Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1138
9. Scandal
"Makasih banyak ya Cher... " Vega mengambil anaknya yang sedang tertidur dalam gendonganku.

Pakaianku sedikit basah karena gerah menggendong anaknya selama hampir sejam.
Meski rumah sakit ini ber-AC, tapi suhu tubuh anak kecil memang lebih tingggi.
Tapi wangi minyak telon dan bedak lembut bayi tidak dapat dipungkiri membuatku betah berlama-lama memeluk anak kecil itu.

"Habis ini kalian langsung balik?" Vega bertanya seusai merapikan posisi gendongan anaknya.

"Iya, kita mesti balik absen ke kantor dulu, dan nengok siapa tahu ada kerjaan tambahan." aku menjawab. "Yuk Sam,..."

Vega mengangguk dan melambaikan tangan.
Aku berbalik bersama Sammy menuju ke tempat parkir.
Sammy tampak lebih diam dari biasanya.
Aku pun tidak berani bertanya terlalu banyak tentang penyebab dia tidak seceria biasanya.
Mengingat 90% jawaban yang akan kudapat menyangkut Pak Grandy yang nantinya malah membuatku gantian bad mood.

"Wanna eat something?" Sammy bertanya.

Aku menoleh padanya dan melotot kaget.

"Sebelom dari Carolus...kita kan baru makan, Sam."

"IYa ya... gue lupa." Sammy menyahut datar. "Enggak lupa sih sebenernya. Nyari topik pembicaraan doang."

Aku tersenyum geli.
Ya, memang ciri khas Sammy untuk mencoba melawak tanpa punya bakat melucu sama sekali.
Dia lebih cocok dan mengena ketika menggoda atau flirting nggak jelas padaku.
Wait a minute, did i just admit that he's a good flirter?
Otakku semakin kacau saking berlama-lamanya duduk di sebelah Sammy.

"Gue absen dulu ya ke samping kantor Pak Grandy." Sammy memberi tahu.

Aku mengangguk dan menuju ke toilet.
Sekembali dari sana, Sammy belum juga kembali ke mejanya.
Aku menoleh ke mejaku yang terdapat sebuah folder tipis untuk project IRX.
Sepertinya seseorang meletakkannya ketika aku sedang di rumah sakit.
Aku membuka isinya dan membalik-balik halamannya.

Ternyata ini adalah hard copy dan terdapat cd soft copy Company Profile IRX yang sebelumnya.
Aku memperhatikan setiap detil layout berwarna biru dengan aksen Magenta di stroke nya.
Sebenarnya perpaduan warna magenta dengan hitam cukup nyentrik untuk sebuah perusahaan yang berpusat di bidang Management Trainee.
Menurut brief yang kudengar dari Pak Grandy beberapa waktu lalu, IRX memiliki kantor pusat di Singapura.

Tugas utamanya adalah menyediakan pelatihan kerja dan sistem manajemen bagi perusahaan yang baru berkembang.
IRX mengembangkan sayapnya ke Indonesia, terlebih karena di Indonesia sangat menjamur perusahaan yang 'gulung tikar' akibat pelayanan dan manajemen yang buruk.
Tapi kudengar, company theme di Indonesia akan sedikit berbeda dengan cabang di Singapura.
sebab image dari perusahaan pesaing di Singapura adalah 'cepat', 'tegas', dan 'disiplin' diikuti 'kualitas juara'.
Indonesia sendiri lebih mengandalkan prinsip 'murah' dan 'banyak fasilitas'.

Aku berharap jika mereka membutuhkan image branding yang tetap, akan dipilih seorang designer dan branding concept untuk tinggal di Singapura secara permanen.
Memikirkannya saja sudah membuatku excited sendiri.
Maksudku, mengawali karir di usia 24 tahun dan sudah berkesempatan untuk Go International, bagaikan kucing disuapi ikan gurame jumbo.
Serasa jackpot jika bisa mendapat kesempatan seperti itu.

"Cher... yuk ikut ke blowfish." tiba-tiba Sammy yang muncul dari belakang menepuk bahuku.

"Ha?" aku tercengang.

Pak Grandy berdiri di sebelah Sammy, melambaikan tangan kepadaku.
Aku hanya mengangguk terbata-bata dan membalikkan badan menghadap Sammy.

"Bareng Pak Grandy?" aku setengah berbisik.

"Dia yang ngajakin kok."

Dan akhirnya di sinilah aku, duduk di depan meja bar sambil mendengarkan dentuman musik keras yang memacu adrenalin.
Di depanku segelas minuman dengan bongkahan es berbentuk bulat mengambang di dalamnya.
Kulirik Sammy yang duduk di sebelah kananku dan Pak Grandy yang duduk di sebelahnya lagi.
Sepertinya penampilan Pak Grandy kacau sekali.

Kulirik 2 gelas kosong yang sudah ada di hadapannya.
Gila! Belum sampai sejam, Pak Grandy sudah menegak gelas ketiga?
Dari matanya yang sayu, sepertinya Pak Grandy sudah setengah mabuk.
Kusenggol Sammy.

"Serius nih, ngajak bos mabok-mabokan? Gimana kerjaan besok?"

"Ya sesekali lah Cher... kasian dia abis patah hati..."

"Loh, bukannya tadi cuma cekcok mulut?"

Sammy menggeleng simpati sambil meneguk minumannya sendiri.

"Lita kumat lagi. Katanya seharusnya nggak rujuk sama Pak Grandy lah... terus protes ini itu. Ya intinya mereka ribut gede."

Aku memperhatikan Pak Grandy yang menatap kosong ke counter bar.
Menatap botol-botol minuman yang berjajar rapi tersorot lampu.

"Padahal persoalannya sepele ya..." aku bergumam.

"Justru karena sepele Cher..." mendadak Pak Grandy nimbrung. "Saya kecewa berat sama Lita. Bertahun-tahun saya nggak ngelirik wanita lain, nungguin dia balik... tapi ternyata bagi dia, saya itu cuma laki-laki yang mengecewakan."

"Eh Pak.." aku salah tingkah sendiri. "Ya udah lah... jangan banyak dipikirin... lagi mabok entar malah ngaco."

"Enggak, justru ini saatnya saya ambil keputusan. Pokoknya saya mau cerai!"

Setelah berkata demikian, Pak Grandy terhuyung-huyung berjalan ke toilet.
Aku mengisyaratkan Sammy untuk menemani Pak Grandy, tempat yang tidak mungkin aku masuki.
Dia memapah Pak Grandy menuju toilet.

Pasti sulit menjadi Pak Grandy, tidak mengerti apa yang diinginkan istrinya.
Padahal mereka saling cinta, mengapa persoalan anak sangat penting bagi mereka?
Toh mereka bisa adopsi kapanpun, kan?

Sesaat kemudian handphone Pak Grandy berdering.
Layarnya berkedip-kedip menunjukkan nama Lita di sana.
Aku bergegas mengambil handphone itu dan berjalan ke arah toilet untuk menyerahkan handphonenya.
Kulewati beberapa orang dan berbelok ke jalan satu arah menuju toilet yang agak sepi.
Suara musik mulai meredup mendekati area toilet ini.

Saat berbelok lagi, aku terhenyak melihat pemandangan di hadapanku.
Pak Grandy bersandar ke tembok, dan Sammy di hadapannya.
Tidak lain sedang mencium Pak Grandy.

"Oh, shit!" aku bergumam sambil bersembunyi balik ke tikungan sebelumnya.

"Ini untuk balikin akal sehat Bapak!" terdengar suara Sammy agak nyaring. "Dan jangan sekali-kali lagi ngomong pingin mati, ya! Cengeng banget, tau gak?! Pak Grandy yang saya kenal nggak selembek ini gara-gara wanita!"

Pak Grandy terlihat mengerutkan dahi dan tertunduk.
Kemudian dia memeluk Sammy dan menangis terisak-isak.
Sammy menepuk punggungnya dan membiarkan Pak Grandy menangis terisak di bahunya.
Aku sendiri hanya bisa menahan nafas sambil berusaha menghilangkan bayangan tadi dari otakku.

Dari sekian banyak hal yang tidak bisa kulupakan, kurasa tadi akan menjadi urutan pertama.
The guy I like, kisses another man!
Damn!

Kuharap mereka berdua terlalu mabuk hari ini untuk mengingat apa yang terjadi besok.
Dengan pura-pura blo'on, aku muncul dari tikungan dan menyerahkan handphone ke tangan Pak Grandy.
Dia mengambil handphone itu dan menghapus air matanya.

"Yuk, balik." Pak Grandy mengajak kami pulang.

Aku mengangguk dengan lega dan langsung menyetujuinya.
Dari sudut mataku, kulihat Sammy mengangguk tapi dengan berat hati.
Sepanjang perjalanan pulang pun, Sammy tidak bicara sedikitpun.
Aku yang tidak mabuk, menyetir dan mencoba fokus ke jalanan.
Setelah menaruh mobil Pak Grandy di parkirannya dan mengantarkan dia masuk ke rumah, aku dan Sammy pulang naik taksi.

"Elo bisa balik sendiri?" aku memastikan Sammy masih sadar.

"Gue nggak mabuk banget kok." Sammy mengelus kepalaku. "Makasih ya..."

Aku tidak sempat bertanya lagi untuk apa ucapan terima kasih yang dia lontarkan.
Yang kuinginkan, hanya secepatnya pulang dan membenamkan kepalaku ke bantal untuk melewati hari ini.
Kulambaikan tangan ke Sammy dan berbalik menuju pulang.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.