- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1158
13. Childhood Friend
"Ngapain sih tu cewek di sini? Pasti papa mama deh yang ngundang...!" Sammy menggerutu sambil menatap semak-semak.
"Elo... Keliatan kesel banget. Masih ada feeling ya sama dia?" Aku menyindir.
Sammy diam tidak membantah.
Ughh...please say it's not true, Sam!
At least lie in front of me.
Tapi sampai semenit kemudian Sammy tetap tidak menjawab.
"Sam, elo nggak mau masuk?" Aku bertanya lagi.
"Ogah kalo ada dia di sana!" Sammy ngambek seperti anak kecil.
"Dia...maksudnya aku?" Debby muncul dari ruang tengah, mengagetkan aku dan Sammy. "Kamu masih marah?"
"Menurut kamu?" Sammy bertanya sinis.
Mengapa mereka jadi beradegan aku-kamu-an di depanku?
Merasa terganggu, aku berdeham pelan.
Tapi Debby sepertinya tidak terganggu dan tidak merasa bersalah sama sekali.
Dia malah maju mendekati Sammy dan jongkok persis di sebelahku.
"Ayolah El... Kita kan bukan anak kuliahan lagi. Kita kan udah ngebicarain hal ini 6 tahun yang lalu.... "
Debby dengan santainya memanggil Sammy dengan nama kecilnya.
Dari Samuel, Debby hanya mengambil 'El'nya
Seperti kode rahasia antara mereka berdua saja.
Aku makin jengah mendengarnya.
"Deb, udah jangan diganggu dulu dia. Sammy kalo lagi kesel pengennya sendiri sampe tenang dulu." Aku mencoba menengahi.
"Enggak kok. El sejak dulu ngerti gimana harus bersikap dan ngendaliin dirinya sendiri meskipun lagi marah. Kali ini, gue juga yakin bahwa dia tahu sikap kekanakannya begini salah." Debby menjawab mantapp dan tegas. "Ya kan, El?"
Aura dari kalimatnya menusukku dan membuat merinding.
Tidak main-main, Debby memang bukan sembarang wanita.
Ya, cewek yang bisa membuat mantan pacarnya beralih menjadi homoseksual pastilah bukan wanita biasa.
"Yaudah. Leo lagi ulang tahun, nggak enak juga gue childish begini." Sammy bangkit berdiri dan masuk ke rumah tanpa menggubris salah satupun dari kami.
Sial! Bagaimana bisa kalimat Debby mengena dengan tepatnya dan langsung dipatuhi oleh Sammy?
Oke, sekarang gantian aku yang mulai emosi.
"Sori, lupa kenalan tadi." Mendadak Debby sudah bangkit lagi dan menyalamiku. "Debby, mantan pacarnya El. Elo?"
Dan sekarang cewek ini balik ke mode elo-gue-an.
"Chery. Ehmm... Temennya Sammy." Aku mengenalkan diri.
"Oh? Temen ya? Wah maaf... Gue pikir pacarnya." Senyum lebar tersungging di bibirnya.
Maaf? Kenapa cewek ini harus minta maaf?
Apalagi senyum penuh kemenangan yang terpajang di wajahnya sekarang!
If killing was legal, she would be the first person to die in my hands!
"Yuk kita masuk ngobrol-ngobrol." Debby mengajakku.
Dengan sangat terpaksa, aku ikut masuk ke dalam dan menemukan bahwa mereka Leo, kak Kezia, mama papanya, dan Airen sudah duduk saling bercanda.
Mereka tertawa melihat tingkah Airen yang sedang lucu-lucunya.
Airen yang melihat mamanya masuk, spontan berlari menuju mamanya.
"Kamu kok datengnya telat tadi, Deb?" Mamanya Sammy bertanya. "Tinggal kebagian pudding deh jadinya."
"Enggak apa, tante. Aku tadi habis beberes rumah. Mendadak air keran bocor waktu nyuci botol susunya Airen. Kalo ditinggal, takut kemana-mana airnya. Aku nggak bisa benerin juga."
"Kamu nggak panggil tukang ledeng? Repot lho, kalo tinggal sendirian mendadak nanti banjir di rumah." Mamanya Sammy melanjutkan.
"Lho, kamu tinggal sendirian? Pak Herman ke mana?" Sammy mendadak bertanya memotong.
Mamanya menyenggol Sammy.
Tapi Debby yang ditanya, hanya tersenyum kalem.
"Kamu ketinggalan berita, El. Aku kan sejak tahun kemarin udah resmi single." Debby menjelaskan tanpa nada kegetiran di suaranya.
Wah, kasusnya semakin runyam.
Kurasa dari ekspresinya, Sammy terkejut setengah mati.
Dan tatapannya menyiratkan empati terhadap cerita Debby.
Sialnya, aku hanya berdiri di pojokan seperti patung ukiran suku Asmat.
"Nanti malem mau karaoke?" Leo memotong suasana yang kaku menjurus negatif ini.
"Boleh banget! Yuk ma, pa..." Kak Kezia selaku cheerleader ikut seru mendadak.
"Maaf, aku nggak ikutan ya. Airen nggak bisa kubawa keluar malem..." Debby menolak halus.
"Titipin sama tante aja, Deb. Kamu yang muda-muda pergi aja..." Mamanya Sammy menyarankan dengan bijak.
Damnn...!
Suasananya bakal nggak enak kalau Debby ikut.
Tapi mendekam di hotel sementara yang lain asik berkaraoke sepanjang malam juga bukan ide cemerlang.
"Enggak, tante. Justru El udah setahun lebih nggak pulang. Tante dan oom aja yang pergi." Debby mengalah.
Akhirnya mama dan papanya Sammy mengangguk tersenyum penuh tatapan kekaguman.
Jujur, sepertinya aku sangat jahat dan subjektif.
Tapi baru bertemu wanita ini sebentar aku langsung merasa tidak suka padanya.
Rasa kekaguman terhadap karakternya yang kuat, iri terhadap perhatian yang dia dapatkan, dan benci terhadap sikapnya yang pernah selingkuh dari Sammy, semua bercampur jadi satu.
Saking tercampur aduknya, rasanya perutku mual memikirkannya.
"Sam, boleh ke sini bentar?" Aku memanggil Sammy.
Sammy hanya mengangkat alis, kemudian menghampiriku.
"Kenapa Cher?"
"Kita jadi balik ke hotel jam berapa?"
"Kalian mau nginep di hotel?" Debby menyeruak pembicaraan di sebelahku.
Ughhh this poisonous meddling snake!!
"Iya, kita emang rencana mau booking hotel." Aku yang menjawab.
Percakapan ini beralih jadi 'antara-dua-wanita'.
"Kenapa nggak tidur di sini? Kamar El masih ada kok." Debby mengusulkan dengan 'cemerlang'.
"Iya, Sam. Nanti elo tidur bareng gue. Chery tidur sama Kezia aja." Leo menjawab. "Atau...mau tidur bareng Chery?"
"Jangan lah. Cowok cewek mana boleh gabung." Sammy memotong cepat. "Mau tidur di sini aja, Cher?"
Aku bimbang antara harus menerima tawarannya atau tidak.
Terlebih tatapan Debby yang sedari tadi seolah menyilaukan dan menghujam.
"Ya.... Nggak apa sih kalo gue. Biar elo ngobrol lamaan bareng keluarga." Aku mengalah.
"Yaudah, mama bantu siapkan kamarmu ya Sam." Mamanya Sammy bangkit berdiri dan menuju ke dalam.
"Aku juga... Balik ke sebelah dulu ya El." Debby pamitan.
Setelah itu dia pamit kepada semua yang hadir, dan menggandeng Airen keluar.
"Dia, tinggal di sebelah?" Aku bertanya setengah berbisik.
"Iya. Kan gue ceritain waktu itu, dia pindah ke sini waktu kelas 6 SD." Sammy menjawab singkat.
Wahh... Pantas saja ular berbisa itu menekankan agar Sammy menginap di sini.
Mungkin maksudnya agar bisa leluasa bertamu ke 'tetangga'.
Oh my God,...!
Mengapa aku jadi super duper negative thinking dan mulai berpikiran picik begini?
Akhirnya sepanjang sisa hari hingga sore sebelum berangkat ke Happy Puppy, aku hanya duduk dan mengutak-atik handphone.
Ajaibnya, Sammy tidak berusaha berkomunikasi denganku sama sekali dan sibuk dengan handphone nya.
Hingga sepanjang acara karaoke, aku yang biasanya paling heboh dan banci karaoke pun, memutuskan untuk tidak bernyanyi satu lagu pun.
Tatapanku terfokus ke Sammy yang terfokus mengutak atik handphone.
Aku duduk di sebelah kak Kezia yang tidak henti-hentinya menawari aku minuman.
Leo sepanjang 2 jam tidak hentinya bernyanyi mulai dari lagu barat, indonesia, lagu galau, hingga dangdut koplo.
"Kamu mau tidur deket jendela?" Kak Kezia menawarkan ketika sudah waktunya tidur.
"Aku, di mana aja jadi kak. Asal jangan di luar...banyak nyamuknya. Hehhehe..."
"Akhirnya kamu ketawa lagi." Kak Kezia menuturkan spontan. "Dari tadi ada Sammy, kamu muram terus. Kenapa? Sini cerita sama kakak..."
Sosok baik dan keibuan Kak Kezia mengingatkanku pada Vega.
Sudah jam segini, pasti Vega sudah beristirahat.
Untuk sekarang, biarlah Kak Kezia menggantikan Vega jadi kuping untuk mendengarku.
"Ya, Sammy sejak ngelihat Debby muncul hari ini... Jadi bengong terus kak. Aku dicuekin kayak kambing congek." Aku langsung manyun.
"Hahhaha... Udah kakak tebak alesanmu muram. Yahh... Kakak juga nggak bisa menjawab pertanyaanmu dengan tepat." Kak Kezia berusaha senetral mungkin. "Yang jelas, cinta pertama yang mati-matian Sammy hindari setelah sekian tahun mendadak muncul pasti bikin Sammy kepikiran."
"Memangnya dulu mereka pacaran serius?" Aku bertanya penasaran.
"Waktu mereka pacaran, kakak belum kenal sama Leo. Tapi dari ceritanya, Sammy udah sempat beli cincin tunangan. Saat kelulusan dia mau ngelamar Debby. Tapi saat itu juga dia nolak dan ngasih tahu bahwa dia udah hamil."
Aku hanya meng-oo kan pelan menanggapi ceritanya.
"Kalau dibilang serius atau engga, pastilah Sammy serius banget. Dia hampir mau menikahi Debby kok." Kak Kezia melanjutkan. "Maaf ya, kamu pasti sakit hati dengernya..."
"Dikit sih. Hehhehe..." Aku tidak memungkiri. "Cuma dibanding sakit hati, aku lebih merasa kasihan. Pasti perasaan Sammy masih ketinggalan di Debby. Apalagi sekarang Debby udah menjanda."
"Kamu nggak usah kuatir soal itu, Cher!" Kak Kezia memegang bahuku. "Kita sekeluarga nggak akan biarin Sammy jadi sama Debby! Kita semua juga kasihan aja soalnya Debby single parent sekarang. Tapi kalo untuk berhubungan lagi dengan Sammy, kakak pun menentang!"
Mendengar keseriusan dan penjelasan kak Kezia, aku sedikit lega.
Setidaknya untuk saat ini yang perlu kupikirkan adalah secepatnya balik ke Jakarta dan menyelesaikan reuni keluarga ini.
Begitu jauh dari Debby, dengan sendirinya Sammy akan lupa dengan rasa iba-nya dan kembali kepada keseharian kami.
Aku menjadi partnernya,
Dan Sammy akan sibuk mengejar cinta Pak Grandy.
Ya,...pasti seperti itu.
"Elo... Keliatan kesel banget. Masih ada feeling ya sama dia?" Aku menyindir.
Sammy diam tidak membantah.
Ughh...please say it's not true, Sam!
At least lie in front of me.
Tapi sampai semenit kemudian Sammy tetap tidak menjawab.
"Sam, elo nggak mau masuk?" Aku bertanya lagi.
"Ogah kalo ada dia di sana!" Sammy ngambek seperti anak kecil.
"Dia...maksudnya aku?" Debby muncul dari ruang tengah, mengagetkan aku dan Sammy. "Kamu masih marah?"
"Menurut kamu?" Sammy bertanya sinis.
Mengapa mereka jadi beradegan aku-kamu-an di depanku?
Merasa terganggu, aku berdeham pelan.
Tapi Debby sepertinya tidak terganggu dan tidak merasa bersalah sama sekali.
Dia malah maju mendekati Sammy dan jongkok persis di sebelahku.
"Ayolah El... Kita kan bukan anak kuliahan lagi. Kita kan udah ngebicarain hal ini 6 tahun yang lalu.... "
Debby dengan santainya memanggil Sammy dengan nama kecilnya.
Dari Samuel, Debby hanya mengambil 'El'nya
Seperti kode rahasia antara mereka berdua saja.
Aku makin jengah mendengarnya.
"Deb, udah jangan diganggu dulu dia. Sammy kalo lagi kesel pengennya sendiri sampe tenang dulu." Aku mencoba menengahi.
"Enggak kok. El sejak dulu ngerti gimana harus bersikap dan ngendaliin dirinya sendiri meskipun lagi marah. Kali ini, gue juga yakin bahwa dia tahu sikap kekanakannya begini salah." Debby menjawab mantapp dan tegas. "Ya kan, El?"
Aura dari kalimatnya menusukku dan membuat merinding.
Tidak main-main, Debby memang bukan sembarang wanita.
Ya, cewek yang bisa membuat mantan pacarnya beralih menjadi homoseksual pastilah bukan wanita biasa.
"Yaudah. Leo lagi ulang tahun, nggak enak juga gue childish begini." Sammy bangkit berdiri dan masuk ke rumah tanpa menggubris salah satupun dari kami.
Sial! Bagaimana bisa kalimat Debby mengena dengan tepatnya dan langsung dipatuhi oleh Sammy?
Oke, sekarang gantian aku yang mulai emosi.
"Sori, lupa kenalan tadi." Mendadak Debby sudah bangkit lagi dan menyalamiku. "Debby, mantan pacarnya El. Elo?"
Dan sekarang cewek ini balik ke mode elo-gue-an.
"Chery. Ehmm... Temennya Sammy." Aku mengenalkan diri.
"Oh? Temen ya? Wah maaf... Gue pikir pacarnya." Senyum lebar tersungging di bibirnya.
Maaf? Kenapa cewek ini harus minta maaf?
Apalagi senyum penuh kemenangan yang terpajang di wajahnya sekarang!
If killing was legal, she would be the first person to die in my hands!
"Yuk kita masuk ngobrol-ngobrol." Debby mengajakku.
Dengan sangat terpaksa, aku ikut masuk ke dalam dan menemukan bahwa mereka Leo, kak Kezia, mama papanya, dan Airen sudah duduk saling bercanda.
Mereka tertawa melihat tingkah Airen yang sedang lucu-lucunya.
Airen yang melihat mamanya masuk, spontan berlari menuju mamanya.
"Kamu kok datengnya telat tadi, Deb?" Mamanya Sammy bertanya. "Tinggal kebagian pudding deh jadinya."
"Enggak apa, tante. Aku tadi habis beberes rumah. Mendadak air keran bocor waktu nyuci botol susunya Airen. Kalo ditinggal, takut kemana-mana airnya. Aku nggak bisa benerin juga."
"Kamu nggak panggil tukang ledeng? Repot lho, kalo tinggal sendirian mendadak nanti banjir di rumah." Mamanya Sammy melanjutkan.
"Lho, kamu tinggal sendirian? Pak Herman ke mana?" Sammy mendadak bertanya memotong.
Mamanya menyenggol Sammy.
Tapi Debby yang ditanya, hanya tersenyum kalem.
"Kamu ketinggalan berita, El. Aku kan sejak tahun kemarin udah resmi single." Debby menjelaskan tanpa nada kegetiran di suaranya.
Wah, kasusnya semakin runyam.
Kurasa dari ekspresinya, Sammy terkejut setengah mati.
Dan tatapannya menyiratkan empati terhadap cerita Debby.
Sialnya, aku hanya berdiri di pojokan seperti patung ukiran suku Asmat.
"Nanti malem mau karaoke?" Leo memotong suasana yang kaku menjurus negatif ini.
"Boleh banget! Yuk ma, pa..." Kak Kezia selaku cheerleader ikut seru mendadak.
"Maaf, aku nggak ikutan ya. Airen nggak bisa kubawa keluar malem..." Debby menolak halus.
"Titipin sama tante aja, Deb. Kamu yang muda-muda pergi aja..." Mamanya Sammy menyarankan dengan bijak.
Damnn...!
Suasananya bakal nggak enak kalau Debby ikut.
Tapi mendekam di hotel sementara yang lain asik berkaraoke sepanjang malam juga bukan ide cemerlang.
"Enggak, tante. Justru El udah setahun lebih nggak pulang. Tante dan oom aja yang pergi." Debby mengalah.
Akhirnya mama dan papanya Sammy mengangguk tersenyum penuh tatapan kekaguman.
Jujur, sepertinya aku sangat jahat dan subjektif.
Tapi baru bertemu wanita ini sebentar aku langsung merasa tidak suka padanya.
Rasa kekaguman terhadap karakternya yang kuat, iri terhadap perhatian yang dia dapatkan, dan benci terhadap sikapnya yang pernah selingkuh dari Sammy, semua bercampur jadi satu.
Saking tercampur aduknya, rasanya perutku mual memikirkannya.
"Sam, boleh ke sini bentar?" Aku memanggil Sammy.
Sammy hanya mengangkat alis, kemudian menghampiriku.
"Kenapa Cher?"
"Kita jadi balik ke hotel jam berapa?"
"Kalian mau nginep di hotel?" Debby menyeruak pembicaraan di sebelahku.
Ughhh this poisonous meddling snake!!
"Iya, kita emang rencana mau booking hotel." Aku yang menjawab.
Percakapan ini beralih jadi 'antara-dua-wanita'.
"Kenapa nggak tidur di sini? Kamar El masih ada kok." Debby mengusulkan dengan 'cemerlang'.
"Iya, Sam. Nanti elo tidur bareng gue. Chery tidur sama Kezia aja." Leo menjawab. "Atau...mau tidur bareng Chery?"
"Jangan lah. Cowok cewek mana boleh gabung." Sammy memotong cepat. "Mau tidur di sini aja, Cher?"
Aku bimbang antara harus menerima tawarannya atau tidak.
Terlebih tatapan Debby yang sedari tadi seolah menyilaukan dan menghujam.
"Ya.... Nggak apa sih kalo gue. Biar elo ngobrol lamaan bareng keluarga." Aku mengalah.
"Yaudah, mama bantu siapkan kamarmu ya Sam." Mamanya Sammy bangkit berdiri dan menuju ke dalam.
"Aku juga... Balik ke sebelah dulu ya El." Debby pamitan.
Setelah itu dia pamit kepada semua yang hadir, dan menggandeng Airen keluar.
"Dia, tinggal di sebelah?" Aku bertanya setengah berbisik.
"Iya. Kan gue ceritain waktu itu, dia pindah ke sini waktu kelas 6 SD." Sammy menjawab singkat.
Wahh... Pantas saja ular berbisa itu menekankan agar Sammy menginap di sini.
Mungkin maksudnya agar bisa leluasa bertamu ke 'tetangga'.
Oh my God,...!
Mengapa aku jadi super duper negative thinking dan mulai berpikiran picik begini?
Akhirnya sepanjang sisa hari hingga sore sebelum berangkat ke Happy Puppy, aku hanya duduk dan mengutak-atik handphone.
Ajaibnya, Sammy tidak berusaha berkomunikasi denganku sama sekali dan sibuk dengan handphone nya.
Hingga sepanjang acara karaoke, aku yang biasanya paling heboh dan banci karaoke pun, memutuskan untuk tidak bernyanyi satu lagu pun.
Tatapanku terfokus ke Sammy yang terfokus mengutak atik handphone.
Aku duduk di sebelah kak Kezia yang tidak henti-hentinya menawari aku minuman.
Leo sepanjang 2 jam tidak hentinya bernyanyi mulai dari lagu barat, indonesia, lagu galau, hingga dangdut koplo.
"Kamu mau tidur deket jendela?" Kak Kezia menawarkan ketika sudah waktunya tidur.
"Aku, di mana aja jadi kak. Asal jangan di luar...banyak nyamuknya. Hehhehe..."
"Akhirnya kamu ketawa lagi." Kak Kezia menuturkan spontan. "Dari tadi ada Sammy, kamu muram terus. Kenapa? Sini cerita sama kakak..."
Sosok baik dan keibuan Kak Kezia mengingatkanku pada Vega.
Sudah jam segini, pasti Vega sudah beristirahat.
Untuk sekarang, biarlah Kak Kezia menggantikan Vega jadi kuping untuk mendengarku.
"Ya, Sammy sejak ngelihat Debby muncul hari ini... Jadi bengong terus kak. Aku dicuekin kayak kambing congek." Aku langsung manyun.
"Hahhaha... Udah kakak tebak alesanmu muram. Yahh... Kakak juga nggak bisa menjawab pertanyaanmu dengan tepat." Kak Kezia berusaha senetral mungkin. "Yang jelas, cinta pertama yang mati-matian Sammy hindari setelah sekian tahun mendadak muncul pasti bikin Sammy kepikiran."
"Memangnya dulu mereka pacaran serius?" Aku bertanya penasaran.
"Waktu mereka pacaran, kakak belum kenal sama Leo. Tapi dari ceritanya, Sammy udah sempat beli cincin tunangan. Saat kelulusan dia mau ngelamar Debby. Tapi saat itu juga dia nolak dan ngasih tahu bahwa dia udah hamil."
Aku hanya meng-oo kan pelan menanggapi ceritanya.
"Kalau dibilang serius atau engga, pastilah Sammy serius banget. Dia hampir mau menikahi Debby kok." Kak Kezia melanjutkan. "Maaf ya, kamu pasti sakit hati dengernya..."
"Dikit sih. Hehhehe..." Aku tidak memungkiri. "Cuma dibanding sakit hati, aku lebih merasa kasihan. Pasti perasaan Sammy masih ketinggalan di Debby. Apalagi sekarang Debby udah menjanda."
"Kamu nggak usah kuatir soal itu, Cher!" Kak Kezia memegang bahuku. "Kita sekeluarga nggak akan biarin Sammy jadi sama Debby! Kita semua juga kasihan aja soalnya Debby single parent sekarang. Tapi kalo untuk berhubungan lagi dengan Sammy, kakak pun menentang!"
Mendengar keseriusan dan penjelasan kak Kezia, aku sedikit lega.
Setidaknya untuk saat ini yang perlu kupikirkan adalah secepatnya balik ke Jakarta dan menyelesaikan reuni keluarga ini.
Begitu jauh dari Debby, dengan sendirinya Sammy akan lupa dengan rasa iba-nya dan kembali kepada keseharian kami.
Aku menjadi partnernya,
Dan Sammy akan sibuk mengejar cinta Pak Grandy.
Ya,...pasti seperti itu.
0