- Beranda
- The Lounge
Mengenal serba serbi mengenai Partai Komunis Indonesia dan G30S
...
TS
omfrank
Mengenal serba serbi mengenai Partai Komunis Indonesia dan G30S
Kitab Merah
Sumber : Majalah TEMPO dll
Sumber : Majalah TEMPO dll

Spoiler for daftar isi:
1. Seberapa jauh keterlibatan Aidit dalam peristiwa 65 #1
2. Sedikit sejarah Aidit #4
3. Aidit, Soeharto, Latief Dan Syam. Siapa lawan,siapa kawan? #4
4. Pelarian dan tertangkapnya Aidit #6
5. Aidit Tertangkap #166. Wangsa Aidit (Oleh :Pejalanjauh) #16
7. Sepenggal Kisah Bersama Ibaruri Aidit (Oleh: Budi Kurniawan) #20
8. Drama berdarah 1 Oktober G30S, Konspirasi: Van der Plas Connection (CIA-MI 6), Dr.Soebandrio - Sam Kamaruszaman - Aidit – Soeharto #20
9. Untung, Seorang Penculik atau Boneka Komunis #24
10. Soeharto Pecah Ndase #25
11. Sebuah Kunci Dari Swedia #26
12. Gerakan dengan Tiga Pita #26
13. Kisah Perwira Kesayangan Soeharto #27
14. Tjakrabirawa, Dul Arief dan „Madura Connection‟
15. Dia Jenderal, Bukan Letnan Kolonel
16. Kenangan Pernikahan Lelaki Kedung Bajul
17. Yang Terbaik Lalu Terbalik
18. Sersan Mayor Boengkoes, Eksekutor Mayjen.M.T.Haryono
19. Misteri Rekaman Tape
20. Untung dan Jejaring Diponegoro
21. Resimen Khusus Tjakrabirawa dan G-30-S
22. Njoto,Peniup Saksofon di Tengah Prahara
23. Saat Lek Njot Bersepatu Roda
24. Pedagang Batik Pembela Republik
25. Revolusi Tiga Serangkai
26. Yang Tersisih Dari Riak Samudra
27. Jalan Curam Skandal Asmara
28. Soekarnoisme Dan Perempuan Rusia
29. Merahnya HR, Merahnya Lekra
30. Serba Kabur di Akhir Hayat
31. Rahasia Tiga Dasawarsa
32. Kenangan di Jalan Malang
33. Secuil Asmara Khong Guan Biscuit
34. Karena Janji Setia
35. Puisi Pamflet Sang Ideolog
36. Kalau Sayang, Aturan Dilangkahi
37. Sjam Kamaruzaman, Anak Tuban dalam Halimun G30S
38. Lelaki Dengan Lima Alias
39. Nyanyian God Father Blok III
40. Intel Penggarap Tentara
41. Agen Merah Penyusup Tentara
42. Hamim:Sjam Suka Omong Besar
43. Perjalanan Preman Tuban
44. Pathuk, Soeharto, Perkenalan Biasa
45. Rumah Teralis Bunga Teratai
46. Akhir Pelarian Sang Buron
47. Kesaksian Sjam (Oleh :John Roosa)
48. Jungkir-Balik Setelah Prahara
49. Peluk Terakhir Buat Sang Putri
50. Versi Mutakhir G30S (Oleh : Asvi Warman Adam)
51. Kisah Dokumen Forensik 7 Pahlawan Revolusi (Oleh:Ben Anderson)
52. Lagi Misteri Mayat Pahlawan Revolusi (Oleh:Teguh Santosa)
53. Menyingkap Kabut Halim (Oleh: Eduard Lukman)
54. Omar Dhani Pernah Menerangkan Siapa Designer G30S/PKI
55. Sekitar G30S, Soeharto, PKI dan TNI-AD (Oleh: Harsutejo)
56. Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer
57. Catatan Kronologis G30S/PKI (Oleh:Mayjen. Pranoto Reksosamodra)
58. G30S PKI Tetap Misteri
59. Sahabat-Sahabat PKI Saya (Oleh:Wilson)
60. CIA Terlibat dan Soeharto Tangan yang Dipakai (Oleh:Omar Dhani)
61. Soebandrio; Kesaksianku Tentang G30S
62. Kisah 1966 : Dari 10 Januari Menuju 11 Maret (Oleh:Sociopolitica)
63. Kisah Tiga Jenderal Dalam Pusaran Peristiwa 11 Maret 1966 (Oleh:Sociopolitica)
64. Malapetaka Sosiologis Indonesia:PembalasanBerdarah (Oleh:sociopolitical)
65. Indonesia:Satu Masa Pada Suatu Wilayah Merah (Oleh:sociapolitica)
66. Pidato Presiden Soekarno”Nawaksara” Di SU ke-IV MPRS 22 Juni 1966
67. Menguraikan Simpul-Simpul Rumit (Oleh : Ignas Legowo)
68. In Memoriam Oei Tjoe Tat
69. Kesaksian Keluarga Pahlawan Revolusi
70. Gilchrist Document
71. Mengapa Bung Karno Tak Mau Memukul Soeharto?(Oleh:Teguh Santosa)
72. Untuk Kedua Kalinya Istana Merdeka Dikepung Pasukan Soeharto
73. Pidato Pertama Gerakan Letkol Untung (English Version)
74. Bukti-bukti Dokumen Keterlibatan CIA Dengan Tragedi G30SPKI
75. The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967(By:Peter Dale Scott)
76. Ex-agents say CIA compiled death lists for Indonesians (By:Kathy Kadane)
77. More from Kathy Kadane
78. The Indonesian Massacres and the CIA (by:Ralph McGehee)
79. A.M.Hanafi Menggugat
80. Pledoi Kolonel A.Latief
81. Kehormatan bagi yang berhak, Bung Karno tidak terlibat G30S/PKI (Oleh:Manai Sophiaan)
82. Soeharto Dalang Pembunuhan Jenderal Achmad Yani?
2. Sedikit sejarah Aidit #4
3. Aidit, Soeharto, Latief Dan Syam. Siapa lawan,siapa kawan? #4
4. Pelarian dan tertangkapnya Aidit #6
5. Aidit Tertangkap #166. Wangsa Aidit (Oleh :Pejalanjauh) #16
7. Sepenggal Kisah Bersama Ibaruri Aidit (Oleh: Budi Kurniawan) #20
8. Drama berdarah 1 Oktober G30S, Konspirasi: Van der Plas Connection (CIA-MI 6), Dr.Soebandrio - Sam Kamaruszaman - Aidit – Soeharto #20
9. Untung, Seorang Penculik atau Boneka Komunis #24
10. Soeharto Pecah Ndase #25
11. Sebuah Kunci Dari Swedia #26
12. Gerakan dengan Tiga Pita #26
13. Kisah Perwira Kesayangan Soeharto #27
14. Tjakrabirawa, Dul Arief dan „Madura Connection‟
15. Dia Jenderal, Bukan Letnan Kolonel
16. Kenangan Pernikahan Lelaki Kedung Bajul
17. Yang Terbaik Lalu Terbalik
18. Sersan Mayor Boengkoes, Eksekutor Mayjen.M.T.Haryono
19. Misteri Rekaman Tape
20. Untung dan Jejaring Diponegoro
21. Resimen Khusus Tjakrabirawa dan G-30-S
22. Njoto,Peniup Saksofon di Tengah Prahara
23. Saat Lek Njot Bersepatu Roda
24. Pedagang Batik Pembela Republik
25. Revolusi Tiga Serangkai
26. Yang Tersisih Dari Riak Samudra
27. Jalan Curam Skandal Asmara
28. Soekarnoisme Dan Perempuan Rusia
29. Merahnya HR, Merahnya Lekra
30. Serba Kabur di Akhir Hayat
31. Rahasia Tiga Dasawarsa
32. Kenangan di Jalan Malang
33. Secuil Asmara Khong Guan Biscuit
34. Karena Janji Setia
35. Puisi Pamflet Sang Ideolog
36. Kalau Sayang, Aturan Dilangkahi
37. Sjam Kamaruzaman, Anak Tuban dalam Halimun G30S
38. Lelaki Dengan Lima Alias
39. Nyanyian God Father Blok III
40. Intel Penggarap Tentara
41. Agen Merah Penyusup Tentara
42. Hamim:Sjam Suka Omong Besar
43. Perjalanan Preman Tuban
44. Pathuk, Soeharto, Perkenalan Biasa
45. Rumah Teralis Bunga Teratai
46. Akhir Pelarian Sang Buron
47. Kesaksian Sjam (Oleh :John Roosa)
48. Jungkir-Balik Setelah Prahara
49. Peluk Terakhir Buat Sang Putri
50. Versi Mutakhir G30S (Oleh : Asvi Warman Adam)
51. Kisah Dokumen Forensik 7 Pahlawan Revolusi (Oleh:Ben Anderson)
52. Lagi Misteri Mayat Pahlawan Revolusi (Oleh:Teguh Santosa)
53. Menyingkap Kabut Halim (Oleh: Eduard Lukman)
54. Omar Dhani Pernah Menerangkan Siapa Designer G30S/PKI
55. Sekitar G30S, Soeharto, PKI dan TNI-AD (Oleh: Harsutejo)
56. Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer
57. Catatan Kronologis G30S/PKI (Oleh:Mayjen. Pranoto Reksosamodra)
58. G30S PKI Tetap Misteri
59. Sahabat-Sahabat PKI Saya (Oleh:Wilson)
60. CIA Terlibat dan Soeharto Tangan yang Dipakai (Oleh:Omar Dhani)
61. Soebandrio; Kesaksianku Tentang G30S
62. Kisah 1966 : Dari 10 Januari Menuju 11 Maret (Oleh:Sociopolitica)
63. Kisah Tiga Jenderal Dalam Pusaran Peristiwa 11 Maret 1966 (Oleh:Sociopolitica)
64. Malapetaka Sosiologis Indonesia:PembalasanBerdarah (Oleh:sociopolitical)
65. Indonesia:Satu Masa Pada Suatu Wilayah Merah (Oleh:sociapolitica)
66. Pidato Presiden Soekarno”Nawaksara” Di SU ke-IV MPRS 22 Juni 1966
67. Menguraikan Simpul-Simpul Rumit (Oleh : Ignas Legowo)
68. In Memoriam Oei Tjoe Tat
69. Kesaksian Keluarga Pahlawan Revolusi
70. Gilchrist Document
71. Mengapa Bung Karno Tak Mau Memukul Soeharto?(Oleh:Teguh Santosa)
72. Untuk Kedua Kalinya Istana Merdeka Dikepung Pasukan Soeharto
73. Pidato Pertama Gerakan Letkol Untung (English Version)
74. Bukti-bukti Dokumen Keterlibatan CIA Dengan Tragedi G30SPKI
75. The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967(By:Peter Dale Scott)
76. Ex-agents say CIA compiled death lists for Indonesians (By:Kathy Kadane)
77. More from Kathy Kadane
78. The Indonesian Massacres and the CIA (by:Ralph McGehee)
79. A.M.Hanafi Menggugat
80. Pledoi Kolonel A.Latief
81. Kehormatan bagi yang berhak, Bung Karno tidak terlibat G30S/PKI (Oleh:Manai Sophiaan)
82. Soeharto Dalang Pembunuhan Jenderal Achmad Yani?
sebagai bahan pembelajaran sejarah bagi kita semua setelah sekian lama sejarah terpelintir oleh kekuasaan

diusahakan di update setiap hari
sebagai penyemangat, ts tidak menolak

diusahakan di update setiap hari
sebagai penyemangat, ts tidak menolak

Spoiler for Seberapa jauh keterlibatan Aidit dalam peristiwa 65:

PERISTIWA 42 tahun lalu itu tetap saja masih menjadi tanda tanya keluarga besar Aidit: apa sebenarnya peran Aidit dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu? Peran Aidit dalam "kup" 30 September 1965 memang masih misteri. Sejumlah sejarawan, juga sejumlah kalangan militer, yakin PKI dalang penculikan dan pembunuhan tujuh jendral Angkatan Darat. Karena PKI terlibat, maka Aidit pun, sebagai Ketua Committee Central, dituding sebagai otaknya. Murad Aidit, adik kandung Aidit, berkisah. Pada "malam berdarah" itu tak ada tanda-tanda atau kesibukan khusus di rumah Aidit. "Malah saya dipesan mematikan lampu," kata Murad. Menjelang "peristiwa Gerakan 30 September" itu, Murad memang menginap di rumah Aidit di Pegangsaan Barat, Jakarta Pusat. Rumah Aidit sepi, "Sampai sekarang saya lebih bisa menerima tragedi itu karena ada pengkhianat dalam tubuh PKI," katanya. Dia tidak yakin abangnya yang memerintahkan pembunuhan para jendral. Aidit mengawali "karier politiknya" dari Asrama Menteng 31, asrama yang dikenal sebagai "sarang pemuda garis keras" pada awal kemerdekaan. Di tempat ini berdiam, antara lain, Anak Marhaen Hanafi (pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba), Adam Malik, Sayuti Melik (pengetik naskah Proklamasi). Para penghuni Menteng 31 sempat menculik Soekarno dan memaksa si Bung memproklamasikan kemerdekaan Indonesia--sesuatu yang kemudian ditolak Bung Karno. Di kelompok Menteng 31, Aidit sangat dekat dengan Wikana, seorang pemuda sosialis. Aidit disebut-sebut juga berperan dalam pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. Pasca pemberontakan yang gagal itu, ia sempat dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogya. Ketika terjadi agresi Belanda, ia kabur dari penjara dan tinggal di Vietnam Utara.
Tentang kepergiannya ke Vietnam ada pendapat lain. Ada yang menyebut bahwa sebenarnya ia hanya mondar-mandir Jakarta-Medan. Yang pasti, pada pertengahan 1950, Aidit, yang saat itu berusia 27 tahun "muncul" lagi. Bersama M.H. Lukman, 30 tahun, Sudisman, 30 tahun, dan Njoto, 23 tahun, ia memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Bisa dibilang, dalam kurun waktu inilah karier politik Aidit sesungguhnya dimulai. Momentum konsolidasi partai terjadi ketika meletus kerusuhan petani di Tanjung Morawa, Sumatera Utara, 6 Juni 1953. Kerusuhan yang digerakkan kader PKI itu menjatuhkan kabinet Wilopo. Kesuksesan ini memompa semangat baru ke tubuh partai tersebut. Bersama "kelompok muda" partai, Aidit menyingkirkan tokoh-tokoh lama partai. Pada Kongres PKI 1954, pengurus PKI beralih ke generasi muda. Tokoh partai semacam Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Pada kongres itu, Aidit dikukuhkan menjadi Sekretaris Jenderal PKI. Aidit lantas meluncurkan dokumen perjuangan partai berjudul "Jalan Baru Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi." Aidit juga membangun aliansi kekuatan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk memperkuat PKI. PNI dipilih karena, selain sama-sama anti-Barat, juga ada figur Soekarno yang bisa dipakai mengatasi tekanan lawan-lawan politik mereka. Puncak kerjasama terjadi pada masa Sidik Djojosukarto memimpin PNI. Saat itu disepakati bahwa PNI tidak akan mengganggu PKI dalam rangka membangun partai. Menurut Ganis Harsono, seorang diplomat senior Indonesia dalam otobiografinya, Cakrawala Politik Era Soekarno, strategi ini berhasil "menyandera" Bung Karno. Ada kesan bahwa Bung Karno berdiri di depan PKI, sekaligus memberi citra PKI pendukung revolusi Bung Karno dan Pancasila. Kerja keras Aidit membuahkan hasil. Pada Pemilu 1955, PKI masuk "empat besar" setelah PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.


PKI terus maju. Pada tahun itu juga partai ini menerbitkan dokumen perjuangan "Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan." Bentuk pertama, perjuangan gerilya di desa-desa oleh kaum buruh dan petani. Kedua, perjuangan revolusioner oleh kaum buruh di kota-kota, terutama kaum buruh di bidang transportasi. Ketiga, pembinaan intensif di kalangan kekuatan bersenjata, yakni TNI. Pada 1964, PKI membentuk Biro Khusus yang langsung dibawahi Aidit sebagai Ketua Committee Central PKI. Tugas biro ini mematangkan situasi untuk merebut kekuasaan dan infiltrasi ke tubuh TNI. Biro Chusus Central (demikian namanya) dipimpin Sjam Kamaruzzaman. Tak sampai setahun, Biro Chusus berhasil menyelusup ke dalam TNI, khususnya Angkatan Darat. Pada Juli 1965, seiring dengan merebaknya kabar kesehatan Bung Karno memburuk, suhu politik Tanah Air makin panas pula. Sebuah berita dari dokter RRC yang merawat Presiden datang: Bung Karno akan lumpuh atau meninggal dunia. Di Jakarta bertiup rumor menyengat, muncul Dewan Jenderal yang hendak menggulingkan Bung Karno. Dalam Buku Putih G-30-S/PKI yang diterbitkan Sekretariat Negara pada 1994, disebutkan bahwa Aidit kemudian menyatakan, gerakan merebut kekuasaan harus dimulai jika tak ingin didahului Dewan Jenderal. Gerakan itu dipimpinnya sendiri. Ada pun Sjam ditunjuk sebagai pimpinan pelaksana gerakan. Saat diadili Mahkamah militer, Sjam mengaku dipanggil Aidit pada 12 Agustus 1965. Dalam pertemuan itu, ia diberi tahu bahwa Presiden sakit dan adanya kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan bila Bung Karno mangkat.
Menurut Sjam, Aidit memerintahkan dia meninjau "kekuatan kita." Sejak 6 September 1965, Sjam lantas menggelar rapat-rapat di rumahnya dan di rumah Kolonel A. Latief (Komandan Brigade Infanteri I Kodam Jaya). Di rapat ini hadir Letnan Kolonel Untung (Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa) dan Mayor Udara Sudjono (Komandan Pasukan Pengawal Pangkalan Halim Perdanakusumah). Rapat terakhir, 29 September 1965, menyepakati gerakan dimulai 30 September 1965 dengan Untung sebagai pemimpinnya. Dalam wawancara dengan majalah D&R, 5 April 1999, A. Latief menyatakan, Gerakan 30 September dirancang untuk menggagalkan upaya kup Dewan Jenderal. "Kami dengar ada pasukan di luar Jakarta yang didatangkan dalam rangka defile Hari Angkatan Bersenjata dengan senjata lengkap. Ini apa? Mau defile saja, kok, membawa peralatan berat," kata Latief. Karena merasa bakal terjadi sesuatu, para perwira tersebut, yang mengaku terlibat karena loyal pada Soekarno, memilih menjemput "anggota" Dewan Jenderal untuk dihadapkan ke Soekarno. Menurut Latief gerakan itu diselewengkan oleh Sjam. "Rencananya akan dihadapkan hidup-hidup untuk men-clear-kan masalah, apakah memang benar ada Dewan Jenderal," katanya. Tapi, malam hari, saat pasukan Cakrabirawa pimpinan Letnan Dul Arief, anak buah Untung, akan berangkat menuju rumah para jenderal, tiba-tiba, ujar Latief, Sjam datang. "Bagaimana kalau para jenderal ini membangkang, menolak diajak menghadap Presiden," kata Dul Arief. Sjam menjawab, para jenderal ditangkap. Hidup atau mati.
Keesokan harinya, Dul Arief melaporkan kepada Latief dan Jenderal Soepardjo bahwa semua telah selesai. "Mula-mula mereka saya salami semua, tapi kemudian Dul Arief bilang semua jenderal mati. Saya betul-betul kaget, tidak begitu rencananya," kata Latief yang mengaku tidak kenal dengan Aidit. Aidit sendiri belum pernah memberi pernyataan tentang hal ini. Ia ditangkap di Desa Sambeng, dekat Solo, Jawa Tengah, pada 22 November 1965 malam, dan esok paginya ditembak mati. Sebelum ditangkap pasukan pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto, Aidit dikabarkan sempat membuat pengakuan sebanyak 50 lembar. Pengakuan itu jatuh ke Risuke Hayashi, koresponden koran berbahasa Inggris yang terbit di Tokyo, Asahi Evening News. Menurut Asahi, Aidit mengaku sebagai penanggung jawab tertinggi peristiwa "30 September." Rencana pemberontakan itu sudah mendapat sokongan pejabat PKI lainnya serta pengurus organisasi rakyat di bawah PKI. Alasan pemberontakan, mereka tak puas dengan sistem yang ada. Rencana kup semula disepakati 1 Mei 1965, tetapi Lukman, Njoto, Sakirman dan Nyono--semuanya anggota Committee Central--menentang. Alasannya, persiapan belum selesai. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan Letkol Untung dan sejumlah pengurus lain pada Juni 1965, disepakati mulai Juli 1965 pasukan Pemuda Rakyat dan Gerwani dikumpulkan di Pangkalan Halim Perdanakusumah. Pertengahan Agustus, sekembalinya dari perjalanan ke Aljazair dan Peking, Aidit kembali melakukan pertemuan rahasia dengan Lukman, Njoto, Brigjen Soepardjo, dan Letkol Untung. PKI mendapat info bahwa tentara, atas perintah Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Achmad Yani, akan memeriksa PKI karena dicurigai mempunyai senjata secara tidak sah. "Kami terpaksa mempercepat pelaksanaan coup d'etat," kata Aidit. Akhirnya, dipilih tanggal 30 September. Dalam buku Bayang-Bayang PKI yang disusun tim Institut Studi Arus Informasi (1999), diduga Aidit tahu adanya peristiwa G-30-S karena ia membentuk dua organisasi: PKI legal dan PKI ilegal. Biro Chusus adalah badan PKI tidak resmi. Sjam bertugas mendekati tentara dan melaporkan hasilnya, khusus hanya kepada Aidit. Hanya, ternyata, tak semua "hasil" itu dilaporkan Sjam.


Tentang besarnya peran Aidit dalam peristiwa 30 September ditampik Soebandrio. Menurut bekas Wakil Perdana Menteri era Soekarno ini, G-30-S didalangi tentara dan PKI terseret lewat tangan Sjam. Alasan Soebandrio, sejak isu sakitnya Bung Karno merebak, Aidit termasuk yang tahu kabar tentang kesehatan Bung Karno itu bohong. Waktu itu, kata Soebandrio, Aidit membawa seorang dokter Cina yang tinggal di Kebayoran Baru. Soebandrio dan Leimena, yang juga dokter, ikut memeriksa Soekarno. Kesimpulan mereka sama: Bung Karno cuma masuk angin. Soebandrio dalam memoarnya, Kesaksianku Tentang G-30-S, menyesalkan pengadilan yang tidak mengecek ulang kesaksian Sjam. Menurut Soebandrio, ada lima orang yang bisa ditanya: Bung Karno, Aidit, dokter Cina yang ia lupa namanya tersebut, Leimena, dan dirinya sendiri. Menurut Soebandrio, pada Agustus 1965 kelompok "bayangan Soeharto" (Ali Moertopo cs) sudah ingin secepatnya memukul PKI. Caranya, mereka melontarkan provokasi-provokasi untuk mendorong PKI mendahului memukul Angkatan Darat. Njoto membantah pernyataan Aidit. Menurut Njoto, "Hubungan PKI dengan Gerakan 30 September dan pembunuhan Jenderal Angkatan Darat tidak ada. Saya tidak tahu apa pun, sampai-sampai sesudah terjadinya," katanya dalam wawancara dengan Asahi Evening News. Keterangan Njoto sama dengan komentar Oei Hai Djoen, mantan anggota Comite Central. "Kami semua tidak tahu apa yang terjadi," kata dia. Presiden Soekarno sendiri menyatakan Gestok (Gerakan Satu Oktober)--demikian istilah Bung Karno--terjadi karena keblingernya pimpinan PKI, lihainya kekuatan Barat atau kekuatan Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme), serta adanya "oknum yang tidak benar." Misteri memang masih melingkupi peristiwa ini. "Menurut kami, PKI memang terlibat, tapi terlibat seperti apa?" kata Murad. Setelah puluhan tahun tragedi itu berlalu, pertanyaan itu belum menemukan jawabannya. Setidaknya bagi Murad dan anggota keluarga Aidit yang lain.
Dari Tempo 1-7 Oktober 2007, yang ditulis kembali di Sini
Diubah oleh omfrank 02-10-2013 17:50
0
32.6K
Kutip
51
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
omfrank
#25
Spoiler for SEBUAH KUNCI DARI SWEDIA:
Letnan Kolonel Untung Samsuri diyakini ditanam Sjam Kamaruzzaman di Tjakrabirawa melalui Kapten Rochadi. Kapten itu eksil dan meninggal di Swedia.
30 September 1965. Jam menunjuk pukul 7 malam di Istora Senayan, Jakarta. Tamu besar, Presiden Soekarno, sudah datang untuk menutup Musyawarah Kaum Teknisi Indonesia. Terasa benar Istora kian bungah.
Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan tak ikut larut pada pesta yang berlangsung hingga tengah malam itu. Ia makin waspada. Malam itu, dialah yang bertanggung jawab menjaga keselamatan Presiden. Atasannya, Brigadir Jenderal Moch. Saboer, sedang ke Bandung. Sekali lagi ia memeriksa setiap jengkal gedung itu.
Lhakadalah..., satu pintu yang mestinya tertutup dibiarkan ngeblong. Ia berteriak kepada seorang anak buahnya. Tentara itu kekarnya setanding dengan dia, namun lebih pendek. "Kenapa pintu itu terbuka?" Maulwi menghardik.
Yang ditegur menjawab singkat, lalu menjalankan perintah Maulwi. Dialah Letnan Kolonel Untung Samsuri, Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Tjakrabirawa.
Kepada Tempo dua pekan lalu, Maulwi menceritakan kembali kisah ini. Inilah pertemuan terakhirnya dengan Untung, sebelum peristiwa penculikan para jenderal beberapa jam kemudian.
Maulwi mengaku sempat heran atas kelalaian Untung kala itu. "Dia itu tahu tugasnya apa. Saya heran, kenapa malam itu dia bisa sangat ceroboh dan lalai begitu," ujarnya.
Tapi ia tak memperpanjang urusan tersebut. Ia tahu Untung sebenarnya dapat diandalkan.
Untung memang tentara bermutu kelas satu. Dalam Operasi Mandala di Irian Jaya, ia menerima anugerah Bintang Sakti. Di medan tempur itu, cuma ada satu orang lagi yang menerima penghargaan tertinggi untuk tentara tersebut. Dia adalah L.B. Moerdani, yang juga pernah digadang-gadang untuk menjadi Komandan Tjakra di awal berdirinya resimen ini.
Tapi Heru Atmodjo, mantan Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara, menduga bergabungnya Untung dengan Tjakra tak semata karena prestasinya. "Ia bagian dari strategi Sjam Kamaruzzaman dari Biro Chusus PKI," ujarnya.
Heru—namanya dimasukkan Untung dalam susunan Dewan Revolusi—menyatakan penaut Untung dan Sjam adalah Kapten Sujud Surachman Rochadi. "Sjam yang memasukkan Untung ke Tjakrabirawa melalui Rochadi," ujar Heru. "Dia itu agen yang disusupkan Sjam ke Tjakra."
Nama Rochadi juga disebut anggota Provoost Tjakrabirawa, Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. "Ke-PKI-an Rochadi dibina langsung oleh Sjam," ujarnya.
Suhardi mengatakan informasi soal Rochadi-Sjam didapatnya dari Kapten Soewarno, komandan kompi lainnya di Batalion I Kawal Kehormatan. Soewarno mengaku kepadanya bahwa ia bersama Rochadi sering bertandang ke mes tentara Jalan Kemiri di bilangan Senen. "Di tempat itulah Sjam melakukan pembinaan terhadap keduanya," kata Suhardi.
Jelas Rochadi orang penting PKI. Namun, menurut Heru, namanya tak pernah disebut dalam berbagai cerita tentang Gerakan 30 September 1965, "Karena pada 26 September ia berangkat ke Peking (sekarang Beijing) untuk menghadiri peringatan Hari Nasional RRC."
"Ia berangkat bersama Adam Malik dan tak kembali lagi ke Indonesia," katanya. "Posisinya di Tjakra waktu itu digantikan oleh Dul Arief, yang memimpin operasi penculikan para jenderal."
Cerita ini membikin Maulwi heran. Mengaku tak ingat ada anak buahnya yang bernama Rochadi, dia mengatakan keikutsertaan seorang Tjakrabirawa dalam sebuah delegasi tak lazim terjadi. "Tjakra hanya bertolak ke mancanegara jika Presiden berangkat ke luar negeri," ujarnya.
Heru juga menggarisbawahi soal ini. Rochadi, yang cuma seorang kapten, tak mungkin ikut delegasi itu jika bukan orang penting—resmi maupun tak resmi.
Tempo tak menemukan dokumen yang berkaitan dengan keberangkatan Rochadi kala itu. Namun, soal ini sudah diverifikasi Heru. Dia bahkan telah menemukan jejaknya di Swedia. Di sana ia sebagai eksil. Namanya sudah berganti menjadi Rafiudin Umar. Heru bercerita, saat ia mengontak Rochadi lewat telepon dan memanggil dengan nama aslinya, Rochadi langsung menutup telepon itu.
Ahli sejarah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, juga pernah mencari Rochadi di Swedia setelah ia mendengar kisah Heru. Gagal. Dari para eksil Indonesia di negeri itu diperoleh keterangan bahwa Rochadi tak pernah bergaul dengan orang-orang yang diasingkan pemerintah Orde Baru.
"Orangnya disebut-sebut agak misterius. Dia juga tak pernah bercerita alasan sampai ia melarikan diri ke Eropa," ujar Asvi.
Jejak Rochadi dibaca Asvi dalam sebuah otobiografi di perpustakaan Institut Sejarah Sosial Indonesia yang diperoleh sejarawan asal Universitas Columbia, John Roosa, saat menulis buku tentang G-30-S/PKI. Dalam riwayat hidup setebal 31 halaman bertahun 1995 itu, tertulis Rochadi lahir pada 1927 dari pasangan Umar dan Kartini. Pada usia 17 tahun, ia masuk Heiho.
Di masa-masa awal kemerdekaan, ia bergabung dengan pasukan Divisi IV/Panembahan Senopati. Menjelang peristiwa Madiun 1948, divisinya sempat bentrok dengan Divisi Siliwangi, yang dikirim pemerintah untuk meredam gerakan Musso dan Amir Sjarifuddin. Mengacu pada catatan itu, Rochadi tampaknya sejak awal sudah "kekiri-kirian" dan bersimpati pada gerakan Amir Sjarifuddin. Bagi Rochadi, peristiwa itu bukan pemberontakan PKI, melainkan provokasi dari pemerintah pusat yang disokong oleh Blok Amerika Serikat untuk memberangus PKI.
Dalam catatan itu, Rochadi tak menulis nama kesatuannya di Panembahan. Namun, menurut Heru, dia berada di Batalion Mayor Sudigdo. "Di sanalah awal pertautan Rochadi dan Untung," kata dia.
Rochadi berhasil lolos dari pembersihan PKI di tubuh Batalion Sudigdo, yang dilakukan Gatot Subroto, karena Belanda keburu melakukan agresi yang kedua. Seusai agresi itu, dia ikut operasi penumpasan gerakan separatis Republik Maluku Selatan pada akhir 1950. Sepuluh tahun kemudian, ia menjadi komandan kompi Cadangan Umum (sejak 1963 namanya menjadi Kostrad) Resimen 15, yang kemudian digabungkan dalam Batalion Raiders 430 di bawah Komando Daerah Militer VII Diponegoro.
Pada Februari 1963, setahun setelah Tjakrabirawa berdiri, kompinya diboyong ke Jakarta untuk bergabung dalam Resimen Tjakrabirawa. Menurut buku Himpunan Peraturan-peraturan Resimen Tjakrabirawa, Rochadi diangkat sebagai salah satu komandan kompi Batalion I Kawal Kehormatan pada 3 April tahun itu. Pangkatnya letnan satu. Salah satu bawahan langsungnya adalah Boengkoes, yang pada penculikan para jenderal menembak mati Mayjen M.T. Harjono.
Otobiografi Rochadi berhenti pada 1964. Setelah tahun itu, jejaknya di Tjakra tak jelas. "Ia meninggal empat tahun lalu di Swedia. Sayang, pada periode itu, ia disebut-sebut tengah memainkan peran penting karena ikut menentukan seleksi anggota Tjakra, termasuk memasukkan Untung," ujar Asvi.
Tempo mencoba mendapatkan cerita dari putranya, yang kini tinggal di Swedia. Soalnya, menilik bagian pembukaan otobiografi itu, Rochadi menujukkannya bagi anaknya. Sayangnya, hingga tulisan ini diterbitkan, putranya tak bisa dihubungi. Namun, dari cerita yang didapatkan Asvi dari komunitas eksil di Swedia, putra Rochadi juga tak tahu banyak tentang kehidupan ayahnya. "Jadi peran Kapten Rochadi ini masih samar-samar," ujar Asvi. "Sungguhpun begitu, kemunculan namanya itu bagus karena berarti ada banyak hal yang masih bisa diungkap dari peristiwa 30 September."
Dari Maulwi—yang tak menampik kemungkinan Tjakra disusupi tentara kiri atau tentara yang sudah dipengaruhi Sjam—ada versi lain soal kedatangan Untung ke Tjakra. Dia mengatakan Tjakra tak ikut menentukan seleksi anggotanya. "Semua keputusan seleksi anggota Tjakra ada di angkatan masing-masing. Jadi kami terima bersih," katanya.
Maka Maulwi melihat, yang paling berperan atas masuknya Untung ke Tjakrabirawa adalah para perwira tinggi di Angkatan Darat. Keputusan mengangkat Untung sebagai komandan batalion, ujarnya, diambil pada sebuah rapat di Markas Besar Angkatan Darat. "Untung lolos dari sana karena ia kesayangan (Ahmad) Yani dan Soeharto. Yani, Soeharto, dan Untung juga berasal dari Kodam Diponegoro."
Tapi Maulwi menduga kuat Soehartolah yang paling berperan merekomendasikan Untung masuk Tjakrabirawa. Pasalnya, Batalion Raiders berada di bawah kendali Kostrad. Apalagi Untung dan Soeharto—yang sudah saling kenal jauh sebelum Operasi Mandala—memang dekat. "Terbukti, saat Untung menikah di Kebumen, Jawa Tengah, Soeharto dan istrinya naik jip dari Jakarta ke Kebumen untuk menghadiri resepsinya," ujar dia.
Ada kisah dari Boengkoes, yang mendukung cerita Maulwi tentang peran Soeharto. Boengkoes mengatakan, ketika mengikuti seleksi Tjakra, dia sudah mengaku menderita wasir dan disentri sehingga langsung meninggalkan rumah sakit militer di Semarang. Eh, besoknya dia diberi tahu bahwa dia sehat dan lulus.
Kala itu, kata Boengkoes, ada seratusan personel Banteng Raiders yang juga lolos seleksi. "Dari Jawa Tengah, jumlah kami yang lolos seleksi cukup untuk membentuk satu kompi," ujar Boengkoes.
Mana yang benar? Wallahualam. Tapi, menurut Asvi, menyusupkan orang ke Tjakrabirawa adalah bagian penting dari strategi. "Karena gerakan dijalankan dengan alasan menyelamatkan presiden, yang paling cocok menjalankannya adalah pasukan pengawal presiden."
30 September 1965. Jam menunjuk pukul 7 malam di Istora Senayan, Jakarta. Tamu besar, Presiden Soekarno, sudah datang untuk menutup Musyawarah Kaum Teknisi Indonesia. Terasa benar Istora kian bungah.
Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan tak ikut larut pada pesta yang berlangsung hingga tengah malam itu. Ia makin waspada. Malam itu, dialah yang bertanggung jawab menjaga keselamatan Presiden. Atasannya, Brigadir Jenderal Moch. Saboer, sedang ke Bandung. Sekali lagi ia memeriksa setiap jengkal gedung itu.
Lhakadalah..., satu pintu yang mestinya tertutup dibiarkan ngeblong. Ia berteriak kepada seorang anak buahnya. Tentara itu kekarnya setanding dengan dia, namun lebih pendek. "Kenapa pintu itu terbuka?" Maulwi menghardik.
Yang ditegur menjawab singkat, lalu menjalankan perintah Maulwi. Dialah Letnan Kolonel Untung Samsuri, Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Tjakrabirawa.
Kepada Tempo dua pekan lalu, Maulwi menceritakan kembali kisah ini. Inilah pertemuan terakhirnya dengan Untung, sebelum peristiwa penculikan para jenderal beberapa jam kemudian.
Maulwi mengaku sempat heran atas kelalaian Untung kala itu. "Dia itu tahu tugasnya apa. Saya heran, kenapa malam itu dia bisa sangat ceroboh dan lalai begitu," ujarnya.
Tapi ia tak memperpanjang urusan tersebut. Ia tahu Untung sebenarnya dapat diandalkan.
Untung memang tentara bermutu kelas satu. Dalam Operasi Mandala di Irian Jaya, ia menerima anugerah Bintang Sakti. Di medan tempur itu, cuma ada satu orang lagi yang menerima penghargaan tertinggi untuk tentara tersebut. Dia adalah L.B. Moerdani, yang juga pernah digadang-gadang untuk menjadi Komandan Tjakra di awal berdirinya resimen ini.
Tapi Heru Atmodjo, mantan Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara, menduga bergabungnya Untung dengan Tjakra tak semata karena prestasinya. "Ia bagian dari strategi Sjam Kamaruzzaman dari Biro Chusus PKI," ujarnya.
Heru—namanya dimasukkan Untung dalam susunan Dewan Revolusi—menyatakan penaut Untung dan Sjam adalah Kapten Sujud Surachman Rochadi. "Sjam yang memasukkan Untung ke Tjakrabirawa melalui Rochadi," ujar Heru. "Dia itu agen yang disusupkan Sjam ke Tjakra."
Nama Rochadi juga disebut anggota Provoost Tjakrabirawa, Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. "Ke-PKI-an Rochadi dibina langsung oleh Sjam," ujarnya.
Suhardi mengatakan informasi soal Rochadi-Sjam didapatnya dari Kapten Soewarno, komandan kompi lainnya di Batalion I Kawal Kehormatan. Soewarno mengaku kepadanya bahwa ia bersama Rochadi sering bertandang ke mes tentara Jalan Kemiri di bilangan Senen. "Di tempat itulah Sjam melakukan pembinaan terhadap keduanya," kata Suhardi.
Jelas Rochadi orang penting PKI. Namun, menurut Heru, namanya tak pernah disebut dalam berbagai cerita tentang Gerakan 30 September 1965, "Karena pada 26 September ia berangkat ke Peking (sekarang Beijing) untuk menghadiri peringatan Hari Nasional RRC."
"Ia berangkat bersama Adam Malik dan tak kembali lagi ke Indonesia," katanya. "Posisinya di Tjakra waktu itu digantikan oleh Dul Arief, yang memimpin operasi penculikan para jenderal."
Cerita ini membikin Maulwi heran. Mengaku tak ingat ada anak buahnya yang bernama Rochadi, dia mengatakan keikutsertaan seorang Tjakrabirawa dalam sebuah delegasi tak lazim terjadi. "Tjakra hanya bertolak ke mancanegara jika Presiden berangkat ke luar negeri," ujarnya.
Heru juga menggarisbawahi soal ini. Rochadi, yang cuma seorang kapten, tak mungkin ikut delegasi itu jika bukan orang penting—resmi maupun tak resmi.
Tempo tak menemukan dokumen yang berkaitan dengan keberangkatan Rochadi kala itu. Namun, soal ini sudah diverifikasi Heru. Dia bahkan telah menemukan jejaknya di Swedia. Di sana ia sebagai eksil. Namanya sudah berganti menjadi Rafiudin Umar. Heru bercerita, saat ia mengontak Rochadi lewat telepon dan memanggil dengan nama aslinya, Rochadi langsung menutup telepon itu.
Ahli sejarah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, juga pernah mencari Rochadi di Swedia setelah ia mendengar kisah Heru. Gagal. Dari para eksil Indonesia di negeri itu diperoleh keterangan bahwa Rochadi tak pernah bergaul dengan orang-orang yang diasingkan pemerintah Orde Baru.
"Orangnya disebut-sebut agak misterius. Dia juga tak pernah bercerita alasan sampai ia melarikan diri ke Eropa," ujar Asvi.
Jejak Rochadi dibaca Asvi dalam sebuah otobiografi di perpustakaan Institut Sejarah Sosial Indonesia yang diperoleh sejarawan asal Universitas Columbia, John Roosa, saat menulis buku tentang G-30-S/PKI. Dalam riwayat hidup setebal 31 halaman bertahun 1995 itu, tertulis Rochadi lahir pada 1927 dari pasangan Umar dan Kartini. Pada usia 17 tahun, ia masuk Heiho.
Di masa-masa awal kemerdekaan, ia bergabung dengan pasukan Divisi IV/Panembahan Senopati. Menjelang peristiwa Madiun 1948, divisinya sempat bentrok dengan Divisi Siliwangi, yang dikirim pemerintah untuk meredam gerakan Musso dan Amir Sjarifuddin. Mengacu pada catatan itu, Rochadi tampaknya sejak awal sudah "kekiri-kirian" dan bersimpati pada gerakan Amir Sjarifuddin. Bagi Rochadi, peristiwa itu bukan pemberontakan PKI, melainkan provokasi dari pemerintah pusat yang disokong oleh Blok Amerika Serikat untuk memberangus PKI.
Dalam catatan itu, Rochadi tak menulis nama kesatuannya di Panembahan. Namun, menurut Heru, dia berada di Batalion Mayor Sudigdo. "Di sanalah awal pertautan Rochadi dan Untung," kata dia.
Rochadi berhasil lolos dari pembersihan PKI di tubuh Batalion Sudigdo, yang dilakukan Gatot Subroto, karena Belanda keburu melakukan agresi yang kedua. Seusai agresi itu, dia ikut operasi penumpasan gerakan separatis Republik Maluku Selatan pada akhir 1950. Sepuluh tahun kemudian, ia menjadi komandan kompi Cadangan Umum (sejak 1963 namanya menjadi Kostrad) Resimen 15, yang kemudian digabungkan dalam Batalion Raiders 430 di bawah Komando Daerah Militer VII Diponegoro.
Pada Februari 1963, setahun setelah Tjakrabirawa berdiri, kompinya diboyong ke Jakarta untuk bergabung dalam Resimen Tjakrabirawa. Menurut buku Himpunan Peraturan-peraturan Resimen Tjakrabirawa, Rochadi diangkat sebagai salah satu komandan kompi Batalion I Kawal Kehormatan pada 3 April tahun itu. Pangkatnya letnan satu. Salah satu bawahan langsungnya adalah Boengkoes, yang pada penculikan para jenderal menembak mati Mayjen M.T. Harjono.
Otobiografi Rochadi berhenti pada 1964. Setelah tahun itu, jejaknya di Tjakra tak jelas. "Ia meninggal empat tahun lalu di Swedia. Sayang, pada periode itu, ia disebut-sebut tengah memainkan peran penting karena ikut menentukan seleksi anggota Tjakra, termasuk memasukkan Untung," ujar Asvi.
Tempo mencoba mendapatkan cerita dari putranya, yang kini tinggal di Swedia. Soalnya, menilik bagian pembukaan otobiografi itu, Rochadi menujukkannya bagi anaknya. Sayangnya, hingga tulisan ini diterbitkan, putranya tak bisa dihubungi. Namun, dari cerita yang didapatkan Asvi dari komunitas eksil di Swedia, putra Rochadi juga tak tahu banyak tentang kehidupan ayahnya. "Jadi peran Kapten Rochadi ini masih samar-samar," ujar Asvi. "Sungguhpun begitu, kemunculan namanya itu bagus karena berarti ada banyak hal yang masih bisa diungkap dari peristiwa 30 September."
Dari Maulwi—yang tak menampik kemungkinan Tjakra disusupi tentara kiri atau tentara yang sudah dipengaruhi Sjam—ada versi lain soal kedatangan Untung ke Tjakra. Dia mengatakan Tjakra tak ikut menentukan seleksi anggotanya. "Semua keputusan seleksi anggota Tjakra ada di angkatan masing-masing. Jadi kami terima bersih," katanya.
Maka Maulwi melihat, yang paling berperan atas masuknya Untung ke Tjakrabirawa adalah para perwira tinggi di Angkatan Darat. Keputusan mengangkat Untung sebagai komandan batalion, ujarnya, diambil pada sebuah rapat di Markas Besar Angkatan Darat. "Untung lolos dari sana karena ia kesayangan (Ahmad) Yani dan Soeharto. Yani, Soeharto, dan Untung juga berasal dari Kodam Diponegoro."
Tapi Maulwi menduga kuat Soehartolah yang paling berperan merekomendasikan Untung masuk Tjakrabirawa. Pasalnya, Batalion Raiders berada di bawah kendali Kostrad. Apalagi Untung dan Soeharto—yang sudah saling kenal jauh sebelum Operasi Mandala—memang dekat. "Terbukti, saat Untung menikah di Kebumen, Jawa Tengah, Soeharto dan istrinya naik jip dari Jakarta ke Kebumen untuk menghadiri resepsinya," ujar dia.
Ada kisah dari Boengkoes, yang mendukung cerita Maulwi tentang peran Soeharto. Boengkoes mengatakan, ketika mengikuti seleksi Tjakra, dia sudah mengaku menderita wasir dan disentri sehingga langsung meninggalkan rumah sakit militer di Semarang. Eh, besoknya dia diberi tahu bahwa dia sehat dan lulus.
Kala itu, kata Boengkoes, ada seratusan personel Banteng Raiders yang juga lolos seleksi. "Dari Jawa Tengah, jumlah kami yang lolos seleksi cukup untuk membentuk satu kompi," ujar Boengkoes.
Mana yang benar? Wallahualam. Tapi, menurut Asvi, menyusupkan orang ke Tjakrabirawa adalah bagian penting dari strategi. "Karena gerakan dijalankan dengan alasan menyelamatkan presiden, yang paling cocok menjalankannya adalah pasukan pengawal presiden."
Spoiler for Gerakan dengan Tiga Pita:
LETNAN Kolonel Untung membagi tiga pasukannya. Mereka mengenakan tiga pita tanda: merah untuk malam, kuning untuk siang, dan hijau untuk sore. Untung memimpin pasukannya dari Gedung Penas, kawasan Cawang, Jakarta Timur.
Jalan Medan Merdeka Utara Istana Satu kompi Cakrabirawa dan sekitar 700 anggota Kodam Brawijaya, Jawa Timur, mengepung Istana. Istana kosong, karena Presiden Soekarno meninggalkan tempat ini sejak pagi. Lepas tengah hari, pasukan ini malah bergabung ke Markas Kostrad.
Jalan Medan Merdeka Selatan Gambir Juga diduduki oleh pasukan Kodam Brawijaya.
Markas Kostrad Markas Mayor Jenderal Soeharto, perwira tinggi yang tidak menjadi target operasi G30S.
Gedung RRI Diduduki sepuluh jam sejak pagi, antara lain dimanfaatkan untuk pengumuman pembentukan Dewan Revolusi.
Pasukan TNI di Jakarta Jika terjadi bentrok, inilah kekuatan TNI yang akan dihadapi oleh G30S.
1. 4 kompi (400 orang) Brimob
2. 1 batalion Kavaleri Angkatan Darat
3. 1 batalion Artileri Angkatan Darat
4. 2 batalion Infanteri Kodam, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD),
5. Pasukan Gerak Cepat Angkatan Udara
6. 1 Batalion Pasukan Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara
7. 3 Batalion Cakrabirawa, KKO (Marinir) (1 batalion =700 orang)
8. Pasopati Dipimpin Dul Arif, pasukan ini bertugas menangkap tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat, yang disebut sebagai anggota "Dewan Jenderal". Terdiri atas anggota Resimen Cakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden.
9. Bimasakti Dipimpin Suradi, anggotanya pasukan sukarelawan plus dua batalion dari Kodam Diponegoro dan Kodam Brawijaya. Tugasnya mengawal kawasan Lapangan Monas dan menjaga sejumlah sektor. Juga merebut gedung RRI, stasiun kereta api Gambir, serta pusat telekomunikasi di Jalan M.H. Thamrin.
10. Gatotkatja Bertugas sebagai pasukan cadangan, dipimpin Gatot Sukrisno.
Personelnya diambil dari Pasukan Pengawal Pangkalan Angkatan Udara dan Sukarelawan Bersenjata. Ditempatkan di sekitar Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
Dua Malam Sjam
Inilah kronologi pelaksanaan Gerakan 30 September versi Sjam Kamaruzaman. Hanya dalam hitungan jam, gerakan ini gagal dan langsung ditaklukkan.
30 September 1965
24.00 Pengarahan terakhir diberikan di Pondok Gede, Jakarta Timur. Hadir Sjam, Pono, Latif, Supardjo, Sujono, Dul Arif, Suradi, dan Gatot Sukrisna.
1 Oktober 1965
02.00 Central Komando di Gedung Penas mulai bekerja: Sjam, Pono, Latif, Supardjo, Sujono. Mereka menunggu laporan hasil operasi pasukan Pasopati pimpinan Dul Arif.
06.00 Masuk laporan dari Pasopati bahwa Jenderal Abdul Haris Nasution, target utama operasi, lolos. Enam jenderal lainnya ditangkap atau ditembak mati. Mereka yang hidup akhirnya juga ditembak.
10.00 Central Komando pindah ke Halim.
12.00 Presiden Soekarno memerintahkan gerakan dihentikan. Pasukan dari Batalion 530 Brawijaya sudah menyeberang ke Markas Kostrad.
18.00 Menerima laporan bahwa pasukan Kostrad dan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat mulai mengepung Halim.
20.00 Sjam Kamaruzaman melapor ke Aidit soal gagalnya gerakan.
21.00 Sjam memerintahkan Sujono mencari pesawat untuk melarikan Aidit ke Yogyakarta.
22.00 Sjam memimpin rapat membahas pengunduran diri dari Halim ke
Pondok Gede.
2 Oktober 1965
01.00 Aidit terbang ke Yogyakarta.
02.00 Sjam dan Supardjo lari ke Pondok Gede dengan jip.
Posisi pasukan G30S di Jakarta
Kawasan Monas
Pasukan Bimasakti
Menteng
Pasukan Pasopati
Pangkalan Halim Perdanakusuma
Pasukan Gatotkatja yang terdiri atas sekitar 700 anggota Kodam Diponegoro, Jawa Tengah. Sekitar 700 anggota Pasukan Pengawal Pangkalan Angkatan Udara dan 800-1.000 sukarelawan bersenjata.
Jalan Medan Merdeka Utara Istana Satu kompi Cakrabirawa dan sekitar 700 anggota Kodam Brawijaya, Jawa Timur, mengepung Istana. Istana kosong, karena Presiden Soekarno meninggalkan tempat ini sejak pagi. Lepas tengah hari, pasukan ini malah bergabung ke Markas Kostrad.
Jalan Medan Merdeka Selatan Gambir Juga diduduki oleh pasukan Kodam Brawijaya.
Markas Kostrad Markas Mayor Jenderal Soeharto, perwira tinggi yang tidak menjadi target operasi G30S.
Gedung RRI Diduduki sepuluh jam sejak pagi, antara lain dimanfaatkan untuk pengumuman pembentukan Dewan Revolusi.
Pasukan TNI di Jakarta Jika terjadi bentrok, inilah kekuatan TNI yang akan dihadapi oleh G30S.
1. 4 kompi (400 orang) Brimob
2. 1 batalion Kavaleri Angkatan Darat
3. 1 batalion Artileri Angkatan Darat
4. 2 batalion Infanteri Kodam, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD),
5. Pasukan Gerak Cepat Angkatan Udara
6. 1 Batalion Pasukan Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara
7. 3 Batalion Cakrabirawa, KKO (Marinir) (1 batalion =700 orang)
8. Pasopati Dipimpin Dul Arif, pasukan ini bertugas menangkap tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat, yang disebut sebagai anggota "Dewan Jenderal". Terdiri atas anggota Resimen Cakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden.
9. Bimasakti Dipimpin Suradi, anggotanya pasukan sukarelawan plus dua batalion dari Kodam Diponegoro dan Kodam Brawijaya. Tugasnya mengawal kawasan Lapangan Monas dan menjaga sejumlah sektor. Juga merebut gedung RRI, stasiun kereta api Gambir, serta pusat telekomunikasi di Jalan M.H. Thamrin.
10. Gatotkatja Bertugas sebagai pasukan cadangan, dipimpin Gatot Sukrisno.
Personelnya diambil dari Pasukan Pengawal Pangkalan Angkatan Udara dan Sukarelawan Bersenjata. Ditempatkan di sekitar Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
Dua Malam Sjam
Inilah kronologi pelaksanaan Gerakan 30 September versi Sjam Kamaruzaman. Hanya dalam hitungan jam, gerakan ini gagal dan langsung ditaklukkan.
30 September 1965
24.00 Pengarahan terakhir diberikan di Pondok Gede, Jakarta Timur. Hadir Sjam, Pono, Latif, Supardjo, Sujono, Dul Arif, Suradi, dan Gatot Sukrisna.
1 Oktober 1965
02.00 Central Komando di Gedung Penas mulai bekerja: Sjam, Pono, Latif, Supardjo, Sujono. Mereka menunggu laporan hasil operasi pasukan Pasopati pimpinan Dul Arif.
06.00 Masuk laporan dari Pasopati bahwa Jenderal Abdul Haris Nasution, target utama operasi, lolos. Enam jenderal lainnya ditangkap atau ditembak mati. Mereka yang hidup akhirnya juga ditembak.
10.00 Central Komando pindah ke Halim.
12.00 Presiden Soekarno memerintahkan gerakan dihentikan. Pasukan dari Batalion 530 Brawijaya sudah menyeberang ke Markas Kostrad.
18.00 Menerima laporan bahwa pasukan Kostrad dan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat mulai mengepung Halim.
20.00 Sjam Kamaruzaman melapor ke Aidit soal gagalnya gerakan.
21.00 Sjam memerintahkan Sujono mencari pesawat untuk melarikan Aidit ke Yogyakarta.
22.00 Sjam memimpin rapat membahas pengunduran diri dari Halim ke
Pondok Gede.
2 Oktober 1965
01.00 Aidit terbang ke Yogyakarta.
02.00 Sjam dan Supardjo lari ke Pondok Gede dengan jip.
Posisi pasukan G30S di Jakarta
Kawasan Monas
Pasukan Bimasakti
Menteng
Pasukan Pasopati
Pangkalan Halim Perdanakusuma
Pasukan Gatotkatja yang terdiri atas sekitar 700 anggota Kodam Diponegoro, Jawa Tengah. Sekitar 700 anggota Pasukan Pengawal Pangkalan Angkatan Udara dan 800-1.000 sukarelawan bersenjata.
Diubah oleh omfrank 02-10-2013 17:22
0
Kutip
Balas