Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.4K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#112
Nabila Mahar Dewi - Bagian III

Minggu Pagi, 23 Oktober 2011

"Kenapa lu tampar gue?" Tanya gue kebingungan ketika tamparan itu membekukan darah di pipi gue.

Di saat itu, tatapan matanya berubah. Air matanya jatuh. Mengalir di pipinya.

"Lo kemana aja sih, Gas?! emoticon-Frown Gue nyariin lo semalaman tau gak?! Gue pikir lo hilang, gue telepon nggak aktif! Gue ke kosan, lo nggak ada... Gue..."

Isak tangis dan air matanya serta ucapannya yang bertubi-tubi tanpa henti mendorong badan gue untuk memeluknya. Hati gue benar-benar tersentuh. Makasih Nino, sudah khawatir sama gue. emoticon-heart

"Gue nggak mau kehilangan lo! emoticon-Frown Gue nggak mau kehilangan lo! emoticon-Frown" Ujarnya sambil membalas pelukan erat.

"Gue nggak akan hilang kok, Nino. Gue di sini. Ini lagi meluk lo." Bagaikan tanah kering yang disiram hujan, berjuta rasa tumbuh di hati gue ketika Nino mengatakan kalau dia nggak mau kehilangan gue.

Kata-kata yang biasanya keluar dengan tangisan adalah kejujuran. Apalagi kata-kata dan tangisan itu berasal dari orang yang kita nilai strong dan kita anggap tidak membutuhkan kita. Gue kecup keningnya. Lama. Memastikan kecupan itu berbekas untuk waktu yang lama. Gue usap lembut pipinya yang penuh dengan air mata.

"Udah jangan nangis. emoticon-Smilie Ingusan lho, mau gue elapin? emoticon-Big Grin" Ujar gue berusaha menghiburnya.

"Gue masih kesel sama lo! Jangan ajak bercanda! emoticon-Frown Lo nggak ada saat gue butuh, saat gue merasa down! emoticon-Frown Lo malah pergi... Lo malah pergi...! emoticon-Frown" Nino memukul-mukul dada gue.

"Down kenapa? Mau cerita?"

"Gue pengin cerita! emoticon-Frown" Ujarnya tetap dalam pelukan gue. Wajah kita sangat dekat.

"Ayok, cerita di kamar aja. Udah ah, nangisnya. Enggak enak di lihatin teman gue, tuh." Dia menoleh, lalu menatap gue manyun.

"Lo dari semalam udah makan belom? Gue bawain ketoprak kesukaan lo." Dia melepaskan pelukannya menuju pintu kamar gue dan mengambil plastik yang sepertinya adalah ketoprak.

Gue emang belum makan dari tadi malam. Setelah gue membuka pintu kamar, dia masuk dan duduk.

"Minum dulu." Gue berikan dia minum. Dia mengelap mata dan ingusnya dengan pak tisu yang selalu stand by di kamar gue.

"Makasih Gas."

Kami pun menyantap sarapan pagi itu tanpa kata. Gue sesekali memperhatikan Nino. Hati gue BENAR-BENAR SENANG, ada ternyata orang yang mau mengkhawatirkan gue selain Ibu gue. Nino, hari ini, benar-benar mengguncang hati gue.

Dia belum ganti baju. Masih dengan pakaian yang semalam, sepertinya dia belum sempat balik ke kosan. emoticon-Smilie

"Haaaaaah!" Dia menghembuskan nafas panjang. "Gas?"

"Apaaa?"

"Kenapa tadi malam lo pergi gitu aja? Bukannya nemenin gue."

"Hah? Hehe. emoticon-Malu" Jujur gue malu kalau bilang, "Gue cemburu Nin."

"Nggak apa-apa, biarkan kalian menikmati reuni berdua. Karin gimana? Kata lo nggak jadi ditembak Rei?" Respon gue sekaligus mengalihkan topik.

Nino hanya menatap gue lama, lalu berkata, "Enggak jadi kata Kak Rei, pas gue lagi di resto sama Kak Sigit, mereka lewat dan ngelihat gue. Terus ikutan nimbrung karena dipanggil Kak Sigit."

"Sigit ya? emoticon-Big Grin Aduh makasih banyak Sigit. emoticon-Embarrassment Tamu tak diundang telah menggagalkan rencana Rei secara tak terduga."

"Itu karena gue ege! emoticon-Mad Gue kan Dewi gitu, lho. emoticon-Big Grin Semua sudah gue rencanakan, tau! emoticon-Big Grin" Jawabnya sambil nyengir.

"Dewi? emoticon-Big Grin" Tanya gue meledek.

"Oh ya, HAHA! Lo belum tau nama asli gue, ya. Kenalin Gas, gadis manis yang duduk di depan lo ini nama aslinya Nabila Mahar Dewi."

"Nama lu cakep, njir. Tapi kok nggak ada unsur Jermannya?"

"Ada sebenernya nama keluarga ayah gue di belakangnya. Tapi setelah ayah gue meninggal, dan gue pindah ke Indonesia, nama belakang itu dihapus di semua kartu identitas gue. emoticon-Big Grin"

Gue tersenyum. Aura wajahnya perlahan berubah. Nino, sangat manis kalau tersenyum. emoticon-Malu Bedanya dengan Karin, kalau gue analogikan: Senyuman manisnya adalah atribut buat Karin. Mau dia pakai, atau tidak, Karin tetap cantik. Tapi, Nino, senyuman itu adalah bagian dari dirinya. Nino terlahir dengan senyuman manis alami yang membuatnya cantik.

"Oh iya, lo sama Sigit ngobrol apa aja semalam?" Tanya gue kepo.

"Nggak apa apa. emoticon-Smilie"

"Cerita dong. emoticon-Smilie Katanya pengin cerita. Gue juga pengin tau apa yang membuat Nino gue yang strong jadi terpukul gini."

"Lo bisa jaga rahasia, kan? Maksud gue, lo jangan cerita ke siapapun gue cerita tentang ini, bahkan Karin pun yang tahu cerita gue, nggak mau mengungkit-ungkitnya."

"Masih nggak percaya lo sama gue?" Tanya gue meyakinkannya.

Dia terdiam sejenak. Menatap kosong pada dedaunan di perkarangan kosan gue.

======


Tahun 2003
Sudut Pandang Nino

Tujuh (7) tahun yang lalu, Ayah kandung gue meninggal. Ibu gue yang jadi tulang punggung keluarga saat itu. Gue punya Abang, saat itu masih SMA. Karena merasa nggak kuat merawat kita berdua, Ibu gue mengirim gue ke rumah Nenek gue di Menteng. Beberapa tahun kemudian, ibu gue nikah lagi, yang mana menjadi ayah gue sekarang.

Sekolah di Jerman itu pakai baju bebas, apalagi dengan pribadi gue yang bisa dibilang rebelious dan tomboy, gue selalu pake celana dan nggak bisa pake rok walau sejatinya gue adalah cewek tulen. Kalau dipakaikan rok, bisa demam gue. emoticon-Big GrinSaat gue masuk SMP di Indonesia, gue mohon-mohon sama Tante gue agar mendaftarkan gue sebagai laki-laki. Tante gue awalnya nolak dan ngasih gue banyak nasihat, tapi gue bilang nggak akan sekolah kalau nggak didaftarkan jadi laki-laki, karena gue menolak buat pakai rok. Saat itu, nama gue ditukar secara ilegal sama Tante gue yang merupakan Pengacara, menjadi 'Sebastian Nino'.

Awalnya saat masuk Kelas 1, gue jadi anak bawang. Diem-diem aja di kelas. Di kelas gue isinya kalo nggak cowok-cowok sok-sok preman atau nggak cewek-cewek perek. emoticon-Big Grin Gue cuma duduk memperhatikan gerak-gerik mereka. Mana tahu ada yang normal dan bisa gue jadikan teman. emoticon-Big Grin Dengan identitas sebagai laki-laki, dan untungnya gue punya sabuk merah karate, jadi gue yakin bisa ngalahin anak-anak yang coba macam-macam sama gue.

Ayah kandung gue yang ngajarin karate. Dia jago banget, udah sering menang kejuaran Internasional juga.

Suatu hari gue jalan ke kantin sendiri. Orang-orang cuma ngeliatin gue kayak jijik, gitu. Kulit putih Jerman gue masih kental banget. Enggak kayak sekarang, udah agak pudar gara-gara matahari Indonesia terik banget dan gue juga sering keluar rumah. emoticon-Big Grin Saat itu mungkin teman-teman SMP gue mengira kalau gue ini seorang banci.

"Eh, cowok cantik, lo anak pindahan dari Jerman itu? Ngerti bahasa Indo nggak lo, Cong? Hahaha!"

"Dikit." Jawab gue singkat mencoba untuk tidak mempedulikan.

"Eh, bangs*t! Lo nggak nganggep serius gue, njing? Ngajak berantem lo? Enggak tau lo siapa yang nguasain Kelas 1? Hah?" Cowok dengan badan bongsor itu menarik badan gue dengan jambakan di rambut. Lalu dia cengkram kerah baju gue.

Kalo gue pikir-pikir saat ini, kejadian sekolah gue macam di Crows Zero.

"Oi, cabut lo pada!"

Tiba tiba beberapa anak cowok lain dateng dari belakang gue. Cowok songong tadi sama teman-temannya, tiba-tiba melepaskan tangannya dari kerah baju gue..

"Awas lo, ye! Pulang sekolah gue tunggu di lapangan belakang! Dasar bencong!" Cowok itu langsung cabut bersama beberapa anggotanya.

"Bang Sigit cuma kasian sama dia, Brot!" Ujar salah satu dari mereka.

Lalu mereka pergi. Mata si cowok songong tak lepas dari mata salah seorang anak cowok yang baru datang dan mengusir mereka tadi. Seolah marah dan kesal, tapi nggak berani melawan.

"Anak baru, nama lo siapa?" Tanya cowok bertampang lugu itu ke gue. Dia datang berlima, sepertinya dia adalah pemimpin mereka.

"Gue Sigit, Kelas 2C. Gue suka mata lo. Lo mau masuk genk gue, nggak? Gue rencana mau ngalahin Zanky anak kelas 3B yang katanya penguasa sekolah ini." Dia melanjutkan perkataannya penuh dengan semangat. Namun, gue nggak minat jadi preman sekolah saat itu.

"Sorry, Kak. Gue nggak minat." Jawab gue dan kemudian melipir pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.

Sepulang sekolah, benar saja, Brot dan kawanannya sudah nungguin gue di lapangan belakang sekolah. Saat itu, perasaan pengin pamer gue ada. emoticon-Big Grin Jadi, gue samperin aja dia. Ini pertama kalinya gue berantem beneran.

DUK!

Sebuah tinju tiba-tiba mendarat tepat batang hidung gue. Lumayan sakit, hidung gue sampai bedarah. Jujur, gue kaget aja. Tapi gue masih berdiri menatapi Brot dengan mata iblis gue.

Tatapan gue membuat Brot ngamuk, tapi pukulan Brot kali ini dengan mudah gue tangkis. Gue ingat salah satu dialog di Crows Zero, bahwa martial arts dan street fighting itu beda. Asli, hal itu adalah benar. Brot pingsan hanya dengan 2x pukulan berturut-turut dari gue.

Sejak saat itu setiap gue lewat, anak-anak pada minggir. Banyak juga yang nantangin gue, dan gue jabanin satu per satu. Ada juga yang keroyokan, tapi mereka semua lemah menurut gue, dengan 2x atau 3x pukulan gue aja mereka pada tepar.

Hingga akhir semester, gue dinobatkan sama anak-anak menjadi 'Penguasa Kelas 1'. emoticon-Big Grin Gue punya anak buah, dan sebagai sebuah rasa terima kasih kepada Brot yang secara tidak langsung membuat gue terkenal, gue angkat dia jadi 'Wakil Penguasa Kelas 1' alias 'Orang Nomer 2' di seluruh Kelas 1. Gue tinggal perintah, Brot yang jalan. emoticon-Big Grin

Hingga suatu pagi saat gue baru masuk kelas, ada selebaran.

The Sophormore Master, SIGIT vs The School and Senior Master, ZANKY!!! at LADAR, jam 5 sore!

LADAR itu adalah sebutan buat lapangan belakangan sekolah, alias Lapangan Berdarah.

"No, dateng nggak kita?" Mata anak buah gue berbinar saat melihat poster itu. Hal ini menandakan akan adanya regenerasi penerus penguasa sekolah. emoticon-Cool

Diubah oleh OblOOOOOOO 21-11-2021 01:14
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.