- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#143
PART 17
“Aku bingung Jar…”
“Bingung kenapa Nii?? Pegangan atuh..hehehe” canda gw.
“Jadi gini, ada cowo yang deketin aku. Aku kenal dia udah lama sih, dia temen sekolah aku tapi beda jurusan…Yang aku bingung, kemarin dia nembak aku Jar…”
Gw menelan ludah, Sungguh sangat terkejut gw saat itu. Rasanya seperti ditabrak Tronton yang beratnya ribuan kilogram menghantam telak tubuh kurus gw ini.
Gw mencoba menenangkan diri gw…Gw coba rilex.
“Terus kamu terima?” Tanya gw pelan.
“Belum Jar…aku belum kasih jawaban ke dia.” Jawabnya.
“Oh gitu..dia baik Nii?” dengan berat gw bertanya lagi.
“Menurut aku sih dia orangnya baik, Tapi……….”
“Tapi apa?” gw segera memotong perkataannya yang belum selesai dia ucapkan.
“Kalo dia baik, ganteng, pinter…kenapa nggak kamu terii………”
“Tapi aku lagi nunggu seseorang Jar!” Kali ini dia yang memotong ucapan gw dengan suara yang agak keras.
Jantung gw serasa berhenti….Sebuah pernyataan yang keluar dari mulut dia menjadikan beberapa pertanyaan besar di dalam otak gw ini.
Apa maksudnya ini? Siapakah yang dia tunggu?
Apakah gw?…mungkinkah seseorang itu gw? Tapi dia menunggu apa?
“Itu terserah kamu Nii…pilihan ada di kamu. Kamu mau terima dia, atau kamu mau menunggu seseorang yang kamu tunggu itu” Ucap gw
“Orang yang aku tunggu itu ga ngerti Jar..dia nggak peka..dia ga bisa ngerasain kalo ada yang nunggu dia”
Suasana menjadi hening…
Gw tidak mendengar apa apa…Yang gw dengar hanya detakan jantung gw yang semakin lama semakin cepat, dan hembusan nafas gw yang semakin tidak beraturan.
Gw lihat ada seekor kucing yang duduk dengan manis melihat perbincangan kami tadi. Gw ingin sekali bertanya pada kucing itu…
“Puss…Siapa sih sebenernya orang yang dia tunggu? Apakah benar gw? Tapi gw nggak yakin nih puss…”
Dengan spontanitas gw menghampiri kucing tersebut untuk menagih jawaban dari sang kucing. Tapi ketika gw dekati kucing itu, dia malah berlari dan segera pergi. Mungkin itu jawaban dari seekor kucing yang berwarna kuning.
Gw kembali berfikir dan gw memikirkan perkataan Dedi beberapa minggu lalu untuk bertindak cepat menyatakan perasaan gw. Gw ingin bicara..gw ingin menyampaikan...Tapi, hati gw selalu menolaknya. Hati gw selalu ragu. Gw hanya mempunyai modal “PD” tingkat tinggi kalau seseorang yang ditunggu Niar itu adalah gw.
Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk dia tau perasaan gw yang sebenarnya.
"Nii....." panggil gw serius.
“ya…” sahutnya.
"Udah berapa lama kita kenal?" tanya gw.
"Emm sebulan lebih mungkin...kenapa gitu?" jawabnya.
"Udah cukup lama yaa...."
"Iya begitulah" sahutnya singkat.
"Nii......" panggil gw lagi.
"Iyaaa....apaan sih jore! ga jelas banget kamu!"
Siaallll siaalll siaaaalll......kenapa gw jadi kaku begini? Lidah gw membeku. Padahal di dalam hati gw ini sudah mengatakan dengan lantang.
"Aku suka sama kamu Nii!! Aku sayang sama kamu!! Nii aku mau jadi pelengkap di hidup kamu!!"...
Tapi kenapa kata kata itu tidak bisa sampai di bibir gw. Yang ada bibir gw malah kaku! kaku untuk menyatakan Cinta.
Ditengah kebisuan gw dan dia tiba tiba HP gw berdering pertanda ada panggilan masuk. Setelah gw lihat, ternyata bokap gw yang telefon.
"Arrgghhh!!! Sial…sial…sial….ganggu aja!!" gerutu gw dalam hati.
“Sebentar Nii ada telefon dari bokap…” gw meminta izin darinya untuk mengangkat telefon.
“…..” dia mengangguk pelan.
"Halo...Jar masih dimana? cepet pulang! Bapak mau berangkat. Di rumah ga ada orang!" Ucap beliau dari seberang sana.
"Iya Pak nanti dulu ya masih ada perlu sama temen" jawab gw.
"Ga ada nanti nanti!! cepetan pulang!!" Ujarnya setengah membentak.
"Iya iya Pak!" jawab gw langsung gw tutup telfon.
Setelah menutup telefon, gw kembali menghampiri Niar.
Haaahh....sepertinya kesempatan di depan mata ini kandas! Gw bodoh!! Bego!! Gw ga punya cukup nyali untuk mengatakannya. Saat itu gw benar benar menjadi seorang pengecut. Ya....PENGECUT!!
Gw sedikit kesal dengan perintah bokap gw yang setengah membentak untuk menyuruh gw pulang.
Paak pak…nggak bisa liat anakmu ini lagi berjuang demi CINTA apa Pak??!!
"Aku kayanya harus pulang Nii..."
"Loh Jar, bukannya kamu belum selesai ngomong tadi? Kamu mau ngomong apa?" ucapnya sedikit kecewa.
"Hehe....lain kali aja ya Nii. Bokap aku dah ngomel2 barusan."
"Terus aku disini sendirian dong??" ujarnya.
"emmm...yaudah yuk aku anter kamu pulang dulu." ajak gw.
Gw bangkit dari tempat duduk gw. Tapi Niar masih diam tak beranjak sedikitpun sambil memasang wajah bete. Dia melipat kedua tangannya di dada dan bibirnya manyun. Haha....Lucu sekali dia dengan raut wajah seperti itu.
"Ayoo lah Nii...." gw menarik tangannya.
"......." Dia diam. tapi dia pun segera bangkit dari duduknya.
Kita berdua memutuskan untuk jalan kaki. Karena jarak ke rumahnya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar satu setengah kilo meter. Inilah salah satu hal yang sangat gw suka dari dia. Disaat orang lain menggunakan kendaraan roda dua dan dengan nyamannya mereka di atas kendaraan, dia tidak pernah sama sekali mengeluh walaupun harus berjalan kaki.
"Joree...." panggil dia.
"Yaaaa..." sahut gw.
"Kita olah raga nih siang siang...hahaha" ucapnya.
"Iya...tanggung lah mau naek angkot juga. Naek becak juga nanggung." ujar gw.
"Hahaha....dasar kamu tuh emang hobi jalan ya?" tanya dia.
"Ya nggak juga. Kadang kadang jalan kaki itu tuntutan keadaan." jawab gw.
"Tuntutan karena kehabisan ongkos ya? Hahaha!!" dia tertawa.
"Begitulah...hehehe"
"Itu mah bukan tuntutan kali...emang kamunya aja yang pelit..hahaha!" lagi lagi dia ngeledek gw.
"Bukannya pelit Nii, tapi HEMAT!!"
"Hahaha sama aja dasarr!!"
"Beda lah..." ujar gw nggak mau kalah.
"iya deh iya..."
"Selagi kita masih mempunyai kaki Nii, manfaatin sebaik baiknya. Toh jalan kaki pun ga ada ruginya. Malahan untung. Kita jadi sehat, terus hemat, emm apalagi ya...."
"Dan beraaat....." sambung dia kemudian menghentikan langkahnya.
"Loh...berat gimana?" tanya gw bingung.
"Iya ini berat...."
Gw melihat dia penuh tanda tanya. Tapi setelah gw lihat barang bawaan dia. Astaghfirullah...!! Bego banget gw jadi cowo membiarkan cewe menenteng barangnya sendirian. Mana jalan kaki…
"Eh iya Nii...sini sini aku yang bawain" pinta gw.
"Huuh bukannya daritadi. Dasar kamu tuh ga ada perhatiannya pisan!!" dia menggerutu.
"Hehee iya maaf...Terlalu menikmati perjalanan aku.." ucap gw setengah becanda.
"Payah emang si jore yang satu ini"
"Hahaha..." gw hanya tertawa.
Kita berdua akhirnya sampai di depan gang rumahnya. Hanya sampai depan gangnya saja gw anterin dia. Karena dia gak pernah ngizinin gw buat nganter sampai rumahnya. Sampai saat itu juga gw belum tau rumahnya dia. Entahlah gw bener bener ga ngerti apa alasannya dia.
"Oke Jore sampai sini aja..makasih ya." ucapnya.
"Nii… Aku boleh tanya sesuatu ga?" ucap gw.
"iya tanya apa jore..."
"Kenapa setiap aku anter kamu pulang, kamu cuma ngizinin aku sampai depan gang doang Nii?" tanya gw.
"Hehe...ga apa apa kok...Lain kali aja ya nganter sampe rumahnya." jawab dia.
"Aku kan pengen tau rumah kamu Nii..." ujar gw.
"Nanti kalo kamu tau, kamu kaget." jawabnya.
"Yah...terserah kamu lah. Itu hak kamu buat ngizinin aku untuk tau rumah kamu apa nggak. Toh aku bukan siapa siapa kamu ini. Yaudah aku pulang...Assalamualaikum." Dan gw pun langsung berbalik dan berjalan menjauh darinya.
"Jaaarr....tunggu!" panggil dia.
".........." gw hanya melambaikan tangan ke arah dia dan meneruskan berjalan.
Di sepanjang perjalanan ini gw terus memikirkaan kejadian yang baru saja gw alamin. Pertama, gw gagal total untuk menyatakan perasaan gw ke dia, sehingga gw keliatan bodoh di depan dia. Kedua, gw selalu bertanya pada diri gw sendiri kenapa Niar ga pernah ngizinin gw untuk tau dimana rumahnya. Biasanya dia selalu terbuka dengan gw, dia selalu menceritakan semua permasalahan yang tengah dia hadapi. Dan dia baru saja cerita kalau ada seorang cowo nembak dia yang membuat gw sedikit “galau” siang ini.
Tapi, hanya sekedar ingin tau rumahnya pun dia tidak mengizinkan gw untuk tau. Gw bingung, dan gw merasa sedikit kecewa dengan dia yang merahasiakan itu semua dari gw.
Fikiran negatif pun terus bermunculan di otak gw.
"Mungkin dia malu kalau bawa temen cowo model gw ini." Gw memang sadar diri kok.
"Kiri baaang Kiriiiii....." teriak gw sambil memukul atap angkot.
"Ciiiiiiiiiitttt...." Mobil pun berhenti di barengi suara ban yang berdecit.
Sial..!! gw kelewatan gara gara melamun sedari tadi. Gw nggak sadar ternyata sudah kelewat terlalu jauh dari komplek perumahan gw. Gw pun segera turun dan membayar ongkos
Gw memberikan satu lembar seribuan dan satu buah gopek'an logam.
"Woi kurang gopek nih!!" teriak abang supir angkot.
"Kurang gimana bang? biasanya juga 1500 kan?" tanya gw kesal karena gw memang membayar sesuai tarif.
"Mata lo picek! apaan nih Cepek'an?" dia melemparkan uang cepek'an itu ke arah gw.
Ya Tuhan...gw salah ngasih uang! Gw malah ngasih cepek'an bukannya gopek'an. Gw rogoh saku gw, setelah menemukan gopek'an yang asli, segera gw kasih ke supir itu.
Sungguh gw merasa cukup sial hari ini...
Belum lagi nanti di rumah pasti dapet hadiah dari Bokap. Gw hanya bisa menggenggam kepala gw yang terasa pusing saat itu...
Arrgghhh....!!!!
Sebuah pernyataan yang menjadi pertanyaan.
“Bingung kenapa Nii?? Pegangan atuh..hehehe” canda gw.
“Jadi gini, ada cowo yang deketin aku. Aku kenal dia udah lama sih, dia temen sekolah aku tapi beda jurusan…Yang aku bingung, kemarin dia nembak aku Jar…”
Gw menelan ludah, Sungguh sangat terkejut gw saat itu. Rasanya seperti ditabrak Tronton yang beratnya ribuan kilogram menghantam telak tubuh kurus gw ini.
Gw mencoba menenangkan diri gw…Gw coba rilex.
“Terus kamu terima?” Tanya gw pelan.
“Belum Jar…aku belum kasih jawaban ke dia.” Jawabnya.
“Oh gitu..dia baik Nii?” dengan berat gw bertanya lagi.
“Menurut aku sih dia orangnya baik, Tapi……….”
“Tapi apa?” gw segera memotong perkataannya yang belum selesai dia ucapkan.
“Kalo dia baik, ganteng, pinter…kenapa nggak kamu terii………”
“Tapi aku lagi nunggu seseorang Jar!” Kali ini dia yang memotong ucapan gw dengan suara yang agak keras.
Jantung gw serasa berhenti….Sebuah pernyataan yang keluar dari mulut dia menjadikan beberapa pertanyaan besar di dalam otak gw ini.
Apa maksudnya ini? Siapakah yang dia tunggu?
Apakah gw?…mungkinkah seseorang itu gw? Tapi dia menunggu apa?
“Itu terserah kamu Nii…pilihan ada di kamu. Kamu mau terima dia, atau kamu mau menunggu seseorang yang kamu tunggu itu” Ucap gw
“Orang yang aku tunggu itu ga ngerti Jar..dia nggak peka..dia ga bisa ngerasain kalo ada yang nunggu dia”
Suasana menjadi hening…
Gw tidak mendengar apa apa…Yang gw dengar hanya detakan jantung gw yang semakin lama semakin cepat, dan hembusan nafas gw yang semakin tidak beraturan.
Gw lihat ada seekor kucing yang duduk dengan manis melihat perbincangan kami tadi. Gw ingin sekali bertanya pada kucing itu…
“Puss…Siapa sih sebenernya orang yang dia tunggu? Apakah benar gw? Tapi gw nggak yakin nih puss…”
Dengan spontanitas gw menghampiri kucing tersebut untuk menagih jawaban dari sang kucing. Tapi ketika gw dekati kucing itu, dia malah berlari dan segera pergi. Mungkin itu jawaban dari seekor kucing yang berwarna kuning.
Gw kembali berfikir dan gw memikirkan perkataan Dedi beberapa minggu lalu untuk bertindak cepat menyatakan perasaan gw. Gw ingin bicara..gw ingin menyampaikan...Tapi, hati gw selalu menolaknya. Hati gw selalu ragu. Gw hanya mempunyai modal “PD” tingkat tinggi kalau seseorang yang ditunggu Niar itu adalah gw.
Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk dia tau perasaan gw yang sebenarnya.
"Nii....." panggil gw serius.
“ya…” sahutnya.
"Udah berapa lama kita kenal?" tanya gw.
"Emm sebulan lebih mungkin...kenapa gitu?" jawabnya.
"Udah cukup lama yaa...."
"Iya begitulah" sahutnya singkat.
"Nii......" panggil gw lagi.
"Iyaaa....apaan sih jore! ga jelas banget kamu!"
Siaallll siaalll siaaaalll......kenapa gw jadi kaku begini? Lidah gw membeku. Padahal di dalam hati gw ini sudah mengatakan dengan lantang.
"Aku suka sama kamu Nii!! Aku sayang sama kamu!! Nii aku mau jadi pelengkap di hidup kamu!!"...
Tapi kenapa kata kata itu tidak bisa sampai di bibir gw. Yang ada bibir gw malah kaku! kaku untuk menyatakan Cinta.
Ditengah kebisuan gw dan dia tiba tiba HP gw berdering pertanda ada panggilan masuk. Setelah gw lihat, ternyata bokap gw yang telefon.
"Arrgghhh!!! Sial…sial…sial….ganggu aja!!" gerutu gw dalam hati.
“Sebentar Nii ada telefon dari bokap…” gw meminta izin darinya untuk mengangkat telefon.
“…..” dia mengangguk pelan.
"Halo...Jar masih dimana? cepet pulang! Bapak mau berangkat. Di rumah ga ada orang!" Ucap beliau dari seberang sana.
"Iya Pak nanti dulu ya masih ada perlu sama temen" jawab gw.
"Ga ada nanti nanti!! cepetan pulang!!" Ujarnya setengah membentak.
"Iya iya Pak!" jawab gw langsung gw tutup telfon.
Setelah menutup telefon, gw kembali menghampiri Niar.
Haaahh....sepertinya kesempatan di depan mata ini kandas! Gw bodoh!! Bego!! Gw ga punya cukup nyali untuk mengatakannya. Saat itu gw benar benar menjadi seorang pengecut. Ya....PENGECUT!!
Gw sedikit kesal dengan perintah bokap gw yang setengah membentak untuk menyuruh gw pulang.
Paak pak…nggak bisa liat anakmu ini lagi berjuang demi CINTA apa Pak??!!
"Aku kayanya harus pulang Nii..."
"Loh Jar, bukannya kamu belum selesai ngomong tadi? Kamu mau ngomong apa?" ucapnya sedikit kecewa.
"Hehe....lain kali aja ya Nii. Bokap aku dah ngomel2 barusan."
"Terus aku disini sendirian dong??" ujarnya.
"emmm...yaudah yuk aku anter kamu pulang dulu." ajak gw.
Gw bangkit dari tempat duduk gw. Tapi Niar masih diam tak beranjak sedikitpun sambil memasang wajah bete. Dia melipat kedua tangannya di dada dan bibirnya manyun. Haha....Lucu sekali dia dengan raut wajah seperti itu.
"Ayoo lah Nii...." gw menarik tangannya.
"......." Dia diam. tapi dia pun segera bangkit dari duduknya.
Kita berdua memutuskan untuk jalan kaki. Karena jarak ke rumahnya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar satu setengah kilo meter. Inilah salah satu hal yang sangat gw suka dari dia. Disaat orang lain menggunakan kendaraan roda dua dan dengan nyamannya mereka di atas kendaraan, dia tidak pernah sama sekali mengeluh walaupun harus berjalan kaki.
"Joree...." panggil dia.
"Yaaaa..." sahut gw.
"Kita olah raga nih siang siang...hahaha" ucapnya.
"Iya...tanggung lah mau naek angkot juga. Naek becak juga nanggung." ujar gw.
"Hahaha....dasar kamu tuh emang hobi jalan ya?" tanya dia.
"Ya nggak juga. Kadang kadang jalan kaki itu tuntutan keadaan." jawab gw.
"Tuntutan karena kehabisan ongkos ya? Hahaha!!" dia tertawa.
"Begitulah...hehehe"
"Itu mah bukan tuntutan kali...emang kamunya aja yang pelit..hahaha!" lagi lagi dia ngeledek gw.
"Bukannya pelit Nii, tapi HEMAT!!"
"Hahaha sama aja dasarr!!"
"Beda lah..." ujar gw nggak mau kalah.
"iya deh iya..."
"Selagi kita masih mempunyai kaki Nii, manfaatin sebaik baiknya. Toh jalan kaki pun ga ada ruginya. Malahan untung. Kita jadi sehat, terus hemat, emm apalagi ya...."
"Dan beraaat....." sambung dia kemudian menghentikan langkahnya.
"Loh...berat gimana?" tanya gw bingung.
"Iya ini berat...."
Gw melihat dia penuh tanda tanya. Tapi setelah gw lihat barang bawaan dia. Astaghfirullah...!! Bego banget gw jadi cowo membiarkan cewe menenteng barangnya sendirian. Mana jalan kaki…
"Eh iya Nii...sini sini aku yang bawain" pinta gw.
"Huuh bukannya daritadi. Dasar kamu tuh ga ada perhatiannya pisan!!" dia menggerutu.
"Hehee iya maaf...Terlalu menikmati perjalanan aku.." ucap gw setengah becanda.
"Payah emang si jore yang satu ini"
"Hahaha..." gw hanya tertawa.
Kita berdua akhirnya sampai di depan gang rumahnya. Hanya sampai depan gangnya saja gw anterin dia. Karena dia gak pernah ngizinin gw buat nganter sampai rumahnya. Sampai saat itu juga gw belum tau rumahnya dia. Entahlah gw bener bener ga ngerti apa alasannya dia.
"Oke Jore sampai sini aja..makasih ya." ucapnya.
"Nii… Aku boleh tanya sesuatu ga?" ucap gw.
"iya tanya apa jore..."
"Kenapa setiap aku anter kamu pulang, kamu cuma ngizinin aku sampai depan gang doang Nii?" tanya gw.
"Hehe...ga apa apa kok...Lain kali aja ya nganter sampe rumahnya." jawab dia.
"Aku kan pengen tau rumah kamu Nii..." ujar gw.
"Nanti kalo kamu tau, kamu kaget." jawabnya.
"Yah...terserah kamu lah. Itu hak kamu buat ngizinin aku untuk tau rumah kamu apa nggak. Toh aku bukan siapa siapa kamu ini. Yaudah aku pulang...Assalamualaikum." Dan gw pun langsung berbalik dan berjalan menjauh darinya.
"Jaaarr....tunggu!" panggil dia.
".........." gw hanya melambaikan tangan ke arah dia dan meneruskan berjalan.
Di sepanjang perjalanan ini gw terus memikirkaan kejadian yang baru saja gw alamin. Pertama, gw gagal total untuk menyatakan perasaan gw ke dia, sehingga gw keliatan bodoh di depan dia. Kedua, gw selalu bertanya pada diri gw sendiri kenapa Niar ga pernah ngizinin gw untuk tau dimana rumahnya. Biasanya dia selalu terbuka dengan gw, dia selalu menceritakan semua permasalahan yang tengah dia hadapi. Dan dia baru saja cerita kalau ada seorang cowo nembak dia yang membuat gw sedikit “galau” siang ini.
Tapi, hanya sekedar ingin tau rumahnya pun dia tidak mengizinkan gw untuk tau. Gw bingung, dan gw merasa sedikit kecewa dengan dia yang merahasiakan itu semua dari gw.
Fikiran negatif pun terus bermunculan di otak gw.
"Mungkin dia malu kalau bawa temen cowo model gw ini." Gw memang sadar diri kok.
"Kiri baaang Kiriiiii....." teriak gw sambil memukul atap angkot.
"Ciiiiiiiiiitttt...." Mobil pun berhenti di barengi suara ban yang berdecit.
Sial..!! gw kelewatan gara gara melamun sedari tadi. Gw nggak sadar ternyata sudah kelewat terlalu jauh dari komplek perumahan gw. Gw pun segera turun dan membayar ongkos
Gw memberikan satu lembar seribuan dan satu buah gopek'an logam.
"Woi kurang gopek nih!!" teriak abang supir angkot.
"Kurang gimana bang? biasanya juga 1500 kan?" tanya gw kesal karena gw memang membayar sesuai tarif.
"Mata lo picek! apaan nih Cepek'an?" dia melemparkan uang cepek'an itu ke arah gw.
Ya Tuhan...gw salah ngasih uang! Gw malah ngasih cepek'an bukannya gopek'an. Gw rogoh saku gw, setelah menemukan gopek'an yang asli, segera gw kasih ke supir itu.
Sungguh gw merasa cukup sial hari ini...
Belum lagi nanti di rumah pasti dapet hadiah dari Bokap. Gw hanya bisa menggenggam kepala gw yang terasa pusing saat itu...
Arrgghhh....!!!!
Sebuah pernyataan yang menjadi pertanyaan.
Diubah oleh javiee 08-01-2014 01:07
efti108 memberi reputasi
1