Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.1K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#106
Nabila Mahar Dewi - Bagian I

Minggu Pagi, 23 Oktober 2011

"Maaf Bagas, aku nggak bisa. Aku suka sama Rei!" Begitu kata Karin lalu pergi bersama Rei.

Kemudian gue berjalan ke arah Nino, "Maaf Gas, sekarang lo harus berjuang sendiri ya, gue udah nggak bisa bantu lo. Gue mau pergi sama Kak Sigit!" Sosok Nino pun pergi bergandengan tangan dengan seseorang yang bernama Sigit.

Gue duduk menangis sendirian di sudut ruangan serba hitam, lalu datang seorang cowok ke arah gue.

"Yaudah sama gue aja Gas! emoticon-Wowcantik"

CECEP!!!! emoticon-Nohope

Entah angin darimana yang membuat gue bermimpi seperti itu. Gue terbangun setelah Cecep membangunkan gue dengan kata-katanya.

"Jam berapa sekarang, Cep?" Tanya gue kepada Cecep seketika bangun dan mendapati matahari yang menembus ke kamar Cecep sudah terang. Gue ketinggalan salat Subuh!

"Jam 9. Tadi ngigo apaan lu? emoticon-Big Grin Putus cinta?"

"...." Gue nggak mampu berkata apa-apa ketika hati gue benar-benar terasa sakit tadi malam. Gue pun beranjak ke kamar mandi dan mengambil wudhu untuk qadha salat Subuh gue yang ketinggalan karena ketiduran.

======

Sabtu Malam, 22 Oktober 2011

"Kak Sigit? emoticon-Belo"

"Bener, kan, lo Nabila? emoticon-Big Grin"Cowok yang dipanggil Kak Sigit itu melirik Nino dari ujung kaki hingga ujung rambut, "Lo tambah cantik, Bil."

"Siapa Nin?" Tanya gue yang nggak sabar dengan keingintahuan ini. Namun bukannya Nino yang menjawab, malah cowok itu yang menjawab dengan ramah.

"Oh iya, sorry, emoticon-Big Grin Gue Sigit, kakak kelasnya Nino pas SMP dan SMA. emoticon-Big Grin Iya, nggak Bil?" Jawabnya sambil mengacak-ngacak rambut Nino seperti abang mengacak-ngacak rambut seorang adik karena gemas.

Wajah Nino memerah, dia senang namun malu. Baru pertama kali gue melihat mimik muka Nino se kaku ini. emoticon-Big Grin Mungkin cowok ini dulu pernah dia suka, pikir gue.

Namun dibalik senyum gue, entah kenapa ada yang berat di hati gue. Rasanya, bukan hanya gue cowok paling dekat sama Nino selama ini. Enggak tahu kenapa, hal itu menganggu gue.

"Oh, gue Bagas. Temannya kampusnya Nino." Jawab gue.

"Lo masih dipanggil Sebastian Nino? emoticon-Big Grin Tapi, kalo kayak gini, lo lebih cocok dipanggil Nabila! emoticon-Smilie" Sigit mengabaikan gue.

"Anyway, Biar ngobrolnya asik kita sambil makan aja, yuk!" Lanjutnya melihat tiada tanggapan dari Nino yang sedari tadi terlihat malu-malu.

"Guys, nanti SMS gue ya, kalo kalian mau balik!" Ujar Sigit kepada 2 orang temannya.

Sigit lalu menggandeng tangan Nino tanpa rasa takut di tampol. Beda dengan gue yang kalau mau sentuh Nino harus berdoa dulu. emoticon-Hammer Mereka mengarah ke sebuah restoran di sana. Gue awalnya mengikuti mereka dari belakang, tapi karena sepertinya Nino lupa dengan gue, pun ini adalah momen reuni mereka berdua, walaupun gue nggak tahu hubungan mereka apa.

Baik Nino atau Sigit, mereka berdua seperti tak mengharapkan kehadiran gue saat itu.

Langkah gue berhenti dan seiring punggung mereka menjauh tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, gue menyimpulan senyum kecil. emoticon-Smilie Biarkan pasangan itu, berdua, menikmati malam minggu mereka.

Gue berjalan keluar Ciwalk dan mengintari jalan Cihampelas kedinginan. Gue kesini nggak pakai jaket karena gue berpikir cuma di dalam mobil ini. Tapi, ternyata firasat gue tidak benar.

Mungkin malam ini gue bisa bermalam di kosan teman se organisasi gue di Bandung, daripada harus balik ke Jatinangor.

"Cep, tolong jemput gue di Ciwalk dong." Sent 20.10.

"Ngapain lu di Ciwalk?" Received 20.12.

"Kencan gagal, Bro. emoticon-Frown Tolong jemput gue, please! Cukup hati gue yang beku sekarang, gue nggak mau badan gue ikutan membeku. emoticon-Frown" Sent 20.13.

"Haha! Oke, tunggu ya." Received 20.14.

Malam ini langit terlihat mendung, tidak ada bulan ataupun bintang. Angin berhembus membawa dinginnya dataran tinggi. Sambil memperhatikan bangunan yang bernama Ciwalk itu, air mata mengalir di pipi gue. Dalam diam gue menangis. emoticon-Smilie

Di Kosan Cecep

"Oh jadi gitu ceritanya. Sahabat lu sama cewek yang lu suka, dua-duanya ninggalin lu gitu?"

"emoticon-Big Grin Haha! Iya, hebat kan gue? Emang nasib gue kayak gini Cep. emoticon-Frown"

"Kasihan sih, tapi gue salut sama lu. Gas. Walaupun lu sedih, kecewa, lu masih bisa senyum dan bercanda sama gue. emoticon-Smilie" Cecep menepuk pundak gue memberikan semangat.

"Yaudah, nggak usah di bahas lagi. Haha! emoticon-Big Grin Ada anime baru nggak?" Tanya gue mengalihkan topik.

Malam itu gue lalui di kosan Cecep. Gue berharap Nino SMS nyariin gue, tapi ternyata sampai jam 10 malam, tiada SMS masuk. Kenapa di saat seperti ini, gue malah berharap SMS dari Nino? Bagaimana dengan Karin yang akan jadian sama Rei? Bukannya itu tujuan utama gue ke Ciwalk? Saat itu, seakan gue nggak peduli dengan mereka sama sekali."
Diubah oleh OblOOOOOOO 20-11-2021 19:52
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.