Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.1K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#48
Bulat dan Persegi - Bagian III

Perasaan gue nggak nyaman semenjak tadi malam. Pikiran gue di ganggu oleh beberapa pikiran yang hanya akan membuat gue patah semangat.

Ah, apakah baik jika gue terus seperti ini?

Matahari, angin, hujan, dan langit menyaksikan kegalauan gue di kala siang itu. Gue beralih posisi dari berbaring di atas kasur jadi duduk di karpet. Gue buka lemari gue dengan pikiran kosong. Gue menemukan selembar kertas puisi. Dan, di saat itu juga gue pergi ke kosan Karin.

Tok Tok Tok

Malam itu gue ketuk pintu kamar di pojokan itu. Inilah kedua kalinya gue ke sini. Berharap sosok yang membukakan pintu itu sedang tersenyum.

"Eh, Bagas ada apa? Tumben." Ujarnya dengan wajah datar.

Walaupun jantung gue saat itu berdetak dengan kencang, perasaan gue kalut nggak karuan, gue tetap paksakan bibir gue ini untuk menyimpulkan senyum walaupun di hati rasanya perih tak menentu.

"Lagi apa lu?"

"Lagi teleponan, udah dulu ya, ada Bagas... Bye, Rei!" Ujarnya kepada gue lalu mematikan teleponnya. Gue semakin merasa perih mengetahui mereka teleponan di belakang gue.

"Hehe, maaf ya ganggu. Gue kan janji bakal periksain puisi gue ke elu, mau nggak?" Tanya gue dengan kondisi hati seperti dicabik-cabik.

Dia menatap lembaran di tangan gue itu, lama tanpa jawaban.

"Sekalian gue mau ngedit video di sini. Boleh, ya." Lanjut gue agak sedikit memaksanya. Hari ini gue berencana bilang kalo hati gue sekarang adalah miliknya.

"M-m-maaf, aku nggak jago menilai puisi. Apalagi puisi cinta. Video? Buat apa?"

"Yeeah, baca dulu deh. Ibu gue ulang tahun besok lusa. Gue mau ngasih kado sekalian gue sisipin puisi dan video klip gitu." Ujar gue mengangkat kertas puisi itu ke depan wajahnya. Sampai di sini, gue masih belum diizinkan masuk ke kamarnya.

"Ibu?" Dia bertanya seakan dia heran, dan mengambil kertas yang tadi gue angkat.

Matanya mulai membaca dari judul, hingga ke akhir puisi. Dan, yes, akhirnya dia tersenyum.

Seolah seperti nikotin candu yang masuk ke setiap aliran darah gue, badan gue rasanya panas dingin. Indah sekali melihat senyuman itu. Membuat bibir gue juga refleks memberikan sebuah senyuman.

"Haha, buat Ibu, ya... Masuk, Gas emoticon-Smilie" Ujarnya masih memegang kertas itu dan mempersilahkan gue masuk. Dia duduk di kasurnya sambil menghayati puisi gue.

Gue duduk dan mengeluarkan laptop tanpa berani menoleh ke samping, ke arahnya. Jantung gue semakin cepat berdetak. Ingin rasanya mengatakannya sekarang, rasanya ini adalah momennya. Bahwa gue suka sama dia.

Hingga ketika Windows Start Up gue menyala, gue memberanikan diri melihat ke samping.

Karin menangis tanpa isakan. Aliran air matanya yang turun bergantian sambil tersenyum lebar itu membuat kosong pikiran gue yang tadi sudah menyusun kalimat pernyataan cinta.

Senyum yang dia tunjukkan sekarang, sama indahnya dengan senyumannya kemarin di Kedai Dena. Namun, hati gue berkata rasa dari senyuman itu berbeda.

"Jiaah, Karin nangis. Bagus ya, puisinya."

"Iyaaa! emoticon-Peluk" Jawabnya sambil mengusap air mata. Dia tertawa kecil melihat gue.

Pertama kalinya gue menatap mata seorang wanita sedalam itu. Gue lap air matanya yang tersisa dengan tangan gue. Mungkin dia bisa mendengar detak jantung gue dari nadi gue yang menempel di pipinya.

"Bla... bla... bla...." Sebuah suara musik berbahasa Korea yang susah gue terjemahkan, tiba-tiba terdengar.

"Halo, Rei... Iya, masih ada... Ah? Enggak, aku enggak nangis. Tutttt."

Gue mendengar telepon itu dimatikan. Beberapa saat kemudian...

Tokk tokk

Pintu kamar Karin yang terbuka, diketuk oleh Rei. Dia masuk, memandangi Karin yang sedang mengelap air matanya.

Dengan wajah khawatir Rei bertanya, "Kamu kenapa?"

"Haha... kamu, kenapa kesini... ini Bagas bikin puisi buat ulang tahun ibunya... Bagus! emoticon-Big Grin" Karin memberikan kertas itu pada Rei agar dia bisa membacanya.

"Ohh, selamat ulang tahun ya... Semoga sehat selalu dan panjang umur. Tolong sampaikan ke nyokap lu. emoticon-Smilie" Ujar Rei.

Wahhh emoticon-Embarrassment Rei, cara dia bicara memang sangat keren. Melihat gesture dan perawakan Rei yang 'indah', sebagai seorang cowok dan saingan, gue merasa down. Hmm, nggak mungkin gue bisa... Enggak mungkin gue menang. Gue menutup laptop gue.

"Oke, Rei. Thanks doanya. emoticon-Big Grin By the way, gue balik dulu ya! Sorry tadi gue ganggu lu bedua telponan." Ujar gue, sirik.

"Haha, santai, brader."

Tanpa ekspresi gue beranjak menuju pintu. Gue pamit dan berjalan dalam pasrah. Di bawah langit malam ini, gue nggak tau mesti apa.

"Bagasss!!!"

Tiba tiba ada yang memanggil gue. Dengan baju tidurnya, gadis itu berlari. Badannya yang sedikit lebih pendek dari gue membuat dia harus menjinjit untuk melingkarkan sebuah pelukan di pundak gue. Entah kenapa dia menangis, dan dia mengusapkan tangisan itu di bahu gue.

Gue terdiam, berdiri tegak sambil menepuk-nepuk punggungnya. Gue bisa mendengar detak jantungnya. Detak jantung kami seirama, seolah sedang berbicara satu sama lain.

Rei dengan matanya yang tak berkedip sedikit pun, menatap kami sedari tadi.

======



Dear Diary,
Aku hampir kehilangan dia ketika aku melihatnya bertemu dengan Nino beberapa hari yang lalu.
Aku tiba-tiba merasa jauh darinya ketika Nino meminta nomernya padaku.
Lalu, aku temukan dia sangat indah ketika menuliskan puisi untuk orang lain.

Aku meresa cemburu.
Mungkin, dia juga sama.

Aku akan memberikan lebih dari sekadar 'senyuman' untuknya. Aku akan berikan hatiku. Melalui pelukan tadi dan air mataku, aku harap dia tahu bahwa aku menyukainya.


Diubah oleh OblOOOOOOO 19-11-2021 10:12
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.