- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1177
15. My Boss
I Hate Monday adalah ungkapan yang paling tepat untuk saat ini.
Pertama, karena sepanjang hari Minggu kemarin dalam rangka memperbaiki bad mood, aku berputar-putar mencuci mata sendirian di Seibu dan berakhir menghabiskan hampir setengah gaji bulananku untuk membeli baju yang sebenarnya tidak kuperlukan.
Kedua, karena pada hari Senin pagi ini aku harus mulai bekerja lagi yang artinya akan bersebrangan meja dengan Sammy lagi.
I wish those inventors make some kind of 'comfortable isolation box'.
Aku bisa bekerja, makan, dan bersantai dengan nyaman dari dalam sebuah kotak.
Oh iya aku lupa, mereka sudah menciptakan teknologi yang disebut 'rumah'
Nah, ini membuktikan isi kepalaku sudah makin kacau dan melantur.
Sebelum gila, cepat-cepat aku menuju meja kerjaku.
Sempat kulirik meja Sammy yang masih kosong.
Sipp. Dengan sigap, kugeser monitor yang semula menghadap ke depan jadi menyamping menghadap dinding.
Ketimbang harus sepanjang hari menunduk agar tidak bertabrakan pandangan dengan Sammy.
"Chery. Pagi sekali kamu hari ini." Pak Grandy terkejut menatapku.
"Hehhehe iya pak. Bapak juga pagi..."
"Saya setiap hari emang datang jam segini." Pak Grandy tertawa. "Justru kamu yang dateng kepagian.
"Iya pak. Lagi kesambet roh workaholic nih." Aku masih menggeser-geser barang-barangku.
"Mau ikut saya sarapan dulu? Mumpung baru jam 7. Masih ada sejam sebelum dibuka."
Menimbang-nimbang, aku mengangguk dan mengikuti Pak Grandy berjalan keluar.
Pak Grandy membeli nasi uduk yang berjualan tepat di depan kantor.
Aku sendiri membeli bubur ayam.
"Jadi, gimana dengan layout terbarunya? Sammy sudah ngirim email revisinya?"
Aku salah tingkah mendengar nama itu.
"Udah, pak. Nanti hari ini mau saya benerin. Terus kerjain final artworknya. Gambar-gambar yang dipake dari Shutterstock nanti saya catetin." Aku menjawab sedetail mungkin.
"Kalau begitu, nanti kita koreksi hasil revisi sambil makan siang aja? Saya bawa Macbook aja. Kita ke Chatterbox, pake wifi di sana."
Aku terbelalak cengo.
Awalnya sarapan, sekarang ajakan makan siang?
Kenapa mendadak Pak Grandy memberikan ajakan bertubi-tubi begini?
Tapi belum sempat membantah, Pak Grandy sudah menjawab handphonenya yang berdering dan melambai padaku.
Dengan masih setengah bingung, aku masuk ke dalam kantor dan menuju mejaku.
Beberapa saat kemudian, dari pantulan LCD komputerku tampak Sammy masuk dan duduk di mejanya.
Tentu saja aku tidak berbalik badan karena sudah memutar posisi monitorku menghadap tembok tadi.
Sempat kulihat Sammy memandangku beberapa detik, kemudian menghempaskan diri ke kursi.
I'd give anything to work in a different room with him.
But it's impossible.
Dia tidak memanggil atau menegurku lewat Skype seperti biasa.
Hanya sempat 2-3x email masuk mengenai revisi design IRX.
Itupun di-cc kan ke Pak Grandy dan Copywriter sehingga tidak ada percakapan pribadi di sana.
Menjelang jam makan siang, muncul pop-up skype di layarku.
"Mau ketemu di lobby aja, atau saya jemput ke meja kamu?"
Pak Grandy yang mengirimnya.
Call me weird, but I feel flattered with his request.
Maksudku, cara Pak Grandy menawarkan 'menjemput' ke mejaku layaknya gentleman sedikit banyak membuat darahku berdesir.
And honestly, I need a mood booster right now.
"Wahh... Kok nggak dijawab-jawab skype nya?"
Aku terkejut dan berpaling. Pak Grandy sudah berdiri persis di belakangku.
"Eh?? Kok Bapak udah di sini? Barusan kan..."
"Saya kan online dari handphone." Dia menggoyangkan handphone di tangannya. "Pingin tau aja reaksimu. No matter what you choose, I was still going to pick you up."
Kakiku terasa lemas dan refleks otot pipiku tertarik membentuk senyuman. Untuk sesaat, kakiku kehilangan daya gravitasinya dan memandang penuh keagungan ke arah Pak Grandy.
Namun, cepat-cepat aku bangkit dari kursi dan menyingkirkan lamunan konyolku.
"Kita makan di Kenny Roger's, gak apa? Chatterbox agak jauh dari sini sementara saya harus balik ke kantor sebelum jam 2. Lagipula, i sini ada masakan ayam tanpa minyak lho..."
Mendengar nama hewan yang satu itu, aku tersenyum lebar.
Dengan anggukan mantap, kami menuju ke meja kosong di tengah ruangan.
Aku duduk dan memesan steak ayam dan mashed potatoes plus saus keju.
Pak Grandy sendiri memesan chicken carbonara.
Melihat caranya makan, sangat kontras dengan Sammy.
Kalau Sammy makan seperti cowok macho yang agak berantakan, Pak Grandy justru memilin pastanya dengan hati-hati.
Sesekali dia mengelap ujung mulutnya dengan tisu.
Wait, why I'm thinking about Sammy again??
Ah,... It's hard to let my mind away from him.
"Cher..." Mendadak Pak Grandy mengulurkan tangannya."Sausnya belepotan."
Jantungku sempat terhenti ketika Pak Grandy menatap lurus ke arahku dan mengelap ujung mulutku.
Refleks, aku menahan tangannya di udara dan mengambil tisu itu.
"Saya..bisa sendiri, Pak." aku salah tingkah. "Bapak hari ini nggak kayak biasanya."
Disambar to the point, gantian Pak Grandy yang menggaruk-garuk kepalanya.
"Saya belakangan merasa perlu temen aja. Kalau bahasa anak mudanya, perlu refreshing dari urusan Lita. Maaf kalau sikap saya kelihatan aneh bikin kamu nggak nyaman..."
"Tapi kalo cari temen cewek, kok kesannya seperti pelarian ya pak." aku tertawa garing. "Bukannya sebelumnya Bapak lebih deket dengan Sammy?"
Aku menelan ludah menyebutkan nama itu.
Ya, memang posisi kami sedang bertengkar.
Tapi aku tidak bisa memungkiri secercah harapan bahwa Pak Grandy akan membangunkan Sammy kembali dari racun berbisa Debby.
Dan nanti, mungkin besok, atau lusa...kami bisa tertawa kembali seperti biasa.
"Saya pernah sempet dekat dengan Sammy. Tapi kok rasanya aneh ya sekarang..."
"Aneh gimana Pak?" aku asik mengunyah potongan ayam.
"Seperti...kok dia naksir saya ya? Saya agak ngeri..."
Aku tersedak dan cepat-cepat minum.
Pak Grandy ikutan panik melihatku terbatuk-batuk.
"Ah Bapak... udah stres berat kali. Hahahaa... Mana mungkin cowok naksir cowok..." aku tertawa dibuat-buat.
I hope my act is convincing enough.
Terlebih, jika Pak Grandy tahu bahwa Sammy pernah mencium dia ketika mabuk berat,
Bisa terjadi Perang Dunia ketiga.
"Makanya, sebelum saya stres beneran... saya cari kamu. Setidaknya kamu tahu persoalan Lita lebih dibanding yang lain, kan?"
Aku mengangguk dalam diam.
Jika dilihat-lihat, Pak Grandy hanya cowok biasa.
Bisa sakit hati juga, bisa mencari pelarian,
Bahkan dalam hati sepertinya masih sulit melupakan Lita.
Menjadi pendengar dan teman yang baik sepertinya bukan ide buruk.
Aku kembali ke meja kerjaku dan melanjutkan pekerjaan.
Mendadak sensor telingaku mendengar suara deringan dari meja Sammy.
Aku memperhatikan pantulan monitor bahwa Sammy sedang mengangkat teleponnya.
"Ya, Debby?"
That damn woman!
Ughh... sudah pergi jauh ke Jakarta saja, masih berani-beraninya menelpon Sammy?!
Ah, sudahlah! It has nothing to do with me anyway.
"Sorry, aku nggak bisa balik ke Semarang weekend depan. Ha? Reunian SMA? Ehmm... Enggak ikutan deh."
Jika aku adalah Siberian Husky, telingaku pasti sudah tegak ke atas untuk mencuri dengar dan mempertajam pendengaranku.
"Deb... aku banyak kerjaan di sini. Enggak bisa seenaknya cuti bolak balik." nada Sammy terdengar sedikit sebal.
Sebut aku antagonis, tapi mendengar Sammy menolak cewek itu hatiku senang luar biasa.
"Ha? Kamu mau ke jakarta?"
Dan kesenangan itu pun berakhir.
That bitch! Dia mau mengejar Sammy ke Jakarta?!
Lalu, mau dikemanakan Airen, anaknya itu?
Mau sampai di mana batasnya dia menggelayuti Sammy?
Aku bekerja sepanjang sisa hari memasang earphone dengan volume maksimal dan sama sekali tidak bangun dari kursi.
Bahkan sengaja kupasang status di Skype, 'BUSY AND IN A HORRIBLE MOOD! DON'T BOTHER TO MESSAGE FOR ANY REASON!'
Ya, aku resmi kesal berat kepada Debby yang tebal muka, Sammy, kebodohannya, dan terlebih kepada diriku sendiri yang pusing-pusing memikirkan Sammy.
Wake up, Cher!
He doesn't care about you, so... what do you get upset for?
Pertama, karena sepanjang hari Minggu kemarin dalam rangka memperbaiki bad mood, aku berputar-putar mencuci mata sendirian di Seibu dan berakhir menghabiskan hampir setengah gaji bulananku untuk membeli baju yang sebenarnya tidak kuperlukan.
Kedua, karena pada hari Senin pagi ini aku harus mulai bekerja lagi yang artinya akan bersebrangan meja dengan Sammy lagi.
I wish those inventors make some kind of 'comfortable isolation box'.
Aku bisa bekerja, makan, dan bersantai dengan nyaman dari dalam sebuah kotak.
Oh iya aku lupa, mereka sudah menciptakan teknologi yang disebut 'rumah'
Nah, ini membuktikan isi kepalaku sudah makin kacau dan melantur.
Sebelum gila, cepat-cepat aku menuju meja kerjaku.
Sempat kulirik meja Sammy yang masih kosong.
Sipp. Dengan sigap, kugeser monitor yang semula menghadap ke depan jadi menyamping menghadap dinding.
Ketimbang harus sepanjang hari menunduk agar tidak bertabrakan pandangan dengan Sammy.
"Chery. Pagi sekali kamu hari ini." Pak Grandy terkejut menatapku.
"Hehhehe iya pak. Bapak juga pagi..."
"Saya setiap hari emang datang jam segini." Pak Grandy tertawa. "Justru kamu yang dateng kepagian.
"Iya pak. Lagi kesambet roh workaholic nih." Aku masih menggeser-geser barang-barangku.
"Mau ikut saya sarapan dulu? Mumpung baru jam 7. Masih ada sejam sebelum dibuka."
Menimbang-nimbang, aku mengangguk dan mengikuti Pak Grandy berjalan keluar.
Pak Grandy membeli nasi uduk yang berjualan tepat di depan kantor.
Aku sendiri membeli bubur ayam.
"Jadi, gimana dengan layout terbarunya? Sammy sudah ngirim email revisinya?"
Aku salah tingkah mendengar nama itu.
"Udah, pak. Nanti hari ini mau saya benerin. Terus kerjain final artworknya. Gambar-gambar yang dipake dari Shutterstock nanti saya catetin." Aku menjawab sedetail mungkin.
"Kalau begitu, nanti kita koreksi hasil revisi sambil makan siang aja? Saya bawa Macbook aja. Kita ke Chatterbox, pake wifi di sana."
Aku terbelalak cengo.
Awalnya sarapan, sekarang ajakan makan siang?
Kenapa mendadak Pak Grandy memberikan ajakan bertubi-tubi begini?
Tapi belum sempat membantah, Pak Grandy sudah menjawab handphonenya yang berdering dan melambai padaku.
Dengan masih setengah bingung, aku masuk ke dalam kantor dan menuju mejaku.
Beberapa saat kemudian, dari pantulan LCD komputerku tampak Sammy masuk dan duduk di mejanya.
Tentu saja aku tidak berbalik badan karena sudah memutar posisi monitorku menghadap tembok tadi.
Sempat kulihat Sammy memandangku beberapa detik, kemudian menghempaskan diri ke kursi.
I'd give anything to work in a different room with him.
But it's impossible.
Dia tidak memanggil atau menegurku lewat Skype seperti biasa.
Hanya sempat 2-3x email masuk mengenai revisi design IRX.
Itupun di-cc kan ke Pak Grandy dan Copywriter sehingga tidak ada percakapan pribadi di sana.
Menjelang jam makan siang, muncul pop-up skype di layarku.
"Mau ketemu di lobby aja, atau saya jemput ke meja kamu?"
Pak Grandy yang mengirimnya.
Call me weird, but I feel flattered with his request.
Maksudku, cara Pak Grandy menawarkan 'menjemput' ke mejaku layaknya gentleman sedikit banyak membuat darahku berdesir.
And honestly, I need a mood booster right now.
"Wahh... Kok nggak dijawab-jawab skype nya?"
Aku terkejut dan berpaling. Pak Grandy sudah berdiri persis di belakangku.
"Eh?? Kok Bapak udah di sini? Barusan kan..."
"Saya kan online dari handphone." Dia menggoyangkan handphone di tangannya. "Pingin tau aja reaksimu. No matter what you choose, I was still going to pick you up."
Kakiku terasa lemas dan refleks otot pipiku tertarik membentuk senyuman. Untuk sesaat, kakiku kehilangan daya gravitasinya dan memandang penuh keagungan ke arah Pak Grandy.
Namun, cepat-cepat aku bangkit dari kursi dan menyingkirkan lamunan konyolku.
"Kita makan di Kenny Roger's, gak apa? Chatterbox agak jauh dari sini sementara saya harus balik ke kantor sebelum jam 2. Lagipula, i sini ada masakan ayam tanpa minyak lho..."
Mendengar nama hewan yang satu itu, aku tersenyum lebar.
Dengan anggukan mantap, kami menuju ke meja kosong di tengah ruangan.
Aku duduk dan memesan steak ayam dan mashed potatoes plus saus keju.
Pak Grandy sendiri memesan chicken carbonara.
Melihat caranya makan, sangat kontras dengan Sammy.
Kalau Sammy makan seperti cowok macho yang agak berantakan, Pak Grandy justru memilin pastanya dengan hati-hati.
Sesekali dia mengelap ujung mulutnya dengan tisu.
Wait, why I'm thinking about Sammy again??
Ah,... It's hard to let my mind away from him.
"Cher..." Mendadak Pak Grandy mengulurkan tangannya."Sausnya belepotan."
Jantungku sempat terhenti ketika Pak Grandy menatap lurus ke arahku dan mengelap ujung mulutku.
Refleks, aku menahan tangannya di udara dan mengambil tisu itu.
"Saya..bisa sendiri, Pak." aku salah tingkah. "Bapak hari ini nggak kayak biasanya."
Disambar to the point, gantian Pak Grandy yang menggaruk-garuk kepalanya.
"Saya belakangan merasa perlu temen aja. Kalau bahasa anak mudanya, perlu refreshing dari urusan Lita. Maaf kalau sikap saya kelihatan aneh bikin kamu nggak nyaman..."
"Tapi kalo cari temen cewek, kok kesannya seperti pelarian ya pak." aku tertawa garing. "Bukannya sebelumnya Bapak lebih deket dengan Sammy?"
Aku menelan ludah menyebutkan nama itu.
Ya, memang posisi kami sedang bertengkar.
Tapi aku tidak bisa memungkiri secercah harapan bahwa Pak Grandy akan membangunkan Sammy kembali dari racun berbisa Debby.
Dan nanti, mungkin besok, atau lusa...kami bisa tertawa kembali seperti biasa.
"Saya pernah sempet dekat dengan Sammy. Tapi kok rasanya aneh ya sekarang..."
"Aneh gimana Pak?" aku asik mengunyah potongan ayam.
"Seperti...kok dia naksir saya ya? Saya agak ngeri..."
Aku tersedak dan cepat-cepat minum.
Pak Grandy ikutan panik melihatku terbatuk-batuk.
"Ah Bapak... udah stres berat kali. Hahahaa... Mana mungkin cowok naksir cowok..." aku tertawa dibuat-buat.
I hope my act is convincing enough.
Terlebih, jika Pak Grandy tahu bahwa Sammy pernah mencium dia ketika mabuk berat,
Bisa terjadi Perang Dunia ketiga.
"Makanya, sebelum saya stres beneran... saya cari kamu. Setidaknya kamu tahu persoalan Lita lebih dibanding yang lain, kan?"
Aku mengangguk dalam diam.
Jika dilihat-lihat, Pak Grandy hanya cowok biasa.
Bisa sakit hati juga, bisa mencari pelarian,
Bahkan dalam hati sepertinya masih sulit melupakan Lita.
Menjadi pendengar dan teman yang baik sepertinya bukan ide buruk.
Aku kembali ke meja kerjaku dan melanjutkan pekerjaan.
Mendadak sensor telingaku mendengar suara deringan dari meja Sammy.
Aku memperhatikan pantulan monitor bahwa Sammy sedang mengangkat teleponnya.
"Ya, Debby?"
That damn woman!
Ughh... sudah pergi jauh ke Jakarta saja, masih berani-beraninya menelpon Sammy?!
Ah, sudahlah! It has nothing to do with me anyway.
"Sorry, aku nggak bisa balik ke Semarang weekend depan. Ha? Reunian SMA? Ehmm... Enggak ikutan deh."
Jika aku adalah Siberian Husky, telingaku pasti sudah tegak ke atas untuk mencuri dengar dan mempertajam pendengaranku.
"Deb... aku banyak kerjaan di sini. Enggak bisa seenaknya cuti bolak balik." nada Sammy terdengar sedikit sebal.
Sebut aku antagonis, tapi mendengar Sammy menolak cewek itu hatiku senang luar biasa.
"Ha? Kamu mau ke jakarta?"
Dan kesenangan itu pun berakhir.
That bitch! Dia mau mengejar Sammy ke Jakarta?!
Lalu, mau dikemanakan Airen, anaknya itu?
Mau sampai di mana batasnya dia menggelayuti Sammy?
Aku bekerja sepanjang sisa hari memasang earphone dengan volume maksimal dan sama sekali tidak bangun dari kursi.
Bahkan sengaja kupasang status di Skype, 'BUSY AND IN A HORRIBLE MOOD! DON'T BOTHER TO MESSAGE FOR ANY REASON!'
Ya, aku resmi kesal berat kepada Debby yang tebal muka, Sammy, kebodohannya, dan terlebih kepada diriku sendiri yang pusing-pusing memikirkan Sammy.
Wake up, Cher!
He doesn't care about you, so... what do you get upset for?
Diubah oleh jumpingworm 12-12-2013 03:05
0