Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.5K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#264
Having You - Bagian V

Senin, 28 Nopember 2011

"Ada yang mau bertanya?" Tanya Buk Rika kembali ke kursinya.

Nggak ada buk, orang saya lagi galau, Bu Ujar gue dalam hati mencari-cari kerjaan agar tidak bosan.

"Enggak ada ya. Ya sudah, silahkan dicatat" Suruh buk Rika ketika melihat mahasiswanya pada nekur semua.

Gue takut kehilangan sayap gue lagi. Apa yang terjadi ya sama Sigit dan Nino, pikir gue.

======

Kembali ke Jum'at Malam, 18 Nopember 2011

Gue menatapi raut wajah ke empat orang yang duduk di meja makan itu. Karin, Nino, maupun Rei, memasang muka bahagia. Senyum dan aura mata mereka tidak bisa berbohong. Apa kalian nggak tahu gue lagi galau? emoticon-Frown

Gue pun menatap jam di layar ponsel gue. Sudah jam 8 saja. Padahal baru tadi rasanya gue sholat Maghrib. Mereka asik ngobrol sedangkan gue berdiam diri. Diajakin ngobrol, gue jawab singkat. Beban di kepala gue sudah menumpuk. Takutnya scriptkata-kata yang tadi gue tuliskan di benak gue untuk Nino hilang.

Sembari tersenyum memandangi wajah mereka bertiga yang tampaknya ceria dan penuh semangat, Nino berceletuk,

"Ahh, ada telepon dari Kak Sigit bentar ya."

Nino mengangkat teleponnya.

"Halo, iya Kak, ada apa?... Ohh, Nabila lagi di luar makan... Iya, ke sini aja, ramai kok."

Lalu dia mematikannya.

What the hell is going on?, Rei melirik gue. Dari tatapannya gue tahu dia berkata, Hayo loh.

Beberapa saat kemudian, kami pun mendengar panggilan dari samping.

"Hei!"

Sigit, he is coming here, with an innocent face. Lalu Rei berbisik,

"Gas, gue nggak jadi deh bantuin lu berantem. emoticon-Big Grin"

"Kenapa?"

"Lebih keren soalnya, bawa motor Ninja lagi, pasti kalah lu. emoticon-Big Grin"

"Anjir. emoticon-Big Grin Sial!" Jawab gue.

"Kenapa Gas?" Sahut Sigit tiba-tiba.

"Hah? Enggak emoticon-Big Grin Bisnis ama Rei. emoticon-Big Grin"

Sigit cuma mengangguk dan tersenyum. Rasa-rasanya itu senyum bermaksud kalau dia tahu gue lagi gunjingin dia.

FULL. Gue bener-bener full diabaikan, martabak yang tadinya dibeli buat makan berdua, malah dimakan bareng-bareng. Gue jadi pendengar setia, mereka berampat ngobrol tanpa ngegubris gue sama sekali.

"Dah, yuk balik! Yuk, Kak Rei." Ujar Karin ketika menyadari sudah jam 9.

"Yuk!"

"Ya, udah lama nih di sini. Yuk, balik yuk. emoticon-Big Grin" Ujar Nino sambil nyengir.

emoticon-Nohope Masa gue nggak jadi ngomong juga nih hari ini. emoticon-Frown

Gue, Sigit dan Nino mengarah ke kosan Nino. Rei dan Karin mengarah ke kosan Karin. Sigit naik motornya duluan karena Nino bilang mau nemenin gue jalan. Gue memperhatikan Nino terus yang senyum-senyum nggak jelas. emoticon-Nohope

"Kenapa lu ngeliatin gue? emoticon-Big Grin"

"Kayaknya senang banget lu, Sigit dateng." Ujar gue ketus.

"Hehe. emoticon-Big Grin Enggak juga. emoticon-Stick Out Tongue"

Wanita memang susah dimengerti. Sesampainya di kosan Nino, gue langsung mengambil tas dan sepatu. Berniat untuk balik. Kesal gue. Masa gue ditahan-tahan begini saat pengin mengutarakan perasaan gue. emoticon-Frown

"Gue balik duluan ya. Thanks, Nin. Cabut, Bro. emoticon-Smilie" Pamit gue datar.

"Yop, hati-hati, Bro!"

Gue melangkah dengan tenang, tanpa menoleh ke belakang. emoticon-Mad


Sabtu, 19 Nopember 2011

"Gas, sorry gue mau ngomong sama lu bisa nggak? Sigit." Received 11.55

Gue menguap lebar, entah SMS dari siapa datang di Sabtu pagi ini. Gue ngantuk. Ketika gue lihat SMS itu, sontak gue kaget. emoticon-Kagets

Kayaknya ini orang mau ngajak berantem nih. emoticon-Takut (S)

"Hoi, boleh, boleh. Silahkan, silahkan... gue di kosan kok." Ujar gue. Penasaran juga apa yang mau diomongin sama Sigit.

Gue pun mandi, ganti baju, dan duduk rapi menunggu Sigit yang mau menghampiri gue ke kosan.

"Gue udah di Nangor, alamat kosan lo dimana?" Received 13.22

"Kosan gue di daerah Sukawening. Tau kan? Ke arah Sumedang, setelah Indomaret kedua dari arah kampus belok kanan. Nanti gue jemput di luar." Sent 13.23

Namun nggak di balas. Gue pun berjalan ke Indomaret.

"Gue udah di Indomaret nih." Received 13.33

"Ya, lagi OTW." Sent 13.34

Gue mendapati motor Ninja hitam yang kemarin dia pakai itu di depan Indomaret.

"Woi, Git, ada apa?"

"Hehe, mau bali makanan nggak lo. Cemilan apa kek, gue beli bentar ya! emoticon-Big Grin"

Wah, ada maunya nih orang. Bisik gue suudzon dalam hati.

Setelah dia membawa bungkusan cemilan, dia langsung menyalakan motornya dan menyuruh gue duduk di jok belakang. Gue pun duduk di jok motor Ninjanya, setelah itu gue langsung nanya.

"Yuk ngomong apaan Git? Dimana nih maunya?"

"Hehe, buru-buru amat sih, Bro. emoticon-Big Grin Ya sudah, di kosan lu aja."

Kami pun menuju kosan gue. Gue duduk di jok belakang Ninja 250cc yang tinggi itu. Heh, kayaknya Nino lebih senang duduk di sini daripada jalan kaki sama gue, entah kenapa tiba-tiba dalam pikiran gue seperti itu.

Kami pun sampai di kosan. Setelah gue mempersilahkan masuk dan memberi minum, Sigit mulai berbasa-basi.

"Lagi ngapain lo tadi?"

Heeeh, kepo amat sih Git. emoticon-Frown Ayo, mau ngomong apa? Ngajak berantem kah?

"Enggak ngapa-ngapain, baru bangun gue." Ujar gue tenang.

Mungkin sepertinya dia sadar akan kebetean gue berlama-lama seperti ini. Dia terdiam seperti merangkai kata-kata buat ngomong sesuatu itu sama gue. Dan benar saja, beberapa saat kemudian, dia ngomong.

"Gas, lu suka sama Nino?" Ujarnya tiba-tiba.

"emoticon-Roll Eyes (Sarcastic) Hah? Hmm, jujur sih, iya.... Kenapa?" Gue nggak mau lagi berbohong. Karena dengan kebohongan, semuanya bakal hancur lebur.

"Hehe, nanya aja. emoticon-Big Grin"

"...." Gue diam, menunggu dia menjawab pertanyaan gue. Jujur saat itu gue juga grogi karena pernah mendengar masa lalunya Sigit. emoticon-Big Grin emoticon-Nohope

"Gas, gue respect sama lo. Saat pertama kali gue ngobrol sama lo, ada aura yang beda dari lo. Lo punya kharisma....
Bilang aja gue ganteng, Git emoticon-Big Grin Ujar gue dalam hati.

".... Cara lo ngomong, cara lo bersikap, gue sadar kalau lo bisa bergaul sama siapa pun, bahkan mungkin sama musuh sekalipun...." lanjutnya.
Eh, sudah tahu gue. emoticon-Big Grin Memang gue kayak gitu, musuh pun bisa gue jadikan teman. Makanya gue banyak teman. emoticon-Smilie

".... Kalau Nino sama lo, gue yakin lo bisa buat dia bahagia."
Ohh, mulai bahas Nino kah? emoticon-Big Grin

"Tapi, Gas, gue juga suka sama Nino. Dan, munafik kalau gue bilang, cinta tak harus memiliki."
Iya betul, gue juga menganggap seperti itu, jadi mau rebutan nih?

"Terus??" Jawab gue sedikit mencoba merespon dan mendengar lanjutannya. Semakin penasaran.

"Gue mau nembak Nino."

"Hah? emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)" Ujar gue. Waduh, kacau.

"Lo udah tau kan tentang gue sama Nino?"

"Dikit sih, kenapa?"

"Berarti lo udah tahu kan, masalah gue, Karin dan Nino dulu?"

"Dikit juga, katanya lu ngejadiin Nino pelarian!" Ujar gue dengan nada naik.

"Mungkin bagi Nino, iya, Gas. Tapi lo sama Nino nggak bakal tahu isi hati gue yang sebenarnya apa, don't judge with cover boy!" Giliran dia yang nadanya naik. Tapi benar juga sih, tergantung sudut pandang orang.

"Emang cerita sebenarnya kayak gimana? Boleh tau?"

Sigit duduk dengan tegap. Dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya cepat.

"Gue--gue awalnya suka sama Nino." Ujarnya.

"Ya, lu homo. Hehe. emoticon-Big Grin"

"Haha, ya, gue bahkan rela, Gas, jadi homo. Namun pas SMA, gue nggak ketemu Nino selama satu tahun, karena dia balik ke Jerman. Gue kangen, kangen banget."

"Ya, terus? Lu ketemu Karin kan dan jatuh cinta?" Tanya gue mulai penasaran dan kepo.

"Enggak." Dia menggeleng, "Gue memang ketemu Karin, hanya gue nggak jatuh cinta."

"Hah? emoticon-Roll Eyes (Sarcastic) Lah, katanya lu nembak Karin?"

"Iya, dengerin dulu makanya. emoticon-Nohope"

"Oh iya, iya. Lanjut, lanjut! emoticon-Big Grin" Kan, kena omel pentolan. emoticon-Big Grin

"Karin dulu nggak kayak Karin sekarang, Gas. Dibalik kepopulerannya, dia sering dibully. Karena dia cantik, banyak cowok-cowok yang suka sama dia. Dia terkenal di kalangan cowok-cowok sebagai bidadari, sedangkan dikalangan cewek-cewek sebagai musuh utama. Dia selalu sendirian di kantin, nggak punya teman. Gue kasihan sumpah! Kadang gue ngelihat dia nangis abis dari kamar mandi saat gue lewat...."
Ohhhh, pantes dulu Karin takut nggak punya teman! Informasi baru masuk di otak gue.

"Terus gue coba deketin Karin, jadi teman. Cuma, berita menyebar ke seluruh sekolah. Lo tahu kan siapa gue, banyak yang kenal sama gue, apalagi alumni SMP gue juga banyak di sana. Kita dibilang pacaran, dan Karin saat itu terlihat baper alias bawa perasaan. Di saat itulah, Nino datang."

"Hmm. Oke. Terus? emoticon-Big Grin" Enggak rugi dia ngajak gue ngobrol. Sesuatu informasi baru terserap oleh benak gue.

"Di saat itu, hati gue kebagi dua. Antara nggak enak sama Karin dan rasa sayang gue sama Nino masih ada."

"Terus?"

"Gue nggak tahu kalau Nino ternyata jadi sahabat Karin. Entah kapan mereka mulai sahabatan, gue nggak tahu. Bahkan gue kira Nino bakal ngejadiin Karin musuh. Tapi nyatanya enggak, mereka malah jadi sahabat dan gue dikompor-komporin anak-anak saat itu buat nembak Karin. Ujung-ujungnya, gue ditolak. Di saat itu bertahun-tahun gue menyesal. Gue kehilangan Nino, dan juga citra gue buruk di mata Karin."

"emoticon-Frown Sedih cerita lu.... Gak bohong kan?"

"Sumpah gue!"

"Jadi intinya, lu mau gue menjauh dari Nino, gitu?" Tanya gue memberi penerangan.

"Ng-nggak gitu juga, sih. emoticon-Big Grin"

"Git, kalau Nino emang jodoh lu, dia nggak bakal kemana kok. Begitu juga sama gue. Gue nggak ngelepasin Nino gitu aja buat lo, jujur." Ujar gue dengan nada bijaksana, "Tapi, ada baiknya lu ngomong sama Nino tentang kebenarannya kejadian SMA itu. Gue juga nggak enak kalo gue jadian sama Nino tapi dalam kebohongan lu yang dia nggak tahu."

"Iya, Gas."

"Nino udah tau perasaan gue, kemarin gue dapet SMS dari Karin. Dia ngomel-ngomel kalau gue bilang gue ditolak sama dia, dan Karin bilang dia sudah ngasih tahu kebenarannya sama Nino, otomatis Nino tahu perasaan gue... Yang dia belum tahu, cerita lo."

"...." Sigit seperti menunggu lanjutan omongan gue.

"Seminggu, sampai tanggal 26 Noprmber, gue tunggu kabar dari lo. Kalau nggak ada kabar, gue anggap lu kalah."

"Hah? Maksudnya"

"Gue ngasih kesempatan lu buat ngomong sama Nino. Gue merasa nggak adil kalau Nino nggak tahu cerita lo yang sebenarnya. Lu emang rival gue terhitung dari sekarang, dan gue orangnya fair. emoticon-Smilie"

"Serius Gas?? emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)" Tanya tidak percaya. "Thanks. emoticon-Smilie"

"Bukan demi lo ya, demi Nino, biarkan dia memilih."

"Haha. emoticon-Big Grin Iya, apa kata lo deh. emoticon-Big Grin Yang penting, makasih banyak, fair banget fair. emoticon-thumbsup"

======

Senin, 28 Nopember 2011
Hari, dimana gue nggak akan pernah bisa lupa seumur hidup gue. Sehari sebelum ulang tahun Nino.

"Das, balik yuk!"Ajak gue ke Ildas seperti biasanya. Karena Ihsan dan Fadhli lagi sibuk, gue nebeng ke Ildas.

"Turunin di Alfamart aja ya, gue mau ke kosan temen gue." Pinta gue.

Ya, betul. Sudah terhitung seminggu janji yang gue buat dengan Sigit. Untuk memastikannya gue udah SMS Sigit, dan jawabannya adalah

"Hehe, gue udah nembak dan cerita kok. Mau tau hasilnya? Good ending kok. emoticon-Embarrassmentemoticon-Stick Out Tongue Tanya sendiri sama Nino cerita lengkapnya. emoticon-Stick Out Tongue By the way, thanks a lot, Bro. emoticon-Big Grin"


SMS rancu itu masuk selepas gue pulang kuliah. Jantung gue deg-degan sumpah. Ucapan terima kasih Sigit, buat apa ya kira-kira? Mana good ending, pula. emoticon-Frown

Dengan jantung yang berdetak kencang, dan kaki yang gemetaran akan ketakutan mendengar fakta bahwa mereka sudah jadian, gue datang ke kosan Nino, siang itu juga untuk mengklarifikasi.

"Aloha! emoticon-Big Grin" Sapa gue dengan senyum lebar. Sengaja.

"Ngapain lu kesini. emoticon-Stick Out Tongue" Ujarnya menyahut salam gue.

"Eh, ada Ibu Nabila! Apa kabar, Bu?"

"Apaan lo, nggak usah ikut-ikutan manggil gue Nabila. emoticon-Mad (S) Pergi sana, kemana aja lo nggak pernah ngasih kabar, SMS kek. emoticon-Mad (S)"

"Hehe. emoticon-Big Grin Gue sibuk seminggu ini, ada kabar terbaru kah?" Gue pancing Nino soal Sigit. emoticon-Big Grin

"Kabar? Nggak ada! emoticon-Stick Out Tongue"

"Wah, berarti ada nih! emoticon-Big Grin"

"Nggak ada, gue bilang! emoticon-Stick Out Tongue Ada pun nggak akan gue kasih tahu, kepo lo!"

Keras kepalanya muncul, gue pun mulai berpikir jalan lain untuk mengetahui perasaan Nino.

"Jalan yuk, nanti malam."

"Enggak mau!"

"Ayo dong, kemarin gue belum selesai ngomongnya. emoticon-Frown"

"Ngomong apaan?"

"Mengenai perasaan gue itu lho, Nin. emoticon-Smilie" Ujar gue lemas.

"Hah? emoticon-Big Grin Hehe, enggak mau pokoknya!"

"Ayo dong, gue beliin martabak deh. emoticon-Big Grin"

"Enggak cukup martabak mah! emoticon-Stick Out Tongue"

"Ya sudah, gue jamin malam ini pasti lo kaget!"

"HAHAHA! Malam ini, gue jamin pasti ada yang nangis kok. emoticon-Big Grin"

"Hah? Ohh, berarti jadi dong jalan? Hehe. emoticon-Big Grin"

"Ishh! emoticon-Nohope Karena pasti ada yang nangis, udah nggak usah jalan. Lo curhat di sini juga bisa, wooo! emoticon-Stick Out Tongue"

"Enggak mau pokoknya jalan! emoticon-Big Grin" Paksa gue.

"Wuoo, serem! emoticon-Big Grin Iya deh, iya deh, ngalah gue. emoticon-Big Grin emoticon-Stick Out Tongue"

Gue kaget sih sebenarnya mendengar ucapan Nino kalau malam ini bakal ada yang nangis. Maksudnya apa? Apa dia sudah jadian sama Sigit? Kalau dia sudah jadian, mungkin ini bakal jadi The End buat gue.

"Lo kenapa sih? Tadi aja bahagia, sekarang suram begitu. emoticon-Bingung (S)" Tanya Nino sama gue di Jatos itu. Seperti biasa kita nonton lagi.

"Enggak kenapa-kenapa, kepikiran aja siapa yang bakal nangis."

Damn it!

Keceplosan gue. Mati, kayaknya gue nih yang bakal nangis duluan. emoticon-Frown Dia cuma tersenyum geli.

"Hahaha! emoticon-Big Grin Gas, foto bareng yuk disanaaa! emoticon-Kiss (S)" Dia menarik tangan gue, mengajak gue ke Photobox di lantai satu sambil menunggu jadwal film. Kalung yang gue kasih itu masih dia pakai. Gue baru sadar kalau dia cantik banget malam ini.

Cepret. Cepret. Cepret.

Itu bisa mengilustrasikan kalau gue lagi foto sama dia. Berbagai macam gaya dia keluarkan, sedang gue senyum aja susah. emoticon-Big Grin

Selesai berfoto, kami pun jalan ke tempat makan. Sambil berjalan, gue memperhatikan foto yang ada di tangan gue. Semakin penasaran akan cerita tentang Nino dan Sigit.

"Nin, lu sama Sigit udah jadian?"

Langkahnya terhenti.

"Hah, kenapa? emoticon-Big Grin Kepo! Anyway, Sigit ke kosan lo ya, nggak bilang-bilang! emoticon-Stick Out Tongue"

"Seriusan ihh."

"Iya, kenapa dulu? emoticon-Stick Out Tongue" Ujarnya.

"Gue-----gue suka sama lu Nin. Kalau lu udah jadian sama Sigit, gue bakal berharap Sigit bisa bikin lu bahagia. Sigit sudah cerita kan tentang lo, Karin dan dia?"

"emoticon-Smilie emoticon-Big Grin Hehe, sudah. Gue kaget sih, ternyata begitu cerita sebenarnya. Senang juga karena dia sudah jujur. Dan, dia juga nembak gue. emoticon-Smilie"

"Terus?" Gue berjalan mendekat. Dia masih tersenyum lebar. emoticon-Kiss (S)

Bersambung



Quote:
Diubah oleh OblOOOOOOO 24-11-2021 02:04
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.