Untuk merayakan kelulusan nanti, sekolah berencana mengadakan acara wisata ke Borobudur. Aku berharap bisa ikut wisata, karena selama ini aku hanya bisa melihat Borobudur dari buku sejarah atau tv. Aku mencari waktu yg tepat untuk membicarakan hal ini kepada Ayah dan Bunda agar aku tak melewatkan kesempatan berwisata bareng teman2 sekolah.
Kemudian, datanglah waktu yg aku tunggu. Walaupun aku diserang oleh kegugupan, aku berusaha untuk menyampaikannya. Dan ternyata jawabannya tak seperti yg aku harapkan.
Quote:
Aku : "Yah..Bun..?"
Ayah : "Ada apa Ka?"
Aku : "Emmhhh...emh..boleh gak kalo Cika ikut wisata?"
Ayah : "Siapa yg ngadain acara?"
Aku : "Dari sekolah Yah, kan bentar lagi mau kelulusan jadi kyk perpisahan gitu sama temen2 sekolah.."
Ayah : "Tanya Bunda aja boleh apa gak? Gimana Bun?"
Bunda : "Ngapain pake acara perpisahan segala orang nanti aja ketemu lagi atuh sama temen2nya."
Aku : "Tapi temen2 banyak yg ikut Bun?"
Bunda : "Gak wajib kan?"
Aku : "Engga..sih.."
Bunda : "Ya udah atuh kalo gak wajib, gak masalah kan kalo gak ikut, yg penting teh kelulusannya bukan wisatanya ini!"
Ayah : "Gimana Ka?"
Arrgg...mendengar kata2 Bunda seperti itu mata ku mulai berkaca-kaca dan begitu sesak menahannya.
Bunda : "Lagian kebutuhan juga bukan buat kamu aja, masih banyak kebutuhan, apalagi buat adik2 kamu.."
Aku : "Ya udah, gak apa2 Yah, Cika gak ikut."
Ayah : "Maafin Ayah ya Ka? Ayah sih boleh2 aja tapi kan uang dipegang Bunda semua, ya Bunda yg ngatur kebutuhan kamu sama adik2 kamu.."
Aku : "Iya Yah, ya udah Cika mau ajak Faries main aja.."
Lalu, aku pun pergi mengajak Faries bermain. Sebenarnya aku udah gak kuat pingin nangis. Aku hanya tak ingin mereka tau. Aku tak ingin ada kata2 lain yg keluar dari mulut Bunda, jika ia tau aku menangis gara2 gak boleh ikut wisata.
Tabungan yg aku miliki pun tak cukup banyak untuk membayarnya, belum lagi bekal untuk pergi ke sana. Akan sangat memalukan jika aku harus meminta kepada Nenek atau Bibi.
Sepertinya tak ada hal lain yg bisa aku lakukan.
Aku hanya menanagis dan bergumam.
Quote:
"Kenapa sih hal yg aku inginkan selalu saja susah aku dapat? Kebutuhan? Kebutuhan apa? Jika saja Ayah tau, selama ini aku menabung untuk keperluan sekolah ku, gak ada Bunda ngasih, jangankan untuk SPP, untuk buku LKS saja permintaan ku sebatas angin lewat. Bekal sekolah pun dikasih jika kebetulan Bunda bangun pagi. Selama ini juga aku gak banyak minta yg macem2, hanya kali ini saja, di acara perpisahan. Mama, Mama sekarang dimana Ma? Cika lagi butuh Mama. Tuhan, kenapa Mama menghilang begitu saja, apa semua orang udah gak sayang ma Cika? Lalu buat apa Cika ada? Sampe kapan semua ini berakhir?" 
Aku tak bisa membayangkan betapa serunya jika saja aku bisa ikut pergi wisata. Ini akan menjadi pengalaman pertama ku, mungkin mereka juga. Bukan karena malunya, namun karena ini acara perpisahan yg akan sayang jika dilewatkan. Yach, mungkin aku kurang beruntung seperti mereka.
Di sisi lain, aku semakin yakin bahwa hidup seseorang bisa berubah begitu cepat, secepat yg Tuhan inginkan. Hidup ku yg dulu dengan yg sekarang, sangat berbalik. Semoga Tuhan selalu memberi aku ketabahan atas semua pengalaman ini, dan...semoga saja Bunda bisa menjadi seorang Ibu yg aku harapkan. Jika hal itu tidak mungkin, semoga saja aku bisa tinggal dengan Mama lebih lama lagi atau selamanya.
Ups..ada yg lupa..