- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.9K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1166
14. Duel Maut
Aku baru terlelap pukul 2 pagi dan sudah melek lagi pada pukul 7 pagi.
Kebiasaan jam tidur kantor membuat alarm bawah sadarku berbunyi pada jam yang sama setiap harinya.
Aku mengecek handphone, kemudian mengikat rambutku ke atas.
Aku mengambil handuk dan pergi mandi.
Setelah mandi, aku pergi ke ruang makan untuk sarapan.
Tampak papanya Sammy sedang duduk sambil membaca koran dan sarapan.
Mamanya Sammy sedang membuat sesuatu di dapur.
Aku duduk dan ikut bergabung bersama.
"Pagi, oom" aku menyapa dengan senyum.
Papanya mengangkat kepala dari koran, kemudian membalas senyumku.
"Eh, pagi Chery. Mau sarapan apa? Roti bakar? Indomie?"
"Aku...roti bakar aja." Aku memilih. Kutuang susu kotak yang ada di meja ke dalam gelas kosong di hadapanku, kemudian meneguknya. "Sammy udah bangun, oom?"
"Oh,udah dari pagi. Lagi di sebelah dia."
"Sebelah?" Aku bertanya sambil mengerutkan alis.
"Eh, pagi Cher. Baru bangun?" Sammy muncul masuk ke dalam ruang makan.
Pakaiannya setengah basah dan lengan bajunya digulung.
Peluh mengalir di dahinya.
Dia kelihatan berantakan.
"Minta satu ya." Sammy mengambil roti bakar dari piringku satu.
Setelah itu Sammy berjalan menuju kamar Leo, kutebak untuk mandi.
Penasaran, aku bangkit menghampirinya.
"Dari mana tadi, Sam?"
"Ehmm...." Sammy terdiam sambil memutar bola matanya. "Dari sebelah, bantuin Debby benerin keran air."
"Nggak salah?!" Aku langsung menyemprot. "Kemarin kayaknya elo sebel banget sama dia. Kenapa sekarang jadi bantu bener-benerin?"
"Kasian Debby sama Airen... Kan elo denger sendiri kemarin, repotnya kalo air bocor..."
"Gue nggak permasalahin soal bocornya. Gue permasalahin elo! Kalo keran dia bocor, atapnya bolong, atau rumahnya kebakaran pun, emangnya dia nggak bisa telepon tukang ledeng?!" Aku emosi hingga ngos-ngosan. "Elo mau aja dimanfaatin perempuan macem gitu!"
"Maksudnya?"
"Maksud gue adalah, elo sedang dimanfaatin sama cewek uler itu!" Aku mempertegas ucapanku.
Sammy yang tadinya masih cengar cengir, mendadak ekspresinya berubah kaku.
Dia menatap tajam ke arahku.
"Gue nggak suka ya, elo ngomong begitu!" Sammy menghadrik galak.
Aku terkejut setengah mati.
Baru kali ini, kulihat Sammy marah.
"Jangan seenaknya nge-judge Debby! Elo nggak tahu apa-apa soal dia. Dia hidup sendirian tanpa suaminya, plus harus ngurusin Airen itu nggak gampang. Semaleman, dia ceritain semuanya di Ввм. Gue cuma berusaha nolong."
Aku mundur selangkah kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
Otakku terasa panas.
"Jadi semaleman penuh, itu handphone nempel di tangan elo karena lagi sesi curhat panjang? Gue nggak ngerti jalan pikiran elo. Kemarin segitu sebelnya, kecewanya sama dia. Sekarang elo belain dia mati-matian. Untuk apa?" Aku memperotes. "Jangan bilang, elo merasa iba sama perempuan itu, karena dia udah janda?!"
"Cukup, Cher! Gue mau baik atau enggak sama dia, enggak ada urusannya sama elo! Jangan seenaknya ikut campur! Dan sekali lagi, gue nggak suka kalo elo ngejelekin..."
"Sammy!" Aku memotong kalimatnya lagi dengan sinis. "Dia pernah selingkuhin elo dan hamil dengan pria lain. Nggak menutup kemungkinan, saat elo sedang bermurah hati jagain Airen, atau benerin entah-apalah-itu di rumahnya, dia lagi asik di ranjang bareng pria lain?"
"Satu kata lagi keluar dari mulut elo.... Gue nggak akan segan-segan...!"
"Gue hanya berusaha jadi temen yang baik, dan nemenin elo menenangkan pikiran. Bukan malah nyari masalah baru! Setidaknya, tujuan elo ngajak gue ke Semarang tadinya begitu, kan?!" Aku mengeluarkan uneg-uneg emosiku.
"Kalo begitu, gue nyesel ngajak elo ke sini. Bukannya tenang, malah kacau pikiran gue!"
Mataku melotot penuh emosi.
Sammy terdiam dengan dada naik-turun dan nafas memburu.
Mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi otaknya terlalu konslet untuk merespon.
Aku berbalik dan masuk ke kamarku kemudian membereskan barang-barang.
Jujur, aku sendiri menyesal telah ikut kemari.
That poisonous bitch has infected Sammy's brain!
Dan dia menjadikan kondisinya yang sudah menjanda sebagai alasan untuk menarik simpati Sammy.
Ah, aku tidak habis pikir!
Tapi mungkin memang Sammy aslinya seperti ini.
Inilah sosok asli Sammy yang belum pernah kulihat.
Di satu sisi, mungkin aku juga kelewatan.
But I can't take back what I've said.
Watak kerasku memang seperti ini.
Mendengar suara berisik, kak Kezia terbangun dari tidurnya.
Dia terbelalak melihatku sudah rapi mengemas barang-barang.
"Kamu mau ke mana, Cher? Kok beres-beres?"
"Mau balik, kak." Aku menjawab singkat. "Ada urusan mendadak di Jakarta." Aku berbohong sambil berusaha tersenyum.
"Sammy gimana?"
"Aku nggak tahu kak." Aku menyeret roda koperku menuju ke luar kamar. "Maaf ya, aku cuma sebentar ke sini. It's really nice to be here, actually."
Kak Kezia yang masih setengah sadar, hanya mengangguk tanpa berkomentar banyak.
Keluar dari kamar, persis mama dan papanya Sammy sedang di meja makan ikutan kaget.
"Cher? Kok baliknya cepet amat?"
"Iya tante. Chery ada urusan mendadak di Jakarta." Aku menuturkan sambil lagi-lagi berusaha menarik senyum di wajahku. "Aku sendirian kok. Nggak bareng Sammy."
Mamanya Sammy mendekatiku kemudian memelukku pelan.
"Hati-hati ya Cher. Kalo ada liburan lagi, main ke sini ya. Jangan sungkan. Leo sedang pergi keluar, nanti tante sampaikan aja salammu."
Aku mengangguk dan membalas pelukan hangatnya.
Kemudian, aku menarik koper menuju pintu.
"Chery!" Tepat saat itu, Sammy berlari menyusulku.
Aku membalikkan badan dan melihatnya berhenti tepat di depanku.
"Apa-apaan sih?! Jangan kayak bocah deh, dikit-dikit mau pulang!" Sammy berbalik marah padaku.
"Sedikit?? Elo bentak-bentak gue, di saat gue berusaha ngebuka mata elo bahwa elo sedang dimanfaatin. Plus, elo bilang hal itu bukan urusan gue? Fine! Tapi untuk tinggal di sini sampe besok malem dan ngelihat pemandangan macem gini terus?! Gue bisa muntah." Aku berbalik menuju gerbang. "Dan elo nyesel ngajak gue ke sini? Gue juga nyesel ikut!"
Sammy hanya berdiri mematung dan menatapku menutup pintu gerbang.
Bahkan dia sama sekali tidak berusaha menghentikanku atau minta maaf.
Kebiasaan jam tidur kantor membuat alarm bawah sadarku berbunyi pada jam yang sama setiap harinya.
Aku mengecek handphone, kemudian mengikat rambutku ke atas.
Aku mengambil handuk dan pergi mandi.
Setelah mandi, aku pergi ke ruang makan untuk sarapan.
Tampak papanya Sammy sedang duduk sambil membaca koran dan sarapan.
Mamanya Sammy sedang membuat sesuatu di dapur.
Aku duduk dan ikut bergabung bersama.
"Pagi, oom" aku menyapa dengan senyum.
Papanya mengangkat kepala dari koran, kemudian membalas senyumku.
"Eh, pagi Chery. Mau sarapan apa? Roti bakar? Indomie?"
"Aku...roti bakar aja." Aku memilih. Kutuang susu kotak yang ada di meja ke dalam gelas kosong di hadapanku, kemudian meneguknya. "Sammy udah bangun, oom?"
"Oh,udah dari pagi. Lagi di sebelah dia."
"Sebelah?" Aku bertanya sambil mengerutkan alis.
"Eh, pagi Cher. Baru bangun?" Sammy muncul masuk ke dalam ruang makan.
Pakaiannya setengah basah dan lengan bajunya digulung.
Peluh mengalir di dahinya.
Dia kelihatan berantakan.
"Minta satu ya." Sammy mengambil roti bakar dari piringku satu.
Setelah itu Sammy berjalan menuju kamar Leo, kutebak untuk mandi.
Penasaran, aku bangkit menghampirinya.
"Dari mana tadi, Sam?"
"Ehmm...." Sammy terdiam sambil memutar bola matanya. "Dari sebelah, bantuin Debby benerin keran air."
"Nggak salah?!" Aku langsung menyemprot. "Kemarin kayaknya elo sebel banget sama dia. Kenapa sekarang jadi bantu bener-benerin?"
"Kasian Debby sama Airen... Kan elo denger sendiri kemarin, repotnya kalo air bocor..."
"Gue nggak permasalahin soal bocornya. Gue permasalahin elo! Kalo keran dia bocor, atapnya bolong, atau rumahnya kebakaran pun, emangnya dia nggak bisa telepon tukang ledeng?!" Aku emosi hingga ngos-ngosan. "Elo mau aja dimanfaatin perempuan macem gitu!"
"Maksudnya?"
"Maksud gue adalah, elo sedang dimanfaatin sama cewek uler itu!" Aku mempertegas ucapanku.
Sammy yang tadinya masih cengar cengir, mendadak ekspresinya berubah kaku.
Dia menatap tajam ke arahku.
"Gue nggak suka ya, elo ngomong begitu!" Sammy menghadrik galak.
Aku terkejut setengah mati.
Baru kali ini, kulihat Sammy marah.
"Jangan seenaknya nge-judge Debby! Elo nggak tahu apa-apa soal dia. Dia hidup sendirian tanpa suaminya, plus harus ngurusin Airen itu nggak gampang. Semaleman, dia ceritain semuanya di Ввм. Gue cuma berusaha nolong."
Aku mundur selangkah kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
Otakku terasa panas.
"Jadi semaleman penuh, itu handphone nempel di tangan elo karena lagi sesi curhat panjang? Gue nggak ngerti jalan pikiran elo. Kemarin segitu sebelnya, kecewanya sama dia. Sekarang elo belain dia mati-matian. Untuk apa?" Aku memperotes. "Jangan bilang, elo merasa iba sama perempuan itu, karena dia udah janda?!"
"Cukup, Cher! Gue mau baik atau enggak sama dia, enggak ada urusannya sama elo! Jangan seenaknya ikut campur! Dan sekali lagi, gue nggak suka kalo elo ngejelekin..."
"Sammy!" Aku memotong kalimatnya lagi dengan sinis. "Dia pernah selingkuhin elo dan hamil dengan pria lain. Nggak menutup kemungkinan, saat elo sedang bermurah hati jagain Airen, atau benerin entah-apalah-itu di rumahnya, dia lagi asik di ranjang bareng pria lain?"
"Satu kata lagi keluar dari mulut elo.... Gue nggak akan segan-segan...!"
"Gue hanya berusaha jadi temen yang baik, dan nemenin elo menenangkan pikiran. Bukan malah nyari masalah baru! Setidaknya, tujuan elo ngajak gue ke Semarang tadinya begitu, kan?!" Aku mengeluarkan uneg-uneg emosiku.
"Kalo begitu, gue nyesel ngajak elo ke sini. Bukannya tenang, malah kacau pikiran gue!"
Mataku melotot penuh emosi.
Sammy terdiam dengan dada naik-turun dan nafas memburu.
Mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi otaknya terlalu konslet untuk merespon.
Aku berbalik dan masuk ke kamarku kemudian membereskan barang-barang.
Jujur, aku sendiri menyesal telah ikut kemari.
That poisonous bitch has infected Sammy's brain!
Dan dia menjadikan kondisinya yang sudah menjanda sebagai alasan untuk menarik simpati Sammy.
Ah, aku tidak habis pikir!
Tapi mungkin memang Sammy aslinya seperti ini.
Inilah sosok asli Sammy yang belum pernah kulihat.
Di satu sisi, mungkin aku juga kelewatan.
But I can't take back what I've said.
Watak kerasku memang seperti ini.
Mendengar suara berisik, kak Kezia terbangun dari tidurnya.
Dia terbelalak melihatku sudah rapi mengemas barang-barang.
"Kamu mau ke mana, Cher? Kok beres-beres?"
"Mau balik, kak." Aku menjawab singkat. "Ada urusan mendadak di Jakarta." Aku berbohong sambil berusaha tersenyum.
"Sammy gimana?"
"Aku nggak tahu kak." Aku menyeret roda koperku menuju ke luar kamar. "Maaf ya, aku cuma sebentar ke sini. It's really nice to be here, actually."
Kak Kezia yang masih setengah sadar, hanya mengangguk tanpa berkomentar banyak.
Keluar dari kamar, persis mama dan papanya Sammy sedang di meja makan ikutan kaget.
"Cher? Kok baliknya cepet amat?"
"Iya tante. Chery ada urusan mendadak di Jakarta." Aku menuturkan sambil lagi-lagi berusaha menarik senyum di wajahku. "Aku sendirian kok. Nggak bareng Sammy."
Mamanya Sammy mendekatiku kemudian memelukku pelan.
"Hati-hati ya Cher. Kalo ada liburan lagi, main ke sini ya. Jangan sungkan. Leo sedang pergi keluar, nanti tante sampaikan aja salammu."
Aku mengangguk dan membalas pelukan hangatnya.
Kemudian, aku menarik koper menuju pintu.
"Chery!" Tepat saat itu, Sammy berlari menyusulku.
Aku membalikkan badan dan melihatnya berhenti tepat di depanku.
"Apa-apaan sih?! Jangan kayak bocah deh, dikit-dikit mau pulang!" Sammy berbalik marah padaku.
"Sedikit?? Elo bentak-bentak gue, di saat gue berusaha ngebuka mata elo bahwa elo sedang dimanfaatin. Plus, elo bilang hal itu bukan urusan gue? Fine! Tapi untuk tinggal di sini sampe besok malem dan ngelihat pemandangan macem gini terus?! Gue bisa muntah." Aku berbalik menuju gerbang. "Dan elo nyesel ngajak gue ke sini? Gue juga nyesel ikut!"
Sammy hanya berdiri mematung dan menatapku menutup pintu gerbang.
Bahkan dia sama sekali tidak berusaha menghentikanku atau minta maaf.
0