TS
soto.kudus
Mgr. Albertus Soegijapranata: Uskup Agung Jadi Pahlawan Nasional
Soegijapranata, pada tahun 1960
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (Ejaan Yang Disempurnakan: Albertus Sugiyapranata; lahir 25 November 1896 – meninggal 22 Juli 1963 pada umur 66 tahun), lebih dikenal dengan nama lahir Soegija, merupakan Vikaris Apostolik Semarang, kemudian menjadi uskup agung. Ia merupakan uskup pribumi Indonesia pertama dan dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang sering disebut "100% Katolik, 100% Indonesia".
Soegija dilahirkan di Surakarta, Hindia-Belanda, dari keluarga seorang abdi dalem dan istrinya. Keluarga Muslim itu lalu pindah ke kota Yogyakarta saat Soegija masih kecil, dan, karena diakui sebagai anak yang cerdas, pada tahun 1909 Soegija diminta oleh Pr. Frans van Lith untuk bergabung dengan Kolese Xaverius, suatu sekolah Yesuit di Muntilan. Di sana Soegija menjadi tertarik dengan agama Katolik, dan dibaptis pada tanggal 24 Desember 1910. Setelah lulus dari Xaverius pada tahun 1915 dan menjadi seorang guru di sana selama satu tahun, Soegija menghabiskan dua tahun belajar di seminari di Muntilan sebelum berangkat ke Belanda pada tahun 1919. Ia menjalani masa pendidikan calon biarawan dengan Serikat Yesus selama dua tahun di Grave; ia juga menyelesaikan juniorate di sana pada tahun 1923. Setelah tiga tahun belajar filsafat di Kolese Berchmann di Oudenbosch, ia dikirim kembali ke Muntilan sebagai guru; ia bekerja di sana selama dua tahun. Pada tahun 1928 ia kembali ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht, dan ditahbiskan pada tanggal 15 Agustus 1931. Setelah itu Soegija menambahkan kata "pranata" di belakang namanya. Pada tahun 1933 Soegijapranata dikirim kembali ke Hindia-Belanda untuk menjadi pastor.
Soegijapranata memulai keimamannya sebagai vikaris paroki untuk Pr. van Driessche di Paroki Kidul Loji, Yogyakarta, tetapi diberi paroki sendiri setelah Gereja St. Yoseph di Bintaran dibuka pada tahun 1934. Dalam periode ini ia berusaha untuk meningkatkan rasa ke-Katolikan dalam masyarakat Katolik dan menekankan perlunya hubungan yang kuat antara keluarga Katolik. Pada tahun 1940 Soegijapranata dikonsekrasikan sebagai vikaris apostolik dari Vikariat Apostolik Semarang, yang baru didirikan. Meskipun jumlah pemeluk Katolik meningkat setelah ia dikonsekrasikan, Soegijapranata harus menghadapi berbagai tantangan. Kekaisaran Jepang menduduki Hindia-Belanda pada awal tahun 1942, dan selama periode pendudukan itu banyak gereja diambil alih dan banyak pastor ditangkap atau dibunuh. Soegijapranata bisa lolos dari kejadian ini, dan menghabiskan periode pendudukan dengan mendampingi orang Katolik dalam vikariatnya sendiri.
Setelah Presiden Soekarno memproklamasi kemerdekaan Indonesia, Semarang dipenuhi dengan kekacauan. Soegijapranata membantu menyelesaikan Pertempuran Lima Hari dan menuntut agar pemerintah pusat mengirim seseorang dari pemerintah untuk menghadapi kerusuhan di Semarang. Biarpun permintaan ini ditanggapi, Semarang menjadi semakin rusuh dan pada tahun 1947 Soegijapranata pindah ke Yogyakarta. Selama revolusi nasional Soegijapranata berusaha untuk meningkatkan pengakuan Indonesia di dunia luas dan meyakinkan orang Katolik untuk berjuang demi negera mereka. Tidak lama setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Soegijapranata kembali ke Semarang. Dalam periode pasca-revolusi ia banyak menulis mengenai komunisme dan berusaha untuk mengembangkan pengaruh Katolik, serta menjadi perantara beberapa faksi politik. Pada tanggal 3 Januari 1961 ia diangkat sebagai uskup agung, saat Tahta Suci mendirikan enam provinsi gerejawi di wilayah Indonesia. Soegijapranata bergabung dengan sesi pertama dari Konsili Vatikan II. Ia meninggal pada tahun 1963 di Steyl, Belanda dan jenazahnya diterbangkan kembali ke Indonesia. Ia dijadikan seorang Pahlawan Nasional dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.
Soegijapranata sampai sekarang dihormati orang Indonesia, baik pemeluk Katolik maupun bukan. Berbagai biografi tentang ia sudah ditulis oleh berbagai penulis, dan pada tahun 2012 sebuah film biopik fiksi garapan Garin Nugroho, yang diberi judul Soegija, diluncurkan. Universitas Katolik Soegijapranata, sebuah universitas di Semarang, dinamakan untuk Soegijapranata.
Kehidupan awal
Soegija dilahirkan pada 25 November 1896 di Surakarta. Ia merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara, dengan ayah Karijosoedarmo, seorang abdi dalem di Susuhunan Surakarta, dan ibu Soepiah. Keluarga tersebut merupakan keluarga Muslim abangan, dan kakek Soegija, Soepa, seorang kyai.[2][3][4] Namanya Soegija diambil dari kata sugih dalam bahasa Jawa, yang berarti "kaya".[5] Keluarga itu lalu berpindah ke Ngabean, Yogyakarta. Di sana, Karijosoedarmo bertugas sebagai abdi dalem di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk Sultan Hamengkubuwono VII, sementara istrinya merupakan pedagang ikan;[2] keluarga Soegija miskin, dan sering kurang makan.[6] Soegija anak yang berani, suka berkelahi, pintar bermain sepak bola, dan dikenal karena kecerdasannya sejak kecil.[7] Saat masih kecil, Soegija berpuasa bersama ayahnya, sesuai hukum Islam.[5]
Soegija mulai menempuh pendidikannya di sebuah Sekolah Angka Loro di wilayah Kraton. Di sana, ia belajar membaca dan menulis. Ia kemudian dipindahkan ke suatu sekolah di Wirogunan, Yogyakarta, dekat Pakualaman. Pada tahun ketiga ia mulai menempuh pendidikan di sebuah Hollands Inlands School di Lempuyangan.[8] Di luar sekolah ia belajar gamelan dan menembang bersama orang tuanya.[2] Sekitar 1909 Soegija diminta oleh Pater Frans van Lith untuk bergabung dengan sebuah sekolah Yesuit di Muntilan, 30 kilometer barat laut Yogyakarta. Biarpun awalnya kedua orang tuanya khawatir bahwa Soegija akan menjadi seperti anak Eropa, mereka merestui.[9]
Kolese Xaverius
Pada 1909 Soegija mulai belajar di Kolese Xaverius di Muntilan, sebuah sekolah asrama untuk calon guru.[10][11] Ada 54 siswa lain dalam angkatannya. Anak-anak itu menjalani jadwal yang ketat. Mereka mengikuti pelajaran di pagi hari dan mengisi siang hari dengan kegiatan lain, seperti berkebun, berdebat, dan bermain catur. Anak-anak Katolik juga diwajibkan untuk rajin berdoa.[12] Biarpun kolese itu tidak mewajibkan siswanya menjadi orang Katolik, Soegija merasa tertekan oleh teman-temannya. Oleh karena itu, sering terjadi perkelahian. Saat Soegija mengeluh kepada gurunya, Pater L. van Rijckevorsel bahwa para pastor Belanda sama seperti pedagang Belanda di kota, yaitu hanya memikirkan uang, romo itu menjawab bahwa mereka tidak digaji dan hanya mengharapkan yang terbaik untuk siswa-siswa mereka. Ini membuat Soegija lebih menghargai para guru, dan saat van Rijckevorsel memberi tahu siswa lain bahwa Soegija tidak ingin menjadi Katolik, anak-anak itu tidak lagi menekan Soegija.[10]
Albertus Magnus, seorang santo dari abad ke-13; nama baptis Soegija didasarkan nama Albertus
Tahun berikutnya Soegija minta agar bisa mengikuti pelajaran agama Katolik. Menurut dia, ini agar ia bisa menggunakan fasilitas sekolah dengan sepenuhnya. Gurunya, Pater Mertens, menyatakan bahwa Soegija memerlukan izin orang tua sebelum ia bisa bergabung. Kendati orang tuanya tidak merestui, Soegija masih diizinkan mengikuti pelajaran. Soegija menjadi tertarik dengan soal Tritunggal, dan meminta keterangan dari beberapa guru. Van Lith mengutip karya-karya Thomas Aquinas, sementara Mertens membahas Tritunggal berdasarkan karya Agustinus dari Hippo. Mertens menyatakan bahwa manusia tidak dimaksud untuk benar-benar memahami Tuhan, sebab pengetahuan manusia terbatas.[13] Soegija, yang menjadi semakin tertarik, minta agar dibaptis; ia mengutip cerita Kristus dan Para Dokter untuk menunjukkan mengapa ia tidak memerlukan restu orang tua. Para romo menyetujui pembaptisan itu, dan Soegija dibaptis pada 24 Desember 1910; ia mengambil nama baptis Albertus,[13] berdasarkan nama Albertus Magnus.[14] Saat liburan Natal, Soegija menceritakan hal ini kepada keluarganya. Meski ayah dan ibunya bisa menerima, dan bahkan mungkin merestui,[a] keluarga besar Soegija tidak mau berurusan dengannya lagi.[15]
Soegija terus melanjutkan pelajarannya di Xaverius. Menurut Pater G. Budi Subanar, seorang dosen ilmu teologi di Universitas Sanata Dharma, dalam periode ini salah satu guru mengajarkan Perintah Keempat dari Sepuluh Perintah Allah dengan pengertian bahwa seseorang tidak boleh hanya menghormati ayah dan ibu kandung, melainkan semua nenek moyangnya; ini memberi pengertian nasionalis kepada para siswa.[16] Pada kesempatan lain, Xaverius dikunjungi seorang misionaris Kapusin – yang secara fisik jauh berbeda dari para guru Yesuit – membuat Soegija mempertimbangkan untuk menjadi seorang pastor, sebuah gagasan yang diterima orang tuanya.[17] Pada 1915 Soegija menyelesaikan pendidikannya di Xaverius, lalu menjadi guru di sana selama satu tahun. Pada 1916 di masuk di seminari Xaverius; ada dua anak pribumi lain yang masuk seminari tahun itu. Soegija lulus pada 1919, setelah mempelajari bahasa Perancis, Latin, Yunani, dan sastra.[18]
Jalan menuju imamat
Soegija menyelesaikan periode novisiat di Mariëndaal, di Grave, Belanda.
Pada 1919 Soegija dan siswa lain pergi ke Uden, Belanda, untuk meneruskan pendidikan mereka; mereka berangkat dari Tanjung Priok di Batavia. Di Uden Soegija menghabiskan satu tahun untuk mendalami bahasa Latin dan Yunani, sesuatu yang diperlukan untuk menjadi romo di Hindia-Belanda. Ia dan rekan kelasnya juga harus beradaptasi dengan budaya Belanda.[19] Pada tanggal 27 September 1920 Soegija memulai periode novisiat untuk bergabung dengan Serikat Yesus; rekan-rekannya baru mulai pada tahun berikutnya.[20] Selama menjalani novisiatnya di Mariëndaal di Grave, Soegija dipisah dari dunia luar dan menghabiskan waktunya dengan meditasi. Ia menyelesaikan novisiat pada 22 September 1922 dan dijadikan anggota Yesuit; Soegija bersumpah agar tetap miskin, murni, dan taat.[20]
Setelah bergabung dengan Serikat Yesus Soegija menghabiskan satu tahun di Mariëndaal sebagai yuniorat. Mulai pada 1923 ia belajar filsafat di Kolese Berchmann di Oudenbosch.[21] Dalam periode ini ia lebih mendalami ajaran Thomas Aquinas. Ia juga mulai menulis tentang agama Katolik. Dalam sebuah surat tertanggal 11 Agustus 1923 ia menulis bahwa orang Jawa belum dapat membedakan antara orang Katolik dan Protestan, dan bahwa cara yang terbaik untuk menambahkan jumlah orang Katolik ialah dengan perilaku dan bukti nyata, bukan hanya janji. Ia juga menerjemahkan hasil Kongres Ekaristi ke-27, yang diadakan di Amsterdam pada 1924, untuk majalah berbahasa Jawa Swaratama; ada pula tulisan yang dimuat dalam St. Claverbond, Berichten uit Java.[22] Soegija lulus dari Berchmann pada 1926, lalu bersiap untuk kembali ke Hindia-Belanda.[21]
Soegija tiba di Muntilan pada September 1926[23] dan menjadi guru agama, bahasa Jawa, dan aljabar di Kolese Xaverius. Tidak banyak diketahui tentang masa Soegija menjadi guru di Muntilan.[24] Menurut catatan dari sekolah, gaya mengajar Soegija berdasar kepada gaya van Lith, yaitu dengan menjelaskan konsep agama berdasarkan istilah yang ada dalam tradisi Jawa.[25] Soegija juga mengawasi kegiatan gamelan[26] dan berkebun.[27] Selama di Xaverius, Soegija menjadi redaktur Swaratama, yang cenderung dibaca alumni Xaverius. Sebagai redaktur ia menulis resensi mengenai berbagai topik, termasuk serangan terhadap paham komunisme dan pembahasan kemiskinan.[28]
Setelah dua tahun di Xaverius, pada Agustus 1928 Soegija kembali ke Belanda dan belajar teologi di Maastricht. Ia juga bepergian saat belajar. Pada 3 Desember 1929 ia dan empat Yesuit keturunan Asia lain mengikuti Pater Jenderal Wlodzimierz Ledóchowski dalam sebuah pertemuan dengan Paus Pius XI di Vatikan; paus itu menyatakan bahwa para Yesuit Asia itu akan menjadi "tulang punggung" untuk agama Katolik dalam negeri mereka sendiri.[29] Soegija dijadikan seorang diaken pada Mei 1931;[27] ia lalu ditahbiskan oleh Uskup Roermond Laurentius Schrijnen pada 15 Agustus 1931, saat masih menjadi siswa teologi.[30] Setelah ditahbiskan, Soegija menambahkan kata pranata, yang artinya "doa" atau "harapan", di belakang namanya.[31] ia menyelesaikan pelajaran teologinya pada 1932, dan pada 1933 menjalani masa tersiat di Drongen, Belgia.[32] Tahun itu ia menulis sebuah autobiografi, berjudul La Conversione di un Giavanese (Pertobatan Seorang Jawa); karya tersebut diterbitkan dalam bahasa Italia, Belanda, dan Spanyol.[33]
Menjadi pastor
Pada tanggal 8 Agustus 1933 Soegijapranata dan dua pastor lain berangkat dari Belanda menuju Hindia-Belanda; Soegijapranata ditugaskan di paroki Kidul Loji di Yogyakarta, dekat Kraton.[34] ia bertugas sebagai pembantu Pr. van Driessche, salah satu gurunya dari Xaverius.[35] Dari romo yang lebih tua itu, Soegijapranata belajar bagaimana menangani keperluan paroki, sementara van Driessche kemungkinan besar menugaskan Soegijapranata untuk berkhotbah kepada warga kota pribumi yang Katolik.[c][36]
Gereja paroki di Ganjuran, tempat Soegijapranata bertugas sekaligus dengan Bintaran
Setelah Gereja Santo Yoseph di Bintaran, sekitar satu kilometer dari Kidul Loji, buka pada bulan April 1934, Soegijapranata dipindahtugaskan ke sana sebagai pastor utama;[37][4] gereja itu terutama dimaksud kalangan pribumi.[7] Bintaran pada saat itu merupakan satu dari empat paroki di kota Yogyakarta pada saat itu, bersama dengan Kidul Loji, Kotabaru, dan Pugeran; setiap gereja paroki melayani daerah yang luas, dan pastor dari gereja paroki juga ikut serta berkhotbah di gereja yang jauh dari kota. Setelah van Driessche meninggal pada bulan Juni 1934, tugas Soegijapranata ditambah lagi dengan desa Ganjuran, Bantul, sekitar 20 kilometer selatan kota Yogyakarta. Daerah itu merupakan tempat tinggal untuk lebih dari seribu orang Katolik pribumi.[38][39] Soegijapranata juga menjadi penasihat untuk berbagai kelompok, serta mendirikan sebuah koperasi untuk masyarakat Katolik.[40]
Pada saat itu Gereja Katolik di Indonesia kesulitan dengan mempertahankan orang Katolik baru: orang Jawa yang sudah pindah agama saat sekolah terkadang-kadang menjadi Muslim lagi setelah mengalami pengasingan dari teman-teman atau keluarga mereka. Dalam sebuah pertemuan pada tahun 1935, Soegijapranata menyatakan bahwa hal tersebut disebabkan tidak adanya rasa identitas Katolik, atau sensus Catholicus, serta sedikitnya pernikahan antara orang Katolik. Soegijapranata menolak pernikahan antara orang Katolik dan yang bukan Katolik,[41] dan mulai menjadi penasihat untuk pasangan Katolik muda sebelum mereka menikah; ia percaya bahwa pernikahan antara orang Katolik akan mengeratkan hubungan antara keluarga Katolik di Yogyakarta.[42] Soegijapranata terus menulis untuk Swaratama dan menjabat sebagai redaktur.[40] Pada tahun 1938 Soegijapranata dipilih sebagai penasihat untuk Serikat Yesus dan mengkoordinasikan karya Yesuit di Hindia-Belanda.[43]
Vikar apostolik
Meningkatnya jumlah orang Katolik di Hindia-Belanda membuat Mgr. Petrus Willekens, yang menjabat sebagai Vikar Apostolik Batavia, mengusulkan bahwa suatu vikariat apostolik didirikan di Jawa Tengah, dengan pusatnya di Semarang,[44] sebab Jawa Tengah memiliki budaya yang berbeda dan jarak yang jauh dari Batavia.[45] Vikariat Apostolik Batavia dibagi menjadi dua pada tanggal 25 Juni 1940; bagian timur menjadi Vikariat Apostolik Semarang.[46] Pada tanggal 1 Agustus 1940 Willekens menerima telegram dari Kardinal Giovanni Battista Montini, yang menyatakan bahwa Soegijapranata akan menjadi pemimpin vikariat apostolik yang baru itu. Ini dikirimkan ke Soegijapranata di Yogyakarta, yang menyetujui tugas itu,[44] biarpun terkejut dan gelisah.[47] Asistennya, Hardjosoewarno, menyatakan bahwa Soegijapranata menangis setelah membaca telegram itu – sebuah tanggapan yang tidak biasa untuk dia – dan, saat makan semangkuk soto, bertanya kalau Hardjosoewarno pernah melihat seorang uskup menikmati makanan itu.[48]
Soegijapranata pergi ke Semarang pada tanggal 30 September 1940 dan dikonsekrasi Willekens pada tanggal 6 Oktober di Gereja Rosario Suci di Randusari, yang menjadi tempat jabatannya.[47][49] Upacara itu diikuti berbagai tokoh politik serta sultan, dari Batavia, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta, serta klerus dari Malang dan Lampung;[47] dengan konsekrasi ini Soegijapranata menjadi uskup pribumi pertama.[d][50] Tindakan pertama Soegijapranata sebagai uskup ialah mengeluarkan sebuah surat pastoral bersama Willekens yang menceritakan sejarah sehingga Soegijapranata bisa ditentukan sebagai uskup, termasuk surat Maximum Illud yang dibuat Paus Benediktus XV[e] serta usaha Paus Pius XI dan Paus Pius XII untuk menahbiskan lebih banyak pastor dan uskup dari suku asli di seluruh dunia.[51][52] Soegijapranata lalu mulai menentukan hirarki Gereja di Jawa Tengah, termasuk mendirikan paroki baru.[53]
Dalam wilayah yang dipimpin Soegijapranata terdapat 84 pastor (73 orang Eropa, 11 orang pribumi), 137 bruder (103 orang Eropa, 34 orang pribumi), dan 330 biarawati (251 orang Eropa, 79 orang pribumi).[54] Vikariat ini meliputi Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Kudus, Magelang, Salatiga, Pati, dan Ambarawa. Keadaan geografisnya juga berbeda-beda, termasuk wilayah Dataran Kedu yang subur hingga daerah Pegunungan Sewu yang kering. Sebagian besar penduduknya orang Jawa.[55] Ada lebih dari 15.000 orang Katolik pribumi di wilayah tersebut pada tahun 1940, dengan jumlah orang Katolik Eropa yang hampir sama; jumlah orang Katolik pribumi meningkat dengan cepat,[56] sehingga ada lebih dari 30.000 pada tahun 1942.[57] Ada pula sejumlah organisasi Katolik, yang sebagian besarnya bergerak di bidang pendidikan.[58]
0
4K
5
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Militer
20.4KThread•10.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
soto.kudus
#3
“Soegija”, Bukan Film Perang apalagi Film Agamis
Lantaran mengangkat figur tokoh katolik sekaliber Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata ke layar lebar, banyak orang lantas bertanya apakah ini film agamis dengan maksud penyebaran iman katolik? Terhadap sentimen negatif dan tudingan miring ini, aktor panggung Sang Raja Monolog Butet Kartaredjasa punya argumennya sendiri.
Menurut anak kandung seniman besar Bagong Kussudiardjo ini, tidak ada unsur propaganda iman katolik dalam film Soegija. Jalinan cerita dalam seluloid ini lebih mengedepankan tataran nilai kemanusiaan universal. Juga bukan sebuah otobiografi Romo Kanjeng.
Tudingan bahwa dengan menonton film Soegija orang lalu berubah imannya juga dianggap terlalu mengada-ada. Demikian penegasan Djaduk Ferianto –adik kandung Butet—yang dipercaya menjadi penata musik film Soegija ini.
Memotret heroisme era Indonesia “balita”
Menurut press release resmi Studi Audio-Visual Puskat Yogyakarta yang ditulis FX Tri Mulyono, film Soegija harus dilihat sebagai “dokumentasi sejarah” berbentuk audio-visual yang memotret heroisme yang digelorakan seorang anak Bumi Putera bernama Mgr. Albertus Soegijapranata SJ yang kebetulan menjadi uskup pribumi pertama di Indonesia ini. Kehebatan seorang Soegijapranata SJ lebih pada kemampuannya mengolah rasa nasionalisme dan cintanya yang besar pada “tradisi” ke-Indonesia-an dan punya perhatian besar pada kaum lemah. Pencitraan akan perlunya dibangun semangat nasionalisme kepada bangsa dan negara bernama Indonesia itulah yang merupakan sumbang sih paling besar dari seorang katolik bernama Soegijapranata SJ.
SAV Puskat Yogyakarta ingin menyebut film Soegija ini bak sebuah lentera perdamaian dimana sebuah film tentang masa lampau dihadirkan karena di situ tergelar semangat perdamaian. “Meskipun dalam keadaan perang, tetapi tidak boleh ada kebencian yang hidup di dalam hati kita,” tulis FX Tri Mulyono mengenang sesanti Romo Kanjeng –panggilan populer untuk menyapa Uskup Vikariat Apostolik Semarang kala itu: Mgr. Albertus Soegijpranata SJ.
Ketika Jepang menyerah kalah di hadapan Sekutu, di Semarang masih bergelora semangat besar di antara para pemuda Bumi Putera untuk menghabisi tentara Dai Nippon ini. Meski Perang Lima Hari sempat pecah di Semarang (15-20 Oktober 1945), Mgr. Soegijapranata berhasil melunakkan hati para pemuda Bumi Putera untuk mengesampingkan kebencian terhadap Jepang.
Bertempat di Gereja Gedangan Semarang, Mgr. Soegijapranata berhasil mempertemukan pemimpin militer Tentara Sekutu dengan komandan militer Jepang untuk menghentikan perang. Lentera perdamaian bersemi di Gereja Gedangan Semarang. “Nah, semangat membawa lentera perdamaian itulah yang mesti terus dinyalakan oleh segenap anak bangsa ini dan terus kita tularkan. Melalui film Soegija, kita tidak bicara tentang dakwah agama. Melainkan lebih ingin mengajak kita semua menata kembali karakter kita sebagai bangsa Indonesia yang dikenal luhur dan bermartabat,” tulis FX Tri Mulyono.
Kemanusiaan itu satu
Soegija diangkat menjadi uskup tanggal 6 November 1940, ketika Jepang sudah mulai bersiap mengincar Indonesia menjadi tanah jajahannya. Ia muncul sebagai tokoh Gereja pada saat panggung internasional dihantam Perang Dunia II. Namun Mgr. Soegijapranata SJ dengan caranya sendiri yang sangat khas mengumandangkan semangat nasionalisme Indonesia justru pada saat Indonesia masih “balita” karena baru saja memproklamirkan kemerdekaannya.
“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan,” seru Mgr. Soegijapranata SJ pada banyak kesempatan.
Mgr. Soegijapranata –demikian tulis FX Tri Mulyono—hadir sebagai tokoh perekat bangsa. Beliau muncul sebagai figur nasional yang melampaui zamannya. Terutama ketika saat itu memang membutuhkan hadirnya tokoh-tokoh nasionalis dan punya wawasan luas dan terbuka terhadap keanekaragaman identitas yang ada di tanah Bumi Putera ini. Mgr. Soegijapranata SJ hadir melengkapi “koleksi” figur-figur nasionalis sekelas Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, IJ Kasimo dan masih banyak lagi.
![kaskus-image]()
Menurut catatan FX Tri Mulyono, Mgr. Soegijapranata mengajarkan tatanan nilai kemanusiaan universal dan bagaimana beliau sendiri menghayati nilai-nilai itu. Untuk itu, beliau berani menggelorakan roda semangat anti kolonialisme dengan sikap tegas, konsisten dan mengedepankan “sikap politik” yang jelas. Karena itulah lalu lahir sesanti abadi yang hingga ini tetap relevan dihayati bagi segenap insan katolik: “Menjadi 100 % katolik, 100 % Indonesia”.
Itulah sebabnya, Mgr. Soegija pun berani memutuskan memindahkan “pusat pemerintahan” gerejani Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta. Sebuah keputusan berani dia ambil guna memberi dukungan terhadap pemerintah Indonesia yang masih “balita” dimana saat itu harus pindah ke Yogyakarta.
Kemampuan Mgr. Soegijapranata SJ mengutarakan gagasan secara jelas dalam bentuk tulisan dan kemahirannya membaca “tanda-tanda zaman” membawa Indonesia yang masih muda ke pentas internasional. Intinya, Gereja Katolik Indonesia bersatu dengan Dwi Tunggal Soekarno-Hatta mempertahankan eksistensi kemerdekaan Indonesia dari segala kemungkinan dikikis oleh kekuatan kolonialisme asing.
Jadi, menjadi jelas sekali lagi bahwa Soegija bukan sebuah film tentang dogma pengajaran agama. Soegija bercerita tentang nasionalisme dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Juga bukan film perang
Teaser yang dibuat SAV Puskat Yogyakarta dengan mengedepankan thriller Soegija memang bisa sekejap melahirkan kesan sebagai film eksyen atau perang. Kalau ingin didapuk menjadi film eksyen, sudah barang tentu Soegija akan mengumbar adegan-adegan kekerasan.
Penonton sudah pasti akan kecele. “Soegija sama sekali bukan fim perang,” kata co-executive producer Romo Murti Hadi SJ dalam sebuah edaran berita internal.
![kaskus-image]()
“Justru kekerasan itulah yang ingin dilawan oleh film Soegija ini. Kekerasan adalah ‘musuh’ semua agama. Semua manusia merindukan damai. Tidak ada orang yang benar-benar jahat dalam film ini. Semua orang punya rasa kemanusiaan di dalam hatinya. Inilah yang menjadikan film ini punya karakter kuat,” tulisnya kemudian.
Dalam situasi perang, semua orang tanpa memandang wana kulit dan agama menjadi korban keganasan ideologi dan senjata. Yang muncul justru sebuah tragedi sejarah manusia. “Tidak ada yang menang, juga tidak ada yang kalah. Itu karena semua orang menjadi korban politik. Semua orang diaduk-aduk hatinya,” tandasnya.
Ideologi politik dan nafsu akan kekuasaan senantiasa melemparkan manusia pada sebuah tragedi. Perang antarmanusia sudah barang tentu akan membuat manusia terjerembab dalam kenistaan. Nah, setting cerita dimana nilai kemanusiaan orang-orang Indonesia di ambang ketragisannya itulah yang ditonjolkan dalam film Soegija ini.
“Setting yang diambil adalah Indonesia pada kurun sejarah antara tahun 1940-1949. Ini merupakan masa krusial bagi bangsa Indonesia, karena kurun waktu itu merupakan masa Perang Kemerdekaan. Seluruh pergerakan di Indonesia menuju satu tujuan yaitu Indonesia Merdeka. Soegija berdiri bersama bangsa ini dan mengawal kelahiran sebuah bangsa besar yang bernama Indonesia,” tandas Romo Murti Hadi SJ.
Diplomasi Diam Mgr. Albertus Soegijapranata SJ
Sebegitukah penting peran Mgr. Albertus Soegijapranata SJ dalam konteks sejarah nasional Indonesia? Di banyak buku pelajaran sejarah nasional, nyaris tak pernah terbaca nama Mgr. Albertus Soegijapranata SJ dan apalagi peran beliau telah “mengenalkan” nation baru bernama Indonesia yang waktu itu masih usia balita ke dunia internasional.
Tahun 1940 ketika Romo Soegija diangkat menjadi uskup Indonesia pribumi pertama, dunia tengah dihantam badai besar bernama Perang Dunia II. Kala itu, Indonesia asih ada dalam genggaman erat Belanda. Namun, sejatinya “Indonesia” juga sudah mulai diincar Jepang. Apalagi saat itu, Dai Nippon juga itu lagi gencar-gencarnya mempropagandakan semboyan politik “3A” ke wilayah Asia Pasifik –dan tak terkecuali termasuk “Indonesia”– yang sejatinya belum lahir.
![kaskus-image]()
Propaganda “3A”
Jepang punya maksud dan tujuan politik dengan gencarnya melakukan propaganda bersemboyankan “3A”. Tujuannya tak lain agar “Indonesia” bersedia membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya (Perang Pasifik) melawan Amerika Serikat. Karena itu, makin bergeloralah semboyan 3A yang berbunyi “Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia”.
Nah, mewujudkan ambisi politiknya menguasai Asia Pasifik dan “Indonesia”, Jepang mau tak mau harus merebut hati para pemimpin Indonesia. Guna keperluan itu, tentara Dai Nippon lalu mendarat di Pantai Tarakan di Kalimantan Timur dan selanjutnya menyeberang ke Jawa. Terhadap para pemimpin Indonesia, Jepang sengaja menyebut diri sebagai “Saudara Tua”. Kata mereka waktu itu, “Saudara Tua” ini akan membantu membebaskan “Indonesia” dari tangan kolonialisme Belanda.
Dengan sengaja, saya menaruh kata “Indonesia” di antara tanda kutip, karena senyatanya nation dan negara bernama Indonesia waktu itu belum eksis atau lahir.
Harus anak Bumi Putera
Nah, menjawab pertanyaan di atas, Romo Murti Hadi SJ dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta memberikan wawasannya. Dalam sebuah edaran berita internal, romo kelahiran Panca Arga di Magelang ini menuturkan, kata “pribumi” yang merekat erat pada sosok Mgr. Albertus Soegijapranata SJ menjadi sangat penting pada era “Indonesia” saat bumi Nusantara dijajah Jepang.
![kaskus-image]()
Gereja mencemaskan, kalau bibit-bibit kristianitas di kalangan masyarakat pribumi di Jawa waktu itu dalam sekejap akan digilas habis oleh tentara Dai Nippon. Karena itu, Vatikan harus mencari sosok uskup pribumi yang mampu memimpin Gereja lokal dari ancaman pemberangusan Jepang. “Meski masih banyak imam-imam misionaris Belanda yang waktu itu ada di Jawa, Tahta Suci akhirnya menetapkan Romo Soegija menjadi Uskup,” tulis Romo Murti Hadi SJ.
Menantang samurai Jepang
Perjalanan sejarah waktu itu memang bisa ditebak arahnya. Tantangan pertama Uskup Mgr. Soegijapranata SJ –demikian tulis Romo Murti Hadi SJ—adalah “menghadapi” rezim kolonialis baru yakni Jepang yang mulai bercokol di Jawa sejak tahun 1942. Ketika semua aset nasional berbau Belanda hendak disita tentara Dai Nippon, Mgr. Soegijapranata maju ke depan untuk melawan secara damai. Bahkan dalam sebuah episod menarik dikisahkan bagaimana Mgr. Soegijapranata merelakan kepalanya dipenggal samurai Jepang demi mempertahankan kompleks bangunan Gereja Randusari Semarang yang hendak disita menjadi markas tentara Jepang.
Ketika Jepang akhirnya mengaku kalah dan tunduk kepada Tentara Sekutu usai pemboman mematikan di Hiroshima dan Nagasaki, Mgr. Soegija kembali memainkan perannya mendukung pemerintahan baru Indonesia di bawah bayang-bayang ancaman agresi militer Belanda. Merasa solider dan senasib dengan bangsa ini, Mgr. Soegijapranata dengan berani memindahkan “pusat kekuasaan” Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta, seiring dengan keputusan pemerintah Indonesia waktu itu yang telah memindahkan pusat kekuasaan dari Jakarta ke Yogyakarta.
“Selama terjadi agresi militer Belanda pada Clash I dan II, Mgr. Soegijapranata ikut berdiplomasi menyuarakan kemendesakan kedaulatan Indonesia yang waktu itu masih digenggam erat Belanda sampai akhirnya digelar Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949,” tulis Romo Murti Hadi SJ.
“Untuk keperluan segenting itu, Mgr. Soegijapranata SJ bahkan mendesak Tahta Suci segera mengirim seorang duta ke Indonesia sebagai bentuk pengakuan Gereja Internasional akan kedaulatan Indonesia. Gereja katolik termasuk dalam deretan bangsa-bangsa yang pertama kali mengakui kedaulatan Bangsa Indonesia ini, bahkan sebelum Belanda menyerahkan kekuasaan sepenuhnya pada Indonesia pada tahun 1949,” tulis Romo Murti Hadi SJ.
Romo Kanjeng dalam Kilasan Sejarah Indonesia
Berikut ini paparan Romo Murti Hadi Wijayanto SJ dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta tentang sejumlah episod penting kiprah berpolitik Mgr. Albertus Soegijpranata SJ dalam perjalanan sejarah politik nasional sebagaimana muncul di sebuah blog [url=http://www.romokanjengthemovie.com.]www.romokanjengthemovie.com.[/url]
1 Agustus 1940: Pasturan Gereja Bintaran Santo Yusuf, Yogyakarta
Romo Soegija SJ menerima telegram dari Vatikan diangkat jadi uskup. Siaran dari MAVRO (Studio Radio di Yogyakarta) juga mengumumkan berita telegram yang sama.
6 November 1940: Gereja Randusari Semarang (sekarang Katedral Semarang)
Romo A. Soegija SJ ditahbiskan menjadi Uskup. “Umatku semua, Inilah gembalamu,” tutur Uskup Vikariat Apostolik Batavia Mgr. Willekens SJ sebagai uskup penahbis di ujung acara tahbisan uskup.
1942: Jepang masuk Indonesia
Armada tentara Jepang mendarat di Indonesia melalui jalur Sandakan dan Tarakan di Kalimantan Timur. Begitu mereka merapat ke Jawa, semua pastur, suster dan bruder keturunan Belanda harus masuk penjara (diinternir) dan semua aset Gereja disita Jepang.
6 dan 9 Agustus 1945: Hiroshima dan Nagasaki dibom AU Amerika Serikat
Di tengah vacum of power, Dwitunggal Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Inggris mengambil alih tata kelola pemerintahan Jepang di Indonesia di tengah masa kritis Indonesia yang masih “balita”. Masa peralihan di tengah kekawatiran penyusupan tentara Belanda melalui NICA inilah, peran penting Mgr. A. Soegijapranata sebagai anak bangsa menjadi penting.
15-20 Oktober 1945: Pertempuran Lima Hari di Semarang
Ketika tentara Sekutu memasuki Semarang, kota ini nyaris mati karena sebelumnya terjadi kontak senjata antara pemuda nasionalis melawan tentara Jepang. Semarang diblokade Jepang, termasuk Gereja Katolik Santo Yusuf Gedangan. Kedatangan rombongan tentara Sekutu menjadi “momentum” bagi Mgr. Soegijapranata untuk melakukan perundingan antara pasukan Sekutu dan tentara Jepang. Apalagi beredar kabar, tanggal 20 itu pula militer Jepang akan menjebak para pemuda nasionalis dan menghabisi mereka di Karang Tempel. Mgr. Soegijapranata berhasil meredam emosi Jepang dan menggagalkan aksi penyergapan itu dan berhasil “menyelamatkan” jiwa para pemuda pejuang. Blokade juga berhasil dibuka kembali.
Pertempuran Lima Hari di Semarang membawa kota ini serba kekurangan. Ketika kerusuhan akibat minimnya sandang pangan melanda Semarang, bersama para tokoh lokal seperti RS Dwidjosoewojo dan RM Sadat Kadarisman, Mgr. Albertus Soegijapranata ikut membidani lahirnya Komite Penolong Rakyat. Hasil diplomasinya ke Jakarta dengan menemui PM Sutan Sjahrir membawa hasil: Semarang mendapat kucuran bantuan sandang pangan. Untuk menata kembali Semarang maka diangkatlah Mr. Ikhsan menjadi Wali Kota Semarang.
21 Juli 1947: Agresi Belanda I
Sejak tahun 1946, pusat pemerintahan Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dwitunggal Proklamator Soekarno-Hatta memutuskan berkantor di Yogyakarta, sementara PM Sutan Syahrir tetap berkantor di Jakarta. Didorong oleh keprihatinan terhadap nasib bangsanya, Mgr. Soegijapranata juga memindahkan Vikariatnya ke Yogyakarta dan tinggal di Pasturan Gereja Katolik Santo Yusuf Bintaran, Yogyakarta.
Ketika pasukan Belanda melancarkan serangan militer yang disebutnya sebagai Aksi Polisionil, Mgr. Albertus Soegijapranata tengah retret pribadi di Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan, Surakarta (Solo). Ketika situasi genting membahana, Romo Kanjeng tampil ke depan mimbar dan mulai berpidato di RRI Solo.
Tanggal 1 Agustus 1947, pidato itu dibacakan di RRI Surakarta pada pukul 20.00 malam. Isi pidato itu berujung pada desakan untuk gencatan senjata demi kehormatan kedua belah pihak. Romo Kanjeng membacakan pidatonya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Pidato itu juga merupakan pernyataan sikap umat katolik di Indonesia yang akan berpihak dan berjuang bersama seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan masyarakat.
19 Desember 1948: Agresi Militer II
Pada pagi hari pukul 05.30 tertanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogyakarta, kala itu Ibukota Republik. Soekarno dan Hatta akhirnya ditangkap tentara Belanda. Dalam kondisi sulit ini, Romo Kanjeng ikut merawat anggota keluarga Soekarno. Kontak intensif dengan Raja dan Penguasa Yogyakarta yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX lalu dilakukan. Sekali waktu ketika didatangi para pemuda katolik, Mgr. Soegijapranata murka atas pertanyaan apakah perlu panggul senjata atau tidak melawan Belanda. “Pergilah berjuang dan baru kembali kalau sudah mati,” kata Romo Kanjeng,
Melalui tulisan-tulisannya di majalah Commonwealth untuk khalayak pembaca di Amerika Serikat, Romo Kanjeng berusaha membuka blokade Belanda. Tulisan ini membuka mata dunia tentang perlakuan tak beradab tentara Belanda yang tetap ingin menguasai Indonesia. Tekanan dunia internasional inilah yang akhirnya membawa Belanda bersedia berunding di Den Haag untuk Konferensi Meja Bundar (KMB) hingga akhirnya kedaulatan Indonesia resmi diserahterimakan tanggal 27 Desember 1949.
Ketika mulai pindah ke Semarang, kembali Romo Kanjeng berhadapan dengan meluasnya ideologi komunisme. Bersama Romo Dijkstra SJ, Romo Kanjeng membidani lahirnya lahirnya serikat-serikat buruh, nelayan dan petani dengan labeling “Pancasila”.
1963: Konsili Vatikan II
Sebagai uskup, Mgr. Albertus Soegijapranata hadir di Roma mengikuti Konsili Vatikan II. Sekalian waktunya dia pakai berobat dan mengunjungi keluarga-keluarga para misionaris di Nederland. Beliau ingin mengucapkan terima kasih. Namun karena kelelahan, akhirnya pada tanggal 22 Juli 1963 pukul 22.20 setempat beliau meninggal dunia. Berita ini sampai ke telinga Presiden Soekarno dan tiga hari kemudian lalu menerbitkan surat pengangkatan almarhum Romo Kanjeng sebagai pahlawan nasional.
http://www.sesawi.net/2012/05/20/soe...film-agamis-5/
http://www.sesawi.net/2012/05/21/soe...apranata-sj-6/
http://www.sesawi.net/2012/05/22/rom...indonesia-7-2/
Lantaran mengangkat figur tokoh katolik sekaliber Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata ke layar lebar, banyak orang lantas bertanya apakah ini film agamis dengan maksud penyebaran iman katolik? Terhadap sentimen negatif dan tudingan miring ini, aktor panggung Sang Raja Monolog Butet Kartaredjasa punya argumennya sendiri.
Menurut anak kandung seniman besar Bagong Kussudiardjo ini, tidak ada unsur propaganda iman katolik dalam film Soegija. Jalinan cerita dalam seluloid ini lebih mengedepankan tataran nilai kemanusiaan universal. Juga bukan sebuah otobiografi Romo Kanjeng.
Tudingan bahwa dengan menonton film Soegija orang lalu berubah imannya juga dianggap terlalu mengada-ada. Demikian penegasan Djaduk Ferianto –adik kandung Butet—yang dipercaya menjadi penata musik film Soegija ini.
Memotret heroisme era Indonesia “balita”
Menurut press release resmi Studi Audio-Visual Puskat Yogyakarta yang ditulis FX Tri Mulyono, film Soegija harus dilihat sebagai “dokumentasi sejarah” berbentuk audio-visual yang memotret heroisme yang digelorakan seorang anak Bumi Putera bernama Mgr. Albertus Soegijapranata SJ yang kebetulan menjadi uskup pribumi pertama di Indonesia ini. Kehebatan seorang Soegijapranata SJ lebih pada kemampuannya mengolah rasa nasionalisme dan cintanya yang besar pada “tradisi” ke-Indonesia-an dan punya perhatian besar pada kaum lemah. Pencitraan akan perlunya dibangun semangat nasionalisme kepada bangsa dan negara bernama Indonesia itulah yang merupakan sumbang sih paling besar dari seorang katolik bernama Soegijapranata SJ.
SAV Puskat Yogyakarta ingin menyebut film Soegija ini bak sebuah lentera perdamaian dimana sebuah film tentang masa lampau dihadirkan karena di situ tergelar semangat perdamaian. “Meskipun dalam keadaan perang, tetapi tidak boleh ada kebencian yang hidup di dalam hati kita,” tulis FX Tri Mulyono mengenang sesanti Romo Kanjeng –panggilan populer untuk menyapa Uskup Vikariat Apostolik Semarang kala itu: Mgr. Albertus Soegijpranata SJ.
Ketika Jepang menyerah kalah di hadapan Sekutu, di Semarang masih bergelora semangat besar di antara para pemuda Bumi Putera untuk menghabisi tentara Dai Nippon ini. Meski Perang Lima Hari sempat pecah di Semarang (15-20 Oktober 1945), Mgr. Soegijapranata berhasil melunakkan hati para pemuda Bumi Putera untuk mengesampingkan kebencian terhadap Jepang.
Bertempat di Gereja Gedangan Semarang, Mgr. Soegijapranata berhasil mempertemukan pemimpin militer Tentara Sekutu dengan komandan militer Jepang untuk menghentikan perang. Lentera perdamaian bersemi di Gereja Gedangan Semarang. “Nah, semangat membawa lentera perdamaian itulah yang mesti terus dinyalakan oleh segenap anak bangsa ini dan terus kita tularkan. Melalui film Soegija, kita tidak bicara tentang dakwah agama. Melainkan lebih ingin mengajak kita semua menata kembali karakter kita sebagai bangsa Indonesia yang dikenal luhur dan bermartabat,” tulis FX Tri Mulyono.
Kemanusiaan itu satu
Soegija diangkat menjadi uskup tanggal 6 November 1940, ketika Jepang sudah mulai bersiap mengincar Indonesia menjadi tanah jajahannya. Ia muncul sebagai tokoh Gereja pada saat panggung internasional dihantam Perang Dunia II. Namun Mgr. Soegijapranata SJ dengan caranya sendiri yang sangat khas mengumandangkan semangat nasionalisme Indonesia justru pada saat Indonesia masih “balita” karena baru saja memproklamirkan kemerdekaannya.
“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan,” seru Mgr. Soegijapranata SJ pada banyak kesempatan.
Mgr. Soegijapranata –demikian tulis FX Tri Mulyono—hadir sebagai tokoh perekat bangsa. Beliau muncul sebagai figur nasional yang melampaui zamannya. Terutama ketika saat itu memang membutuhkan hadirnya tokoh-tokoh nasionalis dan punya wawasan luas dan terbuka terhadap keanekaragaman identitas yang ada di tanah Bumi Putera ini. Mgr. Soegijapranata SJ hadir melengkapi “koleksi” figur-figur nasionalis sekelas Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, IJ Kasimo dan masih banyak lagi.

Menurut catatan FX Tri Mulyono, Mgr. Soegijapranata mengajarkan tatanan nilai kemanusiaan universal dan bagaimana beliau sendiri menghayati nilai-nilai itu. Untuk itu, beliau berani menggelorakan roda semangat anti kolonialisme dengan sikap tegas, konsisten dan mengedepankan “sikap politik” yang jelas. Karena itulah lalu lahir sesanti abadi yang hingga ini tetap relevan dihayati bagi segenap insan katolik: “Menjadi 100 % katolik, 100 % Indonesia”.
Itulah sebabnya, Mgr. Soegija pun berani memutuskan memindahkan “pusat pemerintahan” gerejani Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta. Sebuah keputusan berani dia ambil guna memberi dukungan terhadap pemerintah Indonesia yang masih “balita” dimana saat itu harus pindah ke Yogyakarta.
Kemampuan Mgr. Soegijapranata SJ mengutarakan gagasan secara jelas dalam bentuk tulisan dan kemahirannya membaca “tanda-tanda zaman” membawa Indonesia yang masih muda ke pentas internasional. Intinya, Gereja Katolik Indonesia bersatu dengan Dwi Tunggal Soekarno-Hatta mempertahankan eksistensi kemerdekaan Indonesia dari segala kemungkinan dikikis oleh kekuatan kolonialisme asing.
Jadi, menjadi jelas sekali lagi bahwa Soegija bukan sebuah film tentang dogma pengajaran agama. Soegija bercerita tentang nasionalisme dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Juga bukan film perang
Teaser yang dibuat SAV Puskat Yogyakarta dengan mengedepankan thriller Soegija memang bisa sekejap melahirkan kesan sebagai film eksyen atau perang. Kalau ingin didapuk menjadi film eksyen, sudah barang tentu Soegija akan mengumbar adegan-adegan kekerasan.
Penonton sudah pasti akan kecele. “Soegija sama sekali bukan fim perang,” kata co-executive producer Romo Murti Hadi SJ dalam sebuah edaran berita internal.

“Justru kekerasan itulah yang ingin dilawan oleh film Soegija ini. Kekerasan adalah ‘musuh’ semua agama. Semua manusia merindukan damai. Tidak ada orang yang benar-benar jahat dalam film ini. Semua orang punya rasa kemanusiaan di dalam hatinya. Inilah yang menjadikan film ini punya karakter kuat,” tulisnya kemudian.
Dalam situasi perang, semua orang tanpa memandang wana kulit dan agama menjadi korban keganasan ideologi dan senjata. Yang muncul justru sebuah tragedi sejarah manusia. “Tidak ada yang menang, juga tidak ada yang kalah. Itu karena semua orang menjadi korban politik. Semua orang diaduk-aduk hatinya,” tandasnya.
Ideologi politik dan nafsu akan kekuasaan senantiasa melemparkan manusia pada sebuah tragedi. Perang antarmanusia sudah barang tentu akan membuat manusia terjerembab dalam kenistaan. Nah, setting cerita dimana nilai kemanusiaan orang-orang Indonesia di ambang ketragisannya itulah yang ditonjolkan dalam film Soegija ini.
“Setting yang diambil adalah Indonesia pada kurun sejarah antara tahun 1940-1949. Ini merupakan masa krusial bagi bangsa Indonesia, karena kurun waktu itu merupakan masa Perang Kemerdekaan. Seluruh pergerakan di Indonesia menuju satu tujuan yaitu Indonesia Merdeka. Soegija berdiri bersama bangsa ini dan mengawal kelahiran sebuah bangsa besar yang bernama Indonesia,” tandas Romo Murti Hadi SJ.
Diplomasi Diam Mgr. Albertus Soegijapranata SJ
Sebegitukah penting peran Mgr. Albertus Soegijapranata SJ dalam konteks sejarah nasional Indonesia? Di banyak buku pelajaran sejarah nasional, nyaris tak pernah terbaca nama Mgr. Albertus Soegijapranata SJ dan apalagi peran beliau telah “mengenalkan” nation baru bernama Indonesia yang waktu itu masih usia balita ke dunia internasional.
Tahun 1940 ketika Romo Soegija diangkat menjadi uskup Indonesia pribumi pertama, dunia tengah dihantam badai besar bernama Perang Dunia II. Kala itu, Indonesia asih ada dalam genggaman erat Belanda. Namun, sejatinya “Indonesia” juga sudah mulai diincar Jepang. Apalagi saat itu, Dai Nippon juga itu lagi gencar-gencarnya mempropagandakan semboyan politik “3A” ke wilayah Asia Pasifik –dan tak terkecuali termasuk “Indonesia”– yang sejatinya belum lahir.

Propaganda “3A”
Jepang punya maksud dan tujuan politik dengan gencarnya melakukan propaganda bersemboyankan “3A”. Tujuannya tak lain agar “Indonesia” bersedia membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya (Perang Pasifik) melawan Amerika Serikat. Karena itu, makin bergeloralah semboyan 3A yang berbunyi “Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia”.
Nah, mewujudkan ambisi politiknya menguasai Asia Pasifik dan “Indonesia”, Jepang mau tak mau harus merebut hati para pemimpin Indonesia. Guna keperluan itu, tentara Dai Nippon lalu mendarat di Pantai Tarakan di Kalimantan Timur dan selanjutnya menyeberang ke Jawa. Terhadap para pemimpin Indonesia, Jepang sengaja menyebut diri sebagai “Saudara Tua”. Kata mereka waktu itu, “Saudara Tua” ini akan membantu membebaskan “Indonesia” dari tangan kolonialisme Belanda.
Dengan sengaja, saya menaruh kata “Indonesia” di antara tanda kutip, karena senyatanya nation dan negara bernama Indonesia waktu itu belum eksis atau lahir.
Harus anak Bumi Putera
Nah, menjawab pertanyaan di atas, Romo Murti Hadi SJ dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta memberikan wawasannya. Dalam sebuah edaran berita internal, romo kelahiran Panca Arga di Magelang ini menuturkan, kata “pribumi” yang merekat erat pada sosok Mgr. Albertus Soegijapranata SJ menjadi sangat penting pada era “Indonesia” saat bumi Nusantara dijajah Jepang.

Gereja mencemaskan, kalau bibit-bibit kristianitas di kalangan masyarakat pribumi di Jawa waktu itu dalam sekejap akan digilas habis oleh tentara Dai Nippon. Karena itu, Vatikan harus mencari sosok uskup pribumi yang mampu memimpin Gereja lokal dari ancaman pemberangusan Jepang. “Meski masih banyak imam-imam misionaris Belanda yang waktu itu ada di Jawa, Tahta Suci akhirnya menetapkan Romo Soegija menjadi Uskup,” tulis Romo Murti Hadi SJ.
Menantang samurai Jepang
Perjalanan sejarah waktu itu memang bisa ditebak arahnya. Tantangan pertama Uskup Mgr. Soegijapranata SJ –demikian tulis Romo Murti Hadi SJ—adalah “menghadapi” rezim kolonialis baru yakni Jepang yang mulai bercokol di Jawa sejak tahun 1942. Ketika semua aset nasional berbau Belanda hendak disita tentara Dai Nippon, Mgr. Soegijapranata maju ke depan untuk melawan secara damai. Bahkan dalam sebuah episod menarik dikisahkan bagaimana Mgr. Soegijapranata merelakan kepalanya dipenggal samurai Jepang demi mempertahankan kompleks bangunan Gereja Randusari Semarang yang hendak disita menjadi markas tentara Jepang.
Ketika Jepang akhirnya mengaku kalah dan tunduk kepada Tentara Sekutu usai pemboman mematikan di Hiroshima dan Nagasaki, Mgr. Soegija kembali memainkan perannya mendukung pemerintahan baru Indonesia di bawah bayang-bayang ancaman agresi militer Belanda. Merasa solider dan senasib dengan bangsa ini, Mgr. Soegijapranata dengan berani memindahkan “pusat kekuasaan” Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta, seiring dengan keputusan pemerintah Indonesia waktu itu yang telah memindahkan pusat kekuasaan dari Jakarta ke Yogyakarta.
“Selama terjadi agresi militer Belanda pada Clash I dan II, Mgr. Soegijapranata ikut berdiplomasi menyuarakan kemendesakan kedaulatan Indonesia yang waktu itu masih digenggam erat Belanda sampai akhirnya digelar Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949,” tulis Romo Murti Hadi SJ.
“Untuk keperluan segenting itu, Mgr. Soegijapranata SJ bahkan mendesak Tahta Suci segera mengirim seorang duta ke Indonesia sebagai bentuk pengakuan Gereja Internasional akan kedaulatan Indonesia. Gereja katolik termasuk dalam deretan bangsa-bangsa yang pertama kali mengakui kedaulatan Bangsa Indonesia ini, bahkan sebelum Belanda menyerahkan kekuasaan sepenuhnya pada Indonesia pada tahun 1949,” tulis Romo Murti Hadi SJ.
Romo Kanjeng dalam Kilasan Sejarah Indonesia
Berikut ini paparan Romo Murti Hadi Wijayanto SJ dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta tentang sejumlah episod penting kiprah berpolitik Mgr. Albertus Soegijpranata SJ dalam perjalanan sejarah politik nasional sebagaimana muncul di sebuah blog [url=http://www.romokanjengthemovie.com.]www.romokanjengthemovie.com.[/url]
1 Agustus 1940: Pasturan Gereja Bintaran Santo Yusuf, Yogyakarta
Romo Soegija SJ menerima telegram dari Vatikan diangkat jadi uskup. Siaran dari MAVRO (Studio Radio di Yogyakarta) juga mengumumkan berita telegram yang sama.
6 November 1940: Gereja Randusari Semarang (sekarang Katedral Semarang)
Romo A. Soegija SJ ditahbiskan menjadi Uskup. “Umatku semua, Inilah gembalamu,” tutur Uskup Vikariat Apostolik Batavia Mgr. Willekens SJ sebagai uskup penahbis di ujung acara tahbisan uskup.
1942: Jepang masuk Indonesia
Armada tentara Jepang mendarat di Indonesia melalui jalur Sandakan dan Tarakan di Kalimantan Timur. Begitu mereka merapat ke Jawa, semua pastur, suster dan bruder keturunan Belanda harus masuk penjara (diinternir) dan semua aset Gereja disita Jepang.
6 dan 9 Agustus 1945: Hiroshima dan Nagasaki dibom AU Amerika Serikat
Di tengah vacum of power, Dwitunggal Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Inggris mengambil alih tata kelola pemerintahan Jepang di Indonesia di tengah masa kritis Indonesia yang masih “balita”. Masa peralihan di tengah kekawatiran penyusupan tentara Belanda melalui NICA inilah, peran penting Mgr. A. Soegijapranata sebagai anak bangsa menjadi penting.
15-20 Oktober 1945: Pertempuran Lima Hari di Semarang
Ketika tentara Sekutu memasuki Semarang, kota ini nyaris mati karena sebelumnya terjadi kontak senjata antara pemuda nasionalis melawan tentara Jepang. Semarang diblokade Jepang, termasuk Gereja Katolik Santo Yusuf Gedangan. Kedatangan rombongan tentara Sekutu menjadi “momentum” bagi Mgr. Soegijapranata untuk melakukan perundingan antara pasukan Sekutu dan tentara Jepang. Apalagi beredar kabar, tanggal 20 itu pula militer Jepang akan menjebak para pemuda nasionalis dan menghabisi mereka di Karang Tempel. Mgr. Soegijapranata berhasil meredam emosi Jepang dan menggagalkan aksi penyergapan itu dan berhasil “menyelamatkan” jiwa para pemuda pejuang. Blokade juga berhasil dibuka kembali.
Pertempuran Lima Hari di Semarang membawa kota ini serba kekurangan. Ketika kerusuhan akibat minimnya sandang pangan melanda Semarang, bersama para tokoh lokal seperti RS Dwidjosoewojo dan RM Sadat Kadarisman, Mgr. Albertus Soegijapranata ikut membidani lahirnya Komite Penolong Rakyat. Hasil diplomasinya ke Jakarta dengan menemui PM Sutan Sjahrir membawa hasil: Semarang mendapat kucuran bantuan sandang pangan. Untuk menata kembali Semarang maka diangkatlah Mr. Ikhsan menjadi Wali Kota Semarang.
21 Juli 1947: Agresi Belanda I
Sejak tahun 1946, pusat pemerintahan Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dwitunggal Proklamator Soekarno-Hatta memutuskan berkantor di Yogyakarta, sementara PM Sutan Syahrir tetap berkantor di Jakarta. Didorong oleh keprihatinan terhadap nasib bangsanya, Mgr. Soegijapranata juga memindahkan Vikariatnya ke Yogyakarta dan tinggal di Pasturan Gereja Katolik Santo Yusuf Bintaran, Yogyakarta.
Ketika pasukan Belanda melancarkan serangan militer yang disebutnya sebagai Aksi Polisionil, Mgr. Albertus Soegijapranata tengah retret pribadi di Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan, Surakarta (Solo). Ketika situasi genting membahana, Romo Kanjeng tampil ke depan mimbar dan mulai berpidato di RRI Solo.
Tanggal 1 Agustus 1947, pidato itu dibacakan di RRI Surakarta pada pukul 20.00 malam. Isi pidato itu berujung pada desakan untuk gencatan senjata demi kehormatan kedua belah pihak. Romo Kanjeng membacakan pidatonya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Pidato itu juga merupakan pernyataan sikap umat katolik di Indonesia yang akan berpihak dan berjuang bersama seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan masyarakat.
19 Desember 1948: Agresi Militer II
Pada pagi hari pukul 05.30 tertanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogyakarta, kala itu Ibukota Republik. Soekarno dan Hatta akhirnya ditangkap tentara Belanda. Dalam kondisi sulit ini, Romo Kanjeng ikut merawat anggota keluarga Soekarno. Kontak intensif dengan Raja dan Penguasa Yogyakarta yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX lalu dilakukan. Sekali waktu ketika didatangi para pemuda katolik, Mgr. Soegijapranata murka atas pertanyaan apakah perlu panggul senjata atau tidak melawan Belanda. “Pergilah berjuang dan baru kembali kalau sudah mati,” kata Romo Kanjeng,
Melalui tulisan-tulisannya di majalah Commonwealth untuk khalayak pembaca di Amerika Serikat, Romo Kanjeng berusaha membuka blokade Belanda. Tulisan ini membuka mata dunia tentang perlakuan tak beradab tentara Belanda yang tetap ingin menguasai Indonesia. Tekanan dunia internasional inilah yang akhirnya membawa Belanda bersedia berunding di Den Haag untuk Konferensi Meja Bundar (KMB) hingga akhirnya kedaulatan Indonesia resmi diserahterimakan tanggal 27 Desember 1949.
Ketika mulai pindah ke Semarang, kembali Romo Kanjeng berhadapan dengan meluasnya ideologi komunisme. Bersama Romo Dijkstra SJ, Romo Kanjeng membidani lahirnya lahirnya serikat-serikat buruh, nelayan dan petani dengan labeling “Pancasila”.
1963: Konsili Vatikan II
Sebagai uskup, Mgr. Albertus Soegijapranata hadir di Roma mengikuti Konsili Vatikan II. Sekalian waktunya dia pakai berobat dan mengunjungi keluarga-keluarga para misionaris di Nederland. Beliau ingin mengucapkan terima kasih. Namun karena kelelahan, akhirnya pada tanggal 22 Juli 1963 pukul 22.20 setempat beliau meninggal dunia. Berita ini sampai ke telinga Presiden Soekarno dan tiga hari kemudian lalu menerbitkan surat pengangkatan almarhum Romo Kanjeng sebagai pahlawan nasional.
http://www.sesawi.net/2012/05/20/soe...film-agamis-5/
http://www.sesawi.net/2012/05/21/soe...apranata-sj-6/
http://www.sesawi.net/2012/05/22/rom...indonesia-7-2/
0