Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.8K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1122
7. Tentang Masa Lalu
"Jadi...untuk project IRX ini, they expect us to give fresh idea..." Pak Grandy memberikan penjelasan pada Project Meeting ini. "Setiap designer saya berikan selembar ideasheet. Tolong dikumpulkan nanti setelah jam makan siang ya."

Rapat dibubarkan, kemudian kami kembali ke meja masing-masing.
Aku baru saja duduk ketika layar skype-ku menunjukkan pesan baru yang masuk.

"Chery, tolong ke kantor saya sekarang."

Pesan tersebut masuk dari Pak Grandy.
Aku agak terkejut karena Pak Grandy tidak biasanya mengirimkan pesan pribadi kepadaku.
Tapi firasatku kuat berkata hal ini ada hubungannya dengan kejadian di pesta ulang tahun kemarin itu.
Setelah mengetuk pintu, aku masuk ke kantor Pak Grandy yang disambut dengan senyum-ekstra-ramah darinya.

"Silakan duduk, Chery." Pak Grandy mempersilakan.

"Ada apa ya, Pak?"

"Saya ingin berterima kasih untuk kerja sama kamu tempo hari pada waktu pesta."

Aku hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum sendiri.

"Untuk permintaannya, sudah kamu pikirkan?"

"Eh? Belum...belum kepikiran Pak. Enggak mendesak kan?" Aku memastikan.

"Oh, enggak kok. Tapi jika sudah terpikirkan, kamu jangan sungkan-sungkan ya. Saya sangat ingin membalas jasa kamu atas saya dan Lita..."

Melihat senyuman cerah di wajahnya, aku jadi tergoda untuk bertanya.

"Sepertinya keadaan sudah akur ya Pak?"

"Lebih baik dari itu. Lita sudah kembali tinggal bersama saya." Pak Grandy curhat tanpa sadar seperti anak sekolah yang sedang bergosip.

"Pak... gimana dengan temen bapak yang sempet ketemu di acara itu...?" aku bertanya hati-hati bercampur kuatir.

"Tenang aja...dia bukan orang yang usil. Anggota keluarga saya yang lain nggak ada yang mempermasalahkan kehadiran kamu juga kok. Beruntung, sebenarnya. Kalau sampai jadi buah bibir kan' Lita bisa kambuh lagi ngambeknya...hahaha..."

Aku menggeleng sambil tersenyum-senyum.
Pak Grandy benar-benar seratus persen sedang sumringah.
Belum pernah sejarahnya kulihat Pak Grandy cengar cengir tanpa alasan begini.
Jauh di sudut hatiku, tersirat sedikit rasa iri.
Pasalnya, belum pernah ada yang menginginkan dan menyayangiku sebesar Pak Grandy terhadap Bu Lita.
He's totally head over heels for her.

"Jadi, sudah memikirkan permintaan sebagai imbalan kesuksesannya?"

"Waduh..belom tuh pak. Memangnya harus sesegeranya ya?" aku mengangkat sebelah alis.

"Oh, enggak sih. Santai aja..." Pak Grandy tersenyum tanpa arti dan mengangguk. "Baiklah, silakan lanjutkan pekerjaanmu. Terima kasih untuk bincang-bincang singkat kita.."

Aku mengangguk dan mohon diri.
Saat keluar ruangan dan menuju mejaku, tatapan Sammy mengikuti penuh selidik.
Aku pura-pura bloon dan merapikan kertas di atas mejaku.
Sambil membuka browser, dari sudut mata bisa kulihat Sammy bangkit dari mejanya.

"Tadi...ngobrol apaan sama Pak Grandy?" dia bertanya tanpa basa-basi.

"Jealous?" aku meledek.

Dengan sigap Sammy meletakkan telunjuknya di bibirku, mengisyaratkanku untuk tidak melanjutkan kalimat.
Dia melirik sekeliling takut kalau ada yang curiga dengan kalimat provokatifku barusan.

"Rese... entar kalo ada yang denger trus komentar aneh-aneh gimana?" Sammy manyun.

"Santai aja lah Sam... koruptor udah masuk ruang sidang aja masih cengar cengir. Elo malah kayak buronan interpol yang kuatiran abis." aku terkekeh-kekeh. "Si bapak cuma bilang makasih buat kemarin. Dan dia udah rujuk sama Bu Lita..."

Ekspresi wajah Sammy berubah datar.
Senyuman pun ikut hilang dari wajahku.
Aku lupa bahwa berita ini bukanlah kabar baik untuk Sammy.

"Nanti lunch di Red Pepper yuk." aku mencairkan suasana sambil menyikut Sammy pelan. "Muka elo jangan depresi gitu ah. Kalo nggak ada dia kan' masih ada gue..."

Sammy, sialnya menimpali itu murni candaan.
Sejujurnya di sudut hatiku, aku berharap Sammy benar-benar mempertimbangkan aku untuk jadi orang yang ditaksirnya.
Maksudku, bukannya merendahkan atau mengecilkan hati
Tapi hubungan sesama jenis di Indonesia ini tidak ada yang benar-benar berhasil.
Terutama karena tingginya diskriminasi dan pandangan masyarakat yang menganggap homoseksual belum bisa diterima masyarakat.
Tentu akan jauh lebih mudah dan sah jika Sammy menyukai wanita.

"Untung ada elo ya... hehehe..." Sammy mengacak rambutku pelan.

Sammy masih nyengir memamerkan deretan giginya yang rapi menawan.
Aku hanya bisa pasrah untuk semakin jatuh hati pada pemilik senyuman menawan ini.
Dan hingga tiba waktunya makan siang, kami memutuskan untuk makan di restoran Red Pepper bernuansa barat dengan hidangan khasnya berupa segala macam daging panggang.
Aku memesan steik ayam dengan keju dan mashed potatoes, sementara Sammy si karnivora sejati memilih daging sapi yang menurut dia lebih 'jantan'.

"Kenapa elo suka banget sama ayam sih, Cher?" Sammy lagi-lagi penasaran.

"Elo adalah orang kesekian yang nanya, dan gue untuk kesekian kalinya jawab... ketularan selera nyokap gue. Menurut penelitian...daging ayam itu bagus banget untuk perkembangan otak, serta kandungan proteinnya bagus untuk ngebantu metabolisme."

"Penelitian siapa?" Sammy melipat tangannya.

"Penelitian gue sendiri." aku tersenyum bangga.

"Hahaha...! Ngaco amat sih..." Sammy tertawa lepas. "Berapa sih nilai biologi elo waktu sekolah?"

Aku manyun dan meneguk ice lemon tea di hadapanku.

"Gantian gue nanya ya... kenapa elo suka sama cowok sih, Sam?"

Tawa Sammy berubah menjadi senyuman tawar.
Aku memang mood-breaker nomer satu.
Tapi rasanya 'gatal' untuk tidak menanyakan hal yang satu ini.
Mengingat keakraban kami, seharusnya sedikit banyak aku punya hak untuk tahu.

"Gue nggak percaya sama cewek, Cher." Sammy bernada serius. "I think all women are bitches."

Aku melotot tersinggung.

"Heh! Yang duduk di depan elo ini masih bergender female lhoo..."

Tawa Sammy membuncah.

"Sorry,...maksud gue all women that i've ever dated..." Sammy merapikan gulungan kemeja di lengannya. "Sebenernya cuma satu sih."

"Cuma satu apanya?"

"Cuma satu cewek yang pernah gue pacarin."

Aku hampir tersedak mendengarnya.

"Ngibul! Muka playboy kayak elo, minimal 2 lusin kali mantannya." aku berseru tidak percaya.

Bagaimana tidak,
Wajah di atas rata-rata.
Murah senyum, dan relatif tenang pembawaannya.
Tampang agak bad boy dan maskulin tapi tidak beringas.
Menurutku pribadi, setiap cewek yang mendapatkan kedipan mata dari Sammy minimal pasti akan sulit berkonsentrasi selama sejam ke depan.
Bagaimana mungkin Sammy hanya pernah pacaran sekali?!

"Namanya Debby. Umurnya sama kayak gue." Sammy membuang pandangan ke sepasang garpu dan pisau di hadapannya. "Kami tetangga sejak kecil. Keluarganya pindah ke Semarang waktu gue kelas 6 SD. Awalnya dari keluarga kita yang saling akrab, kita cuma masuk sekolah bareng, sekelas, dan sama-sama masih kecil jadi secara alami memang selalu deket."

"Childhood friend?"

"But she became my girlfriend...waktu gue lulus SMA umur 17. Tadinya gue mau kuliah ke Jakarta di UI depok, tapi akhirnya nggak tega karena nggak bisa ninggalin dia. Kami pacaran 5 tahun, dan orang tua sama-sama udah ngomongin soal 'perjodohan' setelah lulus. Tapi karena kita nggak satu kampus, jadi menjelang skripsi kita sama-sama makin jarang contact. Debby sering nginep di kost temennya untuk ngerjain skripsi bareng, project kelompok, dan hal-hal lain yang gue kurang jelas detilnya."

"Let me guess, kalian jadi hilang rasa?" aku menebak-nebak.

"Close enough. Dia yang hilang rasa sama gue. Tepat setelah wisuda, dia mulai muntah-muntah dan gue mendapati dia hamil 4 bulan."

"Lahh,...jadi kalian putus karena elo belom siap jadi bapak?" aku terkejut.

"Gue belom siap jadi bapak dari anak yang BUKAN milik gue."

Suasana hening dan terdapat nada sinis di kalimat Sammy.
Aku kehilangan kata-kata untuk menggambarkan ekspresi Sammy.
Yang jelas tidak pernah sedikitpun dalam imajinasi terliarku bahwa Sammy pernah diduakan, dengan cara demikian.

"So, you're saying..."

"Debby hamil sama dosen pembimbing skripsi yang usianya nggak beda jauh. She got pregnant when she was MY girlfriend. Maksud gue, kita tumbuh 10 tahun bareng sejak kecil. Ngelihat sifat-sifat terjelek, dan bahkan gue nemenin dia beli Laurier when she got her first period! Gue berharap akan jadi yang pertama...you know, 'tidur' bareng dia. Ternyata temennya yang satu kampus baru cerita bahwa Debby sering dugem dan nyoba hal-hal baru yang penuh tantangan tanpa sepengetahuan gue."

Refleks aku menepuk lengan Sammy, mencoba menenangkannya.

"Since then, you couldn't trust women anymore?" aku bertanya dengan hati-hati.

"Ya...bisa dibilang begitu. Cinta pertama yang gue kenal dari sama-sama ingusan aja' bisa ninggalin gue dan ngekhianatin gue. Selama pacaran, gue jaga baik-baik nggak macem-macem ternyata bisa gampang dipeluk pria lain. Apalagi cewek lain di luar sana yang nggak gue kenal asal usulnya?"

Ada sedikit rasa perih dan tersinggung di hatiku ketika mendengar kalimat sindiran dari Sammy.
Tapi aku tahu, bukan posisiku untuk mengkoreksi hati Sammy yang pernah terluka.
Jika aku mengalami hal sepertinya pun, belum tentu aku akan lebih baik dari Sammy.

"Sorry lho Cher... gue nggak bermaksud stereotipe terhadap wanita..." Sammy mulai kembali ke dunia nyata.

"Itu sih uda stereotipe BANGET Sam." aku mendelik. "Tapi Chery yang baik hati ini, untuk kali ini nggak akan protes. Because you've been through a lot."

Aku mencoba memandang ini secara dewasa.
Mencintai adalah proses bertumbuh,
Terluka adalah proses menjadi dewasa,
dan memaafkan adalah proses menjadi bijaksana.
Aku mencoba memahami pilihan Sammy ini.

"I know you'd understand." Sammy memegang tanganku. "Makanya cuma elo yang gue bagi cerita ini. Jujur, cuma elo satu-satunya temen yang pernah gue ceritain..."

Aku tersenyum getir.
Ya, satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang untuk Sammy adalah menjadi 'teman' yang baik.
Aku tidak ingin merusak jarak nyaman dan aman yang sudah ada diantara kami saat ini.
Cukup dengan bisa sedekat ini dan menunjukkan pada Sammy bahwa dia tidak sendiri, dan bisa percaya padaku itu sudah cukup.
Diubah oleh jumpingworm 24-10-2013 02:10
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.