TS
mabdulkarim
Kumpulan cerita Karim
ini thread digunakan selain cerita random world, ini merupakan kumpulan cerita ane yang kagak perlu di jadiin thread..
denah STM Panzer
Quote:
War, new imperilism, industrial age:Hetazania Dacians
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
Quote:
Naninu
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
Quote:
STM Panzer
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
Quote:
STM Panzer x Naninu: Laknad project (masuk kategori lain di polling
)
Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
)Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
Quote:
Lain-lainnya
Jung Kosim
Jung Kosim
denah STM Panzer
Polling
0 suara
Lebih suka cerita apa?
Diubah oleh mabdulkarim 08-06-2016 18:42
0
8K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#28
Spoiler for 7:
7. Pengepungan Basarh.
“Tembak!” teriak salah satu letnan di garis depan yang terdengar sampai ke belakang, meriam Dacian langsung menembaki tembokan dan gerbang Basarh, semua tembakan pasukan Dacian 90% mengarah ke sasarannya di karenakan pasukan Dacian sudah menghitung posisi serangan dengan ilmu matematika kelas tinggi yang di kuasai semua pasukan Dacian termasuk aku.
Dinding Basarh terlihat rusak namun tidak hancur maupun jebol, pasukan Turk tak tinggal diam dan mereka menembakan meriam dari atas tembok, meriam-meriam Turk yang jumlahnya sekitar 30an menembaki pasukan
Dacian yang memegang kendali meriam namun tembakan yang pas di sasarannya hanya 60% karena mereka tidak menghitung arah angin, kecepatan tembakan meriam, ketinggian tembok, jarak meriam dengan sasaran dan lain-lain padahal hal tersebut di gunakan pasukan Dacian tiap pengepungan.
Pasukan Dacian yang memegang kendali meriam banyak yang mati terkena tembakan meriam Turk, aku melihat dari teropongku bahwa pasukan Turk tidak menembaki pasukan Dacian dengan senapan mereka dan aku berfikir kenapa mereka tidak menembaki pasukan Dacian padahal mereka punya peluang.
Aku menoleh ke sebelah kanan dan aku bertanya kepada Joni, “Jenderal Joni, kenapa pasukan Turk tak menembak pasukan Dacian dengan senapan mereka?”
“Mungkin karena mereka tak mau membuang bubuk mesiu mereka dan mereka tahu bahwa musuh agak jauh dari mereka dan mereka sepertinya hanya mau menembak jika pasukan kita lewat jembatan wahai paduka!” jawab Joni.
“Oh, “ucap aku.
Aku dan para jenderal melihat keadaan di depan dengan menggunakan teropong masing-masing, dentuman meriam terdengar berkali-kali dan asap meriam yang pekat terlihat sangat jelas walaupun tidak memakai teropong.
Pasukan Turk menembaki pasukan kami dengan meriam mereka di tembok dan aku melihat beberapa bagian tembok sudah mulai rubuh termasuk gerbang kayu Basarh yang sepertinya sudah mulai hancur.
Meriam Dacian dan Turk saling tembak menembak satu sama lain, meriam Dacian perlu 4 menit untuk mengisi ulang sehingga bakal memakan waktu untuk menghancurkan gerbang walaupun ada sekitar 200 meriam yang di kerahkan untuk menghancurkan gerbang Basarh.
Aku berkata kepada jenderal Jokzani, “Jenderal, katakan kepada letnan Ikzamina bahwa jika ia berhasil menaklukan kota hanya dengan serangan pertama maka pangkatnya akan naik jadi brigadir!”
“Baik paduka!” ujar jenderal Jokzani.
Jenderal Jokzani mau berlari ke depan dengan menunggani kuda hitamnya namun aku menghentikannya dan berkata, “Jenderal, tunggu!”
Jokzani menghentikan kudanya dan bertanya kepadaku, “Ada apa paduka?”
“Aku ingin pasukan Dacian tidak membunuh rakyat sipil untuk menunjukan bahwa bangsa Dacian tidak kejam dan mereka boleh di bunuh jika mereka menyerang pasukan Dacian!” jawab aku.
“Baik paduka!” ucap Jokzani dan ia pergi meninggalkan tempat ini.
30 menit kemudian…
Meriam Dacian di tembakan lagi dan aku melihat hal tersebut dari teropongku, gerbang hancur karena tembakan meriam Dacian dan aku menurunkan teropongku lalu berteriak, “Kavaleri, serang!”
Aku melihat pasukan kavaleri sekitar 1000 kavaleri di bawah pimpinan letnan Ikzamina langsung berlari dengan cepat ke arah jembatan dan sekitar 2000 pasukan infanteri berlari di belakang pasukan kavaleri dengan membawa tangga, aku melihat pasukan Turk di atas tembok mengarahkan meriam mereka dan aku langsung berkata kepada Kozamina yang ada di sebelah kiriku, “Jenderal Kozamina, perintahkan meriam-meriam untuk menembak ke tembok lagi sampai pasukan infanteri menaruh tangga di tembok!”
“Baik paduka Hetazania!” ujar Kozamina lalu ia berlari dengan menggunakan kudanya ke depan.
Aku melihat dari teropong pasukan Turk mengarahkan senapan mereka ke pasukan kavaleri dan menembaki pasukan kavaleri dengan senapan mereka, banyak pasukan Dacian kavaleri tertembak dan terjatuh dari kuda mereka.
Aku melihat dari teropong pasukan kavaleri terus berlari dengan kencang dan mereka sampai di gerbang, mereka terlihat bertempur melawan pasukan Turk yang ada di gerbang dan mereka bertempur sangat sengit dengan pasukan Turk.
Jembatan yang di penuhi pasukan kavaleri dan infanteri di tembaki senapan serta meriam yang membuat banyak pasukan kavaleri berserta infanteri tewas, jembatan sangat sempit dan menjadi ajang pembantaian pasukan Dacian.
Aku tak tega melihat pasukan Dacian di bantai karena aku tidak tega melihat para pejuang tanah Dacian mati sebelum bertempur, aku melihat beberapa bagian tembok hancur akibat tembakan meriam Dacian dan banyak pasukan Turk terpental.
Aku melihat meriam Turk yang ada di tembok jatuh dalam sungai dan aku melihat pasukan Dacian berhasil sampai di depan tembok gerbang lalu mereka menaruh tangga di tembok, pasukan Dacian menaiki tangga dan pasukan Turk menembaki pasukan Dacian yang menaiki tangga lalu banyak pasukan Dacian terjatuh dan mati.
Pasukan kavaleri terlihat sudah ada di dalam kota dan aku bertanya kepada Joni yang ada di dekatku, “Joni, apakah kita harus masuk ke dalam kota?”
“Jangan paduka, nyawa anda lebih berharga dari nyawa 10.000 unit pasukan Dacian!” jawab Joni.
“Joni, aku ingin tahu apa yang terjadi di dalam kota!” ujar aku, “Dan mungkin dengan kehadiranku maka semangat tempur pasukan Dacian akan naik dan kota akan lebih mudah di taklukan kita!”
“Paduka!” sahut Jokzani yang ada di sebelahku, “Jika kau lakukan hal itu maka 70% anda akan mati dan jika anda mati maka ambisi anda akan berhenti sampai ini! Ingat tujuan anda, menaklukan Turk dan Basarh hanya satu dari penaklukan kesultanan Turk!”
“Iya paduka! Dengar apa yang di katakan jenderal Jokzani!” ujar Joni, “Jangan keras kepala paduka!”
Aku menundukan kepalaku dan berkata kepada para jenderal, “Maaf!”
“Ya paduka!” ucap pada jenderal.
Aku melihat dari teropong jembatan masih dipenuhi pasukan Dacian dan banyak pasukan Dacian yang mati di jembatan karena di tembaki meriam maupun senapan, pasukan Dacian terlihat dari teropongku tetap berusaha berlari ke arah gerbang walaupun mereka terluka parah. Mereka tidak mau mati hanya karena hal itu karena mereka adalah pejuang Dacian yang berjuang demi membawa kejayaan pada Dacian dan mereka tak boleh mati sebelum membunuh musuh mereka.
Pasukan Dacian berhasil menaiki tembok dan terlihat sedang ada bayonet dengan pasukan Turk, gelombang bantuan terus berdatangan sampai-sampai pasukan Turk terlihat kewalahan melawan pasukan Dacian di tembok.
Aku melihat seorang pasukan Dacian menaiki tembok dan mengibar-ngibarkan bendera Dacian, orang tersebut aku lihat dari teropong terluka parah dan orang tersebut terjatuh ke sungai karena ada seorang pasukan Turk yang masih hidup di belakangnya yang menembak dengan senapannya, pasukan Turk yang terlihat mata kirinya berdarah mengibarkan bendara Turk namun kibaran tersebut tak berlangsung lama karena ia langsung mati tertembak oleh pasukan Dacian yang ada di dekatnya.
Pasukan Dacian yang ada di jembatan membantu pasukan Dacian yang sedang bertempur di tembok dan di dalam kota, pertempuran tersebut mengakibatkan satu kota terbakar dan aku kesal karena kota Basarh terbakar.
“Kota Basarh terbakar dan kenapa kota tersebut bisa terbakar?” tanya aku,”Bagaimana dengan nasib penduduk Basarh? Jika kota terbakar tak memungkinankan banyak penduduk Basarh yang mati! Aku minta penjelasan hal itu pada letnan Ikzamina!”
“Hei jenderal Jokzani!” sahut aku kepada jenderal Jokzani yang ada di dekatku, “Apakah kau tidak bilang perintahku kepada Ikzamina dan pasukannya?”
“Paduka, saya sudah mengatakan kepada mereka!” jawab jenderal Jokzani, “Pasti mereka punya alasan yang tepat kenapa mereka membakar kota!”
“Benar apa yang dikatakan Jokzani!” ucap Joni yang ada di sebelahku, “Pasti mereka membakar kota karena mereka di serang penduduk sipil!”
“Oh,” ucap aku, “Jika itu benar maka penduduk Basarh tidak mau takluk dengan bangsa pilihan seperti kita tapi tetap saja kita tak boleh membinasakan penduduk yang sudah menyerah!”
“Oke paduka!” ucap para jenderal di dekatku.
Pertempuran terus berlangsung dan pertempuran di dalam kota Basarh sepertinya makin memanans, aku dan para jenderal hanya bisa melihat dari jauh dengan menggunakan teropong kami.
50 menit kemudian…
Aku dan para jenderal melihat tembok kota sepertinya sudah jatuh ke tangan pasukan Dacian, pasukan Dacian yang ada di tempat ini berjalan di jembatan dengan tenang dan memasuki kota Basarh.
Aku dan para jenderal berjalan mengikuti pasukan Dacian karena kota sudah jatuh ke tangan Dacian. Aku melihat di jembatan banyak pejuang Dacian yang mati dan pasukan Dacian mengambil mayat-mayat para pasukan Dacian yang sudah mati di jembatan, aku dan para jenderal masuk ke dalam kota lalu kami di sambut sorakan pasukan Dacian yang ada di kota.
Aku melihat banyak bangunan kota yang hangus terbakar dan melihat banyak mayat bertebaran di kota ini baik mayat pasukan Dacian maupun pasukan Turk. Aku melihat di pinggir jalan ini banyak pasukan Dacian yang bersorak ria karena kedatanganku dan mereka terlihat banyak luka karena penyerangan ke Basarh.
“Banyak sekali mayat di sini!” ujar aku sambil menunggangi kuda.
“Iya paduka, kebanyakan pasukan Turk dan pasukan Dacian!” ujar Joni yang berjalan dengan menaiki kudanya yang ada di sebelah kananku.
“Semoga korban dari kita tidak banyak!” ujar aku.
“Semoga!” ucap Joni.
“Paduka Hetazania, anda di tunggu letnan Ikzamina di lapangan Basarh!” ujar Kozamina yang datang tiba-tiba, “Semua masyarakat Basarh yang masih hidup ada di lapangan tersebut dan letnan Ikzamina menunggu perintah untuk mengapakan penduduk Basarh!”
“Oh,” ucap aku, “Tunjukan tempatnya kepadaku!”
“Baik paduka!” ujar Kozamina, aku dan para jenderal berserta pasukanku mengikuti Kozamina. Kozamina pergi ke lapangan dan kami mengikutinya.
Sesampainya aku di lapangan, aku melihat sekitar ribuan masyarakat Basarh duduk di lapangan dan tampang mereka sepertinya menunjukan pasrah dengan nasib mereka.
Aku melihat yang duduk di lapangan kebanyakan wanita, anak-anak, dan manula yang tidak mampu bertarung melawan kami. Aku mendengar bahwa hampir semua laki-laki dewasa membantu pasukan Turk melawan pasukan Dacian dan hampir semua laki-laki dewasa di kota ini mati semua sehingga hanya sedikit laki-laki dewasa yang duduk di lapangan.
Aku turun dari kudaku dan berkata kepada semua orang Basarh yang ada di sini, “Wahai penduduk Basarh, aku berikan kalian jaminan keamanan dan kehidupan seperti biasa asal kalian tunduk kepada bangsa Dacian!”
Aku melihat penduduk Basarh tidak mengerti bahasaku dan aku melihat Joni berbicara kepada mereka semua, sepertinya ia menterjemahkan apa yang aku katakan ke bahasa Turk, Joni bisa bahasa Turk dan ia sering menterjemahkan perkataanku kepada penduduk-penduduk di wilayah Turk.
Salah satu perwakilan penduduk Basarh maju kedepan dan berbicara dengan Joni, perwakilan tersebut kembali duduk di tanah lapangan dan Joni berkata kepadaku, “Paduka Hetazania, mereka mau tunduk dengan bangsa Dacian!”
“Bagus!” ucap aku, “Suruh mereka kembali ke rumah mereka walaupun rumah mereka hancur karena pertempuran ini!”
“Baik paduka!” ucap Joni.
Joni langsung berkata dengan bahasa Turk kepada orang-orang Basarh dan orang-orang Basarh berdiri lalu mereka pergi ke rumah mereka walaupun ada dari rumah mereka yang hancur.
Aku sering melakukan hal itu terhadap kota-kota taklukanku, hanya kota Mazikaret timur saja yang aku bantai semua warganya dan aku tak mau mengulangi kesalahan tersebut karena jika aku membantai seluruh warga yang tak bersalah maka aku akan lebih kejam daripada kedua kakakku. Aku mendengar bahwa kedua kakakku tak pernah membantai warga yang tak menyerang mereka dan aku harus bisa lebih baik dari mereka berdua.
Aku dan pasukanku bermalam di kota Basarh, kami belum merencanakan apa yang akan kami lakukan ke depan.
Aku berencana untuk menahan pasukan Yama yang dikabarkan akan bergerak ke Basarh dan pasukan Dacian harus menahan pasukan Yama agar Basarh tidak jatuh ke tangan Yama, aku berfikir mungkin lebih baik menunggu bala bantuan Kazrin tapi bantuan Kazrin mungkin akan datang sekitar 1 bulan lagi karena dari sini ke Dacian memakan waktu 1 bulan jika berjalan menaiki kuda maupun berjalan kaki secara masal.
Sekitar 2.192 prajurit Dacian tewas di pertempuran ini dan sekitar 12.234 gabungan pasukan Turk dengan masyarakat biasa tewas di pertempuran ini, 4.231 prajurit Dacian terluka dan 7.325 masyarakat biasa terluka karena pertempuran ini. Letnan Ikzamina naik pangkat jadi brigadir dan aku lantik dia di kemahku, aku dan pasukan Dacian membuat kemah di lapangan Basarh.
Pasukan Dacian yang ada di kamp
Bersambung
“Tembak!” teriak salah satu letnan di garis depan yang terdengar sampai ke belakang, meriam Dacian langsung menembaki tembokan dan gerbang Basarh, semua tembakan pasukan Dacian 90% mengarah ke sasarannya di karenakan pasukan Dacian sudah menghitung posisi serangan dengan ilmu matematika kelas tinggi yang di kuasai semua pasukan Dacian termasuk aku.
Dinding Basarh terlihat rusak namun tidak hancur maupun jebol, pasukan Turk tak tinggal diam dan mereka menembakan meriam dari atas tembok, meriam-meriam Turk yang jumlahnya sekitar 30an menembaki pasukan
Dacian yang memegang kendali meriam namun tembakan yang pas di sasarannya hanya 60% karena mereka tidak menghitung arah angin, kecepatan tembakan meriam, ketinggian tembok, jarak meriam dengan sasaran dan lain-lain padahal hal tersebut di gunakan pasukan Dacian tiap pengepungan.
Pasukan Dacian yang memegang kendali meriam banyak yang mati terkena tembakan meriam Turk, aku melihat dari teropongku bahwa pasukan Turk tidak menembaki pasukan Dacian dengan senapan mereka dan aku berfikir kenapa mereka tidak menembaki pasukan Dacian padahal mereka punya peluang.
Aku menoleh ke sebelah kanan dan aku bertanya kepada Joni, “Jenderal Joni, kenapa pasukan Turk tak menembak pasukan Dacian dengan senapan mereka?”
“Mungkin karena mereka tak mau membuang bubuk mesiu mereka dan mereka tahu bahwa musuh agak jauh dari mereka dan mereka sepertinya hanya mau menembak jika pasukan kita lewat jembatan wahai paduka!” jawab Joni.
“Oh, “ucap aku.
Aku dan para jenderal melihat keadaan di depan dengan menggunakan teropong masing-masing, dentuman meriam terdengar berkali-kali dan asap meriam yang pekat terlihat sangat jelas walaupun tidak memakai teropong.
Pasukan Turk menembaki pasukan kami dengan meriam mereka di tembok dan aku melihat beberapa bagian tembok sudah mulai rubuh termasuk gerbang kayu Basarh yang sepertinya sudah mulai hancur.
Meriam Dacian dan Turk saling tembak menembak satu sama lain, meriam Dacian perlu 4 menit untuk mengisi ulang sehingga bakal memakan waktu untuk menghancurkan gerbang walaupun ada sekitar 200 meriam yang di kerahkan untuk menghancurkan gerbang Basarh.
Aku berkata kepada jenderal Jokzani, “Jenderal, katakan kepada letnan Ikzamina bahwa jika ia berhasil menaklukan kota hanya dengan serangan pertama maka pangkatnya akan naik jadi brigadir!”
“Baik paduka!” ujar jenderal Jokzani.
Jenderal Jokzani mau berlari ke depan dengan menunggani kuda hitamnya namun aku menghentikannya dan berkata, “Jenderal, tunggu!”
Jokzani menghentikan kudanya dan bertanya kepadaku, “Ada apa paduka?”
“Aku ingin pasukan Dacian tidak membunuh rakyat sipil untuk menunjukan bahwa bangsa Dacian tidak kejam dan mereka boleh di bunuh jika mereka menyerang pasukan Dacian!” jawab aku.
“Baik paduka!” ucap Jokzani dan ia pergi meninggalkan tempat ini.
30 menit kemudian…
Meriam Dacian di tembakan lagi dan aku melihat hal tersebut dari teropongku, gerbang hancur karena tembakan meriam Dacian dan aku menurunkan teropongku lalu berteriak, “Kavaleri, serang!”
Aku melihat pasukan kavaleri sekitar 1000 kavaleri di bawah pimpinan letnan Ikzamina langsung berlari dengan cepat ke arah jembatan dan sekitar 2000 pasukan infanteri berlari di belakang pasukan kavaleri dengan membawa tangga, aku melihat pasukan Turk di atas tembok mengarahkan meriam mereka dan aku langsung berkata kepada Kozamina yang ada di sebelah kiriku, “Jenderal Kozamina, perintahkan meriam-meriam untuk menembak ke tembok lagi sampai pasukan infanteri menaruh tangga di tembok!”
“Baik paduka Hetazania!” ujar Kozamina lalu ia berlari dengan menggunakan kudanya ke depan.
Aku melihat dari teropong pasukan Turk mengarahkan senapan mereka ke pasukan kavaleri dan menembaki pasukan kavaleri dengan senapan mereka, banyak pasukan Dacian kavaleri tertembak dan terjatuh dari kuda mereka.
Aku melihat dari teropong pasukan kavaleri terus berlari dengan kencang dan mereka sampai di gerbang, mereka terlihat bertempur melawan pasukan Turk yang ada di gerbang dan mereka bertempur sangat sengit dengan pasukan Turk.
Jembatan yang di penuhi pasukan kavaleri dan infanteri di tembaki senapan serta meriam yang membuat banyak pasukan kavaleri berserta infanteri tewas, jembatan sangat sempit dan menjadi ajang pembantaian pasukan Dacian.
Aku tak tega melihat pasukan Dacian di bantai karena aku tidak tega melihat para pejuang tanah Dacian mati sebelum bertempur, aku melihat beberapa bagian tembok hancur akibat tembakan meriam Dacian dan banyak pasukan Turk terpental.
Aku melihat meriam Turk yang ada di tembok jatuh dalam sungai dan aku melihat pasukan Dacian berhasil sampai di depan tembok gerbang lalu mereka menaruh tangga di tembok, pasukan Dacian menaiki tangga dan pasukan Turk menembaki pasukan Dacian yang menaiki tangga lalu banyak pasukan Dacian terjatuh dan mati.
Pasukan kavaleri terlihat sudah ada di dalam kota dan aku bertanya kepada Joni yang ada di dekatku, “Joni, apakah kita harus masuk ke dalam kota?”
“Jangan paduka, nyawa anda lebih berharga dari nyawa 10.000 unit pasukan Dacian!” jawab Joni.
“Joni, aku ingin tahu apa yang terjadi di dalam kota!” ujar aku, “Dan mungkin dengan kehadiranku maka semangat tempur pasukan Dacian akan naik dan kota akan lebih mudah di taklukan kita!”
“Paduka!” sahut Jokzani yang ada di sebelahku, “Jika kau lakukan hal itu maka 70% anda akan mati dan jika anda mati maka ambisi anda akan berhenti sampai ini! Ingat tujuan anda, menaklukan Turk dan Basarh hanya satu dari penaklukan kesultanan Turk!”
“Iya paduka! Dengar apa yang di katakan jenderal Jokzani!” ujar Joni, “Jangan keras kepala paduka!”
Aku menundukan kepalaku dan berkata kepada para jenderal, “Maaf!”
“Ya paduka!” ucap pada jenderal.
Aku melihat dari teropong jembatan masih dipenuhi pasukan Dacian dan banyak pasukan Dacian yang mati di jembatan karena di tembaki meriam maupun senapan, pasukan Dacian terlihat dari teropongku tetap berusaha berlari ke arah gerbang walaupun mereka terluka parah. Mereka tidak mau mati hanya karena hal itu karena mereka adalah pejuang Dacian yang berjuang demi membawa kejayaan pada Dacian dan mereka tak boleh mati sebelum membunuh musuh mereka.
Pasukan Dacian berhasil menaiki tembok dan terlihat sedang ada bayonet dengan pasukan Turk, gelombang bantuan terus berdatangan sampai-sampai pasukan Turk terlihat kewalahan melawan pasukan Dacian di tembok.
Aku melihat seorang pasukan Dacian menaiki tembok dan mengibar-ngibarkan bendera Dacian, orang tersebut aku lihat dari teropong terluka parah dan orang tersebut terjatuh ke sungai karena ada seorang pasukan Turk yang masih hidup di belakangnya yang menembak dengan senapannya, pasukan Turk yang terlihat mata kirinya berdarah mengibarkan bendara Turk namun kibaran tersebut tak berlangsung lama karena ia langsung mati tertembak oleh pasukan Dacian yang ada di dekatnya.
Pasukan Dacian yang ada di jembatan membantu pasukan Dacian yang sedang bertempur di tembok dan di dalam kota, pertempuran tersebut mengakibatkan satu kota terbakar dan aku kesal karena kota Basarh terbakar.
“Kota Basarh terbakar dan kenapa kota tersebut bisa terbakar?” tanya aku,”Bagaimana dengan nasib penduduk Basarh? Jika kota terbakar tak memungkinankan banyak penduduk Basarh yang mati! Aku minta penjelasan hal itu pada letnan Ikzamina!”
“Hei jenderal Jokzani!” sahut aku kepada jenderal Jokzani yang ada di dekatku, “Apakah kau tidak bilang perintahku kepada Ikzamina dan pasukannya?”
“Paduka, saya sudah mengatakan kepada mereka!” jawab jenderal Jokzani, “Pasti mereka punya alasan yang tepat kenapa mereka membakar kota!”
“Benar apa yang dikatakan Jokzani!” ucap Joni yang ada di sebelahku, “Pasti mereka membakar kota karena mereka di serang penduduk sipil!”
“Oh,” ucap aku, “Jika itu benar maka penduduk Basarh tidak mau takluk dengan bangsa pilihan seperti kita tapi tetap saja kita tak boleh membinasakan penduduk yang sudah menyerah!”
“Oke paduka!” ucap para jenderal di dekatku.
Pertempuran terus berlangsung dan pertempuran di dalam kota Basarh sepertinya makin memanans, aku dan para jenderal hanya bisa melihat dari jauh dengan menggunakan teropong kami.
50 menit kemudian…
Aku dan para jenderal melihat tembok kota sepertinya sudah jatuh ke tangan pasukan Dacian, pasukan Dacian yang ada di tempat ini berjalan di jembatan dengan tenang dan memasuki kota Basarh.
Aku dan para jenderal berjalan mengikuti pasukan Dacian karena kota sudah jatuh ke tangan Dacian. Aku melihat di jembatan banyak pejuang Dacian yang mati dan pasukan Dacian mengambil mayat-mayat para pasukan Dacian yang sudah mati di jembatan, aku dan para jenderal masuk ke dalam kota lalu kami di sambut sorakan pasukan Dacian yang ada di kota.
Aku melihat banyak bangunan kota yang hangus terbakar dan melihat banyak mayat bertebaran di kota ini baik mayat pasukan Dacian maupun pasukan Turk. Aku melihat di pinggir jalan ini banyak pasukan Dacian yang bersorak ria karena kedatanganku dan mereka terlihat banyak luka karena penyerangan ke Basarh.
“Banyak sekali mayat di sini!” ujar aku sambil menunggangi kuda.
“Iya paduka, kebanyakan pasukan Turk dan pasukan Dacian!” ujar Joni yang berjalan dengan menaiki kudanya yang ada di sebelah kananku.
“Semoga korban dari kita tidak banyak!” ujar aku.
“Semoga!” ucap Joni.
“Paduka Hetazania, anda di tunggu letnan Ikzamina di lapangan Basarh!” ujar Kozamina yang datang tiba-tiba, “Semua masyarakat Basarh yang masih hidup ada di lapangan tersebut dan letnan Ikzamina menunggu perintah untuk mengapakan penduduk Basarh!”
“Oh,” ucap aku, “Tunjukan tempatnya kepadaku!”
“Baik paduka!” ujar Kozamina, aku dan para jenderal berserta pasukanku mengikuti Kozamina. Kozamina pergi ke lapangan dan kami mengikutinya.
Sesampainya aku di lapangan, aku melihat sekitar ribuan masyarakat Basarh duduk di lapangan dan tampang mereka sepertinya menunjukan pasrah dengan nasib mereka.
Aku melihat yang duduk di lapangan kebanyakan wanita, anak-anak, dan manula yang tidak mampu bertarung melawan kami. Aku mendengar bahwa hampir semua laki-laki dewasa membantu pasukan Turk melawan pasukan Dacian dan hampir semua laki-laki dewasa di kota ini mati semua sehingga hanya sedikit laki-laki dewasa yang duduk di lapangan.
Aku turun dari kudaku dan berkata kepada semua orang Basarh yang ada di sini, “Wahai penduduk Basarh, aku berikan kalian jaminan keamanan dan kehidupan seperti biasa asal kalian tunduk kepada bangsa Dacian!”
Aku melihat penduduk Basarh tidak mengerti bahasaku dan aku melihat Joni berbicara kepada mereka semua, sepertinya ia menterjemahkan apa yang aku katakan ke bahasa Turk, Joni bisa bahasa Turk dan ia sering menterjemahkan perkataanku kepada penduduk-penduduk di wilayah Turk.
Salah satu perwakilan penduduk Basarh maju kedepan dan berbicara dengan Joni, perwakilan tersebut kembali duduk di tanah lapangan dan Joni berkata kepadaku, “Paduka Hetazania, mereka mau tunduk dengan bangsa Dacian!”
“Bagus!” ucap aku, “Suruh mereka kembali ke rumah mereka walaupun rumah mereka hancur karena pertempuran ini!”
“Baik paduka!” ucap Joni.
Joni langsung berkata dengan bahasa Turk kepada orang-orang Basarh dan orang-orang Basarh berdiri lalu mereka pergi ke rumah mereka walaupun ada dari rumah mereka yang hancur.
Aku sering melakukan hal itu terhadap kota-kota taklukanku, hanya kota Mazikaret timur saja yang aku bantai semua warganya dan aku tak mau mengulangi kesalahan tersebut karena jika aku membantai seluruh warga yang tak bersalah maka aku akan lebih kejam daripada kedua kakakku. Aku mendengar bahwa kedua kakakku tak pernah membantai warga yang tak menyerang mereka dan aku harus bisa lebih baik dari mereka berdua.
Aku dan pasukanku bermalam di kota Basarh, kami belum merencanakan apa yang akan kami lakukan ke depan.
Aku berencana untuk menahan pasukan Yama yang dikabarkan akan bergerak ke Basarh dan pasukan Dacian harus menahan pasukan Yama agar Basarh tidak jatuh ke tangan Yama, aku berfikir mungkin lebih baik menunggu bala bantuan Kazrin tapi bantuan Kazrin mungkin akan datang sekitar 1 bulan lagi karena dari sini ke Dacian memakan waktu 1 bulan jika berjalan menaiki kuda maupun berjalan kaki secara masal.
Sekitar 2.192 prajurit Dacian tewas di pertempuran ini dan sekitar 12.234 gabungan pasukan Turk dengan masyarakat biasa tewas di pertempuran ini, 4.231 prajurit Dacian terluka dan 7.325 masyarakat biasa terluka karena pertempuran ini. Letnan Ikzamina naik pangkat jadi brigadir dan aku lantik dia di kemahku, aku dan pasukan Dacian membuat kemah di lapangan Basarh.
Pasukan Dacian yang ada di kamp
Bersambung
0
Kutip
Balas