TS
mabdulkarim
Kumpulan cerita Karim
ini thread digunakan selain cerita random world, ini merupakan kumpulan cerita ane yang kagak perlu di jadiin thread..
denah STM Panzer
Quote:
War, new imperilism, industrial age:Hetazania Dacians
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
Quote:
Naninu
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
Quote:
STM Panzer
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
Quote:
STM Panzer x Naninu: Laknad project (masuk kategori lain di polling
)
Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
)Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
Quote:
Lain-lainnya
Jung Kosim
Jung Kosim
denah STM Panzer
Polling
0 suara
Lebih suka cerita apa?
Diubah oleh mabdulkarim 08-06-2016 18:42
0
8K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#48
Spoiler for laknad 5
:
5.Laknad project
Lokasi: Kamar
Senin, 20 Januari 901 pada jam 19.20
“Oh!!!” teriak jurnalis yang kemasukan parang ke dalam mulutnya, parang tersebut menyentuh amandel jurnalis dan jurnalis tersebut terjatuh. Kosim langsung menoleh ke belakang dan menghembaskan pedangnya ke muka Bhayangkara, Bhayangkara tersebut menangkisnya dengan menggunakan kerisnya.
Kosim berhasil menghabisi 4 orang dari 5 orang yang menyerangnya selama 20 menit, semua mayat bertebaran di kamar ini. Mayat tukang sayur ada di tengah pintu dan ia mati dengan leher yang sobek karena tebasan parang Kosim, preman tewas dengan muka banyak tertusuk beling kaca cermin karena tadi Kosim menarik rambut preman dan mendorong kepala preman ke cermin sehingga banyak kaca yang menancap di muka preman tersebut. Ada juga mayat anak STM Panzer yang mati di atas kasur dengan keluarnya banyak darah dari dadanya karena tadi Kosim menancapkan pedangnya ke dada orang tersebut lalu mencabutnya dan terakhir, ada tukang ojek yang mati di dengan luka sobek di perutnya yang menyebabkan banyak darah yang keluar dari luka tersebu.
Hanya Bhayangkara yang tersisa, Bhayangkara tersebut sangat susah untuk di kalahkan dan Kosim sudah sangat lelah bertarung melawan Bhayangkara tersebut. Bhayangkara tersebut gaya pencak silatnya sangat berbeda dengan silat Bhayangkara Jabar, Sunda, dan Banten. Hal tersebut membuat Kosim terheran-heran dan ia berkata dalam hatinya, “Aduh, susah amat ngalahin nih Bhayangkara! Mana nih Bhayangkara kayaknya beda gaya bertarungnya di bandingkan Bhayangkara-Bhayangkara yang pernah gue lawan!”
Bhayangkara tersebut menghempaskan keris dan sundang ke muka Kosim, Kosim menangkis semua serangan tersebut dengan pedangnya. Ia tidak menggambil parangnya karena ia lebih suka main satu pedang di bandingkan dua pedang.
Bhayangkara tersebut menghempaskan kaki kanannya ke pinggul kanan Kosim dan mengenai Kosim, Kosim langsung terjatuh karena hempaskan kaki Bhayangkara tersebut sangat-sangatlah kuat dan Kosim yang terjatuh langsung mejadi sasaran Bhayangkara tersebut. Kosim langsung bangkit dan ia menangkis semua serangan yang di lakukan Bhayangkara tersebut, Bhayangkara tersebut meningkatkan serangannya dan Kosim yang baru saja bangkit langsung saja menahan semua serangan berbahaya Bhayangkara tersebut.
Kosim mendengar suara tembakan dan Kosim berkata, “Kayanya itu suara tembakan! Dari mana ya?”
“Ah, paling cuma perasaan gue saja!” ujar Kosim dalam hatinya, “Fokus bertarung saja sekarang!”
Bhayangkara dan Kosim beradu cepat dalam menyerang, mereka bertempur dengan cepat dan itu membuat Kosim basah baju karena banyaknya keringat yang keluar dari kulitnya. Kosim melihat keris yang di pegang dan sundang Bhayangkara, lekukan keris dan ujung keris tersebut yang sangat tajam membuat Kosim berkata dalam hatinya, “Aduh, gue harus menghindar dari keris tersebut! Kalo ketusuk bis-“
Tiba-tiba, Kosim merasakan sesuatu yang tajam menusuknya. Ia melihat ke bawah dan melihat ada keris yang menusuk pipi kirinya, ujung keris tersebut menyentuh lidah Kosim dan Kosim amat sangat terkejut melihat ada keris yang tiba-tiba sudah menusuk pipi kirinya padahal daritadi ia sedang menangkis banyak serangan dari Bhayangkara tersebut.
Pipi kiri Kosim yang tertusuk langsung mengeluarkan banyak darah, Kosim langsung berteriak menjadi-jadi sambil menyerang karena ia tak mau Bhayangkara memanfaatkan keadaan ini untuk menyerang kembali ke daerah tak terduga seperti pipi. Kosim tak pernah menduga bahwa Bhayangkara ini menyerang pipinya padahal ia menduga serangan Bhayangkara tersebut hanya memfokuskan ke jantung dan lehernya.
Bhayangkara tersebut langsung menorong kerisnya dan memaksa kerisnya masuk lebih dalam ke pipi Kosim, Kosim langsung memegang batang lekukan keris tersebut dengan tangan kirinya dan menahanya. Telapak tangan kiri Kosim langsung berlumuran darah dan Kosim melihat Bhayangkara mengarahkan sundang ke arahnya, Kosim langsung menahannya dengan pedangnya yang ia pegang di tangan kanannya.
Kosim langsung menyikut dengan lututnya ke perut Bhayangkara tersebut tapi hal tersebut tidak membuat Bhayangkara tersebut kesakitan, Kosim terus menyikut dengan lututnya berkali-kali dan Kosim menahan semua serangan sundang Bhayangara yang mau menyerangnya. Kosim berusaha melepas keris dari dalam pipinya dan akhirnya Kosim bisa mencabut keris Bhayangkara dari pipinya, Kosim langsung menyerang habis-habisan Bhayangkara tersebut namun semua serangan Kosim sia-sia karena bisa di tangkis oleh Bhayangkara.
Pipi kiri Kosim yang berlubang dan mengeluarkan darah banyak membuat Kosim sangat kesakitan namun ia tak punya waktu untuk mengobati luka tersebut karena ia harus melawan Bhayangkara yang ada di depannya, Bhayangkara tersebut sangat susah di kalahkan dan membuat 90% energi yang di milik Kosim habis hanya untuk melawannya.
Kosim akhirnya menyadari sesuatu yang harusnya ia sadari dari tadi, “Tunggu, kayaknya nih Bhayangkara bukan Bhayangkara Jabar!”
“Kayaknya nih Bhayangkara Majapahit, Bhayangkara yang terkuat di Nusantara!” kejut Kosim dalam hatinya, “Pantes susah di kalahkan!”
Kosim yang sadar bahwa Bhayangkara yang ia lawan merupaan Bhayangkara Majapahit tidak membuatnya menurunkan serangan namun hal ini membuat ia menaikan daya serangannya, ia ingin tahu sejauh mana kemampuannya menghadapi Bhayangkara Majapahit.
Kosim akhirnya menghempaskan pedangnya ke pergelangan tangan kanan Bhayangkara tersebut dan pergelangan tangan tersebut terputus sehingga sundang Bhayangkara tersebut terjatuh. Bhayangkara tersebut menjerit menjadi-jadi dan ia terus menyerang Kosim dengan kerisnya yang masih ia pegang di tangan kirinya, Kosim mulai kewalahan dan ia sudah tidak kuat lagi melawan Bhayangkara ini.
Kosim langsung menusuk tepat di jantung Bhayangkara tersebut ketika Bhayangkara tersebut mau melakuan kuncian kepada Kosim, Bhayangkara tersebut terjatuh dan akhirnya ia mati juga setelah pertarungan selama 40 menit. Kosim yang melihat musuhnya mati langsung terjatuh dan ia memegang lukanya yang ada di pipi kirinya, ia bisa memasukan kelingking kirinya ke dalam luka pipinya dan ia merangkak ke dinding.
Ia sudah tak bisa berdiri lagi karena staminanya sudah habis dan ia belum makan sore sehingga ia sudah tak punya energi lagi untukk berdiri, Kosim bersandar di dinding dan ia berkata, “Aduh, gue kagak bisa berdiri lagi nih gara-gara gue kelaparan!”
Kosim melepas pedangnya yang ia pegang di tangan kanannya, ia merobek bajunya dan menggunakan robekan kecil tersebut untuk menutup lukanya yang ada di pipinya. Mata Kosim mulai kabur dan Kosim berkata dalam hatinya, “Sepertinya gue bakal mati sekarang, udah banyak darah yang keluar dari tubuh gue dan gue harus bertarung tiap jam agar gue bisa bertahan hidup namun sekarang gue tak bisa lagi!”
“Gue udah cape dan gue udah kagak bisa berdiri lagi!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim melihat di pintu ada 5 orang yang sepertinya baru datang dan mereka masuk ke dalam kamar ini, mereka sepertinya ingin menyerang Kosim dan Kosim sudah pasarh untuk di bunuh.
“Sepertinya gue bakal mati sekarang, gue pasrah mati di sini!” ujar Kosim dalam hatinya, Kosim menutup matanya dan ia langsung tak sadarkan diri.
5 orang tersebut langsung menyerang Kosim namun muncul seorang yang membawa MP5 dan memembaki 5 orang tersebut, orang tersebut langsung menembaki 5 orang tersebut dengan membabi buta dan 5 orang tersebut langsung tewas di tempat. Orang tersebut langsung menjatuhkan MP5 yang sudah kosong dan ia memegang leher Kosim, orang tersebut berkata, “Dia masih hidup!”
“Sepertinya nih orang bukan bagian dari mereka!” ujar orang tersebut.
Orang tersebut yang berpakaian Bhayangkara langsung menggendong Kosim dan membawanya bersamanya.
Lokasi: Kamar
Senin, 20 Januari 901 pada jam 19.20
“Oh!!!” teriak jurnalis yang kemasukan parang ke dalam mulutnya, parang tersebut menyentuh amandel jurnalis dan jurnalis tersebut terjatuh. Kosim langsung menoleh ke belakang dan menghembaskan pedangnya ke muka Bhayangkara, Bhayangkara tersebut menangkisnya dengan menggunakan kerisnya.
Kosim berhasil menghabisi 4 orang dari 5 orang yang menyerangnya selama 20 menit, semua mayat bertebaran di kamar ini. Mayat tukang sayur ada di tengah pintu dan ia mati dengan leher yang sobek karena tebasan parang Kosim, preman tewas dengan muka banyak tertusuk beling kaca cermin karena tadi Kosim menarik rambut preman dan mendorong kepala preman ke cermin sehingga banyak kaca yang menancap di muka preman tersebut. Ada juga mayat anak STM Panzer yang mati di atas kasur dengan keluarnya banyak darah dari dadanya karena tadi Kosim menancapkan pedangnya ke dada orang tersebut lalu mencabutnya dan terakhir, ada tukang ojek yang mati di dengan luka sobek di perutnya yang menyebabkan banyak darah yang keluar dari luka tersebu.
Hanya Bhayangkara yang tersisa, Bhayangkara tersebut sangat susah untuk di kalahkan dan Kosim sudah sangat lelah bertarung melawan Bhayangkara tersebut. Bhayangkara tersebut gaya pencak silatnya sangat berbeda dengan silat Bhayangkara Jabar, Sunda, dan Banten. Hal tersebut membuat Kosim terheran-heran dan ia berkata dalam hatinya, “Aduh, susah amat ngalahin nih Bhayangkara! Mana nih Bhayangkara kayaknya beda gaya bertarungnya di bandingkan Bhayangkara-Bhayangkara yang pernah gue lawan!”
Bhayangkara tersebut menghempaskan keris dan sundang ke muka Kosim, Kosim menangkis semua serangan tersebut dengan pedangnya. Ia tidak menggambil parangnya karena ia lebih suka main satu pedang di bandingkan dua pedang.
Bhayangkara tersebut menghempaskan kaki kanannya ke pinggul kanan Kosim dan mengenai Kosim, Kosim langsung terjatuh karena hempaskan kaki Bhayangkara tersebut sangat-sangatlah kuat dan Kosim yang terjatuh langsung mejadi sasaran Bhayangkara tersebut. Kosim langsung bangkit dan ia menangkis semua serangan yang di lakukan Bhayangkara tersebut, Bhayangkara tersebut meningkatkan serangannya dan Kosim yang baru saja bangkit langsung saja menahan semua serangan berbahaya Bhayangkara tersebut.
Kosim mendengar suara tembakan dan Kosim berkata, “Kayanya itu suara tembakan! Dari mana ya?”
“Ah, paling cuma perasaan gue saja!” ujar Kosim dalam hatinya, “Fokus bertarung saja sekarang!”
Bhayangkara dan Kosim beradu cepat dalam menyerang, mereka bertempur dengan cepat dan itu membuat Kosim basah baju karena banyaknya keringat yang keluar dari kulitnya. Kosim melihat keris yang di pegang dan sundang Bhayangkara, lekukan keris dan ujung keris tersebut yang sangat tajam membuat Kosim berkata dalam hatinya, “Aduh, gue harus menghindar dari keris tersebut! Kalo ketusuk bis-“
Tiba-tiba, Kosim merasakan sesuatu yang tajam menusuknya. Ia melihat ke bawah dan melihat ada keris yang menusuk pipi kirinya, ujung keris tersebut menyentuh lidah Kosim dan Kosim amat sangat terkejut melihat ada keris yang tiba-tiba sudah menusuk pipi kirinya padahal daritadi ia sedang menangkis banyak serangan dari Bhayangkara tersebut.
Pipi kiri Kosim yang tertusuk langsung mengeluarkan banyak darah, Kosim langsung berteriak menjadi-jadi sambil menyerang karena ia tak mau Bhayangkara memanfaatkan keadaan ini untuk menyerang kembali ke daerah tak terduga seperti pipi. Kosim tak pernah menduga bahwa Bhayangkara ini menyerang pipinya padahal ia menduga serangan Bhayangkara tersebut hanya memfokuskan ke jantung dan lehernya.
Bhayangkara tersebut langsung menorong kerisnya dan memaksa kerisnya masuk lebih dalam ke pipi Kosim, Kosim langsung memegang batang lekukan keris tersebut dengan tangan kirinya dan menahanya. Telapak tangan kiri Kosim langsung berlumuran darah dan Kosim melihat Bhayangkara mengarahkan sundang ke arahnya, Kosim langsung menahannya dengan pedangnya yang ia pegang di tangan kanannya.
Kosim langsung menyikut dengan lututnya ke perut Bhayangkara tersebut tapi hal tersebut tidak membuat Bhayangkara tersebut kesakitan, Kosim terus menyikut dengan lututnya berkali-kali dan Kosim menahan semua serangan sundang Bhayangara yang mau menyerangnya. Kosim berusaha melepas keris dari dalam pipinya dan akhirnya Kosim bisa mencabut keris Bhayangkara dari pipinya, Kosim langsung menyerang habis-habisan Bhayangkara tersebut namun semua serangan Kosim sia-sia karena bisa di tangkis oleh Bhayangkara.
Pipi kiri Kosim yang berlubang dan mengeluarkan darah banyak membuat Kosim sangat kesakitan namun ia tak punya waktu untuk mengobati luka tersebut karena ia harus melawan Bhayangkara yang ada di depannya, Bhayangkara tersebut sangat susah di kalahkan dan membuat 90% energi yang di milik Kosim habis hanya untuk melawannya.
Kosim akhirnya menyadari sesuatu yang harusnya ia sadari dari tadi, “Tunggu, kayaknya nih Bhayangkara bukan Bhayangkara Jabar!”
“Kayaknya nih Bhayangkara Majapahit, Bhayangkara yang terkuat di Nusantara!” kejut Kosim dalam hatinya, “Pantes susah di kalahkan!”
Kosim yang sadar bahwa Bhayangkara yang ia lawan merupaan Bhayangkara Majapahit tidak membuatnya menurunkan serangan namun hal ini membuat ia menaikan daya serangannya, ia ingin tahu sejauh mana kemampuannya menghadapi Bhayangkara Majapahit.
Kosim akhirnya menghempaskan pedangnya ke pergelangan tangan kanan Bhayangkara tersebut dan pergelangan tangan tersebut terputus sehingga sundang Bhayangkara tersebut terjatuh. Bhayangkara tersebut menjerit menjadi-jadi dan ia terus menyerang Kosim dengan kerisnya yang masih ia pegang di tangan kirinya, Kosim mulai kewalahan dan ia sudah tidak kuat lagi melawan Bhayangkara ini.
Kosim langsung menusuk tepat di jantung Bhayangkara tersebut ketika Bhayangkara tersebut mau melakuan kuncian kepada Kosim, Bhayangkara tersebut terjatuh dan akhirnya ia mati juga setelah pertarungan selama 40 menit. Kosim yang melihat musuhnya mati langsung terjatuh dan ia memegang lukanya yang ada di pipi kirinya, ia bisa memasukan kelingking kirinya ke dalam luka pipinya dan ia merangkak ke dinding.
Ia sudah tak bisa berdiri lagi karena staminanya sudah habis dan ia belum makan sore sehingga ia sudah tak punya energi lagi untukk berdiri, Kosim bersandar di dinding dan ia berkata, “Aduh, gue kagak bisa berdiri lagi nih gara-gara gue kelaparan!”
Kosim melepas pedangnya yang ia pegang di tangan kanannya, ia merobek bajunya dan menggunakan robekan kecil tersebut untuk menutup lukanya yang ada di pipinya. Mata Kosim mulai kabur dan Kosim berkata dalam hatinya, “Sepertinya gue bakal mati sekarang, udah banyak darah yang keluar dari tubuh gue dan gue harus bertarung tiap jam agar gue bisa bertahan hidup namun sekarang gue tak bisa lagi!”
“Gue udah cape dan gue udah kagak bisa berdiri lagi!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim melihat di pintu ada 5 orang yang sepertinya baru datang dan mereka masuk ke dalam kamar ini, mereka sepertinya ingin menyerang Kosim dan Kosim sudah pasarh untuk di bunuh.
“Sepertinya gue bakal mati sekarang, gue pasrah mati di sini!” ujar Kosim dalam hatinya, Kosim menutup matanya dan ia langsung tak sadarkan diri.
5 orang tersebut langsung menyerang Kosim namun muncul seorang yang membawa MP5 dan memembaki 5 orang tersebut, orang tersebut langsung menembaki 5 orang tersebut dengan membabi buta dan 5 orang tersebut langsung tewas di tempat. Orang tersebut langsung menjatuhkan MP5 yang sudah kosong dan ia memegang leher Kosim, orang tersebut berkata, “Dia masih hidup!”
“Sepertinya nih orang bukan bagian dari mereka!” ujar orang tersebut.
Orang tersebut yang berpakaian Bhayangkara langsung menggendong Kosim dan membawanya bersamanya.
0
Kutip
Balas