TS
mabdulkarim
Kumpulan cerita Karim
ini thread digunakan selain cerita random world, ini merupakan kumpulan cerita ane yang kagak perlu di jadiin thread..
denah STM Panzer
Quote:
War, new imperilism, industrial age:Hetazania Dacians
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
Quote:
Naninu
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
Quote:
STM Panzer
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
Quote:
STM Panzer x Naninu: Laknad project (masuk kategori lain di polling
)
Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
)Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
Quote:
Lain-lainnya
Jung Kosim
Jung Kosim
denah STM Panzer
Polling
0 suara
Lebih suka cerita apa?
Diubah oleh mabdulkarim 08-06-2016 18:42
0
8K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#34
Spoiler for 9:
9.Bergerak ke Oasis Kuwah
Pada pagi hari di kota Basarh, aku makan beberapa kurma yang merupakan buah yang banyak jumlahnya di daerah gurun pasir. Rasanya manis dan mengandung karbohidrat yang cukup membuat perut terisi pada pagi hari, aku makan kurma di dalam kemahku dan aku bersiap untuk bergerak ke oasis untuk bertempur melawan pasukan Yama di gurun pasir.
Aku keluar dari kemahku dan melihat pasukanku banyak bersiap untuk bergerak, aku melihat bangunan kota Basarh yang masih rusak akibat pengepungan beberapa waktu lalu. Bangunan yang sudah hancur tetap di tempati penduduk dan kami tidak peduli dengan nasib mereka karena mereka itu bukan bangsa Dacian, penduduk Basarh mendudukan kepala ketika aku dan pasukan Dacian lewat di depan hadapan mereka.
Semenjak aku keluar dari tembok Dacian, aku telah melihat berbagai macam agama seperti Islam dan Kristen. Bangsa Dacian punya agama sendiri yang bernama Dakai, agama Dakai punya tata ibadah dan agama tersebut hanya untuk bangsa Dacian, bangsa lain tidak boleh masuk agama Dakai.
Aku menerapkan toleransi kepada agama-agama dan bangsa lain karena aku tak mau memusuhi agama lain, kalo aku memusuhi agama lain maka potensi memberontak daerah taklukan baru bakal lebih tinggi dari sebelumnya meningat isu agama itu sangat sensitif.
Penganut agama Islam beribadah di Masjid dan Kristen di gereja serta agama Dakai sembahyang di dalam kuil menurut pengamatanku, kemarin sore aku sudah memerintahkan pasukanku untuk membuat kuil-kuil di tempat baru dan melarang orang yang bukan Dacian untuk masuk ke dalam kuil tersebut.
Setiap pagi hari menjelang mentari terbit, aku sering mendengar suara dari masjid-masjid dan penduduk lokal menyebutnya azan yang di gunakan untuk memanggil orang yang beragama islam untuk beribadah bersama-sama di masjid, Azan sering bergema di Mazikaret timur dan Mesopotamia 5 kali sehari yaitu menjelang terbitnya mentari, siang hari, sorehari, petang hari, dan malam hari untuk menunaikan ibadah yang mereka sebut sholat. Mereka punya hari di mana semua pria pergi ke masjid pada tengah hari yang di sebut sholat jumat.
Pada hari minggu kemarin pagi, aku melihat banyak orang yang beragama Kristen pergi ke gereja untuk beribadah. Sungguh, pemandangan yang aku tak bisa dapat ketika aku di dalam daerah asli Dacian karena di Dacian, hanya ada satu agama dan semuanya menganutnya yaitu Dakai.
Kelemahan bangsa Dacian hanya populasinya yang sampai saat ini masih 2 juta dan untuk beranjak ke 3 juta mungkin memakan waktu 30 tahun, maka dari itu bangsa Dacian harus merekrut orang-orang dari bangsa lain dan membuat mereka loyal dengan Dacian agar mereka tidak setengah-setengah bertarungnya. Toleransi adalah satu dari beberapa cara agar penduduk bukan Dacian mau bertempur demi Dacian.
Setiap malam sebelum tidur, aku menulis kejadian yang terjadi kemarin dan hobiku adalah menulis baik catatan harian maupun penelitian. Aku kadang meneliti kebudayaan lokal dan aku bersama beberapa prajurit Dacian serta Joni menterjemahkan buku-buku penting yang masih berbahasa Turks dan Yama untuk di jadikan buku, buku yang sudah di terjemahkan akan di kirim ke Dacian sebagai ilmu baru bagi bangsa Dacian.
Aku sudah menulis buku sejak umur 6 tahun dan sudah 30 buku aku tulis baik fiksi maupun ilmiah, aku juga suka membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuan. Hobi menulis masih kalah dengan hobi melukis Kazrin yang gaya lukisannya Romantitisime yang sangat indah dan detail, ia pernah melukis ayahnya ketika ia masih kecil dan ia pernah melukis lukisan ayahku yang di jadikan ayahku sebagai lukisan favoritnya yang membuatku iri karena aku tak bisa sehebat sepupuku.
Hobi Kazania adalah membuat musik klasik dan ia sering memimpin okestra waktu ia ada di Dacian, musik yang di buat Kazania sangatlah indah dan menakjubkan yang membuatku iri. Sedangkan hobi yang di miliki Zakania adalah berenang dan ia merupakan perenang handal.
Aku sarapan bersama jenderal-jenderalku dan semua jenderalku akan berpisah pada pagi ini untuk misi penaklukan total Mesopotamia yang mungkin memakan waktu 3 minggu, aku berfikir bahwa pasukan Dacian bisa sampai di oasis sebelum pasukan Yama karena kecepatan maksimal pasukan Dacian adalah 20 km dan pasti akan sampai ke oasis pada tanggal 6.
Aku mendengar bahwa pasukan Porto menyerang pantai Yama bagian timur dan aku juga mendengar bahwa kemungkinan pasukan Yama dari Aqaba tidak akan datang bersamaan dengan pasukan Yama dari Muskat meningat bahwa gurun Yama sangat ganas dan sering badai pasir yang menghambat pergerakan pasukan apapun termasuk pasukan badui Yama.
Aku pergi ke tempat kudaku berada dan aku bersama jenderal Zamania meninggalkan tempat ini, aku bersama 9.144 prajurit Dacian yang sudah bercampur dengan prajurit keturunan Turk meninggalkan kota Basarh dan pergi ke arah oasis berada. Aku pernah mendengar bahwa beberapa pasukan Dacian ada yang kimpoi dengan penduduk lokal dan pindah agama, hal tersebut aku biarkan karena budaya Dacian sepertinya akan berasimilasi dengan budaya lokal dan aku membiarkan ada pasukan Dacian yang pindah agama karena itu hak seorang prajurit Dacian.
Anak dari perkimpoian antara dua ras adalah ras baru yang setengah Dacian dan setengah bukan Dacian, ras tersebut adalah level kedua dari ras murni Dacian dan ras di atas ras bukan Dacian. Budaya Dacian akan berakulturasi dengan budaya setempat dan akan menciptakan kebudayaan baru yang mungkin akan muncul sekitar 100 tahun nanti jika bangsa Dacian berhasil menaklukan Turk, Timuria dan Rus.
Aku mendengar bahwa pasukan masih banyak yang terluka akibat pengepungan tapi aku memaksa mereka untuk bergerak hari ini dan mereka menuruti perintah tersebut meskipun mereka sakit, banyak dari mereka yang di perban di beberapa bagian tubuh seperti mata dan dada.
Mereka berjalanan di belakangku dan aku bersama pasukanku berjalan di jalanan kota, kami diperhatikan penduduk di sekitar dan mereka melihat kami dengan pandangan sinis, mungkin mereka tidak suka dengan kami karena kami pernah membakar kota akibat pengepungan Basarh.
Semoga mereka lama-kelamaan suka dengan bangsa pilihan dan jika mereka tidak mau maka aku akan paksakan mereka suka dengan kami.
“Zamania!” sahut aku kepada Zamania yang ada di sebelahku.
“Apa paduka!” tanya Zamania.
“Apakah kita bisa melawan musuh kita dan memenangkan pertempuran melawan musuh kita?”
“Tentu saja iya paduka!” jawab Zamania, “Butuh keyakinan untuk memenangkan pertempuran dan tanpa keyakinan maka pertempuran akan berujung dengan kekalahan!”
“Oh,” ucap aku.
Aku terdiam dan berfikir bahwa jika aku kalah dalam pertempuran ini maka ini bukan kesalahan prajurit tapi kesalahan jenderal karena jika kalah di pertempuran maka itu bukan salah pasukan tapi salah jenderal yang mengatur strategi pertempuran. Oleh karena itu, seorang jenderal di tuntut untuk membimbing kemenangan kepada pasukannya dan kesalahan dalam mengatur taktik harus di hindari, resiko menjadi seorang jenderal lebih besar daripada prajurit karena taktik menentukan nyawa semua pasukan.
Jika taktik jenderal membawa kemenangan dengan kematian di pihaknya sedikit maka itu adalah taktik yang paling di incar para jenderal tapi taktik kemenangan dengan kematian yang banyak di pihaknya merupakan taktik yang paling di hindari banyak jenderal. Taktik yang membawa kekalahan baik sedikit yang mati maupun banyak adalah taktik yang di tinggalkan banyak jenderal karena taktik itu digunakan untuk mencapai satu tujuan yaitu kemenangan.
Aku dan pasukanku bergerak melewati jalan setapak yang mengarah ke arah tenggara kota Basarh, aku melihat di sekitar ada padang gandum yang sebentar lagi datang masa panennya. Aku dan pasukanku berjalan mengikuti jalan setapak ini terus tanpa berhenti, jalan setapak batu ini lama kelamaan hilang di telan pasir dan kami sudah ada di gurun pasir yang orang lokal menyebutnya gurun Kuwah.
Aku meminum air dari kantong dan aku melihat pasukanku sepertinya kehausan setelah berjalan kira-kira 10 km, 1/4 dari 40 km.
Aku melihat keatas mentari ada di atas kepala dan suhu di gurun pasir ini sangatlah panas, keringat berkucuran di kepalaku dan inilah kenapa aku benci gurun pasir. Aku melihat jenderal Zamania kehausan dan aku memberikan kantong minum besar ini kepada Zamania, ia mengambil kantong tersebut dan berkata, “Terima kasih paduka!”
Zamania meminum air yang berisi kantong air dan ia memberikannya kepada aku setelah ia meminum separuh dari kantong air, aku bertanya kepada Zamania, “Jenderal, apakah ada baiknya kita berhenti untu beristirahat?”
“Boleh saja paduka!” jawab Zamania.
Aku langsung memerintahkan pasukan Dacian untuk berhenti dan aku memberi komando kepada mereka untuk beristirahat di tempat ini walaupun tempat ini tidak ada oasis, semua pasukanku duduk di atas pasir dan mereka saling berbagi air minum yang merupakan benda yang sangat harga untuk saat ini. Aku mengeluarkan kompas dari kantong seragamku dan mencari arah tenggara di mana, aku berhasil menemukan arah tenggara di mana dan menunggu pasukanku yang beristirahat.
Aku duduk di kudaku dan kudaku terlihat kehausan, aku turun dari kuda dan memberi minum kudaku karena aku takut kudaku mati kehausan.
Aku berfikir bahwa gurun pasir Yama dan Kuwah adalah tempat yang cocok untuk mengekspolitasi sumber daya minyak, bangsa Dacian telah menggunakan minyak untuk kebutuhan industri semenjak revolusi industri di tahun 1810 dan bangsa Dacian adalah bangsa yang pertama kali yang merevolusi industri di muka bumi ini.
Kerajaan Yama harus di taklukan apapun caranya demi mendapatkan sumberdaya minyak dan kerajaan Yama sendiri belum mengambil minyak bumi untuk industri mereka.
Aku melihat jenderal Zamania memeriksa keadaan pasukan Dacian dan aku melihat tidak ada air di sekitar tempat ini, gurun Kuwah hanya ada satu mata air yaitu oasis Kuwah yang akan menjadi patokan pasukan Yama untuk menyerang Mesopotamia.
Aku melihat pasukanku 40% infanteri, 40% kavaleri, dan 20% artileri. Pasukan kavaleriku rata-rata kelas menengah karena rata-rata pasukan kavaleri pasukan Dacian itu pasukan kelas menengah yang di persenjatai senapan dan pedang serta tombak yang kami sebut nama jenis pasukan tersebut adalah Kazaleri.
Istirahat berlangsung selama 20 menit dan kami melanjutkan perjalanan ke oasis Kuwah, kami pergi ke sana dengan navigasi kompas dan peta yang kami rampas dari kantor Basarh. Kami berjalan dan terus berjalan dengan lambat karena artileri bergerak lambat dan kami tidak bisa meninggalkan artileri yang berjalan sangat lambat, pasukanku sering melihat oasis padahal itu hanya fatamorgana karena banyak pasukanku yang kehausan.
Aku dan pasukanku telah menempuh 20 km selama seharian, kami memutuskan bermalam dan mendirikan kamp yang di sekelilingnya hanya ada pasir. 20 km cukup membuat pasukanku kelelahan dan oasis Kuwah kira-kira 20 km lagi yang pastinya cukup menguras tenaga meningat pasukan Yama dari Aqaba dan Muskat bergerak cepat ke oasis ini untuk menyatukan pasukan.
bersambung
Pada pagi hari di kota Basarh, aku makan beberapa kurma yang merupakan buah yang banyak jumlahnya di daerah gurun pasir. Rasanya manis dan mengandung karbohidrat yang cukup membuat perut terisi pada pagi hari, aku makan kurma di dalam kemahku dan aku bersiap untuk bergerak ke oasis untuk bertempur melawan pasukan Yama di gurun pasir.
Aku keluar dari kemahku dan melihat pasukanku banyak bersiap untuk bergerak, aku melihat bangunan kota Basarh yang masih rusak akibat pengepungan beberapa waktu lalu. Bangunan yang sudah hancur tetap di tempati penduduk dan kami tidak peduli dengan nasib mereka karena mereka itu bukan bangsa Dacian, penduduk Basarh mendudukan kepala ketika aku dan pasukan Dacian lewat di depan hadapan mereka.
Semenjak aku keluar dari tembok Dacian, aku telah melihat berbagai macam agama seperti Islam dan Kristen. Bangsa Dacian punya agama sendiri yang bernama Dakai, agama Dakai punya tata ibadah dan agama tersebut hanya untuk bangsa Dacian, bangsa lain tidak boleh masuk agama Dakai.
Aku menerapkan toleransi kepada agama-agama dan bangsa lain karena aku tak mau memusuhi agama lain, kalo aku memusuhi agama lain maka potensi memberontak daerah taklukan baru bakal lebih tinggi dari sebelumnya meningat isu agama itu sangat sensitif.
Penganut agama Islam beribadah di Masjid dan Kristen di gereja serta agama Dakai sembahyang di dalam kuil menurut pengamatanku, kemarin sore aku sudah memerintahkan pasukanku untuk membuat kuil-kuil di tempat baru dan melarang orang yang bukan Dacian untuk masuk ke dalam kuil tersebut.
Setiap pagi hari menjelang mentari terbit, aku sering mendengar suara dari masjid-masjid dan penduduk lokal menyebutnya azan yang di gunakan untuk memanggil orang yang beragama islam untuk beribadah bersama-sama di masjid, Azan sering bergema di Mazikaret timur dan Mesopotamia 5 kali sehari yaitu menjelang terbitnya mentari, siang hari, sorehari, petang hari, dan malam hari untuk menunaikan ibadah yang mereka sebut sholat. Mereka punya hari di mana semua pria pergi ke masjid pada tengah hari yang di sebut sholat jumat.
Pada hari minggu kemarin pagi, aku melihat banyak orang yang beragama Kristen pergi ke gereja untuk beribadah. Sungguh, pemandangan yang aku tak bisa dapat ketika aku di dalam daerah asli Dacian karena di Dacian, hanya ada satu agama dan semuanya menganutnya yaitu Dakai.
Kelemahan bangsa Dacian hanya populasinya yang sampai saat ini masih 2 juta dan untuk beranjak ke 3 juta mungkin memakan waktu 30 tahun, maka dari itu bangsa Dacian harus merekrut orang-orang dari bangsa lain dan membuat mereka loyal dengan Dacian agar mereka tidak setengah-setengah bertarungnya. Toleransi adalah satu dari beberapa cara agar penduduk bukan Dacian mau bertempur demi Dacian.
Setiap malam sebelum tidur, aku menulis kejadian yang terjadi kemarin dan hobiku adalah menulis baik catatan harian maupun penelitian. Aku kadang meneliti kebudayaan lokal dan aku bersama beberapa prajurit Dacian serta Joni menterjemahkan buku-buku penting yang masih berbahasa Turks dan Yama untuk di jadikan buku, buku yang sudah di terjemahkan akan di kirim ke Dacian sebagai ilmu baru bagi bangsa Dacian.
Aku sudah menulis buku sejak umur 6 tahun dan sudah 30 buku aku tulis baik fiksi maupun ilmiah, aku juga suka membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuan. Hobi menulis masih kalah dengan hobi melukis Kazrin yang gaya lukisannya Romantitisime yang sangat indah dan detail, ia pernah melukis ayahnya ketika ia masih kecil dan ia pernah melukis lukisan ayahku yang di jadikan ayahku sebagai lukisan favoritnya yang membuatku iri karena aku tak bisa sehebat sepupuku.
Hobi Kazania adalah membuat musik klasik dan ia sering memimpin okestra waktu ia ada di Dacian, musik yang di buat Kazania sangatlah indah dan menakjubkan yang membuatku iri. Sedangkan hobi yang di miliki Zakania adalah berenang dan ia merupakan perenang handal.
Aku sarapan bersama jenderal-jenderalku dan semua jenderalku akan berpisah pada pagi ini untuk misi penaklukan total Mesopotamia yang mungkin memakan waktu 3 minggu, aku berfikir bahwa pasukan Dacian bisa sampai di oasis sebelum pasukan Yama karena kecepatan maksimal pasukan Dacian adalah 20 km dan pasti akan sampai ke oasis pada tanggal 6.
Aku mendengar bahwa pasukan Porto menyerang pantai Yama bagian timur dan aku juga mendengar bahwa kemungkinan pasukan Yama dari Aqaba tidak akan datang bersamaan dengan pasukan Yama dari Muskat meningat bahwa gurun Yama sangat ganas dan sering badai pasir yang menghambat pergerakan pasukan apapun termasuk pasukan badui Yama.
Aku pergi ke tempat kudaku berada dan aku bersama jenderal Zamania meninggalkan tempat ini, aku bersama 9.144 prajurit Dacian yang sudah bercampur dengan prajurit keturunan Turk meninggalkan kota Basarh dan pergi ke arah oasis berada. Aku pernah mendengar bahwa beberapa pasukan Dacian ada yang kimpoi dengan penduduk lokal dan pindah agama, hal tersebut aku biarkan karena budaya Dacian sepertinya akan berasimilasi dengan budaya lokal dan aku membiarkan ada pasukan Dacian yang pindah agama karena itu hak seorang prajurit Dacian.
Anak dari perkimpoian antara dua ras adalah ras baru yang setengah Dacian dan setengah bukan Dacian, ras tersebut adalah level kedua dari ras murni Dacian dan ras di atas ras bukan Dacian. Budaya Dacian akan berakulturasi dengan budaya setempat dan akan menciptakan kebudayaan baru yang mungkin akan muncul sekitar 100 tahun nanti jika bangsa Dacian berhasil menaklukan Turk, Timuria dan Rus.
Aku mendengar bahwa pasukan masih banyak yang terluka akibat pengepungan tapi aku memaksa mereka untuk bergerak hari ini dan mereka menuruti perintah tersebut meskipun mereka sakit, banyak dari mereka yang di perban di beberapa bagian tubuh seperti mata dan dada.
Mereka berjalanan di belakangku dan aku bersama pasukanku berjalan di jalanan kota, kami diperhatikan penduduk di sekitar dan mereka melihat kami dengan pandangan sinis, mungkin mereka tidak suka dengan kami karena kami pernah membakar kota akibat pengepungan Basarh.
Semoga mereka lama-kelamaan suka dengan bangsa pilihan dan jika mereka tidak mau maka aku akan paksakan mereka suka dengan kami.
“Zamania!” sahut aku kepada Zamania yang ada di sebelahku.
“Apa paduka!” tanya Zamania.
“Apakah kita bisa melawan musuh kita dan memenangkan pertempuran melawan musuh kita?”
“Tentu saja iya paduka!” jawab Zamania, “Butuh keyakinan untuk memenangkan pertempuran dan tanpa keyakinan maka pertempuran akan berujung dengan kekalahan!”
“Oh,” ucap aku.
Aku terdiam dan berfikir bahwa jika aku kalah dalam pertempuran ini maka ini bukan kesalahan prajurit tapi kesalahan jenderal karena jika kalah di pertempuran maka itu bukan salah pasukan tapi salah jenderal yang mengatur strategi pertempuran. Oleh karena itu, seorang jenderal di tuntut untuk membimbing kemenangan kepada pasukannya dan kesalahan dalam mengatur taktik harus di hindari, resiko menjadi seorang jenderal lebih besar daripada prajurit karena taktik menentukan nyawa semua pasukan.
Jika taktik jenderal membawa kemenangan dengan kematian di pihaknya sedikit maka itu adalah taktik yang paling di incar para jenderal tapi taktik kemenangan dengan kematian yang banyak di pihaknya merupakan taktik yang paling di hindari banyak jenderal. Taktik yang membawa kekalahan baik sedikit yang mati maupun banyak adalah taktik yang di tinggalkan banyak jenderal karena taktik itu digunakan untuk mencapai satu tujuan yaitu kemenangan.
Aku dan pasukanku bergerak melewati jalan setapak yang mengarah ke arah tenggara kota Basarh, aku melihat di sekitar ada padang gandum yang sebentar lagi datang masa panennya. Aku dan pasukanku berjalan mengikuti jalan setapak ini terus tanpa berhenti, jalan setapak batu ini lama kelamaan hilang di telan pasir dan kami sudah ada di gurun pasir yang orang lokal menyebutnya gurun Kuwah.
Aku meminum air dari kantong dan aku melihat pasukanku sepertinya kehausan setelah berjalan kira-kira 10 km, 1/4 dari 40 km.
Aku melihat keatas mentari ada di atas kepala dan suhu di gurun pasir ini sangatlah panas, keringat berkucuran di kepalaku dan inilah kenapa aku benci gurun pasir. Aku melihat jenderal Zamania kehausan dan aku memberikan kantong minum besar ini kepada Zamania, ia mengambil kantong tersebut dan berkata, “Terima kasih paduka!”
Zamania meminum air yang berisi kantong air dan ia memberikannya kepada aku setelah ia meminum separuh dari kantong air, aku bertanya kepada Zamania, “Jenderal, apakah ada baiknya kita berhenti untu beristirahat?”
“Boleh saja paduka!” jawab Zamania.
Aku langsung memerintahkan pasukan Dacian untuk berhenti dan aku memberi komando kepada mereka untuk beristirahat di tempat ini walaupun tempat ini tidak ada oasis, semua pasukanku duduk di atas pasir dan mereka saling berbagi air minum yang merupakan benda yang sangat harga untuk saat ini. Aku mengeluarkan kompas dari kantong seragamku dan mencari arah tenggara di mana, aku berhasil menemukan arah tenggara di mana dan menunggu pasukanku yang beristirahat.
Aku duduk di kudaku dan kudaku terlihat kehausan, aku turun dari kuda dan memberi minum kudaku karena aku takut kudaku mati kehausan.
Aku berfikir bahwa gurun pasir Yama dan Kuwah adalah tempat yang cocok untuk mengekspolitasi sumber daya minyak, bangsa Dacian telah menggunakan minyak untuk kebutuhan industri semenjak revolusi industri di tahun 1810 dan bangsa Dacian adalah bangsa yang pertama kali yang merevolusi industri di muka bumi ini.
Kerajaan Yama harus di taklukan apapun caranya demi mendapatkan sumberdaya minyak dan kerajaan Yama sendiri belum mengambil minyak bumi untuk industri mereka.
Aku melihat jenderal Zamania memeriksa keadaan pasukan Dacian dan aku melihat tidak ada air di sekitar tempat ini, gurun Kuwah hanya ada satu mata air yaitu oasis Kuwah yang akan menjadi patokan pasukan Yama untuk menyerang Mesopotamia.
Aku melihat pasukanku 40% infanteri, 40% kavaleri, dan 20% artileri. Pasukan kavaleriku rata-rata kelas menengah karena rata-rata pasukan kavaleri pasukan Dacian itu pasukan kelas menengah yang di persenjatai senapan dan pedang serta tombak yang kami sebut nama jenis pasukan tersebut adalah Kazaleri.
Istirahat berlangsung selama 20 menit dan kami melanjutkan perjalanan ke oasis Kuwah, kami pergi ke sana dengan navigasi kompas dan peta yang kami rampas dari kantor Basarh. Kami berjalan dan terus berjalan dengan lambat karena artileri bergerak lambat dan kami tidak bisa meninggalkan artileri yang berjalan sangat lambat, pasukanku sering melihat oasis padahal itu hanya fatamorgana karena banyak pasukanku yang kehausan.
Aku dan pasukanku telah menempuh 20 km selama seharian, kami memutuskan bermalam dan mendirikan kamp yang di sekelilingnya hanya ada pasir. 20 km cukup membuat pasukanku kelelahan dan oasis Kuwah kira-kira 20 km lagi yang pastinya cukup menguras tenaga meningat pasukan Yama dari Aqaba dan Muskat bergerak cepat ke oasis ini untuk menyatukan pasukan.
bersambung
0
Kutip
Balas