Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.3K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#18
Awal Sebuah Kebohongan - Bagian II

Angin lembut bertiup dari belakang gue, menerbangkan dedaunan gugur di tanah. Saat itu hanya kita berdua, saling menatap satu sama lain, saling melihat rambut kami yang diacak-acak oleh angin. Pakai efek slow motion kayak di Drama.

Gue tersenyum kecil, dan mengambil langkah duluan ke arah jalan utama. Hayu! Namun setelah beberapa langkah gue ambil, gue nggak merasakan ada sosok yang mengikuti gue dari belakang. Hal itu otomatis membuat gue menengok ke belakang.

"Ayo jalan!" Panggil gue kepada Karin yang masih berdiri memandangi gue dari belakang.

"Aku bawa mobil" Ujarnya singkat lalu mengambil langkah ke arah parkiran.

Buset, dia bawa mobil! Gue aja yang udah 3 tahun nggak bawa mobil. Emang nggak punya juga sih. Seru gue dalam hati sembari mengikuti Karin dari belakang.

"Gas, balik nggak lu?" Panggil Diaz yang baru saja keluar dari gedung bersama teman-teman yang lain.

"Duluan gih, gue bareng temen gue." Teriak gue.

Diaz mengangguk mengerti dan mengambil kesempatan itu untuk nebeng sama Ihsan. emoticon-Cape d... (S)

Sedari tadi gue memandangi punggung Karin tanpa menoleh sedikit pun. Lekuk tubuhnya benar-benar meluruhkan iman. Langkah kakinya yang berjalan bagaikan model membuat gue berpikiran, "Pantes sih bawa mobil". Entah kenapa gue dari dulu mikir, emang yang punya mobil itu hanyalah orang-orang berduit, kalau cowok pasti kece dan rapih, kalau cewek pasti perawatan.

Hal ini, sekali lagi, yang membuat gue tambah nggak percaya diri buat menganggap Karin sebagai gebetan. Menjadi sahabatnya atau temen deket aja mungkin gue udah bersyukur banget. emoticon-Big Grin

"Lu bawa mobil Rin? Sekali-kali jalan kaki lah!" Ujar gue membuka percakapan di tengah badai sunyi di antara kita.

"Kalau ada teknologi itu harus dimanfaatin, Gas! emoticon-Big Grin" Jawabnya sambil menoleh kebelakang dan tersenyum.

"Yeee! emoticon-Nohope" Emang bener juga sih, gue juga kalau misalnya ada kesempatan bawa kendaraan dari rumah ke kosan, mungkin gue nggak bakal nebeng atau rela jalan kaki ke kampus.

"Oke deh Bu Supir, anterin ke kosan yak! emoticon-Big Grin", Lanjut gue sambil memasuki mobil itu. Mobil BMW dua pintu. Sepertinya model lama, tapi kalau gue punya mobil seperti itu, gue bakal bersyukur banget. Karena, nggak semua orang bakal pernah dapat kesempatan seperti yang kita miliki.

Mobil itu pun berjalan dan dikendalikan oleh 2 tangan mulus milik Karin. Tanpa sadar gue memperhatikan ekspresi Karin ketika membawa mobil, apakah sama dengan ekspresi gue ketika belajar mobil? emoticon-Big Grin

"Kenapa liat-liat?" Tanyanya kepada gue di tengah asik memperhatikannya.

"emoticon-Big Grin Haha! Kagak, sejak kapan lu bisa bawa mobil Rin? Gue belajar-belajar, tapi nggak pernah bisa! emoticon-Cape d... (S)"

"Sejak SMP, Gas. Kalau bawa mobil sih menurut gue dibiasain ya."

"...." Gue respon dengan sebuah anggukan.

Angin masih asik bertiup menerbangkan dedaunan. Seolah sedang menari di udara. Suara musik boyband Korea dari radio mobil Karin tidak mengusik gue sama sekali.

"Jadi lu pengen ngomong apa?" Tanya gue.

"...." Dia diam sambil memperhatikan jalan sekitar, seolah tidak ada yang mengganggu pikirannya.

"Nanti aja deh di kosan kamu ngomongnya." emoticon-Kiss (S) Lanjutnya.

"Oh oke!" Ujar gue, senang.

Kenapa gue senang? Karena gue sedang membayangkan reaksi terkejutnya anak-anak kosan yang jarang lihat yang bening-bening. Apalagi melihat yang bening itu masuk kamar gue. emoticon-Big Grin

Selang beberapa menit sebagai tour guide ke kosan gue, akhirnya sampai lah kami di depan kosan daerah Sukawening, dengan gerbang warna putih.

"Mang Bagas, tolonggg bukain gerbang dong! emoticon-Malu (S) emoticon-Big Grin" Ujarnya seolah-olah memanggil satpam rumahnya sendiri. Dengan nada bercanda, tapinya.

"Sialan! emoticon-Big Grin" Gue keluar dari mobil dan membukakan gerbang. Segera, Karin memarkirkannya di dalam.

Setelah gerbang gue tutup kembali, gue menuntunnya menuju kamar nomer 5. Setelah pintu terbuka, gue endus dulu kamar gue, takutnya masih ada sisa-sisa "aroma DNA” gue yang tersisa. emoticon-Big Grin

Setelah dipastikan aman, gue mempersilahkan dia masuk.

"Aaak! Jangan buka celana disini napa! emoticon-Najis (S)" Ujar Karin yang langsung duduk di karpet gue dan menyender ke kasur.

"Ye, selow aja sih. Panas tauk! Gue pakai boxer kok" Jawab gue. Tapi, dia masih menutup mata dan memalingkan muka.

"Udah?" Tanyanya setelah beberapa detik. Gue hanya menjawab singkat, "Ho'oh."

Gue duduk di samping kanannya, tempat dimana meja belajar gue berada, kemudian gue menghidupkan laptop dan membuka internet.

"Jadi, pengen ngomong apa nih?" Tanya gue.

"Langsung nih? Minta minummm dulu! emoticon-Kiss (S)" Pintanya manja.

"Ish, ambil sendiri sihh!" emoticon-Cape d... (S) Gue baru aja mau mengetikkan password ketampilan Start Up Windows gue. Namun tamu satu ini benar-benar memperlakukan dirinya seolah-olah ratu.

"Nih.", ujar gue sambil menyerahkan segelas air dingin dari dispenser gue yang serba bisa.

Dia meneguk airnya dan menerawang ke depan. Seolah menyusun kata-kata untuk mulai berbicara

"Kemarin aku coba tolak permintaan kakak kelasku, yang biasa ngeribetin…," ujarnya.

Mendengar dia ingin bercerita, kebiasaan gue sebagai pendengar yang baik dan lelaki gentle itu langsung keluar. Gue menghentikan tatapan gue ke laptop dan beralih padanya. Posisi duduk gue sekarang pun dalam posisi menghadap ke pipi kanannya.

"Cuma setelah aku tolak gitu ya, besoknya dia agak gimanaaaaa gitu sama aku, biasanya enggak. emoticon-Frown" Keluhnya..

"Trus?"

"Ya, trus aku mesti gimana dong?" emoticon-Frown

"Ya, selow aja kali, itu perasaan lu doang mungkin. Bisa jadi karena lu tolak permintaannya kemarin dia jadi lebih sibuk dan terlalu fokus sama kerjaannya, jadinya lupa sama sekitarnya. BTW, itu juga kan diri lu sendiri yang ngerasa dia berubah, mana tau temannya atau orang lain di sekitarnya juga ngerasa kalau dia lebih berbeda. Bener nggak?"

"Iya juga sih…."

"Coba deh, kira-kira 2 atau 3 hari ke depan lu sapa dia atau gimana gitu, ngajak ngobrol kek, ngajak makan, entar pasti keliatan kok. Kalau dia masih dingin sama lo, berarti dia yang nggak dewasa."

"Hmm. Gitu ya? Entar aku coba deh, ya." Karin mengangguk. Dia masih tampak dan terlihat sedikit paranoid. Ya, sebagai cewek memang pada umumnya lebih memakai perasaan mereka dalam bertindak.

Sebagai seorang cowok, itulah tugas kita untuk memberikan kekuatan, support logika, kepada cewek yang sedang lemah emoticon-Metal.

Gue kemudian menyibak rambut panjangnya yang tadinya terurai menutupi wajah, kebelakang telinganya.

"Inget, lu kan punya gue, satu-satunya temen lu yang bakal ada buat lu! emoticon-Smilie" Ujar gue sambil mengusap pipinya.

Kepala Karin terangkat dan matanya yang sayu, pipinya hangat. Dia kemudian menatap mata gue. Saat itu, rasanya seperti jantung gue mau copot. Ketika tatapan kami beradu. emoticon-Malu (S) Gue langsung sadar dan duduk lagi menghadap laptop.

"Gas, mohon maaaaf niiiih. emoticon-Big Grin Aku punya sahabat kok, dari SMA, kita dulu satu kelas sekarang sekelas juga. Cuma aku malu aja bilang ke dia masalah ini, khawatirnya dia nggak mau minta tolong apa-apa ke aku lagi." Lanjutnya.

"Heeeealah. emoticon-Cape d... (S)"

Entah kenapa hal itu bikin gue tengsin. Seakan gue memandang dia seperti nggak punya temen. emoticon-Cape d... (S) Aduh, gue mesti ngapain yaaa emoticon-Nohope.

"Oh gitu, yaudah. emoticon-Nohope" Lanjut gue.

"Yaudah apaaa? emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)"

"Yaudah, nggak apa-apa." Ujar gue mati kutu.

"Hmm gitu emoticon-Malu (S), yaudah aah, aku balik kalau gitu ya."

"Oke, hati-hati ya!" Jawab gue. Dia menoleh sambil manyun.

Gue berdiri, membukakan pintu gerbang untuknya. Dari dalam mobil dia klakson gue. Sebagai jawabannya, gue lambaikan tangan. Dadah!

Gue masuk lagi ke dalam kamar. Mengambil posisi terlentang di atas kasur. Gue peluk guling gue. Semakin lama gue memeluk guling itu, semakin jauh gue menerawang, semakin terbayang wajah Karin. Dalam benak gue, gue bercerita, "Gue bahagia hari ini."

======

Rabu, 28 September 2011

Keesokan harinya, di bawah jendela kamar gue yang terbuka, sinar matahari pagi menyelinap masuk. Gue terbangun karena silau dan kemudian gue mencuci muka dan wudhu. Gue kesiangan, jadi gue sholat dulu. Setelah itu gue duduk di karpet dan memegang laptop kembali. Tiba-tiba pintu gue diketuk.

"Yop, bentar."Paling Ihsan, pikir gue.

Tidak ada suara. Biasanya setiap ketukan pasti disertai nama gue. Gue buka pintu kamar yang nggak terkunci itu. Dan saat gue mendapati orang yang mengetuk pintu itu, angin tiba-tiba berhembus, menerbangkan kain jendela kamar gue dan melunakkan pertahanan rambut tidur gue yang kering.
Diubah oleh OblOOOOOOO 20-11-2021 18:55
dannda17
dannda17 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.