- Beranda
- Spiritual
Kumpulan Kabar Mengenai Penampakan Bunda Maria di Seluruh Dunia Sepanjang Sejarah
...
TS
dragonroar
Kumpulan Kabar Mengenai Penampakan Bunda Maria di Seluruh Dunia Sepanjang Sejarah
Diubah oleh dragonroar 11-07-2014 16:25
m.a.m.u memberi reputasi
1
96.1K
39
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spiritual
6.4KThread•2.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dragonroar
#10
SP Maria dari Garabandal

Garabandal adalah sebuah desa kecil di Spanyol utara, propinsi Santander, dekat pegunungan Picos de Europa. Tak lebih dari 300 orang tinggal di dusun yang sunyi itu.
Empat orang anak perempuan: Maria Dolores (Mari Loli) Mazon (12), Jacinta Gonzalez (12), Mari Cruz Gonzalez (11) dan Conchita Gonzalez (12), sedang bermain di pinggir dusun pada suatu sore, pada tanggal 18 Juni 1961. Mereka ini berasal dari keluarga miskin; usia mereka duabelas tahun, terkecuali Maria Cruz yang masih berusia sebelas tahun. Sekonyong-konyong keempatnya mendengar suara menggelegar, seperti kilat, dan melihat di hadapan mereka suatu figur cemerlang Malaikat Agung St Mikhael. Di bawah kaki malaikat terdapat sebuah pesan, tampaknya dalam bahasa Latin, yang tidak dimengerti oleh anak-anak. Barulah kemudian, pada tanggal 4 Juli 1961, dua hari sesudah penampakannya yang pertama, Bunda Maria menjelaskan pesan ini yang artinya adalah bahwa kita “harus sering mengunjungi Sakramen Mahakudus”.
Conchita mencatat dalam Buku Hariannya:
“Pada awal penampakan, Malaikat St Mikhael memberi kami hosti yang belum dikonsekrasikan. Kami telah makan sebelumnya, tetapi ia memberikan hosti juga kepada kami. Ia melakukan ini untuk mengajarkan kepada kami bagaimana menyambut Komuni.
Suatu hari ia meminta kami untuk pergi ke pepohonan pinus [Di atas dusun adalah sebuah bukit yang curam di mana berdiri tegak sekelompok pohon pinus, sembilan batang jumlahnya] di pagi hari tanpa makan apapun dan dengan membawa seorang gadis kecil bersama kami. Kami membawa serta seorang gadis kecil dan melakukan apa yang ia minta kami lakukan. Ketika tiba di pepohonan pinus, malaikat menampakkan diri kepada kami dengan sebuah piala yang tampak seperti emas. Ia berkata: `Aku akan memberi kalian Komuni Kudus, tetapi kali ini Hosti telah dikonsekrir. Daraskanlah “Saya Mengaku”'. Kami mendaraskannya dan lalu ia memberi kami Komuni Kudus. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa sepatutnya kami mengucap syukur kepada Allah. Ketika kami telah melakukannya, ia mengatakan kepada kami untuk bersamanya mendaraskan doa `Anima Christi'. Ini juga kami lakukan. Kemudian ia mengatakan: `Aku akan memberi kalian Komuni lagi besok.' Dan ia pun pergi.
Ketika kami menceritakan ini kepada orang banyak, sebagian menjadi tidak percaya, teristimewa para imam, sebab mereka mengatakan bahwa seorang malaikat tidak dapat mengkonsekrasikan. Ketika kami bertemu dengan malaikat lagi, kami menyampaikan kepadanya apa yang telah dikatakan orang dan ia menjawab bahwa ia mengambil Hosti yang telah dikonsekrir dari tabernakel-tabernakel dunia.”
Sepanjang masa ini, ketika para visioner menyambut Ekaristi dari St Mikhael, ada suatu pelajaran yang dapat dipetik dalam hal persiapan untuk menyambut Komuni Kudus secara pantas. Suatu hari Jacinta, Loli, dan Conchita dipanggil untuk datang ke lokasi yang sama. Ketiganya berlutut dalam satu barisan di hadapan malaikat; Jacinta berada di tengah. Semuanya berjalan seperti biasa: kata pengantar dari Malaikat mengenai apa yang akan mereka lakukan, “Saya Mengaku” yang didaraskan anak-anak, “Inilah Anak Domba Allah….” “Ya Tuhan saya tidak pantas.” Malaikat memberikan Komuni kepada anak pertama dalam barisan seperti biasanya. Sepentara itu, Jacinta, di baris berikutnya, menengadahkan kepalanya, membuka mulut dan menjulurkan lidah untuk menyambut Komuni. Akan tetapi Malaikat tidak berlaku seperti biasanya, melainkan seolah Jacinta tidak ada di sana, melewatinya dengan Tubuh Tuhan kita kepada gadis ketiga. Melihat hal ini, mata gadis kecil ini terbuka lebar dan basah oleh airmata.
Penjelasan datang segera. Ia ingat bagaimana ia berbantah dengan ibunya. Apakah yang telah begitu sering dikatakan Santa Perawan? Ia harus lebih berupaya untuk menaklukkan kesalahan itu, kurang penyerahan diri, cara berbicara yang seperti itu. Ia tak dapat menyambut Tuhan dalam keadaan yang demikian. Baik Jacinta maupun ibunya sudah tak ingat lagi perihal perbantahan itu, tetapi bagi Allah, dosa tidak lenyap hanya dengan sekedar melupakan, melainkan dengan tobat yang tulus, dan dengan pergi - sangat penting bagi dosa berat - mengaku dosa.
Selanjutnya, St Mikhael memaklumkan bahwa pada tanggal 2 Juli mereka akan melihat Bunda Maria. Demikianlah, pada hari Minggu, 2 Juli 1961, pukul enam petang, anak-anak gadis itu pergi ke tempat di mana St Mikhael biasa menampakkan diri. Khalayak ramai yang mengikuti mereka tercengang ketika melihat sekonyong-konyong keempatnya masuk dalam ekstasi. Bunda Maria menampakkan diri dengan didampingi dua malaikat, salah satunya adalah St Mikhael. Mereka menceritakan penampakan itu sebagai berikut:
“Ia mengenakan gaun putih dengan sehelai mantol biru dan sebuah mahkota bintang-bintang emas. Kedua tangannya ramping. Sebuah skapulir coklat ada di tangan kanannya, terkecuali apabila ia sedang menggendong Kanak-kanak Yesus dalam pelukannya. Rambutnya, coklat gelap, dibelah di tengah. Wajahnya panjang, dengan hidung yang indah. Mulutnya sangat elok dengan bibir yang agak sedikit tebal. Ia tampak seperti seorang gadis berusia delapanbelas tahun. Ia tinggi semampai. Tak ada suara seperti suaranya. Tak ada perempuan sepertinya, baik dalam suara maupun wajah atau apapun. Bunda Maria menyatakan diri sebagai Bunda Maria dari Karmel.”
Sesekali, angin menyibakkan rambutnya yang panjang yang terjuntai hingga ke pinggang. Anak-anak berbicara kepada sang Perawan dengan sangat polos. “Kami menceritakan kepadanya,” kata mereka, “tugas-tugas kami, bagaimana kami pergi ke padang….” Dan “Ia tersenyum atas hal-hal kecil yang kami sampaikan kepadanya.” Bunda Maria memberitahukan kepada mereka bagaimana seharusnya berbicara kepadanya: “Seperti anak-anak yang berbicara kepada ibunya dan menceritakan semuanya … Anak-anak bergirang melihat ibunya setelah tak melihatnya beberapa saat lamanya.”
Apabila penampakan terjadi, anak-anak itu secara spontan jatuh berlutut, ekspresi wajah mereka berubah, sepenuhnya larut dalam keterpesonaan. Ekstasi ini dapat berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam. Banyak dari antara khalayak yang hadir memberikan berbagai benda seperti Kitab Suci, rosario, skapulir, medali, salib, dsbnya untuk dikecup Bunda Maria. Conchita menulis, “Bunda Maria mengatakan bahwa Yesus akan mengadakan mukjizat melalui benda-benda yang dikecup olehnya. Mereka yang membawa atau mengenakannya dengan iman dan kepercayaan akan mengalami purgatorium mereka di sini di dunia.” Penampakan membangkitkan banyak pertobatan orang-orang berdosa, dan semua orang digerakkan untuk tumbuh dalam iman, harapan dan kasih.
Dalam pesan tertanggal 18 Oktober 1961, Bunda Maria mengatakan: “Kita harus mempersembahkan banyak kurban, melakukan banyak penitensi. Kita harus sering mengunjungi Sakramen Mahakudus; tetapi pertama-tama, kita harus baik, jika tidak demikian, suatu penghukuman akan menimpa kita. Piala telah terisi, dan terkecuali kita berubah, suatu penghukuman yang sangat dahsyat akan datang.”
Satu-satunya, selain keempat visioner, yang melihat Bunda Maria di Garabandal adalah seorang imam Yesuit Spanyol berusia 38 tahun, Pater Luis Marie Andreu. Pada tanggal 8 Agustus 1961, ia ada di antara khalayak ramai di Pepohonan Pinus ketika sekonyong-konyong ia berseru, “Mukjizat! Mukjizat!” Ia tak hanya melihat Santa Perawan Maria, melainkan kepadanya ditunjukkan juga Mukjizat Agung yang akan datang. Anak-anak dalam ekstasi mendengar Bunda Maria mengatakan kepada sang imam: “Engkau akan segera bersamaku.” Pater Luis Marie Andreu wafat pada malam itu juga karena sukacita yang dahsyat.
Hari Sabtu, tanggal 13 November 1965 adalah penampakan terakhir Bunda Maria kepada Conchita di Garabandal.

Setelah dewasa, tiga dari para gadis penglihat menikah dengan orang Amerika dan hidup di Amerika Serikat. Conchita mempunyai empat orang anak. Mari Loli tiga dan Jacinta satu. Mari Cruz juga menikah, tetapi dengan orang Spanyol dan tinggal di Spanyol. Mereka mempunyai empat orang anak.
sumber 1
sumber 2
0
