- Beranda
- Stories from the Heart
[Cerpen] Hearts Color
...
TS
redxiv
[Cerpen] Hearts Color
Quote:
HEARTS COLOR
Dua puluh januari,kami berdua duduk berhadapan di restoran Itali. Melihatnya yang saat ini, tengah menikmati Spaghetti Aglio-Olio. Pasta udang, menu favoritnya. Sudah sangat lama, dan aku hampir melupakannya. Saat itu kami duduk bersama di sini, di sofa warna merah ini. Saling berhadapan, menikmati hidangan yang kami pesan. Ya, di tempat inilah terakhir kali kami makan bersama, sebelum akhirnya dia memutuskanku, lima tahun lalu.
Kini kami hanya dipisahkan oleh meja makan, selebar tujuh puluh sentimeter. Semenjak berpisah, kami tak pernah lagi berada pada jarak sedekat ini. Ini mengingatkanku pada kejadian hari itu. Hari di mana, untuk pertama kalinya kami makan bersama, di satu meja. Dan sebuah kekonyolan, yang tak kan pernah bisa kulupakan…
********************
Di ujung meja panjang berwarna putih, kantin sekolah. Aku gugup, panik, gelisah. Saat cewek paling cantik di kelas itu, memutuskan untuk duduk tepat di hadapanku. Maksudku, aku tidak sedang menyukainya saat itu. Hanya menganguminya, layaknya kebanyakan anak cowok, berumur tiga belas tahun.
Lidahku mati rasa, tak bisa merasakan tiap sendok makanan yang masuk ke dalam mulut. Telingaku berhenti mengijinkan, suara-suara gaduh yang memberontak ingin masuk. Hanya dia, seluruh pikiranku hanya tertuju pada dirinya.
Diam-diam bola mata ini terus meliriknya secara konstan, per dua detik. Tertarik melihat apa yang sedang dilakukannya. Maklum saja, walau sekelas kami tak pernah sekalipun saling menyapa. Tempat duduk kami terpisah dari ujung ke ujung. Bukan hanya harus memutar kepala sembilan puluh derajat. Aku pun harus melewati hadangan empat kepala lain, hanya untuk sekedar melihat wajahnya.
Kebodohanku di mulai saat aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Aku tidak merasa memesan sesuatu yang gurih. Tapi anehnya, kenapa aku bisa memakannya. Sesuatu yang gurih dan renyah, berasal dari tangan kananku yang sebelumnya memegang sebuah sendok.
Aku melihat kearahnya, dan mata bulat tengah menatapku heran. Mata kami saling menatap, seolah mimpi menjadi nyata. Tapi sedetik kemudian bola matanya bergerak, menuju benda yang kupegang di tangan kanan. Spontan mataku pun bergerak menuju arah yang sama, dan kutemukan sebuah pangsit.
Ya, pangsit goreng di tangan kananku. Butuh waktu beberapa detik bagi otak untuk mengolah data, dan mengambil kesimpulan sederhana, bahwa pangsit goreng ini bukan milikku!!
Aku panik tak keruan, dan melihat makanan yang ia pesan. Semangkuk mie ayam, lengkap dengan mangkuk merah kecil berisi saus dan sambal, beberapa acar, dan sebuah pangsit goreng!!
Bagaimana mungkin aku mengambil makanan miliknya?
Kapan?
Suasana hening tak normal di tengah keramaian yang kurasakan tadi, telah membuatku melakukan hal gila. Segera ku beranjak dari kursi, mengembalikan pangsit itu ke tempat asalnya, dan membeli pangsit goreng lain sebagai gantinya.
Tetapi beberapa detik kemudian aku baru sadar, bahwa aku telah melakukan hal konyol lainnya. Dengan mengembalikan pangsit itu ke mangkuknya, sama artinya aku menyuruhnya untuk memakan pangsit itu kembali.
Tapi saat kubalikkan badan, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Dia telah memakan pangsit itu, dan dengan tersenyum berkata, “gak pa pa, kok… Makasih!”
Entah apa arti senyuman, dan ucapan terima kasih itu. Sampai hari ini pun, hal itu masih menjadi misteri bagiku. Tapi satu hal yang pasti. Sejak hari itu, aku terus mengingat wajahnya, yang tersenyum menatapku.
********************
Kuteguk secangkir kopi esspreso. Memalingkan wajah, dan memandang langit biru dari balik kaca. Aku sadar, bahwa aku telah berjalan terlalu jauh ke masa lalu. Sebelas tahun, waktu yang sangat lama. Tapi mengapa ,memori ini masih bisa mengingat detail kejadian hari itu. Perasaan, yang kurasakan saat itu.
Jikalau pun waktu berputar mundur, kembali ke masa itu. Mungkin aku akan tetap memilih mencintainya. Walau pada akhirnya aku tahu, kami tak kan pernah bisa bersama, selamanya. Walaupun harus berakhir dengan kesedihan, dan luka yang teramat dalam.
Aku…
Kupaksakan diri untuk memejamkan mata, dan menjernihkan pikirkan. Tidak!! Tidak bisa!!—kucoba meyakinkan diri.
Ini semua karena dua kalimat, yang keluar dari mulutnya. Aku jadi terlalu sentimental. Aku harus berpikir realistis, bahwa kami takkan bisa kembali seperti dulu.
Benar yang dikatakannya saat itu. Sejak awal hubungan ini sudah salah, kami terlalu berbeda, seharusnya kami tak pernah saling…
Kudengar bunyi bendasolid, yang saling bersentuhan. Aku tahu, itu adalah tanda bahwa dia telah mengosongkan piring dihadapannya. Karena seperti biasa, saat makan dia tak akan menimbulkan bunyi. Kecuali waktu meletakkan garpu dan sendok, di piring kosong.
Kugerakkan bola mata melirik kearahnya. Terdorong rasa penasaran, dengan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Wajahnya terlihat sangat tenang, dan menikmati tiap teguk orange float yang masuk ke dalam mulut. Dan kurasa, dia telah melupakan masalah yang di buatnya sendiri, sekitar lima belas menit lalu.
Tak lama, dia mulai menyadari keberadaanku. Tapi hanya sekilas dia melirik kearahku, dan langsung membuang muka, dengan raut wajah bersalah. Seraya kemudian ia menyibak sisi kiri rambutnya, menyembunyikan kedua tangannya di balik meja. Dan seolah tahu aku masih memperhatikannya, ia menatap ke langit-langit.
“Aku harus ngomong berapa kali soal ini. Paling tidak, pikirkan kesehatanmu sendiri!!”—Hardikku keras padanya— “Sampe kapanpun masalah gak akan pernah ada habisnya, dan kau gak bisa terus-terusan mengabaikan waktu makan! Kau harus makan!!”
Dia hanya mematung, dan terus menatap ke langit-langit, seolah lampu gantung di restoran itu sangat menarik baginya. Dan satu-satunya hal yang paling kubenci darinya, adalah kebiasaan buruknya ini.
Dia tak akan mau memakan apapun saat mengalami masalah, ataupun stress, tidak sama sekali. Bahkan jika aku tak memesankan pasta itu, dan memaksanya makan. kaskusr apapun dirinya, aku yakin dia tak akan mau makan, sampai mendapat jawaban, dari masalah ini.
“Aku… sudah hilangin itu kok.”—Ucapnya lirih dengan posisi kepala yang tetap tak berubah—“waktu di Beijing, ada masalah atau saat ujian, aku sudah coba untuk makan. Dan itu berhasil, karena…”—ia terdiam sejenak, kemudian berdehem lirih—“aku tau kau pasti akan marah.”
Sontak aku terdiam mendengar pernyataan frontal-nya. Memang tak begitu mengejutkan, jika mengingat dua kalimat yang diucapkannya sebelum ini. Tapi tetap saja, mendengar kata-kata itu dari seseorang ‘eks’ yang pernah kucintai. Membuat hati ini, yah, jadi seperti terombang-ambing.
Dengan berusaha untuk tetap terlihat tenang, seolah kata-katanya itu sama sekali tak berarti lagi. Aku membalas—“Jadi ?”
Dia menggerakkan kepala dan melirik kearahku, lalu berujar, “ Yaa… ’kan masalah kali ini berbeda…”
Aku berdehem, lalu membuang muka. Saat kedua mata ini kami bertemu, tiba-tiba saja tenggorokanku serasa tercekik. Jadi kuputuskan untuk menyeruput kopi espresso, dengan melihat kearah balkon di luar restoran.
Pikiranku, belum bisa melepas dua kalimat yang diucapkannya tadi. Selama ini aku telah berusaha melupakannya. Coba menjalani hidup sebaik mungkin, tanpa dirinya. Tapi saat dia didepanku, dan dengan wajah serius melontarkan kata-kata ‘sakti’ itu.
Semua usaha yang kulakukan, jadi terasa sia-sia. Semakin kucoba membantahnya, perasaan ini malah muncul semakin kuat dan nyata. Kurasa aku tak bisa membohongi diriku, bahwa aku, memang masih…
“Kenapa sekarang…?” tanyaku di tengah kegalauan yang menyelimuti hati.
Dia terdiam sejenak, dan melirik kearahku dengan wajah bersalah. Kemudian mengalihkan pandangannya, dengan menatap orange float yang berada tepat di hadapannya. Lalu dengan bibir bergetar, dia berkata ragu, “Karena kau, telah mencintai wanita lain…”
Aku terperangah tak percaya, mendengar apa yang baru saja ia katakan. Ini keterlaluan, ucapannya jelas-jelas sangat tidak masuk akal. Apa itu mencintai wanita lain, bahasanya terlalu formal!
Dan lagi, apa maksud dari kata-katanya itu. Dia seolah menghakimiku, karena berselingkuh darinya!
“Sebentar!!”—hardikku yang masih coba berpikir seeetenang mungkin, dan menatap serius kedua bola matanya.
“Kita”—seraya kugerakkan tangan menunjuk kearahnya, kemudian melemparkannya kembali ke diriku.—“Sudah putus ‘kan ??”
Berlahan-lahan bola matanya bergerak menghindariku, tanpa mengatakan sepatah katapun. Hei,hei, apa maksud dari bahasa tubuh itu?! C’mon!! Kupikir jantungku tidak terlalut kuat, jika harus mendapat shock terapi beruntun seperti ini!!
Aku jelas-jelas mendengar ‘kita tak bisa melanjutkannya!’ lima tahun lalu, dari mulutnya sendiri. Setelah itu kita beradu argumen, dan menjadi pertengkaran terhebat selama aku mengenal dirinya. Dan sebulan kemudian, aku mendapat kabar dari sahabatnya bahwa dia telah melanjutkan studi keluar negeri.
Hebat, pikirku saat itu, dia bahkan tak mengatakan sepatah kata PUN, padaku. Dan empat bulan lalu adalah pertemuan pertama kami, di acara reuni sekolah.
“Hei, aku serius!!” bentakku sembari memegang tangannya untuk coba mendapatkan perhatian
Tetapi bukannya menjawab pertanyaanku. Dengan wajah datar, dia malah melirik kearah tangannya yang sedang kugenggam erat. Spontan saja langsung kulepaskan tangan itu, aku tak ingin masalah ini berkembang semakin absurd!
“Benar juga,”—ujarnya dengan wajah sedih yang jelas dibuat-buat. Kemudian sambil menyembunyikan kepalanya di antara kedua tangan yang ia lipat rapi di atas meja, ia kembali berkata—“kita sudah putus!”
“Apa maksudmu benar juga. Kita benar-benar sudah putus, lima tahun lalu!!” tegasku dengan memasang wajah seserius mungkin.
Seraya sebelah matanya mengintip dari sela-sela lengan. Lalu mengernyitkan dahi, dan menatap kedua bola mataku tajam. Seolah kata itu, adalah kata-kata terkejam yang pernah kuucapkan. Walau kenyataannya, dia hanya coba mendramatisir.
“Kau tahu, sudah berapa banyak cowok-cowok di luar sana yang mengatakan suka padaku, dan ingin menjadi pacarku?!” tanyanya dengan nada tinggi.
Aku terdiam mendengarnya. Aku tahu dia cantik, dan keras kepala. Tapi tak kusangka dia juga licik, memojokkanku dengan pertanyaan semacam itu. Itu ‘kan sama artinya, dia ingin mengatakan. Betapa beruntungnya aku, bisa berkencan dengannya, DULU.
“Apa peduliku…” Jawabku datar, lalu meneguk kopi espresso.
“Dua puluh, dan kutolak semua!”—jelasnya penuh percaya diri, seraya tangan kanannya bergerak menyapu seluruh penjuru restoran. Lalu meminum orange float di hadapannya.
“Lalu, cowok yang kulihat bersamamu di reuni kemaren…?
Sedetik itu juga dia tersedak, dan dengan sigap menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ya, kurasa dunia ini memang adil. Kuanggap suara batuk-batuk menderita itu, adalah bentuk karma dari sigap arogannya tadi.
Tapi jika harus mengingat cowok berkulit pucat, dan bermata empat. Yang terus mengekor dibelakangnya, sepanjang acara reuni itu. Benar-benar membuatku kesal. Maksudku, kenapa harus berkacamata, itu sama sekali bukan tipenya. Terlihat sangat kutu buku dan culun, apalagi saat berbicara dia terus berbisik ketelingannya. Kemudian mereka saling berbincang pelan, kadang-kadang tertawa lepas.
Tidak, aku sama sekali tidak cemburu, maksudku... tidak juga sih.
“Ternyata kau memperhatikannya.”—balasnya dengan mimik wajah mengejekku senang—“Aku sempet panik saat melihat eksrepsi wajahmu yang biasa-biasa saja, saat kuperkenalkan dia sebagai pacar. Tapi…” dia terkekeh penuh kemenangan, tanpa sekalipun punya niat menuntaskan kalimat terakhir.
Walau sedikit kesal, tapi aku menikmati ekspresi wajah gembiranya itu. Aku sangat senang melihat wajahnya saat tersenyum mengejekku. Karena itu mengingatkanku, pada sesuatu yang pernah diucapkannya dulu.
Dulu saat kami masih bersama, aku pernah memarahinya karena dia terlalu dekat dengan cowok lain. Aku cemburu, dan kupikir wajar jika aku cemburu. Dan saat itu, dia mengeluarkan ekspresi wajah seperti hari ini. Lalu dengan menggenggam tanganku erat, sebuah kata indah terucap dari bibir merahnya.
Aku senang kau cemburu, karena itu menunjukkan betapa kau menyukaiku. Tapi tenang saja, aku tak akan pergi kemanapun. Karena hati ini, sudah menjadi milikmu, selamanya.’
“Kau gak kenal dia…?” tanyanya sangat antusias.
“Apa aku harus mengenalnya ?!” jawabku kesal dengan nada tinggi.
Ia kembali menyeringai kegirangan. Sebelum akhirnya mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya, seakan membuat tanda kutip di samping kepalanya. Lalu berkata manja, “restoran maid…”
Ku mengernyitkan dahi, mengangkat sebelah alis, dan menyipitkan mata. Aku tahu gesture itu terlihat imut, di tambah nada suara manjanya. Tapi itu sama sekali tak terlihat seperti dirinya. Dan dia tahu, aku juga sangat tidak menyukainya hal-hal semacam itu.
Tapi aku sadar, ada alasan sampai dia harus menggunakan pose itu. ‘Restoran maid’, entah di mana aku merasa pernah mendengar ide itu sebelumnya. Bersama dengannya, yang saat itu berada tepat di sebelahku.
Dan sontak saja mataku terbelalak, saat dia berkata, ‘Tokyo mew mew.’
Ya, aku mengingatnya. Tujuh tahun lalu, ada seorang pemuda yang mengutarakan sebuah ide konyol ingin membuka restoran maid. Dia bicara panjang lebar pada kami berdua, mengeluarkan semua gagasan tentang proyek gilanya itu.
Tetapi saat itu kami hanya bisa diam mematung, sama sekali tak mengerti dengan apa yang pemuda itu ucapkan. Mungkin istilahnya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Sampai akhirnya aku bertanya padanya, dari mana dia mendapatkan konsep ide seperti itu.
Dengan bersemangat dan polos, dia berkata, ‘Tokyo mew-mew.’
Spontan saja, kami berdua langsung menepok jidat keras-keras. Maksudku, ya, aku tahu anime itu, dan karena tahu kami tertawa sangat keras. Dia seseorang yang memang sangat menyukai semua hal tentang anime. Maniak anime. Ya, mungkin orang-orang seperti itu lebih popular di sebut sebagai, otaku.
“Itu… dia??” tanyaku ragu-ragu. Sembari tertawa, jika mengingat kejadian hari itu.
Dengan sangat bersemangat dia mengangguk-angguk, mengiyakan tebakanku. Dan kemudian tertawa lepas.
Aku tahu, aku tahu kenapa dia tertawa seperti itu. Pemuda itu, maksudku sepupunya itu, badannya subur, jika tidak ingin di bilang gendut tentu saja. Dia juga berkacamata tebal. Dan walau sudah berumur dua puluh tahun saat itu, dia masih terlihat sangat polos dalam hal berpikir.
Tapi memang tak ada manusia yang sempurna, karena secara personal aku sangat menyukainya. Maksudku, menyukai kepribadiannya. Dia sangat mudah tertawa, dan sering menceritakan lelucon-lelucon untuk kami. Dan yang paling kusuka darinya, dia menerimaku, sebagai teman, juga sebagai seseorang yang sedang menjalin hubungan serius dengan kerabatnya.
“Tidak, gak mungkin,”—seruku membayangkan jika pria yang kulihat saat itu memang benar sepupunya itu.
“Serius!”—balasnya bersemangat—“aku juga kaget saat pertama kali ngeliat dia.”
“Badannya, maksudku perutnya,”—sambungku dengan kedua tangan membayangkan bentuk tubuh gendutnya saat itu—“bagaimana bisa ?!”
Dengan mendekatkan kepalanya, dia berkata lirih. “Itulah kekuatan cinta.”
“Pacarnya?!”—tanyaku cepat dengan memasang tampang lebih tak percaya—“dia punya pacar?!”
“Ya iyalah! Dia sampai diet ketat luar biasa buat ngeyakinin perempuan itu.”
Ya, saat itu aku hanya terdiam, dan membayangkan hal itu memang tak mustahil di lakukan. Maksudku, aku pernah menonton acara sejenis itu sebelumnya. Dan memang bisa, seseorang yang luar biasa gemuk, berubah menjadi sangat kurus. Maksudku, bentuk tubuhnya jadi proposional.
“Klo dia ikut the biggest loser, kurasa dia akan jadi pemenangnya.”
Sontak dia pun tertawa lepas mendengar ucapanku, dan lalu menyetujuinya. Setelahnya, kami terus saling bercerita tentang apa yang tidak kami ketahui.
Banyak, banyak sekali hal yang sebenarnya ingin kuceritakan, hanya kepadanya. Melihat ekspresi wajahnya, mendengar komentarnya, lalu bercanda dan tertawa bersama. Sangat menyenangkan, dan aku sangat merindukan saat seperti ini dengannya.
Sampai beberapa saat kemudian, telepon yang kugeletakkan di meja itu berdering. Darinya, dari seseorang yang telah menjalin komitmen denganku sejak tiga bulan lalu. Mudahnya, dari seorang perempuan yang jadi pacarku sejak tiga bulan lalu.
********************
Part 2
Part 3
minta komengnya ya,
karena gw tau tulisan gw masih jauh dr kata bagus,
dan gw ga bisa obyektif nilai cerita yg gw bikin sendiri,
thanks

Diubah oleh redxiv 21-10-2013 19:27
anasabila memberi reputasi
1
2.9K
Kutip
15
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
redxiv
#6
Quote:
Aku sempat berpikir,kenapa masalah selalu datang di saat yang tepat. Di saat aku merasa ingin sekali menghabiskan waktu dengannya. Di saat perasaan yang telah mati selama lima tahun ini, hidup kembali…
“Kenapa gak di angkat…?”—tanyanya setelah handphone itu berdering untuk yang ketiga kalinya—“Dari, dia…?”
Sontak aku melirik kearahnya, yang saat ini tengah menatapku dengan ekspresi wajah datar. Lalu dengan nada tinggi, aku berkata, “bukan urusanmu!”
Aku kesal, sangat kesal. Maksudku, kenapa wajahnya begitu datar kalau tahu telepon ini darinya. Dari seseorang, yang harusnya akan menjadi penghalang hubungan kami nantinya. Dan jika dia masih menyukaiku, tunjukkan ekspresi wajah kesal. Atau paling tidak katakan, ‘jangan angkat klo dari dia’, atau kata-kata semacam itu lah.
Bergegas kujawab panggilan telepon itu. Tanpa embel-embel kata sayang atau semacamnya, walau kami pacaran. Ya, aku memang tak pernah mengucapkan hal-hal memalukan seperti itu. Tidak juga kepada ‘eks’, yang saat ini duduk tepat dihadapanku.
“Eerrr… Sudah makan…?”—tanyanya setelah sempat sunyi sejenak, setelah kuangat telepon itu.
Agak canggung memang, karena dia tipe cewek yang agak pemalu. Sangat jauh berbeda, jika dibandingkan dengan, sekali lagi, ‘eks’ yang saat ini saat ini duduk tepat dihadapanku. Super berisik.
“Ya, tentu saja sudah,”—balasku seraya kemudian melihat jam tangan, dan waktu menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit sore hari. Jelas kalau pertanyaan tadi hanya sekedar basa-basi.
Tapi lebih bodoh lagi, aku juga menanyakan hal sama kepadanya. “Kau sendiri bagaimana? Sudah makan ‘kan?”
“Iya, tentu saja…”—jawabnya menirukan ucapanku—“Sebenarnya…”
“Tunggu sebentar!” Potongku. Saat kulihat dirinya tengah menguping pembicaraan ini, dengan sangat antusias. Tetapi saat aku ingin beranjak pergi menjauh, dia menggenggam pergelangan tanganku erat. Hanya diam, tak mengucapkan apapun. Tapi, ekspresi wajahnya seakan ingin berkata, ‘jangan pergi!’
Tanpa berpikir, aku memutuskan untuk kembali duduk di tempat semula. Dan dengan tetap menggenggam telepon di tangan kanan, aku berujar, “Ya, ada apa?”
“Tadi, kenapa…?” tanyanya penuh keragu-raguan.
“Tidak, gak ada apa-apa kok...”
“Sedang, bersama seseorang…?”
“Ya,”—jawabku berlahan. Bagaimanapun, aku tak ingin berbohong, tidak sama sekali—“saat ini, aku sedang bersama teman.”
Dia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya kembali bertanya, “cewek…?”
Sekarang ganti aku yang terdiam karena pertanyaannya itu. Kugerakkan kepalaku untuk melihat seseorang, yang saat ini tengah memperhatikanku dengan sangat serius. Tapi, begitu mata kami bertemu, buru-buru dia saja dia membuang muka, dan meminum orange float-nya.
Dengan beralih menatap tanaman-tanaman yang tertata rapi di balkon restoran, aku membalas pertanyaaannya. “Ya, dia cewek, temen saat SMU…”
“Be-begitu ya…”—walau aku tak bisa menatap wajahnya, tapi aku tahu dia terkejut mendengarnya—“Kalau gitu, maaf sudah ganggu…”
“Tunggu!”—balasku buru-buru, sebelum dia benar benar mematikan teleponnya—“Walau sepenting apapun urusanku saat ini. Walaupun saat ini aku sedang bersama keluarga, atau teman. Jika kau yang menelpon, dan walau sekedar menanyakan kabar, itu sama sekali tak mengganggu. Karena kau pacarku, wajar jika kau menelpon.”
Untuk saat ini, entah mengapa, aku seperti di tarik kembali ke dunia nyata. Dunia sebenarnya, yang walau tidak begitu indah, tapi tetap harus di jalani. Di banding dengan perasaanku sebelum ini, yang semua serasa jauh lebih indah, walau aku sedang kesal dan bimbang.
“Terima, kasih…” ucapnya lirih setelah aku menunggu cukup lama.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”
“Sebenarnya, untuk acara besok aku masih belum nemuin baju yang pas. Jadi hari ini aku berencana membelinya, bisakah, kau menemaniku…?”
“Ya, tentu saja,”—balasku cepat—“akan kujemput jam setengah delapan. Kita pergi bersama.”
“Err…”
“Ya ?”
“Sekarang, gak isa ya…?”
Sekali lagi aku sejenak mendengar permintaannya. Aku tahu maksudnya, dan kuanggap itu suatu hal yang wajar dilakukan. Tapi—kulirikkan mata, melihat seseorang yang sedang duduk dihadapanku sekali lagi—jujur saja aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi.
“Maaf, tapi mungkin, aku baru bisa jemput dua jam lagi…”—hanya ini hal terbaik yang bisa kulakukan.
“Ya, baiklah,”—jawabnya cepat—“akan ku tunggu sampai jam lima sore, makasih…”
“Ya…” Jawabku sebelum akhirnya dia menutup teleponnya. Seumur hidup, aku tak pernah berharap punya dua orang cewek yang menyukaiku, tidak sedikitpun.
Aku kembali melihatkearahnya yang terus memperhatikanku. Bibirnya berada ujung sedotan, dan terhubung dengan minumannya yang berwarna oranye. Entah bagaimana caranya minum, tapi kuperhatikan minuman itu sama sekali tak berkurang, sedikit pun. Dan dia malah tersenyum saat aku menatap matanya.
“Apa?!” Tanyaku sinis.
“Kenapa gak berbohong ?”—jelasnya senang, setelah melepaskan bibirnya dari ujung sedotan—“klo bohong dan bilang lagi sama temen cowok, pasti dia mau kau jemput jam setengah delapan malem.”
“Memang kenapa?”—balasku lantang—“berarti kau tau’kan klo dua jam lagi aku harus pergi, ada urusan!”
“Jelas terlihat, masih mengelak…” ujarnya dengan mimik mengejek yang tak berubah.
“Apanya yang ngelak ? klo bicara yang jelas!”—sebenarnya aku tahu apa maksudnya, hanya saja… tak ingin mengakuinya.
“Yaaa,”—jawabnya dengan memanjang-manjangkan huruf a—“kau ingin bersamaku sampai jam setengah delapan, paling tidak.”—seraya dia tersenyum kearahku.
“Itu’kan maumu!”
“Seperti yang kau mau.”
Setelah itu aku hanya terdiam. Karena aku tahu, jika kuteruskan tak akan pernah selesai. Dia akan terus dan terus membantah semua yang kuucapkan. Dan toh semua yang di katakannya benar. Hanya saja, sikapnya yang seolah bisa membaca isi kepalaku, yang membuatku tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya.
Cukup lama kami hanya saling menatap kesal, tanpa mengatakan apapun. Sampai akhirnya, tangan kirinya bergerak gesit mengambil handphone-ku, lalu tersenyum penuh kemenangan.
Aku mengerti apa di inginkannya dengan mengambil telepon itu. Tapi toh aku tak terlalu mempedulikannya, karena sejak awal aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya
Akan tetapi, melihatku yang tak merespon apapun. Dia malah memasang tampang sedikit bersalah, dan bertanya, “Boleh aku melihatnya…?”
“Terserah.” Jawabku ketus.
Setelah itu aku menghela napas panjang, dan menatap langit luas. Aku bingung, terlalu bingung sampai tak tahu harus memulainya dari mana. Aku sadar bahwa hati, dan jiwa ini masih sangat merindukannya. Tapi seperti yang dikatakannya dulu, terlalu banyak perbedaan di antara kami. Dan akan ada lebih banyak mata, yang akan melihat perbedaan itu. Terutama untuknya…
“Wuaah!! Ini di bromo ‘kan?!?! Aku pengen banget pergi kesana sekali lagi!!” Serunya dengan volume suara yang sangat sangat kencang. Entah apa yang merasukinya, sampai harus berteriak seperti itu.
“Hei, hei, gimana klo kita kesana, lalu berfoto seperti ini?!?!”—ujarnya bersemangat sambil menyodorkan foto mesraku bersama seseorang menelponku tadi.
“Dia manis sekali loh, sungguh!”—lanjutnya seraya kembali mengutak-atik handphone-ku—“Kurasa kami bisa jadi teman baik.”
Aku menyipitkan mata mendengarnya mengatakan itu. Jadi teman? Yang benar saja, lalu bagaimana denganku?!
Ya… walau akhirnya aku hanya bisa membatin pertanyaan itu dalam hati. Menatap wajahnya yang saat ini terlihat begitu ceria, aku jadi tak ingin merusak mood-nya.
Tapi aku juga bukan tipe orang yang suka membiarkan masalah berlarut-larut. Aku harus membuat keputusan, kembali bersamanya, atau melepasnya. Dan sebenarnya penghalang terbesar hubungan kami, adalah orang yang paling dekat dengannya. Jika beliau merestuinya, ini akan lebih mudah untuk kami.
“Bagaimana dengan ayahmu?” tanyaku berlahan.
Sejenak dia mengabaikan telepon genggam di tangannya, dan melirik kearahku. Cukup lama dia terdiam, sebelum akhirnya berkata lirih, “Gak apa-apa, dia baik-baik saja kok…”
“Syukurlah…” jawabku lega.
Walau bukan itu sebenarnya jawaban yang kuinginkan. Tapi aku senang, ayahnya baik-baik saja. Dan kuambil kesimpulan sederhana, bahwa dia belum mengatakan apapun pada ayahnya. mengenai masalahnya ini.
Sebenarnya, secara tak langsung, ayahnya lah penyebab kandasnya hubungan kami. Tapi aku sama sekali tak bisa menyalahkan beliau, dan kupikir itu sifat wajar dari seorang orang tua. Aku tak ingin, menjadi seseorang yang merusak hubungan ayah dengan putrinya.
“Ini tentang kita,”—ujarnya sembari meletakkan handphone-ku—“sama sekali gak ada hubungannya sama papa.”
“Aku tau, tapi paling tidak,”
“Ya, ya, ya!”—serunya sinis memotong ucapanku, lalu sambil memejamkan mata dia kembali berkata—“kau tak bisa mengabaikannya ‘kan.”
Dasar, dia memang sangat keras kepala, dan susah di atur. Dulu kami sudah sangat sering membicarakan tentang ini. Dan sikapnya selalu seperti itu, menganggap remeh. Padahal ini adalah masalah serius. Aku tak ingin dia di benci oleh kedua orang tuanya, hanya karena ku.
Terlebih lagi, sekarang kami bukan anak-anak, yang menganggap cinta adalah segalanya. Kami tak bisa menikah, hanya karena kami saling mencintai. Karena kami, tidak sedang hidup di dunia dongeng.
Ia membuka salah satu matanya, dan menatapku tersenyum.
“kau tau?!”—serunya tiba-tiba, seraya menyodorkan wajahnya tepat didepanku.
Sontak saja kutarik kepalaku mundur, menjaga jarak dari kedua mata indahnya yang menatapku lebar. Mimik wajahnya terlihat sedikit kecewa, saat melihat reaksi spontanku. Lalu berlahan dia menarik kepalanya menjauh.
Dengan kedua tangan yang dilipatnya rapi di atas meja, ia menatap kearah langit di luar restoran, dan berkata, “Akan lebih mudah jika kita,”—dia menggerakkan kepalanya, menatap mataku, dan tersenyum senang—“kimpoi lari.”
“Ha ha ha.”—celetukku sangat tidak antusias.
Lawakannya sangat tidak lucu, dan kuyakin dia juga tak serius mengucapkan hal itu. Karena setelahnya, dia malah tertawa terbahak-bahak. Lalu ia kembali memandang langit sore hari itu, dan tersenyum.
Setelah diam sejenak, dengan memandang wajahnya. Kuputuskan untuk melihat kearah yang sama. Awan biru yang diselimuti sinar matahari senja. Walau aku telah melihatnya berulang kali. Tapi bersamanya, semua jadi tampak begitu indah
Ya, mungkin ada baiknya aku melupakan masalah ini sejenak. Tak penting apa kami bisa kembali bersama seperti dulu, atau tidak. Karena tak ada yang lebih kuinginkan, selain melihat wajah tersenyum bahagianya, seperti saat ini.
“Kenapa gak di angkat…?”—tanyanya setelah handphone itu berdering untuk yang ketiga kalinya—“Dari, dia…?”
Sontak aku melirik kearahnya, yang saat ini tengah menatapku dengan ekspresi wajah datar. Lalu dengan nada tinggi, aku berkata, “bukan urusanmu!”
Aku kesal, sangat kesal. Maksudku, kenapa wajahnya begitu datar kalau tahu telepon ini darinya. Dari seseorang, yang harusnya akan menjadi penghalang hubungan kami nantinya. Dan jika dia masih menyukaiku, tunjukkan ekspresi wajah kesal. Atau paling tidak katakan, ‘jangan angkat klo dari dia’, atau kata-kata semacam itu lah.
Bergegas kujawab panggilan telepon itu. Tanpa embel-embel kata sayang atau semacamnya, walau kami pacaran. Ya, aku memang tak pernah mengucapkan hal-hal memalukan seperti itu. Tidak juga kepada ‘eks’, yang saat ini duduk tepat dihadapanku.
“Eerrr… Sudah makan…?”—tanyanya setelah sempat sunyi sejenak, setelah kuangat telepon itu.
Agak canggung memang, karena dia tipe cewek yang agak pemalu. Sangat jauh berbeda, jika dibandingkan dengan, sekali lagi, ‘eks’ yang saat ini saat ini duduk tepat dihadapanku. Super berisik.
“Ya, tentu saja sudah,”—balasku seraya kemudian melihat jam tangan, dan waktu menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit sore hari. Jelas kalau pertanyaan tadi hanya sekedar basa-basi.
Tapi lebih bodoh lagi, aku juga menanyakan hal sama kepadanya. “Kau sendiri bagaimana? Sudah makan ‘kan?”
“Iya, tentu saja…”—jawabnya menirukan ucapanku—“Sebenarnya…”
“Tunggu sebentar!” Potongku. Saat kulihat dirinya tengah menguping pembicaraan ini, dengan sangat antusias. Tetapi saat aku ingin beranjak pergi menjauh, dia menggenggam pergelangan tanganku erat. Hanya diam, tak mengucapkan apapun. Tapi, ekspresi wajahnya seakan ingin berkata, ‘jangan pergi!’
Tanpa berpikir, aku memutuskan untuk kembali duduk di tempat semula. Dan dengan tetap menggenggam telepon di tangan kanan, aku berujar, “Ya, ada apa?”
“Tadi, kenapa…?” tanyanya penuh keragu-raguan.
“Tidak, gak ada apa-apa kok...”
“Sedang, bersama seseorang…?”
“Ya,”—jawabku berlahan. Bagaimanapun, aku tak ingin berbohong, tidak sama sekali—“saat ini, aku sedang bersama teman.”
Dia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya kembali bertanya, “cewek…?”
Sekarang ganti aku yang terdiam karena pertanyaannya itu. Kugerakkan kepalaku untuk melihat seseorang, yang saat ini tengah memperhatikanku dengan sangat serius. Tapi, begitu mata kami bertemu, buru-buru dia saja dia membuang muka, dan meminum orange float-nya.
Dengan beralih menatap tanaman-tanaman yang tertata rapi di balkon restoran, aku membalas pertanyaaannya. “Ya, dia cewek, temen saat SMU…”
“Be-begitu ya…”—walau aku tak bisa menatap wajahnya, tapi aku tahu dia terkejut mendengarnya—“Kalau gitu, maaf sudah ganggu…”
“Tunggu!”—balasku buru-buru, sebelum dia benar benar mematikan teleponnya—“Walau sepenting apapun urusanku saat ini. Walaupun saat ini aku sedang bersama keluarga, atau teman. Jika kau yang menelpon, dan walau sekedar menanyakan kabar, itu sama sekali tak mengganggu. Karena kau pacarku, wajar jika kau menelpon.”
Untuk saat ini, entah mengapa, aku seperti di tarik kembali ke dunia nyata. Dunia sebenarnya, yang walau tidak begitu indah, tapi tetap harus di jalani. Di banding dengan perasaanku sebelum ini, yang semua serasa jauh lebih indah, walau aku sedang kesal dan bimbang.
“Terima, kasih…” ucapnya lirih setelah aku menunggu cukup lama.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”
“Sebenarnya, untuk acara besok aku masih belum nemuin baju yang pas. Jadi hari ini aku berencana membelinya, bisakah, kau menemaniku…?”
“Ya, tentu saja,”—balasku cepat—“akan kujemput jam setengah delapan. Kita pergi bersama.”
“Err…”
“Ya ?”
“Sekarang, gak isa ya…?”
Sekali lagi aku sejenak mendengar permintaannya. Aku tahu maksudnya, dan kuanggap itu suatu hal yang wajar dilakukan. Tapi—kulirikkan mata, melihat seseorang yang sedang duduk dihadapanku sekali lagi—jujur saja aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi.
“Maaf, tapi mungkin, aku baru bisa jemput dua jam lagi…”—hanya ini hal terbaik yang bisa kulakukan.
“Ya, baiklah,”—jawabnya cepat—“akan ku tunggu sampai jam lima sore, makasih…”
“Ya…” Jawabku sebelum akhirnya dia menutup teleponnya. Seumur hidup, aku tak pernah berharap punya dua orang cewek yang menyukaiku, tidak sedikitpun.
********************
Aku kembali melihatkearahnya yang terus memperhatikanku. Bibirnya berada ujung sedotan, dan terhubung dengan minumannya yang berwarna oranye. Entah bagaimana caranya minum, tapi kuperhatikan minuman itu sama sekali tak berkurang, sedikit pun. Dan dia malah tersenyum saat aku menatap matanya.
“Apa?!” Tanyaku sinis.
“Kenapa gak berbohong ?”—jelasnya senang, setelah melepaskan bibirnya dari ujung sedotan—“klo bohong dan bilang lagi sama temen cowok, pasti dia mau kau jemput jam setengah delapan malem.”
“Memang kenapa?”—balasku lantang—“berarti kau tau’kan klo dua jam lagi aku harus pergi, ada urusan!”
“Jelas terlihat, masih mengelak…” ujarnya dengan mimik mengejek yang tak berubah.
“Apanya yang ngelak ? klo bicara yang jelas!”—sebenarnya aku tahu apa maksudnya, hanya saja… tak ingin mengakuinya.
“Yaaa,”—jawabnya dengan memanjang-manjangkan huruf a—“kau ingin bersamaku sampai jam setengah delapan, paling tidak.”—seraya dia tersenyum kearahku.
“Itu’kan maumu!”
“Seperti yang kau mau.”
Setelah itu aku hanya terdiam. Karena aku tahu, jika kuteruskan tak akan pernah selesai. Dia akan terus dan terus membantah semua yang kuucapkan. Dan toh semua yang di katakannya benar. Hanya saja, sikapnya yang seolah bisa membaca isi kepalaku, yang membuatku tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya.
Cukup lama kami hanya saling menatap kesal, tanpa mengatakan apapun. Sampai akhirnya, tangan kirinya bergerak gesit mengambil handphone-ku, lalu tersenyum penuh kemenangan.
Aku mengerti apa di inginkannya dengan mengambil telepon itu. Tapi toh aku tak terlalu mempedulikannya, karena sejak awal aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya
Akan tetapi, melihatku yang tak merespon apapun. Dia malah memasang tampang sedikit bersalah, dan bertanya, “Boleh aku melihatnya…?”
“Terserah.” Jawabku ketus.
Setelah itu aku menghela napas panjang, dan menatap langit luas. Aku bingung, terlalu bingung sampai tak tahu harus memulainya dari mana. Aku sadar bahwa hati, dan jiwa ini masih sangat merindukannya. Tapi seperti yang dikatakannya dulu, terlalu banyak perbedaan di antara kami. Dan akan ada lebih banyak mata, yang akan melihat perbedaan itu. Terutama untuknya…
“Wuaah!! Ini di bromo ‘kan?!?! Aku pengen banget pergi kesana sekali lagi!!” Serunya dengan volume suara yang sangat sangat kencang. Entah apa yang merasukinya, sampai harus berteriak seperti itu.
“Hei, hei, gimana klo kita kesana, lalu berfoto seperti ini?!?!”—ujarnya bersemangat sambil menyodorkan foto mesraku bersama seseorang menelponku tadi.
“Dia manis sekali loh, sungguh!”—lanjutnya seraya kembali mengutak-atik handphone-ku—“Kurasa kami bisa jadi teman baik.”
Aku menyipitkan mata mendengarnya mengatakan itu. Jadi teman? Yang benar saja, lalu bagaimana denganku?!
Ya… walau akhirnya aku hanya bisa membatin pertanyaan itu dalam hati. Menatap wajahnya yang saat ini terlihat begitu ceria, aku jadi tak ingin merusak mood-nya.
Tapi aku juga bukan tipe orang yang suka membiarkan masalah berlarut-larut. Aku harus membuat keputusan, kembali bersamanya, atau melepasnya. Dan sebenarnya penghalang terbesar hubungan kami, adalah orang yang paling dekat dengannya. Jika beliau merestuinya, ini akan lebih mudah untuk kami.
“Bagaimana dengan ayahmu?” tanyaku berlahan.
Sejenak dia mengabaikan telepon genggam di tangannya, dan melirik kearahku. Cukup lama dia terdiam, sebelum akhirnya berkata lirih, “Gak apa-apa, dia baik-baik saja kok…”
“Syukurlah…” jawabku lega.
Walau bukan itu sebenarnya jawaban yang kuinginkan. Tapi aku senang, ayahnya baik-baik saja. Dan kuambil kesimpulan sederhana, bahwa dia belum mengatakan apapun pada ayahnya. mengenai masalahnya ini.
Sebenarnya, secara tak langsung, ayahnya lah penyebab kandasnya hubungan kami. Tapi aku sama sekali tak bisa menyalahkan beliau, dan kupikir itu sifat wajar dari seorang orang tua. Aku tak ingin, menjadi seseorang yang merusak hubungan ayah dengan putrinya.
“Ini tentang kita,”—ujarnya sembari meletakkan handphone-ku—“sama sekali gak ada hubungannya sama papa.”
“Aku tau, tapi paling tidak,”
“Ya, ya, ya!”—serunya sinis memotong ucapanku, lalu sambil memejamkan mata dia kembali berkata—“kau tak bisa mengabaikannya ‘kan.”
Dasar, dia memang sangat keras kepala, dan susah di atur. Dulu kami sudah sangat sering membicarakan tentang ini. Dan sikapnya selalu seperti itu, menganggap remeh. Padahal ini adalah masalah serius. Aku tak ingin dia di benci oleh kedua orang tuanya, hanya karena ku.
Terlebih lagi, sekarang kami bukan anak-anak, yang menganggap cinta adalah segalanya. Kami tak bisa menikah, hanya karena kami saling mencintai. Karena kami, tidak sedang hidup di dunia dongeng.
Ia membuka salah satu matanya, dan menatapku tersenyum.
“kau tau?!”—serunya tiba-tiba, seraya menyodorkan wajahnya tepat didepanku.
Sontak saja kutarik kepalaku mundur, menjaga jarak dari kedua mata indahnya yang menatapku lebar. Mimik wajahnya terlihat sedikit kecewa, saat melihat reaksi spontanku. Lalu berlahan dia menarik kepalanya menjauh.
Dengan kedua tangan yang dilipatnya rapi di atas meja, ia menatap kearah langit di luar restoran, dan berkata, “Akan lebih mudah jika kita,”—dia menggerakkan kepalanya, menatap mataku, dan tersenyum senang—“kimpoi lari.”
“Ha ha ha.”—celetukku sangat tidak antusias.
Lawakannya sangat tidak lucu, dan kuyakin dia juga tak serius mengucapkan hal itu. Karena setelahnya, dia malah tertawa terbahak-bahak. Lalu ia kembali memandang langit sore hari itu, dan tersenyum.
Setelah diam sejenak, dengan memandang wajahnya. Kuputuskan untuk melihat kearah yang sama. Awan biru yang diselimuti sinar matahari senja. Walau aku telah melihatnya berulang kali. Tapi bersamanya, semua jadi tampak begitu indah
Ya, mungkin ada baiknya aku melupakan masalah ini sejenak. Tak penting apa kami bisa kembali bersama seperti dulu, atau tidak. Karena tak ada yang lebih kuinginkan, selain melihat wajah tersenyum bahagianya, seperti saat ini.
********************
Diubah oleh redxiv 21-10-2013 19:19
0
Kutip
Balas