Kosim hanya mengeleng-geleng kepala sambil tersenyum ketika melihat puluhan Bhayangkara berenang di kolam tersebut.
Kosim sampai di depan pintu ruang Senopati Jaka, Kosim mengetuk pintu dan berkata, “Permisi, bisakah saya bertemu dengan Senopati Jaka?
“Masuk saja!” jawab seseorang dari dalam ruangan.
Kosim membuka pintu dan melihat seseorang yang berpakain jas hitam dengan kumis tipis yang tampan duduk di atas tikar, orang tersebut sedang bermain GTA 5 dan hal itu membuat Kosim terkejut. Kosim sangat terkejut melihat seorang Senopati Bhayangkara yang harusnya menegakkan keadilan bermain menjadi penjahat di dalam game yang sedang di mainkan orang tersebut.
“Kau itu kosim kan?” tanya Senopati tersebut kepada Kosim.
“Ya Senopati Jaka, kita ketemu lagi!” jawab Kosim, “Gimana kabarnya?”
“Baik sim!” jawab Jaka sambil memegang joystiknya, ia tidak menoleh ke arah Kosim dan fokus ke monitor TVnya.
“Senopati, bolehkah saya duduk di samping anda?” tanya Kosim kepada Jaka.
“Boleh saja tapi jangan ganggu gue!” jawab Senopati yang berusia 24 tahun tersebut, “Gue lagi konsentrasi bermain game nih, misi kali ini susah!”
“Iya-iya.”
Kosim langsung duduk di sebelah kanan Senopati jomblo tersebut, Senopati Jaka memakai jas hitam dan itu yang membedakannya dengan Senopati-Senopati Bhayangkara lain.
“Senopati, ada tidak pekerjaan di pedepokan ini?” tanya Kosim kepada Senopati tersebut, “Apa saja boleh pekerjaannya!”
“Ehm, ada sih tapi mau kagak lo jadi tukang cuci pakaian Bhayangkara?” tanya Senopati yang tetap fokus menatap layar TV LCDnya, “Mesin cuci kami rusak dan banyak pakaian Bhayangkara yang belum di cuci!”
“Entar gue bayar lo Rp 100.000 satu kali nyuci!” ujar Senopati yang tetap fokus ke layar LCD TV nya, “Oh ya, lo mau kagak nyuci baju gue? Di rumah gue banyak banget baju dan celana yang belum ke cuci gara-gara mesin cuci rusak! Entar gue kasih Rp 150.000 tiap kali nyuci!”
“Sekalian juga menyetrik baju juga ya kalo lo mau nerima dua pekerjaan yang gue tawarkan ke lo!” ujar Senopati tersebut, “Kalo lo nerima, lo mesti datang tiap sore hari ke Pedepokan dan lo mesti nyuci baju-baju unit Bhayangkara beserta baju gue, gue tawiran Rp 250.000 kalo mau nerima kedua tuh pekerjaan!”
Kosim berfikir dan Senopati tersebut tetap fokus bermain game Xboksnya, Kosim berfikir apakah ia harus menerima atau tidak, “Ehm, kalo gue terima bisa-bisa dalam 4 hari gue bisa dapat 1 juta tapi efek sampingnya gue bisa kelelahan tiap hari!”
“Selain itu, efek sampingnya gue bisa kurang fokus ke pelajaran!” pikir Kosim, “Sekarang, gue sudah jadi murid terbaik di sekolah gara-gara nilai gue banyak yang bagus!”
“Gue harus tentukan sekarang apakah gue harus terima tuh pekerjaan apa tidak!”
Akhirnya Kosim telah memutuskan, ia langsung memberi tahu Senopati apa yang ia telah putuskan, “Senopati, saya terima pekerjaan nyuci baju para Bhayangkara dan nyuci baju anda!”
Senopati langsung menghentikan permainan game, ia langsung menaruh joystick ke tikar dan ia langsung menoleh ke arah Kosim lalu ia berkata dengan ekspersi terkejut, “Eh serius?”
“Ya, saya serius!” jawab Kosim.
“Total Bhayangkara di pedepokan ini ada sekitar 892 orang!” ujar Senopati, “Baju-baju mereka itu ada sekitar 2.676, itu belum termasuk celana dan celana dalam mereka! Emang lo kuat nyuci baju sebanyak itu?”
“Kuat aku!” jawab Kosim.
Senopati menghela nafas dan berkata, “Baik, lo nyuci baju dan setrika baju pas sore ini!”
“Uangnya entar gue kasih kalo lo udah selesai!” ujar Senopati.
“Sekarang juga boleh nyuci dan setrik baju!” ujar Kosim.
“Yakin?” tanya Senopati, Senopati ingin memastikan apakah Kosim yakin dalam pekerjaan yang sangat berat ini bagi satu orang.
“Ya, saya yakin!” jawab Kosim dengan penuh semangat, “Saya bisa menyelesaikan semuanya kalo anda mau bayar Rp 250.000 pertiap kali nyuci!”
“Baik, kau boleh nyuci baju dan lo sekarang gue akan antar ke tempat yang bisa lo gunakan buat nyuci baju!”
Senopati langsung berdiri dan ia berkata kepada Kosim, “Ikuti aku!”
Kosim ikut berdiri dan Senopati bersama Kosim keluar dari ruangnan ini, Senopati akan mengantar Kosim ke tempat yang bisa di gunakan untuk mencuci baju.
Bersambung..
Kosim melihat kalender yang terpampang di kamarnya, di kalender baru menunjukan bahwa hari ini adalaha Sabtu,19 Oktober 900. Awal bulan masih lama dan Kosim melihat di kamarnya tidak ada makanan, hanya ada batu yang ia manfaatkan untuk mengganjal perutnya.
“Seseorang, beri aku makanan!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim yang kelaparan selama 3 hari langsung merangkak ke mejanya dan mengambil laptopnya, ia langsung membuka internet dan melihat foto sate ayam. Ia menatap foto tersebut dan berharap laparnya hilang, namun hal tersebut bukannya membuatnya kenyang tapi ia malah tambah lapar melihat foto sate ayam yang di luluri bumbu kacang.
Ia langsung menjilat-jilat layar laptop dan lidahnya langsung kena sengatan listrik laptop, Kosim menjerit-jerit kesakitan dan ia memutuskan untuk mencari cara untuk bertahan hidup sampai awal bulan November.
“Aduh sakit!” keluh Kosim, “Kalo mau minta makanan ama tetangga kagak bisa karena gue kagak punya tetangga, hanya gue yang menghuni kontrakan ini!”
“Kalo minta makanan sama yang punya kontrakana kagak bisa!” ujar Kosim dalam hatinya, “Yang punya kontrakan galak!”
“Kalo ngemis di jalanan bisa di tangkap petugas!” ujar Kosim dalam hatinya, “Lagi pula, mengemis itu nggak boleh buat orang yang masih sehat bugar seperti saya!”
“Kalo begini caranya, gue harus cari pekerjaan sambilan buat bertahan hidup!” ujar Kosim dalam hatinya, “Duit dari orang tua kagak cukup bertahan hidup di negeri Jabar yang serba beli kalo mau bertahan hidup!”
“Tapi kerja apa ya?” pikir Kosim.
“Kalo kerja jadi takmir masjid paling dapat nasi bungkus saja pas bulan Ramadan dan sekarang belum bulan puasa!” ujar Kosim dalam hatinya, “Kerja di warung mpok Edah paling gajinya nggak gede!”
“Cari kerja ahh di luar!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim langsung berusaha berdiri dan ia mematikan laptopnya, ia memakan batu kecil yang ada di kamarnya untuk mengganjal perutnya. Kosim keluar dari kontrakannya dan mengunci kontrakannya dengan kunci yang ia punya, ia memutuskan berjalan-jalan di wilayah ini, ia tak tahu harus mencari kerja di mana dan yang ia pikirkan hanya satu; mendapatkan uang halal.
Kosim berjalan di depan Warnet dan ia terfikir sesuatu, “Ehm, gue kan bisa main laptop dan jago dalam bidang internet!”
“Mungkin kalo gue kerja sambilan jadi penjaga Warnet di terima kali!” pikir Kosim, “Kayaknya enak kerja jadi penjaga Warnet, tinggal duduk dan mengawasi orang yang bermain internet di Warnet!”
Kosim langsung pergi masuk ke dalam Warnet dan terkejut melihat temannya, Panjul ada di situ.
Panjul yang duduk di kursi penjaga Warnet, ia menoleh ke pintu masuk Warnet dan terkejut melihat teman sekelasnya ada di Warnet tempat ia berkerja.
“Eh Kosim” sapa Panjul, “Ngapain di sini?”
“Cari kerja jul!” jawab Kosim.
“Oh…” ujar Panjul, “Cari kerja susah sim di Jabar!”
“Gue tahu soal itu jul!” ujar Kosim.
“Sim, temen-temen kita banyak kerja sambilan selain menjadi murid STM Panzer kayak Made dan Parja yang jadi dukun gadungan, Mahesa dan Shaka yang kerja di bengkel motor di daerah Pasar Minggu dan lain-lain!” kata Panjul.
“Teman-teman kita banyak kerja sambilan buat nambah penghasilan dan pengalaman agar siap ke dunia kerja termasuk dukun gadungan!” ujar Panjul, “Tunggu, dukun gadungan bisa masuk kerjaan ya?”
“Mungkin!” jawab Kosim, “Tergantung definisi Pekerjaan yang lo pake apa, kalo kegiatan untuk mendapatkan uang mungkin dukun gadungan bisa masuk dalam pekerjaan walaupun aneh!”
“Bisa jelasin gak kayak gimana kerjaan teman-teman kita?” tanya Kosim kepada Panjul, “Gue kagak tahu soal pekerjaan teman-teman kita!”
“Oke tapi lo bisa duduk dulu biar enak!” ujar Panjul, Panjul mempersilahkan Kosim untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Kosim langsung duduk di kursi tersebut, ia melihat Histori internet Panjul kosong setelah ia datang dan ia berfikir sesuatu, “Ehm, pasti nih orang habis buka situs dewasa jadinya di hapus history internetnya!”
“Oke Panjul, bisa jelasin kerjaan teman-teman kita gimana?” tanya Kosim kepada Panjul, “Gue ingin tahu karena kagak tahu kalo teman-teman gue punya kerjaan sambilan selain jadi pelajar!”
“Oke, akan gue jelaskan mulai dari Made dan Parja!” ujar Panjul.
Panjul memberikan piring yang berisi banyak gorengan dan menawarkannya kepada Kosim, Kosim langsung mengambil semua gorengan dan memasukannya ke dalam mulutnya. Panjul terperangah melihat Kosim yang sangat rakus memakan gorengan, Kosim menghabiskan semua gorengan di piring tersebut
Kosim melihat Panjul terperangah melihatnya makan goreng secara berlebihan, Kosim berkata kepada Panjul untuk memberikan penjelasan kenapa ia makan rakus, “Panjul, gue rakus gara-gara dari kemarin nggak makan dan hanya bisa makan batu buat mengganjal perut!”
“Kasihan amat nasib lo!” ujar Panjul.
“Ya, inilah nasib perantau kalo uangnya habis!” keluh Kosim.
“Makanya, sering-sering tinggal di rumah temen kalo duitnya habis!” ujar Panjul sambil menggaruk punggungnya, “Made saja yang perantau dari daerah Bali saja pakai taktik itu dan sudah banyak rumah temannya yang ia pernah singgahi termasuk gue!”
“Oh, tapi kayaknya nggak enak sama yang punya rumah kalo pakai taktik itu!” ujar Kosim, “Panjul, jelaskan pekerjaan Made dan Parja yang gue nggak tahu!”
“Oke, si Made dan Parja itu dukun yang ngusir setan-setan!” ujar Panjul, “Sebagian anak STM Panzer tahu mereka kerja begitu dan aslinya mereka bukan dukun ngusir tekan tapi dukun beranak!”
“Apa!” kejut Kosim, “Mana bisa dukun beranak kerja jadi dukun ngusir setan?”
“Itu yang gue bingung Kosim!” ujar Panjul, “Mana bisa dukun yang harusnya di tempat orang melahirkan kerjanya ngusir setan!”
“Oh, mereka udah berapa lagi dapat misi ngusir setan?” tanya Kosim kepada Panjul.
“Baru satu!” jawab Panjul, “Sim, mau nggak denger cerita mereka pas ngejalanin misi pertama mereka?”
“Sim, mereka dapat kerjaan ngusir setan setelah berkali-kali buat iklan di Koran dan mereka langsung terima tuh kerjaan!” ujar Panjul, “Pekerjaan pertama mereka adalah mengusir setan di SMK 2 Jabar, Mereka di suruh Kepsek SMK 2 buat ngusir setan-setan di sekolah tuh, tuh sekolah angker gara-gara pernah ada kasus bangku kosong dan kasus pembunuhan guru olahraga!”
“Eh, kok bisa ya dua kasus itu bikin sekolah angker?” tanya Kosim kepada Parja, “STM Panzer saja yang pernah ada terjadi pertempuran berkali-kali lawan Bhayangkara saja yang menewaskan ratusan orang sampai sekarang nggak angker-angker!”
“Eh sim, lo lupa ya kalo kita ngelawan Bhayangkara di jalanan dan bukan di dalam sekolah!” jawab Panjul, “Lo kagak tahu ya jalanan di depan sekolah kita angker gara-gara hal itu!”
“Oh ya baru ingat!” ucap Kosim sambil tersipu malu, “Lanjut jul ceritanya!”
“Made dan Parja pergi ke sana pada tanggal 17 Oktober ketika malam jumat, mereka di janjikan oleh pihak sekolah SMK 2 uang Rp 7.000.000 jika mereka mampu membuat SMK 2 tidak angker lagi!” ujar Panjul, “Made dan Parja pergi ke sana dengan membawa peralatan tempur seperti parang, keris, balok, dan botol. Mereka pergi ke sana dan mereka tahu bahwa mereka tak punya kekuatan supranatural tapi mereka yakin bisa mengusir setan dari SMK 2!”
“Woi, kenapa pergi lawan setan bawa senjata-senjata? Emang mereka mau tawuran sama setan?” tanya Kosim kepada Panjul.
“Entahlah dan gue juga bingung kenapa bawa senjata buat lawan setan!” jawab Panjul.
“Oh, lanjut jul ceritanya!” ucap Kosim.
“Oke, Made dan Parja berjalan di lorong lantai 1, mereka menemukan anak kecil di sekolah padahal waktu itu tidak orang lagi selain mereka berdua!” ujar Panjul, “Made langsung memegang tangan kanan anak kecil tersebut, anak kecil tersebut hanya tersenyum sendiri dan mereka bingung kenapa anak kecil tersebut tersenyum-senyum sendiri!”
“Mereka bertanya kepada anak kecil tersebut namun anak kecil tersebut tidak menjawab, mereka langsung menoleh ke belakang dan melihat ada orang yang besar berdiri tegak di belakang mereka!” ujar Panjul, “Mereka terkejut dan mengeluarkan senjata mereka namun orang tersebut hilang, anak kecil tersebut juga hilang!”
“Mereka ketakutan dan mereka tetap melanjutkan patroli mereka, mereka harus menghabisi semua setan pada malam itu demi mendapatkan 7 juta rupiah!” ujar Panjul, “Mereka sampai di kelas yang di mana katanya ada bangku kosong, mereka menemukan bangku kosong yang di bilang ada penunggunya ada di pojok kanan belakang kelas!”
“Mereka langsung membawa bangku rusak tersebut ke halaman sekolah, mereka langsung membakar bangku tersebut karena beranggapan bahwa jika bangku tersebut hilang maka kejadian di SMK 2 akan segera hilang!” ujar Panjul, “Setelah mereka membakar bangku tersebut, mereka langsung berpatroli lagi dan mereka menemukan bayangan putih yang berjalan jauh di depan mereka!”
“Mereka mengikuti bayangan tersebut dan mereka mengikuti bayangan sampai di dekat pintu toilet laki-laki lantai 1!” ujar Panjul, “Mereka langsung masuk ke dalam toilet dan melihat ada tetes darah yang berserakan toilet, mereka mengikuti jejak darah tersebut dan membuka pintu toilet!”
“Mereka melihat tidak ada orang di dalam toilet, mereka langsung menoleh ke belakang dan melihat ada orang berbadan besar, orang tersebut merupakan orang yang tadi mereka lihat dan hidungnya mengeluarkan banyak darah!” ujar Panjul, “Made dan Parja terkejut, mereka berdua langsung berlari keluar dari tempat tersebut dan mereka berlari sangat kencang sampai gerbang SMK 2. Made melihat celana Parja basah dan Made menyindir Parja yang kencing di celana!”
“Parja mengelak dan ia berkata bahwa itu gara-gara air minumnya terjatuh ke celana saat berpatroli!” ujar Panjul, “Misi mengusir setan gagal meskipun 1/2 kejadian supranatural di SMK 2 hilang, Kepsek SMK 2 membayar Rp 3.500.000 kepada mereka karena mereka berhasil menghilangkan 1/2 kejadian mistis!”
“Panjul, dari mana kau dapat cerita itu?” tanya Kosim kepada Panjul.
“Gue di kasih tahu Made pas hari jumat ketika nongkrong di lampu merah!” jawab Panjul.
“Panjul, kenapa kau tidak kerja!” teriak pemilik Warnet yang mendadak muncul di depan hadapan mereka.
Panjul terkejut dan ia berkata dengan terbata-bata, “Eh…ma..maaf pak, saya akan lanjutkan kerja saya!”
“Oke, kembali berkerja atau uang gajinya saya potong!” perintah pemilik warnet.
“Oke pak!” ujar Panjul, Panjul kembali mengontrol komputer-komputer Warnet lewat komputernya dan Kosim keluar dari Warnet karena takut mengganggu pekerjaan temannya.
Kosim berjalan tak menentu di trotoar, ia melihat kemacetan di jalan raya dan ia tak tahu harus kemana. Perutnya yang sudah terisi gorengan sudah cukup membuatnya senang tapi ia khawatir dengan hari esok, hari esok belum tentu ia bisa mendapatkan gorengan ataupun makanan gratis. Kosim terus berjalan dan ia melihat ada pedepokan Bhayangkara Jabar di perempatan jalan raya, ia terfikir sesuatu, “Ehm, ke sana ah! Siapa tahu ada kerjaan kayak ngepal.”
Kosim masuk ke dalam gerbang halaman pedepokan Bhayangkara, ia menyapa pejaga yang berdiri tegak di posnya, “Selamat siang pak!”
Bhayangkara berjanggut pendek tersebut menjawab, “Woi, udah siang tahu!”
“Oh maaf pak!” ujar Kosim yang tersipu malu. Bhayangkara tersebut memegang senapan SS1 dan memakai kain jirak sebagai ornament celana panjang bermotif batik yang ia kenakan, ia juga memakai seragam berwarna hijau dengan adanya gelang dada di dadanya. Ada juga gelang lengan perak di kedua lengannya, memakai sabuk lebar dan terpasang keris di sabuk tersebut. Ia memakai mahkota kepala perak dan seragam Bhayangkara Jabar tersebut merupakan seragam yang mengikuti seragam Bhayangkara negara pusat, mereka baru mengikuti seragam negara pusat pada awal tahun 900 dan Majapahit sudah memakai jenis seragam tersebut sejak tahun 840. Bhayangkara Jabar sudah tidak telanjang dada lagi seperti dulu dan Kosim punya dalam hatinya, kenapa Bhayangkara Jabar baru mengikut pakaian Bhayangkara Majapahit setelah menjadi vasal Majapahit hampir 30 tahun?
Kosim berjalan ke pintu gerbang gedung Bhayangkara Jabar, Kosim masuk ke dalam gedung tersebut dan ia pergi ke tempat Resepsionis berada. Ia teringat ketika ia pergi ke tempat ini untuk minta izin kepada Bhayangkara untuk demo masak dan kejadian tersebut terjadi ketika satu tahun yang lalu, ia ingat bahwa gedung Bhayangkara ini berdiri di atas gedung Bhayangkara yang hancur setahun yang lalu akibat kerusuhan penjara.
Ia sampai di tempat Resepsionis berada, ada satu orang yang berjaga di sana dan orang tersebut sedang memegang kendali komputernya. Kosim menyapa orang tersebut, “Selamat siang pak!”
Resepsionis itu langsung menoleh ke arah Kosim dan menjawab, “Siang!”
“Eh pak, ada kagak kerjaan di nih pedepokan?” tanya Kosim kepada resepsionis tersebut.
“Kagak tahu, tanya saja sama Senopati Jaka!” jawab Resepsionis tersebut.
“Senopati Jaka? Oke, ruangannya?” tanya Kosim.
“Lurus saja dan entar ada tulisan ruangan Senopati!” jawab Resepsionis.
“Makasih!” ujar Kosim sambil tersenyum.
Resepsionis tersebut tersenyum dan Kosim mengikuti apa yang di katakan orang tersebut, Kosim berjalan lurus dan ia melihat dari kaca ada banyak Bhayangkara yang sedang berenang kolam renang di dalam gedung ini. Kolam renang Bhayangkara tidak seperti kolam renang umumnya, kolam renang dengan gaya khas Majapahit dan kolam renang tersebut hanya di gunakan untuk renang Bhayangkara saja. Kolam renang tersebut bisa juga buat mandi karena ada tempat mandi di pinggir kolam renang tersebut, kolam renang tersebut ke dalamannya 1.5 m dan Kosim hanya mengeleng-geleng kepala sambil tersenyum ketika melihat puluhan Bhayangkara berenang di kolam tersebut.
Kosim sampai di depan pintu ruang Senopati Jaka, Kosim mengetuk pintu dan berkata, “Permisi, bisakah saya bertemu dengan Senopati Jaka?
“Masuk saja!” jawab seseorang dari dalam ruangan.
Kosim membuka pintu dan melihat seseorang yang berpakain jas hitam dengan kumis tipis yang tampan duduk di atas tikar, orang tersebut sedang bermain GTA 5 dan hal itu membuat Kosim terkejut. Kosim sangat terkejut melihat seorang Senopati Bhayangkara yang harusnya menegakkan keadilan bermain menjadi penjahat di dalam game yang sedang di mainkan orang tersebut.
“Kau itu kosim kan?” tanya Senopati tersebut kepada Kosim.
“Ya Senopati Jaka, kita ketemu lagi!” jawab Kosim, “Gimana kabarnya?”
“Baik sim!” jawab Jaka sambil memegang joystiknya, ia tidak menoleh ke arah Kosim dan fokus ke monitor TVnya.
“Senopati, bolehkah saya duduk di samping anda?” tanya Kosim kepada Jaka.
“Boleh saja tapi jangan ganggu gue!” jawab Senopati yang berusia 24 tahun tersebut, “Gue lagi konsentrasi bermain game nih, misi kali ini susah!”
“Iya-iya.”
Kosim langsung duduk di sebelah kanan Senopati jomblo tersebut, Senopati Jaka memakai jas hitam dan itu yang membedakannya dengan Senopati-Senopati Bhayangkara lain.
“Senopati, ada tidak pekerjaan di pedepokan ini?” tanya Kosim kepada Senopati tersebut, “Apa saja boleh pekerjaannya!”
“Ehm, ada sih tapi mau kagak lo jadi tukang cuci pakaian Bhayangkara?” tanya Senopati yang tetap fokus menatap layar TV LCDnya, “Mesin cuci kami rusak dan banyak pakaian Bhayangkara yang belum di cuci!”
“Entar gue bayar lo Rp 100.000 satu kali nyuci!” ujar Senopati yang tetap fokus ke layar LCD TV nya, “Oh ya, lo mau kagak nyuci baju gue? Di rumah gue banyak banget baju dan celana yang belum ke cuci gara-gara mesin cuci rusak! Entar gue kasih Rp 150.000 tiap kali nyuci!”
“Sekalian juga menyetrik baju juga ya kalo lo mau nerima dua pekerjaan yang gue tawarkan ke lo!” ujar Senopati tersebut, “Kalo lo nerima, lo mesti datang tiap sore hari ke Pedepokan dan lo mesti nyuci baju-baju unit Bhayangkara beserta baju gue, gue tawiran Rp 250.000 kalo mau nerima kedua tuh pekerjaan!”
Kosim berfikir dan Senopati tersebut tetap fokus bermain game Xboksnya, Kosim berfikir apakah ia harus menerima atau tidak, “Ehm, kalo gue terima bisa-bisa dalam 4 hari gue bisa dapat 1 juta tapi efek sampingnya gue bisa kelelahan tiap hari!”
“Selain itu, efek sampingnya gue bisa kurang fokus ke pelajaran!” pikir Kosim, “Sekarang, gue sudah jadi murid terbaik di sekolah gara-gara nilai gue banyak yang bagus!”
“Gue harus tentukan sekarang apakah gue harus terima tuh pekerjaan apa tidak!”
Akhirnya Kosim telah memutuskan, ia langsung memberi tahu Senopati apa yang ia telah putuskan, “Senopati, saya terima pekerjaan nyuci baju para Bhayangkara dan nyuci baju anda!”
Senopati langsung menghentikan permainan game, ia langsung menaruh joystick ke tikar dan ia langsung menoleh ke arah Kosim lalu ia berkata dengan ekspersi terkejut, “Eh serius?”
“Ya, saya serius!” jawab Kosim.
“Total Bhayangkara di pedepokan ini ada sekitar 892 orang!” ujar Senopati, “Baju-baju mereka itu ada sekitar 2.676, itu belum termasuk celana dan celana dalam mereka! Emang lo kuat nyuci baju sebanyak itu?”
“Kuat aku!” jawab Kosim.
Senopati menghela nafas dan berkata, “Baik, lo nyuci baju dan setrika baju pas sore ini!”
“Uangnya entar gue kasih kalo lo udah selesai!” ujar Senopati.
“Sekarang juga boleh nyuci dan setrik baju!” ujar Kosim.
“Yakin?” tanya Senopati, Senopati ingin memastikan apakah Kosim yakin dalam pekerjaan yang sangat berat ini bagi satu orang.
“Ya, saya yakin!” jawab Kosim dengan penuh semangat, “Saya bisa menyelesaikan semuanya kalo anda mau bayar Rp 250.000 pertiap kali nyuci!”
“Baik, kau boleh nyuci baju dan lo sekarang gue akan antar ke tempat yang bisa lo gunakan buat nyuci baju!”
Senopati langsung berdiri dan ia berkata kepada Kosim, “Ikuti aku!”
Kosim ikut berdiri dan Senopati bersama Kosim keluar dari ruangnan ini, Senopati akan mengantar Kosim ke tempat yang bisa di gunakan untuk mencuci baju.
Bersambung..
0
Kutip
Balas