TS
mabdulkarim
Kumpulan cerita Karim
ini thread digunakan selain cerita random world, ini merupakan kumpulan cerita ane yang kagak perlu di jadiin thread..
denah STM Panzer
Quote:
War, new imperilism, industrial age:Hetazania Dacians
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
Quote:
Naninu
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
Quote:
STM Panzer
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
Quote:
STM Panzer x Naninu: Laknad project (masuk kategori lain di polling
)
Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
)Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
Quote:
Lain-lainnya
Jung Kosim
Jung Kosim
denah STM Panzer
Polling
0 suara
Lebih suka cerita apa?
Diubah oleh mabdulkarim 08-06-2016 18:42
0
8K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#40
Spoiler for Laknad Project 3:
III.Laknad Project
Lokasi: Selokan jalan raya Gajah Mada
Senin, 20 Januari 901 pada jam 14.50
Kosim berjalan merangkak di selokan yang gelap dan sempit serta banyak sampahnya, Kosim memotong semua sampah yang menghalangi jalannya, sampah-sampah tersebut merupakan penyebab kenapa kota Jabar sering banjir dan sempitnya selokan menambah satu dari beberapa alasan kenapa banjir di kota Jabar tak pernah berakhir semenjak 10 tahun lalu.
“Aduh, sempit amat nih selokan!” keluh Kosim, “Nih selokan yang sempit bikin gue susah buat jalan di tambah banyaknya sampah di sini!”
Kosim melihat banyak tikus di sini, tikus-tikus yang bulu hitam membuat mereka tidak terlalu jelas terlihat oleh Kosim dan Kosim bisa merasakan banyak tikus di selokan karena banyak tikus yang berjalan di punggungnya.
Di selokan ini ada genangan air yang berwarna hitam dan banyak kotoran tikus di air tersebut, Kosim menutup hidungnya karena tak kuat mencium bau selokan ini.
Di belakangnya ada beberapa orang yang merangkak di selokan dan mengejar Kosim, mereka tak mempedulikan bau ataupun tikus-tikus di selokan dan mereka terlihat bersemangat untuk membunuh Kosim.
“Aduh, kalo begini terus ada 2 cara yang bisa gue lakukan kalo mau hidup terus yaitu: hidup di pulau terpencil yang tidak ada manusia atau terus melawan untuk bertahan hidup!” ujar Kosim dalam hidupnya, “Kalo pergi ke pulau terpencil mungkin gue kagak perlu bertempur terus tapi entar resikonya gue lupa cara bersosialisasi sama cara pergi ke sana dimana?”
“Ke pulau kecil susah kalo semua orang menyerang gue, bisa saja angkatan laut Majapahit yang sedang patrol menyerang gue jika mereka juga keadaannya sama kayak orang-orang disini!” ujar Kosim dalam hatinya, “Oh ya, kalo semua orang di Nusantara pengen nyerang gue kenapa bisa ya? Apa penyebabnya?”
“Mereka kagak terlihat luka-luka dan mayat hidup kayak zombie, mereka nyerang kayak orang biasa yang bernafsu untuk membunuh gue dan kenapa bisa begitu?” tanya Kosim dalam hatinya, “Apa mungkin gue ini buronan hidup atau mati yang di hargai miliaran rupiah sehingga banyak orang nyerang gue karena hal itu! Mungkin saja tapi emang gue salah apa? Kayaknya gue kagak pernah melakukan kesalahan besar yang berakibat menjadi buronan!”
“Mungkin buronan adalah alasan yang logis kenapa semua orang menyerang gue tapi alasan tersebut belum tentu bener 100% karena gue kagak denger berita gue ini buronan hidup atau mati!” ujar Kosim dalam hatinya, “ Ah, yang penting sekarang adalah mempertahankan hidup!”
Kosim terus merangkak dan akhirnya, ia melihat cahaya dan itu berasal dari selokan yang tidak ada penutupnya. “Akhirnya, jalan keluar setelah gue merangkak sekitar 800 meter!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim langsung keluar dari selokan dan ia melihat ada pedepokan Bhayangkara di seberang jalan raya, pedepokan Bhayangkara menandakan bahwa kontrakannya sudah tidak jauh lagi. Ia melihat para Bhayangkara berhamburan keluar dari pedepokan dan mereka berlari dengan membawa senjata-senjata seperti: Parang, keris, golok, clurit, pistol, SS 1, SS 2, dan AK 47.
“Aduh, repot nih kalo lawan pasukan Bhayangkara!” ujar Kosim dalam hatinya, “Kapok lawan banyak Bhayangkara gara-gara mereka semua bisa pencak silat semua dan bersenjata lengkap!”
“Kabur ahh, kontrakan udah nggak jauh lagi!” ujar Kosim, Kosm langsung berlari ke arah perempatan jalan raya yang jarak hanya 10 meter dan para Bhayangkara mengejar Kosim.
Orang-orang yang ada di trotoar yang melihat ada Kosim langsung mengejarnya dan semua orang yang ada di perempatan berlarian ke arah Kosim berada, orang-orang di dalam mobil dan angkot serta motor turun dari kendaraan mereka lalu mereka berlari ke arah Kosim berada.
Para Bhayangkara menembaki Kosim dengan senapan dan pistol mereka sambil berlari, namun semua peluru meleset dari target mereka. Kosim terus berlari dan ia menyebrangi jalan raya lewat zebra cross, ada seseorang yang menghalangi jalan Kosim dan dia adalah seorang pengendara motor yang memakai helm berwarna hitam. Orang tersebut menghalangi Kosim dan ia memegang tongkat besi di tangan kanannya, Kosim langsung menghembaskan parang ke kepala orang tersebut namun orang tersebut merunduk dan menendang perut Kosim.
Kosim terdorong dan ia melihat seragam yang di pakai orang tersebut, Kosim terkejut melihat seragam yang orang tersebut pakai karena itu seragam peguruan karate di Jabar dan ia melihat bahwa orang tersebut kelihatannya kemampuan karatenya sudah ada di atas rata-rata orang biasa. “Aduh, mesti lawan sama orang yang bisa karate! Pasti susah nih!” ujar Kosim dalam hatinya, “Pasti ini memakan waktu yang lama dan gue harus cepet menghabisinya agar gue bisa kabur dari tempat ini!”
Akhir, Kosim menyerangnya dengan kemampuan pencak silat dan orang tersebut menangkis semua serangannya dengan kemampuan karatenya. Kosim yang menggunakan parang kewalahan melawan orang yang memakai senjata tongkat besi, orang tersebut bisa menandingi bahkan kemampuan bela dirinya sedikit di atas Kosim dan hal tersebut membuatnya susah untuk di kalahkan oleh Kosim. Kemampuan bela diri antara dua orang tersebut di adu, karate melawan pencak silat.
Kosim melirik ke belakang dan melihat ratusan Bhayangkara sudah dekat dengannya. Kosim yang tak mau berurusan dengan Bhayangkara akhirnya mengeluarkan jurus kotornya yaitu menendang kemaluan orang tersebut dan orang tersebut kesakitan, Kosim memanfaatkan situasi tersebut dan ia kabur dari tempat tersebut.
Kosim berhasil menyebrangi zebra crossdan ia berlari di trotoar, semua orang yang melihatnya mengejarnya dan Kosim terus berlari dengan cepat agar kabur dari tempat ini. Orang-orang yang ada di depan hadapan Kosim menyerang Kosim dan Kosim langsung menghindar dari mereka karena Kosim ingin lari dari kejaran Bhayangkara yang terus menembaki Kosim tapi tak kena-kena juga.
Makin banyak orang yang mengejar Kosim dan Kosim terus mempercepat langkah kakinya, ia harus cepat karena jika ia lambat maka ia akan mati. Ia akhirnya sampai di depan warung mpok Edah, warung yang ada di depan kontrakannya dan mpok Edah merupakan pemilik kontrakan-kontrakan di sini. Kosim tersenyum karena ia sudah sampai di tempat kontrakannya berada dan ia berkata di dalam hatinya, “Akhirnya gue sudah sampai!”
Senyum Kosim hilang ketika muncul mpok Edah yang keluar dari warung gubuknya dan berlari ke arahnya dengan membawa golok yang sangat tajam.
“Aduh, keluar musuh yang udah kayak final bos di game-game!” ujar Kosim dalam hatinya, “Lawan atau tidak ya?”
“Tidak aja ah, repot kalo lawan tuh mak-mak!” ujar Kosim dalam hatinya, “Kalo gue lawan tuh mak-mak mati duluan dalam satu serangan walaupun gue pakai ilmu kelas tinggi pencak silat, hahaha!”
Kosim langsung berlari ke arah pintu tempat kontrakannya dan mpok Edah langsung mengejarnya, Kosim menoleh ke belakang dan melihat mpok Edah mengejarnya seperti beruang yang mengejar mangsanya.
“Aduh, kayaknya gue mesti kalahin tuh mpok-mpok biar enak ke depannya!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim langsung berlari ke arah mpok Edah dengan mengarahkan parangnya ke dada, mpok Edah langsung menepisnya dengan mengayunkan goloknya ke parang Kosim. Parang Kosim langsung terjatuh ke tanah dan mpok Edah langsung menghembaskan goloknya ke leher Kosim, Kosim langsung merunduk dan menyikut perut gendut mpok Edah namun sikutan tersebut tak memberikan rasa sakit kepada mpok Edah.
Mpok Edah langsung menghembaskan goloknya ke muka Kosim, Kosim menghindar namun pipi kananya tergores golok tersebut sehingga pipi mengeluarkan banyak darah. Kosim memegang pipinya dan ia memerasakan banyak darah yang keluar dari pipinya, Kosim kesal dan ia langsung mengambil parangnya yang ada di tanah lalu ia kembali menyerang mpok Edah.
Kosim terus menyerang tapi setiap serangannya dapat di tangkis mpok Edah, mpok Edah menyerang Kosim dan semua serangan Edah dapat di tangkis Kosim. Kosim melihat di belakang mpok Edah sudah muncul orang-orang yang mengejarnya dan ia harus cepat masuk ke dalam jika ia tak mau melawan ribuan orang yang mengejarnya, Kosim meningkatkan daya serangannya namun tetap saja semua serangannya bisa di tangkis mpok Edah.
“Cih, susah amat mengalahkan mpok yang aslinya kagak punya basis di dunia bela diri!” ujar Kosim dalam hatinya, “Tapi gue harus kalahkan dia bagaimana pun caranya!”
Kosim langsung mengeluarkan pisau dan melemparnya ke arah muka mpok Edah namun di tangkis lemparan tersebut dengan golok mpok Edah, saat itu juga Kosim langsung menyikut leher mpok Edah dan menancapkan parangnya ke dada mpok Edah. Mpok Edah langsung terjatuh dan Kosim langsung mengambil parang yang tertancap di dada mpok Edah lalu ia berlari ke pintu kontrakannya, mpok Edah terjatuh dan mengeluarkan banyak darah di dadanya.
Sebelum Kosim membuka pintu kontrakannya, ia menoleh ke belakang dan berkata kepada mpok Edah, “Mpok, kalo mati utangnya tolong di lunasin ya!”
Namun, mpok Edah tidak respon dan ia menjerit-jerit dan berusaha untuk bangun, Kosim langsung mengeluarkan kunci kontrakan dan membuka pintu kontrakan.
Pintu kontrakan terbuka dan ia masuk ke dalam kontrakannya, ia ada di dalam kontrakannya dan mengunci pintu kontrakannya lalu ia menyegel pintu tersebut dengan menaruh lemari dan televisi di tempat tersebut. Ia menambah meja dan kursi untuk membuat pintu susah di buka, ia aman sekarang dan ia langsung pergi ke kamar mandi untuk buang air besar.
Lokasi: Selokan jalan raya Gajah Mada
Senin, 20 Januari 901 pada jam 14.50
Kosim berjalan merangkak di selokan yang gelap dan sempit serta banyak sampahnya, Kosim memotong semua sampah yang menghalangi jalannya, sampah-sampah tersebut merupakan penyebab kenapa kota Jabar sering banjir dan sempitnya selokan menambah satu dari beberapa alasan kenapa banjir di kota Jabar tak pernah berakhir semenjak 10 tahun lalu.
“Aduh, sempit amat nih selokan!” keluh Kosim, “Nih selokan yang sempit bikin gue susah buat jalan di tambah banyaknya sampah di sini!”
Kosim melihat banyak tikus di sini, tikus-tikus yang bulu hitam membuat mereka tidak terlalu jelas terlihat oleh Kosim dan Kosim bisa merasakan banyak tikus di selokan karena banyak tikus yang berjalan di punggungnya.
Di selokan ini ada genangan air yang berwarna hitam dan banyak kotoran tikus di air tersebut, Kosim menutup hidungnya karena tak kuat mencium bau selokan ini.
Di belakangnya ada beberapa orang yang merangkak di selokan dan mengejar Kosim, mereka tak mempedulikan bau ataupun tikus-tikus di selokan dan mereka terlihat bersemangat untuk membunuh Kosim.
“Aduh, kalo begini terus ada 2 cara yang bisa gue lakukan kalo mau hidup terus yaitu: hidup di pulau terpencil yang tidak ada manusia atau terus melawan untuk bertahan hidup!” ujar Kosim dalam hidupnya, “Kalo pergi ke pulau terpencil mungkin gue kagak perlu bertempur terus tapi entar resikonya gue lupa cara bersosialisasi sama cara pergi ke sana dimana?”
“Ke pulau kecil susah kalo semua orang menyerang gue, bisa saja angkatan laut Majapahit yang sedang patrol menyerang gue jika mereka juga keadaannya sama kayak orang-orang disini!” ujar Kosim dalam hatinya, “Oh ya, kalo semua orang di Nusantara pengen nyerang gue kenapa bisa ya? Apa penyebabnya?”
“Mereka kagak terlihat luka-luka dan mayat hidup kayak zombie, mereka nyerang kayak orang biasa yang bernafsu untuk membunuh gue dan kenapa bisa begitu?” tanya Kosim dalam hatinya, “Apa mungkin gue ini buronan hidup atau mati yang di hargai miliaran rupiah sehingga banyak orang nyerang gue karena hal itu! Mungkin saja tapi emang gue salah apa? Kayaknya gue kagak pernah melakukan kesalahan besar yang berakibat menjadi buronan!”
“Mungkin buronan adalah alasan yang logis kenapa semua orang menyerang gue tapi alasan tersebut belum tentu bener 100% karena gue kagak denger berita gue ini buronan hidup atau mati!” ujar Kosim dalam hatinya, “ Ah, yang penting sekarang adalah mempertahankan hidup!”
Kosim terus merangkak dan akhirnya, ia melihat cahaya dan itu berasal dari selokan yang tidak ada penutupnya. “Akhirnya, jalan keluar setelah gue merangkak sekitar 800 meter!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim langsung keluar dari selokan dan ia melihat ada pedepokan Bhayangkara di seberang jalan raya, pedepokan Bhayangkara menandakan bahwa kontrakannya sudah tidak jauh lagi. Ia melihat para Bhayangkara berhamburan keluar dari pedepokan dan mereka berlari dengan membawa senjata-senjata seperti: Parang, keris, golok, clurit, pistol, SS 1, SS 2, dan AK 47.
“Aduh, repot nih kalo lawan pasukan Bhayangkara!” ujar Kosim dalam hatinya, “Kapok lawan banyak Bhayangkara gara-gara mereka semua bisa pencak silat semua dan bersenjata lengkap!”
“Kabur ahh, kontrakan udah nggak jauh lagi!” ujar Kosim, Kosm langsung berlari ke arah perempatan jalan raya yang jarak hanya 10 meter dan para Bhayangkara mengejar Kosim.
Orang-orang yang ada di trotoar yang melihat ada Kosim langsung mengejarnya dan semua orang yang ada di perempatan berlarian ke arah Kosim berada, orang-orang di dalam mobil dan angkot serta motor turun dari kendaraan mereka lalu mereka berlari ke arah Kosim berada.
Para Bhayangkara menembaki Kosim dengan senapan dan pistol mereka sambil berlari, namun semua peluru meleset dari target mereka. Kosim terus berlari dan ia menyebrangi jalan raya lewat zebra cross, ada seseorang yang menghalangi jalan Kosim dan dia adalah seorang pengendara motor yang memakai helm berwarna hitam. Orang tersebut menghalangi Kosim dan ia memegang tongkat besi di tangan kanannya, Kosim langsung menghembaskan parang ke kepala orang tersebut namun orang tersebut merunduk dan menendang perut Kosim.
Kosim terdorong dan ia melihat seragam yang di pakai orang tersebut, Kosim terkejut melihat seragam yang orang tersebut pakai karena itu seragam peguruan karate di Jabar dan ia melihat bahwa orang tersebut kelihatannya kemampuan karatenya sudah ada di atas rata-rata orang biasa. “Aduh, mesti lawan sama orang yang bisa karate! Pasti susah nih!” ujar Kosim dalam hatinya, “Pasti ini memakan waktu yang lama dan gue harus cepet menghabisinya agar gue bisa kabur dari tempat ini!”
Akhir, Kosim menyerangnya dengan kemampuan pencak silat dan orang tersebut menangkis semua serangannya dengan kemampuan karatenya. Kosim yang menggunakan parang kewalahan melawan orang yang memakai senjata tongkat besi, orang tersebut bisa menandingi bahkan kemampuan bela dirinya sedikit di atas Kosim dan hal tersebut membuatnya susah untuk di kalahkan oleh Kosim. Kemampuan bela diri antara dua orang tersebut di adu, karate melawan pencak silat.
Kosim melirik ke belakang dan melihat ratusan Bhayangkara sudah dekat dengannya. Kosim yang tak mau berurusan dengan Bhayangkara akhirnya mengeluarkan jurus kotornya yaitu menendang kemaluan orang tersebut dan orang tersebut kesakitan, Kosim memanfaatkan situasi tersebut dan ia kabur dari tempat tersebut.
Kosim berhasil menyebrangi zebra crossdan ia berlari di trotoar, semua orang yang melihatnya mengejarnya dan Kosim terus berlari dengan cepat agar kabur dari tempat ini. Orang-orang yang ada di depan hadapan Kosim menyerang Kosim dan Kosim langsung menghindar dari mereka karena Kosim ingin lari dari kejaran Bhayangkara yang terus menembaki Kosim tapi tak kena-kena juga.
Makin banyak orang yang mengejar Kosim dan Kosim terus mempercepat langkah kakinya, ia harus cepat karena jika ia lambat maka ia akan mati. Ia akhirnya sampai di depan warung mpok Edah, warung yang ada di depan kontrakannya dan mpok Edah merupakan pemilik kontrakan-kontrakan di sini. Kosim tersenyum karena ia sudah sampai di tempat kontrakannya berada dan ia berkata di dalam hatinya, “Akhirnya gue sudah sampai!”
Senyum Kosim hilang ketika muncul mpok Edah yang keluar dari warung gubuknya dan berlari ke arahnya dengan membawa golok yang sangat tajam.
“Aduh, keluar musuh yang udah kayak final bos di game-game!” ujar Kosim dalam hatinya, “Lawan atau tidak ya?”
“Tidak aja ah, repot kalo lawan tuh mak-mak!” ujar Kosim dalam hatinya, “Kalo gue lawan tuh mak-mak mati duluan dalam satu serangan walaupun gue pakai ilmu kelas tinggi pencak silat, hahaha!”
Kosim langsung berlari ke arah pintu tempat kontrakannya dan mpok Edah langsung mengejarnya, Kosim menoleh ke belakang dan melihat mpok Edah mengejarnya seperti beruang yang mengejar mangsanya.
“Aduh, kayaknya gue mesti kalahin tuh mpok-mpok biar enak ke depannya!” ujar Kosim dalam hatinya.
Kosim langsung berlari ke arah mpok Edah dengan mengarahkan parangnya ke dada, mpok Edah langsung menepisnya dengan mengayunkan goloknya ke parang Kosim. Parang Kosim langsung terjatuh ke tanah dan mpok Edah langsung menghembaskan goloknya ke leher Kosim, Kosim langsung merunduk dan menyikut perut gendut mpok Edah namun sikutan tersebut tak memberikan rasa sakit kepada mpok Edah.
Mpok Edah langsung menghembaskan goloknya ke muka Kosim, Kosim menghindar namun pipi kananya tergores golok tersebut sehingga pipi mengeluarkan banyak darah. Kosim memegang pipinya dan ia memerasakan banyak darah yang keluar dari pipinya, Kosim kesal dan ia langsung mengambil parangnya yang ada di tanah lalu ia kembali menyerang mpok Edah.
Kosim terus menyerang tapi setiap serangannya dapat di tangkis mpok Edah, mpok Edah menyerang Kosim dan semua serangan Edah dapat di tangkis Kosim. Kosim melihat di belakang mpok Edah sudah muncul orang-orang yang mengejarnya dan ia harus cepat masuk ke dalam jika ia tak mau melawan ribuan orang yang mengejarnya, Kosim meningkatkan daya serangannya namun tetap saja semua serangannya bisa di tangkis mpok Edah.
“Cih, susah amat mengalahkan mpok yang aslinya kagak punya basis di dunia bela diri!” ujar Kosim dalam hatinya, “Tapi gue harus kalahkan dia bagaimana pun caranya!”
Kosim langsung mengeluarkan pisau dan melemparnya ke arah muka mpok Edah namun di tangkis lemparan tersebut dengan golok mpok Edah, saat itu juga Kosim langsung menyikut leher mpok Edah dan menancapkan parangnya ke dada mpok Edah. Mpok Edah langsung terjatuh dan Kosim langsung mengambil parang yang tertancap di dada mpok Edah lalu ia berlari ke pintu kontrakannya, mpok Edah terjatuh dan mengeluarkan banyak darah di dadanya.
Sebelum Kosim membuka pintu kontrakannya, ia menoleh ke belakang dan berkata kepada mpok Edah, “Mpok, kalo mati utangnya tolong di lunasin ya!”
Namun, mpok Edah tidak respon dan ia menjerit-jerit dan berusaha untuk bangun, Kosim langsung mengeluarkan kunci kontrakan dan membuka pintu kontrakan.
Pintu kontrakan terbuka dan ia masuk ke dalam kontrakannya, ia ada di dalam kontrakannya dan mengunci pintu kontrakannya lalu ia menyegel pintu tersebut dengan menaruh lemari dan televisi di tempat tersebut. Ia menambah meja dan kursi untuk membuat pintu susah di buka, ia aman sekarang dan ia langsung pergi ke kamar mandi untuk buang air besar.
Diubah oleh mabdulkarim 05-01-2014 19:31
0
Kutip
Balas