Ketika orang2 menolong ku mengeluarkan dari kolong bus. Aku memikirkan keadaan sepeda, apakah rusak parah? Apakah lecet2? Apa yg harus aku katakan kepada pemiliknya nanti?
Quote:
"Teu kunanaon Neng? (Gak kenapa Neng)"
Aku : "Sepedanyaaa??"
"Muhun2...cik bawa kadieu heula.. Aduuh budak saha ieu nyak? Wawuh teu jang? (Iya2..coba bawa kesini dulu.. Aduuh anak siapa ini ya? Kenal gak mas?)"
"Eta atuh...sapedana cing teh kapinggirkeun heula.. (Itu sepedanya di kepinggirin dulu..)"
"Rumahnya dimana Neng?"
Aku : "Hah?"
"Iyaa...rumah2.. Rumahnya dimana?"
Aku : "Disana...yg ada mebelnya.."
"Mebel?"
"Karunya nyak? Budak saha eta teh? (Kasian ya? Anak siapa itu?)"
"Kumaha atuh ieu teh? Anterkeun weh kitu ka imahna? Tingali kakina getihan kitu, tuh tanganna lecet2 saeutik mah.. (Gimana donk ini? Anterin aja apa ke rumahnya? Liat kakinya berdarah gitu, tuh tangannya lecet2 sedikit..)"
"Mebelnya yg deket Organda itu bukan Neng?"
Aku : "Iyaaa... Aduuuh.."
"Sakit ya Neng? Cik mana2 yg sakitnya?"
Aku : "Ini, tangan kanan.."
"Kudu dibawa ka puskesmas ieu mah, sieu aya nanaon.. (Harus dibawa ke puskesmas ini, takutnya ada apa2..)"
Lalu sebuah mobil bak yg sedang mengangkut lemari melintas di tengah2 keramaian orang. Itu adalah mobil Uwa, suaminya Uwa Yen. Dari raut wajahnya seperti mencari tahu kejadian apa yg baru saja terjadi.
Quote:
"Le..Sule...ieu dulur maneh lain? (Le..Sule..ini sodara kamu bukan?)"
Uwa : "Saha euy? Saha? (Siapa sih? Siapa?)"
"Cik punten2... (Permisi2)"
Uwa : "He'euh ieu mah dulur aing.. (Iya..itu sodara saya..)"
"Ceuk aing ge, eta mah dulur si Sule.. (Kata saya juga, dia tuh sodaranya si Sule)"
"Geus bawa heula ka puskesmaslah.. (Udah bawa dulu aja ke puskesmas)"
Uwa : "He'euh..bawa heula.. Ke urang nyusul, urang bejaan heula indung-bapana.. (Iya..bawa dulu.. Nanti saya nyusul, mau ngasih tau dulu ibu-bapaknya)"
Aku : "Huaaaa...huuuaaaaaa...sakiiiiit...."
Selesai diperiksa oleh dokter, hasilnya menunjukkan bahwa tangan kanan ku retak. Aku tidak diperbolehkan mengangkat beban yg terlalu berat. Ketika mendengar keterangan dari dokter, pikiran ku tertuju pada Bunda.
Apa mungkin aku bisa membatasi aktifitas sehari2 di rumah?
Tak lama kemudian Ayah tiba di puskesmas. Menanyakan bagaimana hasil pemeriksaannya. Dan mendapati kondisi tangan ku yg diperban, saat itu aku masih menangis merasakan sakit. Beberapa orang yg mengantar ku segera berpamit kepada Ayah.
Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan karena aku diberi kesempatan hidup setelah mengalami kecelakaan ini. Dan aku tidak akan sembarangan minjem sepeda lagi tanpa seizin pemiliknya.