- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.8K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1128
8. Closer To You
Sunyi, senyap.
Berbeda dengan kantor yang selalu sibuk dengan dering telepon dan suara mesin faks atau printer,
Ruang kreatif advertising agency ini hanya dihiasi suara klik-an mouse yang sahut menyahut seperti kode morse
Suasana seperti inilah yang membuatku ngantuk setengah mati.
Kulirik meja di seberang menyilang dariku.
Tampak Sammy mengenakan kacamata serius menatap layar Mac-nya.
Ketika serius bekerja dengan kacamata anti radiasi-nya, Sammy memiliki daya tarik tersendiri.
Bolehlah dia mengenakan jaket kulit dan garis rahang ala Badboy-nya
Tapi executive look-nya dengan kombinasi kacamata dan kemeja tetap sukses membuatku berdecak kagum
Mungkin ketika hamil, mamanya ngidam Jhonny Depp atau Leonardo DiCaprio
Dorongan untuk mencuci muka dengan air dingin membuatku bangkit dan berjalan ke toilet.
Desain kantor ini memang 'go green' tercermin dari lantai yang terbuat dari kayu dengan batu bundar di dasarnya untuk memastikan kantor tetap sejuk tanpa menggunakan AC berlebih.
Di satu sisi, aku sangat menyukai jendela dengan kisi-kisi bambu yang dapat dibuka-tutup
Mengingatkanku pada uniknya nuansa pinggiran kota.
Sekembali dari toilet, aku duduk di kursi dan kembali menatap Adobe InDesign yang sedang kukerjakan.
Mataku tertuju pada Post-it kecil yang melekat di atas LCD Mac-ku.
"Am I too Hot to look at? Sampe elo ke WC saking grogi nya...."
Mataku melotot hampir tersedak nafasku sendiri.
Tawaku meledak sambil kutahan dengan telapak tangan.
Sial! Ternyata Sammy sadar tadi aku memperhatikannya cukup lama.
segera kubuka layar Skype dan mengetik sebaris 'peringatan' resmi.
"Pede nya overdosis banget deh." Aku menyemprot.
"Gimana nggak pede kalo sedari tadi diterkam sampe gerah sama elo!" Sammy terkekeh-kekeh.
"Rese! Gue ke WC cuci muka ngantuk, tau. Bukan salting ngeliatin elo."
"Kalo gitu, gue yang gerah karena ngeliatin elo."
Aku menggeram salting.
Iya, sodara-sodara. Jujur, aku salting luar biasa.
Terlebih setelah acara curhatan beberapa waktu lalu entah secara alami aku jadi lebih dekat dengan Sammy.
Muncul kebiasaan barunya yang belum pernah kulihat.
Seperti barusan ini, narsis luar biasa dan tidak malu untuk menuturkan berbaris-baris gombalan kepadaku.
Sesaat, membuat imanku 'goyah' untuk membalas dengan godaan.
Jika saja aku tidak ingat bahwa dia tidak tertarik pada wanita...
"Habis ini lunch bareng?" Sammy bertanya singkat padaku.
"Tergantung menu nya..."
"Yoshinoya? Kepingin nasi sapi nya..." Sammy mengusulkan
"Dan, tergantung siapa yang bayar..." Aku melanjutkan iseng.
"Walahh... Ga enak endingnya..."
Aku terkikik pelan kemudian menoleh ke Sammy yang secara-tidak-sengaja sedang menoleh padaku.
"12.30 gue tunggu di lobby ya."
Aku mengangguk ke arah Sammy.
Dalam hati berharap semoga waktunya cepat berlalu.
I don't work well kalau sedang lapar.
And I get bad mood.
Beberapa saat kemudian, seusai perjalanan ke Grand Indonesia yang super macet di Jakarta, kami masuk ke restoran fast food bergaya Jepang itu.
Warna oranye mendominasi seluruh interior dan tableware restoran ini.
Lagu Utada Hikaru mengalun memenuhi seisi restoran.
"Satu beef bowl sama ocha refill ya... Elo?" Sammy dengan cepat memesan dan menoleh padaku.
"Chicken bowl...sama Milo."
Sammy berdecak sambil menggeleng-geleng.
"Gue rasa kalo dibuka, dada elo montok kayak dada ayam saking seringnya makan ayam..."
Aku menepuk lengan Sammy pelan sambil melotot.
"Porno!" Aku menegur.
"Gue ngomongin dada ayam....elo yang piktor..." Sammy menjulurkan lidah.
Mau tak mau, aku tersenyum geli.
Sambil dari sudut mata melihat kasir yang kagok karena merasa tidak nyaman dengan obrolan 'dewasa' ini.
Seusai meraih nampan, kami duduk di salah satu kursi dengan bantalan punggung empuk.
"By the way, elo tau hadiah ultah yang bagus buat orang yang cheerful, gokil, agak nyentrik?"
"Cowok apa cewek?" Aku bertanya hati-hati.
"Cowok."
Hatiku mencelos.
Dari gambarannya, sepertinya orang yang dituju itu bukan Pak Grandy,
Tapi justru hal itu makin merisaukanku.
Baru satu Pak Grandy saja sudah membuat batinku tidak tenang mengingat Sammy naksir berat kepadanya
Kini muncul saingan baru lagi??
"Hey, kok bengong?" Sammy mengibaskan tangan di depan wajahku.
"Eh? Hahaa...sori spaced out. Ehmm... Tergantung hubungan elo sama penerima kado..." Aku menuturkan.
"Kakak gue."
As if fireworks popped in my head,
Aku merasa lega setengah mati mendengar Sammy ternyata ingin membeli kado untuk kakaknya.
Aku menjaga ekspresi tetap tenang agar tidak terlihat overexcited.
"Elo kan sesama cowok, kenapa malah nanya ke gue?"
"Because the personality fits you. Cheerful, rame, imajinatif, ... And lovely."
Aku menelan ludah mendengar kata terakhirnya.
Entah dia maksudkan kakaknya atau aku yang lovely.
Kadang, menginterpretasikan kata-kata orang yang ditaksir memang perlu kebijaksanaan ekstra.
Salah-salah jadi kegeeran.
"Hobinya? Apa dia punya hobi?"
Sammy mengangkat bahu.
"Average office worker. Suka nonton film, tapi nggak mungkin gue kasi HD Blu-ray player kan? Over budget."
Aku menimbang-nimbang sesaat.
"Married?"
"Iya udah nikah..."
"Kasih aja mug sepasang utk dipake sama istrinya. Pasti sweet banget!"
"Itu mah maunya elo. Hahhaha..." Sammy mengacak rambutku pelan. "Kalo punya pacar, elo sukanya pake barang sepasang ya?"
Pertanyaan menjebak itu sukses membuatku menggigit bibir dan menaikkan sebelah alis.
"Selama ini gue baru pacaran 2 kali, dan dua-duanya LDR. So, to answer your question just now... gue nggak tahu dan belom pernah pake couple item."
Sammy bungkam seolah simpati.
Aku menyunggingkan senyum dan menyenggol bahunya.
"Nggak usah melas gitu dong. Gue udah umur 24, udah nggak tergoda pake couple-couple an kayak ABG lagi. It was a looooong story."
Sammy mengangguk-angguk kemudian mengunyah beef bowl nya.
"O iya! Gue baru inget, dia suka banget sama sulap."
"That's it. Beliin aja peralatan sulap."
Sammy tersenyum puas seolah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Seusai makan, aku mendapat telepon dari Vega.
"Ya, Ve?" aku bertanya saat mengangkat telepon.
"Cher... Gue harus bawa Milo ke rumah sakit. Nggak ada yang jagain anak gue... boleh minta tolong ikut ke Rumah Sakit Carolus? Gendongin anak gue selagi Milo terapi..."
Aku menoleh ke Sammy.
Dia sedang mengutak-atik handphone penuh konsentrasi.
"Gue di Grand Indonesia. kira-kira setengah jem ke tempat elo ya..."
"Boleh. Makasih banget ya Cher..."
Telepon diputus, kemudian aku mencolek lengan Sammy.
"Sam, boleh drop-in gue di Carolus? Vega ada urgent matter."
"Lho, kantornya?" Sammy bertanya.
"Tadi katanya Pak Grandy lagi mau rapat di luar. Hehehe... lagian nggak bisa ditinggal. Kasian Vega..."
Sammy mengangguk paham kemudian meraih kunci mobilnya.
Kami menuju ke RS Carolus dan menuju lobby.
Vega sedang duduk memangku anaknya dengan Milo di sebelahnya.
Dia mengangkat kepala tepat saat aku tiba.
"Hey... thanks banget Cher..." Vega menyodorkan anaknya bersama tas peralatan bayi dan menyampirkannya di bahuku. "Gue selesai dalam... 3 jam."
"Hah?? 3 Jam?! Nggak boleh anaknya gue bawa ke kantor aja? Gue mesti bilang apa ke bos?"
Vega memelas menatapku.
"Okelah...I'll come up with something." aku menyerah pada tatapan Vega yang memelas itu.
Dia tersenyum senang dan penuh terima kasih.
Sesaat kemudian dia mengenggolku sambil berbisik.
"Your boyfriend?"
Vega melirik Sammy yang berdiri di belakangku sambil mencoba menggoda anak Vega yang sedang kugendong.
"Sammy ini. Bukannya elo pernah ngeliat di foto?" aku mengerutkan alis.
"Gue bukan photo memory." Vega berdalih. "Serasi kok."
Aku tertawa hambar sambil menyaksikan Vega menggandeng Milo pergi menjauh.
Menggendong anak balita di tanganku, aku menatap sosok imut yang sedang memasukkan jari ke mulutnya.
"Jangan masukin tangan ke mulut dong, sayang..." aku menggeser tangannya dari mulut.
"Believe it or not, you look hot with that baby." Sammy berbisik dari belakangku.
Bulu kudukku bergidik sambil menoleh ke belakang.
"What the..." aku mengusap tengkukku. "Jangan ngomong aneh-aneh di depan anak kecil."
Aku melotot memperingatkan, menutupi rasa salting yang menjalariku.
Sammy tertawa puas menggodaku.
"Elo nggak balik kantor?" aku bertanya.
"Enggak, gue nemenin elo aja."
"Nanti kena masalah sama yayang Grandy lhoo..." aku meledek.
"Justru kan bisa berduaan di ruangan pas dia omelin." Sammy balas mengedipkan sebelah matanya.
Aku langsung memasang poker face.
Sedikit menyesal menanggapi gurauannya.
Dari setiap kalimatnya, he seems soooo into him.
Naksir berat dengan Pak Grandy.
"Chery?"
Aku menoleh dan mengenali suara ngebass itu.
Dari agak samping, kutatap pemilik mata teduh berwibawa itu bersama istrinya di sebelahnya.
Sammy yang semula tertawa-tawa gantian tersenyum garing.
"Eh, Pak Grandy..." aku bergumam.
"Kamu, kenapa nggak di kantor?"
"Saya,... ada keperluan penting pak. Bapak sendiri, bukannya rapat?" aku balas bertanya.
Lita tersenyum dan mengamit lengan Pak Grandy.
"Rapatnya sambil makan siang sama saya... hehehe..."
Pak Grandy kelihatan salah tingkah dan menggaruk leher belakangnya.
Dia merangkul bahu Lita dan mengelusnya perlahan.
"Untuk kali ini, kita impas ya. Sama-sama bolos sehabis lunch. Hahaha..."
Aku tersenyum kecil.
Menarik sekali, bagaimana rasa cinta Pak Grandy terhadap Lita bisa membuat seorang atasan bolos demi menemani istrinya makan siang.
Wajar, mereka baru saja rujuk.
Pemandangan menyilaukan ini, membuatku terpesona tapi di saat yang bersamaan menyayat Sammy.
Terlihat dari sudut mataku, dia hanya terdiam tanpa respon atau komentar yang berarti.
"Ini anak kamu?" Pak Grandy menjulurkan tangan untuk menggendongnya.
"Wah, enggak pak. Saya nikah aja belum..." aku menyangkal dengan cepat.
Pak Grandy tersenyum dan menikmati menggendong anak Vega.
Dipeluknya anak yang kalem bersandar di pelukan Pak Grandy.
"Menggendong balita seperti ini, saya jadi pingin punya anak..."
Mataku membesar dan tanpa sadar menganga.
Sepertinya Pak Grandy butuh 3 detik untuk terdiam juga dan menyadari kesalahan terbodohnya.
Dengan cepat dia menoleh ke Lita yang senyumnya sudah memudar dari wajahnya.
"Kita kan bisa,...adopsi ya sayang..." Pak Grandy berusaha menenangkan istrinya.
"Ya..." Lita tersenyum terpaksa. "Aku mau balik tugas dulu ya. Ada hal penting yang mesti diurus..."
Secepat ninja, Lita berbalik dan meninggalkan lobi.
Pak Grandy tergopoh-gopoh mengembalikan anak itu ke pelukanku dan berlari kecil menyusul Lita.
"Ahh...baru juga baikan." aku memelas. "Lita memang sensitif gitu ya, Sam?"
Sammy hanya mengangkat bahu, tampak tidak tertarik menjawab pertanyaanku.
Wajar sebenarnya jika Sammy tidak tahu, atau bahkan tidak ingin tahu.
Aku berfokus memikirkan apa yang sedang Sammy rasakan.
Pasti berat menyukai seseorang yang tidak mungkin menyukai kita balik.
Aku mengerti, karena aku juga merasakannya.
Sammy yang di hadapanku,
Berdiri begitu dekat, mendadak tampak begitu jauh.
Berbeda dengan kantor yang selalu sibuk dengan dering telepon dan suara mesin faks atau printer,
Ruang kreatif advertising agency ini hanya dihiasi suara klik-an mouse yang sahut menyahut seperti kode morse
Suasana seperti inilah yang membuatku ngantuk setengah mati.
Kulirik meja di seberang menyilang dariku.
Tampak Sammy mengenakan kacamata serius menatap layar Mac-nya.
Ketika serius bekerja dengan kacamata anti radiasi-nya, Sammy memiliki daya tarik tersendiri.
Bolehlah dia mengenakan jaket kulit dan garis rahang ala Badboy-nya
Tapi executive look-nya dengan kombinasi kacamata dan kemeja tetap sukses membuatku berdecak kagum
Mungkin ketika hamil, mamanya ngidam Jhonny Depp atau Leonardo DiCaprio
Dorongan untuk mencuci muka dengan air dingin membuatku bangkit dan berjalan ke toilet.
Desain kantor ini memang 'go green' tercermin dari lantai yang terbuat dari kayu dengan batu bundar di dasarnya untuk memastikan kantor tetap sejuk tanpa menggunakan AC berlebih.
Di satu sisi, aku sangat menyukai jendela dengan kisi-kisi bambu yang dapat dibuka-tutup
Mengingatkanku pada uniknya nuansa pinggiran kota.
Sekembali dari toilet, aku duduk di kursi dan kembali menatap Adobe InDesign yang sedang kukerjakan.
Mataku tertuju pada Post-it kecil yang melekat di atas LCD Mac-ku.
"Am I too Hot to look at? Sampe elo ke WC saking grogi nya...."
Mataku melotot hampir tersedak nafasku sendiri.
Tawaku meledak sambil kutahan dengan telapak tangan.
Sial! Ternyata Sammy sadar tadi aku memperhatikannya cukup lama.
segera kubuka layar Skype dan mengetik sebaris 'peringatan' resmi.
"Pede nya overdosis banget deh." Aku menyemprot.
"Gimana nggak pede kalo sedari tadi diterkam sampe gerah sama elo!" Sammy terkekeh-kekeh.
"Rese! Gue ke WC cuci muka ngantuk, tau. Bukan salting ngeliatin elo."
"Kalo gitu, gue yang gerah karena ngeliatin elo."
Aku menggeram salting.
Iya, sodara-sodara. Jujur, aku salting luar biasa.
Terlebih setelah acara curhatan beberapa waktu lalu entah secara alami aku jadi lebih dekat dengan Sammy.
Muncul kebiasaan barunya yang belum pernah kulihat.
Seperti barusan ini, narsis luar biasa dan tidak malu untuk menuturkan berbaris-baris gombalan kepadaku.
Sesaat, membuat imanku 'goyah' untuk membalas dengan godaan.
Jika saja aku tidak ingat bahwa dia tidak tertarik pada wanita...
"Habis ini lunch bareng?" Sammy bertanya singkat padaku.
"Tergantung menu nya..."
"Yoshinoya? Kepingin nasi sapi nya..." Sammy mengusulkan
"Dan, tergantung siapa yang bayar..." Aku melanjutkan iseng.
"Walahh... Ga enak endingnya..."
Aku terkikik pelan kemudian menoleh ke Sammy yang secara-tidak-sengaja sedang menoleh padaku.
"12.30 gue tunggu di lobby ya."
Aku mengangguk ke arah Sammy.
Dalam hati berharap semoga waktunya cepat berlalu.
I don't work well kalau sedang lapar.
And I get bad mood.
Beberapa saat kemudian, seusai perjalanan ke Grand Indonesia yang super macet di Jakarta, kami masuk ke restoran fast food bergaya Jepang itu.
Warna oranye mendominasi seluruh interior dan tableware restoran ini.
Lagu Utada Hikaru mengalun memenuhi seisi restoran.
"Satu beef bowl sama ocha refill ya... Elo?" Sammy dengan cepat memesan dan menoleh padaku.
"Chicken bowl...sama Milo."
Sammy berdecak sambil menggeleng-geleng.
"Gue rasa kalo dibuka, dada elo montok kayak dada ayam saking seringnya makan ayam..."
Aku menepuk lengan Sammy pelan sambil melotot.
"Porno!" Aku menegur.
"Gue ngomongin dada ayam....elo yang piktor..." Sammy menjulurkan lidah.
Mau tak mau, aku tersenyum geli.
Sambil dari sudut mata melihat kasir yang kagok karena merasa tidak nyaman dengan obrolan 'dewasa' ini.
Seusai meraih nampan, kami duduk di salah satu kursi dengan bantalan punggung empuk.
"By the way, elo tau hadiah ultah yang bagus buat orang yang cheerful, gokil, agak nyentrik?"
"Cowok apa cewek?" Aku bertanya hati-hati.
"Cowok."
Hatiku mencelos.
Dari gambarannya, sepertinya orang yang dituju itu bukan Pak Grandy,
Tapi justru hal itu makin merisaukanku.
Baru satu Pak Grandy saja sudah membuat batinku tidak tenang mengingat Sammy naksir berat kepadanya
Kini muncul saingan baru lagi??
"Hey, kok bengong?" Sammy mengibaskan tangan di depan wajahku.
"Eh? Hahaa...sori spaced out. Ehmm... Tergantung hubungan elo sama penerima kado..." Aku menuturkan.
"Kakak gue."
As if fireworks popped in my head,
Aku merasa lega setengah mati mendengar Sammy ternyata ingin membeli kado untuk kakaknya.
Aku menjaga ekspresi tetap tenang agar tidak terlihat overexcited.
"Elo kan sesama cowok, kenapa malah nanya ke gue?"
"Because the personality fits you. Cheerful, rame, imajinatif, ... And lovely."
Aku menelan ludah mendengar kata terakhirnya.
Entah dia maksudkan kakaknya atau aku yang lovely.
Kadang, menginterpretasikan kata-kata orang yang ditaksir memang perlu kebijaksanaan ekstra.
Salah-salah jadi kegeeran.
"Hobinya? Apa dia punya hobi?"
Sammy mengangkat bahu.
"Average office worker. Suka nonton film, tapi nggak mungkin gue kasi HD Blu-ray player kan? Over budget."
Aku menimbang-nimbang sesaat.
"Married?"
"Iya udah nikah..."
"Kasih aja mug sepasang utk dipake sama istrinya. Pasti sweet banget!"
"Itu mah maunya elo. Hahhaha..." Sammy mengacak rambutku pelan. "Kalo punya pacar, elo sukanya pake barang sepasang ya?"
Pertanyaan menjebak itu sukses membuatku menggigit bibir dan menaikkan sebelah alis.
"Selama ini gue baru pacaran 2 kali, dan dua-duanya LDR. So, to answer your question just now... gue nggak tahu dan belom pernah pake couple item."
Sammy bungkam seolah simpati.
Aku menyunggingkan senyum dan menyenggol bahunya.
"Nggak usah melas gitu dong. Gue udah umur 24, udah nggak tergoda pake couple-couple an kayak ABG lagi. It was a looooong story."
Sammy mengangguk-angguk kemudian mengunyah beef bowl nya.
"O iya! Gue baru inget, dia suka banget sama sulap."
"That's it. Beliin aja peralatan sulap."
Sammy tersenyum puas seolah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Seusai makan, aku mendapat telepon dari Vega.
"Ya, Ve?" aku bertanya saat mengangkat telepon.
"Cher... Gue harus bawa Milo ke rumah sakit. Nggak ada yang jagain anak gue... boleh minta tolong ikut ke Rumah Sakit Carolus? Gendongin anak gue selagi Milo terapi..."
Aku menoleh ke Sammy.
Dia sedang mengutak-atik handphone penuh konsentrasi.
"Gue di Grand Indonesia. kira-kira setengah jem ke tempat elo ya..."
"Boleh. Makasih banget ya Cher..."
Telepon diputus, kemudian aku mencolek lengan Sammy.
"Sam, boleh drop-in gue di Carolus? Vega ada urgent matter."
"Lho, kantornya?" Sammy bertanya.
"Tadi katanya Pak Grandy lagi mau rapat di luar. Hehehe... lagian nggak bisa ditinggal. Kasian Vega..."
Sammy mengangguk paham kemudian meraih kunci mobilnya.
Kami menuju ke RS Carolus dan menuju lobby.
Vega sedang duduk memangku anaknya dengan Milo di sebelahnya.
Dia mengangkat kepala tepat saat aku tiba.
"Hey... thanks banget Cher..." Vega menyodorkan anaknya bersama tas peralatan bayi dan menyampirkannya di bahuku. "Gue selesai dalam... 3 jam."
"Hah?? 3 Jam?! Nggak boleh anaknya gue bawa ke kantor aja? Gue mesti bilang apa ke bos?"
Vega memelas menatapku.
"Okelah...I'll come up with something." aku menyerah pada tatapan Vega yang memelas itu.
Dia tersenyum senang dan penuh terima kasih.
Sesaat kemudian dia mengenggolku sambil berbisik.
"Your boyfriend?"
Vega melirik Sammy yang berdiri di belakangku sambil mencoba menggoda anak Vega yang sedang kugendong.
"Sammy ini. Bukannya elo pernah ngeliat di foto?" aku mengerutkan alis.
"Gue bukan photo memory." Vega berdalih. "Serasi kok."
Aku tertawa hambar sambil menyaksikan Vega menggandeng Milo pergi menjauh.
Menggendong anak balita di tanganku, aku menatap sosok imut yang sedang memasukkan jari ke mulutnya.
"Jangan masukin tangan ke mulut dong, sayang..." aku menggeser tangannya dari mulut.
"Believe it or not, you look hot with that baby." Sammy berbisik dari belakangku.
Bulu kudukku bergidik sambil menoleh ke belakang.
"What the..." aku mengusap tengkukku. "Jangan ngomong aneh-aneh di depan anak kecil."
Aku melotot memperingatkan, menutupi rasa salting yang menjalariku.
Sammy tertawa puas menggodaku.
"Elo nggak balik kantor?" aku bertanya.
"Enggak, gue nemenin elo aja."
"Nanti kena masalah sama yayang Grandy lhoo..." aku meledek.
"Justru kan bisa berduaan di ruangan pas dia omelin." Sammy balas mengedipkan sebelah matanya.
Aku langsung memasang poker face.
Sedikit menyesal menanggapi gurauannya.
Dari setiap kalimatnya, he seems soooo into him.
Naksir berat dengan Pak Grandy.
"Chery?"
Aku menoleh dan mengenali suara ngebass itu.
Dari agak samping, kutatap pemilik mata teduh berwibawa itu bersama istrinya di sebelahnya.
Sammy yang semula tertawa-tawa gantian tersenyum garing.
"Eh, Pak Grandy..." aku bergumam.
"Kamu, kenapa nggak di kantor?"
"Saya,... ada keperluan penting pak. Bapak sendiri, bukannya rapat?" aku balas bertanya.
Lita tersenyum dan mengamit lengan Pak Grandy.
"Rapatnya sambil makan siang sama saya... hehehe..."
Pak Grandy kelihatan salah tingkah dan menggaruk leher belakangnya.
Dia merangkul bahu Lita dan mengelusnya perlahan.
"Untuk kali ini, kita impas ya. Sama-sama bolos sehabis lunch. Hahaha..."
Aku tersenyum kecil.
Menarik sekali, bagaimana rasa cinta Pak Grandy terhadap Lita bisa membuat seorang atasan bolos demi menemani istrinya makan siang.
Wajar, mereka baru saja rujuk.
Pemandangan menyilaukan ini, membuatku terpesona tapi di saat yang bersamaan menyayat Sammy.
Terlihat dari sudut mataku, dia hanya terdiam tanpa respon atau komentar yang berarti.
"Ini anak kamu?" Pak Grandy menjulurkan tangan untuk menggendongnya.
"Wah, enggak pak. Saya nikah aja belum..." aku menyangkal dengan cepat.
Pak Grandy tersenyum dan menikmati menggendong anak Vega.
Dipeluknya anak yang kalem bersandar di pelukan Pak Grandy.
"Menggendong balita seperti ini, saya jadi pingin punya anak..."
Mataku membesar dan tanpa sadar menganga.
Sepertinya Pak Grandy butuh 3 detik untuk terdiam juga dan menyadari kesalahan terbodohnya.
Dengan cepat dia menoleh ke Lita yang senyumnya sudah memudar dari wajahnya.
"Kita kan bisa,...adopsi ya sayang..." Pak Grandy berusaha menenangkan istrinya.
"Ya..." Lita tersenyum terpaksa. "Aku mau balik tugas dulu ya. Ada hal penting yang mesti diurus..."
Secepat ninja, Lita berbalik dan meninggalkan lobi.
Pak Grandy tergopoh-gopoh mengembalikan anak itu ke pelukanku dan berlari kecil menyusul Lita.
"Ahh...baru juga baikan." aku memelas. "Lita memang sensitif gitu ya, Sam?"
Sammy hanya mengangkat bahu, tampak tidak tertarik menjawab pertanyaanku.
Wajar sebenarnya jika Sammy tidak tahu, atau bahkan tidak ingin tahu.
Aku berfokus memikirkan apa yang sedang Sammy rasakan.
Pasti berat menyukai seseorang yang tidak mungkin menyukai kita balik.
Aku mengerti, karena aku juga merasakannya.
Sammy yang di hadapanku,
Berdiri begitu dekat, mendadak tampak begitu jauh.
Diubah oleh jumpingworm 06-11-2013 21:44
0