Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.4K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#132
Anak Lelaki di Persimpangan Jalan - Bagian I


Senin, 24 Oktober 2011

"Malam ini merapat ke kosan Karin rapat Pelepasan KKN. emoticon-Frown Please dateng ya, soalnya gue ditagih sama Ketua BEM nih tentang konsep acaranya sama proposanya. Jarkom." Received 16.44.

Di bawah sinar mahatari sore yang masuk melalui jendela kamar, gue terbangun dari tidur siang. Suara telepon dan SMS bertubi-tubi masuk ke ponsel gue. Nomer yang melakukan panggilan bertubi-tubu dan SMS itu adalah nomer Nino.

"Halo. Ada apa Nin? Sorry gue baru bangun. emoticon-Smilie" Ujar gue di balik telepon. Perasaan gue nggak enak karena kejadian semalam mendorong gue untuk meneleponnya balik.

"Oh, santai Gas. emoticon-Big Grin Yaudah lo tidur aja, tapi nanti malam datang ya. Ramaikan! emoticon-Smilie Mana tau ide senior lebih bagus. emoticon-Big Grin"

"Oke, Nabila cantik. emoticon-Kiss (S)" Ujar gue menggoda.

Telepon dimatikan sepihak oleh Nino, sesaat gue menggodanya. Ada rasa sedikit canggung atau malu ketika gombalan gue tadi nggak ditanggapi.

Hingga malam pun tiba. Tepat selepas Maghrib, gue ke kosan Karin, lokasi dimana kami janjian bertemu. Di saat itu, di sana baru ada Rei. Memang, orang jatuh cinta nggak bisa lepas ya, barang se menit saja dari gebetannya. emoticon-Cape d... (S)

Mungkin cinta seperti itu berlaku buat orang super tampan macam Rei dan super cantik macam Karin. Namun buat gue, cinta itu adalah ketidakpastian, tersakiti, dan melatih kesabaran. emoticon-Big Grin

"Belom pada datang nih? Aduh Rei, lo udah absen duluan aja. emoticon-Big Grin" Ujar gue baru masuk ke dalam kamar Karin.

"Hehe. emoticon-Big Grin Iya dong, kalau nggak ngeliat wajah Karin barang sehari saja, pasti hati gue terganggu. emoticon-Embarrassment" Ujar Rei seraya menggombal Karin. Walaupun Karin tidak menunjukkan reaksi apapun, tapi terlihat dari mata dan rona wajahnya gadis itu tersipu malu.

Malu-malu jijik atau malu-malu mau, itu yang susah dibedakan. emoticon-Big Grin Hal itu lah, yang membuat gue keluar dari dunia penggombalan. Hanya kadang-kadang doang gue menggombal. Jujur pernah ada orang yang langsung bilang ke muka gue kalau dia risih di gombal.

"Eh, udah ramai! Aku masuk ya!" Sapa Maki dan Rio yang baru datang.

"Bu Ketua mana?" Ujar Rio ketika dia mendapati Nino yang belum datang.

"Telat kali, beliau kan sibuk. emoticon-Big Grin" Jawab gue iseng.

"Kamu perhatian banget sih ama Nino. emoticon-Malu" Ujar Karin out of the blue.

"Aku sih perhatian sebagai teman, beda sama perhatian aku sama kamu Rin. emoticon-Big Grin"

"Hmm, masa? Mana? Kamu nggak pernah perhatian sama aku emoticon-Stick Out Tongue Rei doang yang merhatiin aku." Balasnya.

"Hmm, kamu mau aku perhatiin lebih. emoticon-Malu (S) Oke, sebelumnya aku mau nanya, kamu bahagia bggak diperhatiin Rei selama ini?" Tanya gue lalu Rei ngelirik gue sambil tersenyum. Enggak ngerti apa maksudnya.

"Bahagia dong. emoticon-Smilie Ada yang merhatiin."

"Kalau misal kamu udah bahagia, dan ngerasa cukup, aku juga bakalan bahagia kok. Buat apa aku perhatiin kamu lagi. :P"

"emoticon-Smilie Tapi kalau kamu yang ngasih perhatian, aku bakal lebih Gas. emoticon-Malu" Ujarnya.

TAP! Sebuah panah tajam menusuk jantung gue. emoticon-Big Grin Malu-malu senang saat Karin menggoda gue seperti itu. Rei melirik gue dengan tatapan tajam. emoticon-Big Grin Refleks, gue mencibir. emoticon-Stick Out Tongue

"Udah ah, gombal-gombalannya, telepon Nino deh. Gue ada laporan nih, belum kelar. emoticon-Frown" Ujar Rio memotong.

"Iya, aku telepon." Ujar Karin.

Karin pun menelpon Nino. Ternyata Nino masih di kosan, abis sholat Maghrib dan sedang mempersiapkan bahan untuk rapat. Melihat Nino kerja keras, gue jadi kasihan. Gue tahu Nino belum tidur semalam.

Sesaat kemudian Nino datang dengan tampang yang terlihat lemas. Wajahnya sedikit pucat, gue memperhatikannya. Seperti tanpa nyawa gadis itu berbicara.

"Sorry, gue telat. Mulai yuk rapatnya, biar cepat beres."

Mungkin kami menyadari bahwa Nino sangat lelah, tanpa banyak ngeluh atau ngomel, kami memulai rapat.

Gue orangnya memang cepat bosan kalau lagi rapat, apalagi kehadiran gue nggak wajib disini. Tugas gue hanya meramaikan. Soalnya yang bakal di lepas KKN juga gue, dan Rei.

"Rei, kita kenapa ikut sih sebenernya? emoticon-Big Grin" Canda gue ke Rei.

"Gue sih mau ketemu Karin. emoticon-Smilie" Balasnya.

"Hmm. Sudah kuduga. Temenin gue di lur yuk, ngerokok." Bisik gue lagi.

"Gas, lo kalo nggak niat bantu keluar aja deh! emoticon-Mad (S)" Tiba-tiba Nino menyembur gue dengan omelannya. Malu banget sumpah! emoticon-Cape d... (S)

Pengen marah emoticon-Mad (S), pengen bales semburan Nino dengan kata-kata sadis. Cuma, melihat perbedaan Nino malam ini, gue jadi kasihan. Enggak deh, nggak perlu marah, ujar gue dalam hati. Gue hanya nyengir sambil meminta maaf, dan rapat pun berlanjut.

"Oke fix ya, Maki sama Rio bikin spanduk sama banner. Karin tolong bantu gue bikin proposal malam ini ya, soalnya Penanggung Jawab Umumnya udah nagih." Rapat pun selesai, tetap aja gue nggak kebagian tugas wajib.

"Gue bantu-bantu apa nih?" Tanya gue merasa bersalah. emoticon-Frown

"Bebas lo ngapain." Jawab Nino dingin saat rapat berakhir.

"Anjir, dingin banget sih. Maaf sih. emoticon-Nohope"

"Yaudah, lo sama Kak Rei bantuin kita bikin proposal." Nino menatap gue lama.

"Oke. emoticon-Malu (S) Makasih Nino."

Gue nggak tau kenapa Nino meminta gue sama Kak Rei membantu bikin proposal malam itu. Rio dan Maki balik, mereka mau ngerjain laporan dulu. Gue inisiatif buat ngambil laptop Karin dan menyalakannya. Membuka Microsoft Word dan menyerahkan laptop itu ke Karin lagi. emoticon-Big Grin

"Lo yang ngetik Rin, gue nggak tahu mau ngetik apa. emoticon-Big Grin Gue bantu mikir aja."

"Hadeh, sini deh gue yang ngetik." Rei malah mengajukan diri.

Gue lirik Nino sekali-sekali, dia sibuk dengan laptopnya. Membuat flier KKN dan proposal untuk Rektorat, sedangkan untuk BEM yang dibikin oleh Karin.

Melihat kondisi, gue nggak berani becanda. Takut gue! Entah kenapa gue takut apalagi setelah melihat Nino emosi. Apa karena faktor cerita Nino kalau dia pernah jadi pentolan SMP emoticon-Big Grin. Sedangkan gue waktu SMP ada kebalikannya. Sering di bully. emoticon-Nohope

Melihat Rei yang mengetik dan berdiskusi dengan Karin, gue mundur. Gue menghampiri Nino, mencolek ya, lalu dia menatap gue tajam. Gue nyengir dan duduk di sampingnya sambil ngelihatin proposan yang dia buat.

Tepat jam 1 pagi, proposal pun selesai. Kami pun balik dari kosan Karin. Gue balik sendirian jalan kaki, berhubung kosan gue dekat. Sedangkan Rei, tumben-tumbennya mengajukan diri untuk menghantar Nino ke kosannya. Mungkin bukan gue doang yang menyadari kalo Nino sudah benar-benar lelah.

"Hei Nabilah! emoticon-Big Grin Semangat yaa! emoticon-Smilie Kalo butuh bantuan, kali ini repotin gue aja nggak apa-apa. emoticon-Big Grin" Ujar gue menawarkan jasa. Bukan maksud basa-basi, entah kenapa gue merasa siap mau direpotkan kayak gimana pun kali ini. emoticon-Smilie

======


Sudut Pandang Nino

"Thanks ya Kak udah nganterin gue."Akhirnya gue sampai di kosan. Badan gue letih banget, mana tugas buat besok belum gue kerjain! emoticon-Nohope

"Oke sama-sama Nin. Oh iya, gue mau tanya, kalo lu nggak bisa jawab malam ini juga nggak apa-apa, gue tau lu capek soalnya, cuma gue kepo." Tanya Rei dari dalam mobil.

"Apa Kak?"

"Sigit, Sigit itu siapa?"

"Wah, panjang sih ceritanya Kak. Dia kakak kelas gue dulu pas SMP sama SMA."

"Ohh, pantes kayak kenal banget sama Karin, ya. emoticon-Big Grin"

"Hehe, iya... Makasih ya Kak Rei. Gue masuk dulu. emoticon-Big Grin

Hah! emoticon-Cape d... (S) Gue mau bilang sebenarnya kalau Sigit pernah tembak Karin. Cuma saat itu gue lagi malas banget ngomongin masa lalu. Baterai gue sudah nggak cukup buat ngobrol panjang malam ini, sisa-sisa energi ini mau gue manfaatkan buat bikin tugas. emoticon-Frown

TING TONG! Malam itu ponsel gue berbunyi.

"Hei Nabila. emoticon-Big Grin Semangat ya! emoticon-Smilie Kalau butuh bantuan, kali ini repotin gue aja nggak apa-apa. emoticon-Big Grin".

Perlahan gue baca. Gue tersenyum, SMS itu bagai energi tambahan buat gue. Pengin banget bisa didampingi Bagas saat ini. Mungkin energi gue bakal bertambah lagi.

Namun, rasanya gue pengin nangis. Rasanya badan gue pengin jatuh, ketika mengingat Bagas suka sama Karin. Gue nggak mau aja kejadian SMA itu terulang lagi. Yang bisa gue perbuat sekarang adalah, bertopang pada diri sendiri tanpa mengharapkan bahu Bagas buat bersandar. emoticon-Smilie

Bersambung


Diubah oleh OblOOOOOOO 22-11-2021 21:36
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.