Kaskus

Story

hujandisenjaAvatar border
TS
hujandisenja
cerita saat hujan di senja
Assalamualaikum gan,

Misi Gan mau nyoba posting cerita cerita pendek yang ane buat, udah lama sih ada di blog sama di laptop sekarang ane kumpulin jadi satu. monggo di baca gan semoga terhibur.

emoticon-Kiss


Spoiler for AULD LANG SYNE (part 1):


Spoiler for AULD LANG SYNE (part 2):


Spoiler for KADO UNTUK RARA:


TERBANG

BLUES NIGHT (PART 1)

DUKA DIAN

RINDU

RANJANG ( Ia dan Dia)

Aubrey (Part 1)

KARTU POS DARI REYKJAVIK

kalau ada yang mau main main ke blog ane silahkan mampir gan emoticon-Smilie

Blog Ane
Tumblr ane
Twitter ane
Diubah oleh hujandisenja 07-09-2015 13:51
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
6.3K
52
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.1KAnggota
Tampilkan semua post
hujandisenjaAvatar border
TS
hujandisenja
#18
Duka Dian

Suatu ketika saat bayang langit memecah terakota. Jingga cahaya matahari senja digeraikan indah melalui ranting pohon angsana yang berdiri jajar di pinggir jalan, seperti sajak hambar. Beberapa bocah tanpa alas kaki berlepotan keringat sedang asyik menerbangkan layang layang di lapanngan luas, sesekali saling menyikut dan tertawa lepas.

Trrt..trrt..

+ "Halo?"
- "Ya."
+ "Kamu kemana saja? Seperti menghilang."
- "Tidak, aku hanya sibuk."
+ "Sibuk katamu? Sesibuk apa sampai kamu tak pernah menjawab teleponku? Sesibuk apa sampai kamu tidak bisa membalaas semua pesan ku yang masuk dalam inbox telepon selularmu atau surel mu, hah?"
- "Tenang, Dian. Aku betul betul sibuk"
+ "Sesuatu telah terjadi bukan?"

Hening mengatmosfer di udara, terlalu lama mereka terdiam. 2 Layang layang mulai terbang meninggi terbawa angin.

- "Tidak Dian."

Terdengar tarikan nafas yang panjang diujung telepon

+ "Aku kangen"
- "kangen siapa?"
+ "Kangen siapa katamu? Ya jelas jelas kangen kamu. Aku kangen kita menghabiskan waktu bersama saat senja dan malam hari. kamu tidak kangen aku?"
- "Jangan gila Dian, sudahlah hentikan semua ini."
+ "Ternyata betul sesuatu telah terjadi."
- "Aku ingin menikah Dian…"
+ "Surely Hun, oh ternyata ini penyebabnya mengapa selama satu bulan terakhir kamu menghilang? Tentu saja saying, aku juga ingin menikah denganmu. Tapi seperti yang kamu ketahui bukan, bahwa segala sesuatu tidak mudah, kita harus meyakinkan banyak orang termasuk orang tua kita sendiri, semua butuh waktu Bagas, bersabarlah. Kita pasti akan menikah. "
- "Bukan, bukan itu Dian.."
+ "Lantas?"
- "Lana… Lana adalah namanya"

Dian mengatupkan matanya, seluruh kekuatan yang menopang badannya berdiri menghilang sudah, dia terduduk lemas di kursi. Bagaimanapun dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi tapi tak pernah secepat ini.

+ "Jadi Lana namanya yah, perempuan yang tempo hari kau kenalkan padaku sebagai partner kerjamu itu kan?"
- "Maaf Dian, aku ingin bahagia. Menikah, punya anak dan hidup menua bersama anak cucuku, itu kebahagiaanku Dian."
+ "Tidak! Itu bukan kebahagiaanmu, itu kebahagian orang tuamu!"

Dian sudah tidak mampu lagi menahaan efek emosionil yang membuncah mengaliri pipinya. Dia tercekat air matanya sendiri. Layang layang meluncur turun dengan tajam dihempaskan angin jatuh ke tanah sedangkan layang layang yang lain terbang menuju langit terputus dari benangnya. seorang anak kecil menangis histeris.

- "Dian, mengertilah..ini semua salah, bagaimanapun kita tidak bisa bersama. Aku mau membahagiakan orang tua ku."
+ "Walaupun mengorbankan kebahagiaanmu?"
- "Tidak mengorbankan kebahagiaanku, untukku kebahagiaan mereka adalah wujud kebahagiaanku, sampai kapanpun."
+ "Kamu tidak bisa seenaknya seperti ini Gas!"
- "Dian, sampai kapanpun apa yang kita lakukan adalah kesalahan. Dua bulan lagi aku akan menikahi Lana, aku mengundangmu untuk datang ke pernikahan ku. Aku tahu kamu pasti mengerti Dian.”

Dian hanya diam memandang langit di luar jendela, untuknya warna senja hari ini adalah warna yang paling menyedihkan dalam seumur hidup ia bernafas di bumi untuk menunaikan dharma nya.

- “Maaf, Dian…”

Tuut…tuuut..tuut..

Dian melepaskan kacamatanya dan mulai menangis, dia belum bisa menerima keadaan ini sepenuhnya tapi bagaimanapun ini adalah resiko terbesarnya ketika pertama kali menjalin cinta dengan Bagas, lelaki yang akrab dengannya semenjak masa kuliah hingga sekarang ketika mereka berdua meraup kesuksesan. Mereka tahu betul konsekuensinya dan hari ini mungkin terlalu cepat untuknya menanggung semua konsekuensi yang selalu dihindarinya.

Ketukan di pintu ruangan kerjanya cukup mengagetkan Dian. Dengan cekatan ia segera menghapus air matanya dan memakai kacamatanya kembali. Ia hanya tidak ingin tampak lemah dan menyedihkan di mata siapapun yang melihatnya senja ini.

“Masuk!”

Seorang perempuan muda yang sudah setahun belakangn ini bekerja sebagai sekretarisnya melangkah masuk membawa tumpukan kertas yang dia minta sejam yang lalu.

“ini pak, berkas berkas yang bapak minta. Pak Ardian? Bapak baik baik saja?”

Dian mengangguk ketika sekretarisnya menemukan ketidak beresan yang tergambar jelas pada sisa air mata di pipi Dian.

“Ya, saya baik baik saja. Saya hanya kelelahan. Tolong letakkan berkas berkas itu disamping meja saya.”

“Baik pak.”

“ah, Rin. Saya mau pulang cepat hari ini, tolong batalkan semua appointment saya. Saya tidak enak badan.”

“Baik pak.”

Dian melemparkan pandangannya jauh ke luar jendela kea rah kota Jakarta yang masih berdenyut dengan segala keruwetannya, pikirannya terbang menuju Bagas yang tengah mempersiapkan segala seuatu untuk pernikahannya. Dia sadar betul bahwa sampai kapanpun dia tidak akan bisa bersama dengan Bagas, baik dalam nama cinta maupun dalam naungan restu Tuhan.

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.