- Beranda
- The Lounge
Mengenal serba serbi mengenai Partai Komunis Indonesia dan G30S
...
TS
omfrank
Mengenal serba serbi mengenai Partai Komunis Indonesia dan G30S
Kitab Merah
Sumber : Majalah TEMPO dll
Sumber : Majalah TEMPO dll

Spoiler for daftar isi:
1. Seberapa jauh keterlibatan Aidit dalam peristiwa 65 #1
2. Sedikit sejarah Aidit #4
3. Aidit, Soeharto, Latief Dan Syam. Siapa lawan,siapa kawan? #4
4. Pelarian dan tertangkapnya Aidit #6
5. Aidit Tertangkap #166. Wangsa Aidit (Oleh :Pejalanjauh) #16
7. Sepenggal Kisah Bersama Ibaruri Aidit (Oleh: Budi Kurniawan) #20
8. Drama berdarah 1 Oktober G30S, Konspirasi: Van der Plas Connection (CIA-MI 6), Dr.Soebandrio - Sam Kamaruszaman - Aidit – Soeharto #20
9. Untung, Seorang Penculik atau Boneka Komunis #24
10. Soeharto Pecah Ndase #25
11. Sebuah Kunci Dari Swedia #26
12. Gerakan dengan Tiga Pita #26
13. Kisah Perwira Kesayangan Soeharto #27
14. Tjakrabirawa, Dul Arief dan „Madura Connection‟
15. Dia Jenderal, Bukan Letnan Kolonel
16. Kenangan Pernikahan Lelaki Kedung Bajul
17. Yang Terbaik Lalu Terbalik
18. Sersan Mayor Boengkoes, Eksekutor Mayjen.M.T.Haryono
19. Misteri Rekaman Tape
20. Untung dan Jejaring Diponegoro
21. Resimen Khusus Tjakrabirawa dan G-30-S
22. Njoto,Peniup Saksofon di Tengah Prahara
23. Saat Lek Njot Bersepatu Roda
24. Pedagang Batik Pembela Republik
25. Revolusi Tiga Serangkai
26. Yang Tersisih Dari Riak Samudra
27. Jalan Curam Skandal Asmara
28. Soekarnoisme Dan Perempuan Rusia
29. Merahnya HR, Merahnya Lekra
30. Serba Kabur di Akhir Hayat
31. Rahasia Tiga Dasawarsa
32. Kenangan di Jalan Malang
33. Secuil Asmara Khong Guan Biscuit
34. Karena Janji Setia
35. Puisi Pamflet Sang Ideolog
36. Kalau Sayang, Aturan Dilangkahi
37. Sjam Kamaruzaman, Anak Tuban dalam Halimun G30S
38. Lelaki Dengan Lima Alias
39. Nyanyian God Father Blok III
40. Intel Penggarap Tentara
41. Agen Merah Penyusup Tentara
42. Hamim:Sjam Suka Omong Besar
43. Perjalanan Preman Tuban
44. Pathuk, Soeharto, Perkenalan Biasa
45. Rumah Teralis Bunga Teratai
46. Akhir Pelarian Sang Buron
47. Kesaksian Sjam (Oleh :John Roosa)
48. Jungkir-Balik Setelah Prahara
49. Peluk Terakhir Buat Sang Putri
50. Versi Mutakhir G30S (Oleh : Asvi Warman Adam)
51. Kisah Dokumen Forensik 7 Pahlawan Revolusi (Oleh:Ben Anderson)
52. Lagi Misteri Mayat Pahlawan Revolusi (Oleh:Teguh Santosa)
53. Menyingkap Kabut Halim (Oleh: Eduard Lukman)
54. Omar Dhani Pernah Menerangkan Siapa Designer G30S/PKI
55. Sekitar G30S, Soeharto, PKI dan TNI-AD (Oleh: Harsutejo)
56. Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer
57. Catatan Kronologis G30S/PKI (Oleh:Mayjen. Pranoto Reksosamodra)
58. G30S PKI Tetap Misteri
59. Sahabat-Sahabat PKI Saya (Oleh:Wilson)
60. CIA Terlibat dan Soeharto Tangan yang Dipakai (Oleh:Omar Dhani)
61. Soebandrio; Kesaksianku Tentang G30S
62. Kisah 1966 : Dari 10 Januari Menuju 11 Maret (Oleh:Sociopolitica)
63. Kisah Tiga Jenderal Dalam Pusaran Peristiwa 11 Maret 1966 (Oleh:Sociopolitica)
64. Malapetaka Sosiologis Indonesia:PembalasanBerdarah (Oleh:sociopolitical)
65. Indonesia:Satu Masa Pada Suatu Wilayah Merah (Oleh:sociapolitica)
66. Pidato Presiden Soekarno”Nawaksara” Di SU ke-IV MPRS 22 Juni 1966
67. Menguraikan Simpul-Simpul Rumit (Oleh : Ignas Legowo)
68. In Memoriam Oei Tjoe Tat
69. Kesaksian Keluarga Pahlawan Revolusi
70. Gilchrist Document
71. Mengapa Bung Karno Tak Mau Memukul Soeharto?(Oleh:Teguh Santosa)
72. Untuk Kedua Kalinya Istana Merdeka Dikepung Pasukan Soeharto
73. Pidato Pertama Gerakan Letkol Untung (English Version)
74. Bukti-bukti Dokumen Keterlibatan CIA Dengan Tragedi G30SPKI
75. The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967(By:Peter Dale Scott)
76. Ex-agents say CIA compiled death lists for Indonesians (By:Kathy Kadane)
77. More from Kathy Kadane
78. The Indonesian Massacres and the CIA (by:Ralph McGehee)
79. A.M.Hanafi Menggugat
80. Pledoi Kolonel A.Latief
81. Kehormatan bagi yang berhak, Bung Karno tidak terlibat G30S/PKI (Oleh:Manai Sophiaan)
82. Soeharto Dalang Pembunuhan Jenderal Achmad Yani?
2. Sedikit sejarah Aidit #4
3. Aidit, Soeharto, Latief Dan Syam. Siapa lawan,siapa kawan? #4
4. Pelarian dan tertangkapnya Aidit #6
5. Aidit Tertangkap #166. Wangsa Aidit (Oleh :Pejalanjauh) #16
7. Sepenggal Kisah Bersama Ibaruri Aidit (Oleh: Budi Kurniawan) #20
8. Drama berdarah 1 Oktober G30S, Konspirasi: Van der Plas Connection (CIA-MI 6), Dr.Soebandrio - Sam Kamaruszaman - Aidit – Soeharto #20
9. Untung, Seorang Penculik atau Boneka Komunis #24
10. Soeharto Pecah Ndase #25
11. Sebuah Kunci Dari Swedia #26
12. Gerakan dengan Tiga Pita #26
13. Kisah Perwira Kesayangan Soeharto #27
14. Tjakrabirawa, Dul Arief dan „Madura Connection‟
15. Dia Jenderal, Bukan Letnan Kolonel
16. Kenangan Pernikahan Lelaki Kedung Bajul
17. Yang Terbaik Lalu Terbalik
18. Sersan Mayor Boengkoes, Eksekutor Mayjen.M.T.Haryono
19. Misteri Rekaman Tape
20. Untung dan Jejaring Diponegoro
21. Resimen Khusus Tjakrabirawa dan G-30-S
22. Njoto,Peniup Saksofon di Tengah Prahara
23. Saat Lek Njot Bersepatu Roda
24. Pedagang Batik Pembela Republik
25. Revolusi Tiga Serangkai
26. Yang Tersisih Dari Riak Samudra
27. Jalan Curam Skandal Asmara
28. Soekarnoisme Dan Perempuan Rusia
29. Merahnya HR, Merahnya Lekra
30. Serba Kabur di Akhir Hayat
31. Rahasia Tiga Dasawarsa
32. Kenangan di Jalan Malang
33. Secuil Asmara Khong Guan Biscuit
34. Karena Janji Setia
35. Puisi Pamflet Sang Ideolog
36. Kalau Sayang, Aturan Dilangkahi
37. Sjam Kamaruzaman, Anak Tuban dalam Halimun G30S
38. Lelaki Dengan Lima Alias
39. Nyanyian God Father Blok III
40. Intel Penggarap Tentara
41. Agen Merah Penyusup Tentara
42. Hamim:Sjam Suka Omong Besar
43. Perjalanan Preman Tuban
44. Pathuk, Soeharto, Perkenalan Biasa
45. Rumah Teralis Bunga Teratai
46. Akhir Pelarian Sang Buron
47. Kesaksian Sjam (Oleh :John Roosa)
48. Jungkir-Balik Setelah Prahara
49. Peluk Terakhir Buat Sang Putri
50. Versi Mutakhir G30S (Oleh : Asvi Warman Adam)
51. Kisah Dokumen Forensik 7 Pahlawan Revolusi (Oleh:Ben Anderson)
52. Lagi Misteri Mayat Pahlawan Revolusi (Oleh:Teguh Santosa)
53. Menyingkap Kabut Halim (Oleh: Eduard Lukman)
54. Omar Dhani Pernah Menerangkan Siapa Designer G30S/PKI
55. Sekitar G30S, Soeharto, PKI dan TNI-AD (Oleh: Harsutejo)
56. Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer
57. Catatan Kronologis G30S/PKI (Oleh:Mayjen. Pranoto Reksosamodra)
58. G30S PKI Tetap Misteri
59. Sahabat-Sahabat PKI Saya (Oleh:Wilson)
60. CIA Terlibat dan Soeharto Tangan yang Dipakai (Oleh:Omar Dhani)
61. Soebandrio; Kesaksianku Tentang G30S
62. Kisah 1966 : Dari 10 Januari Menuju 11 Maret (Oleh:Sociopolitica)
63. Kisah Tiga Jenderal Dalam Pusaran Peristiwa 11 Maret 1966 (Oleh:Sociopolitica)
64. Malapetaka Sosiologis Indonesia:PembalasanBerdarah (Oleh:sociopolitical)
65. Indonesia:Satu Masa Pada Suatu Wilayah Merah (Oleh:sociapolitica)
66. Pidato Presiden Soekarno”Nawaksara” Di SU ke-IV MPRS 22 Juni 1966
67. Menguraikan Simpul-Simpul Rumit (Oleh : Ignas Legowo)
68. In Memoriam Oei Tjoe Tat
69. Kesaksian Keluarga Pahlawan Revolusi
70. Gilchrist Document
71. Mengapa Bung Karno Tak Mau Memukul Soeharto?(Oleh:Teguh Santosa)
72. Untuk Kedua Kalinya Istana Merdeka Dikepung Pasukan Soeharto
73. Pidato Pertama Gerakan Letkol Untung (English Version)
74. Bukti-bukti Dokumen Keterlibatan CIA Dengan Tragedi G30SPKI
75. The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967(By:Peter Dale Scott)
76. Ex-agents say CIA compiled death lists for Indonesians (By:Kathy Kadane)
77. More from Kathy Kadane
78. The Indonesian Massacres and the CIA (by:Ralph McGehee)
79. A.M.Hanafi Menggugat
80. Pledoi Kolonel A.Latief
81. Kehormatan bagi yang berhak, Bung Karno tidak terlibat G30S/PKI (Oleh:Manai Sophiaan)
82. Soeharto Dalang Pembunuhan Jenderal Achmad Yani?
sebagai bahan pembelajaran sejarah bagi kita semua setelah sekian lama sejarah terpelintir oleh kekuasaan

diusahakan di update setiap hari
sebagai penyemangat, ts tidak menolak

diusahakan di update setiap hari
sebagai penyemangat, ts tidak menolak

Spoiler for Seberapa jauh keterlibatan Aidit dalam peristiwa 65:

PERISTIWA 42 tahun lalu itu tetap saja masih menjadi tanda tanya keluarga besar Aidit: apa sebenarnya peran Aidit dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu? Peran Aidit dalam "kup" 30 September 1965 memang masih misteri. Sejumlah sejarawan, juga sejumlah kalangan militer, yakin PKI dalang penculikan dan pembunuhan tujuh jendral Angkatan Darat. Karena PKI terlibat, maka Aidit pun, sebagai Ketua Committee Central, dituding sebagai otaknya. Murad Aidit, adik kandung Aidit, berkisah. Pada "malam berdarah" itu tak ada tanda-tanda atau kesibukan khusus di rumah Aidit. "Malah saya dipesan mematikan lampu," kata Murad. Menjelang "peristiwa Gerakan 30 September" itu, Murad memang menginap di rumah Aidit di Pegangsaan Barat, Jakarta Pusat. Rumah Aidit sepi, "Sampai sekarang saya lebih bisa menerima tragedi itu karena ada pengkhianat dalam tubuh PKI," katanya. Dia tidak yakin abangnya yang memerintahkan pembunuhan para jendral. Aidit mengawali "karier politiknya" dari Asrama Menteng 31, asrama yang dikenal sebagai "sarang pemuda garis keras" pada awal kemerdekaan. Di tempat ini berdiam, antara lain, Anak Marhaen Hanafi (pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba), Adam Malik, Sayuti Melik (pengetik naskah Proklamasi). Para penghuni Menteng 31 sempat menculik Soekarno dan memaksa si Bung memproklamasikan kemerdekaan Indonesia--sesuatu yang kemudian ditolak Bung Karno. Di kelompok Menteng 31, Aidit sangat dekat dengan Wikana, seorang pemuda sosialis. Aidit disebut-sebut juga berperan dalam pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. Pasca pemberontakan yang gagal itu, ia sempat dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogya. Ketika terjadi agresi Belanda, ia kabur dari penjara dan tinggal di Vietnam Utara.
Tentang kepergiannya ke Vietnam ada pendapat lain. Ada yang menyebut bahwa sebenarnya ia hanya mondar-mandir Jakarta-Medan. Yang pasti, pada pertengahan 1950, Aidit, yang saat itu berusia 27 tahun "muncul" lagi. Bersama M.H. Lukman, 30 tahun, Sudisman, 30 tahun, dan Njoto, 23 tahun, ia memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Bisa dibilang, dalam kurun waktu inilah karier politik Aidit sesungguhnya dimulai. Momentum konsolidasi partai terjadi ketika meletus kerusuhan petani di Tanjung Morawa, Sumatera Utara, 6 Juni 1953. Kerusuhan yang digerakkan kader PKI itu menjatuhkan kabinet Wilopo. Kesuksesan ini memompa semangat baru ke tubuh partai tersebut. Bersama "kelompok muda" partai, Aidit menyingkirkan tokoh-tokoh lama partai. Pada Kongres PKI 1954, pengurus PKI beralih ke generasi muda. Tokoh partai semacam Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Pada kongres itu, Aidit dikukuhkan menjadi Sekretaris Jenderal PKI. Aidit lantas meluncurkan dokumen perjuangan partai berjudul "Jalan Baru Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi." Aidit juga membangun aliansi kekuatan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk memperkuat PKI. PNI dipilih karena, selain sama-sama anti-Barat, juga ada figur Soekarno yang bisa dipakai mengatasi tekanan lawan-lawan politik mereka. Puncak kerjasama terjadi pada masa Sidik Djojosukarto memimpin PNI. Saat itu disepakati bahwa PNI tidak akan mengganggu PKI dalam rangka membangun partai. Menurut Ganis Harsono, seorang diplomat senior Indonesia dalam otobiografinya, Cakrawala Politik Era Soekarno, strategi ini berhasil "menyandera" Bung Karno. Ada kesan bahwa Bung Karno berdiri di depan PKI, sekaligus memberi citra PKI pendukung revolusi Bung Karno dan Pancasila. Kerja keras Aidit membuahkan hasil. Pada Pemilu 1955, PKI masuk "empat besar" setelah PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.


PKI terus maju. Pada tahun itu juga partai ini menerbitkan dokumen perjuangan "Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan." Bentuk pertama, perjuangan gerilya di desa-desa oleh kaum buruh dan petani. Kedua, perjuangan revolusioner oleh kaum buruh di kota-kota, terutama kaum buruh di bidang transportasi. Ketiga, pembinaan intensif di kalangan kekuatan bersenjata, yakni TNI. Pada 1964, PKI membentuk Biro Khusus yang langsung dibawahi Aidit sebagai Ketua Committee Central PKI. Tugas biro ini mematangkan situasi untuk merebut kekuasaan dan infiltrasi ke tubuh TNI. Biro Chusus Central (demikian namanya) dipimpin Sjam Kamaruzzaman. Tak sampai setahun, Biro Chusus berhasil menyelusup ke dalam TNI, khususnya Angkatan Darat. Pada Juli 1965, seiring dengan merebaknya kabar kesehatan Bung Karno memburuk, suhu politik Tanah Air makin panas pula. Sebuah berita dari dokter RRC yang merawat Presiden datang: Bung Karno akan lumpuh atau meninggal dunia. Di Jakarta bertiup rumor menyengat, muncul Dewan Jenderal yang hendak menggulingkan Bung Karno. Dalam Buku Putih G-30-S/PKI yang diterbitkan Sekretariat Negara pada 1994, disebutkan bahwa Aidit kemudian menyatakan, gerakan merebut kekuasaan harus dimulai jika tak ingin didahului Dewan Jenderal. Gerakan itu dipimpinnya sendiri. Ada pun Sjam ditunjuk sebagai pimpinan pelaksana gerakan. Saat diadili Mahkamah militer, Sjam mengaku dipanggil Aidit pada 12 Agustus 1965. Dalam pertemuan itu, ia diberi tahu bahwa Presiden sakit dan adanya kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan bila Bung Karno mangkat.
Menurut Sjam, Aidit memerintahkan dia meninjau "kekuatan kita." Sejak 6 September 1965, Sjam lantas menggelar rapat-rapat di rumahnya dan di rumah Kolonel A. Latief (Komandan Brigade Infanteri I Kodam Jaya). Di rapat ini hadir Letnan Kolonel Untung (Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa) dan Mayor Udara Sudjono (Komandan Pasukan Pengawal Pangkalan Halim Perdanakusumah). Rapat terakhir, 29 September 1965, menyepakati gerakan dimulai 30 September 1965 dengan Untung sebagai pemimpinnya. Dalam wawancara dengan majalah D&R, 5 April 1999, A. Latief menyatakan, Gerakan 30 September dirancang untuk menggagalkan upaya kup Dewan Jenderal. "Kami dengar ada pasukan di luar Jakarta yang didatangkan dalam rangka defile Hari Angkatan Bersenjata dengan senjata lengkap. Ini apa? Mau defile saja, kok, membawa peralatan berat," kata Latief. Karena merasa bakal terjadi sesuatu, para perwira tersebut, yang mengaku terlibat karena loyal pada Soekarno, memilih menjemput "anggota" Dewan Jenderal untuk dihadapkan ke Soekarno. Menurut Latief gerakan itu diselewengkan oleh Sjam. "Rencananya akan dihadapkan hidup-hidup untuk men-clear-kan masalah, apakah memang benar ada Dewan Jenderal," katanya. Tapi, malam hari, saat pasukan Cakrabirawa pimpinan Letnan Dul Arief, anak buah Untung, akan berangkat menuju rumah para jenderal, tiba-tiba, ujar Latief, Sjam datang. "Bagaimana kalau para jenderal ini membangkang, menolak diajak menghadap Presiden," kata Dul Arief. Sjam menjawab, para jenderal ditangkap. Hidup atau mati.
Keesokan harinya, Dul Arief melaporkan kepada Latief dan Jenderal Soepardjo bahwa semua telah selesai. "Mula-mula mereka saya salami semua, tapi kemudian Dul Arief bilang semua jenderal mati. Saya betul-betul kaget, tidak begitu rencananya," kata Latief yang mengaku tidak kenal dengan Aidit. Aidit sendiri belum pernah memberi pernyataan tentang hal ini. Ia ditangkap di Desa Sambeng, dekat Solo, Jawa Tengah, pada 22 November 1965 malam, dan esok paginya ditembak mati. Sebelum ditangkap pasukan pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto, Aidit dikabarkan sempat membuat pengakuan sebanyak 50 lembar. Pengakuan itu jatuh ke Risuke Hayashi, koresponden koran berbahasa Inggris yang terbit di Tokyo, Asahi Evening News. Menurut Asahi, Aidit mengaku sebagai penanggung jawab tertinggi peristiwa "30 September." Rencana pemberontakan itu sudah mendapat sokongan pejabat PKI lainnya serta pengurus organisasi rakyat di bawah PKI. Alasan pemberontakan, mereka tak puas dengan sistem yang ada. Rencana kup semula disepakati 1 Mei 1965, tetapi Lukman, Njoto, Sakirman dan Nyono--semuanya anggota Committee Central--menentang. Alasannya, persiapan belum selesai. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan Letkol Untung dan sejumlah pengurus lain pada Juni 1965, disepakati mulai Juli 1965 pasukan Pemuda Rakyat dan Gerwani dikumpulkan di Pangkalan Halim Perdanakusumah. Pertengahan Agustus, sekembalinya dari perjalanan ke Aljazair dan Peking, Aidit kembali melakukan pertemuan rahasia dengan Lukman, Njoto, Brigjen Soepardjo, dan Letkol Untung. PKI mendapat info bahwa tentara, atas perintah Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Achmad Yani, akan memeriksa PKI karena dicurigai mempunyai senjata secara tidak sah. "Kami terpaksa mempercepat pelaksanaan coup d'etat," kata Aidit. Akhirnya, dipilih tanggal 30 September. Dalam buku Bayang-Bayang PKI yang disusun tim Institut Studi Arus Informasi (1999), diduga Aidit tahu adanya peristiwa G-30-S karena ia membentuk dua organisasi: PKI legal dan PKI ilegal. Biro Chusus adalah badan PKI tidak resmi. Sjam bertugas mendekati tentara dan melaporkan hasilnya, khusus hanya kepada Aidit. Hanya, ternyata, tak semua "hasil" itu dilaporkan Sjam.


Tentang besarnya peran Aidit dalam peristiwa 30 September ditampik Soebandrio. Menurut bekas Wakil Perdana Menteri era Soekarno ini, G-30-S didalangi tentara dan PKI terseret lewat tangan Sjam. Alasan Soebandrio, sejak isu sakitnya Bung Karno merebak, Aidit termasuk yang tahu kabar tentang kesehatan Bung Karno itu bohong. Waktu itu, kata Soebandrio, Aidit membawa seorang dokter Cina yang tinggal di Kebayoran Baru. Soebandrio dan Leimena, yang juga dokter, ikut memeriksa Soekarno. Kesimpulan mereka sama: Bung Karno cuma masuk angin. Soebandrio dalam memoarnya, Kesaksianku Tentang G-30-S, menyesalkan pengadilan yang tidak mengecek ulang kesaksian Sjam. Menurut Soebandrio, ada lima orang yang bisa ditanya: Bung Karno, Aidit, dokter Cina yang ia lupa namanya tersebut, Leimena, dan dirinya sendiri. Menurut Soebandrio, pada Agustus 1965 kelompok "bayangan Soeharto" (Ali Moertopo cs) sudah ingin secepatnya memukul PKI. Caranya, mereka melontarkan provokasi-provokasi untuk mendorong PKI mendahului memukul Angkatan Darat. Njoto membantah pernyataan Aidit. Menurut Njoto, "Hubungan PKI dengan Gerakan 30 September dan pembunuhan Jenderal Angkatan Darat tidak ada. Saya tidak tahu apa pun, sampai-sampai sesudah terjadinya," katanya dalam wawancara dengan Asahi Evening News. Keterangan Njoto sama dengan komentar Oei Hai Djoen, mantan anggota Comite Central. "Kami semua tidak tahu apa yang terjadi," kata dia. Presiden Soekarno sendiri menyatakan Gestok (Gerakan Satu Oktober)--demikian istilah Bung Karno--terjadi karena keblingernya pimpinan PKI, lihainya kekuatan Barat atau kekuatan Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme), serta adanya "oknum yang tidak benar." Misteri memang masih melingkupi peristiwa ini. "Menurut kami, PKI memang terlibat, tapi terlibat seperti apa?" kata Murad. Setelah puluhan tahun tragedi itu berlalu, pertanyaan itu belum menemukan jawabannya. Setidaknya bagi Murad dan anggota keluarga Aidit yang lain.
Dari Tempo 1-7 Oktober 2007, yang ditulis kembali di Sini
Diubah oleh omfrank 02-10-2013 17:50
0
32.5K
Kutip
51
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
omfrank
#24
Spoiler for Soeharto Pecas Ndahe:
Siapakah sesungguhnya Letkol Untung? Dalang G30S atau sekadar operator? Benarkah dia mendapat restu dari Soeharto?
Dia penerima Bintang Sakti, komandan resimen elite Tjakrabirawa. Pada 1 Oktober 1965, dia menculik para jenderal TNI Angkatan Darat. Tapi bagaimana sesungguhnya peran tokoh ini masih remang-remang. Dia Letnan Kolonel Untung.
Koran Tempo edisi Senin, 5 Oktober 2009, menurunkan laporan lengkap tentang salah satu tokoh penting dalam lembaran hitam sejarah Indonesia ini. Begitu beredar, edisi ini memicu geger. Ia menjadi pembicaraan di jejaring sosial. Sebuah milis terkemuka juga menjadikan sampul depan koran cergas itu sebagai salah satu topik pembicaraan hari ini.
Apa pemicunya? Koran Tempo menulis bahwa sejumlah saksi menuturkan, Gerakan 30 September 1965 yang dikendalikan Untung disebut-sebut mendapat \restu. dari Soeharto (almarhum). Menurut saksi, pada dinihari 1 Oktober 1965, saat pasukan Untung bergerak menculik para petinggi Angkatan Darat, Soeharto sempat melintasi di depan kerumunan. Berarti Soeharto sudah tahu lebih dahulu tentang aksi penculikan para jenderal?
Dalam bukunya, Soeharto sudah membantah kabar itu.
Nah, untuk mengetahui lebih jauh mengenai misteri kisah itu, saya turunkan lagi di sini isi laporan utama Koran Tempo itu. Semoga membantu mereka yang belum kebagian edisi cetaknya. Artikel ditulis oleh Erwin Dariyanto dan disunting oleh Seno Joko Suyono.
***
Hari Selasa, pengujung tahun 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria saling berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Syamsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno.
Suara Untung bergetar. "Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih,." kata Untung kepada Soebandrio.
Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam buku Kesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.
Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu \misteri. tragedi September. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dan Soeharto.
Memperingati tragedi September kali ini, Koran Tempo bermaksud menurunkan edisi khusus yang menguak kehidupan Letkol Untung. Tak banyak informasi tentang tokoh ini, bahkan dari sejarawan \Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya,. kata sejarawan Asvi Warman Adam.
***
Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen. Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.
Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi,. ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: Si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya. Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal. \Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina,yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya,. kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. Saya yang mengantarkan Untung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari..
Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia),. kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.
Clash yang terjadi pada Desember 1949 antara Republik dan Belanda membuat pengejaran terhadap batalion-batalion kiri terhenti. Banyak anggota batalion kiri bisa bebas. Suhardi tahu Untung kemudian balik ke Solo. \Untung kemudian masuk Korem Surakarta,. katanya. Saat itu, menurut Suhardi, Komandan Korem Surakarta adalah Soeharto. Soeharto sebelumnya adalah Komandan Resimen Infanteri 14 di Semarang. \Mungkin perkenalan awal Untung dan Soeharto di situ,. kata Suhardi.
Keterangan Suhardi menguatkan banyak tinjauan para analisis. Seperti kita ketahui, Soeharto kemudian naik menggantikan Gatot Subroto menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Untung lalu pindah ke Divisi Diponegoro, Semarang. Banyak pengamat melihat, kedekatan Soeharto dan Untung bermula di Divisi Diponegoro ini. Keterangan Suhardi menambahkan kemungkinan perkenalan mereka sejak di Solo.
Hubungan Soeharto-Untung terjalin lagi saat Soeharto menjabat Panglima Kostrad mengepalai operasi pembebasan Irian Barat, 14 Agustus 1962. Untung terlibat dalam operasi yang diberi nama Operasi Mandala itu. Saat itu Untung adalah anggota Batalion 454 Kodam Diponegoro, yang lebih dikenal dengan Banteng Raiders.
Di Irian, Untung memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara Kaimana. Sebelum Operasi Mandala, Untung telah berpengalaman di bawah pimpinan Jenderal Ahmad Yani. Ia terlibat operasi penumpasan pemberontakan PRRI atau Permesta di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1958. Di Irian, Untung menunjukkan kelasnya. Bersama Benny Moerdani, ia mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno. Dalam sejarah Indonesia, hanya beberapa perwira yang mendapatkan penghargaan ini. Bahkan Soeharto, selaku panglima saat itu, hanya memperoleh Bintang Dharma, setingkat di bawah Bintang Sakti.
Kedua prestasi inilah yang menyebabkan Untung menjadi anak kesayangan Yani dan Soeharto,. kata Kolonel Purnawirawan Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, atasan Untung di Tjakrabirawa, kepada Tempo.
Untung masuk menjadi anggota Tjakrabirawa pada pertengahan 1964. Dua kompi Banteng Raiders saat itu dipilih menjadi anggota Tjakrabirawa. Jabatannya sudah letnan kolonel saat itu.
Anggota Tjakrabirawa dipilih melalui seleksi ketat. Pangkostrad, yang kala itu dijabat Soeharto, yang merekomendasikan batalion mana saja yang diambil menjadi Tjakrabirawa. \Adalah menarik mengapa Soeharto merekomendasikan dua kompi batalion Banteng Raiders masuk Tjakrabirawa,. kata Suhardi. Sebab, menurut Suhardi, siapa pun yang bertugas di Jawa Tengah mengetahui banyak anggota Raiders saat itu yang eks gerakan Madiun 1948. \Pasti Soeharto tahu itu eks PKI Madiun..
Di Tjakrabirawa, Untung menjabat Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa. Batalion ini berada di ring III pengamanan presiden dan tidak langsung berhubungan dengan presiden.
Maulwi, atasan Untung, mengaku tidak banyak mengenal sosok Untung. Untung, menurut dia, sosok yang tidak mudah bergaul dan pendiam.
Suhardi masuk Tjakrabirawa sebagai anggota Detasemen Pengawal Khusus. Pangkatnya lebih rendah dibanding Untung. Ia letnan dua. Pernah sekali waktu mereka bertemu, ia harus menghormat kepada Untung. Suhardi ingat Untung menatapnya. Untung lalu mengucap, \Gus, kamu ada di sinic..
Menurut Maulwi, kedekatan Soeharto dengan Untung sudah santer tersiar di kalangan perwira Angkatan Darat pada awal 1965. Para perwira heran mengapa, misalnya, pada Februari 1965, Soeharto yang Panglima Kostrad bersama istri menghadiri pesta pernikahan Untung di desa terpencil di Kebumen, Jawa Tengah. \Mengapa perhatian Soeharto terhadap Untung begitu besar?. Menurut Maulwi, tidak ada satu pun anggota Tjakra yang datang ke Kebumen. \Kami, dari Tjakra, tidak ada yang hadir,. kata Maulwi.
Dalam bukunya, Soebandrio melihat kedatangan seorang komandan dalam pesta pernikahan mantan anak buahnya adalah wajar. Namun, kehadiran Pangkostrad di desa terpencil yang saat itu transportasinya sulit adalah pertanyaan besar. \Jika tak benar-benar sangat penting, tidak mungkin Soeharto bersama istrinya menghadiri pernikahan Untung,. tulis Soebandrio. Hal itu diiyakan oleh Suhardi. \Pasti ada hubungan intim antara Soeharto dan Untung,. katanya.
***
Dari mana Untung percaya adanya Dewan Jenderal? Dalam bukunya, Soebandrio menyebut, di penjara, Untung pernah bercerita kepadanya bahwa ia pada 15 September 1965 mendatangi Soeharto untuk melaporkan adanya Dewan Jenderal yang bakal melakukan kup. Untung menyampaikan rencananya menangkap mereka.
\Bagus kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu,. demikian kata Soeharto seperti diucapkan Untung kepada Soebandrio.
Bila kita baca transkrip sidang pengadilan Untung di Mahkamah Militer Luar Biasa pada awal 1966, Untung menjelaskan bahwa ia percaya adanya Dewan Jenderal karena mendengar kabar beredarnya rekaman rapat Dewan Jenderal di gedung Akademi Hukum Militer Jakarta, yang membicarakan susunan kabinet versi Dewan Jenderal.
Maulwi melihat adalah hal aneh bila Untung begitu percaya adanya informasi kudeta terhadap presiden ini. Sebab, selama menjadi anggota pasukan Tjakrabirawa, Untung jarang masuk ring I atau ring II pengamanan presiden. Artinya ia isu. Dalam catatan Maulwi, hanya dua kali Untung bertemu dengan Soekarno. Pertama kali saat melapor sebagai Komandan Kawal Kehormatan dan kedua saat Idul Fitri 1964. \Jadi, ya, sangat aneh kalau dia justru yang paling serius menanggapi isu Dewan Jenderal,. kata Maulwi.
Menurut Soebandrio, Soeharto memberikan dukungan kepada Untung untuk menangkap Dewan Jenderal dengan mengirim bantuan pasukan. Soeharto memberi perintah per telegram Nomor T.220/9 pada 15 September 1965 dan mengulanginya dengan radiogram Nomor T.239/9 pada 21 September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya, Jawa Timur, dan Yon 454 Banteng Raiders Diponegoro, Jawa Tengah. Mereka diperintahkan datang ke Jakarta untuk defile Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober.
Pasukan itu bertahap tiba di Jakarta sejak 26 September 1965. Yang aneh, pasukan itu membawa peralatan siap tempur. \Memang mencurigakan, seluruh pasukan itu membawa peluru tajam,. kata Suhardi. Padahal, menurut Suhardi, ada aturan tegas di semua angkatan bila defile tidak menggunakan peluru tajam. \Itu ada petunjuk teknisnya,. ujarnya.
Pasukan dengan perlengkapan siaga I itu kemudian bergabung dengan Pasukan Kawal Kehormatan Tjakrabirawa pimpinan Untung. Mereka berkumpul di dekat Monumen Nasional.
Dinihari, 1 Oktober 1965, seperti kita ketahui, pasukan Untung bergerak menculik tujuh jenderal Angkatan Darat. Malam itu Soeharto syahdan dalam perjalanan pulang dari menunggui anaknya, Tommy, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Soeharto sempat melintasi kerumunan pasukan dengan mengendarai jip. Ia dengan tenangnya melewati pasukan yang beberapa saat lagi berangkat membunuh para jenderal itu.
Adapun Untung, menurut Maulwi, hingga tengah malam pada 30 September 1965 masih memimpin pengamanan acara Presiden Soekarno di Senayan. Maulwi masih bisa mengingat pertemuan mereka terakhir terjadi pada pukul 20.00. Waktu itu Maulwi menegur Untung karena ada satu pintu yang luput dari penjagaan pasukan Tjakra. Seusai acara, Maulwi mengaku tidak mengetahui aktivitas Untung selanjutnya.
Ketegangan hari-hari itu bisa dirasakan dari pengalaman Suhardi sendiri. Pada 29 September, Suhardi menjadi perwira piket di pintu gerbang Istana. Tiba-tiba ada anggota Tjakra anak buah Dul Arief, peleton di bawah Untung, yang bernama Jahuruk hendak masuk Istana. Menurut Suhardi, itu tidak diperbolehkan karena tugas mereka adalah di ring luar sehingga tidak boleh masuk. \Saya tegur dia..
Pada 1 Oktober pukul 07.00, Suhardi sudah tiba di depan Istana. \Saya heran, dari sekitar daerah Bank Indonesia, saat itu banyak tentara.. Ia langsung mengendarai jip menuju markas Batalion 1 Tjakrabirawa di Tanah Abang. Yang membuatnya heran lagi, pengawal di pos yang biasanya menghormat kepadanya tidak menghormat lagi. \Saya ingat yang jaga saat itu adalah Kopral Teguh dari Banteng Raiders,. kata Suhardi. Begitu masuk markas, ia melihat saat itu di Tanah Abang semua anggota kompi Banteng Raiders tidak ada.
Begitu tahu hari itu ada kudeta dan Untung menyiarkan susunan Dewan Revolusi, Suhardi langsung ingat wajah sahabat masa kecilnya dan sahabat yang sudah dianggap anak oleh ibunya sendiri tersebut. Teman yang bahkan saat sudah menjabat komandan Tjakrabirawa bila ke Solo selalu pulang menjumpai ibunya. \Saya tak heran kalau Untung terlibat karena saya tahu sejak tahun 1948 Untung dekat dengan PKI,. katanya.
Kepada Oditur Militer pada 1966, Untung mengaku hanya memerintahkan menangkap para jenderal guna dihadapkan pada Presiden Soekarno. \Semuanya terserah kepada Bapak Presiden, apa tindakan yang akan dijatuhkan kepada mereka,. jawab Untung.
Heru Atmodjo, Mantan Wakil Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara, yang namanya dimasukkan Untung dalam susunan Dewan Revolusi, mengakui Sjam Kamaruzaman-lah yang paling berperan dalam gerakan tersebut. Keyakinan itu muncul ketika pada Jumat, 1 Oktober 1965, Heru secara tidak sengaja bertemu dengan para pimpinan Gerakan 30 September: Letkol Untung, Kolonel Latief, Mayor Sujono, Sjam Kamaruzaman, dan Pono. Heru melihat justru Pono dan Sjam-lah yang paling banyak bicara dalam pertemuan itu, sementara Untung lebih banyak diam.
\Saya tidak melihat peran Untung dalam memimpin rangkaian gerakan atau operasi ini (G-30-S),. kata Heru saat ditemui Tempo.
Untung adalah sebuah tragedi sekaligus kisah kepandiran. Perwira penerima Bintang Sakti itu sampai menjelang ditembak pun masih percaya bakal diselamatkan.
Diubah oleh omfrank 02-10-2013 17:10
0
Kutip
Balas