[Fanfict]Beginning From Canard - RF Online[Rebuild]
TS
kakeki
[Fanfict]Beginning From Canard - RF Online[Rebuild]
Fanfict ini adalah fanfict yg pernah saya tulis dulu, tp mandek jadi saya tulis ulang. Untuk judulnya tidak perlu dipikirkan lebih jauh karena saya sendiri bingung kenapa milihnya begitu jadi biarlah .
Sebelumnya saya minta maaf jika ada kesamaan, baik tokoh, alur cerita, de el el karena memang saya memasukkan hal tersebut dari beberapa fanfict yg pernah saya baca. Niatnya ingin menjadikan fanfict ini semacam tali penghubung antara fanfict satu dg yg lain dg tema sama (RF Online), tanpa merubah atau mempengaruhi jalan cerita dari fanfict tersebut. (Anggap saja sebagai alternatif world gitu deh )
Kredit dan terima kasih pada para penulis fanfict RF online, yg dulu sampai sekarang telah saya baca, terutama pada penulis fanfict "Out of the Darkness" (maaf saya lupa nick penulisnya ) yg ceritanya menjadi latar belakang dari fanfict ini. Tidak lupa juga pada CCR sebagai pihak pengembang RF Online.
Jika ada perubahan dalam gaya penulisan, itu tergantung pada feel saat pembuatannya.
Spoiler for Ucapan dari penulis, gk penting-penting juga:
Fanfict ini tidak 100% orisinil, karena saya yakin pasti ada salah satu penulis di tempat lain dg ide yang hampir sama. Tapi ini adalah Fanfict yg saya tulis, setelah membaca beberapa fanfict mereka tentang RF Online, dan ingin menulis cerita yg memiliki hubungan di antara fanfict-fanfict tersebut dan membuatnya sebagai cerita tentang satu dunia yg sama.
Saat aku terbangun, langit terlihat lebih menyilaukan. Tanganku mencoba untuk menghalangi sinar matahari, tapi sesuatu yang lembut itu lebih dulu mendarat di wajahku. Sehelai daun, dan melayang jatuh saat aku terbangun. Beralaskan kedua tangan, aku masih bisa merasakan lembutnya rerumputan dalam genggaman, merasakan hembusan pelan angin yang juga meniup daun-daun dari pohon ini. Meski bayangan teduh pohon ini hanya bisa menjangkau hingga pinggang, tapi aku tetap memilihnya sebagai tempat berbaring santai. Letaknya yang berada di atas bukit memudahkanku untuk melihat daerah sekitar. Benteng Solus, tempat yang harus kuawasi karena ada laporan aktifitas Accretian yang meningkat. Karena aku bertugas untuk mengawasi daerah ini, bukan berarti aku harus meninggalkannya agar bisa bersantai. Aku memetik batang ilalang yang tumbuh di dekatku, memutarnya seperti mainan sebelum mengigitnya. Entah kenapa saat aku melakukan hal ini, pikiranku terasa lebih bebas. Seperti orang-orang yang akan pergi jauh, mencari dunia baru di luar sana. Tanpa terikat apapun, kecuali sesuatu yang mereka yakini. Kadang kala... aku iri pada mereka.
Aku menarik diriku ke pangkal pohon, lalu bersandar padanya. Gambaran tentang bagaimana keadaan daerah di sekitar Benteng Solus yang tenang terbayang dalam pikiranku. Hampir satu minggu semenjak aku menjalankan tugas dari Nera dan yang kutemui hanyalah dua Accretian tengah mengejar Meat Cloud. Jika ditambah dengan waktu ketika aku melakukan tugas yang seharusnya diberikan pada orang lain sebelumnnya, lima hari yang damai dan tentram, hampir dua minggu kuhabiskan dengan sia-sia. Kurasa petinggi Bellato terlalu paranoid tentang wilayah mereka jika dimasuki pihak lain. Tapi mengingat yang harus kulakukan hanya memberi laporan jika ada yang memasuki wilayah Benteng Solus, kurasa tidak ada salahnya untuk melakukannya.
Lagi, angin yang menerpaku terasa dingin meski sengatan matahari mulai semakin panas. Beberapa jam lagi sebelum tengah hari, tebakku. Dan rasa kantuk itu datang kembali, tapi kepalaku pasti akan pusing jika tidur setelah terbangun. Jadi aku bangkit, mengambil Scale Sword yang tertancap di sisi lain pohon ini, dan berjalan menuruni bukit. Kuharap Nera tidak terlalu mempermasalahkan kenapa aku lebih cepat satu hari menjalankan tugas darinya. Aku hampir sampai di bawah bukit dan merasa ada yang memperhatikanku dari salah satu pohon kira-kira delapan meter dari bukit ini. “Keluarlah, bahkan pengintip amatiran di pemandian umum jauh lebih baik darimu.” Teriakku.
Awalnya sosok itu hanya terlihat bagian kepala yang mengintip dari balik pohon, lalu ia menariknya kembali. Entah apa alasan pemilik kepala itu tetap bersembunyi meski telah ketahuan olehku. Mungkin dia malu, atau, “Kuhitung sampai sepuluh dan tunjukkan dirimu!” Aku menempelkan tangan pada gagang Scale Sword yang tergantung di punggung, dan mulai berjalan pelan ke arah pohon penguntit itu. Yang kutahu, sosok itu bukanlah Accretian. Seorang Corite mungkin. “Lima,” teriakku lagi saat jarak aku dan pohon tinggal sepuluh langkah. Perlahan, aku mengambil posisi bersiap untuk menyerang, meski tindakannku ini cukup beresiko. Aku tidak tahu apa yang sekarang penguntit itu lakukan di balik pohon. Menyiapkan serangan tiba-tiba? Memanggil bantuan? Atau jalan terakhir, melarikan diri dengan Scroll Portal.
Aku jelas mendengarnya, suara dia berbicara pada seseorang. Yang perlu kulakukan hanya berbalik dan menyerangnya dari sisi lain pohon tempat dia bersembunyi ini. Tapi aku membatalkannya, karena aku mengerti apa yang terus menerus dia ucapkan. Memanggil nama seseorang, terduduk sambil memegang Communicator yang terus mengeluarkan suara statis radio. Saat aku menepuk pundaknya, dia terkejut dan beruntung tidak terjungkal ketika dia menyeret dirinya mundur menjauhiku. Dari tipe Armor dominan hijau yang dikenakannya, anak laki-laki berambut coklat ini mungkin seorang Ranger. Wajahnya terlihat ketakutan, tangan yang menggenggam alat komunikasi itu bergetar. Seperti sedang berhadapan dengan sosok yang siap untuk mengakhiri hidupnya dan dia tidak dapat berbuat apa pun. Tapi apa yang dia takutkan? Kuakui wajahku setelah bangun cukup buruk, tapi tidak pernah terpikirkan jika sampai seperti ini. Bahkan saat aku mengulurkan tangan, dia semakin menjauhiku seolah saat itu juga aku akan mengambil nyawanya.
Tangannya terus meraba-raba tanah, mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata, atau lebih tepatnya yang akan dilempar padaku jika menemukannya. Apa alasan dia untuk takut? Pertanyaan itu terus berputar dalam kepalaku.
“Tunggu,” dengan perlahan aku menarik Scale Sword, meletakkannya di tanah dan menendangnya hingga di luar jangkauanku. “Lihat? Aku tidak bersenjata, tidak bisa melakukan sesuatu yang buruk padamu. Bisakah kita berbicara sekarang?”
Kuanggap anggukan pelan itu sebagai jawaban. Meski begitu, aku tidak bisa lebih mendekat. Setiap kali aku akan melangkah, dia mundur, tetap menjaga jarak di antara kami tidak kurang dari delapan langkah. Tidak terlalu buruk, setidaknya dia mulai terlihat sedikit tenang. Dan sekarang, apa yang harus kukatakan padanya? Jika langsung menanyakan alasan ketakutan dia yang tidak wajar akan terasa seperti sedang mengintrogasi dia. Jadi aku mulai dari menanyakan nama, tingkat dan apa profesinya sekarang, hal-hal dasar yang tidak ada ruginya jika orang lain tahu. Tapi sia-sia. Dia enggan menjawab pertanyaanku. Hanya mengangguk ketika aku memastikan apa dia seorang Ranger, selebihnya diam.
“Baiklah. Satu pertanyaan lagi dan aku akan pergi.” Ucapku sambil melangkah mundur, menyakinkan padanya bahwa ini adalah yang terakhir. “Tentang orang yang kamu panggil lewat Communicator. Apa benar kamu memanggilnya R....”
Seseorang memukulku dari belakang sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku. Pukulan benda tumpul pada pinggang itu cukup membuatku tersungkur ke tanah. Aku mencoba bangun sambil menahan rasa sakit di pinggang dengan sebelah tangan. Senyuman di wajahnya menunjukkan padaku seolah tidak terjadi apa-apa. Dari caranya memegang Sickle Staff dengan kedua tangan cukup untuk meyakinkanku bahwa perempuan ini adalah pelaku yang memukulku dari belakang.
“Rhea!” dan anak laki-laki itu berlari melewatiku, tangannya membuka lebar, yang langsung memeluk pemilik rambut hitam yang tergerai lepas itu. Mereka terlihat intim, terlihat seperti ibu dan anak. Rhea hanya menggangguk pelan, dan sesekali melirik padaku saat anak itu tengah membisikkan sesuatu padanya. Pastilah bukan hal yang baik. Kecuali jika dia mengatakan pada Rhea kalau menanyakan nama adalah satu-satunya tindakanku yang dianggap tidak berbahaya. Kemudian Rhea melepaskan pelukan dari anak yang tidak lebih tinggi dari pundaknya itu dan memberikan sesuatu sebelum dia berbicara dengan suara pelan. Aku hanya bisa membaca sedikit apa yang dia ucapkan lewat bibirnya, dan kurasa dia menyuruh anak itu kembali. Benar saja karena tiba-tiba muncul cahaya yang menyelimuti anak itu, tanda dia telah mengaktifkan Scroll Portal. Aku yakin bahwa dia tidak menyukaiku, karena aku masih sempat melihatnya, bagaimana dia menarik ringan bagian bawah mata kanannya dengan jari telunjuk, seraya menjulurkan lidah padaku sebelum sosoknya hilang bersama cahaya.
Catatan: Chapter 1 ini dipecah jadi beberapa bagian, tanpa berubah waktu dan tempat, kecuali ada tanda khususnya karena lg diedit ulang (alasan)