- Beranda
- The Lounge
Sejarah Asal Mula Nama Daerah Glodok, Kwitang, Senayan & Menteng
...
TS
battencourt
Sejarah Asal Mula Nama Daerah Glodok, Kwitang, Senayan & Menteng
Selamat Pagi Agan-agan Semua..!!
Spoiler for Cek Repost:
Alhamdulilah gan HT Ke #2 ane, Terima Kasih Mimin, Momod, dan Kaskuser Semua..!!!
Terima Kasih Juga Yang Udah Ngasih Ijo2 & abu gosoknya

Agan-agan tinggal dijakarta.?? Kenal gak dengan daerah "Glodok, Kwitang Juga Senayan.?? Tahu gak cerita asal muasal daerah tersebut.?? Cek disini gan..

Kota Jakarta adalah jantung ibukota dari negara Republik Indonesia di mana pusat perekonomian beserta berjuta permasalahannya ada di kota kecil padat penduduk ini. Di balik nama beberapa daerah di Jakarta tersimpan kisah, cerita dan sejarah dari mana nama itu muncul.
Berikut di bawah ini adalah beberapa asal-muasal nama daerah terkenal di DKI Jakarta :
1. Glodok
Quote:
Diubah oleh battencourt 27-10-2013 10:35
0
95.5K
974
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.1KAnggota
Tampilkan semua post
elvisharcher
#477
Nama asal mula Kali Angke kok dilupakan masbro?...
"Ang" dari bahasa china dialek suku hokkien yg artinya merah
"Ke" artinya aliran air, sungai, atau kali
Pada tanggal 9 Oktober 1740 terjadi peristiwa pembantaian etnis Tionghoa selama tiga hari oleh VOC di Batavia.
Menurut catatan sejarah pada 1710, Batavia menjadi magnet bagi para imigran asal Cina. Maklum, saat itu di kota ini, di daerah Ommelanden (daerah luar Benteng Kota Lama, sekitar Kali Besar) terdapat 130 pabrik penggilingan tebu.
Gubernur Jenderal VOC masa itu Adrian Valckenier (menjabat pada 1737-1741), membiarkan kedatangan imigran tersebut. Valckenier terpikat oleh etos kerja, daya tahan, dan keterampilan para imigran itu.
Hingga akhir tahun 1730-an, ribuan orang Cina perantauan suku Hokkian (asal daerah Fukien, Cina bagian selatan) terus berbondong-bondong datang ke Batavia hingga jumlahnya mencapai 30 ribu penduduk. Selain menjadi buruh pabrik, mereka juga bekerja menjadi pedagang.
Ternyata kondisi keuangan VOC goyah oleh persaingan dagang sesama imperialis yaitu The Britisch East India Company, ditambah lagi besarnya pengeluaran angkatan perang VOC akibat pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan kolonial di Nusantara, serta terus meningkatnya jumlah imigran Tionghoa pedagang di Batavia, yang ternyata menjadi pesaing bagi VOC itu sendiri.
Bukan hanya itu, dimata pemerintahan kolonialisme, imigran Tionghoa dianggap sebagai duri dalam daging yang jika dibiarkan terus berkembang bisa menghancurkan kekuasaan kolonial mereka, jika masyarakat Tionghoa bersatu dengan pribumi.
Untuk mengatasinya, Heeren XVII (Kamar dagang VOC) memerintahkan Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia agar dapat memaksimalkan jumlah pendapatan dan aliran dana segar ke kas VOC.
Dewan Hindia Belanda dan Adrian Valckenier sepakat melakukan jalan pintas dengan menggalakkan program tanam paksa bagi warga pribumi. Sementara bagi para imigran Tionghoa pedagang dikenakan berbagai pajak dengan tujuan pemerasan.
Pemerintahan VOC memberlakukan "Surat Ijin Tinggal" dengan masa waktu terbatas bagi seluruh imigran Tionghoa yang tinggal di dalam tembok maupun diluar tembok Batavia. Selain keras, aturan ini juga menjatuhkan sanksi hukuman penjara dan denda, hingga pengusiran etnis Tionghoa dari seluruh wilayah Hindia Belanda, jika tidak memiliki surat ijin tinggal.
Resolusi pemerintahan VOC membuat warga etnis Tionghoa terpukul karena dijadikan korban, sementara menciptakan peluang korupsi bagi oknum pemerintah. Sedangkan kalangan dewan menilai sangat baik, karena selain meningkatkan pendapatan dari sisi pajak, juga dijadikan alat kontrol terhadap semua aktivitas bisnis warga Tionghoa.
Aturan tersebut membuat warga Tionghoa mengalami kebangkrutan, bahkan banyak diantara pedagang Tionghoa beralih profesi menjadi buruh kasar akibat tidak kuat membayar pajak yang diberlakukan pemerintahan VOC Belanda.
Kemudian muncul ketidak puasan yang dilanjutkan dengan perlawan terhadap pemerintahan VOC. Sehingga sejak September 1740 mulai terjadi kerusuhan-kerusuhan kecil di luar komplek tembok Batavia. Aksi perlawanan akhirnya memuncak pada 7 Oktober 1740. Lebih dari 500 orang Tionghoa dari berbagai penjuru berkumpul guna melakukan penyerangan ke Kompleks Benteng Batavia. Setelah sebelumnya menghancurkan pos-pos penjagaan VOC di wilayah Jatinegara, Tangerang dan Tanah Abang secara bersamaan. Lalu, 8 Oktober 1740, kerusuhan terjadi di semua pintu masuk Benteng Batavia dengan jumlah yang lebih besar. Ratusan etnis Tionghoa yang berusaha masuk dihadang pasukan VOC dibawah pimpinan Van Imhoff.
9 Oktober 1740, dibantu dengan artileri berat pasukan VOC berhasil menguasai keadaan dan menyelamatkan Kompleks Batavia dari kerusuhan. Pasukan kaveleri VOC mulai mengejar para pelaku kerusuhan. Seluruh rumah dan pusat perdagangan warga Tionghoa yang berada di sekitar Batavia digeledah dan dibakar. Termasuk rumah Kapiten Tionghoa Nie Hoe Kong yang dianggap sebagai otak kerusuhan. Ribuan warga Tionghoa yang selamat dari kerusuhan diburu hingga ke pinggir sungai, dan dibunuh tanpa perduli apakah terlibat atau tidak dalam peristiwa pemberontakan tersebut.
Mayat etnis Tionghoa dibuang begitu saja ke sungai itu -- diperkirakan jumlahnya mencapai 10ribu -- darah manusia sekian banyaknya mengalir memenuhi sungai hingga air sungai berwarna merah;
Sejak itu sungai tsb dijuluki "Ang Ke" artinya Sungai Merah.
Silahkan dikutip untuk dimuat di page one, masbro TS.
"Ang" dari bahasa china dialek suku hokkien yg artinya merah
"Ke" artinya aliran air, sungai, atau kali
Pada tanggal 9 Oktober 1740 terjadi peristiwa pembantaian etnis Tionghoa selama tiga hari oleh VOC di Batavia.
Menurut catatan sejarah pada 1710, Batavia menjadi magnet bagi para imigran asal Cina. Maklum, saat itu di kota ini, di daerah Ommelanden (daerah luar Benteng Kota Lama, sekitar Kali Besar) terdapat 130 pabrik penggilingan tebu.
Gubernur Jenderal VOC masa itu Adrian Valckenier (menjabat pada 1737-1741), membiarkan kedatangan imigran tersebut. Valckenier terpikat oleh etos kerja, daya tahan, dan keterampilan para imigran itu.
Hingga akhir tahun 1730-an, ribuan orang Cina perantauan suku Hokkian (asal daerah Fukien, Cina bagian selatan) terus berbondong-bondong datang ke Batavia hingga jumlahnya mencapai 30 ribu penduduk. Selain menjadi buruh pabrik, mereka juga bekerja menjadi pedagang.
Ternyata kondisi keuangan VOC goyah oleh persaingan dagang sesama imperialis yaitu The Britisch East India Company, ditambah lagi besarnya pengeluaran angkatan perang VOC akibat pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan kolonial di Nusantara, serta terus meningkatnya jumlah imigran Tionghoa pedagang di Batavia, yang ternyata menjadi pesaing bagi VOC itu sendiri.
Bukan hanya itu, dimata pemerintahan kolonialisme, imigran Tionghoa dianggap sebagai duri dalam daging yang jika dibiarkan terus berkembang bisa menghancurkan kekuasaan kolonial mereka, jika masyarakat Tionghoa bersatu dengan pribumi.
Untuk mengatasinya, Heeren XVII (Kamar dagang VOC) memerintahkan Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia agar dapat memaksimalkan jumlah pendapatan dan aliran dana segar ke kas VOC.
Dewan Hindia Belanda dan Adrian Valckenier sepakat melakukan jalan pintas dengan menggalakkan program tanam paksa bagi warga pribumi. Sementara bagi para imigran Tionghoa pedagang dikenakan berbagai pajak dengan tujuan pemerasan.
Pemerintahan VOC memberlakukan "Surat Ijin Tinggal" dengan masa waktu terbatas bagi seluruh imigran Tionghoa yang tinggal di dalam tembok maupun diluar tembok Batavia. Selain keras, aturan ini juga menjatuhkan sanksi hukuman penjara dan denda, hingga pengusiran etnis Tionghoa dari seluruh wilayah Hindia Belanda, jika tidak memiliki surat ijin tinggal.
Resolusi pemerintahan VOC membuat warga etnis Tionghoa terpukul karena dijadikan korban, sementara menciptakan peluang korupsi bagi oknum pemerintah. Sedangkan kalangan dewan menilai sangat baik, karena selain meningkatkan pendapatan dari sisi pajak, juga dijadikan alat kontrol terhadap semua aktivitas bisnis warga Tionghoa.
Aturan tersebut membuat warga Tionghoa mengalami kebangkrutan, bahkan banyak diantara pedagang Tionghoa beralih profesi menjadi buruh kasar akibat tidak kuat membayar pajak yang diberlakukan pemerintahan VOC Belanda.
Kemudian muncul ketidak puasan yang dilanjutkan dengan perlawan terhadap pemerintahan VOC. Sehingga sejak September 1740 mulai terjadi kerusuhan-kerusuhan kecil di luar komplek tembok Batavia. Aksi perlawanan akhirnya memuncak pada 7 Oktober 1740. Lebih dari 500 orang Tionghoa dari berbagai penjuru berkumpul guna melakukan penyerangan ke Kompleks Benteng Batavia. Setelah sebelumnya menghancurkan pos-pos penjagaan VOC di wilayah Jatinegara, Tangerang dan Tanah Abang secara bersamaan. Lalu, 8 Oktober 1740, kerusuhan terjadi di semua pintu masuk Benteng Batavia dengan jumlah yang lebih besar. Ratusan etnis Tionghoa yang berusaha masuk dihadang pasukan VOC dibawah pimpinan Van Imhoff.
9 Oktober 1740, dibantu dengan artileri berat pasukan VOC berhasil menguasai keadaan dan menyelamatkan Kompleks Batavia dari kerusuhan. Pasukan kaveleri VOC mulai mengejar para pelaku kerusuhan. Seluruh rumah dan pusat perdagangan warga Tionghoa yang berada di sekitar Batavia digeledah dan dibakar. Termasuk rumah Kapiten Tionghoa Nie Hoe Kong yang dianggap sebagai otak kerusuhan. Ribuan warga Tionghoa yang selamat dari kerusuhan diburu hingga ke pinggir sungai, dan dibunuh tanpa perduli apakah terlibat atau tidak dalam peristiwa pemberontakan tersebut.
Mayat etnis Tionghoa dibuang begitu saja ke sungai itu -- diperkirakan jumlahnya mencapai 10ribu -- darah manusia sekian banyaknya mengalir memenuhi sungai hingga air sungai berwarna merah;
Sejak itu sungai tsb dijuluki "Ang Ke" artinya Sungai Merah.
Silahkan dikutip untuk dimuat di page one, masbro TS.
0












