TS
kakeki
[Fanfict]Beginning From Canard - RF Online[Rebuild]
Fanfict ini adalah fanfict yg pernah saya tulis dulu, tp mandek
jadi saya tulis ulang. Untuk judulnya tidak perlu dipikirkan lebih jauh karena saya sendiri bingung kenapa milihnya begitu jadi biarlah
.
Sebelumnya saya minta maaf jika ada kesamaan, baik tokoh, alur cerita, de el el karena memang saya memasukkan hal tersebut dari beberapa fanfict yg pernah saya baca. Niatnya ingin menjadikan fanfict ini semacam tali penghubung antara fanfict satu dg yg lain dg tema sama (RF Online), tanpa merubah atau mempengaruhi jalan cerita dari fanfict tersebut. (Anggap saja sebagai alternatif world gitu deh
)
Kredit dan terima kasih pada para penulis fanfict RF online, yg dulu sampai sekarang telah saya baca, terutama pada penulis fanfict "Out of the Darkness" (maaf saya lupa nick penulisnya
) yg ceritanya menjadi latar belakang dari fanfict ini. Tidak lupa juga pada CCR sebagai pihak pengembang RF Online.
Jika ada perubahan dalam gaya penulisan, itu tergantung pada feel saat pembuatannya.
Fanfict ini tidak 100% orisinil, karena saya yakin pasti ada salah satu penulis di tempat lain dg ide yang hampir sama. Tapi ini adalah Fanfict yg saya tulis, setelah membaca beberapa fanfict mereka tentang RF Online, dan ingin menulis cerita yg memiliki hubungan di antara fanfict-fanfict tersebut dan membuatnya sebagai cerita tentang satu dunia yg sama.
Status: On-going (anggap aja mandek
)
jadi saya tulis ulang. Untuk judulnya tidak perlu dipikirkan lebih jauh karena saya sendiri bingung kenapa milihnya begitu jadi biarlah
.Sebelumnya saya minta maaf jika ada kesamaan, baik tokoh, alur cerita, de el el karena memang saya memasukkan hal tersebut dari beberapa fanfict yg pernah saya baca. Niatnya ingin menjadikan fanfict ini semacam tali penghubung antara fanfict satu dg yg lain dg tema sama (RF Online), tanpa merubah atau mempengaruhi jalan cerita dari fanfict tersebut. (Anggap saja sebagai alternatif world gitu deh
)Kredit dan terima kasih pada para penulis fanfict RF online, yg dulu sampai sekarang telah saya baca, terutama pada penulis fanfict "Out of the Darkness" (maaf saya lupa nick penulisnya
) yg ceritanya menjadi latar belakang dari fanfict ini. Tidak lupa juga pada CCR sebagai pihak pengembang RF Online.Jika ada perubahan dalam gaya penulisan, itu tergantung pada feel saat pembuatannya.
Spoiler for Ucapan dari penulis, gk penting-penting juga:
Fanfict ini tidak 100% orisinil, karena saya yakin pasti ada salah satu penulis di tempat lain dg ide yang hampir sama. Tapi ini adalah Fanfict yg saya tulis, setelah membaca beberapa fanfict mereka tentang RF Online, dan ingin menulis cerita yg memiliki hubungan di antara fanfict-fanfict tersebut dan membuatnya sebagai cerita tentang satu dunia yg sama.
Status: On-going (anggap aja mandek
)Quote:
Diubah oleh kakeki 15-12-2013 05:10
0
2.2K
Kutip
14
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
kakeki
#9
Spoiler for Chapter 1, Part 2:
Masih memegangi bagian yang terasa sakit, aku berjalan mendekati Rhea. Entah apa yang dia pikirkan tentangku sekarang, semoga saja dia tidak salah paham karena kejadian ini. Aku memungut Scale Sword yang tadi kutendang dan kebetulan tergeletak tidak jauh dari tempat Rhea. Sulit bagiku untuk tersenyum jika mengingat kejadian tadi, tapi, “Kuharap pukulan tadi tidak mematahkan tulang-tulangmu,” ucapnya ringan. Kadang senyuman di wajah itu membuatku jengkel. “Ya... ya.... Terima kasih atas ‘pukulan selamat datang’mu selama ini, tubuhku rasanya terbiasa pada setiap serangan tiba-tiba, khususnya yang barusan,” balasku. Bayangkan jika ada Accretian, berpenampilan seperti Bellathean dan memiliki hak untuk masuk ke dalam Bellato Union, lalu semua orang menganggapnya sebagai Bellathean, sama seperti mereka. Tunggu sampai dia mulai menjalin hubungan dengan seseorang, maka yang didapat adalah perlakuan ‘spesial’ dari Rhea. Dan aku adalah orang yang beruntung tersebut. Ya, beruntung. Aku menyebutnya begitu, karena kutahu dia tidak akan berbohong pada orang yang bisa dianggap olehnya sebagai teman. Rhea mengambil Sickle Staff yang diletakkannya di tanah, setelah tadi memeluk anak ‘tiri’ itu. “Jadi... Apa itu benar?”
Caranya melihatku menunjukkan dia tidak marah, namun ada sesuatu yang lain di balik tatap sinis itu. Entah apa yang dikatakan anak laki-laki tadi tentangku. “Sebentar, apa yang tadi dia katakan padamu? Bahkan aku tidak tahu kenapa dia takut saat melihatku.” Pasti ada sesuatu di balik ketakutannya, terlebih lagi jika Rhea mengenal anak itu. Bukan hanya kenal, tapi hubungan mereka lebih dari itu. Rhea yang kutahu tidak akan bersikap seperti itu, bahkan padaku. Baiklah, aku tidak termasuk hitungan orang yang akan diperlakukan lemah lembut olehnya, tapi menganggap anak laki-laki tadi sebagai keluarga Rhea adalah satu-satunya alasan logis yang terpikirkan olehku.
Sejenak Rhea diam, menghembuskan nafas dan berkata, “Dia Sehen, Sehen Wahrheit. Aku diminta mengawasi dan mengajarinya sebagai mentor di lapangan. Salah seorang temanku mengatakan dia tidak bisa karena ada misi khusus di Gunung Buas, jadi mau tidak mau aku menerimanya.”
Sebagai mentor? Tidak pernah terlintas dalam benakku Rhea akan melakukan hal itu. “Lalu, bagaimana dengan dia yang ketakutan saat melihatku?”
“Owh, soal itu?” Sebelah tangannya terangkat dan menutupi mulut. Pasti dia penyebabnya. “Kubilang pada dia kalau kamu menyukai anak muda, terutama laki-laki. Seharusnya kamu lihat ekspresinya saat aku menyuruhnya untuk mencarimu dan dia... dia...” Benar, dan tawanya pun lepas, sampai dia harus membungkuk agar bisa mendekap perutnya, mengatur nafas. Kini aku sukses menjadi orang kelainan di mata Sehen. Meski demikian, hal itu tidak menjelaskan tentang rasa takutnya. “Tadi kamu mengatakan nama lengkap Sehen,” kataku. Perlahan suara tawa Rhea makin redup, sambil menyeka air matanya, dia masih menyeringai saat aku berkata, “Bisa kamu sebutkan namanya lagi? Nama Keluarga Sehen?”
Nafasnya terengah-engah saat menjawabku, “Sehen... Wahrheit?” Tidak pernah mendengarnya, tapi ada satu hal, yang kuharap tidak mungkin terjadi, terpikir olehku. “Dia baru tiga bulan di Bellato Union, karena sebelumnya dia tinggal di planet Bellato,” Ucap Rhea, yang tampak sedikit bingung ketika melihatku. “Apa ada hal yang salah?”
Tidak, justru hal terakhir itu yang lebih meyakinkanku tentang ketakutannya. Aku mengeleng, “Tidak... Hanya saja nama itu baru kudengar.” Alis mata yang naik sebelah adalah tanda dia merasa ada yang tidak beres, dan itu yang kulihatkan saat dia menatapku sekarang. Jika aku mencoba tersenyum, maka rasa penasaran dia akan berubah jadi kecurigaan. Memasang wajah tanpa ekspresi mungkin membantu, tapi aku tidak bisa melakukannya. Hal yang bisa kulakukan sekarang adalah, “Kupikir nama keluarga Sehen tidak asing, ternyata aku hanya salah dengar. Tapi tidak biasanya kamu mencariku, ada apa?”
Diam, dan terus menatapku dalam-dalam, Rhea tetap menunjukkan rasa tidak percaya padaku. “Baiklah... Aku mendengar samar-samar Wahrheit seperti nama pemilik toko langgananku, puas?” Aku bohong soal nama pemilik toko itu, tapi kuharap dengan jawaban ini Rhea tidak lagi curiga. Senyumnya mulai mengembang, “Begitukah?” lalu dia berbalik dan berjalan menjauhiku, “Mestinya kamu tahu alasan aku mencarimu.” Dia benar. Aku terus memutar otak setelah paham maksudnya. Ada hal yang kulupakan, dan itu begitu penting sampai dia datang mencariku. Tapi apa? Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari ide. “Mungkin... kita bisa makan siang?”
Langkahnya terhenti. “Maksudku, sekarang sudah hampir tengah hari, dan...” aku merogoh isi ransel pinggang, mengeluarkan kantung kecil, dan menguncangkannya agar Rhea bisa mendengar apa isi kantung tersebut. “Selama di Solus aku sudah mengumpulkan Rare Ore, kurasa cukup mentraktirmu makan siang.”
“Untuk tawaran itu... Terima kasih. Tapi bisakah di lain waktu?” jawabnya tanpa berpaling padaku. Bukan itu yang dia inginkan. Aku harus mencari ide lain, mungkin, “Seharusnya kamu melihat kamarku. Tidak lagi seperti yang kamu kira sebelumnya.” Biasanya dia tidak begitu peduli pada hal-hal kecil, contohnya kamarku, tapi semoga saja kali ini dia tertarik.
“Soal itu, berarti kamu telah membaca surat dariku.” Jawabnya pelan. Surat? Jika yang dia maksud kertas yang tertempel di pintu kamar, aku sudah membacanya. Tapi tidak ada yang penting menurutku, kecuali, “Tentu saja. Kenapa aku bisa lupa dengan hal semacam itu,” Rhea berbalik ke arahku mendengar ucapan tadi. “Aku sudah mencuci bantal itu, sekarang warnanya lebih bersih, seputih bulu Chotty.”
Sickle Staff yang sejak tadi terus dipegangnya, diangkat dan mulai dielus pelan. Rhea terus menatap tongkat Force tingkat empat puluh lima itu tak ubahnya seorang kekasih, dan tanpa memalingkan wajah, matanya melirik ke arahku. “Hei,” panggilnya, “Pernah melihat seseorang merapal Lightning Chain pada musuh? Kudengar listrik bagus untuk ingatan. Dan kata orang, mereka yang mati karena serangan Force seperti itu akan mati dengan tenang, karena mereka bisa pergi dari dunia ini sambil mengingat kenangan lalu yang telah dilupakannya.” Arah pembicaraan ini sudah bisa kutebak. “Bagaimana jika aku merapalkannya padamu, dan setelahnya mungkin pikiranmu bisa mengingatnya. Tenang saja karena aku tidak akan melakukannya hingga tingkat untuk membunuh seseorang.” Dia tersenyum ke arahku, “Setidaknya begitu sih.” Lupakan ide lain untuk mengalihkan perhatiannya, atau mungkin dia akan sungguh-sungguh melakukannya ketika aku berada di toilet. “Baiklah, aku menyerah. Aku benar-benar lupa dan kehilangan kertas itu saat kembali dari membeli sarapan.”
Ekspresi di wajahnya hilang saat mendengar ucapanku. Dengan gerakan kecil, dia berbalik dan terdiam sesaat, lalu pergi meninggalkan tempat ini. Untuk sekarang, aku selamat, tapi masalah lain datang. Jelas terlihat dari tingkahnya bahwa dia marah padaku. Perkataanku tadi sama saja dengan bunuh diri. Tanpa pikir panjang, aku berlari mengejar sosok Rhea yang mulai hilang di antara pepohonan dan kaki bukit. Padahal belum limat menit dia pergi, meski aku sudah berlari sekencang mungkin, tapi jarak kami tidak berkurang. Malah semakin jauh sedikit demi sedikit. Sebelum pergi, aku ingat dia sempat terdiam. Pasti saat itu dia menggunakan Force agar bisa berjalan lebih cepat. Jika benar, aku tidak mungkin bisa mengejarnya.
Sambil terus berlari, aku mengambil Communicator dan membuka peta daerah Solus. Seharusnya dia akan melewati rute terpendek menuju benteng Solus, dan itu dekat dengan bukit yang cukup terjal. Jalur itu melewati kaki bukit dan memutarinya sebelum mencapai sisi sungai. Benteng Solus berada tidak jauh dari sana karena dikelilingi sungai. Aku mengambil rute menuju ke puncak bukit, di sana jarang terdapat pohon tinggi, dan tidak ada monster di sana. Sepertinya aku cukup beruntung karena monster-monster itu pasti sudah diburu oleh orang lain. Aku hampir sampai di puncak dan sudah tidak ada waktu untuk memikirkan cara aman ke bawah bukit. Hanya ada satu jalan, dan itu melompat turun. Aku meluncur bersama bebatuan kecil dan pasir, menuruni sisi terjal bukit ini. Sulit untuk menjaga keseimbangan agar tetap berdiri dengan kedua kaki saat menuruni lereng terjal ini, tapi aku hampir sampai di dasar dan muncul satu masalah. Tepat di depan jalurku terdapat batang pohon yang telah mati. Aku menarik Scale Sword, dengan taruhan keseimbanganku goyah karena berat berpindah, menebasnya seraya melompati sisa batang pohon yang masih tegak berdiri. Sejenak, aku merasa melayang, bersama batang yang berhasil kupotong itu. Dan gravitasi menarikku kembali. Aku berhasil mendarat dan berguling tak ubahnya batu-batu menuju dasar bukit.
Saat sadar telah sampai di bawah, debu telah beterbangan di sekitarku. Rasa sakit terasa di sekujur tubuh, dan ditambah kepalaku yang mulai pusing ketika mencoba bangkit. Dari kejauhan, aku masih bisa melihat sosok yang diam berdiri memperhatikanku. Itu Rhea, dan pasti dia berpikir apakah yang turun dari atas bukit hanya longsoran tanah atau monster. Tanpa memperdulikan debu yang terhirup, aku menarik napas dan memanggilnya. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya diam melihatku saat menyeret langkah ke arahnya. Jarak kami tinggal tiga meter dan aku bisa melihat raut wajahnya yang tidak bisa kumengerti. Antara rasa kasihan, marah, atau puas melihatku terluka. Meski pun begitu, luka ini cuma menghambatku berjalan. Tangan Rhea melambai padaku, sementara tangannya yang lain terus mencari sesuatu dibalik pinggangnya. Dan dengan cara yang sama dengan Sehen, sosoknya lenyap meninggalkan seberkas cahaya putih.
Dia menggunakan Scroll Portal, tapi kenapa sekarang? Bayangan besar Benteng Solus terlihat dari tempatku sekarang, yang berada di hilir sungai. Rhea bisa terus berjalan tanpa memperdulikanku dan sampai di sana, tanpa perlu menggunakan Scroll Portal. Mungkin dia ingin melihatku setelah tadi menuruni lereng bukit terjal ini. Ada alasan lain yang juga terpikirkan olehku, tempat yang menjadi tujuan Scroll portal itu bukan Benteng Solus, dan bukan pula Bellato Union. Kali ini dia benar-benar marah padaku.
maaf klo lama post
, susah juga edit bagian chapter yang udh selesai, jadi itungannya malah seperti bikin chapter baru 
Diubah oleh kakeki 02-10-2013 23:08
0
Kutip
Balas