- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.9K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1119
6. Menace
Rambut? Checked.
Makeup? Checked.
Elegant dress? Checked.
Emergency tools? Checked.
Dengan puas, kutatap diriku sendiri di cermin.
Ternyata periuk kalau disulap, bisa menjadi vas bunga yang cantik juga.
Aku memang tidak memiliki tampang primadona,
Tapi thanks to makeup setebal 1 inchi yang mendempul dan memoles wajahku,
I look amazing tonight.
Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya untuk apa dan siapa aku bercantik-cantik ria?
Bukankah awalnya aku tidak setuju dengan ide berbahaya Pak Grandy ini?
Tapi jika aku memposisikan diri sebagai beliau,
Rasanya tidak tega untuk mundur dan tutup mata
Sementara harusnya aku bisa membantu lebih.
Maksudku, seandainya pun Dokter Lita tidak kembali rujuk dengan Pak Grandy,
Minimal Pak Grandy bisa menjaga muka di depan keluarga besarnya.
Untuk itu, aku memastikan makeupku hari ini dipoles sekontras mungkin hingga tidak ada yang dapat mengenaliku.
Berjaga-jaga kalau peristiwa ini menjadi gosip berkepanjangan.
Handphoneku berdering, dan nomor tidak dikenal menelpon.
Ternyata taksi yang kupesan sudah tiba di depan rumah.
Dengan hati-hati, aku menuju ke tempat acara diadakan.
Dalam perjalanan, kukirim pesan singkat ke Pak Grandy.
"On the way. Ketemu di mana Pak?"
"Di valet parking aja. Kita masuk bareng, biar meyakinkan."
Aku mengangguk mantapp dan menoleh ke lampu jalanan yang bergerak di sebelah kananku.
Pikiranku melayang ke Sammy.
Setelah acara ini selesai dan suasana kembali tenang, aku akan secepatnya menjelaskan kepada Sammy.
Meskipun Sammy pasti patah hati luar biasa, but What doesn't kill you, makes you stronger.
"Ini pak,..." Aku menyerahkan selembar lima puluh ribuan kepada supir taksi tersebut. "Simpen aja kembaliannya."
Supir tersebut tampak sangat senang dan berterima kasih mendapat tambahan 5 ribu rupiah.
Aku berbalik badan dan berdiri tepat di booth valet parking, menunggu Pak Grandy.
Sambil mengutak-atik handphone, sesekali mencuri pandang ke mobil yang lalu-lalang.
Seperti pepatah, The Boss always comes late, or even last.
Sudah 15 menit acara dimulai, tapi Pak Grandy belum juga tiba.
Heels setinggi 15 cm yang kukenakan mulai menyiksaku.
Perhatian ya, khususnya para pria yang anti menggandeng pasangannya dan hobi berjalan cepat meninggalkan para wanita yang dianggap berjalan 'lelet'.
Wearing heels, is like walking on a stick.
Keseimbangan wanita dituntut meningkat 25 persen dikalikan ketinggian heels itu.
Otot tumit dan betis menegang 4x lipat, dan jempol kaki serasa terparut-parut.
Tentu saja kalkulasi itu adalah teoriku semata.
The point is, wearing high heels is a torture.
"I'm here. Where are you?"
Bola mataku menggelinding mengikuti asal suara tersebut.
Bulu kudukku merinding, menyadari siapa yang baru saja turun dari Yaris berwarna putih.
Aku nyaris kehilangan keseimbangan dan mimisan di tempat memandangnya.
Sammy, versi super keren 20x lipat dibanding biasanya!
Biasanya dia hanya mengenakan kaus oblong, dan kadang kemeja lengan pendek.
Memang penampilannya terlihat tangguh dan rough,
Tapi executive look seperti ini, is like a critical hit to me!
Rambutnya diberi wax wet look, dipadu kemeja bermotif garis vertikal halus berwarna putih-silver dan celana slim fit nya,
Sammy mengantongi kunci mobil di saku jasnya.
Cepat-cepat kusembunyikan wajahku sebelum Sammy mengenalinya.
Beruntung dia langsung melewatiku dan masuk ke building entrance.
Aku sedikit kaget melihat kehadiran Sammy di sini.
Mengapa dia bisa datang?
Jangan-jangan dia kenal dengan kakeknya Pak Grandy juga?
Aku memandang punggung Sammy yang berdiri menjauh.
Tepat saat itu, seseorang menepuk bahuku.
"Maaf, saya terlambat ya?"
Aku tersenyum datar kepada Pak Grandy.
Mencoba untuk bersikap senatural mungkin.
"Pak,....tadi saya lihat ada Sammy. Maksud saya, Samuel. Account Executive kita?"
"Masa? Kenapa dia bisa ada di sini?"
Aku mengangkat bahu dengan wajah menyiratkan kekalutan.
"Ya sudah, nggak apa. Kan hanya Sammy. Dia nggak akan mempertanyakan apakah kita bener pasangan atau enggak. Pasti ujung-ujungnya dia cuma percaya aja bahwa kita benar-benar pasangan. Hahahaa..." Pak Grandy tertawa atas leluconnya sendiri.
Aku? Melongo.
Justru karena itu Sammy makanya gawat!
Apa yang harus kukatakan nanti kepadanya?
Eh iya Sam, hari ini gue jadi pasangan Pak Grandy lho. Meskipun elo naksir berat sama dia, jangan emosi atau marah ya.
Gila!!
Bisa - bisa nanti aku ditabrak olehnya dengan mobil sewaktu berjalan pulang!
Tidak menyadari masalah yang kuhadapi, Pak Grandy menggantungkan lengannya untuk kugandeng.
Karena terpaksa ikut bersandiwara, dengan pahit aku menggandeng lengan beliau.
Meski begitu, aku menjaga langkah sejauh mungkin darinya.
Takut kalau-kalau Sammy memergoki, aku bisa pura-pura langsung melepas gandengan ini.
"Hey, Grandy! Whohoo.... Look who's here!" Seorang eksekutif muda lainnya menepuk bahu Pak Grandy.
"Hey, Tom. How are things?" Pak Grandy menyapa balik.
"Good. But not as good as you, though..." Tom melirik kepadaku. "Girlfriend?"
Pak Grandy hanya tersenyum pura-pura sumringah sambil mengelus punggung tanganku pelan.
Menurutku, seharusnya dia tidak bekerja di Advertising Agency, melainkan jadi aktor.
Akting Pak Grandy sangat natural.
Bahkan terlalu alami dan meyakinkan setaraf pemenang piala Oscar.
Dengan bakat akting alami, pantas saja dia pede ketika mengusulkan sandiwara ini.
"Kemana Daisy?" Pak Grandy mengalihkan topik. "Lagi hamil, kan?"
"Oo, iya. Ada di sana..." Tom menunjuk ke arah sofa dan meja kecil yang disediakan untuk para tamu bersantai.
"Cher, saya nyamperin Daisy dulu ya di sana. Kasihan, lagi hamil gede kalo disuruh ke sini..."
Aku mengangguk saja.
Lagipula, aku tidak punya pilihan lain kan?
Tepat setelah Pak Grandy menjauh, aku memicingkan mata mencari menu catering yg kelihatannya lezat.
Mataku terkunci pada sup asparagus yang terlihat menggoda.
Aku masuk ke antrian dan maju perlahan.
Saat tiba giliranku, pelayan menyodorkan seporsi sup asparagus dengan wadah mangkuk keramik tebal.
Aku menghirup aroma asparagus dan bumbunya yang khas.
Sambil menunggu sup itu mendingin, aku memperhatikan sekeliling.
Aku tidak mengenal satupun orang yang ada di sana.
Kelihatannya tamu yang datang sebagian besar orang penting dan kalangan atas.
Aku jadi bertanya dari keluarga seperti apakah Pak Grandy berasal?
Setelah menghabiskan sup yang kupegang, aku mencari udara segar dan berjalan ke balkon yang berada di sana.
Langit yang berwarna hitam tanpa bintang terhampar di atas kepalaku.
Aku meraih handphone dan memeriksa jika ada pesan masuk dari Pak Grandy.
Aku tidak bisa menemukannya lagi setelah terpisah tadi.
"Chery...?"
Aku menoleh ke samping.
Di sana berdiri wanita dengan gaun satin warna coklat dan rambut disanggul ke belakang.
Sekilas aku blank, sampai akhirnya baru menyadari siapa yang memanggilku.
"Dokter...Lita?"
"Panggil aja Lita. Ini kan bukan di ruang praktek..." Lita tersenyum lembut sambil menghampiriku lebih dekat.
"Ehmm... Lita ke sini, sama siapa?" Aku bertanya grogi.
Shit! Ini bener-bener runyam!
Well, actually ini bagus.
Itu tandanya Lita masih menghargai Pak Grandy.
At least keluarga besarnya, dengan hadir di ulang tahun kakek mertuanya.
Tapi bagaimana aku harus menjelaskan kepada Lita bagaimana aku bisa ada di sini?
"Saya datang sendirian. Kamu?"
Tenggorokanku tercekat.
Baru akan menjawab, handphoneku berdering.
Nama Pak Grandy muncul di sana.
Damn...! Aku benar-benar seperti tikus terjepit di sudut dapur!
Jika tidak kuangkat telepon ini, pasti Pak Grandy sedang bingung mencariku.
Tapi jika kuangkat sekarang...
"Sorry, aku angkat telepon sebentar ya." Aku memutuskan untuk kabur dari Lita.
Sambil belaga berjalan ke arah toilet, aku menempelkan telepon di telingaku.
"Chery, kamu di mana?"
"Pak, gawat! Dok... Maksudnya Lita datang ke pesta ini!"
"Apa? Serius kamu? Tapi kan dia kemarin menolak..."
"Sekarang orangnya lagi di balkon pak. Yang dekat patung es." Aku memberi instruksi.
"Tunggu, jangan ke mana-mana."
Telepon diputus.
Dengan tidak sabaran, aku menunggu Pak Grandy yang tidak muncul-muncul.
Sambil mencuri pandang dari balik pilar besar, aku mengamankan posisi Lita yang masih bertumpu siku di balkon.
"Chery... Di mana Lita?" Pak Grandy muncul dengan air muka tegang.
Aku menunjuk ke arahnya dan Pak Grandy melesat secepat Clark Kent menyelamatkan Lois Lane.
Setitik rasa iri bergaung di hatiku.
If only there's someone who loves me that much...
Ketika bertemu pandang dengan Lita, Pak Grandy langsung menggenggam tangannya.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan, tapi dari ekspresinya seperti Lita ingin secepatnya pergi dari sana.
Pak Grandy menahannya, lalu memeluk Lita tanpa mempedulikan sekeliling.
I swear, this is 1000x sweeter than any romance movies.
They still love each other, yet misunderstanding tear them apart.
"So sweet ya..."
Nafasku tertahan saat Sammy bergumam tepat di sebelah telingaku.
"Shit, Sam! Elo bikin gue jantungan!" Aku refleks memukul lengannya pelan.
"Lagian, ngapain ngintipin orang pacaran! Udah, sini ikut gue aja.!"
Sammy menarik tanganku dan keluar dari ballroom.
Dia tidak mengatakan apapun, hanya ekspresi datar.
Sesampainya di depan valet parking, dia melepas tanganku.
"Tunggu sini."
"Elo mau ngapain?" Akhirnya aku bertanya.
"Nganter elo pulang. Disuruh bos." Sammy menjawab asal.
Nggak butuh cenayang untuk menerka apa yang sedang Sammy pikirkan.
He's angry.
Sejak dulu aku paling jengah berada semobil dengan orang yang sedang emosi.
Salah-salah malah jadi korban kecelakaan maut!
"Naik." Sammy membuka kaca mobil tepat di sebelahnya.
"Ogah. Entar elo ngebut-ngebut..."
"Don't make me do it..." Sammy mengancam akan melakukan sesuatu kalau aku tidak menurut.
"Gue naik taksi aja." Aku tetap kekeuh tidak mau ikut.
Sambil berjalan ke arah yang berlawanan, aku mencari taksi menuju loket parkir.
Sekilas kudengar suara Sammy memanggil-manggil tapi tidak kugubris.
Sesungguhnya, aku juga belum siap untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan Sammy jika kami semobil berdua nanti.
Maksudku, pasti Sammy akan ngamuk besar karena aku pura-pura jadi 'pasangan' dari cowok yang disukainya.
Padahal, aku tahu jelas perasaan Sammy terhadap Pak Grandy.
So, rather than being in a car with an angry lion,
I prefer taxi.
Sekitar 50m berjalan, mendadak sebuah mobil berhenti tepat di depanku.
Literally, di DEPAN.
Sesaat kemudian, turunlah Sammy dari bagian pengemudi.
Ternyata dia memutari gedung ini di jalur mobil.
"Elo apa-apaan sih?" Lagi-lagi Sammy menaikkan nadanya.
"Gue udah bilang, nggak mau dianter elo pulang sekarang. Elo tuh lagi emosi! Dan 85% orang yang ribut di mobil itu pasti ujung-ujungnya kecelakaan!" Aku langsung protes.
"What the hell? This is riddiculous... Yaudah, ini ambil kunci mobil gue. Elo yang nyetir. Puas?!"
Damn, I Love this guy!
Bahkan dalam keadaan emosi pun, Sammy masih bisa mengalah padaku.
Refleks aku melunak dan mengambil kunci mobil itu dari tangannya.
"Tapi gue nggak jago nyetir lho..."
"Mobil gue ada airbag." Sammy melipat tangannya.
"Kalo ditilang?"
"Elo punya SIM kan?!"
"Punya sih... Tapi kalo' gue ngelanggar rambu gimana?"
"Bener-bener...Elo punya stok alesan segudang ya. Get in the car and drive, or shut up and let me drive." Sammy mengultimatum.
Aku memilih opsi pertama dan masuk ke bangku pengemudi.
Setelah memastikan seatbelt terpasang, aku melajukan mobil menuju rumah.
Selama 10 menit, tidak ada percakapan diantara kami.
Aku baru akan menyalakan radio untuk mencairkan suasana, saat Sammy menghentikan tanganku di udara.
"No music. Gue mau ngomong." Sammy mengawali dengan dingin. "Elo tadi ke pesta sama Pak Grandy?"
Aku menelan ludah sambil berusaha konsentrasi pada jalanan.
"Iya..." Aku menjawab lemah. "Tapi enggak seperti yang elo duga."
"I'm listening." Sammy mengijinkanku menjelaskan.
"Pak Grandy, udah pisah ranjang tahunan sama istrinya. Tapi di pesta ini semua keluarganya hadir. Jadi biar kakeknya yang sakit-sakitan itu nggak kuatir Pak Grandy jadi duda kadaluarsa, akhirnya gue nyamar jadi calon barunya."
"You did...what?!"
"Sumpah, cuma nyamar Sam. Gue nggak ada feeling apapun sama dia."
"Kenapa elo nggak bilang sama gue lebih awal?" Terdengar kekcewaan di nadanya.
"Gue nggak tega,..." Aku berkata pahit. "Elo kan suka sama dia, jadi kalo sampe elo tahu dia udah punya istri dan ternyata doyan cewek kan...elo patah hati abis."
"Bukan itu. Gue mah' udah tau dia ngeduda! Orang dulu sering curhat ke gue, sewaktu elo belom kerja di sini!"
Aku melongo lebar.
I am officially the stupidest person in this whole universe!
Bener-bener malu-maluinnnn!
"Maksud gue, kenapa gak cerita bahwa elo nyamar gitu-gitu?"
"Ya, habisnya kan ada kaitannya sama istrinya! Mana gue tau kalo elo udah tau!" Gantian aku yang ngomel. "Uda tau duda, ngapain elo masih naksir?!"
"Err.... Ya kali aja setelah pisah ranjang, baru sadar kalo sebenernya dia lebih suka sesama jenis. Saat itu gue baru maju, dan bikin dia bahagia." Sammy menjelaskan terbata-bata.
Jujur, kalau aku nggak naksir Sammy pasti aku akan freaked out mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.
How can he say something like that frontally?!
Mungkin secara psikologis Sammy bangga menjadi seorang gay?
PR untukku, pulang nanti WAJIB google-ing informasi komplit seputar ini!
"Jadi, elo sebenernya nggak suka sama Pak Grandy?" Sammy mengulang agar yakin.
"Enggak."
"Beneran?"
"Benerannn..."
"Sedikit pun?"
"Nyebelin lo ya! Maunya gue jawab naksir?!" Semprotku lagi.
"Ih...marah mulu..." Sammy tertawa meledekku. "Ya bagus deh kalo ternyata misunderstanding..."
"Gini ya Sam. Mulai detik ini, elo pegang omongan gue. Sedetikpun, gue nggak pernah dan nggak akan pernah naksir si boss! Gue udah punya cowok yang gue taksir sendiri..."
"Siapa?"
"Rahasia dong." Aku menjulurkan lidah.
Sammy dan aku tertawa lepas.
Lega karena sudah terlepas dari beban rahasia soal Pak Grandy,
Lega karena bisa ngobrol seperti biasa dengan Sam,
Dan lega...karena aku mendapatkan satu lagi kesempatan dari Tuhan untuk menikmati waktu bersama Sammy.
"By the way, you look awesomely beautiful and hot tonight." Sammy memujiku tepat sebelum dia menurunkanku di depan rumah.
Argghhh...dasar Reseee!!
Kalimat terakhirnya untuk menutup hari ini,
Sukses membuatku tersengat listrik 1000volt dan senyum-senyum sendirian.
Makeup? Checked.
Elegant dress? Checked.
Emergency tools? Checked.
Dengan puas, kutatap diriku sendiri di cermin.
Ternyata periuk kalau disulap, bisa menjadi vas bunga yang cantik juga.
Aku memang tidak memiliki tampang primadona,
Tapi thanks to makeup setebal 1 inchi yang mendempul dan memoles wajahku,
I look amazing tonight.
Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya untuk apa dan siapa aku bercantik-cantik ria?
Bukankah awalnya aku tidak setuju dengan ide berbahaya Pak Grandy ini?
Tapi jika aku memposisikan diri sebagai beliau,
Rasanya tidak tega untuk mundur dan tutup mata
Sementara harusnya aku bisa membantu lebih.
Maksudku, seandainya pun Dokter Lita tidak kembali rujuk dengan Pak Grandy,
Minimal Pak Grandy bisa menjaga muka di depan keluarga besarnya.
Untuk itu, aku memastikan makeupku hari ini dipoles sekontras mungkin hingga tidak ada yang dapat mengenaliku.
Berjaga-jaga kalau peristiwa ini menjadi gosip berkepanjangan.
Handphoneku berdering, dan nomor tidak dikenal menelpon.
Ternyata taksi yang kupesan sudah tiba di depan rumah.
Dengan hati-hati, aku menuju ke tempat acara diadakan.
Dalam perjalanan, kukirim pesan singkat ke Pak Grandy.
"On the way. Ketemu di mana Pak?"
"Di valet parking aja. Kita masuk bareng, biar meyakinkan."
Aku mengangguk mantapp dan menoleh ke lampu jalanan yang bergerak di sebelah kananku.
Pikiranku melayang ke Sammy.
Setelah acara ini selesai dan suasana kembali tenang, aku akan secepatnya menjelaskan kepada Sammy.
Meskipun Sammy pasti patah hati luar biasa, but What doesn't kill you, makes you stronger.
"Ini pak,..." Aku menyerahkan selembar lima puluh ribuan kepada supir taksi tersebut. "Simpen aja kembaliannya."
Supir tersebut tampak sangat senang dan berterima kasih mendapat tambahan 5 ribu rupiah.
Aku berbalik badan dan berdiri tepat di booth valet parking, menunggu Pak Grandy.
Sambil mengutak-atik handphone, sesekali mencuri pandang ke mobil yang lalu-lalang.
Seperti pepatah, The Boss always comes late, or even last.
Sudah 15 menit acara dimulai, tapi Pak Grandy belum juga tiba.
Heels setinggi 15 cm yang kukenakan mulai menyiksaku.
Perhatian ya, khususnya para pria yang anti menggandeng pasangannya dan hobi berjalan cepat meninggalkan para wanita yang dianggap berjalan 'lelet'.
Wearing heels, is like walking on a stick.
Keseimbangan wanita dituntut meningkat 25 persen dikalikan ketinggian heels itu.
Otot tumit dan betis menegang 4x lipat, dan jempol kaki serasa terparut-parut.
Tentu saja kalkulasi itu adalah teoriku semata.
The point is, wearing high heels is a torture.
"I'm here. Where are you?"
Bola mataku menggelinding mengikuti asal suara tersebut.
Bulu kudukku merinding, menyadari siapa yang baru saja turun dari Yaris berwarna putih.
Aku nyaris kehilangan keseimbangan dan mimisan di tempat memandangnya.
Sammy, versi super keren 20x lipat dibanding biasanya!
Biasanya dia hanya mengenakan kaus oblong, dan kadang kemeja lengan pendek.
Memang penampilannya terlihat tangguh dan rough,
Tapi executive look seperti ini, is like a critical hit to me!
Rambutnya diberi wax wet look, dipadu kemeja bermotif garis vertikal halus berwarna putih-silver dan celana slim fit nya,
Sammy mengantongi kunci mobil di saku jasnya.
Cepat-cepat kusembunyikan wajahku sebelum Sammy mengenalinya.
Beruntung dia langsung melewatiku dan masuk ke building entrance.
Aku sedikit kaget melihat kehadiran Sammy di sini.
Mengapa dia bisa datang?
Jangan-jangan dia kenal dengan kakeknya Pak Grandy juga?
Aku memandang punggung Sammy yang berdiri menjauh.
Tepat saat itu, seseorang menepuk bahuku.
"Maaf, saya terlambat ya?"
Aku tersenyum datar kepada Pak Grandy.
Mencoba untuk bersikap senatural mungkin.
"Pak,....tadi saya lihat ada Sammy. Maksud saya, Samuel. Account Executive kita?"
"Masa? Kenapa dia bisa ada di sini?"
Aku mengangkat bahu dengan wajah menyiratkan kekalutan.
"Ya sudah, nggak apa. Kan hanya Sammy. Dia nggak akan mempertanyakan apakah kita bener pasangan atau enggak. Pasti ujung-ujungnya dia cuma percaya aja bahwa kita benar-benar pasangan. Hahahaa..." Pak Grandy tertawa atas leluconnya sendiri.
Aku? Melongo.
Justru karena itu Sammy makanya gawat!
Apa yang harus kukatakan nanti kepadanya?
Eh iya Sam, hari ini gue jadi pasangan Pak Grandy lho. Meskipun elo naksir berat sama dia, jangan emosi atau marah ya.
Gila!!
Bisa - bisa nanti aku ditabrak olehnya dengan mobil sewaktu berjalan pulang!
Tidak menyadari masalah yang kuhadapi, Pak Grandy menggantungkan lengannya untuk kugandeng.
Karena terpaksa ikut bersandiwara, dengan pahit aku menggandeng lengan beliau.
Meski begitu, aku menjaga langkah sejauh mungkin darinya.
Takut kalau-kalau Sammy memergoki, aku bisa pura-pura langsung melepas gandengan ini.
"Hey, Grandy! Whohoo.... Look who's here!" Seorang eksekutif muda lainnya menepuk bahu Pak Grandy.
"Hey, Tom. How are things?" Pak Grandy menyapa balik.
"Good. But not as good as you, though..." Tom melirik kepadaku. "Girlfriend?"
Pak Grandy hanya tersenyum pura-pura sumringah sambil mengelus punggung tanganku pelan.
Menurutku, seharusnya dia tidak bekerja di Advertising Agency, melainkan jadi aktor.
Akting Pak Grandy sangat natural.
Bahkan terlalu alami dan meyakinkan setaraf pemenang piala Oscar.
Dengan bakat akting alami, pantas saja dia pede ketika mengusulkan sandiwara ini.
"Kemana Daisy?" Pak Grandy mengalihkan topik. "Lagi hamil, kan?"
"Oo, iya. Ada di sana..." Tom menunjuk ke arah sofa dan meja kecil yang disediakan untuk para tamu bersantai.
"Cher, saya nyamperin Daisy dulu ya di sana. Kasihan, lagi hamil gede kalo disuruh ke sini..."
Aku mengangguk saja.
Lagipula, aku tidak punya pilihan lain kan?
Tepat setelah Pak Grandy menjauh, aku memicingkan mata mencari menu catering yg kelihatannya lezat.
Mataku terkunci pada sup asparagus yang terlihat menggoda.
Aku masuk ke antrian dan maju perlahan.
Saat tiba giliranku, pelayan menyodorkan seporsi sup asparagus dengan wadah mangkuk keramik tebal.
Aku menghirup aroma asparagus dan bumbunya yang khas.
Sambil menunggu sup itu mendingin, aku memperhatikan sekeliling.
Aku tidak mengenal satupun orang yang ada di sana.
Kelihatannya tamu yang datang sebagian besar orang penting dan kalangan atas.
Aku jadi bertanya dari keluarga seperti apakah Pak Grandy berasal?
Setelah menghabiskan sup yang kupegang, aku mencari udara segar dan berjalan ke balkon yang berada di sana.
Langit yang berwarna hitam tanpa bintang terhampar di atas kepalaku.
Aku meraih handphone dan memeriksa jika ada pesan masuk dari Pak Grandy.
Aku tidak bisa menemukannya lagi setelah terpisah tadi.
"Chery...?"
Aku menoleh ke samping.
Di sana berdiri wanita dengan gaun satin warna coklat dan rambut disanggul ke belakang.
Sekilas aku blank, sampai akhirnya baru menyadari siapa yang memanggilku.
"Dokter...Lita?"
"Panggil aja Lita. Ini kan bukan di ruang praktek..." Lita tersenyum lembut sambil menghampiriku lebih dekat.
"Ehmm... Lita ke sini, sama siapa?" Aku bertanya grogi.
Shit! Ini bener-bener runyam!
Well, actually ini bagus.
Itu tandanya Lita masih menghargai Pak Grandy.
At least keluarga besarnya, dengan hadir di ulang tahun kakek mertuanya.
Tapi bagaimana aku harus menjelaskan kepada Lita bagaimana aku bisa ada di sini?
"Saya datang sendirian. Kamu?"
Tenggorokanku tercekat.
Baru akan menjawab, handphoneku berdering.
Nama Pak Grandy muncul di sana.
Damn...! Aku benar-benar seperti tikus terjepit di sudut dapur!
Jika tidak kuangkat telepon ini, pasti Pak Grandy sedang bingung mencariku.
Tapi jika kuangkat sekarang...
"Sorry, aku angkat telepon sebentar ya." Aku memutuskan untuk kabur dari Lita.
Sambil belaga berjalan ke arah toilet, aku menempelkan telepon di telingaku.
"Chery, kamu di mana?"
"Pak, gawat! Dok... Maksudnya Lita datang ke pesta ini!"
"Apa? Serius kamu? Tapi kan dia kemarin menolak..."
"Sekarang orangnya lagi di balkon pak. Yang dekat patung es." Aku memberi instruksi.
"Tunggu, jangan ke mana-mana."
Telepon diputus.
Dengan tidak sabaran, aku menunggu Pak Grandy yang tidak muncul-muncul.
Sambil mencuri pandang dari balik pilar besar, aku mengamankan posisi Lita yang masih bertumpu siku di balkon.
"Chery... Di mana Lita?" Pak Grandy muncul dengan air muka tegang.
Aku menunjuk ke arahnya dan Pak Grandy melesat secepat Clark Kent menyelamatkan Lois Lane.
Setitik rasa iri bergaung di hatiku.
If only there's someone who loves me that much...
Ketika bertemu pandang dengan Lita, Pak Grandy langsung menggenggam tangannya.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan, tapi dari ekspresinya seperti Lita ingin secepatnya pergi dari sana.
Pak Grandy menahannya, lalu memeluk Lita tanpa mempedulikan sekeliling.
I swear, this is 1000x sweeter than any romance movies.
They still love each other, yet misunderstanding tear them apart.
"So sweet ya..."
Nafasku tertahan saat Sammy bergumam tepat di sebelah telingaku.
"Shit, Sam! Elo bikin gue jantungan!" Aku refleks memukul lengannya pelan.
"Lagian, ngapain ngintipin orang pacaran! Udah, sini ikut gue aja.!"
Sammy menarik tanganku dan keluar dari ballroom.
Dia tidak mengatakan apapun, hanya ekspresi datar.
Sesampainya di depan valet parking, dia melepas tanganku.
"Tunggu sini."
"Elo mau ngapain?" Akhirnya aku bertanya.
"Nganter elo pulang. Disuruh bos." Sammy menjawab asal.
Nggak butuh cenayang untuk menerka apa yang sedang Sammy pikirkan.
He's angry.
Sejak dulu aku paling jengah berada semobil dengan orang yang sedang emosi.
Salah-salah malah jadi korban kecelakaan maut!
"Naik." Sammy membuka kaca mobil tepat di sebelahnya.
"Ogah. Entar elo ngebut-ngebut..."
"Don't make me do it..." Sammy mengancam akan melakukan sesuatu kalau aku tidak menurut.
"Gue naik taksi aja." Aku tetap kekeuh tidak mau ikut.
Sambil berjalan ke arah yang berlawanan, aku mencari taksi menuju loket parkir.
Sekilas kudengar suara Sammy memanggil-manggil tapi tidak kugubris.
Sesungguhnya, aku juga belum siap untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan Sammy jika kami semobil berdua nanti.
Maksudku, pasti Sammy akan ngamuk besar karena aku pura-pura jadi 'pasangan' dari cowok yang disukainya.
Padahal, aku tahu jelas perasaan Sammy terhadap Pak Grandy.
So, rather than being in a car with an angry lion,
I prefer taxi.
Sekitar 50m berjalan, mendadak sebuah mobil berhenti tepat di depanku.
Literally, di DEPAN.
Sesaat kemudian, turunlah Sammy dari bagian pengemudi.
Ternyata dia memutari gedung ini di jalur mobil.
"Elo apa-apaan sih?" Lagi-lagi Sammy menaikkan nadanya.
"Gue udah bilang, nggak mau dianter elo pulang sekarang. Elo tuh lagi emosi! Dan 85% orang yang ribut di mobil itu pasti ujung-ujungnya kecelakaan!" Aku langsung protes.
"What the hell? This is riddiculous... Yaudah, ini ambil kunci mobil gue. Elo yang nyetir. Puas?!"
Damn, I Love this guy!
Bahkan dalam keadaan emosi pun, Sammy masih bisa mengalah padaku.
Refleks aku melunak dan mengambil kunci mobil itu dari tangannya.
"Tapi gue nggak jago nyetir lho..."
"Mobil gue ada airbag." Sammy melipat tangannya.
"Kalo ditilang?"
"Elo punya SIM kan?!"
"Punya sih... Tapi kalo' gue ngelanggar rambu gimana?"
"Bener-bener...Elo punya stok alesan segudang ya. Get in the car and drive, or shut up and let me drive." Sammy mengultimatum.
Aku memilih opsi pertama dan masuk ke bangku pengemudi.
Setelah memastikan seatbelt terpasang, aku melajukan mobil menuju rumah.
Selama 10 menit, tidak ada percakapan diantara kami.
Aku baru akan menyalakan radio untuk mencairkan suasana, saat Sammy menghentikan tanganku di udara.
"No music. Gue mau ngomong." Sammy mengawali dengan dingin. "Elo tadi ke pesta sama Pak Grandy?"
Aku menelan ludah sambil berusaha konsentrasi pada jalanan.
"Iya..." Aku menjawab lemah. "Tapi enggak seperti yang elo duga."
"I'm listening." Sammy mengijinkanku menjelaskan.
"Pak Grandy, udah pisah ranjang tahunan sama istrinya. Tapi di pesta ini semua keluarganya hadir. Jadi biar kakeknya yang sakit-sakitan itu nggak kuatir Pak Grandy jadi duda kadaluarsa, akhirnya gue nyamar jadi calon barunya."
"You did...what?!"
"Sumpah, cuma nyamar Sam. Gue nggak ada feeling apapun sama dia."
"Kenapa elo nggak bilang sama gue lebih awal?" Terdengar kekcewaan di nadanya.
"Gue nggak tega,..." Aku berkata pahit. "Elo kan suka sama dia, jadi kalo sampe elo tahu dia udah punya istri dan ternyata doyan cewek kan...elo patah hati abis."
"Bukan itu. Gue mah' udah tau dia ngeduda! Orang dulu sering curhat ke gue, sewaktu elo belom kerja di sini!"
Aku melongo lebar.
I am officially the stupidest person in this whole universe!
Bener-bener malu-maluinnnn!
"Maksud gue, kenapa gak cerita bahwa elo nyamar gitu-gitu?"
"Ya, habisnya kan ada kaitannya sama istrinya! Mana gue tau kalo elo udah tau!" Gantian aku yang ngomel. "Uda tau duda, ngapain elo masih naksir?!"
"Err.... Ya kali aja setelah pisah ranjang, baru sadar kalo sebenernya dia lebih suka sesama jenis. Saat itu gue baru maju, dan bikin dia bahagia." Sammy menjelaskan terbata-bata.
Jujur, kalau aku nggak naksir Sammy pasti aku akan freaked out mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.
How can he say something like that frontally?!
Mungkin secara psikologis Sammy bangga menjadi seorang gay?
PR untukku, pulang nanti WAJIB google-ing informasi komplit seputar ini!
"Jadi, elo sebenernya nggak suka sama Pak Grandy?" Sammy mengulang agar yakin.
"Enggak."
"Beneran?"
"Benerannn..."
"Sedikit pun?"
"Nyebelin lo ya! Maunya gue jawab naksir?!" Semprotku lagi.
"Ih...marah mulu..." Sammy tertawa meledekku. "Ya bagus deh kalo ternyata misunderstanding..."
"Gini ya Sam. Mulai detik ini, elo pegang omongan gue. Sedetikpun, gue nggak pernah dan nggak akan pernah naksir si boss! Gue udah punya cowok yang gue taksir sendiri..."
"Siapa?"
"Rahasia dong." Aku menjulurkan lidah.
Sammy dan aku tertawa lepas.
Lega karena sudah terlepas dari beban rahasia soal Pak Grandy,
Lega karena bisa ngobrol seperti biasa dengan Sam,
Dan lega...karena aku mendapatkan satu lagi kesempatan dari Tuhan untuk menikmati waktu bersama Sammy.
"By the way, you look awesomely beautiful and hot tonight." Sammy memujiku tepat sebelum dia menurunkanku di depan rumah.
Argghhh...dasar Reseee!!
Kalimat terakhirnya untuk menutup hari ini,
Sukses membuatku tersengat listrik 1000volt dan senyum-senyum sendirian.
0