- Beranda
- Stories from the Heart
.. Live to Love .. #True Story
...
TS
rakhaprilio
.. Live to Love .. #True Story
..Live To Love ..
Quote:
Spoiler for GALERI COVER L2L:
OPEN DESAIN GAMBAR #LTLYang jago desain gambar MASUK !!
Spoiler for NEW INDEKS:
Spoiler for NEW INDEKS BOOK 2:
PengenalanTokoh :
Rakha Novembrio
:Sebelumnya perkenalkan saya pendatang baru. Saya newbe senewbe - newbenya dalam hal membuat tread yang berkualitas baik menurut standar internasional SNI. Bilamana ada kekurangan dan kesalahan dalam penulisan mohon bantuan dan di maklumi adanya.
Sebut saja saya Rakha. Rakha Novembrio itu nama yang di sematkan oleh ibunda dan Ayah ketika mereka mempunyai anak terakir. Entah ngidam apa saat itu hingga terlahirlah manusia super bandel sepertiku.
Ya, pasalnya ada saja ulah yang saya timbulkan di rumah mulai dari kebandelan hingga membuat mereka geram gigit jari. Itu kata saudara saya, betul itu kata saudara tunggalku yang seorang perempuan dengan selisih satu tahun denganku.
Jujur saya katakan bahwa saya di sini adalah tipikal orang yang mesum. Mungkin jika ada perlombaan orang mesum se-Indonesia maka jelaslah saya mendapat juara 2. Kenapa saya tidak juara 1 ??
Maaf, sebab juara itu sudah di isi oleh pasangan Ariel – Luna sebagai juara bertahan yang sulit saya kalahkan tahun belakngan ini saudara sekalian.
Maka cukuplah teman – teman di kampus memanggil saya dengat sebutan OMES alias Otak Mesum.
Saya hidup berempat dengan saudara perempuan saya dan dua orang tua tentunya, namun dengan bonus dua pegawai wanita di rumah. Sebab bunda seorang wiraswasta yang mendirikan Salon kecantikan. Maka ramailah isi rumah setiap harinya seperti pasar kambing yang berantakan juga.
namun bukan berarti saya tiap hari Nyalon di rumah lantas saya berubah menjadi Maho atau Bencong yang identik dengan “remfong dech yey”. Saya tetap pejantan tulen sobat. Catat itu baik-baik dalam isi dompet anda.
Setiap paginya rumah akan di suguhi dengan pemandangan Ayah yang selalu memakai baju seragam rapih namun tak berdasi. Ya, maklum, beliau hanya seorang pegawi negri tingkat tiga dengan gaji yang “pas-pasan’’.
Memang, Tulungagung masih rendah UMRnya di bandingkan kota – kota besar lainnya. Ya, itulah kota kelahiranku.
Dan cerita saya, akan di mulai ketika saya menginjakkan kaki di kota yang dingin. Sebut saja itu Malang. Namun tak semalang hidup saya, dan tak sedingin sifat saya tentunya . .
Amelia
kenalan saya sewaktu di kereta menuju kota malang. Dia cantik, kulitnya sawo mentah. Sebab coklat tidak, kuning pun juga tidak. Nah lo pikir saja sendiri apa itu warna kulitnya. Dia jago fashion, dengan perawakan yang biasa, dia bisa terlihat begitu cantik dengan busana yang selalu match dengan gayanya. Rambutnya lurus rebondingan sepunggung, tidak terlalu neko – neko dan sering memakai bando serta kontak lens warna biru.
Fany:
teman sekelas saya yang juga sahabat dari Nabila asal Jakarta. Dia manis, tidak terlalu tinggi, sekitar 160cm dengan kulit kuning dan tidak begitu peduli dengan Fashion serta berdandan asal rapih saja. rambutnya sepundak dengan model sebelah panjang dan sebelah pendek entah itu model terbaru atau tukang cukurnya malas mencukur. Dia tipikal wanita tomboy berhati baja, suka protes bila ada sesuatu yang tak ia suka.
Jovanda:
dia cantik tulen bawaan dari orok. Putri dari orang no satu di Sosiologi. Pembawaannya ceria, terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja. perasaannya sangat rapuh terhadap hal – hal sepele. Tipikal wanita yang setia namun lebih sering di sakiti oleh pasangannya. Pandai berdandan dan mempercantik diri dengan gaya baju yang maaf saya bilang seksi, terkadang juga memakai kostum yang menerawang bikin saya mabuk kepayang. Terbilang orang paling kaya di kelas dan cukup di segani oleh beberapa rekan termasuk saya yang sering minder terhadapnya.
Nabila
secara fisik dia tak terlalu tinggi, atau bahkan bisa saya sebut pendek. 158 itu pendek ga sih ?? kulitnya kuning seperti jeruk, wajahnya manis tulen prodak dari bandung punya. Rambutnya bergelombang dengan volume yang lebat dan terawatt. Cocok sebagai iklan shampoo dan keseringan di model karatan oleh dia. Dia tidak obes, dia juga tidak kurus, badan itu terlihat lebih seksi dari Jovanda sungguh. Sebab tiap lekuk tubuhnya terlihat lebih jelas dan di balut dengan busana yang terbilang sopan, namun kadang juga suka mengumbar nafsu. Dia baik, suka menolong dan haus akan perhatian. Tapi imannya sangat lemah terhadap Fashion.
Steve:
manusia setengah pria setengah wanita adalah penggambaran tepat untuk Steve. Bisa di bilang dia banci tulen, gayanya ngondek, jalannya melambai, bicaranya alay. Tapi kadang ada saaat dimana dia bisa serius untuk mengikuti alur pembicaraan seseorang dan tanpa sadar ia kehilangan sisi kebanciaannya. Dia tinggi, 172cm dengan kulit wajah putih (obat) serta gaya super modis. Ia berdandan masih normal layaknya seorang pria, namun sangat kental dengan gaya kekoreaan seperti Amelia. Secara fisik ia masih tergolong dalam ras manusia berkelamin jantan, namun secara gender atau kebatinan, ia memiliki jiwa layaknya seorang perempuan.
Nonik:
awalnya ia adalah sahabat dekat dari Jovanda. namun hubungan mereka harus berakir sebagai seorang musuh atau bisa di sebut juga sebagai Rival. Nonik tipikal cewek yang masih satu Ras dengan Jovanda. ia berasal dari golongan kaum borjuis dengan dompet tebal di sakunya. Berparas jutek serta lebih dominan untuk peran antagonis. Sering memakai eye liner yang membuat matanya juah lebih hidup. rambut sepunggung dominan warna coklat dengan ujung kadang di buat bergelombang. Berperawakan kurus dengan tinggi 165an. Kulit putih susu dan tentunya selalu modis dalam masalah busana.
Tisya
seseorang bagian dari masalalu saya. tepatnya adalah teman masa kecil yang pernah dekat dengan rumah saya saat SD dulu. dari segi paras, ia memang mirp dengan Nabila. namun sifat dia yang terkadang maish kekanak - kanakan sering kali membuatnya salah dalam mengambil keputusan. dalam segi fisik Tisya berbepawakan sedang, tidak tinggi juga tidak pendek. berkulit kuning dengan gaya rambut yang sering kali di tarik kebelakang mirip dengan tokoh anime. warna rambutnya dominan hitam lebat dengan model lurus asli bawaan dia dari orok.
Dania
salah satu tokoh yang berhasil saya ingat sejauh book 2 sudah berjalan. secara fisik dia cukup tinggi hampir sama seperti saya. dengan gaya rambut di gelung ke atas serta dandanan yang dominan memakai warna hitam baik itu kaos atau celana yang ia kenakan. kulitnya putih kapur, giginya rapih ala senyum pepsodent namun matanya sedikit sipit sama seperti milik Fany. awalnya teman satu kosan dari Nonik yang pada akirnya di waktu saya semester tujuh ia meminta saya untuk menjadi sahabat pertamanya dengan menerima segala kekurangan menurut dia namun merupakan suatu kelebihan bagi saya. sebab ia satu - satunya tokoh dengan kemampuan lebih yang bisa menjadi sahabat saya di akir cerita.
Polling
0 suara
.. Siapa Pacar TS saat ini ..
Diubah oleh rakhaprilio 10-05-2014 22:44
wahabharry7707 dan 36 lainnya memberi reputasi
33
2.6M
8.8K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rakhaprilio
#527
Chapter 44. Tantangan atau Pertanyaan
Ini adalah hari dimana tujuan liburan saya akan terpusat di Bogor. Banyak yang menyebut Bogor sebagai kota hujan atau Malangnya kota Jakarta. Hawa dingin itu pasti, curah hujan yang tinggi itu tentu. Tak lupa segala persiapan Champing out door juga telah saya persiapkan jika anak – anak nantinya mengadakan renungan malam di luar vila. Setelah dirasa semua anggota siap, maka saya izin kebelakan terlebih dulu pada mereka sebelum penyakit lupa ini menyerangsaya kembali. Pastinya sodara semua sudah faham bukan, saya ingin telfon kekasih tercinta.
“halo yank” pastilah itu kalimat pertama yang di ucap oleh sang penelfon.
“iya dalem yank, mo berangkat ya pastinya ini, ya kan” tebak Vanda padaku yang belum sempat berucap.
“kok sayang tau, hehehe iya yank ini mau berangkat. Mau pamitan dulu sama cantikku ini biar nanti gak bingung nyariin gitu lo” jawabku manja.
“iya iya sayang aku tau kok, udah buruan berangkat aja, pasti udah di tungguin kan” seolah Vanda itu selalu tau kondisi yang saya alami.
“iya yank, you is the best deh !! Mwaaaach” sambil beraleri menyusul teman – teman di depan saya menunggu Vanda menutup telfon dengan ciumannya.
“mwaaaach too sayang” dengan kecupan itu, maka di tutuplah telfon saya.
Sesampai di depan seperti biasa, Fany ngomel karena menunggu saya sedari tadi di belakang. Saya pun Cuma bisa cengar cengir banyak alasan supaya hubungan ini tetap aman adanya. Belum sempat Fany dan Bila naik k eke mobil, mereka teringat akan barang yang di rasa tertinggal di kamar, maka dengan cekatan mereka segera pergi ke lantai atas bertemankan Doni juga. Sedangkan Stevy sibuk sendiri dengan make upnya yang takut luntur jika tidak segera di dinginkan di dalam AC. Maka saya lebih memilih untuk memanaskan mobil dan mengeluarkannya dari garasi sampai Fany Bila dan Doni telah siap untuk memasukkan barang kedalam mobil.
“loh ini siapa yang ngluarin mobil dari garasi” Tanya fany kebingungan.
“loh bukannya Bilah ??” jawab Stevy tampak kebingungan juga.
“orang Bila ama gw kok di atas, lo jangan horror deh” Fany mencari kepastian.
“kenpa lagi sih, ini gw yg ngluarin mobilnya dari garasi. Ada yang lecet ??” sahutku dari arah belakang mobil
“lah, lo bisa nyetir Kha ??” Tanya Fany sedikit heran di susul Bila yang baru datang.
“nih apa ??” saya tunjukan itu sim A kepada mereka semua.
“wah KAMPREEEEET lo dari kemaren kaga mau bilang, anjiiiir kita terus Bil yang nyopir sana sini, ini dia bisa nyupir mobil kga mau bilang, wah sialan lo Kha” Fany mulai geram kepanasan.
“wahahahahaha, salah sendiri ga nanya kan, udah ayok” ajakku sambil masuk ke dalam mobil BMW – X5 milik Bila.
Dengan perasaan Fany yang tengah gondok, maka jadilah saya supir dalam perjalanan itu. Sesekali hati ini terasa menggelitik jika di ingat Fany yang merah padam mengetahuiku yang sudah punya sim A ini. Padahal selama perjalanan Jakpus – Bandung semua Fany yang nyetir, jadi kalau di ingat – ingat kembali maka saya hanya bisa tertawa sendiri.
Seingatku saya sampai di Bogor pukul 10.00 AM, udaranya masih cerah nan sejuk persis seperti kota Malang. Yeah, its time 4 fun batinku di di depan Vila milik tante Fany yang selama 3 hari kusus di sewakan untuk keponakan tercintanya. Sedangkan tante fany itu sendiri saya juga belum tau bagaimana wujudnya sampai saat ini sebab yang saya tau Fany lebih sering berkontak via telfon daripada bertemu secara langsung. Ah dasar penikmat tehnologi pikirku, sudah tidak memikirnya yang namanya silaturahmi lagi. Dasar manusia termakan kapitalisme.
Sedikit gambaran tentang Vila milik tante Fany, terdiri dari 4 kamar dengar kamar mandi di dalamnya. Suasananya sangat klasik seperti rumah adat milik suku di Kalimantan entah apa itu namanya saya lupa. Vila itu di jaga oleh 1 tukang kebun, 1 pembantu wanita sebagai pelayan vila dan sekaligus pengelolanya. Orang – orang itu merupakan masyarakat asli daerah puncak yang sengaja di sewa tante Fany untuk merawat vilanya. Udara sejuk, vew yang menawan serta alam hijau seperti di pedesaan lengkap sudah ini pikirku.
Siang sampai sore hari kami habiskan di depan televise bercanda ria ngalor ngidul tertawa terbahak – bahak dengan Stevy sebagai bahan leluconnya. Mulai dari Stevy yang pernah mengenakan mini set sampai foto Stevy yang di gap oleh Fany tengah mengenakan G –String. Dasar sarap betul ini bocah pikirku, otak bukannya di taruh di kepala tapi malah pindah ke pantat. Hingga malam menjelang, kami sepakat untuk membangun tenda atau yang biasa di sebut dom oleh anak pramuka sebagai tempak tidur kami di area luar vila.
Magrib mulai menjelang, malam mulai berganti alam. Kami telah usai dengan tenda yang masing – masing telah kami siapkan. Maka untuk menemani rasa dingin malam itu, saya dan Doni sepakat untuk menyalakan api unggun sebagi penghangatnya. Sedangkan Stevy saya kacungi untuk mencari kayu di reruntuhan pohon. Teoat pukul tuju malam saya telah kelar dengan pembuatan api unggun, dengan di temani kopi dan teh, kami berkumpul di sekitar api unggun untuk mencari kehangatan. Sedangkan Doni yang saya rasa paling dewasa dalam acara liburan ini, maka saya Tanya kepada dia acara apa yang paling enak untuk di lakukan mala mini.
“Don, enaknya ngapain nih, masa Cuma ngumpul di depan api unggun trus ngebakar Stevy” tanyaku pada Doni serta menggoda Stevy.
“hahahaha, boleh tuh ngebakar Stevy, tar gw kasi bumbu rasa soto ayam aja ya Kha. Eh, gimana kalo maen Tantangan atau Pertanyaan ?? berani gak ??” usul Doni seketika.
“itu maenan apaan say, kaya kuda lumping gituh eah, wahahahahaha” Tanya Stevy dengan tololnya.
“lo itu taunya cuma sodom aja stev, stev, dasar otak ga jauh dari slakangan” ujarku sambil gelang – geleng kepala.
“itu lo Stev, semacem adu kejujuran gitu. Jadi kita nyari botol trus di puter kan ya, klo botol itu udah selesai berenti, jadi siapa yang ada di depan botol itu
tar bakal di kasih pertanyaan atau tantangan gitu” jelas Bila dengan cekatan.
“oke, siapah takudt, gw kasi tantangan tar lo pada !!” Stevy pun beranjak mencari botol paling ideal untuk permainan kami tersebut.
Setelah Stevy mendapatkan botol yang bentuknya saya rasa mirip seperti bentuk, maaf sebelumnya. Seperti alat kelamin laki laki dengan ujung botol yang melembung seperti sedang memakai helm, dan saya pun juga tidak habis pikir itu botol prodak apa yang stevy dapatkan.
Putaran pertama di mulai dari Bila terlebih dahulu yang sangat ingin memulainya, dan benar saja ketika ujung botol itu terhenti, tanpa di duga tepat menunjuk arah saya. Maka dengan gembiranya ia pun memulai pertanyaannya yang harus saya jawab dengan jujur dan bijak.
“Kha, siapa saat ini orang yang lo sayangin di hidup lo, gw pengen denger jawaban itu nama cewek !” dengan tegas nan lantang pertanyaan itu tertuju padaku.
Bagaimana saya bisa jujur mengenai perasaan saya kepada mereka jika saat ini gadis yang mulai saya sayangi adalah Jovanda seorang. Maka bisa di pastikan dengan satu jawaban yang saya ucap, bakal bubar sebubar bubarnya acara malam ini. Sambil bingung harus menjawab bagai mana, saya tengah sibuk mencengkram paha Stevy sebagai sasaran empuk untuktempat saya melepas panik.
“halo yank” pastilah itu kalimat pertama yang di ucap oleh sang penelfon.
“iya dalem yank, mo berangkat ya pastinya ini, ya kan” tebak Vanda padaku yang belum sempat berucap.
“kok sayang tau, hehehe iya yank ini mau berangkat. Mau pamitan dulu sama cantikku ini biar nanti gak bingung nyariin gitu lo” jawabku manja.
“iya iya sayang aku tau kok, udah buruan berangkat aja, pasti udah di tungguin kan” seolah Vanda itu selalu tau kondisi yang saya alami.
“iya yank, you is the best deh !! Mwaaaach” sambil beraleri menyusul teman – teman di depan saya menunggu Vanda menutup telfon dengan ciumannya.
“mwaaaach too sayang” dengan kecupan itu, maka di tutuplah telfon saya.
Sesampai di depan seperti biasa, Fany ngomel karena menunggu saya sedari tadi di belakang. Saya pun Cuma bisa cengar cengir banyak alasan supaya hubungan ini tetap aman adanya. Belum sempat Fany dan Bila naik k eke mobil, mereka teringat akan barang yang di rasa tertinggal di kamar, maka dengan cekatan mereka segera pergi ke lantai atas bertemankan Doni juga. Sedangkan Stevy sibuk sendiri dengan make upnya yang takut luntur jika tidak segera di dinginkan di dalam AC. Maka saya lebih memilih untuk memanaskan mobil dan mengeluarkannya dari garasi sampai Fany Bila dan Doni telah siap untuk memasukkan barang kedalam mobil.
“loh ini siapa yang ngluarin mobil dari garasi” Tanya fany kebingungan.
“loh bukannya Bilah ??” jawab Stevy tampak kebingungan juga.
“orang Bila ama gw kok di atas, lo jangan horror deh” Fany mencari kepastian.
“kenpa lagi sih, ini gw yg ngluarin mobilnya dari garasi. Ada yang lecet ??” sahutku dari arah belakang mobil
“lah, lo bisa nyetir Kha ??” Tanya Fany sedikit heran di susul Bila yang baru datang.
“nih apa ??” saya tunjukan itu sim A kepada mereka semua.
“wah KAMPREEEEET lo dari kemaren kaga mau bilang, anjiiiir kita terus Bil yang nyopir sana sini, ini dia bisa nyupir mobil kga mau bilang, wah sialan lo Kha” Fany mulai geram kepanasan.
“wahahahahaha, salah sendiri ga nanya kan, udah ayok” ajakku sambil masuk ke dalam mobil BMW – X5 milik Bila.
Dengan perasaan Fany yang tengah gondok, maka jadilah saya supir dalam perjalanan itu. Sesekali hati ini terasa menggelitik jika di ingat Fany yang merah padam mengetahuiku yang sudah punya sim A ini. Padahal selama perjalanan Jakpus – Bandung semua Fany yang nyetir, jadi kalau di ingat – ingat kembali maka saya hanya bisa tertawa sendiri.
Seingatku saya sampai di Bogor pukul 10.00 AM, udaranya masih cerah nan sejuk persis seperti kota Malang. Yeah, its time 4 fun batinku di di depan Vila milik tante Fany yang selama 3 hari kusus di sewakan untuk keponakan tercintanya. Sedangkan tante fany itu sendiri saya juga belum tau bagaimana wujudnya sampai saat ini sebab yang saya tau Fany lebih sering berkontak via telfon daripada bertemu secara langsung. Ah dasar penikmat tehnologi pikirku, sudah tidak memikirnya yang namanya silaturahmi lagi. Dasar manusia termakan kapitalisme.
Sedikit gambaran tentang Vila milik tante Fany, terdiri dari 4 kamar dengar kamar mandi di dalamnya. Suasananya sangat klasik seperti rumah adat milik suku di Kalimantan entah apa itu namanya saya lupa. Vila itu di jaga oleh 1 tukang kebun, 1 pembantu wanita sebagai pelayan vila dan sekaligus pengelolanya. Orang – orang itu merupakan masyarakat asli daerah puncak yang sengaja di sewa tante Fany untuk merawat vilanya. Udara sejuk, vew yang menawan serta alam hijau seperti di pedesaan lengkap sudah ini pikirku.
Siang sampai sore hari kami habiskan di depan televise bercanda ria ngalor ngidul tertawa terbahak – bahak dengan Stevy sebagai bahan leluconnya. Mulai dari Stevy yang pernah mengenakan mini set sampai foto Stevy yang di gap oleh Fany tengah mengenakan G –String. Dasar sarap betul ini bocah pikirku, otak bukannya di taruh di kepala tapi malah pindah ke pantat. Hingga malam menjelang, kami sepakat untuk membangun tenda atau yang biasa di sebut dom oleh anak pramuka sebagai tempak tidur kami di area luar vila.
Magrib mulai menjelang, malam mulai berganti alam. Kami telah usai dengan tenda yang masing – masing telah kami siapkan. Maka untuk menemani rasa dingin malam itu, saya dan Doni sepakat untuk menyalakan api unggun sebagi penghangatnya. Sedangkan Stevy saya kacungi untuk mencari kayu di reruntuhan pohon. Teoat pukul tuju malam saya telah kelar dengan pembuatan api unggun, dengan di temani kopi dan teh, kami berkumpul di sekitar api unggun untuk mencari kehangatan. Sedangkan Doni yang saya rasa paling dewasa dalam acara liburan ini, maka saya Tanya kepada dia acara apa yang paling enak untuk di lakukan mala mini.
“Don, enaknya ngapain nih, masa Cuma ngumpul di depan api unggun trus ngebakar Stevy” tanyaku pada Doni serta menggoda Stevy.
“hahahaha, boleh tuh ngebakar Stevy, tar gw kasi bumbu rasa soto ayam aja ya Kha. Eh, gimana kalo maen Tantangan atau Pertanyaan ?? berani gak ??” usul Doni seketika.
“itu maenan apaan say, kaya kuda lumping gituh eah, wahahahahaha” Tanya Stevy dengan tololnya.
“lo itu taunya cuma sodom aja stev, stev, dasar otak ga jauh dari slakangan” ujarku sambil gelang – geleng kepala.
“itu lo Stev, semacem adu kejujuran gitu. Jadi kita nyari botol trus di puter kan ya, klo botol itu udah selesai berenti, jadi siapa yang ada di depan botol itu
tar bakal di kasih pertanyaan atau tantangan gitu” jelas Bila dengan cekatan.
“oke, siapah takudt, gw kasi tantangan tar lo pada !!” Stevy pun beranjak mencari botol paling ideal untuk permainan kami tersebut.
Setelah Stevy mendapatkan botol yang bentuknya saya rasa mirip seperti bentuk, maaf sebelumnya. Seperti alat kelamin laki laki dengan ujung botol yang melembung seperti sedang memakai helm, dan saya pun juga tidak habis pikir itu botol prodak apa yang stevy dapatkan.
Putaran pertama di mulai dari Bila terlebih dahulu yang sangat ingin memulainya, dan benar saja ketika ujung botol itu terhenti, tanpa di duga tepat menunjuk arah saya. Maka dengan gembiranya ia pun memulai pertanyaannya yang harus saya jawab dengan jujur dan bijak.
“Kha, siapa saat ini orang yang lo sayangin di hidup lo, gw pengen denger jawaban itu nama cewek !” dengan tegas nan lantang pertanyaan itu tertuju padaku.
Bagaimana saya bisa jujur mengenai perasaan saya kepada mereka jika saat ini gadis yang mulai saya sayangi adalah Jovanda seorang. Maka bisa di pastikan dengan satu jawaban yang saya ucap, bakal bubar sebubar bubarnya acara malam ini. Sambil bingung harus menjawab bagai mana, saya tengah sibuk mencengkram paha Stevy sebagai sasaran empuk untuktempat saya melepas panik.
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
8