Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.4K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#236
Having You - Bagian III

Rabu, 16 Nopember 2011
Sudut Pandang Nino
Hmm, Bagas selalu saja membatalkan janji.

Sesaat gue berpikir seperti itu ketika Kak Sigit menanyakan ke gue tentang kalung yang gue pakai ini.

"Cie, tambah cantik aja pakai kalung. emoticon-Big Grin" Ujar Kak Sigit dengan tampang polosnya. Wajahnya tidak jauh berubah dari SMA.

Gue hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa menjawab pertanyaan Kak Sigit.

"Kamu beli dimana?" Tanyanya lagi seperti memancing gue untuk cerita tentang kalung itu. Jujur, gue lagi bete, Bagas ngebatalin janjinya seenak jidat.

Sempat gue berpikir untuk melupakan Bagas dan serius dengan Kak Sigit, tapi... gue nggak bisa walau seberapa kuatnya gue mencoba untuk membandingkan kekurangan Bagas dengan kelebihan Kak Sigit. Apa gue benar-benar sudah jatuh cinta sama Bagas?

"Dikasih Bagas. emoticon-Smilie Katanya sebagai tanda persahabatan. By the way, kepo amat sih Kak. emoticon-Big Grin" Jawab gue sambil tersenyum padahal dalam hati ngedumel.

"Hmm... Sahabat apa sahabat tuh?" Pertanyaannya seakan-akan cemburu namun tidak dia tunjukkan.

"Sahabat...? Mungkin." Jawab gue sedikit ragu.

"Kamu suka sama Bagas?" Seperti angin yang berhembus malam ini, tenang, tanpa ada rintangan, kata-kata itu keluar dari mulut Kak Sigit.

"Hah? Suka? Hahaha! emoticon-Big Grin Nggak lah! emoticon-Big Grin" Bantah gue.

"Berarti lo mau kan start over sama gue?" Ujarnya tanpa helaan napas sedikit pun, seolah dia yakin akan pendiriannya.

"...." Gue terdiam. Gue ragu untuk menjawab. Gue belum berani memutuskan.

Seorang cowok yang pernah gue suka, dan dia juga suka gue, kemudian mengkhianati perasaan gue dan sekarang mencoba balik sama gue. Cowok itu macam sampah, menurut gue. Tapi Bagas, gue suka sama dia yang suka sama Karin. Berarti sama saja gue menjilat ludah gue sendiri, dong? Hanya satu hal yang perlu gue tahu, apa dia pernah suka sama gue atau tidak. Kalau dia pernah suka sama gue, walaupun sudah ditolak Karin, akan beda ceritanya.

"Bil?" Panggil Kak Sigit membuyarkan lamunan gue.

"Hah, apa?" Tanya gue seperti orang kebingungan.

Kak Sigit mengangguk-ngangguk kecil, entah apa maksudnya. Namun semuanya diperjelas dengan kata-katanya.

"Lo suka sama Bagas ternyata. emoticon-Smilie Maaf kalau gitu udah maksain, Bil."

"Ng-nggak gitu juga, Kak." Ujar gue mencoba menghapus kesalahpahaman barusan.

HAAA emoticon-Frown Gue nggak ngerti lagi, ini kesalahpahaman atau tidak. Tapi gue berada di tengah tebing tinggi. Tebing yang hancur, namun gue sudah bertengger padanya, dan tebing yang indah namun gue nggak tau bisa memanjatnya atau tidak. emoticon-Frown

"Terus?"

"Gue perlu mikir, Kak." Jawab gue. Gue rasa itulah alasan yang tepat untuk saat ini.


Kamis, 17 Nopember 2011
Sudut Pandang Bagas
Gue masih punya hari Jum'at dan Sabtu. Gue harap bisa mengajak Nino jalan lagi dalam minggu ini.

Di saat yang sama gue memikirkan Nino, sosok Sigit tiba-tiba muncul. Itu pentolan, pandangannya gimana ya, ke gue? Seperti biasa, gue terlalu terpengaruh oleh pandangan orang lain terhadap gue.

"Yaz, Nia cakep juga ya! emoticon-Wowcantik" Ujar gue menggoda Diaz yang kemarin malam dekat-dekat dengan Nia.

Yohanes Nia, dia adalah anak Jurusan Matematika yang ikut dalam PKM (Pekan Kreatifitas Mahasiswa) dimana gue menjadi ketuanya. Awalnya gue nggak kenal dia, hanya saja kelompok kami hanya terdiri dari gue, Diaz dan Bayu. Minimal butuh 5 orang. Selain itu, teman sekelas kami juga tidak ada yang mau ikutan. Terlebih lagi, isinya cowok semua dan rasanya 'kering' banget pasti. emoticon-Big Grin Jadi gue ajak anak jurusan lain, kenalan gue di BEM. Nia dan Fitri.

Nia memang cakep, kulitnya putih. Namun, maaf ya, gue mencari yang se iman sama gue. Karena kebetulan Diaz sama Nia se iman, jadinya gue ledekin terus. Diaz cuma senyum-senyum aja. Kelihatan banget dia grogi. emoticon-Big Grin Mungkin dalam hatinya dia juga berharap hal yang sama.

Sedangkan Fitri, sayang, dia sudah punya cowok. Enggak deh. emoticon-Big Grin

Suram sudah. Juga, walau gue bertemu cewek baru, butuh waktu yang lagi untuk PDKT. Sudah 3 kali, lho, di masa-masa kuliah ini gue dekat sama cewek tapi endingnya busuk semua. emoticon-Nohope

Gue berharap Nino yang terakhir. Apa lagi coba yang kurang dari Nino. Bobot, bebet, bubutnya semua udah sesuai sama kriteria calon menantu emak gue. emoticon-Big Grin Tinggal dibungkus pakai jilbab saja nanti.

Hari ini, gue bikin laporan hasil praktikum dadakan Selasa kemarin. Dikumpulkan hari Jum'at. Jadi total malam ini ada 3 laporan yang mesti gue kerjakan. Semuanya wajib tulis tangan. emoticon-Nohope

Gue pun bersandar di kasur setelah selesai membabat semua laporan. Tepat jam 02.00, mata gue terpejam dengan sendirinya.

Jum'at, 18 Nopember 2011
Hehe. emoticon-Smilie Gue kangen air mata ini, air mata cinta yang jatuh di pipi.

Selepas sholat Jum'at, gue praktikum, dan selepas praktikum nggak ada alasan lagi untuk tidak ke kosan Nino. Walau baru 5 hari, tapi berasa sudah lama sekali nggak berhubungan dengan gadis itu.

Gue nebeng sama Ihsan sampai Alfamart Bungamas, dan kemudian gue jalan kaki ke kosan Nino.

"Baby, I'm on the way to your kosan! emoticon-Big Grin There's no reason to be absent tonight. Let spend the night together. emoticon-Big Grin" Sent 17.55

Sengaja gue berangkat sebelum Maghrib. Masih dengan kemeja dan sepatu yang sama gue bawa kuliah. Awalnya gue bahagia menantikan waktu dimana gue akan melihat wajah Nino, tapi setelah sampai di depan gang menuju kosan Nino, gue mulai berpikir, entar ngomong apa ya? Kayak biasa aja atau gimana nih. Liat suasana hatinya aja deh.

"Anyeong! emoticon-Big Grin" Ujar gue dengan bahasa Korea. Karena Nino suka film Korea, gue sedikit-sedikit teracuni.

"Anyeong. emoticon-Smilie NGAPAIN LO KESINI? emoticon-Stick Out Tongue" Melihat Nino mencibir itu kekhawatiran gue jadi sirna. Mudah-mudahan tetap seperti ini. Apalagi kalung yang gue kasih tempo hari masih dia pakai. emoticon-Embarrassment Senangnya dalam hati~

"Mau beli pempers, Bu, ada nggak? emoticon-Big Grin"

"Lo kira ini kaki lima, hah? Ini tukang laundry tau!"

"Haha! emoticon-Big Grin Kalau gitu tolong cuciin hati saya yang bernoda ini dong, Bu. emoticon-Embarrassment"

"Bukan hati lo yang bernoda, otak lo tuh penuh dosa. emoticon-Big Grin"

"Sial! emoticon-Nohope"

"Makanya tobat Gas, tobat. Jangan bohongin 'adik' kamu itu mulu, Nak."

"Eh, kamvretos! emoticon-Mad (S) Jangan bawa-bawa bokep sama gue dah. Sudah gue hapus semuanya. emoticon-Big Grin Tapi gue kangen adegannya, lo mau mempraktekan salah satu adegan yang gue suka nggak?"

"ENGGAK! emoticon-Mad (S) emoticon-Malu (S)" Nino melempar gue pake bantal.

"Haha, sholat sana udah adzan."

"Sholat duluan gih." Ujarnya.

"Jemaah yuk, berlatih untuk masa depan. Mana tau lu jadi makmum gue kan di masa depan. emoticon-Embarrassment Istriku~"

"Haha, apaan sih lo!". Nada bicaranya sudah mulai turun.

"Tapi mau kan, iya nggak? Daripada jomblo, mendingan pacaran ama gue." Ujar gue sedikit memancing. emoticon-Big Grin Suasana hati gue saat ini benar-benar riang.

"Haha, sorry ya! Gue nggak mau dijadiin tong sampah sama cowok sampah macam lo." Ujar Nino. Sadar bahwasanya gue berada dalam posisi sulit.

"Hah? Hehehe. emoticon-Smilie Maaf."

Siapa yang bisa menjelaskan suasana hati gue saat itu? Bahkan gue sendiri tak mampu untuk menjelaskannya secara detail. Perih banget. emoticon-Smilie

"Lo, suka sama Kak Sigit, ya?" Tanya gue. Otak gue sudah nggak mampu berpikir jernih lagi sehingga menanyakan hal itu.

"... Iya, kenapa emang? Masalah buat lo?" Kata-kata itu dia ucapkan tegas, seolah-olah memang berasal dari hatinya.

Gue berbalik ke kamar mandi. Pipi gue basah, air wudhu dan air mata bercampur menjadi satu. Rasanya kaki gue lemas dan nggak mampu berjalan.

Jadi, begitu ya. Sudah lah, lupakan Nino. Tapi, sebaiknya sebagai seorang cowok jantan, gue harus ngomong sejujurnya sama Nino apa yang terjadi. Gue sudah siapkan sapu tangan buat mengelap air mata gue malam ini. Yang jelas-jelas gue akan ditolak dan dia pasti akan menjauh. emoticon-Smilie

"Nin, gue mau ngomong sesuatu sama lu." Ujar gue seketika keluar dari kamar mandi dan mengelap wajah gue dengan tangan.

"Tentang?" Tanyanya sambil menatap gue. Aura matanya penasaran.

"Tentang... perasaan gue."


Quote:
Diubah oleh OblOOOOOOO 24-11-2021 01:59
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.