- Beranda
- Stories from the Heart
The Outbreak
...
TS
Psycrow
The Outbreak
Jakarta,14 Juni 2016.Di suatu pagi,aku bangun dari tidurku setelah merayakan hari ulang tahunku kemarin,aku beranjak dari kasurku dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri,setelah itu aku mengenakan setelan kerjaku,sebuah kemeja putih dengan celana bahan katun,dipadu dengan dasi hitam,jaket jas,serta sepatu hitam mengkilap,aku bergegas menuju meja makan di mana istriku menungguku untuk sarapan bersama,kami menyantap nasi goreng buatannya sambil berbincang ringan tentang beberapa hal,setelah selesai akupun pamit kepada istriku untuk pergi bekerja,setelah kuberikan kecupan di keningnya aku pun mulai berangkat sambil menjinjing koper kerjaku.
Aku memutuskan untuk pergi menggunakan transportasi umum,dalam rangka membantu gubernur kita dalam mengurangi kemacetan,lagipula ada stasiun monorail yang dekat dengan komplekku,aku pun berjalan kaki menuju stasiun tersebut dan pergi menuju kantor,setibanya di kantor,aku langsung menuju ruangan kerjaku sambil membalas sapaan beberapa rekan kerjaku,setibanya di ruanganku,aku mulai duduk di kursi meja kerjaku dan sedikit mendesah,aku mulai mengurus beberapa dokumen.
Setelah beberapa menit bekerja,aku mendengar jeritan seorang wanita di luar ruangan,ah,paling-paling hanya seorang sekertaris yang panik karena melihat seekor kecoa,namun kulihat seluruh pegawai yang berada di luar ruanganku bergegas melihat ke jendela luar,penasaran dengan apa yang terjadi,aku pun melihat keluar melalui jendela di ruanganku,aku melihat kekacauan sedang terjadi di jalanan,banyak orang-orang menjerit & lari ketakutan,kecelakaan lalu lintaspun tak terhindarkan,sepertinya memang terjadi sesuatu yang menyebabkan mereka panik,aku mengambil handphoneku lalu menonton siaran televisi dari situ.
Ternyata ada siaran berita darurat yang mengabarkan bahwa terjadi sebuah infeksi virus berbahaya yang diduga berasal dari sebuah perusahaan swasta internasional yang tidak disebutkan namanya,virus ini menyebabkan pengidapnya menjadi agresif dan kanibalistik,dengan kata lain,menjadi zombi,dan dapat menular melalui gigitan dari pengidap virus,satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan otaknya,mendengar berita ini aku juga ikut panik & langsung menelpon istriku.
Sayangnya,saluran telpon sudah terputus,begitu juga dengan sinyal jaringan handphoneku,aku tidak mau membuang waktu,aku harus segera pulang ke rumah,dan melindungi istriku,dalam perjalanan menuju lift,aku melihat seorang wanita yang diserang & ditindih oleh seorang petugas cleaning service,sepertinya dia sudah terinfeksi virus tersebut,aku mau saja membantunya tapi aku tidak mau mengambil resiko,aku kembali sebentar lalu meminta tolong ke rekan kerjaku untuk membantu,namun mereka semua terlalu sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa,ketika aku kembali ke tempat tadi,kulihat wanita itu sudah tidak bernyawa,sementara petugas yang terinfeksi itu menggerogoti lehernya,maka kuputuskan untuk lanjut pergi sebelum ia mengubah perhatiannya kepadaku,aku melihat di depan lift sudah terdapat banyak orang yang menunggu,ketika pintunya terbuka sedikit saja,mereka semua saling berebut berdesakan untuk masuk,melihat kondisi seperti itu kuputuskan untuk menggunakan tangga darurat saja,memang cukup melelahkan,tapi menurutku cukup berbahaya jika aku bergabung masuk ke dalam lift tersebut.
Setibanya di lantai dasar aku melihat 2 orang satpam yang menembaki zombi yang masuk ke dalam kantor,mereka terlihat kewalahan yang kemudian salah satu satpam tersebut berhasil diserang oleh 2 zombi sekaligus,aku melihat pistolnya yang terlgeletak di lantai,ada pikiran untuk mengambilnya,namun kuurungkan niat itu,karena jumlah zombi semakin banyak,dikarenakan pintu depan & belakang sudah dihadang oleh banyak zombi,aku langsung bergegas ke toilet pria,di mana di situ aku ingat persis bahwa ada jendela untuk ventilasi,di saat aku tiba,jendela itu terlihat lebih kecil dari yang kuingat,namun di luar toilet aku mendengar zombi itu semakin mendekat,tanpa pikir panjang aku langsung melompat ke jendela tersebut.
Tubuhku agak tersangkut di jendela,namun aku terus berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari jendela tersebut,dengan usahaku,dan rasa sakit yang menyesak,akhirnya aku berhasil keluar,aku langsung berlari menuju jalanan,kondisi masih sangat kacau,namun aku melihat seorang gadis kecil berdiri sendirian membelakangiku,aku pun memanggilnya,dan dia berpaling ke arahku,terdapat bekas gigitan di lehernya,ternyata dia sudah terinfeksi,dan mulai berlari ke arahku,aku pun langsung kabur darinya,untung kaki kecilnya tidak bisa menandingi kecepatanku,aku berhasil kabur darinya.
Aku terus berlari beberapa meter,di sana aku melihat ada sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat banyak orang,aku pun segera menuju ke tempat itu,ada beberapa kelompok orang di situ,di antara lain sekelompok pria paruh baya yang dengan asyiknya menembaki kepala zombi dengan senapan laras panjang mereka,sepertinya mereka dari komunitas berburu,kemudian beberapa remaja yang memegang berbagai macam senjata jarak dekat,kemungkinan mereka adalah anak-anak dari bapak-bapak tersebut,lalu polisi & paramedis yang merawat orang-orang yang terluka bukan karena gigitan,terakhir aku melihat beberapa rekan kerjaku yang berhasil kabur hingga ke sini.
Kuputuskan untuk bergabung dengan para rekan kerjaku saja,karena aku jauh lebih mengenal mereka,kami beristirahat sejenak di sana,sambil petugas paramedis memberikan kami minuman & makanan ringan,namun tidak lama kemudian tempat yang kami tempati mulai diserbu oleh gerombolan zombi yang sangat banyak,polisipun memerintahkan untuk evakuasi segera,namun dikarenakan kurangnya koordinasi,setiap kelompok pun menjadi terpencar ke berbagai arah.
Aku beserta keempat rekan kerjaku terus berjalan dengan cepat,mereka memutuskan untuk memilihku sebagai pemandu mereka,dikarenakan posisiku juga sebagai manajer,kami tiba di sebuah area tempat parkir,di mana terdapat 4 jenis kendaraan,terdapat mobil sport,jeep,truk,serta 2 unit sepeda motor,aku putuskan untuk mencoba menjalankan jeep,karena cukup berguna ketika kami harus off road,mereka semua setuju,namun sesuatu yang mengejutkan terjadi,di dalam jeep itu terdapat 3 zombi yang berusaha keluar untuk menyerang kami.
Dengan itu kusarankan untuk menggunakan kendaraan lain saja,namun mereka tidak setuju dan tetap bersikeras menggunakan jeep,sementara aku tetap pada pendirianku dan mencoba membobol mobil sport,sementara aku berusaha membobolnya,mereka membuka jeep tersebut lalu menyeret kedua zombi itu keluar,mereka menyerang ketiga zombi itu,namun sepertinya mereka kurang berwawasan,karena mereka hanya terus menyerang badannya,sementara salah satu dari mereka berusaha membobol jeep.
Namun apa dikata,justru mereka jadi kewalahan dan pada akhirnya kondisi berbalik,mereka yang jadi diserang oleh zombi-zombi tersebut,sementara aku berhasil menyalakan mobil sport ini dan langsung menancap gas kabur dari situ,di perjalanan aku terus mengkhawatirkan keadaan istriku,namun di saat aku tiba di jalan utama,aku melihat kemacetan yang sangat panjang & parah,aku tidak mau berlama-lama,maka kuputuskan untuk mengambil arah lain,memang agak lama,tapi cukup efektif dalam menghindari macet.
Aku terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi,tidak terlalu fokus dengan sekitar,yang menyebabkan mobilku bertabrakan dengan mobil lain yang datang dari arah samping,ajaibnya aku hanya mengalami memar kecil,aku langsung keluar dari kendaraan untuk melihat kondisi supir yang menabrakku,dia kehilangan kesadaran,namun kulihat ada bekas gigitan di leher belakangnya,akupun langsung bergegas kabur,melanjutkan dengan jalan kaki,karena mobilnya sudah tidak bisa dinyalakan lagi.
Aku tiba di komplekku,kondisi di sini tidak berbeda jauh dengan di kota tadi,cukup kacau dan terdapat beberapa zombi,tinggal beberapa meter lagi untuk tiba di rumahku kuputuskan untuk melewati pekarangan tetangga saja untuk mengurangi perhatian,walaupun cukup menguras energi,ketika aku melewati sebuah gang,aku dihadang oleh seorang pria tua yang sudah terinfeksi,dia langsung menyerangku,aku berhasil mencengkram lehernya karena gerakannya tidak terlalu cepat,dengan kondisi begini,dia tidak bisa menggiggitku,aku langsung mendorong & melemparnya ke sekumpulan tong di dekat situ,sebuah kesalahan yang kubuat.
Suara tong yang nyaring itu menarik perhatian banyak zombi,sementara zombi pak tua ini bangkit kembali,untungnya aku melihat sebuah batu bata,aku mengambilnya lalu menghantamnya tepat dia atas kepalanya sampai remuk,ia pun terjatuh dan tak bangun lagi,akupun segera kabur dari gang ini,setibanya aku di depan rumah,aku melihat pintu depan & jendela yang terbuka,aku jadi semakin khawatir dengan keadaan istriku,aku masuk ke garasiku terlebih dahulu untuk mempersenjatai diriku,untungnya aku membawa kunci garasiku,di dalam ada beberapa jenis benda yang bisa dijadikan senjata,antara lain linggis,palu,obeng,golok,dan gergaji.
Aku memilih linggis saja,jangkauannya lebih panjang serta materialnya lebih padat,aku pun masuk ke dalam rumahku dan melihat seorang remaja sedang menggotong televisiku,dia sedang menjarah dalam keadaan seperti ini,dia melihat diriku dan melepaskan tv-ku lalu menggenggam pisau dapur,aku tidak tau pasti siapa yang merasa lebih terancam di sini,jadi aku berkata kepadanya “saya gak mau nyakitin kamu,kalo kamu mau ambil tv itu,silakan,tapi kamu harus keluar dari sini sekarang juga”.
Mendengar kata itu,remaja itu langsung kabur lewat jendela tanpa sempat menjarah apapun,aku pun melihat kondisi rumah yang cukup berantakan,aku langsung mencari di mana istriku,sampai aku mendengar sebuah suara dari kamar tidur,aku yakin di kamar itu ada istriku,aku mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk,aku dobrak pintunya,dan melihat dia sedang diserang oleh pak bambang yang sudah terinfeksi,tetangga sebelahku,aku langsung mendorong pak bambang sehingga menghindari kemungkinan pukulanku mengenai istriku,lalu menghantam kepalanya dengan linggis berulang kali,hmph,aku juga tidak terlalu suka dengan dia sebelumnya.
Setelah kupastikan dia tidak bergerak lagi,aku mendekati & memeluk istriku,aku menanyakan apakah dia sempat tergigit,kemudian dia menunjukan jari manisnya yang terdapat bekas gigitan dari pak bambang,aku agak shock melihat itu,dia pun mulai menitikan air mata,aku pun mulai memikirkan satu solusi,karena aku tidak mau dia sampai berubah,apalagi kalau harus membunuhnya,aku langsung memberi tau bahwa aku akan memotong jari manisnya dengan harapan bisa menghentikan infeksi virusnya,dia tidak mengucapkan sepatah katapun namun sepertinya dia mau menuruti perkataanku.
Aku mulai memotong jari istriku,dia mulai menangis kesakitan,sampai pada akhirnya jari manisnya terputus,aku langsung merawat lukanya dengan peralatan P3K di rumah,sambil menenangkan dirinya,setelah itu kami mendiskusikan apa langkah kami berikutnya,istriku menyarankan bahwa kondisi di rumah tidak aman,dia menyarankan kalau kami lebih baik ke rumah orang tuanya di lembang,aku setuju dengan itu,kami putuskan untuk berangkat keesokan harinya,karena cukup berbahaya jika berangkat di malam hari.
Setelah makan malam,kamipun berbagi jam tidur secara bergantian,walaupun sepertinya kami berdua tidak bisa tidur dengan nyenyak pada malam ini dan sepertinya aku bisa bernafas lega mengetahui bahwa istriku tidak berubah menjadi zombi,beberapa jam kemudian kami berkemas & membawa persediaan logistik sebanyak mungkin lalu mulai berangkat pada saat subuh,menggunakan mobilku yang di garasi,setelah mengambil rute alternatif beberapa kali,kami berhasil keluar dari kota dan menuju tempat tinggal mertuaku
LANJUTAN
Aku memutuskan untuk pergi menggunakan transportasi umum,dalam rangka membantu gubernur kita dalam mengurangi kemacetan,lagipula ada stasiun monorail yang dekat dengan komplekku,aku pun berjalan kaki menuju stasiun tersebut dan pergi menuju kantor,setibanya di kantor,aku langsung menuju ruangan kerjaku sambil membalas sapaan beberapa rekan kerjaku,setibanya di ruanganku,aku mulai duduk di kursi meja kerjaku dan sedikit mendesah,aku mulai mengurus beberapa dokumen.
Setelah beberapa menit bekerja,aku mendengar jeritan seorang wanita di luar ruangan,ah,paling-paling hanya seorang sekertaris yang panik karena melihat seekor kecoa,namun kulihat seluruh pegawai yang berada di luar ruanganku bergegas melihat ke jendela luar,penasaran dengan apa yang terjadi,aku pun melihat keluar melalui jendela di ruanganku,aku melihat kekacauan sedang terjadi di jalanan,banyak orang-orang menjerit & lari ketakutan,kecelakaan lalu lintaspun tak terhindarkan,sepertinya memang terjadi sesuatu yang menyebabkan mereka panik,aku mengambil handphoneku lalu menonton siaran televisi dari situ.
Ternyata ada siaran berita darurat yang mengabarkan bahwa terjadi sebuah infeksi virus berbahaya yang diduga berasal dari sebuah perusahaan swasta internasional yang tidak disebutkan namanya,virus ini menyebabkan pengidapnya menjadi agresif dan kanibalistik,dengan kata lain,menjadi zombi,dan dapat menular melalui gigitan dari pengidap virus,satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan otaknya,mendengar berita ini aku juga ikut panik & langsung menelpon istriku.
Sayangnya,saluran telpon sudah terputus,begitu juga dengan sinyal jaringan handphoneku,aku tidak mau membuang waktu,aku harus segera pulang ke rumah,dan melindungi istriku,dalam perjalanan menuju lift,aku melihat seorang wanita yang diserang & ditindih oleh seorang petugas cleaning service,sepertinya dia sudah terinfeksi virus tersebut,aku mau saja membantunya tapi aku tidak mau mengambil resiko,aku kembali sebentar lalu meminta tolong ke rekan kerjaku untuk membantu,namun mereka semua terlalu sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa,ketika aku kembali ke tempat tadi,kulihat wanita itu sudah tidak bernyawa,sementara petugas yang terinfeksi itu menggerogoti lehernya,maka kuputuskan untuk lanjut pergi sebelum ia mengubah perhatiannya kepadaku,aku melihat di depan lift sudah terdapat banyak orang yang menunggu,ketika pintunya terbuka sedikit saja,mereka semua saling berebut berdesakan untuk masuk,melihat kondisi seperti itu kuputuskan untuk menggunakan tangga darurat saja,memang cukup melelahkan,tapi menurutku cukup berbahaya jika aku bergabung masuk ke dalam lift tersebut.
Setibanya di lantai dasar aku melihat 2 orang satpam yang menembaki zombi yang masuk ke dalam kantor,mereka terlihat kewalahan yang kemudian salah satu satpam tersebut berhasil diserang oleh 2 zombi sekaligus,aku melihat pistolnya yang terlgeletak di lantai,ada pikiran untuk mengambilnya,namun kuurungkan niat itu,karena jumlah zombi semakin banyak,dikarenakan pintu depan & belakang sudah dihadang oleh banyak zombi,aku langsung bergegas ke toilet pria,di mana di situ aku ingat persis bahwa ada jendela untuk ventilasi,di saat aku tiba,jendela itu terlihat lebih kecil dari yang kuingat,namun di luar toilet aku mendengar zombi itu semakin mendekat,tanpa pikir panjang aku langsung melompat ke jendela tersebut.
Tubuhku agak tersangkut di jendela,namun aku terus berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari jendela tersebut,dengan usahaku,dan rasa sakit yang menyesak,akhirnya aku berhasil keluar,aku langsung berlari menuju jalanan,kondisi masih sangat kacau,namun aku melihat seorang gadis kecil berdiri sendirian membelakangiku,aku pun memanggilnya,dan dia berpaling ke arahku,terdapat bekas gigitan di lehernya,ternyata dia sudah terinfeksi,dan mulai berlari ke arahku,aku pun langsung kabur darinya,untung kaki kecilnya tidak bisa menandingi kecepatanku,aku berhasil kabur darinya.
Aku terus berlari beberapa meter,di sana aku melihat ada sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat banyak orang,aku pun segera menuju ke tempat itu,ada beberapa kelompok orang di situ,di antara lain sekelompok pria paruh baya yang dengan asyiknya menembaki kepala zombi dengan senapan laras panjang mereka,sepertinya mereka dari komunitas berburu,kemudian beberapa remaja yang memegang berbagai macam senjata jarak dekat,kemungkinan mereka adalah anak-anak dari bapak-bapak tersebut,lalu polisi & paramedis yang merawat orang-orang yang terluka bukan karena gigitan,terakhir aku melihat beberapa rekan kerjaku yang berhasil kabur hingga ke sini.
Kuputuskan untuk bergabung dengan para rekan kerjaku saja,karena aku jauh lebih mengenal mereka,kami beristirahat sejenak di sana,sambil petugas paramedis memberikan kami minuman & makanan ringan,namun tidak lama kemudian tempat yang kami tempati mulai diserbu oleh gerombolan zombi yang sangat banyak,polisipun memerintahkan untuk evakuasi segera,namun dikarenakan kurangnya koordinasi,setiap kelompok pun menjadi terpencar ke berbagai arah.
Aku beserta keempat rekan kerjaku terus berjalan dengan cepat,mereka memutuskan untuk memilihku sebagai pemandu mereka,dikarenakan posisiku juga sebagai manajer,kami tiba di sebuah area tempat parkir,di mana terdapat 4 jenis kendaraan,terdapat mobil sport,jeep,truk,serta 2 unit sepeda motor,aku putuskan untuk mencoba menjalankan jeep,karena cukup berguna ketika kami harus off road,mereka semua setuju,namun sesuatu yang mengejutkan terjadi,di dalam jeep itu terdapat 3 zombi yang berusaha keluar untuk menyerang kami.
Dengan itu kusarankan untuk menggunakan kendaraan lain saja,namun mereka tidak setuju dan tetap bersikeras menggunakan jeep,sementara aku tetap pada pendirianku dan mencoba membobol mobil sport,sementara aku berusaha membobolnya,mereka membuka jeep tersebut lalu menyeret kedua zombi itu keluar,mereka menyerang ketiga zombi itu,namun sepertinya mereka kurang berwawasan,karena mereka hanya terus menyerang badannya,sementara salah satu dari mereka berusaha membobol jeep.
Namun apa dikata,justru mereka jadi kewalahan dan pada akhirnya kondisi berbalik,mereka yang jadi diserang oleh zombi-zombi tersebut,sementara aku berhasil menyalakan mobil sport ini dan langsung menancap gas kabur dari situ,di perjalanan aku terus mengkhawatirkan keadaan istriku,namun di saat aku tiba di jalan utama,aku melihat kemacetan yang sangat panjang & parah,aku tidak mau berlama-lama,maka kuputuskan untuk mengambil arah lain,memang agak lama,tapi cukup efektif dalam menghindari macet.
Aku terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi,tidak terlalu fokus dengan sekitar,yang menyebabkan mobilku bertabrakan dengan mobil lain yang datang dari arah samping,ajaibnya aku hanya mengalami memar kecil,aku langsung keluar dari kendaraan untuk melihat kondisi supir yang menabrakku,dia kehilangan kesadaran,namun kulihat ada bekas gigitan di leher belakangnya,akupun langsung bergegas kabur,melanjutkan dengan jalan kaki,karena mobilnya sudah tidak bisa dinyalakan lagi.
Aku tiba di komplekku,kondisi di sini tidak berbeda jauh dengan di kota tadi,cukup kacau dan terdapat beberapa zombi,tinggal beberapa meter lagi untuk tiba di rumahku kuputuskan untuk melewati pekarangan tetangga saja untuk mengurangi perhatian,walaupun cukup menguras energi,ketika aku melewati sebuah gang,aku dihadang oleh seorang pria tua yang sudah terinfeksi,dia langsung menyerangku,aku berhasil mencengkram lehernya karena gerakannya tidak terlalu cepat,dengan kondisi begini,dia tidak bisa menggiggitku,aku langsung mendorong & melemparnya ke sekumpulan tong di dekat situ,sebuah kesalahan yang kubuat.
Suara tong yang nyaring itu menarik perhatian banyak zombi,sementara zombi pak tua ini bangkit kembali,untungnya aku melihat sebuah batu bata,aku mengambilnya lalu menghantamnya tepat dia atas kepalanya sampai remuk,ia pun terjatuh dan tak bangun lagi,akupun segera kabur dari gang ini,setibanya aku di depan rumah,aku melihat pintu depan & jendela yang terbuka,aku jadi semakin khawatir dengan keadaan istriku,aku masuk ke garasiku terlebih dahulu untuk mempersenjatai diriku,untungnya aku membawa kunci garasiku,di dalam ada beberapa jenis benda yang bisa dijadikan senjata,antara lain linggis,palu,obeng,golok,dan gergaji.
Aku memilih linggis saja,jangkauannya lebih panjang serta materialnya lebih padat,aku pun masuk ke dalam rumahku dan melihat seorang remaja sedang menggotong televisiku,dia sedang menjarah dalam keadaan seperti ini,dia melihat diriku dan melepaskan tv-ku lalu menggenggam pisau dapur,aku tidak tau pasti siapa yang merasa lebih terancam di sini,jadi aku berkata kepadanya “saya gak mau nyakitin kamu,kalo kamu mau ambil tv itu,silakan,tapi kamu harus keluar dari sini sekarang juga”.
Mendengar kata itu,remaja itu langsung kabur lewat jendela tanpa sempat menjarah apapun,aku pun melihat kondisi rumah yang cukup berantakan,aku langsung mencari di mana istriku,sampai aku mendengar sebuah suara dari kamar tidur,aku yakin di kamar itu ada istriku,aku mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk,aku dobrak pintunya,dan melihat dia sedang diserang oleh pak bambang yang sudah terinfeksi,tetangga sebelahku,aku langsung mendorong pak bambang sehingga menghindari kemungkinan pukulanku mengenai istriku,lalu menghantam kepalanya dengan linggis berulang kali,hmph,aku juga tidak terlalu suka dengan dia sebelumnya.
Setelah kupastikan dia tidak bergerak lagi,aku mendekati & memeluk istriku,aku menanyakan apakah dia sempat tergigit,kemudian dia menunjukan jari manisnya yang terdapat bekas gigitan dari pak bambang,aku agak shock melihat itu,dia pun mulai menitikan air mata,aku pun mulai memikirkan satu solusi,karena aku tidak mau dia sampai berubah,apalagi kalau harus membunuhnya,aku langsung memberi tau bahwa aku akan memotong jari manisnya dengan harapan bisa menghentikan infeksi virusnya,dia tidak mengucapkan sepatah katapun namun sepertinya dia mau menuruti perkataanku.
Aku mulai memotong jari istriku,dia mulai menangis kesakitan,sampai pada akhirnya jari manisnya terputus,aku langsung merawat lukanya dengan peralatan P3K di rumah,sambil menenangkan dirinya,setelah itu kami mendiskusikan apa langkah kami berikutnya,istriku menyarankan bahwa kondisi di rumah tidak aman,dia menyarankan kalau kami lebih baik ke rumah orang tuanya di lembang,aku setuju dengan itu,kami putuskan untuk berangkat keesokan harinya,karena cukup berbahaya jika berangkat di malam hari.
Setelah makan malam,kamipun berbagi jam tidur secara bergantian,walaupun sepertinya kami berdua tidak bisa tidur dengan nyenyak pada malam ini dan sepertinya aku bisa bernafas lega mengetahui bahwa istriku tidak berubah menjadi zombi,beberapa jam kemudian kami berkemas & membawa persediaan logistik sebanyak mungkin lalu mulai berangkat pada saat subuh,menggunakan mobilku yang di garasi,setelah mengambil rute alternatif beberapa kali,kami berhasil keluar dari kota dan menuju tempat tinggal mertuaku
LANJUTAN
Diubah oleh Psycrow 19-10-2013 10:31
anasabila memberi reputasi
1
2.6K
21
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Psycrow
#13
Lembang 15 Juni 2016,kami tiba di desa tempat tinggal mertua kami,sebuah kebahagiaan bagi kami ketika mengetahui beliau masih hidup,bahkan di sekitar lahannya yang luas sudah difortifikasi oleh penduduk sekitar sehingga memiliki pertahanan yang cukup baik,beliau juga mempunyai persediaan makanan yang banyak di lumbungnya,cukup untuk memberi makan kami selama hampir setahun,mertuaku juga memiliki beberapa jenis senjata api di gudangnya,mertuaku betul-betul telah mempersiapkan dirinya,ya wajar saja,beliau adalah pensiunan perwira menengah TNI Angkatan Darat,dan sepertinya kehidupanku akan berubah selamanya di sini.
Kehidupan kami baik-baik saja selama beberapa minggu,namun yang kami tidak sadari adalah dikarenakan tidak ada yang menjaga proses sanitasi selokan,kotoran pun mulai mengkontaminasi saluran air minum kami,sehingga menjangkiti kami semua dengan penyakit kolera,selama beberapa hari badan kami menjadi semakin lemah,yang kemudian berlanjut dengan kematian beberapa penduduk sekitar,wargapun mulai meminta solusi kepada mertuaku sebagai orang yang paling dihormati di lingkungannya.
Beliau menyarankan untuk mengirim seorang pemuda yang masih cukup kuat untuk pergi ke Bandung dan membawakan antibiotik untuk kami semua,beliau memberi tau bahwa semua persediaan obat di kota lembang pasti sudah habis dan sebagian besar dialihkan ke Kota Bandung,sebagian besar warga setuju dengan saran itu,keesokannya setelah solat subuh,semua pemuda yang memenuhi standar dikumpulkan,termasuk diriku,lalu diadakan undian siapa yang akan pergi meninggalkan desa untuk mencari obat di kota,dengan menggunakan sistem kocokan ala arisan,selembar gulungan kertas kecilpun dikeluarkan dari kaleng tersebut,dan ternyata yang keluar adalah namaku.
Semua orang melihat ke arahku,dan dengan berat hati aku harus setuju dengan keputusan ini,akupun segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Bandung,setelah sarapan & mandi pagi,aku sadar bahwa setiap pilihan yang kuambil sejak saat ini akan mempengaruhi keberhasilan dalam misi yang kujalani,aku membuka lemari bajuku dan berpikir pakaian apa yang akan kugunakan,aku putuskan bahwa aku menggunakan celana loreng hijau,kaos yang dirangkap dengan sweater hoodie hitam dengan jaket militer warna hijau polos,serta sepasang sarung tangan setengah jari dan sepatu boots hiking yang kubeli 3 bulan yang lalu.
Aku menuju gudang persenjataan,ada berbagai jenis senjata api dan masing-masing jumlahnya lebih dari 1,antara lain pistol,shotgun,sub-machine gun,serta sniper rifle,setelah menimbang pilihan,kuputuskan untuk menggunakan sniper rifle saja,jadi aku bisa menembak zombi-zombi itu jauh sebelum mereka terlalu dekat denganku,tak lupa juga mengambil persediaan amunisinya juga,aku juga memutuskan untuk membawa sebatang linggis,karena terbukti sebagai senjata jarak dekat yang efektif dan juga mungkin berguna sebagai alat lainnya.
Setelah semuanya siap,aku putuskan untuk melihat keadaan istriku terlebih dahulu,karena mungkin ini terakhir kalinya aku melihat dirinya,aku membuka pintu kamar,aku lihat istriku masih tertidur lelap,badannya panas,wajahnya juga terlihat pucat,aku berikan sebuah kecupan di keningnya,aku tidak tega membiarkan istriku menderita seperti ini,aku berjanji kepada diriku sendiri untuk berhasil dalam misi ini,atau mati dalam keadaan berjuang.
Aku keluar dari area desa,tanpa melihat lagi ke belakang,aku mendengar suara gerbang yang dikunci rapat,aku mengambil nafas dalam-dalam lalu memulai perjalananku ke kota bandung dengan berjalan kaki,karena semua kendaraan di desa memiliki bahan bakar yang sangat kritis,termasuk mobilku,aku terus berjalan yang cukup jauh jaraknya,di sebuah area jalanan yang terdapat rumah dan bangunan lain di sekitarnya,aku melihat ada sebuah mobil yang terlihat cukup baru modelnya,aku berpikir untuk membobolnya,namun kuurungkan niat itu,karena aku tau mobil seperti ini pasti memiliki alarm,dan suara itu akan menarik perhatian zombi yang sudah terlihat beberapa wujudnya dari kejauhan.
Tetapi aku juga tidak terlalu suka untuk berjalan kaki,karena membuang lebih banyak waktu & energi,untungnya beberapa meter dari tempatku,aku menemukan sebuah sepeda gunung,tanpa pikir panjang aku langsung menaikinya dan melanjutkan perjalananku,beberapa jam kemudian aku tiba di kota bandung,aku segera mencari apotik terdekat di sini,sialnya di tengah perjalanan,rantai sepeda yang kunaiki terputus,aku harus melanjutkan dengan jalan kaki,di perjalanan aku melihat seorang pria dari kejauhan yang sedang berdiri di tengah jalan,aku tidak tau pasti dia zombi atau bukan.
Aku putuskan untuk menyelinap melewati dia,aku tidak mau membuat kesalahan yang sama seperti yang kulakukan dengan gadis yang terinfeksi waktu itu,dan juga aku tidak mau menyia-nyiakan peluruku yang sangat terbatas jumlahnya,melewatinya pun cukup mudah karena terdapat banyak tempat berlindung,aku melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah apotik yang pintunya terkunci,kuputuskan untuk menggunakan linggis yang kubawa untuk membobolnya,aku berhasil membukanya,dan juga hanya mengeluarkan suara yang kecil sehingga tidak menarik perhatian zombi yang berkeliaran.
Di dalam apotik aku melihat kondisi tempatnya yang sudah berantakan,sudah jelas apotik ini telah dijarah sebelumnya,aku tau bahwa pasti persediaan obat ditaruh di gudang,aku pun berjalan melewati meja kasir,aku melihat ada seorang wanita yang berbaring kaku mengenakan jubah putih,pasti dia petugas apotik di sini,di dada kanannya terdapat luka tembak,entah mengapa firasatku agak tidak enak ketika berada di dekatnya,untuk memastikan,maka kugenggam lagi linggisku dan menghantamkannya ke kepala petugas itu berulang kali sampai kepalanya hancur berkeping-keping,zombipun tidak mungkin bisa bertahan dengan kondisi seperti itu.
Aku masuk ke gudang apotik dan ternyata hasilnya cukup mengecewakan,persediaan obatnya hampir tidak ada sama sekali,yang kutemukan di gudang itu hanyalah salep kulit,aku berpikir sejenak,tempat ini pasti tidak sepenuhnya habis dijarah,akupun mulai mencari lebih teliti dan menemukan seperangkat alat P3K,aku langsung menaruh itu ke dalam ranselku,karena mungkin akan berguna nanti,aku melanjutkan perjalananku,kali ini aku menentukan tujuanku,yaitu Bandung Super Mall,aku tidak mau berkeliling tanpa tujuan untuk sesuatu yang belum tentu ada.
Setibanya aku di area luar BSM,aku melihat sekeliling mall terdapat banyak sekali zombi yang berkeliaran,terkadang saling bertabrakan satu sama lain,dan sialnya lagi,di saat aku masih memperhatikan posisi sekitar,angin kencang berhembus melewati tubuhku,yang kemudian membawa aromanya ke sebagian gerombolan zombi di sekitar mall tersebut,para zombi itupun langsung menatap ke arahku kemudian menyerbuku,aku sempat berpikir untuk diam di tempat dan menembaki mereka satu-persatu,tapi aku sadar aku bukanlah prajurit yang terlatih,dengan kondisi mental yang agak panik seperti ini aku ragu bisa menembaki zombi-zombi itu dengan akurat di kepala sebelum kehabisan peluru.
Maka kuputuskan untuk kabur dari posisiku,dan yang mengejutkan adalah lari mereka cukup cepat,namun untungnya gerakan mereka agak terhambat oleh mobil serta rongsokan lainnya di sepanjang jalan,setelah beberapa meter berlari aku berhasil menghindari deteksi mereka,aku memutar arah dan menemukan sebuah gang yang tembus langsung menuju ke pintu belakang BSM,sepertinya rute ini yang digunakan oleh pegawai mall.
Aku masuk ke dalam mall dan menutup pintu belakang yang kulewati lalu berpikir sejenak,mungkin pintu ini bisa digunakan sebagai rute kabur darurat,tapi bagaimana jika justru pintu ini menjadi jalan masuk para zombi? Maka kuputuskan untuk memblokade pintunya menggunakan meja serta kursi yang kutemukan di sekitar ruangan,aku langsung melanjutkan perjalanan melewati lorong sampai pada area utama BSM,aku melihat ada beberapa lubang bekas tembakan serta darah yang berceceran di lantai,kekacauan juga terjadi di sini.
Namun secara tiba-tiba aku mendengar suara letusan senjata api,dan suara peluru yang terpantul di dekatku,seseorang berusaha menembakiku,aku langsung berlindung di balik pilar dan mempersiapkan senapanku,tapi ternyata penembak itu tidak sendirian,aku dengar langkah 2 orang lagi yang bermanuver untuk mengepung posisiku,aku pikir aku tidak akan bisa bertahan dalam baku tembak ini.
Aku kebingungan,karena posisiku terus ditembaki,walaupun aku tidak terkena tembakan tersebut,sementara kedua rekan penembak itu semakin dekat,pada akhirnya aku berusaha untuk bernegosiasi dengan mereka,dengan lantang aku berteriak “SAYA GAK TERINFEKSI!” lalu suara langkah dan tembakan itupun terhenti sejenak, kemudian aku mendengarkan suara “keluar dan buktiin kalo gitu” aku keluar dari tempat berlindung dengan kedua tangan terangkat ke atas sementara mereka terus menodongkan senapannya ke arahku,salah satu dari mereka terlihat agak gugup,mereka menyuruhku untuk meletakkan peralatan serta senjataku,lalu memintaku untuk melepaskan bajuku,aku turuti saja permintaan mereka.
Orang yang menembakiku tadi mendekatiku dan menginspeksi seluruh tubuhku,setelah dia puas bahwa tidak ada bekas gigitan zombi di diriku dia mempersilakanku berpakaian lagi,sementara aku mengenakan bajuku,mereka bertanya apa tujuanku ke tempat ini,aku menjawabnya dengan jujur,bahwa aku dari lembang bertujuan untuk mencari obat untuk menyembuhkan penyakit istriku dan penduduk sekitar,mereka kagum dengan keberanianku dan mempersilakanku untuk bergabung dengan mereka di lantai 2.
Keputusanku untuk bernegosiasi memang sangat bijak,aku melihat ada sekitar lebih dari 40 orang yang bertahan di mall ini ada sebagian yang memegang senjata api,dan sisanya memegang senjata jarak dekat tumpul maupun tajam,dan aku dikenalkan dengan pemimpin mereka,seorang pria paruh baya dengan aksen jawa yang kental,yang memanggil dirinya sebagai “Kebo Ireng ” Kebo memberitahu diriku bahwa untuk bisa berkeliling dengan bebas di “Kerajaan” miliknya,aku harus menyalakan listrik di mall ini terlebih dahulu,karena seorang yang dia suruh sebelumnya,tidak kembali lagi,aku kemudian menjawab bahwa aku dengan senang hati melaksanakannya,namun aku memerlukan bantuan tambahan.
Dengan menggerutu Kebo Ireng setuju,dia memberikanku amunisi tambahan untuk senapanku,dia juga menyuruh salah satu “abdi”nya yang bernama Suryanto untuk membantuku,dan juga mengawasiku,kamipun berangkat menuju ruang generator yang gelap gulita,aku mempersiapkan senjataku,sementara Suryanto menyalakan senter yang dia bawa,hmph,dia memang sumber “surya”,kami pun tiba di generator,lalu Surya mulai menyalakan generator itu dengan cara menekan beberapa tombol lalu menarik tuasnya,ternyata semudah itu.
Lampu mulai menyala di seluruh mall,begitu juga di ruangan generator,ternyata di ruangan ini terdapat beberapa zombi yang sedang memangsa seorang pria,Surya bahkan memberi tauku bahwa pria itulah yang dikirim oleh Kebo Ireng sebelumnya,sekarang para zombi itu mengubah perhatiannya ke kami,aku dan Surya yang menggunakan pistol mulai menembaki kepala zombi-zombi itu satu-persatu,namun di tengah pertempuran secara tidak sengaja aku menembak betis surya sehingga dia jatuh kesakitan,ah salah dia sendiri yang terlalu banyak bergerak sehingga menghalangi bidikanku.
Setelah seluruh zombi di ruangan itu dimusnahkan aku melihat kondisi Suryanto yang lumpuh karena tembakanku,ternyata itu hanya luka goresan dan dia mengalami pendarahan ringan,aku mengeluarkan alat P3K dari ranselku dan merawat lukanya,setelah itu aku membopongnya,namun di lorong luar ruangan generator aku melihat beberapa zombi lagi yang berhasil masuk karena mereka tertarik dengan cahaya di mall dan menggunakan rute yang sama dengan ruteku tadi,sepertinya blokadeku hanya bisa menahan mereka sejauh ini,aku menaruh surya di lantai,dan mulai menembaki zombi itu,walaupun jumlah mereka masih sedikit dan dikalahkan dengan mudah,pastinya akan lebih banyak lagi yang datang.
Aku kembali ke lantai 2 sambil membawa surya,aku memberi tau ke Kebo Ireng bahwa dia tertembak,tapi tidak tergigit,Kebo menyuruh beberapa wanita untuk merawat Suryanto,dan karena listrik sudah kembali menyala,para penghuni Mall mulai memanfaatkannya,ada yang mempersiapkan makanan & minuman di dapur restoran,dan ada juga yang mulai bermain game di console.
Aku sebenarnya juga ingin menikmati kemewahan ini untuk sesaat,tapi tidak ada waktu untuk bersenang-senang,aku langsung menjelaskan bahwa zombi sudah menembus perimeter dan mulai masuk ke dalam mall,dengan sigap Kebo Ireng memerintahkan seluruh “abdi”nya bersiap,dan untungnya mereka sudah berada di posisi dalam waktu yang tepat,gelombang pertama zombi sudah muncul dan kami semua yang memegang senapan api mulai menembak,sementara sisanya menyerang zombi dengan senjata jarak dekat untuk mencegah mereka melewati eskalator.
Gelombang pertama dapat dibasmi dengan cukup mudah,namun di gelombang kedua jumlah zombi yang masuk berkali lipat jauh lebih banyak,dan mereka sepertinya mulai kewalahan,beberapa orang mulai terserang oleh zombi,aku pikir kami akan kalah dalam pertempuran ini,dan pikiranku menjadi terfokus kepada istriku yang sedang sakit,aku langsung meninggalkan medan laga dan mencari apotik di sekitar mall,untungnya aku temukan dalam keadaan terbuka dan jaraknya tidak jauh dari posisiku.
Begitu aku masuk ke dalam apotik,ternyata ada 3 zombi yang mendekati ke arahku,dengan sigap aku langsung meraih shutter door apotik dan menutupnya secepat mungkin,untung aku berhasil,terlambat 1 detik saja mungkin aku sudah tidak berdaya dikeroyok 3 zombi sekaligus,sekarang aku memiliki waktu yang cukup untuk menjarah antibiotik yang diperlukan,aku mulai mengambil obatnya sebanyak mungkin sampai ranselku penuh,aku tidak mendengar suara perlawanan dari orang-orang lagi,mungkin mereka sudah kalah,ya sudah,aku lebih baik kabur sekarang melalui pintu belakang apotik.
Sepertinya tempat ini yang biasa dilewati para pegawai,terdapat beberapa ruangan kantor,dan ada tanda larangan untuk pengunjung memasuki area ini,aku langsung mencari rute keluar yang ternyata menuju tempat parkir bawah tanah,di tengah perjalanan aku melihat seorang wanita yang diserang oleh 1 zombi,dia menjatuhkan pistolnya,aku ingin menembakinya langsung tapi amunisiku sudah habis sejak pertempuran besar tadi,jadi aku meraih pistol wanita itu,dan di saat aku ingin menembak zombi tersebut,aku dengar ada sekitar 2 zombi yang mendekati arahku,aku langsung kabur saja sambil membawa pistolnya,dia juga tidak akan membutuhkannya di akhirat.
Aku hampir mendekati area parkir bawah tanah,aku dengar ada suara langkah kaki di area itu,aku bersiap membidik dengan pistol yang baru kuambil,tapi kudengar juga ada suara komunikasi manusia,aku cukup lega mengetahui bahwa itu bukan zombi,namun tiba-tiba ada sesuatu yang berat mendorong punggungku,yang juga membuatku pistolku terjatuh ke lantai,ah senjata ini memang licin.
dengan sigap aku langsung meraih keseimbangan,ternyata zombi itu loncat dari langit-langit,dia mulai berlari tertatih-tatih ke arahku,aku langsung menarik linggisku dan di saat kecepatannya mulai meningkat aku langsung menusuknya dengan tepat di kepalanya hingga tembus.
Aku menarik linggisku dari otak zombi yang menjijikan itu,lalu mengambil kembali pistol itu,di area parkir bawah tanah,aku melihat ada 4 orang yang sedang sibuk mencoba menyalakan mobil tanpa kunci pada sebuah SUV,dan ternyata mereka berhasil,aku langsung mendekati dan menawarkan diriku untuk bergabung,mereka senang dengan itu,mereka juga semakin girang di saat aku memberi tau mereka bahwa di tempat tinggalku terdapat banyak makanan dan lokasinya sangat aman.
Karena hanya aku yang tau lokasinya mereka meminta diriku yang menyetir,aku langsung menancap gas dan menabrak portal dan beberapa zombi di perjalanan,aku terus memacu mobil melewati rute tercepat untuk tiba di rumah,namun di tengah perjalanan yang tadinya juga kulewati aku baru ingat ada beberapa mobil yang menghalangi jalanku,aku langsung turun dan meminta bantuan yang lain untuk menyingkirkan mobil-mobil ini,untungnya semua mobil ini tidak dipasang rem tangannya,jadi dengan mudah didorong.
Setelah selesai kami langsung menuju ke kendaraan kami lagi dan melanjutkan perjalanan,di perjalanan aku mendengar suara –suara yang tidak normal di mobil,aku berdoa semoga mobil ini bisa tiba sampai tujuan,tapi Allah berkehendak lain,di saat melewati setengah perjalanan sedikit,mobilpun mogok,kami semua turun dari mobil,ada yang menyarankan untuk memperbaiki,tapi karena hari sudah gelap aku tidak setuju dan kami memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Setelah melewati teror yang mengerikan aku beserta 4 orang yang berhasil bertahan denganku tiba di depan gerbang desa kami,tepat pukul 9 malam,aku mengharapkan penyambutan bagaikan pahlawan,namun apa dikata,aku tetap harus mengikuti protokol yang ada di mana aku beserta ketiga “teman”ku harus diperiksa apakah kami sempat digigit atau tidak,setelah formalitasnya selesai,kami semua dipersilakan masuk.
Di depan rumah,mertuaku keluar lalu memelukku dengan erat,lalu bertanya apakah aku mendapatkan obatnya,aku langsung menunjukkannya,jumlahnya cukup untuk semuanya,beliau sangat terharu dan memberitaukannya dengan lantang ke seluruh penduduk menggunakan loudspeaker masjid,seluruh penduduk bersorak sorai,ya... paling tidak sekarang aku mendapatkan sambutan ala pahlawan,setelah itu kami semua mengkonsumsi antibiotiknya,termasuk diriku & istriku.
Keesokan harinya para penduduk mengadakan acara “ngaliwet” bersama,kami semua bersenang-senang di hari ini,lalu diwakili seorang ustadz,para warga desa berterima kasih kepadaku secara resmi,dan juga para penduduk yang dikoordinasi oleh mertuaku mulai berencana membersihkan saluran selokan di sekitar desa secara teratur untuk mencegah kesalahan yang sama.
Kehidupan kami baik-baik saja selama beberapa minggu,namun yang kami tidak sadari adalah dikarenakan tidak ada yang menjaga proses sanitasi selokan,kotoran pun mulai mengkontaminasi saluran air minum kami,sehingga menjangkiti kami semua dengan penyakit kolera,selama beberapa hari badan kami menjadi semakin lemah,yang kemudian berlanjut dengan kematian beberapa penduduk sekitar,wargapun mulai meminta solusi kepada mertuaku sebagai orang yang paling dihormati di lingkungannya.
Beliau menyarankan untuk mengirim seorang pemuda yang masih cukup kuat untuk pergi ke Bandung dan membawakan antibiotik untuk kami semua,beliau memberi tau bahwa semua persediaan obat di kota lembang pasti sudah habis dan sebagian besar dialihkan ke Kota Bandung,sebagian besar warga setuju dengan saran itu,keesokannya setelah solat subuh,semua pemuda yang memenuhi standar dikumpulkan,termasuk diriku,lalu diadakan undian siapa yang akan pergi meninggalkan desa untuk mencari obat di kota,dengan menggunakan sistem kocokan ala arisan,selembar gulungan kertas kecilpun dikeluarkan dari kaleng tersebut,dan ternyata yang keluar adalah namaku.
Semua orang melihat ke arahku,dan dengan berat hati aku harus setuju dengan keputusan ini,akupun segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Bandung,setelah sarapan & mandi pagi,aku sadar bahwa setiap pilihan yang kuambil sejak saat ini akan mempengaruhi keberhasilan dalam misi yang kujalani,aku membuka lemari bajuku dan berpikir pakaian apa yang akan kugunakan,aku putuskan bahwa aku menggunakan celana loreng hijau,kaos yang dirangkap dengan sweater hoodie hitam dengan jaket militer warna hijau polos,serta sepasang sarung tangan setengah jari dan sepatu boots hiking yang kubeli 3 bulan yang lalu.
Aku menuju gudang persenjataan,ada berbagai jenis senjata api dan masing-masing jumlahnya lebih dari 1,antara lain pistol,shotgun,sub-machine gun,serta sniper rifle,setelah menimbang pilihan,kuputuskan untuk menggunakan sniper rifle saja,jadi aku bisa menembak zombi-zombi itu jauh sebelum mereka terlalu dekat denganku,tak lupa juga mengambil persediaan amunisinya juga,aku juga memutuskan untuk membawa sebatang linggis,karena terbukti sebagai senjata jarak dekat yang efektif dan juga mungkin berguna sebagai alat lainnya.
Setelah semuanya siap,aku putuskan untuk melihat keadaan istriku terlebih dahulu,karena mungkin ini terakhir kalinya aku melihat dirinya,aku membuka pintu kamar,aku lihat istriku masih tertidur lelap,badannya panas,wajahnya juga terlihat pucat,aku berikan sebuah kecupan di keningnya,aku tidak tega membiarkan istriku menderita seperti ini,aku berjanji kepada diriku sendiri untuk berhasil dalam misi ini,atau mati dalam keadaan berjuang.
Aku keluar dari area desa,tanpa melihat lagi ke belakang,aku mendengar suara gerbang yang dikunci rapat,aku mengambil nafas dalam-dalam lalu memulai perjalananku ke kota bandung dengan berjalan kaki,karena semua kendaraan di desa memiliki bahan bakar yang sangat kritis,termasuk mobilku,aku terus berjalan yang cukup jauh jaraknya,di sebuah area jalanan yang terdapat rumah dan bangunan lain di sekitarnya,aku melihat ada sebuah mobil yang terlihat cukup baru modelnya,aku berpikir untuk membobolnya,namun kuurungkan niat itu,karena aku tau mobil seperti ini pasti memiliki alarm,dan suara itu akan menarik perhatian zombi yang sudah terlihat beberapa wujudnya dari kejauhan.
Tetapi aku juga tidak terlalu suka untuk berjalan kaki,karena membuang lebih banyak waktu & energi,untungnya beberapa meter dari tempatku,aku menemukan sebuah sepeda gunung,tanpa pikir panjang aku langsung menaikinya dan melanjutkan perjalananku,beberapa jam kemudian aku tiba di kota bandung,aku segera mencari apotik terdekat di sini,sialnya di tengah perjalanan,rantai sepeda yang kunaiki terputus,aku harus melanjutkan dengan jalan kaki,di perjalanan aku melihat seorang pria dari kejauhan yang sedang berdiri di tengah jalan,aku tidak tau pasti dia zombi atau bukan.
Aku putuskan untuk menyelinap melewati dia,aku tidak mau membuat kesalahan yang sama seperti yang kulakukan dengan gadis yang terinfeksi waktu itu,dan juga aku tidak mau menyia-nyiakan peluruku yang sangat terbatas jumlahnya,melewatinya pun cukup mudah karena terdapat banyak tempat berlindung,aku melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah apotik yang pintunya terkunci,kuputuskan untuk menggunakan linggis yang kubawa untuk membobolnya,aku berhasil membukanya,dan juga hanya mengeluarkan suara yang kecil sehingga tidak menarik perhatian zombi yang berkeliaran.
Di dalam apotik aku melihat kondisi tempatnya yang sudah berantakan,sudah jelas apotik ini telah dijarah sebelumnya,aku tau bahwa pasti persediaan obat ditaruh di gudang,aku pun berjalan melewati meja kasir,aku melihat ada seorang wanita yang berbaring kaku mengenakan jubah putih,pasti dia petugas apotik di sini,di dada kanannya terdapat luka tembak,entah mengapa firasatku agak tidak enak ketika berada di dekatnya,untuk memastikan,maka kugenggam lagi linggisku dan menghantamkannya ke kepala petugas itu berulang kali sampai kepalanya hancur berkeping-keping,zombipun tidak mungkin bisa bertahan dengan kondisi seperti itu.
Aku masuk ke gudang apotik dan ternyata hasilnya cukup mengecewakan,persediaan obatnya hampir tidak ada sama sekali,yang kutemukan di gudang itu hanyalah salep kulit,aku berpikir sejenak,tempat ini pasti tidak sepenuhnya habis dijarah,akupun mulai mencari lebih teliti dan menemukan seperangkat alat P3K,aku langsung menaruh itu ke dalam ranselku,karena mungkin akan berguna nanti,aku melanjutkan perjalananku,kali ini aku menentukan tujuanku,yaitu Bandung Super Mall,aku tidak mau berkeliling tanpa tujuan untuk sesuatu yang belum tentu ada.
Setibanya aku di area luar BSM,aku melihat sekeliling mall terdapat banyak sekali zombi yang berkeliaran,terkadang saling bertabrakan satu sama lain,dan sialnya lagi,di saat aku masih memperhatikan posisi sekitar,angin kencang berhembus melewati tubuhku,yang kemudian membawa aromanya ke sebagian gerombolan zombi di sekitar mall tersebut,para zombi itupun langsung menatap ke arahku kemudian menyerbuku,aku sempat berpikir untuk diam di tempat dan menembaki mereka satu-persatu,tapi aku sadar aku bukanlah prajurit yang terlatih,dengan kondisi mental yang agak panik seperti ini aku ragu bisa menembaki zombi-zombi itu dengan akurat di kepala sebelum kehabisan peluru.
Maka kuputuskan untuk kabur dari posisiku,dan yang mengejutkan adalah lari mereka cukup cepat,namun untungnya gerakan mereka agak terhambat oleh mobil serta rongsokan lainnya di sepanjang jalan,setelah beberapa meter berlari aku berhasil menghindari deteksi mereka,aku memutar arah dan menemukan sebuah gang yang tembus langsung menuju ke pintu belakang BSM,sepertinya rute ini yang digunakan oleh pegawai mall.
Aku masuk ke dalam mall dan menutup pintu belakang yang kulewati lalu berpikir sejenak,mungkin pintu ini bisa digunakan sebagai rute kabur darurat,tapi bagaimana jika justru pintu ini menjadi jalan masuk para zombi? Maka kuputuskan untuk memblokade pintunya menggunakan meja serta kursi yang kutemukan di sekitar ruangan,aku langsung melanjutkan perjalanan melewati lorong sampai pada area utama BSM,aku melihat ada beberapa lubang bekas tembakan serta darah yang berceceran di lantai,kekacauan juga terjadi di sini.
Namun secara tiba-tiba aku mendengar suara letusan senjata api,dan suara peluru yang terpantul di dekatku,seseorang berusaha menembakiku,aku langsung berlindung di balik pilar dan mempersiapkan senapanku,tapi ternyata penembak itu tidak sendirian,aku dengar langkah 2 orang lagi yang bermanuver untuk mengepung posisiku,aku pikir aku tidak akan bisa bertahan dalam baku tembak ini.
Aku kebingungan,karena posisiku terus ditembaki,walaupun aku tidak terkena tembakan tersebut,sementara kedua rekan penembak itu semakin dekat,pada akhirnya aku berusaha untuk bernegosiasi dengan mereka,dengan lantang aku berteriak “SAYA GAK TERINFEKSI!” lalu suara langkah dan tembakan itupun terhenti sejenak, kemudian aku mendengarkan suara “keluar dan buktiin kalo gitu” aku keluar dari tempat berlindung dengan kedua tangan terangkat ke atas sementara mereka terus menodongkan senapannya ke arahku,salah satu dari mereka terlihat agak gugup,mereka menyuruhku untuk meletakkan peralatan serta senjataku,lalu memintaku untuk melepaskan bajuku,aku turuti saja permintaan mereka.
Orang yang menembakiku tadi mendekatiku dan menginspeksi seluruh tubuhku,setelah dia puas bahwa tidak ada bekas gigitan zombi di diriku dia mempersilakanku berpakaian lagi,sementara aku mengenakan bajuku,mereka bertanya apa tujuanku ke tempat ini,aku menjawabnya dengan jujur,bahwa aku dari lembang bertujuan untuk mencari obat untuk menyembuhkan penyakit istriku dan penduduk sekitar,mereka kagum dengan keberanianku dan mempersilakanku untuk bergabung dengan mereka di lantai 2.
Keputusanku untuk bernegosiasi memang sangat bijak,aku melihat ada sekitar lebih dari 40 orang yang bertahan di mall ini ada sebagian yang memegang senjata api,dan sisanya memegang senjata jarak dekat tumpul maupun tajam,dan aku dikenalkan dengan pemimpin mereka,seorang pria paruh baya dengan aksen jawa yang kental,yang memanggil dirinya sebagai “Kebo Ireng ” Kebo memberitahu diriku bahwa untuk bisa berkeliling dengan bebas di “Kerajaan” miliknya,aku harus menyalakan listrik di mall ini terlebih dahulu,karena seorang yang dia suruh sebelumnya,tidak kembali lagi,aku kemudian menjawab bahwa aku dengan senang hati melaksanakannya,namun aku memerlukan bantuan tambahan.
Dengan menggerutu Kebo Ireng setuju,dia memberikanku amunisi tambahan untuk senapanku,dia juga menyuruh salah satu “abdi”nya yang bernama Suryanto untuk membantuku,dan juga mengawasiku,kamipun berangkat menuju ruang generator yang gelap gulita,aku mempersiapkan senjataku,sementara Suryanto menyalakan senter yang dia bawa,hmph,dia memang sumber “surya”,kami pun tiba di generator,lalu Surya mulai menyalakan generator itu dengan cara menekan beberapa tombol lalu menarik tuasnya,ternyata semudah itu.
Lampu mulai menyala di seluruh mall,begitu juga di ruangan generator,ternyata di ruangan ini terdapat beberapa zombi yang sedang memangsa seorang pria,Surya bahkan memberi tauku bahwa pria itulah yang dikirim oleh Kebo Ireng sebelumnya,sekarang para zombi itu mengubah perhatiannya ke kami,aku dan Surya yang menggunakan pistol mulai menembaki kepala zombi-zombi itu satu-persatu,namun di tengah pertempuran secara tidak sengaja aku menembak betis surya sehingga dia jatuh kesakitan,ah salah dia sendiri yang terlalu banyak bergerak sehingga menghalangi bidikanku.
Setelah seluruh zombi di ruangan itu dimusnahkan aku melihat kondisi Suryanto yang lumpuh karena tembakanku,ternyata itu hanya luka goresan dan dia mengalami pendarahan ringan,aku mengeluarkan alat P3K dari ranselku dan merawat lukanya,setelah itu aku membopongnya,namun di lorong luar ruangan generator aku melihat beberapa zombi lagi yang berhasil masuk karena mereka tertarik dengan cahaya di mall dan menggunakan rute yang sama dengan ruteku tadi,sepertinya blokadeku hanya bisa menahan mereka sejauh ini,aku menaruh surya di lantai,dan mulai menembaki zombi itu,walaupun jumlah mereka masih sedikit dan dikalahkan dengan mudah,pastinya akan lebih banyak lagi yang datang.
Aku kembali ke lantai 2 sambil membawa surya,aku memberi tau ke Kebo Ireng bahwa dia tertembak,tapi tidak tergigit,Kebo menyuruh beberapa wanita untuk merawat Suryanto,dan karena listrik sudah kembali menyala,para penghuni Mall mulai memanfaatkannya,ada yang mempersiapkan makanan & minuman di dapur restoran,dan ada juga yang mulai bermain game di console.
Aku sebenarnya juga ingin menikmati kemewahan ini untuk sesaat,tapi tidak ada waktu untuk bersenang-senang,aku langsung menjelaskan bahwa zombi sudah menembus perimeter dan mulai masuk ke dalam mall,dengan sigap Kebo Ireng memerintahkan seluruh “abdi”nya bersiap,dan untungnya mereka sudah berada di posisi dalam waktu yang tepat,gelombang pertama zombi sudah muncul dan kami semua yang memegang senapan api mulai menembak,sementara sisanya menyerang zombi dengan senjata jarak dekat untuk mencegah mereka melewati eskalator.
Gelombang pertama dapat dibasmi dengan cukup mudah,namun di gelombang kedua jumlah zombi yang masuk berkali lipat jauh lebih banyak,dan mereka sepertinya mulai kewalahan,beberapa orang mulai terserang oleh zombi,aku pikir kami akan kalah dalam pertempuran ini,dan pikiranku menjadi terfokus kepada istriku yang sedang sakit,aku langsung meninggalkan medan laga dan mencari apotik di sekitar mall,untungnya aku temukan dalam keadaan terbuka dan jaraknya tidak jauh dari posisiku.
Begitu aku masuk ke dalam apotik,ternyata ada 3 zombi yang mendekati ke arahku,dengan sigap aku langsung meraih shutter door apotik dan menutupnya secepat mungkin,untung aku berhasil,terlambat 1 detik saja mungkin aku sudah tidak berdaya dikeroyok 3 zombi sekaligus,sekarang aku memiliki waktu yang cukup untuk menjarah antibiotik yang diperlukan,aku mulai mengambil obatnya sebanyak mungkin sampai ranselku penuh,aku tidak mendengar suara perlawanan dari orang-orang lagi,mungkin mereka sudah kalah,ya sudah,aku lebih baik kabur sekarang melalui pintu belakang apotik.
Sepertinya tempat ini yang biasa dilewati para pegawai,terdapat beberapa ruangan kantor,dan ada tanda larangan untuk pengunjung memasuki area ini,aku langsung mencari rute keluar yang ternyata menuju tempat parkir bawah tanah,di tengah perjalanan aku melihat seorang wanita yang diserang oleh 1 zombi,dia menjatuhkan pistolnya,aku ingin menembakinya langsung tapi amunisiku sudah habis sejak pertempuran besar tadi,jadi aku meraih pistol wanita itu,dan di saat aku ingin menembak zombi tersebut,aku dengar ada sekitar 2 zombi yang mendekati arahku,aku langsung kabur saja sambil membawa pistolnya,dia juga tidak akan membutuhkannya di akhirat.
Aku hampir mendekati area parkir bawah tanah,aku dengar ada suara langkah kaki di area itu,aku bersiap membidik dengan pistol yang baru kuambil,tapi kudengar juga ada suara komunikasi manusia,aku cukup lega mengetahui bahwa itu bukan zombi,namun tiba-tiba ada sesuatu yang berat mendorong punggungku,yang juga membuatku pistolku terjatuh ke lantai,ah senjata ini memang licin.
dengan sigap aku langsung meraih keseimbangan,ternyata zombi itu loncat dari langit-langit,dia mulai berlari tertatih-tatih ke arahku,aku langsung menarik linggisku dan di saat kecepatannya mulai meningkat aku langsung menusuknya dengan tepat di kepalanya hingga tembus.
Aku menarik linggisku dari otak zombi yang menjijikan itu,lalu mengambil kembali pistol itu,di area parkir bawah tanah,aku melihat ada 4 orang yang sedang sibuk mencoba menyalakan mobil tanpa kunci pada sebuah SUV,dan ternyata mereka berhasil,aku langsung mendekati dan menawarkan diriku untuk bergabung,mereka senang dengan itu,mereka juga semakin girang di saat aku memberi tau mereka bahwa di tempat tinggalku terdapat banyak makanan dan lokasinya sangat aman.
Karena hanya aku yang tau lokasinya mereka meminta diriku yang menyetir,aku langsung menancap gas dan menabrak portal dan beberapa zombi di perjalanan,aku terus memacu mobil melewati rute tercepat untuk tiba di rumah,namun di tengah perjalanan yang tadinya juga kulewati aku baru ingat ada beberapa mobil yang menghalangi jalanku,aku langsung turun dan meminta bantuan yang lain untuk menyingkirkan mobil-mobil ini,untungnya semua mobil ini tidak dipasang rem tangannya,jadi dengan mudah didorong.
Setelah selesai kami langsung menuju ke kendaraan kami lagi dan melanjutkan perjalanan,di perjalanan aku mendengar suara –suara yang tidak normal di mobil,aku berdoa semoga mobil ini bisa tiba sampai tujuan,tapi Allah berkehendak lain,di saat melewati setengah perjalanan sedikit,mobilpun mogok,kami semua turun dari mobil,ada yang menyarankan untuk memperbaiki,tapi karena hari sudah gelap aku tidak setuju dan kami memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Setelah melewati teror yang mengerikan aku beserta 4 orang yang berhasil bertahan denganku tiba di depan gerbang desa kami,tepat pukul 9 malam,aku mengharapkan penyambutan bagaikan pahlawan,namun apa dikata,aku tetap harus mengikuti protokol yang ada di mana aku beserta ketiga “teman”ku harus diperiksa apakah kami sempat digigit atau tidak,setelah formalitasnya selesai,kami semua dipersilakan masuk.
Di depan rumah,mertuaku keluar lalu memelukku dengan erat,lalu bertanya apakah aku mendapatkan obatnya,aku langsung menunjukkannya,jumlahnya cukup untuk semuanya,beliau sangat terharu dan memberitaukannya dengan lantang ke seluruh penduduk menggunakan loudspeaker masjid,seluruh penduduk bersorak sorai,ya... paling tidak sekarang aku mendapatkan sambutan ala pahlawan,setelah itu kami semua mengkonsumsi antibiotiknya,termasuk diriku & istriku.
Keesokan harinya para penduduk mengadakan acara “ngaliwet” bersama,kami semua bersenang-senang di hari ini,lalu diwakili seorang ustadz,para warga desa berterima kasih kepadaku secara resmi,dan juga para penduduk yang dikoordinasi oleh mertuaku mulai berencana membersihkan saluran selokan di sekitar desa secara teratur untuk mencegah kesalahan yang sama.
0