Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.4K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#203
Dibalik Senyum dan Kata Sahabat - Bagian V

Sabtu, 12 Nopember 2011
Malam minggu bersamanya yang tak pernah ku lupakan.

Gue ibarat berjalan di jalan setapak yang gembur, pikir gue berulang kali. Sekali salah menapak, gue bisa terperosot. Gue sudah salah ngomong.

Ingin rasanya gue tinggalkan semua. Apa susahnya untuk mencari yang baru, tangkas gue. Tapi hati nurani gue seakan menolak. Dari dalam palung hati ini, gue masih punya hasrat untuk memiliki Nino dan ingin terus bersamanya.

"Nin, malam minggu ini lu kosong nggak? Gue mau ngajak lu jalan. emoticon-Big Grin" Sent 14.02

Siang itu di hari Sabtu gue terbangun dari tidur gue. Dan orang yang pertama kali muncul di pikiran gue adalah Nino. Gue mengecek ponsel dan tanpa pikir panjang gue langsung mengetikkan SMS itu.

Namun, selepas mandi dan makan pun SMS gue nggak kunjung dibalas. Apa dia mau jalan sama Sigit malam ini, ya? Pikir gue.

"Kalau lu ada acara nggak usah juga nggak apa-apa kok, Nin. emoticon-Smilie" Ujar gue mencoba mengalah. Enggak apa-apa lah, mungkin ini memang langkah pertama untuk melupakan Nino.

Atau mungkin ini takdir gue, untuk kehilangan dua bidadari gue. Nino dan Karin? emoticon-Frown

Selepas sholat Maghrib, gue kembali mengecek ponsel gue. Bibir gue otomatis menyimpulkan senyum ketika ada 2 SMS masuk. SMS yang pertama pasti dari Ibu gue, dan yang kedua, gue harap itu Nino.

Sesuai dugaan gue, nama kontak 'Mamah' dan 'Nino' tertera di layar ponsel gue.

"Maaf baru liat hape. emoticon-Smilie Iya, gue kosong kok... Emang mau kemana? Ke kosan gue? emoticon-Big Grin"

emoticon-Malu (S) Sumringah banget gue ketika mendapatkan SMS itu. Benar-benar seperti yang gue harapkan. Tanpa pikir panjang gue langsung ganti pakaian, memakain parfum seperti layaknya orang akan pergi kencan. Gue mencoba berpenampilan se rapi mungkin agar memikat hati Nino.

Singkat cerita gue berangkat ke kosan Nino. Saat ini, masih jalan kaki. Sesampainya di sana, gue ketuk pintu kamarnya.

"Nino, udah siap? emoticon-Smilie" Ujar gue ketika baru sampai ke kosannya Nino.

"Udah kok, mau kemana kita?" Jawabnya ketika pintu kamar itu sudah terbuka.

Sedikit musyawarah tentang tujuan kami malam ini, dan pada akhirnya gue dan Nino memutuskan untuk ke Jatos saja. Alih-alih menolak karena bosan dan keseringan, gue pun setuju. Lagian sudah malam juga mau ke Bandung. Yang penting, gue bareng Nino.

"Tumben nggak sama Sigit, biasanya lo sama Sigit. Apa gue mengganggu nih? emoticon-Big Grin" Celetuk gue ketika sudah mulai asik ngobrol dengannya di salah satu tempat makan.

Aura matanya berubah memandang gue, seperti orang yang tidak suka perihal ucapan itu.

"Dia sibuk katanya." Jawab Nino dengan tenang dan santai. Senyumnya yang lepas membuat gue sedikit percaya akan kata-katanya barusan.

Gue sempat berpikir, mungkin saja dia membatalkan janji dengan Sigit malam ini karena kasihan melihat gue yang jomblo, karena 'baru di tolak'.

Gue mengambil napas panjang, menahan rasa bersalah karena tidak mengatakan hal yang sejujurnya.

Selepas makan dan ngobrol-ngobrol, kami pun menuju bioskop untuk nonton film. Kali ini, Nino tidak lagi bersandar di bahu gue. Gue berharap dia merasa ngantuk dan bersandar lagi di bahu gue. emoticon-Big Grin

"Sini lah nyender di bahu gue! emoticon-Big Grin" Ujar gue memancing. Gue raih pundak sebelah kirinya dengan tangan kiri gue, lalu menariknya untuk menyender di bahu gue.

"Ish, apa sih! emoticon-Big Grin Haus belaian lo? Dasar jomblo! emoticon-Stick Out Tongue" Ujarnya mencubit perut gue.

"Yee, kayak lu nggak jomblo aja. emoticon-Big Grin"

"Ada Kak Sigit, wee! emoticon-Stick Out Tongue" Ujarnya mencibir.

Sedikit kesal di hati gue. emoticon-Mad (S) Apa maksudnya coba bawa-bawa nama Sigit di depan gue. Sengaja kah membuat gue cemburu atau kata-kata itu memang dari hati keluarnya?

"Kalau lu ada Sigit yaudah jalan sama Sigit sana! emoticon-Mad (S)" Ujar gue bercanda untuk membalaskan rasa kesal gue.

"Kenapa sih lo? Marah ya? Cemburu ya? Dasar jomblo, gue kasihan aja sama lo ditolak Karin. emoticon-Stick Out Tongue"

Kata-kata itu benar-benar menyakitkan. Rasanya jantung gue digores oleh sebuah pisau yang tak kasat mata. Intonasi bicara Nino yang tegas dan lugas membuat mental gue lebih tertekan. emoticon-Berduka (S)

"Gue keluar sebentar ya." Ujar gue terlanjur kesal dengan ucapan Nino.

Gue berjalan mondar-mandir, menaiki eskalator, turun eskalator. Menunggu hingga film abis. Gue nggak pengen di dalem, berdebat dengan kepedihan hati gue yang gue tahan.

Saat gue berjalan di lantai tiga, gue melihat sebuah stationery atau toko aksesoris buat cewek gitu. Di saat melihat ke dalam, gue terpikirkan Nino. Mungkin leher Nino akan indah jika gue pasangkan sebuah kalung.

Gue melihat-lihat ke dalam toko yang penuh dengan cat warna pink itu. Rasanya masuk ke dalam malu sih, tapi gue tahan rasa malu itu dengan 'pura-pura tampan'. Kalau ditanya buat siapa, bilang aja buat pacar, pikir gue.

Kaki gue melangkah perlahan di bagian kalung, dan sebuah kalung menarik perhatian gue.

Sebuah kalung berwarna silver dengan manik-manik berbentuk hati di tengahnya. Serta ada gantungan huruf N warna silver juga diujungnya.

Harganya memang cukup mahal, namun demi Nino kali ini gue mengocek saku gue yang pas-pasan. Untung saja gue masih ada tabungan yang sengaja gue sisihkan, demi ingin jalan sama Nino dan mentraktirnya.

Penjaganya nggak kepo, dia nggak nanya buat siapa. Jadi gue nggak bisa 'pura-pura tampan' emoticon-Big Grin. Setelah mendapatkan kalung itu, gue cabut ke bioskop lagi. Namun film tersebut sudah selesai dan terpaksa gue menunggu Nino di lobby bioskop.

"Lo kemana, kamvret! Katanya sebentar! emoticon-Mad (S)" Ujar Nino sambil memukul perut gue.

"Nih!" Gue menjulurkan tangan gue. Memberikannya seutas kalung yang gue beli tadi.

"Coba pake Nin, cocok nggak buat lo! emoticon-Big Grin" Gue menyerahkan kalung itu. Dia hanya menatapnya tanpa kata apapun.

"Wah, bagus juga di leher lo! Jadi tambah anggun, kan. emoticon-Big Grin" Ujar gue kepada gadis dengan sweater longgar dan berambut sebahu itu.

"Ini buat gue? emoticon-Bingung (S)"

"Iya, itu buat lo. emoticon-Smilie Mau nggak? Harus mau dong. emoticon-Big Grin" Ujar gue sambil menggosok-gosok rambutnya.

"Kenapa emang? Buat apa? Dalam rangka apa?" Sepertinya dia ingin tahu kenapa gue melakukan hal itu.

Gue terdiam dan menunduk. Menatap jemari kaki gue yang menapak di lantai.

"Gue belum pernah ngasih apa-apa sama lu, tapi lu udah berikan dunia buat gue. emoticon-Big Grin Jadi, gue kasih kalung ini, gue harap lu nggak akan pernah lupa sama gue ya. Walaupun nanti lu jadian sama Sigit. emoticon-Smilie"

Dia terdiam. Matanya berkaca-kaca penuh harapan. Kami saling bertatapan dalam senyuman.

"Gue nggak mau lu lupa sama gue Nin, sampai kapan pun, dimana pun, sama siapa pun. emoticon-Smilie Gue cuma ingin lu mengingat gue, sahabat lu."

Mau bagaimana pun, gue nggak bisa berharap lebih dari ini. Yang gue harapkan hanya agar dia tidak melupakan gue. Dan syukur-syukur, dia tahu kalau gue pernah mencintainya. Semoga dia mengerti. emoticon-Smilie

"Hehe. emoticon-Embarrassment Makasih banyak ya. Iya, gue nggak bakal ngelupain lu kok. Lu kan unik. emoticon-Big Grin Janji, gue! emoticon-Smilie"

Jari kelingking kami saling bertautan.
Diubah oleh OblOOOOOOO 23-11-2021 22:52
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.