TS
mabdulkarim
Kumpulan cerita Karim
ini thread digunakan selain cerita random world, ini merupakan kumpulan cerita ane yang kagak perlu di jadiin thread..
denah STM Panzer
Quote:
War, new imperilism, industrial age:Hetazania Dacians
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
Quote:
Naninu
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
Quote:
STM Panzer
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
Quote:
STM Panzer x Naninu: Laknad project (masuk kategori lain di polling
)
Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
)Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
Quote:
Lain-lainnya
Jung Kosim
Jung Kosim
denah STM Panzer
Polling
0 suara
Lebih suka cerita apa?
Diubah oleh mabdulkarim 08-06-2016 18:42
0
8K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#27
Spoiler for 6:
6. Persiapan penyerbuan ke Barash
Aku bangun dari tidurku dan aku keluar dari kemahku, aku melihat sudah pagi dan aku melihat pasukanku pergi ke tempat di mana di sediakan sarapan. Aku melihat Joni berlari ke arahku dan ia berkata, “Paduka Hetazania!”
“Apa Joni?” tanya aku.
“Aku baru ingat bahwa kita tak punya kayu untuk membuat perahu-perahu!” jawab Joni, “Jadi taktik anda tak bisa di terapkan wahai paduka!”
Aku terkejut dan baru ingat bahwa di gurun pasir seperti ini kayu tidak bisa ditemukan walaupun ada pohon tapi pohon di gurun pasir tidak cukup untuk membuat banyak perahu mengingat jumlah pohon di gurun terbatas apalaig di sini tidak ada sekitar kamp ini tidak ada pohon.
“Apakah paduka punya rencana lain?” tanya Joni.
“Panggil semua jenderal ke kampku sekarang juga!” jawab aku, “Oh ya, jangan lupa bilang bahwa semua jenderal akan makan di kemahku jadi jangan makan dulu!”
“Baik tuan!” ucap Joni lalu ia pergi meninggalkan aku.
Aku langsung memanggil prajurit yang berjalan di depanku, “Hei kau!”
Prajurit tersebut yang merupakan prajurit infanteri menoleh dan bertanya, “Ada apa paduka?”
“Bilang kepada koki bahwa aku dan 5 jenderal akan makan di kemahku!” jawab aku.
“Baik paduka!” ucap prajurit tersebut, prajurit tersebut meninggalkan tempat ini dan aku masuk ke dalam kemahku. Aku memakai seragamku dan memasang semua mendali yang aku punya pada seragam ini, aku duduk di kursiku dan para koki masuk ke dalam kemahku lalu mereka menyiapkan makanan di meja ini.
Setelah makanan sudah tersedia di atas meja, para jenderal masuk dengan mengenakan seragam kebesaran mereka yang sangat mereka banggakan. Aku berdiri dan berkata, “Selamat datang para jenderal! Silahkan kalian duduk di tempat duduk yang sudah di siapkan!”
Para jenderal duduk di tempat duduk masing-masing dan aku berkata, “Ayo makan!”
Para jenderal menggambil garpu dan pisau lalu mereka makan steak daging sapi yang ada di piring masing-masing, kami menikmati sarapan tersebut yang cukup mengisi perut kami. Setelah kami sarapan, para prajurit masuk ke kemah dan menggambil piring-piring kotor yang ada di meja ini.
Setelah itu, aku mengelar peta di atas meja dan berkata kepada para jenderalku, “Para jenderal terbaik Dacian! Taktik saya ubah karena kita tak bisa mendapatkan kayu untuk membuat perahu!”
“Oh, ya!” ujar para jenderal, “Kami sudah tahu hal itu wahai paduka dari kemarin!”
“Kenapa kalian tidak memberi tahu aku soal itu?” tanya aku kepada para jenderal.
“Karena tidak sopan mengkritik kebijakan orang seperti paduka!” jawab para jenderal.
“Oh,” ucap aku, “Kalian boleh mengkritik kebijakanku karena aku butuh saran dari orang-orang yang sudah berpengalaman seperti kalian!”
“Baik paduka!” ucap para jenderal.
“Oke, rencana apa yang kita akan pakai untuk menyerang kota Basarh?” tanya aku kepada para jenderal, “Ada yang punya pendapat?”
“Paduka Hetazania!” sahut Kozamina, “Saya punya taktik bagus paduka!”
“Oh, tunjukan kepadaku!” ujar aku.
Kozamina berdiri dan ia berkata, “ Oke, taktik aku sebenarnya mirip dengan taktik yang saya utarakan tadi malam tapi akan berbeda!”
“6 Batalyon kita kerahkan menyerang kota Barash, kita menyerang di depan gerbang Barash dan menaruh banyak meriam di depan pasukan kita untuk menyerang kota Barash!” ujar Kozamina, “Kita fokus menembaki gerbang dan tembok Barash tanpa mengerakan pasukan kita ke jembatan!”
“Setelah gerbang hancur, pasukan kavaleri langsung berlari melewati jembatan, musuh akan fokus menembaki pasukan kavaleri dengan senapan dan meriam mereka di tembok tapi itu tidak apa-apa asal kota bisa jatuh!” ujar Kozamina.
“Di belakang pasukan kavaleri, ada pasukan infanteri yang memdukung serangan ke kota Basarh!” ujar Kozamina, “Musuh tak akan membiarkan pasukan kita masuk dan mereka fokus menembak pasukan kita di jembatan!”
“Jembatan tak akan hancur semudah yang kita bayangkan karena saya baru dapat info bahwa jembatan kota Basarh bukan dari kayu tapi dari batu kuat!” ujar Kozamina, “Jika di tembak meriam sekali mungkin tidak akan hancur namun jembatan akan hancur jika di tembak meriam ratusan kali!”
“Jembatan mungkin hancur tapi pasukan kita sudah ada di dalam kota Barash!” ujar Kozamina, “Pasukan Dacian yang ada di dalam kota akan mati-matian menaklukan kota tanpa adanya bala bantuan di karenakan jembatan sudah hancur dan akses masuk ke kota tidak ada lagi kecuali naik perahu!”
“Jika kota sudah takluk maka pasukan Dacian akan mencari perahu-perahu nelayan di kota karena di kota Barash banyak tersimpan perahu-perahu nelayan yang sering di gunakan nelayan Barash untuk mencari ikan di sungai Afarat dan sungai Yafarat!” ujar Kozamina, “Para jenderal dan paduka Hetazania, apakah kalian suka dan setuju dengan rencanaku?”
“Aku setuju saja dengan rencanamu Kozamina!” ujar Jokzani, “Tapi, siapa yang akan memimpin penyerangan ke dalam kota Basarh? Butuh satu jenderal untuk memimpin pasukan kavaleri dalam penyerangan agar serangan pertama bisa sukses dan konsenkuensi dari memimpin pasukan kavaleri adalah mati! Siapa yang mau memimpin serangan pertama?”
“Kita punya 20 Letnan dan aku punya satu letnan yang aku percaya untuk memimpin serangan tersebut yang bernama Ikzamina!” ujar Kozamina, “Kita bisa mempercayakan serangan kavaleri oleh letnan Ikzamina yang sangat berkompenten dan apakah kalian termasuk paduka Hetazania setuju dengan usulanku?”
“Setuju!” jawab kami semua.
“Bagus!” ucap Kozamina.
“Oke, 6 Batalyon kita bawa dan sisanya ada di sini!” ujar aku kepada semua jenderal, “Aku, Kozamina, Joni, dan Jokzani akan pergi menyerang Basarh sedangkan jenderal yang aku tidak sebutkan tetap ada di sini untuk mengontrol pasukan kita di kamp ini!”
“Baik paduka!” ujar semua jenderal.
“Oke, rapat dibubarkan dan penyerbuan ke Basarh akan di lakukan pada hari ini!” ujar aku, “Perintahkan kepada semua pasukan kita untuk bersiap!”
Semua jenderal berdiri dan berkata, “Baik paduka!”
Aku tersenyum dan semua jenderal keluar dari kemahku, aku keluar dari kemah dan melihat persiapan pasukanku sebelum bergerak ke Basarh. Aku mengeluarkan arlojiku dari kantong seragamku dan melihat sudah jam 10 pagi, aku memperkirakan waktu paling cepat sampai di Basarh adalah 2 jam dikarenakan jarak dari kamp ini ke Basarh sekitar 10 km.
Kota Basarh di perkirakan di huni sekitar 70.000 orang dan mereka mayoritas bukan ras Turk tapi ras Yama, aku pernah berfikir bahwa aku merebut simpati masyarakat lokal agar mereka loyal pada Dacian dan jika mereka di rekrut jadi tentara maka mereka akan loyal kepada Dacian namun aku harus tahu bawa merebut hati orang lebih susah dari pada merebut wilayah.
Masyarakat di wilayah yang kami taklukan takut melawan kami dan mereka sepertinya kurang loyal kepada kami, maka dari itu aku harus mencair cara agar mereka loyal pada bangsa Dacian karena mereka bangsa ke 2 yang harus melayani bangsa pilihan seperti Dacian.
Aku melihat pasukanku mengambil bubuk mesiu dari kemah khusus penyimpanan bubuk mesiu, aku melihat pasukanku mendorong meriam-meriam Dacian dan aku melihat tidak semua pasukanku melakukan hal itu karena hanya 6 Batalyon yang aku kerahkan menyerang Dacian.
Tiba-tiba ada sesorang yang memegang pundak kananku dan ia berkata, "Paduka, ada sesuatu yang saya harus sampaiankan!"
Aku terkejut dan menoleh kebelakang, orang tersebut ternyata Joni dan aku bertanya kepada Joni, "Ada apa Joni? Apa yang kau mau sampaikan kepadaku?"
"Paduka, 10.000 balabantuan dari negeri Dacian di kabarkan bergerak ke Mesopotamia untuk membantu anda!" jawab Joni, "Permintaan anda di kabulkan oleh para menteri!"
"Bagus," ucap aku sambil tersenyum, "Siapa yang memimpin pasukan bala bantuan?"
"Sepupu anda paduka, Razrin!" jawab Joni.
"APA!" kejut aku, "Bagaimana bisa pasukan Dacian di pimpin seorang perempuan?"
"Paduka, apakah paduka tidak tahu bahwa Razrin merupakan wanita yang IQnya 190 dan jago mengantur strategi serta bisa bertempur melebihi paduka Hetazania?" tanya Joni.
"Oh ya, Razrin itu umurnya seaku tapi IQ serta kecerdasnya melebih Kazania!" jawab aku, "Aku juga pernah kalah main anggar lawan dia dan kalah 100x main catur lawan dia, baguslah jika ia masuk ke pihak aku!"
"Oh," ucap Joni, "Saya pergi dulu ya!"
"Iya, iya!" ucap aku.
Joni pergi meninggalkan aku dan aku ingat ketika aku mengirim pesan kepada menteri-menteri untuk mengirimkan 10.000 pasukan baru untuk membantu pasukan Dacian menaklukan Turk, para menteri setuju dan mengirim pasukan baru dengan pimpinan Kazrin. Kazrin merupakan anak satu-satunya pamanku yang sudah lama meninggal, jika ia masih hidup maka ia akan menjadi kanselor baru Dacian.
Kazrin, perempuan yang cantik yang merupakan sahabat sekaligus sepupuku yang sangat di segani para petinggi Dacian, saudara-saudaraku tak mampu menandingi kejeniusannya dalam mengatur startegi dan ia merupakan jenderla wanita pertama di Dacian. Semoga dengan kehadirannya dapat membantu aku melawan pasukan Turk.
Jam 12 Siang….
Persiapan memakan waktu 2 jam dan aku bersama para jenderalku serta 6 Batalyon pasukan Dacian (4.000 Infanteri, 2.000 Kalaveri) meninggalkan kamp, kami bergerak ke kota Basarh untuk menyerang kota tersebut. 200 meriam aku bawa untuk pengepungan ini dan aku berharap pengepungan ini tidak memakan banyak korban jiwa dari pihak Dacian.
Pada jam 14 siang…
Kami sampai di ladang gandum Basarh, ladang gandum Basarh sangat luas dan merupakan sumber makanan bagi penduduk Basarh. Ladang gandum Basarh terletak di depan jembatan Basarh dan kami jadikan ladang ini sebagai persiapan untuk pengepungan besar ini.
Aku menyuruh semua meriamku untuk ada di depan pasukan Dacian dan aku melihat dari jauh bahwa pasukan Turk bersiap untuk menangkis penyerangan kami, aku melihat pasukan Turk terlihat mengisi meriam-meriam mereka yang ada di atas tembok mereka dan aku melihat pasukan Turk mengisi senapan mereka.
Aku dan para jenderal ada di belakang barisan pasukan Dacian karena jika kami ada di depan maka kami akan cepat mati, aku melihat ada tangga yang di siapkan jika gerbang sudah jebol. Aku melihat dari jauh gerbang kota Basarh cukup besar dan terlihat cukup susah untuk di tembus, aku melihat jembatan penghubungan tempat ini ke kota Basarh sangat panjang dan kira-kira ada 500 meter panjangnya serta lebarnya mungkin 100 meter. Cukup besar jembatan batu tersebut.
Cahaya mentari sangat terik dan penyerangan ke Basarh segera di mulai.
Aku bangun dari tidurku dan aku keluar dari kemahku, aku melihat sudah pagi dan aku melihat pasukanku pergi ke tempat di mana di sediakan sarapan. Aku melihat Joni berlari ke arahku dan ia berkata, “Paduka Hetazania!”
“Apa Joni?” tanya aku.
“Aku baru ingat bahwa kita tak punya kayu untuk membuat perahu-perahu!” jawab Joni, “Jadi taktik anda tak bisa di terapkan wahai paduka!”
Aku terkejut dan baru ingat bahwa di gurun pasir seperti ini kayu tidak bisa ditemukan walaupun ada pohon tapi pohon di gurun pasir tidak cukup untuk membuat banyak perahu mengingat jumlah pohon di gurun terbatas apalaig di sini tidak ada sekitar kamp ini tidak ada pohon.
“Apakah paduka punya rencana lain?” tanya Joni.
“Panggil semua jenderal ke kampku sekarang juga!” jawab aku, “Oh ya, jangan lupa bilang bahwa semua jenderal akan makan di kemahku jadi jangan makan dulu!”
“Baik tuan!” ucap Joni lalu ia pergi meninggalkan aku.
Aku langsung memanggil prajurit yang berjalan di depanku, “Hei kau!”
Prajurit tersebut yang merupakan prajurit infanteri menoleh dan bertanya, “Ada apa paduka?”
“Bilang kepada koki bahwa aku dan 5 jenderal akan makan di kemahku!” jawab aku.
“Baik paduka!” ucap prajurit tersebut, prajurit tersebut meninggalkan tempat ini dan aku masuk ke dalam kemahku. Aku memakai seragamku dan memasang semua mendali yang aku punya pada seragam ini, aku duduk di kursiku dan para koki masuk ke dalam kemahku lalu mereka menyiapkan makanan di meja ini.
Setelah makanan sudah tersedia di atas meja, para jenderal masuk dengan mengenakan seragam kebesaran mereka yang sangat mereka banggakan. Aku berdiri dan berkata, “Selamat datang para jenderal! Silahkan kalian duduk di tempat duduk yang sudah di siapkan!”
Para jenderal duduk di tempat duduk masing-masing dan aku berkata, “Ayo makan!”
Para jenderal menggambil garpu dan pisau lalu mereka makan steak daging sapi yang ada di piring masing-masing, kami menikmati sarapan tersebut yang cukup mengisi perut kami. Setelah kami sarapan, para prajurit masuk ke kemah dan menggambil piring-piring kotor yang ada di meja ini.
Setelah itu, aku mengelar peta di atas meja dan berkata kepada para jenderalku, “Para jenderal terbaik Dacian! Taktik saya ubah karena kita tak bisa mendapatkan kayu untuk membuat perahu!”
“Oh, ya!” ujar para jenderal, “Kami sudah tahu hal itu wahai paduka dari kemarin!”
“Kenapa kalian tidak memberi tahu aku soal itu?” tanya aku kepada para jenderal.
“Karena tidak sopan mengkritik kebijakan orang seperti paduka!” jawab para jenderal.
“Oh,” ucap aku, “Kalian boleh mengkritik kebijakanku karena aku butuh saran dari orang-orang yang sudah berpengalaman seperti kalian!”
“Baik paduka!” ucap para jenderal.
“Oke, rencana apa yang kita akan pakai untuk menyerang kota Basarh?” tanya aku kepada para jenderal, “Ada yang punya pendapat?”
“Paduka Hetazania!” sahut Kozamina, “Saya punya taktik bagus paduka!”
“Oh, tunjukan kepadaku!” ujar aku.
Kozamina berdiri dan ia berkata, “ Oke, taktik aku sebenarnya mirip dengan taktik yang saya utarakan tadi malam tapi akan berbeda!”
“6 Batalyon kita kerahkan menyerang kota Barash, kita menyerang di depan gerbang Barash dan menaruh banyak meriam di depan pasukan kita untuk menyerang kota Barash!” ujar Kozamina, “Kita fokus menembaki gerbang dan tembok Barash tanpa mengerakan pasukan kita ke jembatan!”
“Setelah gerbang hancur, pasukan kavaleri langsung berlari melewati jembatan, musuh akan fokus menembaki pasukan kavaleri dengan senapan dan meriam mereka di tembok tapi itu tidak apa-apa asal kota bisa jatuh!” ujar Kozamina.
“Di belakang pasukan kavaleri, ada pasukan infanteri yang memdukung serangan ke kota Basarh!” ujar Kozamina, “Musuh tak akan membiarkan pasukan kita masuk dan mereka fokus menembak pasukan kita di jembatan!”
“Jembatan tak akan hancur semudah yang kita bayangkan karena saya baru dapat info bahwa jembatan kota Basarh bukan dari kayu tapi dari batu kuat!” ujar Kozamina, “Jika di tembak meriam sekali mungkin tidak akan hancur namun jembatan akan hancur jika di tembak meriam ratusan kali!”
“Jembatan mungkin hancur tapi pasukan kita sudah ada di dalam kota Barash!” ujar Kozamina, “Pasukan Dacian yang ada di dalam kota akan mati-matian menaklukan kota tanpa adanya bala bantuan di karenakan jembatan sudah hancur dan akses masuk ke kota tidak ada lagi kecuali naik perahu!”
“Jika kota sudah takluk maka pasukan Dacian akan mencari perahu-perahu nelayan di kota karena di kota Barash banyak tersimpan perahu-perahu nelayan yang sering di gunakan nelayan Barash untuk mencari ikan di sungai Afarat dan sungai Yafarat!” ujar Kozamina, “Para jenderal dan paduka Hetazania, apakah kalian suka dan setuju dengan rencanaku?”
“Aku setuju saja dengan rencanamu Kozamina!” ujar Jokzani, “Tapi, siapa yang akan memimpin penyerangan ke dalam kota Basarh? Butuh satu jenderal untuk memimpin pasukan kavaleri dalam penyerangan agar serangan pertama bisa sukses dan konsenkuensi dari memimpin pasukan kavaleri adalah mati! Siapa yang mau memimpin serangan pertama?”
“Kita punya 20 Letnan dan aku punya satu letnan yang aku percaya untuk memimpin serangan tersebut yang bernama Ikzamina!” ujar Kozamina, “Kita bisa mempercayakan serangan kavaleri oleh letnan Ikzamina yang sangat berkompenten dan apakah kalian termasuk paduka Hetazania setuju dengan usulanku?”
“Setuju!” jawab kami semua.
“Bagus!” ucap Kozamina.
“Oke, 6 Batalyon kita bawa dan sisanya ada di sini!” ujar aku kepada semua jenderal, “Aku, Kozamina, Joni, dan Jokzani akan pergi menyerang Basarh sedangkan jenderal yang aku tidak sebutkan tetap ada di sini untuk mengontrol pasukan kita di kamp ini!”
“Baik paduka!” ujar semua jenderal.
“Oke, rapat dibubarkan dan penyerbuan ke Basarh akan di lakukan pada hari ini!” ujar aku, “Perintahkan kepada semua pasukan kita untuk bersiap!”
Semua jenderal berdiri dan berkata, “Baik paduka!”
Aku tersenyum dan semua jenderal keluar dari kemahku, aku keluar dari kemah dan melihat persiapan pasukanku sebelum bergerak ke Basarh. Aku mengeluarkan arlojiku dari kantong seragamku dan melihat sudah jam 10 pagi, aku memperkirakan waktu paling cepat sampai di Basarh adalah 2 jam dikarenakan jarak dari kamp ini ke Basarh sekitar 10 km.
Kota Basarh di perkirakan di huni sekitar 70.000 orang dan mereka mayoritas bukan ras Turk tapi ras Yama, aku pernah berfikir bahwa aku merebut simpati masyarakat lokal agar mereka loyal pada Dacian dan jika mereka di rekrut jadi tentara maka mereka akan loyal kepada Dacian namun aku harus tahu bawa merebut hati orang lebih susah dari pada merebut wilayah.
Masyarakat di wilayah yang kami taklukan takut melawan kami dan mereka sepertinya kurang loyal kepada kami, maka dari itu aku harus mencair cara agar mereka loyal pada bangsa Dacian karena mereka bangsa ke 2 yang harus melayani bangsa pilihan seperti Dacian.
Aku melihat pasukanku mengambil bubuk mesiu dari kemah khusus penyimpanan bubuk mesiu, aku melihat pasukanku mendorong meriam-meriam Dacian dan aku melihat tidak semua pasukanku melakukan hal itu karena hanya 6 Batalyon yang aku kerahkan menyerang Dacian.
Tiba-tiba ada sesorang yang memegang pundak kananku dan ia berkata, "Paduka, ada sesuatu yang saya harus sampaiankan!"
Aku terkejut dan menoleh kebelakang, orang tersebut ternyata Joni dan aku bertanya kepada Joni, "Ada apa Joni? Apa yang kau mau sampaikan kepadaku?"
"Paduka, 10.000 balabantuan dari negeri Dacian di kabarkan bergerak ke Mesopotamia untuk membantu anda!" jawab Joni, "Permintaan anda di kabulkan oleh para menteri!"
"Bagus," ucap aku sambil tersenyum, "Siapa yang memimpin pasukan bala bantuan?"
"Sepupu anda paduka, Razrin!" jawab Joni.
"APA!" kejut aku, "Bagaimana bisa pasukan Dacian di pimpin seorang perempuan?"
"Paduka, apakah paduka tidak tahu bahwa Razrin merupakan wanita yang IQnya 190 dan jago mengantur strategi serta bisa bertempur melebihi paduka Hetazania?" tanya Joni.
"Oh ya, Razrin itu umurnya seaku tapi IQ serta kecerdasnya melebih Kazania!" jawab aku, "Aku juga pernah kalah main anggar lawan dia dan kalah 100x main catur lawan dia, baguslah jika ia masuk ke pihak aku!"
"Oh," ucap Joni, "Saya pergi dulu ya!"
"Iya, iya!" ucap aku.
Joni pergi meninggalkan aku dan aku ingat ketika aku mengirim pesan kepada menteri-menteri untuk mengirimkan 10.000 pasukan baru untuk membantu pasukan Dacian menaklukan Turk, para menteri setuju dan mengirim pasukan baru dengan pimpinan Kazrin. Kazrin merupakan anak satu-satunya pamanku yang sudah lama meninggal, jika ia masih hidup maka ia akan menjadi kanselor baru Dacian.
Kazrin, perempuan yang cantik yang merupakan sahabat sekaligus sepupuku yang sangat di segani para petinggi Dacian, saudara-saudaraku tak mampu menandingi kejeniusannya dalam mengatur startegi dan ia merupakan jenderla wanita pertama di Dacian. Semoga dengan kehadirannya dapat membantu aku melawan pasukan Turk.
Jam 12 Siang….
Persiapan memakan waktu 2 jam dan aku bersama para jenderalku serta 6 Batalyon pasukan Dacian (4.000 Infanteri, 2.000 Kalaveri) meninggalkan kamp, kami bergerak ke kota Basarh untuk menyerang kota tersebut. 200 meriam aku bawa untuk pengepungan ini dan aku berharap pengepungan ini tidak memakan banyak korban jiwa dari pihak Dacian.
Pada jam 14 siang…
Kami sampai di ladang gandum Basarh, ladang gandum Basarh sangat luas dan merupakan sumber makanan bagi penduduk Basarh. Ladang gandum Basarh terletak di depan jembatan Basarh dan kami jadikan ladang ini sebagai persiapan untuk pengepungan besar ini.
Aku menyuruh semua meriamku untuk ada di depan pasukan Dacian dan aku melihat dari jauh bahwa pasukan Turk bersiap untuk menangkis penyerangan kami, aku melihat pasukan Turk terlihat mengisi meriam-meriam mereka yang ada di atas tembok mereka dan aku melihat pasukan Turk mengisi senapan mereka.
Aku dan para jenderal ada di belakang barisan pasukan Dacian karena jika kami ada di depan maka kami akan cepat mati, aku melihat ada tangga yang di siapkan jika gerbang sudah jebol. Aku melihat dari jauh gerbang kota Basarh cukup besar dan terlihat cukup susah untuk di tembus, aku melihat jembatan penghubungan tempat ini ke kota Basarh sangat panjang dan kira-kira ada 500 meter panjangnya serta lebarnya mungkin 100 meter. Cukup besar jembatan batu tersebut.
Cahaya mentari sangat terik dan penyerangan ke Basarh segera di mulai.
0
Kutip
Balas