- Beranda
- Stories from the Heart
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
...
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
![.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)](https://s.kaskus.id/images/2018/01/25/2511688_201801250912110005.png)
Spoiler for Segelas Es Kosong:
Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:
Quote:
Quote:
Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.4K
1.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
OblOOOOOOO
#164
Anak Lelaki di Persimpangan Jalan - Bagian V
Selasa, 25 Oktober 2011
Sudut Pandang Nino
Gue sadar, saat ini Karin pasti berpikir kalau Bagas suka sama gue.
"Kamu lebih cantik Rin.
" Gue meyakinkan Karin. Walaupun kehilangan Bagas sekarang akan menimbulkan luka, tapi gue yakin luka ini nggak akan separah ketika gue mengikuti ego gue sendiri dan kehilangan Karin. 
"Trus hubunganya?" Jawabnya polos.
"Gue yakin kalau lo nempel terus sama Bagas, dia bakal senang.
"Gue menatap mata Karin, namun Karin mengalihkannya. Dia menatap ke arah lain, menghindari pandangan gue. Dia seolah berpikir akan sesuatu, namun ucapannya selanjutnya membuat gue membisu.
"Kamu... Kamu suka nggak sama Bagas?" Ujarnya dengan wajah yang sangat polos.
Gue menelan ludah. Tangan gue gemetar! Apakah gue harus menjawab pertanyaan itu. Kejadian pas SMA bakal terulang lagi kalau seperti ini.
"Nabilaaa!!!
Bubur datanggg!!!
"Si Monyet itu tiba-tiba datang sambil membawa bungkusan bubur ayam. Belum sempat gue menjawab pertanyaan Karin. Tapi, ada baiknya juga daripada harus berbohong atau pun terlalu jujur.
======
Selasa, 25 Oktober 2011
Sudut Pandang Bagas
"Lagi ngomongin gue yak?"Canda gue ketika melihat keduanya membisu seketika melihat kehadiran gue.
"Yee, jangan kepedean lo!"
"Hahaha!
Kalau ngomongin gue bilang aja sih. Jangan ditutup-tutupi.
" Lanjut gue menggoda mereka."Ini bubur ayam. Ini air putih, minum dulu." Nino pun menaikkan sandaran kepalanya dan sekarang posisi duduk di dipan klinik.
Gue menyuapi Nino. Semakin gue memperhatikannya, semakin tumbuh rasa gue ingin bersamanya. Gadis itu, unik, lucu, dan matanya yang menunjukkan dengan jelas perasaannya. Gue melemparkan sebuah senyuman.
Gue melirik ke Karin, dan di saat yang sama Karin memalingkan muka. Gue merasa bersalah ke Karin. Gue nggak tahu apa yang dia pikirkan sekarang.
Karin atau Nino?
Seketika pertanyaan itu muncul di benak gue. Gue terpesona dengan kecantikan Karin, cara dia berjalan, senyumannya, cara dia berbicara, kepolosannya. Namun, gue juga takut kehilangan hangatnya Nino, candanya, terlebih lagi saat bersamanya gue bisa jadi diri gue sendiri tanpa harus jaim (jaga image).
Gue suka dua-duanya, namun, hanya ada satu orang yang membuat rasa sayang gue tumbuh. Rasa takut akan kehilangan gue terhadapnya lebih besar. Gadis itu ialah Nino. Gue saat ini sepertinya mulai sayang sama Nino. Gue nggak bisa menafikkan itu. Hanya Nino yang selama ini selalu ada buat gue dan sedikit demi sedikit membawa perubahan buat gue, mewarnai hari-hari gue.
Mungkin embun pagi waktu itu, berkata bahwa inilah jalan takdir gue. Menemukan cinta lewat orang lain.
Namun ada satu hal yang mengganggu gue pikiran gue sekarang. Gue takut Nino beranggapan kalau dia hanya dijadikan pelarian.
Nino pasti beranggapan bahwa sekarang gue memandangnya hanya sebagai teman, namun nyatanya pandangan gue untuknya saat ini sudah berubah.
Rabu, 26 Oktober 2011
Sudut Pandang Bagas
Nino sudah pulih, malam itu dia pulang ke kosan. Kami bertiga mengantarkannya dengan mobil Karin.
"Eh jangan sok sibuk lu yak! Entar sakit lagi!
" Ujar gue."Haha!
Kan, katanya ada elo. Kalau gue sakit lo berdua lah yang rawat gue! Oke!" Jawab Nino."Eh, orang minta sembuh dia malah minta sakit lagi!
" Sahut Karin."Hehe!
Hati-hati ya kalian! Makasih banyak, ya! Bye!"Kami pun pamit pulang. Melihat Nino sudah mulai lincah kembali, kekhawatiran gue sudah sedikit berkurang. Walaupun masih ada rasa khawatir kalau Nino bakal bekerja keras lagi.
Dalam perjalanan malam hari yang dihiasi bintang-bintang itu, bersama senyumnya rembulan dan angan yang menari-nari di kepala gue, dengan santainya gue bilang sama Karin.
"Rin."
"Hmm, apa?" Ujarnya dengan senyuman hangat.
"Gue... Gue kayaknya suka sama Nino, Rin.
""Hah?" Jawabnya dengan ekspresi kaget namun dengan suara yang sangat pelan. Mungkin gue terlalu cepat memberitahunya perihal ini. Tapi gue nggak mau cerita ini berkepanjangan. Gue nggak mau Karin salah sangka terntang perasaan gue.
"Gue kayaknya suka sama Nino... Ngelihat Nino sakit dan terkulai lemas kemarin, rasanya gue pengin jadi kekuatan buat dia, pelindung di saat dia butuh perlindungan, ataupun jadi bahu bersandar saat dia sedih. I know Nino too much.
""Hmm, gitu yaa...
K-k-kamu, cocok kok sama Nino.
" Jawabnya sedikit terlihat gugup."Oh, iya? Cocok dimananya?"
"Kak Rei, Maki, atau Rio, semua bilang gitu...
Saat kalian bareng tuh kayak nggak ada batas yang di antara kalian. Kalian lepas gitu aja. Menurutku, Gas, Nino juga suka sama kamu." Jelas Karin."Hehehe.
Hmm, gue merasa nggak tengsin gitu depan dia, dan bisa jadi diri gue sendiri gitu, Rin, pas bareng Nino...." Gue memperhatikannya. "Lo sama Rei gimana?""Aku? Mungkin bakal baik-baik aja. Enggak tahu sama siapa.
""Lu cocok kok sama Rei, kalian sama-sama good looking... Ngelihat kalian jalan berdua itu, becanda bareng, bahkan saling senyum aja sudah menghibur para penonton tau! Haha! Itu sih pendapat gue. Hehe.
Anyway, makasih ya, sudah ngenalin gue sama Nino.""Hmm.
Kamu kenal Nino kan bukan karena aku. Kalian kan nggak sengaja ketemu. But, anyway, makasih juga Gas, aku beruntung udah kenal kamu. Kamu, pernah jadi orang yang ada buat aku... saat aku butuh... Walaupun cuma sebentar.
""Haha!
Kayak mau putus aja.
"Setelah keluar dari mobil, Karin berjalan cepat melangkah ke depan. Lalu berhenti. Gue yang beberapa meter di belakangnya otomatis juga berhenti. Karin membalikkan badannya kehadapan gue.
"Maafin aku yaaa, maafin aku, Gas. A-a-aku, suka sama kamu. Bagi aku kamu orang paling istimewa... Tapi akhir-akhir ini aku ngerasa kamu... Dan, barusan kamu juga bilang... Hehe. Enggak... enggak perlu diungkit. Dah, aku masuk ya."
Karin berlari hendak masuk ke kosannya. Sontak melihat Karin menyatakan perasaannya dengan gamblang saat itu, gue pun berpikir harus bisa lebih gentle dan mengatakan yang sejujurnya.
"Karin tunggu!" Ujar gue menarik tangannya.
"Hehe....
" Sejenak gue terpaku karena mata Karin berair. Tangisan itu seperti ditimbulkan oleh luka yang sangat dalam, "... Jujur, awalnya, gue suka sama lu Rin. Gue suka sama lu, dan bahkan gue minta bantuan Nino yang notabene adalah sahabat lu, buat ngegebet elu.
Seiring waktu, hadirnya Rei membuat gue lebih jauh dari lu dan malah dekat ke Nino. Gue merasa ada yang lebih pantes buat jadi cinta lu, bukan gue, tapi Rei. Gue yakin dia bakal jadi cowok yang setia.""Hehehe. aku udah tau... Nino udah bilang kok.
Nino, dia yang butuh cinta kamu sekarang. Seperti yang kamu bilang, aku bakal mencoba buat buka hati sama Kak Rei. Mungkin aku suka sama kamu karena kamu beda dari yang lain. Terlebih lagi cara kamu memandang aku. Makasih ya." Dia menyeka air matanya. Lalu tersenyum lebar. Auranya benar-benar terbuka, senyum itu terlihat seperti senyum yang melepaskan sesuatu yang mengganjal."Haha, pandangan gue beda gimana?
" Ujar gue."Pandangan mesum.
""Jiahaha! Sial.
".Awkward, namun rasanya hal yang mengganjal di hati gue sedikit berkurang. Tidak ada yang perlu gue tutup-tutupi lagi. Juga, mengetahui perasaan Karin membuat gue bisa tegak lebih percaya diri dari biasanya.
Ya, sekali lagi perjalanan cinta gue, pertemuan dengan orang baru, mengajarkan gue sesuatu. Kali ini adalah, tentang percaya diri.

"Makasih ya, semoga kamu lekas jadian sama Nino.
Aku bakal dukung banget Gas... Jaga kesehatan ya Bagas, kurangi-kurangi rokok sama begadang.""Hmm.
Makasih juga Rin... Hehe, gue bakal usaha... Jangan bilang-bilang Nino dulu, ya. "Karin pun mengangguk dan masuk ke dalam kosannya. Gue pun berjalan ke arah kosan gue.
Gue cukup senang karena malam ini semua perasaan gue ke Karin sudah tersampaikan, bercampur rasa takut juga akan seandainya ditolak Nino.
Seketika, banyangan Sigit muncul di kepala gue.
OMG!!! Gue kehilangan PELUANG terbesar sama Karin! Sekarang mantan pentolan sekolah adalah saingan gue! Diubah oleh OblOOOOOOO 23-11-2021 12:56
0

![.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)](https://s.kaskus.id/images/2019/05/12/2511688_20190512083535.jpg)

Seketika kepala gue ditampol pake sebuah kepalan tangan.
Timbullah sebuah ide, cabe rawit yang gue pegang, semuanya gue masukin ke mulutnya, gue kekep pake tangan dan gue tarik hidungnya. Dan gue langsung ngacir

biar lebih banyak bapernya ![.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)](https://s.kaskus.id/images/2018/01/25/2511688_201801250913370673.png)

![.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)](https://s.kaskus.id/images/2019/05/12/2511688_20190512093202.jpg)