Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.2K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#45
Bulat dan Persegi - Bagian II

Gue balik ke kamar gue. Berbaring di atas kasur, bersiap untuk tidur. Namun aroma shampoo Karin masih tertinggal di bantal gue. Mata gue pun menerawang ke langit-langit kamar, sedangkan hati gue melayang ke dunia khayalan.

Gue tersenyum-senyum sendiri, membayangkan senyum Karin setelah kecupan tadi, sambil gue tutupi badan gue dengan selimut. Guling gue peluk dengan erat, seperti orang gila. Inikah kasmaran?

Malam berlanjut semakin malam, gue tetap nggak bisa tidur. Memikirkan sejuta harapan dari rasa yang telah gue genggam. Ada baiknya gue menganggapnya bukan sebagai sahabat, pikir gue. Gue harus percaya diri! Lampu hijau sudah!

Gue pun mulai melontarkan jurus-jurus PDKT, pertama, dimuali dari me-SMS-nya malam itu.

"Rin, Aku bisa tidur nih, gimana dong? Gara-gata kamu nih, aku kepikiran kamu terus .emoticon-Big Grin" Sent!

Gue taruh kembali ponsel gue, dan kembali melanjutkan perjalanan ke dunia khayalan. Namun sayangnya, waktu dan fisik gue tidak bersahabat. Gue terlelap seketika.

Kamis, 6 Oktober 2011

Setelah gue bangun pagi dan mengecek ponsel gue ternyata ada SMS

"Hehe emoticon-Embarrassment Basi gombalnya. emoticon-Big Grin"

Gue tersenyum. Namun karena menyadari SMS itu received tadi malam, gue mengurungkan niat untuk melanjutkan dengan topik yang sama. Gue mulai mengalihkan topik.

"Sorry, my girl! Tadi malam gue ketiduran. Hehe emoticon-Big Grin Eh, adakah kesempatan buatku untuk mengajakmu balik bareng entar? Udah lama nggak ke kosan lu emoticon-Smilie"

"Huuu dasar! Penggombal sialan emoticon-Big Grin Padahal sudah kutunggu gombalan kreatif darimu! Hmm, baiklah baginda. Kali ini akan kuberikan kesempatan. Hihi."

"Terus kalo ‘kali lain’ gimana?"

"Oo, kalau itu tergantung, baginda… Huhu. emoticon-Big Grin"

"Tergantung apa nich? emoticon-Bingung (S)" Sent!

Gue kira gue bakal terus SMS-an. Namun sayangnya balasan gue itu menjadi SMS terakhir bagi kami pagi itu. Bahkan selepas mandi, ganti pakaian, pakai sepatu, gue pasti mengecek ponsel. Tapi, nihil. Belum ada balasan.

Hingga sebelum masuk kelas pun, gue sempatkan mengecek ponsel. Namun tetap nihil. Dengan kesabaran ekstra yang gue miliki akibat kecupan tadi malam, gue menunggu hingga datangnya siang.

Gue masuk kelas, istirahat, dan detik jam pun sudah menunjukkan angka 12.

Drtttttt, drrrrtttt... Ponsel gue bergetar.

"Gas, maaf ya. Aku nggak bisa kayaknya. Aku ada acara dadakan. emoticon-Sorry"

Seketika gue baca SMS itu. Rasanya seperti kau telah terbang tinggi lalu dihempaskan jatuh.

Sakit, jantung ini seperti diremas oleh genggaman yang tak terlihat. Namun, dengan sisa harapan yang masih ada, gue membalas SMS itu.

"Ohh, acara apa? Yaudah lain kali ya." Sent! emoticon-Frown

Entah kenapa gue bener bener kecewa. Mungkin gue sudah mulai jatuh cinta, namun gue masih membohongi diri gue, bahwa belum merasakan apa-apa. Untung saja, tarian dedaunan bersama angin siang itu, bisa menenangkan kerusuhan hati gue sejenak. Indah.

Hingga esok hari pun tiba. Seberapa kuat willing gue untuk melupakan hal itu, semakin kuat pula dorongan kerinduan gue untuk mendapati senyumnya kembali. Gue tahan… tahan terus untuk tidak SMS duluan. Berharap akan kedatangan SMS dari dia duluan, yang mungkin tak akan pernah datang. Dan tepat sekali! Sampai senja menyapa, notifikasi ponsel gue, masih belum menunjukkan tanda-tanda adanya SMS masuk dari dia.

Dummm tak dummm tak! I want youuuuuu! I neeedddd youuu! Ponsel gue berdering. Waktu menunjukkan sudah pukul 8 malam.

Sebelum menatap ke layar ponsel, gue berpikir bahwa itu pasti nomer ibu gue. Namun, malam nomer tak dikenal yang ada di layar ponsel gue. emoticon-Bingung (S)

On Phone

"Halo, Assalamu'alaikum?" Ujar gue.

"Halo, BAGAS! Ke Kedai Dena sekarang! Kita lagi makan. HUHU! emoticon-Big Grin" Suara di balik telepon itu sepertinya gue kenal. Agak cempreng, tapi kemayu.

"Ini siapa?" Tanya gue untuk memastikan.

"Yee! Nino... Nino.... Rame nih. Buru yak!" Ujarnya lalu telepon itu di matikan.

Anjir, apaan dah. Banyak yang pengin gue tanyain, apa dia bareng Karin? Si Rei ada juga nggak? Ngapain kalian disana? Namun karena telepon di matikan sepihak, gue jadi malas beranjak dari posisi gue sekarang. Di atas kasur.

"Eh, monyet! Gue peduli sama lo, nih! Kesini, nggak lo!" Tiba-tiba nomer tadi SMS gue.

"Eh, kera! Iye iye. Sabar." Entah kenapa gue menjawab seperti itu. Seperti ada dorongan buat ikut memberikan julukan. Dan, entah kenapa Nino terasa akrab bagi gue. Mungkin karena sikapnya yang easy-going kali, ya.

Karena sudah terlanjur bilang iya, gue nggak ada pilihan selain meminjam motor Ihsan dan berangkat ke Kedai Dena. Ada dua Kedai Dena di sini, satu dekat kampus, satu dekat kosan. Dan setelah gue mengunjungi Kedai Dena yang dekat kosan, gue tidak menemukan keberadaan mereka. Oh, pastinya mereka ada di Kedai Dena yang dekat kampus.

"Hoi, sorry telat!" Sapa gue menghampiri dua wajah yang gue kenal. Gue lihat disana ada lima orang. Yang gue kenal hanya Karin dan Nino.

"Hoi, Gas! Nih, kenalin ini teman gue dan Karin. Namanya Bagas, anak FMIPA. Gas, kenalin ini Kak Rei, nih Maki, nih Rio anak FIKOM." Nino mengode dengan matanya saat mengenalkan Rei.

Dengan senyuman ramah, gue salam mereka satu-satu. Setelahnya, Rei, melihat gue dengan mimik curiga. Mungkin dia sudah mengira, bahwa gue lah yang ngedeketin Karin.

Gue duduk di samping kanan Nino. Karin duduk samping kiri Nino, dan Rei depan Karin. Maki dan Rio duduk di samping kiri Rei.

"Besok kamu kuliah?" Tanya Rei menatap Karin dengan penuh cinta. Gue memperhatikan dari tempat duduk gue. Nino, asik makan sambil mainin ponselnya. emoticon-Mad (S)

Suasana di sana sedikit berisik, dan suasana hati gue lebih berisik lagi. Pengin tuh gue suruh Nino buat minggir biar gue duduk di samping Karin dan di saat itu juga gue deklarasikan cinta. Namun, semuanya nggak akan gunannya. Malah akan berujung pada rasa malu.

"Hmm, iya… Kak Rei? By the way, kemarin makasih ya, seru banget. Eh, itu yang kemarin pacarnya Zet?" Jawab Karin dengan senyuman lebar. Gue merasa iri. Kemarin gue malah ketemu si cunguk Nino dan galau sendiri.

Dalam hati gue hanya ternganga, senyuman itu seperti dipenuhi rasa nyaman dan cinta. Senyuman yang sepertinya belum pernah dia kasih buat gue.

"Mau gantian tempat duduk nggak?" Bisik Nino ke telinga gue ketika dia mendapati gue memperhatikan Karin dan Rei dengan mata cemburu. Nino dekat banget, sumpah, sampe helaan napasnya yang bau terasi karena sedang makan itu, seperti menyapu bulu-bulu roma gue.

"Ihh, nggak ah. Biarkan mereka, gue kayaknya pengin sahabatan aja. emoticon-Big Grin" Bisik gue lagi.

"Yakin? Entar nyesel jangan salahin gue, lo." Balas Nino.

Gue hanya tersenyum menahan rasa sakit. Sambil curi-curi memperhatikan Karin. Mana tau, dia juga curi-curi memperhatikan gue. Tapi sepertinya tidak. Mungkin kenyamanan yang dikasih Rei ke Karin lebih daripada gue, dan dari segi fisik serta dari segi materi, Rei jauh juga unggul. emoticon-Frown

"Gue ngerokok dulu di luar." Ujar gue ketika selesai makan.

Gue duduk agak menjauh dari kedai. Sambil menatap jalan raya yang penuh dengan mobil. Perasaan gue sekarang ibarat asap rokok yang keluar dari mulut gue. Awalnya berhembus lurus, namun rapuh ketika tertiup angin.

"Iya Bu, aku sehat kok. Ibu? Oh iya, nanti aku kabarin lagi bu, aku lagi makan.”

Dalam bayangan gue tiba-tiba muncul sosok ibu gue. Ah! Suara penelpon di belakang gue itu kencang sekali. Mendistraksi rasa sakit yang gue derita.

"Hoi, ngerokok mulu, entar mati. emoticon-Big Grin" Tiba-tiba pundak gue di colek. Karin datang dan duduk di samping gue. Agak jauh sekitar 3 meteran, mungkin menghindari asap rokok.

"Mati itu urusan Allah, tapi emang sih kita harus memanfaatkan hidup dengan baik."

"Hmm, jutek banget sih emoticon-Malu (S). Lagi mikirin apa? Mikirin aku yaaa? emoticon-Big Grin Aku di sini nggak perlu dipikirin. Hehehe." Ujarnya polos seperti tanpa dosa.

Di satu sisi, gue nggak mau bilang kalau gue telah jatuh hati. Karena gue takut jawabannya berbeda dari yang gue harapkan. Namun di satu sisi, gue memang sedang memikirkan dia. Kenapa gitu, senyumannya ke Rei, lebih indah rasanya dari senyumannya ke gue.

"Hah, iya gue mikirin lu. Senyuman lu itu, manis banget. Tapi kayaknya bukan buat gue."

emoticon-Cape d... (S) Bodoh! Kenapa gue malah ngomong. Sama aja kayak ngakuin gue suka dia, tolol! Bisa nggak sih gue tahan sedikit lagi aja. Melihat dia diam tanpa kata, gue rasa dia sudah tahu maksud gue tapi pura-pura mengabaikan.

"Hmm... Kamu juga, kayaknya." Ujarnya datar. "Aku kesana dulu ya!"

"Hah? Maksudnya juga? Eh tunggu tunggu!" Gue menarik tangannya. Minta kejelasan dari perkataannya. Gue nggak paham, kenapa dia mengatakan hal random seperti itu. Gue selalu menunjukkan senyum gue untuk dia. Apa jangan-jangan dia melihat gue bisik-bisik sama Nino terus cemburu? emoticon-Bingung (S)

"Udah nggak usah di bahas. Hehe" Dia melepaskan genggaman tangan gue dari tangannya. Lalu pergi menuju ke arah mereka duduk tadi.

Gue hanya berdiri, termenung, dan hilang arah. Sambil menatap bintang-bintang ciptaan Allah, gue menghela napas panjang dalam dinginnya malam.

Diubah oleh OblOOOOOOO 20-11-2021 18:44
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.